Indonesia
NovelToon NovelToon

Satu Hukuman, Dua Hati

Bab 1

Suara langkah kaki tergesa-gesa beradu nyaring dengan lantai semen koridor. Alya menggenggam erat tali ranselnya yang terasa kian memberat. Sial. Jarum jam tangan bergambar polos di pergelangan tangannya sudah menunjuk angka *07.20 WIB*. Bel masuk telah lama berbunyi, dan gerbang utama SMA Nusa Bangsa sudah terkunci rapat.

Napas Alya terengah-engah, dadanya naik turun saat melangkah menuju area lapangan utama. Garis takdir yang biasanya selalu berpihak pada kedisiplinannya hari ini mendadak meleset hanya karena ia harus membantu ibunya menyiapkan barang dagangan lebih lama dari biasanya.

"Alya Saraswati!"

suara berat dan tegas memotong langkahnya.

Di ambang batas lapangan, Pak Jaka,guru piket yang terkenal tanpa kompromi berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap tajam catatannya, lalu beralih ke Alya.

"Jam berapa ini, Alya? Siswa teladan kok bisa terlambat?" tegurnya dingin. "Kamu tahu aturan sekolah. Siapa pun yang lewat dari jam 07.00, tidak ada toleransi. Langsung berdiri di tengah lapangan!"

Alya hanya bisa menunduk pasrah. Tanpa membantah sepatah kata pun, ia berjalan menuju area tengah lapangan basket yang mulai terasa menyengat disiram terik matahari pagi.

Baru saja Alya berdiri dan bersiap memposisikan tangannya, deru suara mesin motor berkapasitas besar menggema dari arah parkiran belakang. Tak lama kemudian, langkah kaki santai berirama menyeret terdengar mendekat.

Seorang laki-laki berpostur tinggi berjalan santai menghampiri Pak Jaka. Kancing teratas seragamnya terbuka, dasinya dipasang asal-asalan, dan rambutnya sedikit berantakan namun justru menegaskan parasnya yang tampan. *Devan Narendra*. Sosok pewaris tunggal yang namanya selalu bergema di seluruh sudut sekolah, entah karena kekayaan organisasinya, gengnya, atau sekadar pesonanya.

"Terlambat lagi, Devan?" desus Pak Jaka sembari memijit pelipisnya, tampak lelah menghadapi murid langganan piket itu.

Devan hanya menyunggingkan senyum tipis tanpa rasa dosa. "Macet, Pak. Biasa," jawabnya santai.

Pak Jaka menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah lapangan. Devan melangkah santai menuju titik yang ditunjuk. Tanpa canggung, ia mengambil posisi berdiri *tepat di samping Alya*. Aroma parfum mahal yang elegan langsung menyengat indra penciuman Alya, sangat kontras dengan bau matahari yang mulai menguar dari seragam mereka.

Pak Jaka menyusul dari belakang, berdiri beberapa meter di depan mereka berdua dengan pandangan menelisik.

"Kalian berdua," suara Pak Jaka menggelegar di tengah sepinya area lapangan. "Sebagai konsekuensi karena sudah mengabaikan tata tertib jam masuk sekolah, *ambil posisi hormat ke tiang bendera! Berdiri di sini selama satu jam pelajaran penuh!* Jangan ada yang menurunkan tangan sebelum bel berbunyi!"

"Satu jam, Pak? Wah, kulit saya bisa matang ini," seloroh Devan santai, membuat Pak Jaka makin menatapnya tajam.

"Tambah sepuluh menit kalau kamu makin banyak bicara, Devan!" ancam Pak Jaka tegas sebelum akhirnya berbalik arah menuju ruang piket.

Alya menarik napas dalam-dalam. Ia langsung mengangkat tangan kanannya, membentuk sikap hormat yang sempurna ke arah sang saka Merah Putih di ujung tiang. Pandangannya lurus ke depan, matanya menatap tajam bendera yang berkibar pelan. Dalam hatinya, ia hanya memikirkan satu hal,pelajaran matematika jam pertama yang terlewat, dan catatan materi yang harus ia pinjam nanti.

Di sebelahnya, Devan perlahan mengangkat tangannya. Namun alih-alih menatap tiang bendera, sudut matanya justru melirik pelan ke arah gadis di sampingnya. Gadis yang tampak begitu tenang di bawah terik matahari, seolah hukuman ini hanyalah kerikil kecil yang sama sekali tak mampu mengusik fokusnya.

Matahari kian merambat naik, menyengat tengkuk dan membuat pelipis Alya mulai dibasahi bulir-bulir keringat. Tangan kanannya yang masih terangkat tegap menghadap tiang bendera terasa semakin berat dan pegal. Namun, Alya tetap berdiri gemetaran tanpa suara, mempertahankan pandangan lurusnya. Bagi Alya, rasa pegal ini tak ada apa-apanya dibanding taruhan masa depannya.

Di sebelahnya, Devan tampak jauh lebih santai, meski seragam putihnya mulai agak menempel di punggung. Baru sekitar dua puluh menit berlalu, gelak tawa riuh tiba-tiba memecah kesunyian area lapangan basket.

“Anjay! Lihat siapa yang jadi patung berdiri pagi-pagi begini!”

Langkah kaki bergerombol yang ramai beradu dengan lantai semen membuat Alya menggerakkan sudut matanya tipis. Siswa dengan seragam berantakan kancing terbuka, tanpa dasi, dan gaya berjalan yang pongah melangkah mendekat. Mereka adalah geng Devan, anak-anak kaya yang kekuasaannya di sekolah tak perlu dipertanyakan lagi.

"Sumpah, Dev! Seorang Devan Narendra bisa kena jemur juga?" gelak Raka, salah satu anggotanya, sambil menepuk bahu Devan kasar. "Bukannya tadi lu bilang mau alibi ban bocor ke Pak Jaka?"

"Bocor matamu. Pak Jaka lagi kumat galaknya hari ini," sungut Devan pelan, tetap mempertahankan sikap hormatnya walau sudut bibirnya terangkat tipis melihat kedatangan teman-temannya.

"Lagian lu ngapain sih, Bos? Biasanya kalau telat kan lu nongkrong dulu di warung belakang, bukannya malah masuk lewat depan," celetuk Bima sambil mengipas-ngipaskan topi sekolahnya ke wajah Devan untuk mengejek.

"Apes aja," jawab Devan singkat.

Tawa mereka kembali pecah, hingga perhatian salah satu dari mereka Reno teralih pada sosok perempuan yang berdiri tepat di sebelah kiri Devan. Reno menyipitkan mata, memperhatikan badge nama yang terpatri di dada seragam Alya.

"Eh, sebentar..." Reno memajukan tubuhnya sedikit, membuat Alya merasa risih walau ia enggan menoleh. "Ini bukannya Alya? Anak IPA 1 yang selalu dapet peringkat satu umum itu, kan?"

"Lah, iya! Si cewek pinter yang dingin kayak es batu!" seru Bima kaget. Ia melirik Alya dari atas sampai bawah, lalu menatap Devan dengan cengiran jahil. "Wah, Dev... takdir lu keren juga. Sekalinya dihukum, langsung disandingkan sama *bintang kelas*."

"Gimana rasanya berdiri di samping cewek paling cuek se-SMA Nusa Bangsa, Dev? Berasa berdiri di sebelah AC atau berasa di kutub?" goda Raka sambil menyenggol lengan Devan.

Devan melirik Alya. Gadis di sampingnya itu sama sekali tidak bergeming. Tidak ada riak emosi di wajah Alya, tidak ada tolakan, bahkan tidak ada lirikan mata marah. Alya hanya terus menatap lurus ke arah bendera Merah Putih, seolah-olah empat cowok berisik di depannya ini hanyalah semilir angin lalu.

Sikap cuek Alya yang mutlak itu justru memancing keisengan geng Devan semakin menjadi-jadi.

"Woi, Alya! Santai aja kali, jangan kaku-kaku banget!" seloroh Reno, mencoba berdiri di depan Alya sambil melambaikan tangan di depan wajah gadis itu. "Sapa dong calon pewaris Narendra Corp di sebelah lu! Siapa tahu lu dikasih beasiswa seumur hidup sama bokapnya, haha!"

Alya menarik napas panjang. Tenggorokannya terasa kering. Ia benci menjadi pusat perhatian, apalagi dikelilingi oleh tipe-tipe murid yang menurutnya hanya membuang-buang waktu di sekolah. Namun, Alya memilih tetap bungkam. Baginya, meladeni mereka hanya akan membuang energi yang sedang ia simpan untuk bertahan di bawah terik matahari.

melihat Alya yang sama sekali tak terusik, Devan tiba-tiba berdeham pelan. Entah mengapa, ada rasa tidak nyaman yang menyelusup di dadanya melihat teman-temannya memojokkan gadis itu.

"Udah, cabut sana lu pada," usir Devan dengan suara beratnya, memotong tawa gengnya. "Berisik banget. Nanti Pak Jaka balik lagi, lu semua ikut di jejerin di sini."

"Elah, Devan... sensitif amat! Baru juga mau PDKT-in lu sama si cewek pinter," goda Bima sembari tertawa.

"Gua bilang cabut, ya cabut," ulang Devan, kali ini dengan nada yang lebih tegas dan tatapan mata yang tak bisa dibantah.

Melihat reaksi Devan yang mulai serius, gelak tawa teman-temannya perlahan mereda. Mereka saling melempar pandang bermakna, lalu mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Oke, oke, Bos! Kita balik ke kelas dulu. Selamat menikmati kencan panasnya, ya!" teriak Raka sambil berlari kecil menjauh, diikuti tawa renyah dari temannya yang mulai menghilang di balik lorong kelas.

Suasana lapangan kembali hening. Hanya tersisa deru angin hangat dan sengatan matahari yang semakin membakar.

Di tengah keheningan itu, Devan melirik gadis di sebelahnya. Wajah Alya tampak semakin pucat, dan ada bulir keringat yang menetes dari dagunya. Namun posisi hormatnya tidak bergeser sedikit pun.

"Teman-teman gua emang agak gila. Enggak usah dimasukin ke hati," ucap Devan tiba-tiba, memecah kecangkokannya sendiri.

Alya tidak menoleh. Ia hanya menghembuskan napas pelan dari hidungnya, lalu menjawab pendek dengan suara yang sangat halus namun dingin, "Saya enggak peduli."

Bab 2

*Teeeeet...! Teeeeet...!*

Dengung nyaring bel sekolah berkumandang tepat di pukul 08.00 WIB, memecah terik matahari yang kian membakar. Satu jam pelajaran telah usai, menandakan berakhirnya hukuman bagi mereka berdua.

Alya langsung menurunkan tangan kanannya yang sudah terasa kebas dan pegal luar biasa. Keringat dingin membasahi pelipis dan celah-celah jemarinya. Tanpa mengulur waktu, tanpa menoleh, apalagi mengucapkan sepatah kata pun kepada laki-laki di sebelahnya, Alya membalikkan badan dan memacu langkah cepat menuju lantai dua tempat kelas 11 IPA 1 berada.

Devan yang baru saja hendak membuka suara untuk menyapa, menyipitkan mata melihat punggung gadis itu melangkah pergi begitu saja.

'Cewek aneh,' batin Devan. Ia merapikan seragamnya yang agak basah oleh keringat. Biasanya, perempuan di sekolah ini akan mencari-cari alasan untuk sekadar mengobrol, meminta nomor telepon, atau berpura-pura hampir pingsan di dekatnya. Namun gadis bernama Alya itu... sama sekali tidak meliriknya. Jangankan salah tingkah (salting), menatap wajah Devan secara langsung pun tidak. Ada rasa penasaran asing yang mendadak mekar di benak Devan.

Sementara itu, di kelas 11 IPA 1, Alya baru saja melangkahkan kaki melewati pintu depan ketika dua sosok gadis langsung menyergapnya.

"ALYA! YA AMPUN, LO GAK PAPA KAN?!"

Itu suara *Adel*, gadis berambut bergelombang yang selalu heboh dan tidak bisa diam. Di sebelahnya, *Jesica* menyusul dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu yang membuncah.

"Al! Demi apa lo dihukum berjemur sama Devan Narendra?!" seru Jesica tak kalah heboh, menepuk-nepuk bahu Alya. "Satu sekolah udah geger gara-gara anak-anak gengnya Devan ngomongin lo berdua di lapangan!"

Alya tidak menjawab. Ia menarik napas panjang, melangkah menuju bangkunya di barisan kedua dari depan, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi. Rasa lelah dan haus masih menjalar di sekujur tubuhnya.

"Al, kok lo bisa telat, sih? Tumben banget seorang Alya Saraswati kesiangan?" tanya Jesica rapat, mengambil posisi duduk di meja Alya.

"Ibu tadi butuh bantuan agak lama di rumah," jawab Alya singkat dan jujur. Wajahnya tetap datar, jemarinya sibuk membuka tas untuk mengeluarkan buku catatan matematika dan pulpen.

"Oalah... pantesan," gumam Adel berempati, namun semenit kemudian ekspresinya berubah menjadi histeris lagi. "Tapi Al, *seriously*... satu jam berdiri berdua sama Devan?! Ya ampun, kalau gue yang di posisi lo, kayaknya gue udah pingsan bukan karena kepanasan, tapi karena terpesona!"

"Ganteng banget kan, Al? Kulitnya, rahangnya, gayanya yang bad boy itu... aduh, karisma anak tunggal kaya raya emang gak ada obat!" cerocos Adel sambil menopang dagunya, membayangkan sosok Devan.

Alya menghentikan ketukan pulpennya sejenak, lalu menatap Adel polos. "Biasa aja. Gak ada yang spesial."

"APA?! BIASA AJA?!" Adel dan Jesica memekik kompak hingga beberapa teman sekelas menoleh ke arah mereka.

"Dia itu Devan Narendra, Alya! Cowok paling populer se-kota kita!" Jesica geleng-geleng kepala, merasa gemas dengan kepolosan sahabatnya itu. "Semua cewek di sekolah ini tuh ngantre buat dilirik sama dia. Masa lo dibilang biasa aja?"

Alya tidak meladeni hebohnya kedua sahabatnya lagi. Baginya, Devan hanyalah murid biasa yang kebetulan kaya dan tidak disiplin. Ketampanan atau kekayaan laki-laki itu tidak akan membantu Alya meraih nilai sembilan puluh di ujian matematika besok, juga tidak akan membayar tagihan rumah tangganya.

"Udah, ah. Gue mau nyatet materi bab satu yang ketinggalan tadi. Jes, gue pinjem catatan lo sebentar," potong Alya tenang, langsung menarik buku catatan Jesica dan mulai menulis dengan tekun.

melihat Alya yang sudah kembali masuk ke "dunia belajarnya", Adel dan Jesica hanya bisa mendesah pasrah sembari terkekeh pelan. Memang sulit mengusik seorang Alya Saraswati kalau sudah berurusan dengan ambisi akademisnya.

Di koridor gedung sebelah, Devan berjalan santai menuju kelasnya di 11 IPS 2. Langkah kakinya diiringi sapaan beberapa siswi yang melewatinya, namun pikiran Devan justru tertahan pada kejadian di lapangan tadi.

Teringat bagaimana gadis itu tetap fokus membaca buku saku kecil di tengah sengatan matahari, dan bagaimana tatapan matanya yang sangat dingin saat bilang, "Saya enggak peduli."

Devan menyunggingkan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. Untuk pertama kalinya, ada seorang gadis yang sama sekali tak terpengaruh oleh namanya.

*Teeeeet...! Teeeeet...! Teeeeet...!*

Bel istirahat pertama menggema ke seluruh penjuru sekolah, menyalakan kehidupan di setiap sudut koridor. Suasana kelas yang tadinya hening langsung berubah bising oleh riuh suara siswa yang berhamburan keluar.

"Al, yuk! Cepat, nanti bakso Pak Kumis kehabisan!" cerocos Adel antusias, menepuk meja Alya yang baru saja menutup buku catatannya.

"Iya, lagian perut gue udah protes dari jam pelajaran Pak Jaka tadi," timpal Jesica sambil merapikan rok seragamnya.

Alya tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Iya, sebentar. Gue masukin pulpen dulu."

Ketiganya pun melangkah keluar dari kelas 11 IPA 1 menuju kantin utama. Sepanjang koridor, Adel dan Jesica tak henti-hentinya mengobrol heboh, sementara Alya berjalan tenang di antara mereka berdua. Namun, baru saja mereka menyeberangi lorong penghubung menuju area kantin, langkah mereka terhenti paksa.

Tiga orang siswi berseragam sangat rapi dengan balutan *cardigan* bermerek dan riasan wajah tipis namun mencolok, berdiri menghadang jalan mereka. Di tengah-tengahnya adalah **Clara**, anak seorang pengusaha properti ternama yang terkenal arogan di sekolah.

Clara bersedekap, menatap Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.

"Ada apa ya?" tanya Jesica spontan, memasang badan sedikit di depan Alya karena merasakan aura tidak bersahabat.

Clara melangkah maju satu tapak, mengabaikan Jesica dan menunjuk tepat ke wajah Alya. "Lo... Alya, kan? Murid beasiswa yang sok polos itu?"

Alya menatap jari Clara yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, lalu mengalihkan pandangan lurus ke mata Clara dengan tenang. "Iya. Ada masalah?"

"Gak usah pura-pura bego deh!" bentak Clara, suaranya meninggi hingga beberapa siswa yang lewat mulai menoleh dan berkerumun pelan. "Maksud lo apa tadi pagi caper ke Devan di lapangan?! Sengaja kan lo datang terlambat biar bisa dihukum bareng Devan? Biar bisa dilirik?"

Adel yang mendengar itu langsung melotot tak terima. "Eh, jaga ya mulut lo, Clara! Siapa yang caper?! Alya telat karena harus bantuin ibunya, bukan sengaja!"

"Diem lo, gak usah ikut campur!" gertak salah satu teman Clara di sebelah kanan.

Clara menyeringai sinis, melipat tangannya kembali di dada sembari memandang Alya dengan pandangan jijik. "Mikir dong, Alya. Cewek kayak lo—yang ke sekolah aja naik angkot dan baju seragamnya udah pudar—ngapain coba gaya-gayaan mendekati Devan Narendra? Devan itu selevel sama gue, sama kita-kita dari kalangan atas. Bukan sama orang miskin yang hidup dari kasihan sekolah!"

Kalimat pedas itu berhembus tajam di udara. Jesica dan Adel sudah mengepalkan tangan, siap maju untuk melabrak balik, namun Alya dengan cepat menahan lengan kedua sahabatnya.

Alya menarik napas perlahan. Tidak ada raut marah, takut, apalagi menangis di wajahnya. Wajahnya yang cantik alami justru memancarkan ketenangan yang teramat dingin.

"Pertama," suara Alya terdengar jernih, tenang, namun menekan di setiap kata. "Saya terlambat bukan rencana, tapi musibah. Kedua, saya berada di lapangan karena hukuman Pak Jaka, bukan keinginan saya."

Alya melangkah satu langkah mendekati Clara, membuat gadis ber-cardigan itu spontan mundur sedikit karena terkejut dengan intimidasinya yang tanpa emosi.

"Dan ketiga," lanjut Alya tajam, "kalau kamu merasa sepadan dan sepantas itu untuk Devan Narendra... kenapa bukan kamu saja yang tadi pagi berdiri di lapangan? Kenapa kamu justru sibuk melabrak saya hanya karena hal sepele yang bahkan Devan-nya sendiri tidak pedulikan?"

"Lo...!" Wajah Clara mendadak merah padam, tertohok oleh perkataan Alya yang menohok tepat di ulu hati.

"Ayo," ajak Alya tenang pada Adel dan Jesica, membalikkan badan tanpa mempedulikan Clara yang mengepal jari-jarinya menahan malu di depan murid-murid lain yang mulai berbisik-bisik.

Namun, belum sempat Alya melangkah jauh, sebuah suara berat dari arah belakang lorong mengejutkan semua orang.

"Ada heboh-heboh apa ini? Sebut-sebut nama gue?"

Devan berdiri di sana, bersandar di pilar koridor bersama gengnya, menatap ke arah kerumunan dengan senyum miring yang sulit diartikan.

Bab 3

Suasana di koridor menuju kantin seketika hening. Kehadiran Devan Narendra bersama anggota gengnya di ujung lorong selalu berhasil menarik perhatian siapapun. Laki-laki itu berdiri santai, bersandar pada pilar beton dengan kancing seragam atas terlepas dan kedua tangan terbenam di dalam saku celana. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke arah kerumunan, memancarkan aura dominasi yang sulit diabaikan.

Melihat Devan memungut namanya dalam percekcokan itu, raut wajah Clara berubah drastis dalam hitungan detik. Amarah dan rasa malu yang tadinya memancar dari wajahnya mendadak menguap, berganti dengan ekspresi manis yang dibuat-buat, penuh dengan kebohongan yang terencana.

Tanpa membuang waktu, Clara melangkah dengan gestur berlari-lari kecil yang terkesan manja menuju tempat Devan berdiri. Sepatunya berdecit halus di atas lantai granit. Ia memasang wajah paling prihatin, bibirnya sedikit dimajukan, dan matanya dibuat berkaca-kaca seolah-olah baru saja menjadi korban kejahatan yang teramat luar biasa.

"Devan... kamu dari tadi di situ?" cicit Clara dengan nada suara yang dinaikkan satu oktav, terdengar begitu manja dan merajuk. Ia dengan berani menyentuh lengan seragam Devan, walau Devan sama sekali tidak merespons sentuhan itu. "Bagus deh kalau kamu ke sini. Aku... aku tadi cuma mau menyapa Alya baik-baik, Dev. Tapi dia tiba-tiba emosi dan marah-marah sama aku."

Clara menghela napas dramatis, membalikkan badan sebentar untuk melirik Alya dengan tatapan sinis yang disembunyikan di balik raut meweknya.

"Masa dia nuduh aku yang enggak-enggak, Dev?" lanjut Clara, memfitnah tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dia bilang aku cewek murahan yang cuma bisa ngejar-ngejar kamu karena harta. Padahal aku cuma nanya kenapa dia telat tadi pagi, tapi dia malah bawa-bawa status sosial aku dan bentak-bentak aku di depan umum. Dia bahkan bilang kamu itu cuma cowok kaya yang enggak ada harganya di mata dia. Jahat banget kan, Dev? Aku cuma mau bela kamu!"

Mendengar rentetan fitnah yang begitu mulus keluar dari mulut Clara, darah Adel langsung mendidih. Wajahnya memerah padam karena menahan amarah yang membuncah.

"Eh! Muka dua banget sih lo!" teriak Adel lantang, siap melangkah maju untuk merebut perhatian Devan dan membongkar kebohongan Clara. "Jangan ngarang cerita ya, Clara! Yang melabrak dan bawa-bawa status ekonomi itu lo, bukan Alya! Lo yang datang-datang—"

"Diem ya lo!" potong Clara cepat tanpa menoleh, sengaja mengeraskan suaranya agar ucapan Adel teredam. Ia kembali menatap Devan dengan tatapan memohon. "Lihat kan, Dev? Temannya aja kasar banget kayak begitu. Mereka itu bertiga sama aja, suka banget cari masalah dan nuduh orang sembarangan!"

Jesica tak tinggal diam. Ia mencoba menyela dengan suara yang tak kalah tegas. "Devan, jangan percaya! Clara itu bohong besar! Dia tadi nyamperin kita dan bilang kalau Alya—"

"Gak usah dengarin dia, Devan!" potong Clara lagi dengan nada yang makin memelas, secara sengaja memotong setiap kalimat pembelaan dari sahabat-sahabat Alya. "Aku berani sumpah, mereka yang mulai duluan! Mereka iri sama aku cuma karena aku sering ngobrol sama kamu!"

Alya yang berdiri beberapa langkah di belakang kedua sahabatnya tetap mempertahankan posisinya. Meski mendengar fitnah keji yang dialamatkan padanya, raut wajah Alya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Namun, melihat Adel dan Jesica yang semakin tersulut emosi hingga napas mereka terengah-engah, Alya tahu ia harus bertindak—bukan untuk membela diri di depan Devan, melainkan untuk menenangkan kedua orang yang menyayanginya itu.

Alya melangkah maju secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat lembut namun mantap, tangan kanannya mengusap punggung Adel, sementara tangan kirinya menggenggam jemari Jesica yang gemetaran karena menahan geram.

"Udah, Del, Jes. Cukup," usik Alya pelan. Suaranya terdengar begitu tenang dan dingin di tengah riuh kebohongan yang membumbung tinggi. "Enggak usah dilayani. Kita ke kantin aja."

"Tapi Al! Dia fitnah lo! Dia mutar balikkan fakta di depan Devan!" protes Adel dengan mata berkaca-kaca karena menahan kekesalan yang amat sangat.

"Iya, Al! Masa kita diem aja dijahatin kayak begini?!" timpal Jesica tak terima.

Alya menggeleng pelan, memberikan senyuman tipis yang amat menyejukkan bagi kedua sahabatnya. "Gak apa-apa. Kebenaran enggak perlu teriakan untuk membuktikannya. Jangan buang energi kalian cuma buat hal yang enggak penting. Ayo."

Sikap Alya yang begitu dewasa dan tidak haus akan validasi justru membuat suasana di sekitarnya terasa semakin kontras. Di satu sisi ada Clara yang sibuk merengek dan memanipulasi cerita, sementara di sisi lain ada Alya yang berdiri tegak dengan martabat yang tak tergoyahkan.

Clara menyeringai tipis, merasa berada di atas angin karena menganggap Alya takut dan tidak berani membela diri di hadapan Devan. Ia kembali menatap Devan, berharap laki-laki tampan itu akan membelanya dan mengusir Alya dari pandangan mereka.

"Lihat kan, Dev? Dia bahkan enggak berani bantah karena emang dia yang salah," bisik Clara manis, mencoba semakin merapatkan tubuhnya ke lengan Devan. "Kamu harus kasih dia pelajaran biar dia enggak tuman."

Namun, di luar dugaan Clara, Devan sama sekali tidak menunjukkan raut marah pada Alya. Laki-laki itu justru menarik lengannya perlahan, melepaskan sentuhan Clara dengan gestur yang sangat dingin dan terang-terangan menunjukkan rasa tidak nyaman.

Devan menghembuskan napas panjang, lalu terkekeh pelan—sebuah terkekehan miring yang membuat bulu kuduk Clara mendadak berdiri.

"Udah selesai drama lo, Clara?" tanya Devan santai, namun intonasi suaranya mendadak berubah menjadi sangat menusuk.

Clara terpaku. "M-maksud kamu apa, Dev?"

Devan melangkah maju satu tapak, memotong jarak antara dirinya dan Clara. Tatapan mata Devan yang tadinya tampak malas kini berubah menjadi intimidatif.

"Lo pikir gua baru berdiri di pilar itu pas lo lagi akting pingsan-pingsan begini?" desis Devan dengan suara berat yang sanggup didengar oleh orang-orang di sekitar mereka. "Gua udah ada di sana dari sebelum lo menghadang jalan mereka. Gua denger *semuanya*, Clara. Dari kata pertama yang keluar dari mulut manis lo itu."

Kata-kata Devan bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepala Clara. Wajah gadis itu yang tadinya berona merah merona mendadak pucat pasi seperti kertas. Bibirnya meliuk gemetar, tak sanggup menyusun satu kata pun.

Geng Devan yang berdiri di belakang—Raka, Bima, dan Reno—langsung bersiul goda dan tertawa mengejek, menikmati momen kehancuran skenario Clara.

"Gua denger siapa yang bawa-bawa masalah baju pudar, siapa yang bawa-bawa masalah angkot, dan siapa yang keperdataan egonya terganggu cuma gara-gara masalah sepele," lanjut Devan tanpa belas kasihan. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Clara dengan pandangan jijik yang sangat terbuka.

Sebenarnya, sejak awal Devan memang sudah sangat tidak menyukai Clara. Gadis itu selalu berusaha menempel padanya hanya demi status sosial, bersikap sok berkuasa di sekolah, dan kerap merendahkan murid lain yang dianggap tidak selevel dengannya. Kejadian hari ini makin menyempurnakan rasa muak Devan terhadap perilaku gadis kaya yang arogan itu.

"Devan... aku... aku cuma..." Clara terbata-bata, menyapu pandangan ke sekelilingnya yang kini dipenuhi tatapan ejekan dari siswa-siswi lain yang menonton. Rasa malu yang teramat sangat mulai menggerogoti dadanya.

"Gua enggak suka ada orang yang bawa-bawa nama gua buat merendahkan orang lain," potong Devan tegas, suaranya menggema di sepanjang koridor. Ia lalu mengalihkan pandangannya melewati bahu Clara, menatap lurus pada sosok Alya yang masih memegang tangan kedua sahabatnya.

"Dan satu lagi," tambah Devan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius saat menatap Alya. "Dia enggak pernah nyari perhatian gua. Justru lo yang kelihatan kasihan banget di sini, Clara."

Kalimat terakhir Devan benar-benar menampar harga diri Clara sampai ke dasar. Airmata malu akhirnya menetes di pipi Clara. Tanpa sanggup mengucapkan kata-kata lagi, Clara membalikkan badan dan berlari kencang meninggalkan koridor tersebut, diikuti kedua temannya yang panik.

Suasana koridor mendadak riuh oleh sorakan dan tawa kecil dari para murid yang menyaksikan kekalahan Clara.

Devan kini memindahkan seluruh fokus pandangannya pada Alya. Ia melangkah mendekati gadis pendiam itu. Namun, bukannya terlihat terpesona atau berterima kasih karena telah dibela oleh cowok paling populer di sekolah, Alya justru menatap Devan dengan tatapan yang sangat datar—seolah pembelaan Devan barusan hanyalah sebuah gangguan lain yang tidak perlu.

Alya menundukkan kepalanya tipis, bukan karena tunduk, melainkan sekadar formalitas kesopanan.

"Terima kasih," ucap Alya singkat dan dingin. Tanpa menunggu balasan Devan atau memberikan kesempatan bagi laki-laki itu untuk bersuara, Alya langsung menarik pelan tangan Adel dan Jesica. "Ayo, nanti bakso Pak Kumis benar-benar habis."

Alya membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri lorong kantin dengan tenang, meninggalkan Devan yang terpaku di tempatnya. Devan memperhatikan punggung Alya yang kian menjauh dengan sunggingan senyum yang semakin lebar. Gadis itu benar-benar berbeda, dan Devan tahu, dunianya tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!