Indonesia
NovelToon NovelToon

System Penambangan Antar Dunia

Bab 1

Debu hitam melayang di udara terowongan tambang batu bara Heishan, menempel di paru-paru siapa pun yang cukup malang untuk menghirupnya setiap hari selama bertahun-tahun. Ling Qi salah satunya.

Dia mengayunkan beliung ke dinding batu dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan tubuhnya, meski dadanya terasa seperti dibakar dari dalam. Suara batuk kering keluar dari tenggorokannya, tertahan di balik masker kain yang sudah menghitam.

'Sudah tiga tahun aku batuk seperti ini. Dokter bilang paru-paru. Aku bilang, memangnya ada pilihan lain?'

Ling Qi berusia tiga puluh tahun, tetapi tubuhnya terlihat lebih tua sepuluh tahun dari usianya. Wajahnya kurus, matanya cekung, dan tangannya penuh kapalan dari beliung yang tidak pernah berhenti ia ayunkan sejak usia delapan belas tahun.

Ibunya terbaring sakit di rumah, di sebuah kamar sempit di pinggiran kota tambang. Untuk membiayai pengobatannya, Ling Qi sudah meminjam uang kepada seorang rentenir bernama Hou Dazhuang, hingga utangnya mencapai dua ratus ribu yuan. Bunga yang mencekik itu membuatnya harus turun ke tambang setiap hari tanpa jeda, bahkan ketika tubuhnya menolak.

Ayunan beliungnya berhenti mendadak. Sesuatu berkilau di antara reruntuhan batu yang baru saja ia pecahkan.

Ling Qi menyipitkan mata, menyingkirkan debu dengan sarung tangannya yang robek. Sebuah batu sebesar kelingking, berwarna bening dengan pantulan cahaya yang tidak biasa, tertanam di celah dinding.

Jantungnya berdegup lebih cepat. 'Ini... berlian?'

Dia sudah bekerja di tambang batu bara selama dua belas tahun. Dia tahu bentuk berlian mentah dari cerita para penambang senior yang pernah menemukannya di tambang lain, jauh sebelum dipindahkan ke Heishan. Batu ini memiliki semua ciri itu—kilau tajam, bentuk kristal yang khas, keras saat digores kuku.

Tangannya gemetar saat mencungkilnya keluar dari batu induk. 'Kalau ini benar berlian... utangku lunas. Ibu bisa dirawat di rumah sakit yang layak. Aku bisa berhenti turun ke lubang neraka ini.'

Dia menggenggam batu itu erat-erat, memasukkannya ke dalam saku dalam celananya yang sudah dijahit ulang berkali-kali. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sudut bibirnya nyaris terangkat. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

"Ling Qi, apa yang kau sembunyikan barusan?" Suara berat itu berasal dari Zhao Dahai, salah satu penambang paling ditakuti di shift malam, badannya besar dan tangannya sudah terbiasa memukul siapa pun yang dianggap lemah. Di belakangnya berdiri dua rekan lainnya, Sun Wei dan Ma Liang, menyeringai seperti serigala yang mencium darah.

"Bukan apa-apa," Ling Qi menjawab datar, mencoba melangkah mundur.

"Bukan apa-apa katanya," Zhao Dahai tertawa pendek. "Aku melihat matamu berbinar tadi. Kau menemukan sesuatu, bukan?"

Ling Qi tidak sempat menjawab. Sun Wei sudah menerjangnya dari samping, membantingnya ke dinding batu. Rasa sakit menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuh.

"Lepaskan!" Ling Qi berusaha melawan, tetapi tubuhnya yang lemah karena penyakit paru-paru tidak sanggup menahan pukulan bertubi-tubi yang menghantam wajah dan perutnya.

Ma Liang menahan kedua tangannya, sementara Zhao Dahai menggeledah sakunya dengan kasar.

Sebuah seringai lebar muncul di wajah Zhao Dahai, saat menemukan batu berkilau itu. "Wah, wah. Rupanya benar berlian. Terima kasih sudah menemukannya untuk kami, Ling Qi."

"Itu milikku!" Ling Qi berteriak, meronta sekuat tenaga meski darah sudah mengalir dari sudut bibirnya. "Aku yang menemukannya!"

"Kau?" Zhao Dahai menendang perutnya hingga Ling Qi tersungkur, dan darah keluar dari mulutnya jatuh ke tanah berdebu. "Siapa yang akan percaya kata-kata seorang penambang miskin sepertimu? Kalau kau macam-macam, kecelakaan kerja bisa terjadi kapan saja di tambang ini."

Ketiganya pergi sambil tertawa, meninggalkan Ling Qi yang tergeletak sendirian di lorong gelap tambang, tubuhnya penuh luka, dan harapannya yang baru saja tumbuh kembali dihancurkan dalam hitungan menit.

Ling Qi menatap langit-langit terowongan yang gelap, napasnya tersengal, darahnya bercampur debu batu bara di wajahnya.

'Berlian yang bisa menyelamatkan hidup ibuku... hilang begitu saja.' Dia tertawa pelan, suara yang lebih mirip isakan tertahan. 'Dunia ini memang tidak pernah berpihak pada orang sepertiku.'

Bab 2

Malam itu, Ling Qi tidak pulang ke rumah kontrakannya. Dia hanya duduk bersandar di gudang peralatan tambang yang sudah tidak terpakai, membiarkan luka-lukanya perih tanpa obat.

...-----...

Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya terbit ketika dia sudah berdiri di depan pintu masuk terowongan, mengenakan helm yang penyok dan membawa beliung yang sama seperti kemarin. Wajahnya bengkak, salah satu matanya menghitam, dan setiap tarikan napas terasa seperti ditusuk jarum.

Mandor shift pagi, seorang pria tua bernama Wang Fu, menatapnya sejenak. "Kau yakin bisa bekerja dengan kondisi seperti itu?"

"Kalau aku tidak bekerja hari ini, aku tidak makan hari ini," Ling Qi menjawab pelan, suaranya serak. "Dan ibuku tidak akan dapat obatnya."

Wang Fu hanya mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Semua orang di Heishan tahu bagaimana caranya bertahan hidup di sini—dengan menutup mata terhadap penderitaan orang lain, karena penderitaan mereka sendiri sudah cukup berat untuk dipikul.

Ling Qi masuk ke dalam lorong gelap, langkahnya berat, setiap ayunan beliung terasa seperti menguras sisa tenaga terakhirnya.

Di kejauhan, dia bisa mendengar suara tawa Zhao Dahai dan kedua rekannya yang sedang bekerja di lorong sebelah, membicarakan rencana menjual berlian yang mereka rampas.

'Tertawalah selagi bisa. Suatu hari nanti, aku akan memastikan kalian membayar semuanya.' Dalam hati, Ling Qi mengumpat habis-habisan, menyumpahi ketiganya dengan segala macam kata kotor yang tidak pernah keluar dari mulutnya. Dia membayangkan wajah Zhao Dahai dihancurkan oleh reruntuhan batu, membayangkan Sun Wei dan Ma Liang tertimbun longsor. Bayangan itu satu-satunya hiburan yang tersisa baginya di tempat seburuk ini.

Kalau saja ada tempat di mana aku bisa menambang sendirian. Tanpa perlu takut dipukuli, dirampok, atau diinjak oleh orang-orang seperti mereka. Tempat di mana hasil kerjaku benar-benar menjadi milikku sendiri.' Dia mengayunkan beliungnya sekali lagi, lebih keras dari biasanya, seolah ingin melampiaskan seluruh kemarahan yang selama ini ia pendam.

KRAKKK!!

Batu dinding tambang retak. Lalu retakan itu melebar dengan sendirinya, jauh melampaui kekuatan ayunan beliungnya.

Ling Qi mundur selangkah, waspada. Dari celah dinding yang retak, cahaya keperakan mulai merembes keluar, awalnya redup, kemudian semakin terang hingga memenuhi seluruh lorong sempit itu. Cahaya itu berputar, membentuk lingkaran sempurna di permukaan dinding batu—sebuah portal.

"Apa ini..." gumam Ling Qi, matanya membelalak.

Dia mendengar suara langkah kaki mendekat dari lorong sebelah. Mungkin Zhao Dahai dan rekan-rekannya penasaran dengan cahaya aneh ini.

'Kalau mereka menemukan ini duluan, mereka pasti akan merampasnya juga. Sama seperti berlian kemarin.' Ling Qi tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Rasa penasaran bercampur dengan kenekatan yang lahir dari keputusasaan mendorongnya untuk melangkah maju.

'Toh, hidupku sekarang juga tidak ada bedanya dengan mati perlahan-lahan di lubang ini.' Dia menarik napas dalam, mengabaikan rasa sakit di dadanya, lalu melangkah masuk ke dalam cahaya itu.

Sensasi dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, seperti tenggelam ke dalam air es. Pandangannya memutih sepenuhnya.

Ketika dia membuka mata kembali, langit-langit terowongan batu bara yang kotor sudah tidak ada. Yang terhampar di hadapannya adalah gua raksasa dengan dinding yang dipenuhi kristal berkilau warna-warni, memantulkan cahaya yang entah berasal dari mana.

Ling Qi berdiri terpaku, mulutnya menganga.

'Di mana ini...?'

Bab 3

Udara di tempat itu terasa berbeda—lebih segar, tanpa debu batu bara yang biasa membuat Ling Qi terbatuk setiap beberapa menit. Dia menarik napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, paru-parunya tidak langsung merespons dengan rasa sakit.

Gua di hadapannya sangat luas, jauh lebih besar dari terowongan tambang Heishan. Dinding-dindingnya dipenuhi urat-urat kristal berwarna biru, hijau, dan ungu yang berpendar lembut, menerangi ruangan tanpa perlu lampu apa pun.

'Ini tempat apa? Apakah aku bermimpi? Atau aku sudah mati dan ini semacam akhirat?' Dia mencubit lengannya sendiri. Sakit. 'Baiklah. Berarti ini nyata.'

Baru saja dia hendak melangkah lebih jauh, sebuah kilatan cahaya biru muncul tepat di depan matanya, membentuk sebuah panel transparan yang melayang di udara.

[World Mining System telah aktif

Host terdeteksi: Ling Qi

Menganalisis kondisi tubuh Host...]

Ling Qi mundur selangkah, terkejut. "Apa ini? Suara siapa itu?"

Tidak ada jawaban verbal, hanya rentetan tulisan baru yang muncul di udara.

[Status

Nama: Ling Qi

Level: 1

HP: 45/45

Stamina: 30/30

Strength: 8

Agility: 7

Vitality: 6

Mining Speed: 5

Luck: 4

Mining Mastery: Lv.1]

Ling Qi menatap panel itu dengan campuran rasa takjub dan curiga. 'Sistem? Seperti di novel-novel yang dulu suka kubaca lewat ponsel?'

Dia mengulurkan tangan, menyentuh panel itu. Panel tersebut merespons sentuhannya, tetapi tidak terasa seperti benda fisik—lebih seperti proyeksi cahaya yang bisa ia kendalikan dengan pikiran.

[Skill Passive terdeteksi: Miner's Eye

Skill Passive terdeteksi: Ore Sense

Skill terdeteksi: Precise Swing]

Begitu tulisan itu muncul, penglihatan Ling Qi berubah seketika. Dia bisa melihat titik-titik cahaya samar di balik dinding batu, menandai lokasi mineral yang tersembunyi—sesuatu yang mustahil dilihat mata telanjang.

'Aku bisa melihat mineral di dalam batu tanpa harus menggalinya dulu?' Dia melangkah mendekati salah satu titik cahaya yang paling terang, hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Dengan beliung tua miliknya, dia mengayun ke dinding batu.

Berbeda dari biasanya, ayunannya kali ini terasa jauh lebih ringan, seolah tenaganya dilipatgandakan tanpa usaha ekstra. Batu pecah dengan mudah, mengungkap gumpalan bijih berwarna keperakan yang berkilau.

[Mendapatkan Silver Ore x3]

Ling Qi mengambil bijih itu, menimangnya di tangan. Bobotnya terasa nyata, sungguhan. 'Kalau ini nyata... berarti aku bisa menjualnya?'

Seolah membaca pikirannya, panel baru muncul di hadapannya.

[Sistem Pembelian Material

Silver Ore x3

Harga: ¥120]

[Y/N]

Jantung Ling Qi berdegup kencang. Selama ini, menjual hasil tambang berarti harus menunggu pengepul datang, tawar-menawar berhari-hari, kadang ditipu soal berat dan kadar. Sekarang, hanya dengan satu pilihan, semuanya bisa selesai seketika.

Dengan tangan gemetar, dia menekan opsi "Y".

[Transaksi berhasil

Saldo bertambah: ¥120

Total Saldo: ¥120]

Angka itu muncul di sudut penglihatannya, seperti layar ponsel yang melayang di udara. Ling Qi terdiam sejenak, lalu tertawa pelan—tawa yang sudah lama tidak pernah keluar dari mulutnya.

'Seratus dua puluh yuan. Hanya dari tiga bongkah bijih perak yang kudapat dalam waktu kurang dari semenit. Di Heishan, aku harus bekerja setengah hari untuk mendapatkan uang sebanyak ini.' Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ada percikan harapan yang tumbuh di dadanya. 'Mungkin... mungkin dunia ini benar-benar bisa mengubah hidupku.'

Dia melangkah lebih jauh ke dalam gua, matanya menyapu dinding-dinding yang dipenuhi titik cahaya mineral. Semangatnya mulai bangkit, tangannya mengayunkan beliung dengan lebih percaya diri.

Namun di tengah keasyikannya menambang, sebuah suara menggema dari kegelapan lorong di depannya—suara geraman rendah yang jelas bukan berasal dari manusia.

Ling Qi membeku, beliungnya masih tergenggam erat di tangan. '...Sepertinya aku tidak sendirian di sini.'

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!