Kejanggalan seketika menyelimuti perasaannya saat Aurora menyadari bahwa pintu kamar hotel tempat kakaknya menginap dalam keadaan terbuka sedikit. Dan keputusan Aurora untuk segera mendorong pintu kamar hotel yang dalam keadaan tidak tertutup rapat itu adalah keputusan yang benar.
Begitu pintu terbuka lebar, Aurora tidak melakukan apa-apa. Di depan pintu ia mematung begitu saja.
Apa yang hendak dilihatnya tidak sesuai keinginan. Keheningan adalah hal pertama yang menyambut kehadirannya. Tidak ada suasana suka cita, tidak ada suara tawa, tidak ada perias, tidak ada siapa pun di dalam ruangan itu.
Kamar tersebut kosong.
Aurora dengan membisu perlahan melangkah masuk ke dalam kamar. Gadis itu mencoba untuk berpikir jernih, berusaha menepis segala pikiran buruk yang perlahan ingin mempengaruhi akal sehatnya.
"Tidak mungkin," lirih Aurora pelan.
Hanya sebuah gaun pengantin putih yang terhampar rapi di atas tempat tidur, seolah sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Aurora menutup mulut dengan punggung tangan, menatap horor pada kerudung panjang menjuntai hingga menyentuh lantai. Ada juga buket bunga yang mulai layu, tergeletak tepat di samping gaun putih.
Jantung Aurora berdegup semakin cepat. Aurora ingin menepis pikiran buruknya namun pemandangan di depan mata lebih dulu menghadirkan firasat buruk itu sendiri yang nyatanya berhasil membuat tengkuknya meremang.
"Kak? Kakak masih mandi, ya?" ucapnya lirih berharap ada jawaban.
Namun sayang tidak seperti inginnya.
Hanya ada suara embusan pendingin ruangan dan keheningan yang terasa begitu mencekam.
Di mana calon mempelai wanitanya?
...***...
Gaun pengantin itu tidak pernah disiapkan untuk Aurora.
Aurora hanya berkunjung ke hotel untuk menemani kakaknya, Isabella, yang akan menikah dengan Rozen Salvadore, pewaris keluarga Salvadore yang terkenal kaya, berpengaruh, dan memiliki hubungan dengan dunia mafia.
Karena siapa yang dapat menduga kalau akan ada kejadian calon pengantin wanita menghilang secara misterius tepat di hari pernikahannya? Bahkan sehari sebelum tanggal pernikahan tiba, Aurora masih tidur bersama dengan kakaknya di kamar hotel itu. Dan tidak ada gerak-gerik mencurigakan dari sang kakak terkait insiden hilangnya pengantin wanita.
Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh sulung keluarga Valencia tersebut? Meninggalkan pernikahannya beberapa jam sebelum upacara dimulai? Padahal ia tahu perbuatan itu dapat menghancurkan nama baik keluarganya.
Keluarga Valencia panik.
Karena pernikahan itu bukan sekadar penyatuan dua insan semata, melainkan kesepakatan yang telah disusun kedua keluarga selama bertahun-tahun. Membatalkannya secara sepihak bukanlah pilihan. Melainkan kesalahan dan dosa besar.
Tidak ada pilihan selain melanjutkan dengan dusta.
"Aurora, hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita."
Kalimat itu penuturan dari ayahnya, yang bagaimana pun tidak sanggup Aurora terima dengan mudah. Bukan ini jalan hidup yang Aurora inginkan. Menikah hanya untuk menjadi pengganti. Lelucon itu sangat tidak lucu.
"Ayah, itu tidak mungkin! Mereka pasti menyadari perbedaannya."
Aurora tidak pernah ingin menjadi anak yang melawan perkataan orang tuanya. Tapi situasi yang sedang dihadapi Aurora kali ini bukanlah perihal sederhana. Hal ini menyangkut masa depannya.
"Kalian berdua saudara kembar. Wajah kalian sangat mirip. Upacara akan berlangsung singkat. Setelah semuanya selesai, kita akan menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada keluarga Salvadore."
Kali ini sang ibu yang bersuara sambil menggenggam lembut tangan si bungsu.
Namun Aurora membalasnya dengan menggeleng berulang kali. Gadis itu sungguh tidak ingin menikah atas nama orang lain. Walaupun orang itu adalah kakak kandungnya sendiri. Ia bahkan tidak pernah membayangkan akan berdiri di altar menggantikan kakaknya, apalagi menikahi pria yang bahkan belum pernah ia temui.
Tetapi melihat kedua orang tuanya memohon dengan sorot putus asa seperti itu, apalagi ibunya yang masih menggenggam erat tangan kanannya, hatinya mendadak goyah. Tanpa aba-aba, air mata menetes membasahi pipinya. Gadis itu sadar bahwa dirinya tidak punya pilihan.
"Aku... Aku bersedia melakukannya."
Aurora memilih untuk menyerah pada masa depannya.
Dengan tangan gemetar, ia mengenakan gaun pengantin yang seharusnya menjadi milik sang kakak. Ditatapnya pantulan diri di cermin, menyaksikan sosok bergaun pengantin yang telah melepaskan masa depan demi melindungi orang tuanya.
...***...
Perjalanan pengantin wanita menuju altar akan diantar oleh sang ayah. Dengan menggenggam erat pada buket bunga pengantinnya, Aurora melampiaskan semuanya. Kekesalan, kesedihan dan masa depannya. Gadis itu menatap nanar pada pintu ballroom yang masih tertutup rapat. Meratapi nasibnya yang malang.
Sementara itu, pada altar yang sunyi, Rozen Salvadore berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Ekspresi wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun senyum atau kegugupan yang biasa terlihat pada seorang calon pengantin pria ketika akan menyambut calon pengantin wanitanya. Mimik wajah yang tidak memperlihatkan kebahagiaan namun tidak pula kesedihan. Semuanya tampak biasa saja dan juga dingin.
Bagi Rozen sendiri, pernikahan ini bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Semua hanyalah bentuk tanggung jawab yang harus ia selesaikan demi memenuhi kesepakatan antar dua keluarga. Sebuah tugas yang harus segera diselesaikan. Ia tidak pernah menunggu kisah cinta segera bersemi di hidupnya.
Pernikahan yang telah diatur sedemikian rupa bahkan siapa calon istrinya. Rozen menerima semuanya dengan tenang. Tugasnya hanya hadir sebagai mempelai pria lalu menikahi mempelai wanita yang telah ditentukan keluarganya.
Rozen tidak membantah namun pria itu juga tidak pernah berjanji untuk menerima sang wanita dengan lapang dada.
Pintu ballroom perlahan terbuka, tatapan pria itu seketika lurus ke depan. Menyaksikan seorang wanita bergaun pengantin putih berjalan menyusuri lorong menuju altar didampingi ayahnya.
Saat pengantin wanita berjalan mendekat, Rozen memperhatikannya sekilas. Ekspresinya masih tetap datar namun di balik itu semua, calon mempelai pria menyadari perbedaannya.
Rozen mengamati bagaimana langkah kecil itu tercipta penuh kewaspadaan bersama bahu yang sedikit menegang. Satu tangan menggenggam buket bunga, satunya lagi melingkar di lengan sang ayah. Jemari lentik meremas erat pada lengan jas yang dikenakan ayahnya, seolah sedang mencoba menenangkan diri.
Ketika tatapan mata mereka bertemu sesaat. Rozen merasakan ada kegugupan yang asing, sorot mata yang berbeda, bahkan cara wanita itu menundukkan kepala tidak seperti yang ia ingat. Hal yang tidak pria itu lihat saat pertemuan terakhir dengan tunangannya.
Rozen mengenali tunangannya. Isabella.
Saat itu, Rozen langsung menyadari bahwa calon pengantin yang berdiri di altar bersamanya bukanlah pengantinnya yang sesungguhnya.
Tapi Rozen tidak berkata apa-apa mengenai hal tersebut. Rozen juga tidak menghentikan upacara pernikahannya.
Baginya, siapa pun wanita yang berdiri di sampingnya hari ini tidak akan mengubah apa pun. Pernikahan itu tetap akan berlangsung, karena yang pria itu butuhkan hanyalah seseorang untuk memenuhi kesepakatan, bukan seorang wanita yang harus dicintainya.
"Silakan lanjutkan," ucap Rozen singkat.
Dan dengan kalimat sederhana itu, nasib dua orang asing resmi terikat dalam sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih.
Upacara pengikatan janji suci tetap berlangsung. Seluruh orang yang menghadiri acara pernikahan itu, kecuali Rozen, Aurora dan kedua orang tua Aurora, tidak mengetahui fakta sebenarnya bahwa pengantin wanita yang asli tidak pernah mengikat janji suci di sana.
Sepasang cincin diserahkan untuk dikenakan kedua mempelai. Ketika cincin telah melingkar di jari manis Aurora, gadis itu dengan segala rasa sedih di hatinya sadar bahwa tidak ada jalan baginya untuk kembali.
Sejak hari itu ia bukan lagi Aurora Valencia. Ia adalah istri sah dari Rozen Salvadore.
Dan tanpa mereka sadari, sebuah kebohongan kecil di hari pernikahan akan menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup mereka berdua.
......***......
Malam semakin larut ketika upacara pernikahan pewaris keluarga Salvadore, Rozen dan Aurora resmi berakhir. Aurora pada akhirnya menerima takdir yang tidak bisa dielakkan lagi. Gadis itu dan janji suci yang diucapkannya. Menjadi istri seorang Rozen Salvadore, menggantikan kakaknya, hingga kematian yang memisahkan. Janji suci yang sejak awal telah tercemari dusta.
Ballroom yang sejak sore dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi lautan cahaya dan alunan musik klasik yang mengalun lembut. Gelas-gelas kristal saling beradu, tawa para tamu terdengar bersahut-sahutan, sementara para pelayan berlalu-lalang menyajikan hidangan dan minuman terbaik.
Tamu undangan berdatangan silih berganti, berjabat tangan lalu mengucapkan selamat berbahagia kepada kedua mempelai. Seolah semuanya percaya bahwa pernikahan itu berlangsung sempurna tanpa cela.
Aurora berdiri di sisi Rozen dengan senyumannya yang sedikit kaku, sementara Rozen tetap mempertahankan style wajah datarnya. Jangan lupa bahwa mereka adalah sepasang manusia yang terpaksa menjadi satu.
Sulit dipungkiri bahwa semuanya terasa begitu tidak nyata bagi Aurora.
Sebab beberapa jam yang lalu Aurora hanyalah seorang adik yang datang untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Dan kini, ia justru berdiri sebagai mempelai wanitanya, mengenakan gaun yang bukan miliknya dan menyandang nama keluarga yang sama sekali asing baginya.
Aurora bahkan begitu risau tentang dusta yang sedang ia perankan. Pada kenyataannya gadis itu bukanlah pengantin yang sesungguhnya. Terlebih lagi mempelai pria yang sedang ia dustai adalah keturunan mafia yang kejam. Jika ia ketahuan, bagaimana nasibnya dan keluarganya?
Di balik senyum yang terus dipaksakan itu, hati Aurora dipenuhi rasa kalut. Takut kebohongannya terbongkar di hadapan semua orang. Takut seseorang tiba-tiba memanggil nama kakaknya. Takut Rozen berubah pikiran dan membatalkan pernikahan mereka setelah menyadari kebohongan tersebut.
Aurora memejamkan kedua mata indahnya, memikirkan hidupnya yang telah berubah begitu cepat, tanpa memberinya kesempatan untuk memilih.
...***...
Suasana di ballroom masih dipenuhi tepuk tangan penuh sukacita ketika Rozen menggenggam tangan wanita yang telah sah menjadi istrinya itu dengan lembut, berniat membawanya meninggalkan altar.
Aurora merasakan jemarinya yang terasa dingin mendapat kehangatan dari genggaman tangan Rozen yang jauh lebih besar itu. Aurora meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa nyaman yang dirasakan gadis itu hanya sebatas kehangatan yang tidak sengaja terbagi karena udara malam itu juga cukup dingin.
"Kenapa diam?" tanya Rozen pelan.
Aurora tersentak lalu tersadar dari lamunannya. Gadis itu menyadari bahwa tangannya masih digenggam erat namun tanpa niat menyakiti.
"Tidak apa-apa," jawab Aurora gugup.
Rozen hanya mengangguk singkat. Wajahnya tetap datar, seolah jawaban istrinya itu cukup baginya.
Beberapa menit kemudian, sebuah limusin hitam berhenti di depan pintu hotel. Tanpa perintah dari siapapun, Rozen menuju mobil mewah itu, membukakan pintu untuk Aurora tanpa sepatah kata.
Aurora sempat terkejut.
Setelah mendengar berbagai cerita yang menggambarkan sosok Rozen sebagai mafia yang kejam, Aurora tidak menyangka bahwa pria sedingin es itu masih memiliki sikap yang sopan.
"Masuk," pinta Rozen pelan.
Aurora mendadak gugup. Suara suaminya tidak sedikitpun terdengar memaksa, tapi Aurora tidak berdusta kalau gadis itu sedikit gugup mendengarnya.
"Terima kasih," cicit Aurora sebelum masuk ke mobil.
Setelah memastikan istrinya masuk mobil dengan aman, Rozen menyusul dan duduk di sampingnya.
Perjalanan menuju kediaman keluarga Salvadore dipenuhi keheningan. Aurora beberapa kali melirik pria di sebelahnya, tetapi pria yang telah menjadi suaminya itu lebih memilih menatap keluar jendela.
Aurora mengamati dalam hening bagaimana pria itu tidak tampak marah namun juga tidak tampak bahagia. Sama seperti apa yang ia rasakan.
Tapi jika ditanya siapa yang paling menderita di antara mereka berdua, Aurora akan menyebutkan nama suaminya. Karena orang yang ditinggalkan di hari pernikahan adalah Rozen, suaminya.
Aurora menundukkan kepala, memandangi gaun putih yang seharusnya tidak melekat di tubuhnya dengan sendu. Terbesit rasa bersalah setiap kali Aurora membayangkan kekecewaan yang kelak akan dialami pria itu ketika mengetahui kebenarannya.
...***...
Perjalanan masih berlangsung sunyi.
Apakah lebih baik jika Aurora mengatakan yang sebenarnya? Bahwa dirinya bukan Isabella melainkan saudari kembarnya, Aurora?
Aurora sangat ingin mengatakan demikian, bahwa dirinya bukan Isabella. Bahwa ia hanyalah pengganti.
Namun niat itu selalu urung setiap kali melihat wajah dan ekspresi Rozen yang sulit ditebak. Keberanian gadis itu seketika menghilang.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah yang berdiri di atas bukit.
Aurora tidak berniat menyembunyikan kekagumannya. Tergambar jelas bagaimana gadis itu membuka mulutnya tanpa disadari, menyaksikan secara langsung bangunan yang tampak lebih menyerupai istana daripada rumah.
Keluarga Valencia tergolong berada. Namun jika dibandingkan dengan kekayaan suaminya, ternyata sangat jauh berbeda.
Sudah menanti puluhan pengawal dan pelayan, berjajar rapi untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Tuan Rozen dan Nyonya Salvadore."
Sapaan itu membuat Aurora semakin gugup.
"Nyonya Salvadore," batinnya.
Aurora termenung. Gelar itu terdengar asing. Gelar yang membuat Aurora kembali diingatkan pada kenyataan bahwa gelar itu seharusnya milik kakaknya.
Ditengah kegundahan hati itu, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan senyuman ramah yang tidak dibuat-buat.
"Perkenalkan, saya Rosa, kepala pelayan di rumah ini." Kepala pelayan itu memperkenalkan diri dengan sopan, setelah itu kembali menatap Aurora dengan hangat.
"Selamat datang, Nyonya Salvadore. Semoga Anda betah di sini."
Aurora membalas senyumnya dengan canggung. Tidak menyangka kalau kehadirannya akan disambut sehangat ini. Padahal Aurora sempat khawatir kalau rumah seorang mafia akan terasa dingin dan menakutkan.
"Terima kasih," tutur Aurora dengan lembut.
Rozen menyerahkan mantel jasnya kepada Rosa seraya berkata kepada kepala pelayan yang telah mengabdi selama puluhan tahun di keluarganya itu.
"Antar dia ke kamar."
"Lalu Anda, Tuan?" tanya Rosa, menunggu jawaban.
"Aku masih ada pekerjaan."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Rozen berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya. Sementara gadis itu, Aurora, hanya bisa menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik koridor.
Rosa tidak ingin mempertahankan kecanggungan lebih lama. Kepala pelayan itu segera membuka percakapan. Berusaha menenangkan sang majikan.
"Jangan terlalu dipikirkan," ujar Rosa lembut. "Beliau lebih pandai menunjukkan perhatian lewat tindakan daripada kata-kata."
Aurora mengangguk pelan. Berharap ucapan kepala pelayan itu benar. Tapi walau demikian, Aurora tidak berani berharap terlalu banyak. Karena segala sesuatu yang dimulai dari kebohongan biasanya tidak akan bertahan lama.
"Mari, saya antar ke kamar."
Rosa mempersilahkan Aurora untuk masuk lebih dahulu. Kemewahan dan kemegahan mansion menjadi hal pertama yang diabadikan sepasang mata bulat berbulu mata lentik itu.
Rosa juga mengantar Aurora berkeliling mansion sebelum benar-benar menuju kamar. Bangunan itu jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Lorong-lorongnya dipenuhi lukisan klasik dan perabotan mewah. Suasananya terasa tenang walau sedikit sepi.
Bahkan kamar yang disiapkan untuk Aurora tempati juga sangat luas.
Dada Aurora berdesir nyeri. Sorot matanya kembali sendu. Statusnya hanyalah pengganti. Dan segala kemewahan ini tidak pantas ia nikmati.
"Kalau ada yang Anda butuhkan, jangan sungkan memanggil saya," kata Rosa ramah.
Aurora tersenyum kecil menanggapi. "Terima kasih, Bibi Rosa."
Wanita paruh baya itu tampak senang mendengar sapaan tersebut. Bibirnya bahkan menciptakan lengkungan manis yang tulus.
"Saya akan menyiapkan teh hangat."
Setelah Rosa, kepala pelayan itu pergi, Aurora berjalan mendekati jendela kamar. Dari sana gadis itu bisa melihat taman luas yang diterangi lampu-lampu kecil. Taman indah yang dipenuhi bunga mawar putih.
Rumah itu indah. Namun entah mengapa, Aurora merasa seperti orang asing, walau nama Salvadore sudah resmi menjadi miliknya.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Apa yang sebenarnya sedang kulakukan di sini?"
Di tengah keheningan terdengar ketukan di pintu. Bunyi tiba-tiba itu berhasil membuyarkan lamunan Aurora.
Sebelum sempat bereaksi, pintu sudah lebih dahulu terbuka perlahan. Rozen melangkah masuk dengan ekspresi yang masih sulit dibaca, sambil membawa sebuah kotak kecil di tangan kanannya.
"Ada apa? tanya Aurora hati-hati. Kegugupan di wajah cantik itu tidak dapat disembunyikan. Sangat cukup untuk memancing kecurigaan.
"Apa kamar ini sudah sesuai?"
Aurora sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pria itu datang hanya untuk menanyakan hal sederhana. Tapi, kenapa?
"Kamarnya sangat nyaman." Aurora mencoba untuk terlihat santai. Namun benaknya tidak berhenti bertanya-tanya.
Rozen mengangguk.Hanya itu responnya. Dan hal itu sangat mengusik ketenangan jiwa Aurora. Rozen sangat sulit dibaca.
Tidak ingin lebih tersiksa, Aurora memberanikan diri menatap mata suaminya. Gadis itu gugup dan takut. Namun rasa penasarannya jauh lebih mendominasi.
"Kenapa kamu tidak bertanya apa pun?"
Rozen mengernyit tipis. "Maksudmu?"
Aurora menggigit bibir bawahnya. Mengumpulkan seluruh keberanian yang masih dimilikinya. Gadis itu tahu, pertanyaannya mungkin berakibat fatal. Namun, entah kenapa Aurora yakin kalau suaminya sudah mengetahui tentang dirinya sejak awal. Sejak kemunculannya di altar.
"Tentang diriku." Aurora akhirnya mengatakannya dengan degup jantung yang kencang.
Rozen terdiam beberapa saat hingga apa yang pria itu ucapkan benar-benar mengejutkan Aurora.
"Aku tahu."
Jantung Aurora semakin memompa liar. Dugaannya ternyata benar? Bahwa Rozen mengetahui semuanya?
"Tahu apa?" Aurora masih harus memastikan kebenarannya dan berharap kalau ketakutannya tidak mungkin terjadi.
"Kau bukan wanita yang seharusnya berdiri di altar bersamaku."
Wajah Aurora memucat. Ternyata ia sudah tertangkap basah sejak awal. Tangannya yang berada di samping tubuh mengepal tanpa sadar. Aurora kesulitan menelan salivanya sendiri.
"Maaf, aku tidak... "
Rozen memberi isyarat pada istrinya untuk berhenti bicara dengan mengangkat satu tangannya. Dengan suara rendah, pria itu melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak butuh alasan."
Aurora memandang suaminya dengan bingung.
"Pernikahan ini bukan karena cinta, bukan juga karena siapa yang berdiri di sampingku. Selama kau bersedia menjalani peranmu sebagai istriku, itu sudah cukup."
Aurora menatap pria itu tidak percaya. Sebuah respon yang sangat berbeda dari apa yang Aurora bayangkan.
Tidak ada kemarahan. Tidak ada ancaman. Hanya kalimat datar yang terdengar seperti sebuah kesepakatan.
"Jadi, kamu tidak akan menceraikan aku?"
Rozen menggeleng pelan. "Tidak."
"Mulai hari ini, kau adalah Nyonya Salvadore. Istriku.
Setelah mengatakan itu, Rozen berbalik menuju pintu, hendak meninggalkan kamar dengan ekspresi yang tidak berlebihan. Pria itu masih bersikap dingin. Tidak ada tanda kekecewaan seperti yang Aurora bayangkan.
Namun sebelum benar-benar keluar, Rozen menghentikan langkahnya sejenak. Pria itu kembali masuk ke dalam kamar, meletakkan kotak yang tadi dibawanya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Besok malam ada jamuan makan keluarga. Datanglah bersamaku."
Aurora menatap sekilas kotak di atas meja lalu kembali menatap suaminya dengan sorot penuh tanya.
"Hadiah pernikahan. Kau boleh memakainya besok jika kau mau."
Usai mengatakan hal itu, pintu pun tertutup bersama dengan lenyapnya sosok Rozen.
Aurora masih berdiri mematung di tempatnya. Kebingungan dan tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru semakin cemas.
Yang jelas, satu hal yang gadis itu pahami. Rozen Salvadore bukanlah pria yang mudah ditebak.
Aurora meraih kotak pemberian suaminya tersebut, kemudian membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah gelang perak sederhana dengan liontin berbentuk bunga lili.
"Bukankah ini terlalu mahal?" lirih Aurora di hadapan kehampaan.
Aurora tersenyum kecil. "Terima kasih," bisiknya lembut seolah suaminya sedang berdiri di hadapannya.
Di balik pintu yang tertutup itu, Aurora mengembuskan napas lega. Mungkin menjalani pernikahan ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan.
...***...
Hangat.
Hal pertama yang Aurora rasakan ketika sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamarnya. Aurora menggeliat dengan mata terpejam. Mungkin terusik karena silau yang mengganggu.
Perlahan, Aurora membuka kedua matanya, lalu tanpa sadar menoleh ke sisi lain tempat tidur.
Kosong.
Sosok yang diharapkannya ada di sana hanyalah angan-angan semata. Selimut di sisi itu juga masih tertata rapi. Aurora menelan kenyataan bahwa tidak ada yang berbaring di sana semalaman.
Aurora mengembuskan napas pelan.
Semalam, Rozen meminta tidur di kamar sebelah dengan alasan ingin memberi Aurora waktu untuk beristirahat dan menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.
Tentu saja Aurora tidak merasa kecewa, apalagi marah. Ia justru mengerti.
Bagaimanapun juga, Aurora bukan wanita yang seharusnya berdiri di altar bersama Rozen. Perempuan itu hanyalah pengantin pengganti yang hadir karena keadaan memaksa. Terlalu berlebihan jika Aurora berharap pria itu akan langsung menerima kehadirannya sebagai seorang istri. Tidak mungkin.
Mereka hanyalah dua orang asing yang terikat dalam sebuah pernikahan tanpa persiapan. Tanpa bisa menolak.
Aurora tersenyum tipis, berusaha menenangkan hatinya sendiri.
"Tidak apa-apa," batinnya. "Setidaknya Tuan Rozen sudah cukup baik menerimaku tinggal di rumah ini."
Dengan pikiran itu, Aurora menyingkirkan segala kegelisahan yang mengusiknya.
Beberapa detik berlalu, Aurora hanya menatap langit-langit kamar yang asing dan merasa bahwa kamar itu terlalu luas untuk dihuni seorang diri.
Langit-langit kamar yang tinggi, lampu kristal yang menggantung megah dan aroma lembut bunga lily yang memenuhi ruangan mengingatkannya bahwa ia bukan lagi berada di rumah keluarga Valencia.
Benar. Setelah pernikahannya usai, Aurora pindah dan ikut bersama Rozen. Menjadi seorang istri dan tinggal di mansion megah nan mewah milik suaminya.
Dan pagi ini merupakan pagi pertamanya setelah resmi menjadi bagian dari keluarga Salvadore. Sebagai Nyonya Salvadore, istri sah seorang Rozen Salvadore.
...***...
"Ini benar-benar bukan mimpi." Aurora membatin.
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Aurora pelan, memberitahukan bahwa sarapan sudah tersaji di ruang makan.
Aurora segera bersiap dan tidak lupa merapikan ranjang sebelum mandi. Ia juga mengenakan gaun sederhana berwarna krem yang telah disiapkan Rosa di atas ranjang.
Saat membuka pintu kamar, hendak menuju ruang makan, seorang pelayan langsung membungkukkan badan.
"Selamat pagi, Nyonya Salvadore."
"Selamat pagi." Aurora tersenyum kikuk.
Sebenarnya sapaan itu masih terdengar asing di telinganya. Tapi kali ini, ketika pelayan menyapanya dengan sebutan Nyonya Salvadore, muncul perasaan asing yang sulit dijelaskan menyelinap ke dalam hatinya.
Selama dua puluh tiga tahun hidup, tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari nanti ia akan dipanggil dengan nama keluarga orang lain.
'Nyonya Salvadore'. Panggilan itu terdengar begitu indah, hangat, sekaligus terasa jauh. Seolah nama akhir suaminya tersebut memeluknya sebagai bagian dari keluarga, meski Aurora tahu dirinya datang dengan cara yang tidak seharusnya.
Tanpa disadari, Aurora mulai menyukai panggilan barunya. Bahkan timbul percikan kebahagiaan yang muncul setiap kali mendengarnya.
Namun setiap kali perasaan itu tumbuh, kenyataan datang menghempaskannya.
Nama Salvadore bukanlah nama yang semestinya melekat padanya. Seharusnya, wanita yang menyandang nama itu adalah Isabella, kakaknya. Sedangkan dirinya hanyalah seorang pengganti yang kebetulan mengenakan gaun pengantin di hari yang salah.
Menyadari hal itu, Aurora hanya mampu tersenyum pahit. Ia mengingatkan dirinya untuk tidak berharap terlalu jauh, karena semakin ia menikmati peran sebagai Nyonya Salvadore, semakin besar pula luka yang akan wanita itu rasakan jika suatu hari nanti harus melepaskan nama itu dari hidupnya.
...***...
Ruang makan keluarga Salvadore membentang luas. Langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar diciptakan sedemikian rupa agar tetap membiarkan cahaya pagi masuk dengan lembut.
Sebuah meja makan terbuat dari kayu ek membujur hampir memenuhi ruangan, cukup untuk menampung belasan orang sekaligus. Namun, di tengah luasnya ruangan itu, hanya ada satu kursi yang terisi.
Rozen Salvadore duduk seorang diri di ujung meja.
Di hadapan pria itu hanya tersaji secangkir kopi hitam, roti panggang, dan beberapa lembar koran bisnis yang telah terbuka. Punggungnya tegak, ekspresinya datar dengan sorot mata tetap tajam meski baru memulai hari.
Aurora menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu.
Sulit memercayai bahwa pria yang kini menyandang status sebagai suaminya adalah sosok yang begitu disegani di dunia bawah. Di usianya yang masih terbilang muda, Rozen telah menjadi kepala keluarga Salvadore sekaligus pemimpin organisasi mafia yang memiliki jaringan bisnis legal dan ilegal di berbagai negara. Namanya dikenal sebagai simbol kekuasaan, ketegasan dan disiplin. Banyak orang menghormatinya, tidak sedikit pula yang memilih takut padanya.
Meski begitu, Rozen bukan tipe pemimpin yang gemar memamerkan kekuatan. Ia lebih sering berbicara melalui keputusan-keputusannya yang tegas daripada ancaman. Karena itulah setiap ucapannya hampir tidak pernah dibantah, bahkan oleh orang-orang yang lebih tua darinya.
Di dalam mansion ini pun tidak jauh berbeda.
Para pelayan bergerak dengan tenang dan teratur, seolah memahami kebiasaan sang tuan tanpa perlu diperintah. Tidak seorang pun berani membuat keributan saat pria itu berada di ruang makan. Keheningan seakan telah menjadi aturan yang dipahami semua orang.
Aurora menarik napas pelan sebelum melangkah masuk. Wanita itu kembali gugup.
"Selamat pagi." Aurora menyapa dengan suara lembut miliknya. Pada akhirnya ia tetap melawan kegugupannya sendiri.
Rozen mengangkat pandangannya dari koran. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik sebelum pria itu hanya menganggukkan kepala sebagai balasan.
"Pagi."
Hanya satu kata. Namun jawaban singkat itu cukup membuat ketegangan di hati Aurora sedikit mereda. Setidaknya, pagi pertama mereka sebagai suami istri tidak dimulai dengan sikap dingin yang benar-benar menolak kehadirannya. Atau begitulah yang Aurora pikir.
Aurora duduk dengan hati-hati di kursi yang berhadapan dengan Rozen, lalu mengukur jarak yang memisahkan mereka. Hanya sejauh meja makan yang panjang, tetapi keheningan yang menyelimuti ruang makan itu terasa jauh lebih lebar daripada itu.
Di saat bersamaan, seorang pelayan menuangkan teh hangat ke cangkir Aurora, sementara pelayan lain menyajikan sarapan di hadapannya. Aroma roti panggang, telur, dan sup krim memenuhi ruangan, tetapi tidak mampu mengusir suasana canggung yang menggelayut di antara mereka.
Aurora memperhatikan bagaimana suaminya begitu fokus pada koran yang berada di tangannya. Sesekali pria itu menyesap kopi hitam, tetapi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari lembaran berita yang sedang dibacanya.
Aurora tidak melakukan apapun, kecuali mencoba menikmati sarapannya. Tetapi pikiran wanita berambut panjang itu justru sibuk mencari cara untuk memecah keheningan. Karena menurutnya sangat aneh ketika makan berdua tanpa bertukar sepatah kata pun.
Beberapa kali Aurora mengangkat wajah, lalu kembali mengurungkan niatnya untuk berbicara. Entahlah, wanita itu merasa ragu.
Tapi jika terus tertekan oleh keheningan yang melahirkan canggung itu, Aurora tidak akan bisa menikmati sarapannya dengan tenang.
Hingga akhirnya Aurora memberanikan diri.
"Maaf?"
Rozen menurunkan korannya beberapa senti dan mengangkat pandangan.
"Ada apa?"
Aurora tersenyum tipis karena gugup. Khawatir karena telah berani berbuat lancang.
"Kamu... selalu membaca koran saat sarapan?"
Rozen melipat sedikit koran di tangannya sebelum menjawab dengan nada tenang.
"Mungkin sudah menjadi kebiasaan."
Aurora mengangguk pelan. "Berarti setiap pagi memang seperti ini?" tanya Aurora lagi, sedikit memperdengarkan nada penasarannya.
"Ya." Walau jawaban suaminya tetap singkat, tetapi kali ini tidak terdengar dingin.
Aurora terkekeh kecil.
"Pantas suasananya sangat tenang. Aku sampai bingung harus mulai mengobrol dari mana."
Rozen menatap Aurora beberapa saat. Untuk pertama kalinya pria itu meletakkan koran sepenuhnya di atas meja.
"Mulai dari apa saja yang ingin kau ketahui."
Bukan hanya kalimat sederhana itu yang membuat Aurora terkejut. Tapi juga sebuah koran yang sudah terlipat rapi di pinggir meja makan. Artinya, pria dingin itu sedang memberi seluruh fokusnya hanya untuk mendengarkan Aurora?
Aurora masih terdiam.
Setidaknya, Aurora tahu bahwa pria di hadapannya bukan tidak ingin berbicara. Suaminya yang kaku itu hanyalah orang yang tidak terbiasa memulai sebuah percakapan.
"Bicaralah."
Aurora terkesima. Ternyata Rozen benar-benar menunggunya berbicara. Wanita itu menarik napas pelan, lalu mulai menceritakan hal-hal sederhana tentang taman yang dilihatnya dari jendela kamar, cuaca pagi yang cerah, hingga rasa kagumnya pada megahnya Mansion Salvadore.
Rozen, pria dingin itu mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia mengangguk singkat atau memberikan jawaban pendek, tetapi cukup untuk membuat percakapan mereka terus mengalir.
"Rumah ini jauh lebih besar dari yang kubayangkan," ujar Aurora sambil tersenyum kecil. "Kurasa aku bisa tersesat kalau berjalan sendirian."
"Aku juga berpikir begitu," sahut Rozen datar.
Aurora tertawa pelan mendengar jawaban jujur itu. Satu hal yang Aurora sukai dari sifat dingin suaminya. Ucapan berterus-terangnya itu.
Rozen menyeka sudut bibirnya dengan serbet, lalu berdiri dari kursinya. Sudah cukup untuk mendengarkan celotehan istrinya tentang mansion dan taman bunga.
"Kalau kau ingin berkeliling, silakan."
Aurora mendongak menatap suaminya. Binar di sepasang mata bulatnya terpancar terang.
"Benarkah?"
Rozen hanya mengangguk sekali.
"Rosa akan menemanimu. Dia mengenal setiap sudut mansion ini, jadi kau tidak perlu khawatir tersesat."
Aurora tersenyum bahagia, "Terima kasih."
"Mansion ini adalah rumahmu sekarang. Kau tidak perlu meminta izin untuk melihat-lihat."
Kalimat itu membuat Aurora terdiam sejenak. Walau diucapkan dengan nada datar, tapi Aurora merasakan hatinya perlahan menghangat.
Setelah itu Rozen merapikan jas yang dikenakannya sebelum beranjak meninggalkan ruang makan.
"Aku harus kembali bekerja."
Aurora mengangguk penuh pengertian dengan tarikan senyum manis di bibir ranumnya. "Semoga pekerjaanmu lancar."
Rozen menatapnya sekilas, lalu membalas dengan anggukan tipis sebelum melangkah meninggalkan ruang makan menuju ruang kerjanya. Aurora mengikuti punggung pria itu dengan pandangan hingga menghilang di balik koridor.
Di saat yang sama, Rosa menghampiri dengan senyuman ramah.
"Kalau Nyonya sudah selesai sarapan, bagaimana kalau saya mulai mengajak Nyonya berkeliling mansion?"
Aurora mengalihkan pandangannya lalu memandang Bibi Rosa dengan lembut.
"Baik, Bibi Rosa. Sepertinya aku memang membutuhkan seorang pemandu."
...***...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!