Hujan turun sangat deras mengguyur kota Jakarta malam ini.
Brak!
Suara petir menyambar bersamaan dengan langkah kaki seorang pria yang baru saja keluar dari pintu kedatangan bandara.
Pria itu bernama Sony.
Usianya baru dua puluh lima tahun, tetapi tatapan matanya sangat dingin dan tajam.
"Akhirnya aku kembali," gumam Sony pelan.
Dia menatap rintik hujan yang mulai membasahi jaket hitam yang dikenakannya.
Tidak ada keluarga atau teman yang datang menjemputnya di sana.
Hanya ada kenangan pahit masa lalu yang terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak.
"Tiga tahun, waktu yang cukup lama untuk membuat mereka merasa aman," Sony menghela nafas panjang.
Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar dengan kencang.
Wush!
Angin dingin berhembus saat dia mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Tuan, Anda sudah sampai di Indonesia?" Suara seorang pria terdengar sangat sopan dari seberang telepon.
"Ya, aku baru saja berjalan keluar dari bandara," jawab Sony dengan nada datar.
"Apa Anda ingin saya mengirim pasukan penjemput ke sana sekarang juga?" tanya pria itu lagi.
"Tidak perlu, aku akan bergerak sendiri mulai malam ini," tolak Sony tegas.
"Tapi Tuan, musuh-musuh Anda di kota itu sangat licik."
"Mereka bukan musuh, mereka hanya serangga yang sedang menunggu gilirannya untuk diinjak," potong Sony.
Tut.
Sony mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari bawahannya.
Dia berjalan santai menuju pangkalan taksi yang berada di depan area bandara.
Seorang sopir taksi paruh baya melambaikan tangan ke arahnya dari dalam mobil.
"Mau ke mana malam-malam begini, Mas?" sapa sopir itu dengan ramah saat Sony mendekat.
"Ke kompleks pemakaman umum Menteng," jawab Sony sambil membuka pintu belakang mobil.
Sopir itu terlihat sangat terkejut mendengar tujuan yang diucapkan oleh Sony.
"Malam-malam hujan deras begini mau ke kuburan, Mas?" tanya sopir itu dengan nada ragu.
"Ya, jalan saja tidak usah banyak tanya," ucap Sony sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Mesin mobil menyala dan taksi itu perlahan meninggalkan area bandara yang ramai.
Sony menatap ke luar jendela melihat gemerlap lampu kota yang menyala terang.
Pikirannya secara otomatis kembali ke kejadian tragis tiga tahun yang lalu.
Saat itu dia sedang berada di puncak kesuksesan hidupnya.
Perusahaan keluarganya berkembang pesat menjadi salah satu yang terbesar di kota.
Dia juga memiliki seorang pacar yang sangat cantik jelita bernama Rina.
Tapi semuanya hancur berkeping-keping hanya dalam satu malam.
Sahabat paling baiknya, Dimas, ternyata berkhianat dan menusuknya dari belakang.
"Dimas, kenapa kau melakukan semua ini padaku?" Suara Sony terdengar bergetar di ingatannya sendiri.
"Karena aku muak melihatmu selalu berada di atasku dan mengambil semua pujian, Sony," jawab Dimas sambil tersenyum sinis.
Dalam ingatan yang menyakitkan itu, Rina juga berdiri tepat di samping Dimas sambil berpegangan tangan.
"Maaf Sony, Dimas bisa memberikanku segalanya, tidak sepertimu yang hanya mengandalkan harta orang tua," ucap Rina dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Sony mengepalkan tangannya di dalam taksi kuat-kuat hingga kuku jarinya memutih.
Krek!
Suara pelan terdengar dari pegangan pintu mobil yang tidak sengaja diremas oleh Sony hingga sedikit penyok.
Sopir taksi melirik dari kaca spion dengan raut wajah sangat khawatir.
"Mas, ada masalah di belakang?" tanya sopir itu dengan sangat hati-hati.
"Tidak ada, fokus saja menyetir ke depan," jawab Sony tanpa menatap sopir itu.
Sopir itu langsung diam dan kembali menatap ke jalanan yang basah.
Sony kembali menutup matanya perlahan.
Ingatan tentang kematian kedua orang tuanya kembali muncul membakar amarahnya.
Orang tuanya dibunuh dengan kejam oleh pembunuh bayaran suruhan Dimas di rumah mereka sendiri.
Lalu semua bukti dan saksi dimanipulasi sedemikian rupa oleh Dimas.
Semua tuduhan pembunuhan dan penggelapan dana perusahaan diarahkan tepat kepada Sony.
Pengadilan memvonisnya bersalah dan dia langsung dijebloskan ke penjara luar negeri yang paling kejam.
"Tunggu saja, Dimas. Tunggu saja pembalasanku, Rina," Sony berbisik di dalam batin.
Di dalam penjara neraka itu, Sony hampir mati disiksa setiap hari oleh para tahanan lain.
Hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang lelaki tua misterius yang menjadi tahanan rahasia.
Lelaki tua itu mengajarinya ilmu bela diri tingkat dewa dan ilmu medis kuno secara sembunyi-sembunyi.
"Jika kau ingin membalas dendam dengan tuntas, kau harus menjadi dewa kematian itu sendiri," ucap lelaki tua itu di masa lalu.
Sony membuka matanya saat taksi tiba-tiba berhenti.
Ciiit!
"Kita sudah sampai di depan gerbangnya, Mas," kata sopir taksi memecah keheningan.
Sony mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan memberikannya ke sopir.
"Kembaliannya ambil saja untukmu," kata Sony sambil membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Terima kasih banyak ya, Mas!" ucap sopir itu dengan wajah sangat senang.
Taksi itu langsung pergi melesat meninggalkan Sony sendirian di depan gerbang pemakaman yang gelap gulita.
Hujan sudah mulai reda sejak tadi, hanya menyisakan gerimis kecil yang dingin.
Sony melangkah masuk perlahan melewati nisan demi nisan yang berjejer rapi.
Dia akhirnya berhenti di depan dua makam yang letaknya agak di ujung dan terlihat tidak terawat.
Rumput liar tumbuh sangat subur menutupi nama di batu nisan sekitarnya.
Itu adalah makam ayah dan ibunya kandungnya.
Sony langsung berlutut di atas tanah yang basah dan kotor.
"Ayah, Ibu, aku akhirnya pulang," ucap Sony dengan suara yang sedikit parau.
Tangannya mencabut dan membersihkan rumput liar di atas makam itu dengan sangat perlahan.
"Maafkan anakmu yang tidak berguna ini karena baru bisa datang menjenguk sekarang."
Tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh dari mata Sony.
Air matanya sudah habis mengering selama tiga tahun disiksa di dalam penjara.
"Aku berjanji di depan kalian, orang-orang yang melakukan ini pada keluarga kita akan membayar ribuan kali lipat."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah belakang punggungnya.
Tap. Tap. Tap.
Sony sama sekali tidak menoleh dan dia masih sibuk membersihkan sisa kotoran di batu nisan.
"Hei babi, sedang apa kau di sini malam-malam begini?" bentak sebuah suara serak dan kasar.
Sony perlahan berdiri dan membalikkan badannya dengan tenang.
Tiga orang pria berbadan besar dengan tato di lengan berdiri tidak jauh darinya.
Mereka memegang tongkat besi berkarat dan pemukul bisbol kayu di tangan masing-masing.
"Bukan urusan kalian aku sedang apa di sini," jawab Sony datar.
"Berani sekali kau menjawab begitu! Ini wilayah kekuasaan geng Macan Hitam, tahu!" teriak pria yang kepalanya botak.
"Lalu kenapa kalau ini wilayah kalian?" tanya Sony dengan nada mengejek.
Pria botak itu membuang ludah ke tanah dengan kasar.
Cuih!
"Serahkan semua uang dan barang berhargamu sekarang juga kalau kau masih mau keluar hidup-hidup dari sini!" ancam pria botak itu sambil mengangkat tongkat besinya.
Sony hanya tersenyum tipis merespon ancaman itu.
"Kalian sungguh salah memilih lawan malam ini," ucap Sony.
[Sistem Peringatan: Tiga musuh kelas rendah terdeteksi di sekitar Tuan]
Sony menatap tulisan biru transparan yang tiba-tiba muncul di depannya dengan pandangan sangat bosan.
Itu adalah sistem gaib yang terikat dengannya setelah dia berlatih keras di bawah bimbingan gurunya.
"Aku tidak butuh peringatan sistem untuk menghadapi sampah masyarakat seperti mereka," batin Sony.
"Jangan banyak gaya, cepat habisi dia!" teriak pria botak memberi perintah.
Ketiga pria itu langsung berlari maju dengan cepat menyerang Sony secara bersamaan.
Srat!
Pria pertama mengayunkan tongkat besinya dengan sekuat tenaga ke arah kepala Sony.
Sony tidak bergeser dari tempatnya, dia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
Tongkat besi itu meleset jauh dari sasarannya dan hanya membelah angin.
Bugh!
Sony meninju perut pria itu dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata biasa.
"Argh!" Pria itu memuntahkan darah segar dari mulutnya dan langsung ambruk ke tanah tak sadarkan diri.
Dua pria lainnya langsung berhenti melangkah karena terlalu terkejut melihat temannya tumbang.
Mereka sama sekali tidak melihat pergerakan tangan Sony barusan.
"Sekarang giliran kalian berdua," ucap Sony sambil melangkah maju satu langkah.
"Sialan, jangan sombong dulu kau!" teriak pria kedua yang memegang pemukul bisbol.
Dia mengayunkan pemukul kayunya secara horizontal mengarah ke perut Sony.
Sony tidak menghindar, dia malah menangkap pemukul bisbol itu hanya dengan satu tangan kosong.
Brak!
Pemukul bisbol kayu itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil hanya dengan satu remasan tangan Sony.
Mata pria kedua langsung melotot seakan mau keluar dari tempatnya melihat kejadian mustahil itu.
"Monster macam apa kau ini sebenarnya?" teriak pria itu dengan suara panik dan bergetar.
"Aku? Aku adalah dewa kematianmu malam ini," bisik Sony yang tiba-tiba sudah berada tepat di telinga pria itu.
Sebelum pria itu sempat sadar apa yang terjadi, Sony sudah memelintir dan mematahkan kedua tangannya.
Krek! Krek!
"Aaaaargh!" Jeritan kesakitan yang melengking menggema memecah kesunyian area pemakaman.
Pria botak yang merupakan pemimpin kelompok kecil itu langsung gemetar ketakutan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kakinya menjadi sangat lemas hingga dia jatuh terduduk di atas tanah yang becek.
Sony berjalan mendekatinya dengan langkah yang sangat perlahan dan terukur.
Langkah demi langkah yang diambil Sony terdengar seperti hitungan mundur kematian bagi pria botak itu.
"Ampun, Tuan! Ampun, saya mohon jangan bunuh saya!" mohon pria botak itu sambil bersujud mencium tanah.
"Jawab pertanyaanku, siapa yang menyuruh anjing seperti kalian menjaga tempat ini?" tanya Sony dengan suara yang mengintimidasi.
"Ka-kami hanya preman rendahan biasa, kami dibayar setiap bulan oleh Grup Dimas untuk menakuti siapa saja yang berani datang ke makam ini!" jawab pria botak itu dengan suara terbata-bata karena menangis.
Sony sedikit menaikkan alisnya karena terkejut mendengar nama perusahaannya disebut.
"Grup Dimas? Maksudmu perusahaan raksasa milik Dimas Pratama?" tanya Sony memastikan.
"Benar, Tuan! Dimas Pratama sekarang adalah penguasa bisnis nomor satu di kota ini!"
Sony tertawa pelan mendengarnya, tapi tawanya terdengar sangat menyeramkan di telinga preman itu.
"Ternyata si keparat itu benar-benar sudah mengambil alih semua jerih payah keluargaku."
"Tuan, saya sudah menjawab semua pertanyaan Anda dengan jujur, tolong lepaskan saya pergi!" mohon preman botak itu lagi.
Sony menatap pria botak yang bersujud itu dengan pandangan jijik yang luar biasa.
"Kalian berani menginjak tanah suci tempat orang tuaku beristirahat dengan kaki kotor kalian."
Bugh!
Sony langsung menendang wajah pria botak itu dengan keras hingga dia pingsan seketika.
Darah segar mengalir keluar dari hidung preman tersebut bercampur dengan air hujan.
Sony mengeluarkan selembar kain bersih dari saku celananya dan mengelap tangannya dengan teliti.
"Dimas, kau ternyata sangat waspada sampai repot-repot menyewa preman untuk menjaga makam orang tuaku."
Sony membuang kain yang sudah kotor itu ke atas tubuh preman yang sedang pingsan.
"Tapi persiapan kecil seperti itu tidak akan cukup untuk menghentikan langkahku sedikitpun."
Sony berbalik dan kembali menatap makam kedua orang tuanya untuk yang terakhir kalinya malam ini.
"Aku pamit pergi dulu, Ayah, Ibu, aku akan membawa kepala mereka berdua saat aku kembali ke sini nanti."
Sony berbalik arah dan berjalan santai keluar dari area pemakaman.
Malam ini adalah awal dari mimpi buruk tanpa akhir bagi orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Saat dia tiba di luar gerbang pemakaman, sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat tiba-tiba berhenti tepat di depannya.
Pintu kemudi mobil terbuka dan seorang pria berjas rapi keluar menerjang gerimis.
Pria itu langsung menundukkan setengah badannya untuk membungkuk hormat kepada Sony.
"Selamat malam Tuan Sony, saya Leo, bawahan yang diutus langsung dari markas luar negeri untuk melayani Anda selama berada di sini," ucap pria berjas itu dengan sangat profesional.
"Aku kan sudah bilang di telepon tadi tidak perlu mengirim orang untuk menjemputku," kata Sony menegur pelan.
"Mohon maaf Tuan, tapi ini adalah perintah mutlak langsung dari guru besar Anda," jawab Leo dengan tetap menunduk sopan.
Sony menghela nafas pasrah karena tidak bisa membantah gurunya.
"Terserah kau saja, cepat bawa aku ke tempat istirahat yang sudah kau siapkan," perintah Sony pada akhirnya.
"Baik, Tuan. Silakan masuk lewat sini," ucap Leo sambil segera membukakan pintu belakang mobil mewahnya.
Mobil mewah itu pun melaju dengan mulus membelah jalanan malam kota Jakarta yang mulai sepi.
Di dalam mobil yang hangat, Sony melihat tumpukan dokumen tebal yang sudah disiapkan oleh Leo di kursi sebelahnya.
"Tuan, itu adalah laporan investigasi intelijen terbaru tentang Grup Dimas dan keluarga Rina yang Anda minta," kata Leo menjelaskan sambil menyetir.
Sony mengambil map teratas dan membuka halaman pertama dokumen itu.
Di sana terdapat foto Dimas yang sedang tersenyum lebar berjabat tangan dengan beberapa pejabat pemerintahan.
"Perusahaannya berkembang dengan sangat pesat dan agresif dalam tiga tahun terakhir ini, Tuan," jelas Leo.
"Tentu saja bisa begitu, karena dia menggunakan seluruh aset keluargaku yang dicurinya sebagai modal dasar," balas Sony tersenyum sinis.
"Dan mengenai Nona Rina, dia sekarang sudah menjabat sebagai direktur keuangan utama di perusahaan tersebut," tambah Leo memberikan informasi.
"Mereka berdua benar-benar menikmati hidup mewah di atas penderitaan dan darah keluargaku," gumam Sony meremas dokumen itu.
"Informasi tambahan Tuan, besok malam Grup Dimas akan mengadakan pesta lelang amal besar-besaran di Hotel Bintang Lima," lapor Leo lagi.
Sony menutup dokumen itu dan menatap ke arah Leo melalui kaca spion dalam mobil.
"Pesta lelang amal ya? Ini benar-benar kebetulan yang sangat menyenangkan," ucap Sony dengan senyum miring yang mematikan.
"Apakah Tuan ingin saya mengatur akses agar Anda bisa hadir ke sana besok?" tanya Leo siap sedia.
"Tentu saja kau harus mengaturnya, aku harus datang memberikan hadiah kejutan spesial untuk sahabat lamaku," jawab Sony tenang.
Mobil terus melaju kencang menembus malam yang semakin dingin.
"Buka panel status sistem," perintah Sony dalam batinnya.
Sring!
Sebuah layar hologram transparan berwarna biru langsung muncul melayang di depan wajahnya.
[Sistem Dewa Kematian Aktif]
[Nama: Sony]
[Gelar: Sang Dewa Kematian]
[Kekuatan Fisik: Tahap Dewa]
[Kecepatan: Tahap Dewa]
[Keterampilan Medis: Akupuntur Sembilan Surga Maksimal]
[Seni Bela Diri: Tinju Penghancur Bintang Maksimal]
Sony membaca deretan teks status itu dengan wajah tanpa ekspresi sedikitpun.
Sistem inilah yang selalu membantunya mengukur batas kekuatannya selama dia menantang para petarung terkuat di berbagai belahan dunia.
Semua statistik pertarungannya sudah lama mencapai tingkat maksimal.
Di dunia manusia biasa ini, hampir tidak ada senjata atau orang yang bisa melukainya.
[Pemberitahuan: Misi Utama Baru Terdeteksi]
[Tujuan Misi: Hancurkan fondasi Grup Dimas dan rebut kembali semua apa yang menjadi milikmu]
[Hadiah Penyelesaian: Tidak diketahui]
Sony hanya mendengus geli melihat misi yang baru saja muncul di layarnya.
"Tanpa sistem ini memberiku misi pun, aku pasti akan menghancurkannya sampai ke akar-akarnya," ucap Sony pelan pada dirinya sendiri.
Dia hanya mengayunkan tangannya dengan santai, dan layar biru itu langsung menghilang dari pandangannya seolah tertiup angin.
Sony menyandarkan punggungnya dan menatap ke luar jendela memandangi gedung pencakar langit.
"Nikmatilah malam terakhir kalian dengan tertidur nyenyak, Dimas, Rina," batin Sony.
Besok, dewa kematian sungguhan akan datang mengetuk pintu mereka.
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden kamar mewah.
Sony membuka matanya perlahan dan bangkit dari ranjang berukuran besar tersebut.
Dia meregangkan otot lehernya sejenak hingga terdengar bunyi tulang yang bergemeletuk.
Krek. Krek.
Semalam dia tidur dengan sangat nyenyak tanpa bermimpi buruk sedikitpun.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya.
"Tuan Sony, apakah Anda sudah bangun?" Suara Leo terdengar sangat sopan dari balik pintu.
"Masuk saja, pintunya tidak dikunci," jawab Sony sambil berjalan menuju sofa.
Cklek.
Pintu terbuka dan Leo masuk membawa sebuah kotak hitam elegan berukuran besar.
"Selamat pagi Tuan, ini adalah setelan jas khusus yang Anda minta semalam," kata Leo.
Leo meletakkan kotak itu di atas meja kaca di hadapan Sony.
"Bagus, apa semuanya sudah disiapkan untuk acara nanti malam?" tanya Sony datar.
"Semua persiapan sudah seratus persen selesai tanpa ada hambatan sama sekali," jawab Leo yakin.
"Termasuk undangan VIP untuk masuk ke acara lelang amal itu?"
"Tentu saja Tuan, saya sudah membeli seluruh saham hotel bintang lima tempat acara itu diadakan."
Sony tersenyum tipis mendengar betapa efisien bawahannya ini bekerja.
"Kerja bagus Leo, jadi sekarang kita adalah pemilik sah dari tempat acara si Dimas itu?"
"Tepat sekali Tuan, Anda adalah bos besar pemilik hotel tersebut mulai pagi ini."
Waktu berlalu dengan cepat hingga malam hari akhirnya tiba.
Suasana di depan Hotel Bintang Lima Grand Surya sangat ramai dan penuh sesak.
Mobil-mobil mewah dari berbagai merek terkenal berbaris rapi menurunkan para tamu undangan.
Lampu kilat dari kamera para wartawan terus menyala terang tanpa henti.
Jepret! Jepret!
Mereka meliput acara lelang amal terbesar tahun ini yang diselenggarakan oleh Grup Dimas.
Sebuah mobil sedan hitam legam tanpa merek berhenti tepat di depan karpet merah.
Tidak ada yang memperhatikan mobil itu karena bentuknya terlihat sangat sederhana dan tidak mencolok.
Padahal mobil itu dilapisi baja anti peluru dengan mesin paling bagus di dunia.
Pintu mobil terbuka dan Sony melangkah keluar dengan tenang.
Dia mengenakan setelan jas hitam elegan yang membuat postur tubuhnya terlihat sangat sempurna.
Sorot matanya tetap dingin dan tajam seperti mata pisau yang siap memotong.
Leo berjalan tepat setengah langkah di belakang punggung Sony seperti bayangan setia.
"Tuan, para penjilat Dimas sudah banyak yang berkumpul di dalam lobi," bisik Leo pelan.
"Biarkan saja, semakin banyak penonton maka pertunjukannya akan semakin menarik," balas Sony tersenyum tipis.
Mereka berdua berjalan santai menyusuri karpet merah menuju pintu masuk utama hotel.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari arah belakang mereka.
"Minggir kalian berdua! Jangan menghalangi jalan Tuan Muda dari Keluarga Wijaya!" bentak seorang pengawal berbadan besar.
Sony menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya perlahan.
Seorang pemuda arogan dengan jas berwarna putih mencolok berjalan ke arah mereka dengan dagu terangkat.
Pemuda itu adalah Tuan Muda Wijaya, salah satu sekutu bisnis paling kuat milik Dimas.
"Kalian berdua punya telinga atau tidak? Cepat minggir dari jalanku!" teriak pemuda itu dengan nada merendahkan.
Sony menatap pemuda itu dari atas sampai bawah dengan pandangan sangat datar.
"Jalan ini sangat lebar, kenapa kau tidak lewat dari sisi yang lain saja?" tanya Sony tenang.
Wajah Tuan Muda Wijaya langsung memerah karena merasa sangat tersinggung.
"Berani sekali kau menjawab kata-kataku seperti itu!" teriaknya penuh amarah.
"Kau tidak tahu siapa aku hah? Aku adalah tamu kehormatan istimewa Tuan Dimas malam ini!"
Para tamu undangan lain yang berada di sekitar lobi langsung berhenti dan menonton keributan itu.
Mereka mulai berbisik-bisik dan menunjuk ke arah Sony dengan pandangan meremehkan.
"Siapa pemuda berjas hitam itu? Berani sekali dia menyinggung Tuan Muda Wijaya."
"Mungkin dia hanya orang miskin yang numpang lewat dan tidak tahu aturan di dunia kelas atas."
"Sebentar lagi dia pasti akan dihabisi oleh para pengawal Keluarga Wijaya itu."
Suara bisik-bisik dari para penonton terdengar sangat jelas di telinga Sony.
Namun Sony sama sekali tidak peduli dan hanya diam mematung.
"Hei anak miskin, cepat berlutut dan bersihkan sepatuku sekarang juga!" perintah Tuan Muda Wijaya angkuh.
"Jika sepatuku sudah bersih, mungkin aku akan bermurah hati membiarkanmu pergi dengan selamat."
Sony hanya tertawa pelan mendengar ancaman murahan dari pemuda sombong itu.
"Berlutut? Bahkan dewa di langit pun tidak berhak menyuruhku berlutut," jawab Sony sinis.
"Sialan! Pengawal, cepat patahkan kedua kaki anak sombong ini sekarang juga!" perintah Tuan Muda Wijaya.
Dua orang pengawal berbadan kekar langsung berlari maju ke arah Sony.
Wush!
Mereka mengayunkan tinju besar mereka secara bersamaan mengincar wajah Sony.
Sony tidak bergerak sedikitpun dari posisinya dan hanya menatap tinju itu dengan bosan.
Brak! Brak!
Sebelum tinju itu sempat menyentuh wajah Sony, Leo sudah bergerak maju dengan kecepatan kilat.
Leo menendang perut kedua pengawal itu dengan tenaga yang luar biasa keras.
"Argh!"
Kedua pengawal kekar itu langsung terpental jauh ke belakang sejauh lima meter.
Tubuh mereka menghantam lantai marmer lobi hotel dengan sangat keras hingga retak.
Bruk!
Mereka langsung muntah darah dan pingsan seketika di tempat kejadian.
Seluruh tamu undangan di lobi langsung terdiam membeku seperti patung es.
Suasana menjadi sangat sunyi senyap seakan-akan waktu baru saja dihentikan.
Mata Tuan Muda Wijaya melotot lebar melihat kedua pengawal terbaiknya dikalahkan hanya dalam satu detik.
"K-kau... apa yang baru saja bawahanmu lakukan?" tanya pemuda itu dengan suara bergetar ketakutan.
Sony berjalan mendekati Tuan Muda Wijaya dengan langkah yang sangat pelan.
Tap. Tap. Tap.
Setiap langkah kaki Sony membuat nyali pemuda arogan itu semakin menciut drastis.
"Aku hanya membereskan sampah yang menghalangi jalanku, apa ada masalah?" tanya Sony dingin.
Tuan Muda Wijaya melangkah mundur dengan panik hingga punggungnya menabrak pilar hotel.
"J-jangan berani macam-macam padaku! Kalau Dimas tahu, dia pasti akan membunuhmu!" ancamnya putus asa.
"Dimas ya? Kebetulan sekali aku datang ke sini malam ini memang khusus untuk mencarinya," ucap Sony.
Plak!
Sony menampar wajah Tuan Muda Wijaya dengan sangat keras menggunakan tangan kanannya.
Tamparan itu tidak menggunakan tenaga penuh, tapi cukup untuk membuat beberapa gigi pemuda itu rontok.
"Aaaaargh!" Tuan Muda Wijaya menjerit kesakitan sambil memegangi pipinya yang membengkak parah.
Darah segar mengalir deras dari sudut bibirnya menetes membasahi jas putihnya.
"Itu adalah hukuman ringan karena kau terlalu berisik di depanku," bisik Sony tepat di telinga pemuda itu.
Tiba-tiba sekelompok petugas keamanan hotel berlarian mendekati sumber keributan.
"Berhenti di sana! Apa yang terjadi di sini?" teriak kepala petugas keamanan dengan tegas.
Kepala petugas itu melihat Tuan Muda Wijaya yang sudah babak belur di lantai.
Wajahnya langsung menjadi sangat pucat pasi karena panik melihat tamu VIP terluka.
"Tangkap pria berjas hitam itu! Dia baru saja menyerang tamu penting kita!" perintah kepala keamanan.
Sepuluh orang petugas keamanan langsung mengepung Sony dan Leo dengan tongkat listrik di tangan.
"Tuan Sony, apakah saya harus menghabisi mereka semua sekarang?" tanya Leo dengan sangat tenang.
"Tidak usah, kita sedang berada di tempat kita sendiri, jangan merusak perabotan berharga," jawab Sony santai.
Kepala keamanan itu mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud ucapan Sony.
"Apa maksudmu tempatmu sendiri? Ini adalah hotel milik bos besar kami!" bentak kepala keamanan itu.
Leo berjalan maju satu langkah dan merogoh bagian dalam jasnya perlahan.
Dia mengeluarkan sebuah kartu logam berwarna emas murni yang sangat berkilau.
"Buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik kartu apa ini," ucap Leo menunjukkan kartu itu.
Mata kepala keamanan itu langsung membesar saat melihat ukiran logo di atas kartu emas tersebut.
Itu adalah kartu kepemilikan resmi yang hanya dipegang oleh pemilik tertinggi jaringan hotel internasional.
Hanya ada lima kartu seperti itu yang tersebar di seluruh dunia.
"K-kartu Emas Pemilik Utama? Bagaimana benda suci ini bisa ada pada Anda?" tanya kepala keamanan itu berkeringat dingin.
"Mulai pagi tadi, seluruh saham hotel ini telah dibeli tunai oleh tuanku," jelas Leo dengan suara lantang.
Seluruh tamu undangan yang menonton langsung menahan nafas mereka karena terkejut.
Mereka sangat tahu berapa triliun harga hotel bintang lima termewah di kota ini.
Membelinya secara tunai dalam waktu semalam adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
Kepala keamanan itu langsung membuang tongkat listriknya dan bersujud di depan Sony.
"Maafkan saya Bos Besar! Saya benar-benar buta tidak mengenali Anda!" teriak kepala keamanan itu memohon ampun.
Para petugas keamanan yang lain juga langsung ikut menjatuhkan senjata mereka dan menunduk hormat.
"Berdiri, aku tidak suka melihat orang-orangku bersujud seperti pengecut," perintah Sony dingin.
Kepala keamanan itu langsung berdiri tegap seperti tentara dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.
"Seret sampah berjas putih ini keluar dari hotelku dan masukkan dia ke daftar hitam selamanya," perintah Sony menunjuk Tuan Muda Wijaya.
"Baik Bos Besar! Laksanakan segera!" jawab kepala keamanan itu dengan sangat sigap.
Dua orang petugas langsung menyeret tubuh Tuan Muda Wijaya yang masih mengerang kesakitan keluar dari lobi.
"Tunggu! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku! Aku adalah tamu Dimas!" teriak pemuda itu sambil diseret menjauh.
Sony sama sekali tidak mempedulikan teriakan putus asa tersebut dan merapikan lengan jasnya.
"Ayo Leo, kita sudah membuang terlalu banyak waktu berharga di lobi ini," ajak Sony.
"Baik Tuan, ruang lelang amal ada di lantai paling atas gedung ini," jawab Leo mengikuti dari belakang.
Para tamu undangan langsung membuka jalan dengan sendirinya saat Sony melangkah maju.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap langsung ke arah mata Sony.
Mereka semua menundukkan kepala dengan perasaan takut campur segan yang luar biasa.
Sony berjalan melewati kerumunan itu dengan langkah yang sangat gagah dan penuh wibawa.
Ting!
Pintu lift khusus VIP terbuka menyambut kedatangan Sony dan Leo.
[Sistem Peringatan: Dua target utama terdeteksi di ruang lelang lantai atas]
Layar hologram biru transparan tiba-tiba muncul sekilas di sudut pandang mata Sony.
Sony menyeringai tipis melihat peringatan sistem tersebut.
"Dua target utama, itu pasti Dimas dan Rina," batin Sony sambil melangkah masuk ke dalam lift.
Pintu lift menutup perlahan membawa Sony naik menuju arena pertempuran pertamanya.
Malam balas dendam yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!