Indonesia
NovelToon NovelToon

Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Bab 1

Braakk...

Suara gebrakan meja yang sangat kuat membuat beberapa orang di sebuah ruang tamu di rumah milik Antonio Cassano tersentak. Wajah sang pemilik rumah, istri dan seorang wanita muda begitu ketakutan kala melihat sosok pria yang menggunakan kursi roda melemparkan tatapan amarah ke arah mereka.

Leon Anderson begitu murka dan marah ketika mendengar calon istrinya kabur menjelang sehari pernikahannya. Leon akan menikahi putri dari Antonio Cassano bernama Belinda namun wanita itu malah pergi dan merusak rencana yang telah ditentukannya.

"Apa kau tau hukumannya jika mempermainkan aku, Tuan Antonio Cassano?" Leon menatap pria berusia 60 tahun itu penuh amarah.

"Maafkan saya, Tuan Leon. Kami tak tau kalau Belinda kabur, dia tadi hanya bilang ingin membagi undangan kepada temannya," Antonio berkata dengan bibir bergetar dan tubuh berkeringat menahan rasa takut.

"Aku tidak terima alasannya. Kau harus bertanggung jawab!" Leon berteriak dengan lantang.

"Saya siap bertanggung jawab, Tuan!" kata Antonio gemetaran.

"Charles, masukkan dia ke ruangan bawah tanah, cambuk dia setiap hari sebanyak seratus kali sampai putrinya datang berlutut meminta maaf padaku!" perintah Leon kepada asistennya.

Pria yang berdiri di samping Leon dan selalu ada kemanapun Leon berada dengan tegas berkata, "Siap, Tuan!"

"Tidak!!" pekik Caroline, istri Antonio. "Tolong, jangan hukum suamiku!!" wanita yang berdiri dihadapan Leon memegang erat lengan suaminya dengan air mata mengalir.

"Kalian sudah melakukan kesalahan besar membiarkan dia kabur dariku!" kata Leon meninggikan suaranya.

"Beri waktu kami untuk mencari Belinda!" pinta Caroline.

Leon tertawa getir.

"Kalian mau mencari kemana? Kenapa bukan dari tadi kalian mulai mencarinya?" Leon merasa jika hilangnya Belinda memang sengaja dibiarkan.

"Kami bingung mencarinya!" kata Caroline beralasan.

"Pergilah. Jika kalian tidak menemukannya maka istrimu Tuan Antonio juga akan merasakan hukumannya!" Leon tersenyum seringai.

Caroline semakin mengeratkan genggaman di lengan suaminya.

"Tuan, apa anda tidak punya solusi lain?" tanya Antonio memberanikan diri.

"Kenapa aku yang harus mencari solusinya? Kalian 'kan yang telah membuat semua rencana pernikahan aku berantakan!" jawab Leon.

"Tuan, kami masih punya satu orang putri lagi. Bagaimana jika Emily yang menjadi penggantinya?" tatapan Antonio ke arah wanita berusia 23 tahun itu dengan tubuh bergetar dan wajah menunduk.

Sontak, Emily mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Antonio. Ia menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda penolakan.

Pandangan Leon pun berpindah ke arah Emily. Ia memperhatikan penampilan Emily dari bawah ke atas. Emily mengenakan dress berwarna biru pudar, rambut dikepang dua dan wajah putih namun tak terawat.

"Kau mencoba menghinaku, Tuan Antonio?" Leon kembali menatap pria paruh baya itu.

"Tidak, Tuan. Saya tak menghina Tuan Leon. Jika Tuan memilih Emily dijamin tak menyesal!" kata Antonio.

Emily mendekati kedua orang tuanya dan berucap lirih, "Pa, aku belum mau menikah."

"Maafkan Papa, Emily. Kami tak punya pilihan lain!" kata Antonio menatap sendu putrinya.

"Aku tidak mau dengannya!" tolak Leon dengan tegas.

"Tuan, Emily belum memiliki kekasih. Dia wanita yang baik dan penurut. Kalau Belinda telah kami temukan, anda boleh menceraikannya!" kata Antonio secara santainya.

"Ciih...Kau sama saja menghinaku, Tuan Antonio. Kau serahkan putri keduamu sebagai penggantinya, setelah putri pertamamu kembali kau menyuruhku menceraikannya. Kau pikir pernikahan adalah permainan?" Leon tak terima ide pria tua itu.

"Lalu apa yang harus kami lakukan, Tuan?" Antonio meminta pendapat.

"Seret dia. Pastikan putrinya kembali sebelum dia mati!" Leon memberikan titah kepada asistennya.

Charles lalu memerintahkan kedua anak buahnya membawa Antonio secara paksa.

Caroline yang tak ingin suaminya mendapatkan hukuman berdiri dihadapan Leon dengan mengangkat kedua telapak tangan saling menempel. "Tuan, tolong jangan bawa suamiku!" mohonnya dengan air mata menetes.

Emily juga tak tega mendekati Leon, ia melakukan sikap yang sama. "Tuan, berikan kesempatan kami mencari Kak Belinda!"

Leon tertawa sinis mendengar permintaan 2 wanita beda usia dihadapannya.

"Biarkan saja saya yang menggantikan hukuman papa!" kata Emily dengan mata berair.

"Baiklah kalau begitu, kau yang harus dihukum!" Leon menatap Emily dengan tatapan emosi.

"Lepaskan pria tua itu dan bawa dia ke ruangan bawah tanah!" Leon lalu memberikan perintah kepada anak buahnya.

Antonio dilepas dan kedua orang pengawal memegang tangan Emily kemudian menyeretnya keluar dan memasukkannya ke mobil.

"Putri keduamu akan menjadi jaminannya. Aku beri waktu kalian dua hari. Jika Belinda belum juga tak ditemukan, maka jangan harap kalian dapat bertemu lagi dengan dia!" ancam Leon.

"Kami jamin segera menemukan Belinda!" ucap Antonio sungguh-sungguh.

"Aku pastikan kau tak mencoba menipuku!" kata Leon tegas.

"Baik, Tuan!" Antonio menundukkan kepalanya.

Leon dan para pengawalnya kemudian berlalu.

Selepas kepergian Leon dan lainnya, Antonio tertawa lebar penuh kemenangan.

"Kenapa kamu tertawa?" Caroline menoleh ke arah suaminya.

"Biarkan saja gadis sial itu yang menggantikan Belinda!" Antonio tersenyum seringai menatap lurus.

"Jadi kamu membatalkan rencana pernikahan putri kita dengan Tuan Leon?" tanya Caroline.

Antonio menoleh ke arah istrinya, "Sayang, aku tidak sebodoh itu melepaskan Belinda untuknya. Memangnya kamu mau putrimu disiksa dan disakiti pria kejam seperti Leon itu?"

"Aku tidak mau," jawab Caroline menggelengkan kepalanya.

"Utang kita lunas dan putri kita bebas," kata Antonio tersenyum senang.

-

Satu jam kemudian, dikediaman Leon Anderson ...

Emily yang baru saja tiba dengan tangan terikat di belakang, didorong secara kasar memasuki sebuah kamar kosong.

Emily tersungkur ke lantai dan seorang pengawal wanita membukakan tali pengikat di tangannya.

"Nona, nanti ada pelayan yang membawakan makanan dan pakaian baru!"

Emily mengangguk mengiyakan.

Si pengawal wanita meninggalkan kamar dan menutup pintu lalu menguncinya dari luar.

Emily duduk sembari memeluk lututnya, ia tak menyangka hidupnya kini berada di tangan seorang pria yang dikenal sangat kejam. Ia berharap Belinda kembali dan bersedia menikah dengan Leon.

Sementara itu Leon di kamar pribadinya dan masih duduk di kursi roda berkata kepada Charles, "Cari keberadaan putri pertama pria tua itu dan pastikan dia memohon dan mengiba padaku!"

"Jika kita sudah berhasil menemukannya apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya?" tanya Charles.

"Hukum dia sesuai kesalahannya," jawab Leon.

"Bagaimana dengan pernikahan anda? Undangan telah tersebar dan besok pagi kedua orang tua Tuan datang menyaksikan pernikahan."

"Aku akan jadikan gadis itu menjadi pengantin pengganti!"

"Tuan, serius?" Charles memastikannya.

"Ya. Kau pikir aku mau menikah dengan wanita yang sudah mempermainkan aku?" Leon mengepalkan kedua tangannya, ia sangat marah dengan keluarganya Antonio.

"Tapi, Tuan bagaimana dengan tanggapan orang-orang?" tanya Charles.

"Selesaikan dengan caramu sendiri!" jawab Leon menatap dingin asistennya.

"Baiklah, Tuan."

"Berikan aku informasi lengkap tentang gadis itu. Aku curiga kalau dia bukan anak kandungnya Antonio Cassano!" titah Leon.

Bab 2

Matahari belum terbit, pintu kamar terbuka. Emily yang tertidur di atas ranjang terbangun dan duduk.

Beberapa orang pelayan wanita masuk dengan senyuman tipis sebagai tanda penghormatan. Mereka membawa nampan berisi barang-barang keperluan wanita.

"Nona, bersiaplah. Sebentar lagi Nona akan menikah!" ucap seorang pelayan wanita yang berdiri tepat di samping ranjang.

"Apa?" Emily begitu terkejut mendengarnya.

"Ya. Nona Emily dipilih menjadi pengantin pengganti Tuan Leon," kata wanita itu lagi.

"Aku tidak mau!" Emily menolak dengan suara tinggi.

"Nona, tidak ada pilihan lain. Apa anda mau dicambuk dan dilempar ke kandang buaya?"

Emily menggelengkan kepalanya pelan, membayangkannya saja ia sangat ketakutan.

"Maka, penuhi permintaan Tuan Leon!"

Emily diam sejenak dan berpikir, pilihan yang sangat sulit. Menikah tapi tersiksa atau menerima hukuman lalu mati dengan cepat.

"Nona, kita tidak punya waktu lagi!"

"Aku ingin bicara dengan dia!" Emily menyibak selimutnya dan turun dari ranjang.

"Tuan Leon tidak suka penolakan. Sia-sia kalau Nona menemuinya!"

Emily meneguk salivanya.

"Menikah adalah pilihan yang lebih ringan!"

"Bukankah dia mau menunggu kakakku?" tanya Emily menatap wanita yang berdiri dihadapannya terhalang dengan ranjang tidur.

"Tuan Leon tidak menyukai wanita yang sudah mempermainkan dan menolaknya, jadi dia tak mungkin menunggu kakak Nona."

Emily terdiam.

Dua orang pelayan wanita berdiri di dua sisi Emily, mereka memegang kedua tangan Emily dan membawanya ke kamar mandi.

Selang 1 jam kemudian, Emily telah selesai mandi. Kini dia mulai di rias oleh penata rias ternama dan timnya.

Di lain ruang dan waktu yang sama, Leon mengepalkan tangannya karena mengetahui bahwa Emily bukan putri kandungnya Antonio Cassano. Dia merasa benar-benar ditipu dan dipermainkan.

"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" Charles meminta pendapat.

"Nanti kita bicarakan lagi setelah acara pernikahan!" kata Leon.

Charles mengangguk mengiyakan.

"Dia tidak membuat masalah 'kan?" tanya Leon.

"Nona Emily sempat menolak, Tuan. Tetapi, Karina berhasil mengancamnya," jawab Charles.

"Pastikan dia jangan kabur dan mengacaukan acara yang telah aku buat!" kata Leon.

-

Tepat jam 10 pagi, Emily muncul mengenakan gaun putih tulang dengan ekor panjang. Gaun yang seharusnya dikenakan Belinda. Penampilan Emily begitu cantik dan anggun seketika membuat Leon yang sudah menunggunya sempat terpana.

Emily berdiri disamping Leon, keduanya lalu mengucapkan janji pernikahan dihadapan seorang pria yang memimpin acara sakral itu. Setelah janji diucapkan, Leon menghampiri kedua orang tuanya bersama Emily.

Ibunya Leon yang memang sangat menginginkan menantu memeluk Emily penuh kasih sayang. Ia tak pernah tau sosok calon istri putranya, baginya siapapun wanita itu dia akan menyukainya selama mencintai dan menyayangi Leon dengan tulus. "Terima kasih telah memilih Leon menjadi suamimu."

Emily hanya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. Wanita paruh baya yang sedang memeluknya menaruh harapan besar kepadanya. Emily baru sehari mengenal Leon dan hari ini dirinya resmi menjadi istrinya.

Lanjut keduanya bergantian memeluk ayahnya Leon, Frans Anderson.

Selepas memberikan penghormatan kepada kedua mertuanya, Emily hendak melangkah menuju kedua orang tuanya. Namun, tangan Leon menggenggamnya menghentikan langkah kakinya Emily. Ia menoleh ke arah suaminya dan bertanya, "Ada apa?"

"Segera pulang. Kita akan makan siang bersama kedua orang tuaku," jawab Leon tanpa melihat istrinya.

"Tapi, aku belum menyapa kedua orang tuaku," kata Emily pelan.

Leon yang masih memegang tangan istrinya mencengkeramnya kuat. Emily rasanya ingin menjerit tapi ia tak mau mengundang perhatian orang-orang, ia menahan sakit dan mengangguk pelan sebagai isyarat dirinya akan mematuhi perintah suaminya.

Emily membelokkan langkah kakinya ke kanan, diikuti Leon yang kursi di dorong asisten pribadinya. Keduanya sengaja melewati pasangan suami istri Antonio dan Caroline.

Di dalam mobil menuju kediaman suaminya, Emily duduk di sampingnya dan bertanya lagi, "Kenapa Tuan melarangku menemui kedua orang tuaku?"

Leon menoleh ke arah Emily dan menjawab dengan tatapan dingin, "Aku sekarang suamimu, aku berhak atas dirimu. Jika aku melarangmu, kau cukup mematuhinya. Tak perlu banyak bertanya. Turuti saja ucapanku."

Emily pun diam.

"Selama dekat dengan orang tuaku, aku minta padamu bersikaplah seperti seorang istri sungguhan. Aku tidak mau mereka curiga jika kau hanya pengantin pengganti."

"Baiklah," ucap Emily pelan.

"Jika kau melakukan kesalahan dan membuatku marah, maka ku pastikan kau takkan dapat tidur nyenyak di kamarmu!"

Sejam kemudian, mobil membawa iring-iringan pengantin dan beberapa tamu tiba di istana milik Leon. Bangunan mewah itu hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya 6 tahun lalu ketika dirinya berusia 25 tahun dan baru ditempatinya sekitar 2 tahun.

Leon turun dibantu Charles dan Emily berjalan di samping suaminya. Ekor gaun terpaksa dilepas agar memudahkan Emily berjalan.

Emily duduk bersama kedua orang tuanya Leon dan beberapa sanak keluarga lainnya. Hidangan mewah dan lezat tersaji di meja yang sangat panjang.

Emily meneguk salivanya melihat aneka makanan yang belum pernah ia cicipi. Ia hanya dapat melihat dan mencium aromanya karena kedua orang tuanya melarangnya dengan berbagai alasan.

"Silahkan dinikmati!"

Suara Frans Anderson pertanda mereka mulai menikmati makanan. Emily yang duduk disamping suaminya dengan cepat mengambil sepotong ayam bakar madu dan melahapnya. Aksi Emily itu membuat Leon kesal dan mengepalkan tangannya karena sikap istrinya tak mencerminkan sosok wanita kaya yang anggun.

"Ehem.."

Deheman Leon menghentikan Emily menggigit potongan paha ayam, ia menoleh ke samping dan tersenyum lalu meletakkannya di atas piring kemudian menggerakkan pisau dan garpu secara pelan-pelan.

Rachel, ibunya Leon, hanya tersenyum melihat tingkah menantunya.

"Maaf!" lirih Emily.

"Tidak apa-apa, Emily. Ini adalah pesta kalian dan ini juga rumah milikmu. Jangan sungkan!" kata Rachel.

"Ya, kamu sekarang adalah putri kami!" sahut Frans.

"Oh, ya, di mana orang tuanya Emily? Kenapa mereka tak ke sini?" tanya Rachel sedari tadi tak melihat besannya.

"Mereka sudah pulang dan mereka tak dapat hadir menemani kita makan siang bersama karena ada urusan mendadak ke luar kota," jawab Leon berbohong, ia tak membiarkan Emily yang berbicara.

Orang tuanya Emily sengaja tak diajak, ia meminta Charles yang menyampaikan pesannya.

Begitu acara makan siang selesai, satu persatu para tamu berpamitan termasuk kedua orang tuanya Leon.

Di kamar, masih menggunakan kursi roda Leon mendekati istrinya yang terpana dengan dekorasi kamar pengantinnya. Ia menarik tangan Emily secara kasar sehingga membuat Emily memekik dan jarak dirinya dengan suaminya semakin dekat.

Leon dapat merasakan hembusan napas dan melihat kedua mata yang indah milik istrinya. "Kau tadi telah melakukan kesalahan!"

Emily mencoba melepaskan genggaman suaminya dari lengannya. "Kesalahan apa?"

Leon mendorong tubuh Emily hingga tersungkur. "Sikapmu tadi seperti pelayan yang kelaparan!"

"Maaf, aku sangat lapar!" Emily coba menjelaskan alasannya.

"Besok kau harus belajar menjadi seorang istri Leon Anderson!" kata Leon dengan wajah menahan emosi.

Bab 3

Leon dan beberapa orang pengawal mendatangi kediaman Antonio. Kehadiran mereka disambut si pemilik rumah dengan ramah dan senyuman.

"Tuan, kenapa ke sini lagi? Apa Emily melakukan kesalahan?" tanya Antonio terbata-bata.

"Kau sudah berani membohongiku!" jawab Leon menatap marah.

"Bohong? Apa yang telah saya lakukan? Kenapa Tuan menuduh saya berbohong?" tanya Antonio lagi dengan nada suara yang sama.

"Dia bukan putri kandung kalian, 'kan?" Leon balik bertanya secara lantang.

Tubuh Antonio gemetaran, kakinya mundur selangkah ke belakang. Caroline gegas memegang tangan suaminya agar tak ambruk.

"Di mana putri kandung kalian?" Leon mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Belinda.

"Kami belum menemukannya, Tuan!" sahut Caroline dengan mimik wajah ketakutan.

"Sepertinya kalian memang ingin bermain-main denganku!" ucap Leon menurunkan intonasi suaranya namun terlihat dingin dan tegas.

Antonio berlutut dan berkata, "Maafkan kami, Tuan. Saya tidak punya pilihan lagi. Saya hanya ingin memenuhi janji kepada Tuan."

"Aku tidak terima alasan!" kata Leon. "Charles, bawa dia. Berikan hukuman setimpal kepadanya!" ia lalu memberikan perintah asistennya.

Dua orang pria memegang kedua lengan Antonio dan memaksanya berdiri.

"Tuan, saya mohon jangan hukum dia. Apa yang harus kami lakukan agar Tuan sudi membebaskan kami!" Caroline berlutut di dekat kursi rodanya Leon sembari mengatupkan kedua tangannya.

"Bayar utang kalian beserta bunganya. Aku tunggu dalam waktu seminggu!" kata Leon.

"Baik, Tuan. Kami akan membayarnya. Tolong, lepaskan suami saya!" pinta Caroline.

"Sebelum melunasinya dan putri kalian berlutut meminta maaf. Maka, jangan harap kau dapat melihat suamimu lagi!" ucap Leon menatap wanita paruh baya dihadapannya itu.

Leon memutar kursinya dan Charles sigap bantu mendorongnya.

Antonio dibawa paksa oleh anak buahnya Leon tak peduli teriakan dan tangisan Caroline yang memohon.

Antonio Cassano terlilit utang dengan Leon Anderson yang cukup besar. Sebagai ganti pembayaran utang tersebut Leon meminta salah satu putri Antonio untuk dijadikan istri.

Leon meminta Belinda sebagai calon istrinya karena tuntutan kedua orang tuanya yang menginginkan menantu dan cucu. Alasan memilih Belinda sebab wanita itu dinilai mampu mengimbangi dirinya yang dikenal sebagai mafia.

Antonio pun setuju menjadikan Belinda sebagai pelunas utangnya. Namun, Belinda menolak keputusan kedua orang tuanya itu. Dia tak mau dinikahkan dengan pria kejam dan lumpuh. Berbagai rayuan dan bujukan Antonio dan istrinya lakukan agar putrinya bersedia dinikahkan. Tetapi Belinda tetap bersikeras dengan keputusannya.

Hari-hari menjelang pernikahan, Antonio menyuruh putrinya kabur dari rumah dan mengatakan siap menghadapi Leon. Sebagai pengganti putrinya, Antonio lalu menyodorkan Emily.

Bayi perempuan yang diambil secara paksa dari kedua orang tuanya yang miskin. Ketika itu, ibunya Emily tak sanggup membayar tagihan biaya rumah sakit dan ayahnya Emily bekerja sebagai pelayan di rumahnya orang tuanya Antonio. Ayah kandung Emily memohon kepada Antonio agar bersedia membantunya. Antonio pun menyanggupi permintaannya. Setelah semua ditanggung, Antonio menyuruh orang tuanya Emily pergi dari kota mereka. Ditengah perjalanan, mobil yang ditumpangi orang tuanya Emily dicegat oleh beberapa orang tak dikenal. Emily yang berada dalam gendongan sang ayah diambil dan kedua orang tuanya lalu didorong ke bawah jurang.

Emily pun berpikir jika Antonio dan Caroline adalah kedua orang tua kandungnya meskipun sejak kecil ia sudah merasakan ada perbedaan kasih sayang antara dirinya dan Belinda.

Leon kembali ke rumahnya, ia menuju kamarnya. Emily bergegas turun dari ranjangnya dan menghampiri suaminya

"Bantu aku ke ranjang!" Leon mencondongkan badannya, kedua tangannya memegang sandaran kursi.

Emily yang berdiri berhadapan memegang tangan kiri Leon dan satu tangannya merangkul pinggang. Sekuat tenaganya, ia membantu suaminya bangkit.

Keduanya sejenak saling berpelukan dan memandang, jarak keduanya sangat dekat. Emily dapat merasakan aroma tubuh suaminya yang begitu menyegarkan.

Emily cepat tersadar dan mendudukkan Leon dengan hati-hati ke sisi ranjang. Mengangkat kedua kaki suaminya dan meluruskannya ke depan.

"Apa Tuan ingin aku pijat kakinya?" Emily menawarkan dirinya.

Leon mengangguk pelan.

Emily memutari ranjang dan naik ke atas, ia duduk tepat di dekat kaki suaminya. Perlahan tangannya mulai memijat.

Leon hanya diam memperhatikan Emily yang memijat kakinya. Tak ada obrolan diantara keduanya. Hening.

"Apa Tuan ingin tidur?"

Lagi-lagi Leon cuma mengangguk pelan mengiyakan.

Emily mengambil bantal di samping suaminya dan meletakkan tepat sejajar posisi dengan kepala. Leon meletakkan kepalanya dan Emily kembali memijat.

Tanpa terasa rasa kantuk menyerang, Leon pun tertidur. Emily tetap terus memijat meskipun tangannya mulai pegal.

Menit berikutnya Emily juga merasa mengantuk, ia akhirnya tertidur dengan posisi duduk.

Sejam berlalu, Leon terbangun dan melihat istrinya duduk dengan mata terpejam. Ia pun berdecih dan menarik tangan kanan Emily yang menopang dagu.

Emily tersentak dan hampir saja tersungkur. Tersadar cepat, ia bergegas memperbaiki posisi tubuhnya.

"Siapa yang menyuruhmu tidur?"

"Maaf, Tuan." Emily menundukkan kepalanya.

"Turunlah!" titah Leon dengan nada rendah namun tegas.

Emily pun turun.

Leon menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Emily tanpa diperintah dan diminta lantas mendekat lalu berkata, "Biar saya bantu!" ia memegang kedua lengan suaminya.

Leon melirik tangan Emily yang menyentuh lengannya di sebelah kiri.

Emily menarik kedua tangannya, menundukkan kepalanya lalu berucap, "Maaf, saya hanya membantu."

"Lakukan sesuai perintahku saja. Jangan mencoba menarik perhatianku, karena aku sama sekali tak tertarik padamu!" kesal Leon.

"Baiklah, Tuan. Saya sangat lancang!" Emily mengakui kesalahannya.

Leon coba berdiri, tangan kanannya ia ulurkan untuk menarik kursi roda. Tetapi karena terlalu jauh, tangannya tak dapat menggapai kursi ia akhirnya terjatuh ke lantai.

"Tuan!" pekik Emily, ia jongkok hendak membantu suaminya bangkit.

Leon mendorong Emily dengan kasar. "Kau ingin menghina, 'kan?" tudingnya.

Emily dengan cepat menggelengkan kepalanya.

Leon coba bangkit, kakinya masih sangat lemah hingga tak sanggup berdiri. Tanpa titah dan tak peduli Leon akan marah. Emily tetap memaksa membantu Leon berdiri. Ia mengapit kedua tangannya seperti orang berpelukan dan mengangkatnya walaupun tubuh suaminya sangat berat.

Emily sekuat tenaganya mendudukkan Leon ke kursi roda. Ia juga memperbaiki posisi kaki suaminya.

Setelah melakukan itu Emily menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa capeknya.

Leon menggerakkan kursi rodanya sendirian tanpa perlu dibantu oleh orang lain buat mendorongnya. Ia kemudian meninggalkan kamarnya tanpa ucapan terima kasih.

-

Malam harinya, Leon menikmati makan malamnya bersama Emily. Suasana ruangan hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu.

Emily makan secara pelan-pelan dan penuh kehati-hatian, padahal dirinya sangat kelaparan. Rasanya ia ingin menyantap semua hidangan yang tersaji dengan santai tanpa terkekang.

Leon terlebih dahulu mengakhiri makan malamnya, selanjutnya Emily meninggalkan ruang makan.

Emily lalu ke kamarnya, sedangkan Leon menuju ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya, Charles menyatakan bahwa senjata yang mereka pesan dari luar negeri seminggu lagi akan tiba.

"Aku tidak mau ada orang yang mencurigai kita dan mengetahui kabar ini. Jika bocor, pastikan orang yang mengkhianati kita mendapatkan hukumannya!"

"Lalu bagaimana dengan Tuan Antonio, Tuan?" Charles meminta saran.

"Tetap tahan dia di penjara bawah tanah. Bebaskan kalau dia mampu mengembalikan uang kita dan membawa putrinya memohon ampun kepadaku!"

Charles menganggukkan kepalanya, ia telah paham dengan tugas yang diberikan.

Charles lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar ruangan. Ketika pintu terbuka, ia melihat sosok seseorang sedang berlari menjauh. Tak mau disalahkan dan menambah masalah, Charles lalu mengejar bayangan itu.

Tak butuh waktu lama hanya beberapa detik saja, Charles berhasil mendapatkan sosok yang mencurigakan. "Nona, mau ke mana?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!