Haiii gengssss....
Selamat datang di cerita pertama aku di noveltoon. Kali pertama aku menulis di aplikasi ini dan kesan pertama yang aku dapat bentar luar biasa.
Semoga kalian siap untuk menemani perjalanan cerita Aurelia dan Nathaniel sampai tamat🔥
Jangan lupa dukung cerita aku dengan menekan tombol like dan komen.
Babay❤️
...****************...
Gemerlap lampu kota memantul di dinding-dinding kaca Evandra capital yang menjulang tinggi di kawasan pusat bisnis. Di lantai empat puluh dua, ruang rapat utama masih dipenuhi suara lembaran laporan yang dibalik dan dentingan halus cangkir kopi. Jam digital di dinding menunjukkan pukul 21.15.
Jam kerja seharusnya berakhir tiga jam lalu. Tapi tidak untuk Aurelia Evandra—wanita yang terkenal gigih dan ulet. Diantara puluhan proposal yang memenuhi mejanya, hanya satu berkas yang berhasil menarik perhatian Aurelia.
Alister Property Group
Mata Aurelia menyipit tajam. Bibirnya terangkat tipis setelah membacanya, ia tahu besar sebuah keuntungan yang akan ia dapat ketika mendapatkan tawaran itu. Sebuah perusahaan properti yang membangun hotel bintang lima, villa terkenal, dan beberapa bangunan yang memang diperlukan untuk investasi besar-besaran.
"Siapa yang mengirimkan proposal ini?" Mata Aurelia menatap pada seorang wanita yang sedang duduk dihadapannya.
Wanita yang sedang sibuk dengan laptopnya itu langsung menatap Aurelia dengan sopan. "Dari sekretaris perusahaannya, nona. Dia di utus langsung oleh atasannya." Tutur Tyana, yang bertugas sebagai asisten pribadi Aurelia.
Aurelia terlihat menimang sesuatu.
"Nathaniel Alister?" Ia baru saja mengingat nama CEO dari perusahaan properti itu.
Tyana mengangguk kecil, "benar, nona." Bibirnya tersenyum tipis. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu masih mengabdi di perusahaan milik Aurelia tanpa seorang suami. Ya, ia masih melajang di usianya yang sudah matang. Ketika teman-temannya sudah sibuk mengasuh anak-anak mereka, Tyana masih sibuk mengurusi Aurelia. Wanita itu bukan hanya bekerja sebagai asisten pribadi di kantor. Ia juga bekerja di rumah dan akan mengikuti Aurelia kemanapun pergi, kecuali Aurelia tidak mengijinkan karena ada sesuatu.
"Aku sudah mempelajari proposalnya..." Kaki Aurelia terlipat, tangannya masih sibuk membuka setiap lembaran proposal itu. Ia baru saja membacanya dengan teliti.
"Dan aku, tertarik." Aurelia tersenyum tipis. Ia menyelipkan rambutnya kebelakang telinga. Tangannya kemudian menutup proposal itu.
"Baik. Saya tidak akan meragukan keputusan, nona. Dan ini sudah waktunya anda pulang untuk beristirahat." Tyana menggeser proposal itu kearahnya. Ia juga nenutup laptop miliknya. Tubuhnya beranjak berdiri, tangannya mulai sibuk membereskan meja kerja.
Aurelia yang melihat itu hanya memutar bola mata. Sebenarnya, ia masih sangat bersemangat bekerja. Tapi, Tyana selalu saja menganggu Aurelia. Menghentikan pekerjaannya, mengingatkan setiap waktu pulang, istirahat, makan, dan rapat. Wanita itu tidak bisa di kompromi, sangat tepat waktu, dan disiplin.
"Aku malas pulang." Aurelia tidak mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh. Ia hanya berniat menggoda Tyana.
"Kalau anda malas pulang, tidak masalah nona. Anda bisa makan, mandi, atau bahkan memindahkan barang-barang milik anda ke kantor ini." Tangan Tyana masih bergerak merapihkan beberapa proposal dan laptop milik Aurelia.
Aurelia yang mendengar itu melipat bibir kedalam, ia berusaha menahan tawa melihat raut Tyana yang amat serius. Mirip sekali seorang kakak yang mengomeli adiknya.
"Mau saya suruh Leon untuk mengambil semua barang anda ke kantor, nona?"
Aurelia tersenyum lebar. Wanita itu kemudian tertawa pelan. "Aku hanya bercanda, Tyana. Kamu ini serius sekali." Tubuhnya beranjak berdiri. Tangannya bergerak mengambil ponsel dan memasukkannya kedalam tas. Aurelia menenteng tas seharga mobil itu di lengannya.
Tyana yang sudah selesai membereskan meja, mengikuti langkah Aurelia dari belakang. Sebelum ia meninggalkan ruangan. Ia akan menelepon seseorang untuk membereskan ruangan kerja Aurelia.
Kaki Aurelia melangkah cepat menuju lift. Sebelum berhenti, Tyana sudah lebih dulu berada di depannya lalu menekan tombol lift, mereka akan turun menuju lobby.
Aurelia membenarkan rambutnya yang agak berantakan setelah seharian bekerja. Ia menghela napas beberapa kali, lalu melirik jam tangannya sekilas.
"Adakan rapat dalam waktu dekat, Tya."
"Baik, nona." Tyana mengangguk cepat. Kemudian tangannya yang memegang tas laptop bergerak cepat menerima uluran tas dari Aurelia.
Aurelia menghembuskan napas panjang. Kemudian melangkahkan kaki setelah pintu lift terbuka. "Buatkan proposal kepada perusahaan itu besok pagi." Tubuh tingginya berjalan anggun. Terlihat bak seorang model yang sedang berjalan. Tangan itu mengayun sempurna, ketukan heels terdengar mengalun dengan sempurna.
"Baik."
Mereka memasuki mobil. Malam ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Bukan hanya untuk Aurelia, melainkan untuk setiap orang yang sedang bertarung dengan dunia. Mempertahankan harga diri untuk menciptakan sebuah kehidupan yang bahagia.
Tapi rasanya.... Bahagia bukan hanya tentang uang. Bahagia yang sebenarnya adalah kedamaian, sebuah rasa lega, dan senyuman yang hadir tanpa sebuah beban.
Sedangkan beban Aurelia tidaklah mudah. Ia memikul tanggung jawab sebagai pewaris tunggal, mempertahankan martabat, dan harus berusaha hidup tanpa ada kesalahan.
Aurelia Evandra. Wanita berusia 24 tahun yang hidup sebagai pewaris tunggal dari Giovani Evandra. Seorang pebisnis dari Investment Director. Sebuah perusahaan besar dengan nama Evandra Capital.
Setelah kurang dari satu jam dalam perjalanan. Mobil terparkir dihalaman sebuah mansion. Aurelia turun dari mobil setelah Leon—supir pribadinya, membukakan pintu.
Tubuhnya berdiri, matanya menatap mansion milik keluarganya yang terlihat megah, bangunan itu menjulang dengan beberapa tiang besar. Nuansa glamor lebih mendominasi, dengan lantai yang terbuat dari calacatta Gold Marble, dengan dinding dari panel marmer.
Bibirnya tersenyum tipis. Aurelia menatapnya dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan kepada siapapun. Mansion itu megah,terlihat hangat oleh orang-orang sekitar. Tapi, tidak ada yang tahu, bahwa setiap kaki Aurelia menginjak bahkan hanya dihalaman. Perasaan sesak selalu menyelimuti. Ada perasaan berat dengan hati yang tidak pernah tenang.
Jika orang lain melihat Aurelia adalah wanita paling bahagia, atau menganggap Aurelia adalah wanita paling beruntung. Maka, Aurelia hanya akan membalas dengan senyuman. Ia tidak akan menjelaskan isi rumahnya kepada orang lain. Tekanan itu akan selalu menjadi tanggung jawab besar untuk Aurelia.
"Nona," Tyana menyadarkan Aurelia, kakinya tak bergerak setelah beberapa saat mereka keluar dari mobil. Lalu Aurelia melirik Tyana dan memberikan senyum tipis.
"Maaf Tyana. Aku terlalu mengagumi rumah itu." Aurelia melangkahkan kakinya dengan perlahan.
Pintu utama dengan panjang tiga meter itu terbuka lebar. Beberapa pelayan dan pengawal menyambutnya, mereka tersenyum dengan kepala yang menunduk rendah. Aurelia terus melangkah. Sampai suara dari sang Papa menghentikannya.
"Saya ingin bicara." Giovani Evandra, pria berusia 52 tahun itu terlihat sedang duduk di sofa dengan kaca mata yang bertengger di hidung.
Aurelia membalikkan badan. Menatap Giovani dengan tatapan datar, tubuhnya cukup lelah, tapi menolak permintaan Giovani bukan sebuah keputusan tepat.
Lalu ia tersenyum tipis. Kakinya melangkah menuju sofa.
"Kamu bisa pergi, Tyana." Aurelia berkata dengan nada serius. Tyana mengangguk cepat, kemudian membungkukkan badannya ke arah Giovani sebelum ia meninggalkan ruangan.
Giovani menghentikan langkahnya tepat di depan Aurelia. Tatapan mereka saling bertemu.
Ruangan mendadak sunyi.
Jam antik di sudut ruangan terdengar berdetak pelan.Tak ada satu pelayan pun yang berani mengangkat kepala.
"Saya sudah bilang apa?"
Suara Giovanni sangat pelan.
Justru karena terlalu pelan...
Aurelia tahu amarah papanya sedang berada di puncaknya.
Plak!
Wajah Aurelia tertoleh ke samping. Tangannya mencengkram erat celana yang ia pakai. Deru napasnya berubah seketika, terlihat memburu dengan pipi yang mulai terasa kebas.
"Kamu tahu kesalahan kamu?" Suara itu tidak tinggi. Tapi terdengar rendah dengan atmosfer yang menegangkan.
Aurelia tidak meraba pipinya. Ia masih mempertahankan posisi dengan wajah yang kembali menatap Papanya, rautnya masih terlihat datar, namun penuh keberanian.
Aurelia memejamkan mata sesaat dan membukanya. "Aku pergi malam." Ia terlihat menghembuskan nafas panjang.
Papanya tersenyum miring. Rautnya terlihat gelisah, tangannya meraup wajahnya kasar.
plak!
Tamparan itu kembali mendarat. Bukan sebagai peringatan, melainkan tindakan yang ingin menghancurkan mental anaknya.
Aurelia tersungkur ke sofa. Wanita itu meraba pipinya. Tamparan kedua itu berhasil membuatnya mengeluarkan air mata tanpa diminta. Rasanya, begitu panas dan perih. Ia menatap vas bunga berukuran besar disamping sofa. Pantulan wajahnya yang terlihat mengenaskan, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Bangga kamu?" Papanya kembali bersuara.
Aurelia menggeleng pelan. Ia menghapus air matanya kasar sebelum wajahnya kembali menatap sang Papa. Matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca.
"Aku hanya duduk disana. Gak minum." Ujarnya dengan suara parau.
"Kamu membawa nama Evandra."
"Setiap langkahmu menentukan harga diri keluarga ini."
"Apa kau ingin seluruh kota mengenal putriku sebagai perempuan yang keluar masuk club?"
Kaki Papanya menendang meja kaca hingga pecahan kaca berhamburan ke lantai.
Aurelia membeku. Gadis itu cukup terkejut. Tangannya bahkan sudah dingin dan bergetar.
"Kalau saja orang saya tidak mengikuti kamu..." Jari telunjuk Papanya melayang tepat dihadapan wajah Aurelia. Tubuhnya berjongkok dan mengeluarkan umpatan kasar untuk putrinya sendiri.
"Berita kamu pasti sudah menyebar, dan menjadi aib keluarga." Giovani menegakkan tubuhnya kembali. Ia masih terlihat berusaha menahan amarah yang setengahnya sudah meledak baru saja.
Aurelia berusaha bangkit berdiri. Dengan raut wajah yang tegang, ia tidak akan tahu bahwa berita dirinya pergi ke club akan sampai ke Papanya. Padahal, ia sudah berusaha hati-hati.
Giovani mengambil sebuah amplop cokelat dari atas meja. Lalu melemparkannya tepat ke hadapan Aurelia.
Bruk!
Amplop itu terbuka. Sebuah foto keluar dari dalam. Foto Aurelia...Sedang memasuki sebuah club.
Di belakangnya... Berdiri seorang pria tinggi mengenakan jas hitam. Wajah pria itu tidak terlihat jelas.
Namun...
Nama perusahaan pada proposal yang tadi dibaca Aurelia kembali terlintas di benaknya.
Alister Property Group.
Tanpa Aurelia sadari... Pertemuannya dengan pria itu hanya tinggal menunggu waktu.
Setelah kejadian di ruang tamu. Aurelia berjalan perlahan menaiki anak tangga. Pipinya masih terlihat memerah dengan sudut bibirnya yang robek. Di pertengahan anak tangga, Aurelia menghentikan langkahnya. Dia berjongkok dan mencopot heelsnya. Kemudian ia tenteng dan mulai berjalan ke arah kamarnya.
Tak lama setelah Aurelia memasuki kamar, Tyana datang dengan terburu-buru. Wanita itu sudah siap dengan kotak obat ditangannya. Ia melihat ke arah Aurelia yang sedang duduk di kasur, atasannya itu sedang mengikat rambutnya yang lepek dan berantakan.
"Biar saya obatin, nona." Tyana berdiri dan menatap Aurelia. Matanya melihat Aurelia yang mengangguk menyetujui, barulah Tyana duduk disamping Aurelia. Wanita itu bergegas membuka kotak obatnya.
"Tyana." Aurelia memanggil Tyana yang sedang menuangkan alkohol di kapas.
"Iya, nona?" Wanita itu mulai membersihkan sudut bibir Aurelia dengan hati-hati.
"Wajah aku masih cantik, kan?" Aurelia bertanya dengan senyum yang mengembang.
Tyana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah atasannya. Wanita itu menghembuskan napas kasar. Hal biasa yang selalu dilakukan Aurelia, adalah tersenyum di atas lukanya. Seolah ia adalah wanita paling bahagia tanpa luka.
"Wajah anda selalu terlihat seperti itu." Balas Tyana seadanya. Tangan Tyana mulai mengoleskan salep di sudut bibir dan pipi Aurelia yang terlihat begitu merah.
"Tapi alangkah baiknya, kalau anda ingin menangis, jangan selalu menahannya." Tyana berkata dengan jujur. Ia sudah muak melihat senyuman palsu atasannya.
Aurelia menghela napas dan menghembuskannya kasar. Wanita itu bergerak melepaskan jasnya.
"Kah, udah biasa." Senyum itu kembali terbit. Aurelia beranjak berdiri, ia bergerak mencari sesuatu di laci.
Tyana membereskan kotak obatnya.
"Jangan mandi dulu, non." Tuturnya, ia khawatir karena salep itu akan terbawa air kalau Aurelia mandi.
Tangan Aurelia berhenti bergerak, kemudian berbalik menghadap Tyana. "Kan bisa, mandi badannya aja. Wajahnya gak usah." Tangannya mulai bergerak menggulung rambutnya asal.
Tyana hanya mengangguk, ia tidak mau lagi membantah ucapan atasannya. Tubuhnya lebih memilih untuk mundur dan berjalan ke arah lemari. Tyana akan memilihkan piyama yang akan digunakan oleh Aurelia.
Melihat Tyana yang sudah patuh. Aurelia berjalan ke arah kamar mandi. Kakinya mulai melangkahkan di bathtub yang berisi air hangat. Ia akan menghilangkan kelelahannya bersama guyuran air shower.
Ia berharap air hangat mampu membawa pergi rasa perih di pipinya.
Sayangnya... Luka di hati tak pernah bisa hanyut bersama air.
Setelah kurang dari tiga puluh menit Aurelia mengurung dikamar mandi. Wanita itu akhirnya sudah selesai dan sedikit merasa lega, ia sudah mengenakan piyama tidur. Rambutnya yang basah sudah kering menggunakan hairdryer.
Wajah gadis itu terlihat jauh lebih segar. Nyatanya... Ia berbohong pada Tyana, wajahnya basah, ia membasuhnya hingga salep itu bersih tersapu air.
Kini, Aurelia berdiri di balkon. Ia menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Ia selalu mencari bintang paling bersinar, dan disana, ia menempatkan wajah Mamanya. Setiap kali ia menemukan bintang paling bersinar... Maka ia akan memanggilnya, Mama. Kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak kecil.
Suara langkah Tyana membuat perhatiannya teralihkan. Ia hanya menengok kebelakang sekilas. Kemudian kembali menatap langit dengan senyum yang mengembang.
"Tyana..."
"Aku bosen liat wajah kamu terus." Tangan Aurelia bergerak seperti menghitung sesuatu di langit. Kemudian wajahnya beralih menatap Tyana yang berdiri dibelakangnya.
"Kamu gak ada niatan mau nikah?" Matanya menyipit tajam. Senyumnya hilang seketika. Kemudian kakinya melangkah kecil. Ia melihat tubuh Tyana dari atas sampai bawah.
"Padahal aku udah ijinin kamu." Aurelia berkacak pinggang. Gadis itu kemudian memutar tubuhnya lagi menghadap keluar balkon.
"Tapi saya belum siap, nona." Tyana menjawab seadanya. Gadis itu masih mengenakkan pakaian serba hitam dengan setelan jas. Wajahnya cantik, tapi terlihat terlalu serius dan kaku.
Aurelia tidak lagi menjawab, wanita itu masih sibuk menatap langit. Sesekali, ia membentangkan kedua tangan dan menghirup udara dengan rakus.
"Nona... Perihal perjodohan anda."
Deg!
Aurelia langsung mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak suka dengan pembahasan ini. Rahangnya mengeras seketika.
"Apa kamu mau melanjutkan ucapan kamu, Tyana?"
Aurelia membalikkannya tubuhnya. Ia menatap Tyana yang menghadapnya, tapi mata Tyana selalu tidak berani menatap langsung wajah Aurelia.
"Itu adalah perintah dari tuan Giovani. Beliau menyuruh saya untuk membahas ini dengan anda malam ini juga."
Aurelia masih mengepalkan tangannya erat. Wanita itu memilih untuk mendudukkan dirinya. Kemudian tangannya bergerak mengambil secangkir kopi susu hangat dan meneguknya perlahan.
Matanya menatap tajam ke arah Tyana yang masih berdiri tegap.
"Lalu apa lagi?" Aurelia meletakkan cangkir itu secara perlahan. Tubuhnya bersandar di kursi dengan kaki yang terlipat.
"Nona akan bertemu dengan pria itu secepatnya. Kalau nona menolak...." Tyana menjeda sebentar kalimatnya. Ia tahu Aurelia tidak suka, tapi ia harus menyampaikan ini demi kebaikan bersama.
"Nona harus membawa tuan Adriant kehadapan tuan Giovani dengan membawa kepastian."
Aurelia memejamkan matanya sesaat. Ia menggeram kemudian membuka matanya.
"Kamu tahu, kan?Adriant belum siap untuk menikah, Tyana." Aurelia memutar bola matanya. Ia kembali meminum secangkir kopi.
"Kalau begitu tinggalkan dia, dan mencari pria yang lebih siap." Tubuh Tyana bergerak menghadap Aurelia.
"Itu lebih baik, nona. Anda harus mengambil keputusan secepatnya."
Aurelia menyipitkan matanya. Ia ingin mencaci-maki Tyana. Tapi ia sadar, kalau Tyana tidak salah. Ia hanya menyampaikan pesan dari Papanya, dan mengeluarkan pendapatnya. Tapi bagi Aurelia....
Meninggalkan Adriant adalah keputusan konyol. Aurelia sangat mencintai kekasihnya itu. Tapi sayangnya, Papanya tidak menyetujui hubungan mereka karena Adriant terlalu lama melamar Aurelia. Sedangkan Giovani ingin sebuah kepastian, sehingga ia akan menjodohkan Aurelia agar kekayaan mereka bertambah.
"Aku bingung, Tyana." Kedua tangan Aurelia meraup wajahnya kasar. Ia dilanda kebingungan.
"Anda hanya bingung karena menunggu yang tidak pasti, nona."
Aurelia memicingkan matanya tajam. Tyana selalu saja membuat dirinya seperti gadis yang hilang arah. "Dia pasti. Hanya butuh waktu." Ucap Aurelia, rautnya serius.
"Tapi waktu tidak butuh dia."
Aurelia menatap tajam pada Tyana yang asal bunyi.
"Kenyataannya anda yang sedang dikejar waktu. Tinggalkan dia, dan mencari pria lain yang lebih memberikan kepastian. Itu keputusan tepat."
Aurelia memutar bola matanya. Kemudian matanya teralihkan pada ponselnya yang berdering.
Aurelia menatap layar ponselnya yang dipenuhi dengan nama seseorang. Kemudian matanya berganti menatap ke aray Tyana, lalu kembali lagi ke ponselnya.
"Nathaniel Alister?" Aurelia membaca dengan jelas nama itu. Seorang pemilik perusahaan properti yang tadi pagi mengirimkan proposal.
"Angkat, nona. Mungkin itu penting." Tyana ikut menatap layar ponsel Aurelia.
Sedangkan Aurelia hanya berdecak. Wanita itu sedang mendinginkan pikiran. Ia tidak ingin melibatkan pekerjaan di malam yang membingungkan ini.
Bunyi ponselnya berhenti. Aurelia mendengus kemudian menatap Tyana yang sedang menatapnya dengan tatapan serius. Aurelia tahu Tyana akan mengomel panjang lebar.
"Aku tahu itu penting, Tyana."
"Tapi bisa besok. Kamu sendiri yang bilang kalau ini adalah waktunya istirahat, bukan?" Aurelia menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda.
"Tapi ini beda, nona."
Aurelia berdecak lagi, "bedanya apa?" Lalu matanya kembali teralihkan oleh bunyi notifikasi. Ia melirik sekilas, mengintip sebuah pesan yang masuk.
"Saya sudah mencoba menghubungi Anda dua kali.
Hubungi saya ketika Anda memiliki waktu."
Nathaniel Alister.
Entah mengapa, nama itu terasa asing.
Namun juga... Seolah akan membawa sesuatu yang besar ke dalam hidupnya.
Ia mengunci layar ponselnya.
"Besok saja."
Tanpa Aurelia sadari...
Di sisi lain kota...
Nathaniel Alister baru saja memutuskan sesuatu. Keputusan yang akan mengubah hidup mereka berdu
Matahari kini tak malu lagi menampakkan dirinya. Langit kembali menunjukkan bahwa dunia sudah siap disibukkan oleh manusia yang sedang mencari jati diri. Jalanan sudah siap di injak oleh kaki yang dipenuhi kekuatan untuk berjalan mencari kebahagiaan. Dan alam semesta mendukung mereka yang dipenuhi banyak keinginan.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan. Terdengar suara-suara manusia yang mengejar waktu. Mereka mulai disibukkan dengan lembaran kertas takdir.
Lalu, disebuah perusahaan Alister Property Group. Ruang rapat utama dipenuhi delapan orang petinggi perusahaan. Nathaniel Alister, duduk di kursi paling ujung, sementara Attar Niel— selaku Asisten pribadi memaparkan perkembangan proyek melalui layar presentasi.
"Dana yang kita butuhkan mencapai Rp3,2 triliun," ujar Angelica sambil membuka laporan keuangan. Wanita yang menjabat sebagai Chief Financial Officer menyampaikan laporan yang berada di dalam buku.
Nathaniel tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetukkan jemarinya pelan di atas meja sebelum mengalihkan pandangan kepada Jolina.
"Bagaimana respons dari Evandra Capital?"
Jolina membuka tablet di tangannya.
"Proposal sudah diterima oleh Nona Aurelia Evandra, Tuan."
Nathaniel mengangguk tipis.
"Aku ingin bertemu langsung dengan Investment Director mereka."
Sekretaris menjawab, "Nona Aurelia Evandra?"
Nathaniel hanya mengangguk. Ia belum tahu, perempuan yang akan ditemuinya baru saja mengalami malam terburuk dalam hidupnya.
"Akan saya atur, tuan." Jolina mengangguk sopan. Ruangan ini terasa dingin dan penuh intimidasi. Bagi siapapun yang melihatnya, mereka akan langsung mengetahui siapa pemimpin perusahaan ini. Dari cara duduk, bergerak, dan berbicara. Nathaniel mampu membuat lawannya merasa kecil.
Attar melanjutkan tugasnya. Ia mulai menggeser layar yang dipenuhi sebuah Architecture Rendering. Gambar yang menunjukkan sebuah bangunan yang akan mereka kerjakan.
"Kita sudah sepakat menentukan lokasi di tengah-tengah kota." Attar menunjuk layar proyektor.
"Hotel bintang lima dengan nuansa elegant dan keamanan ketat." Asisten pribadi Nathaniel itu mempresentasikan dengan serius, pria itu menatap satu persatu anggota rapat.
"Mengenai investor sudah kita dapatkan."
Angelica mengacungkan tangannya. "Bukankah kita bisa berdiri tanpa investor? Anggaran kita tidak selemah itu hanya untuk membangun satu hotel." Wanita itu berbicara dengan berani. Menatap anggota rapat kemudian berhenti pada Nathaniel.
Rahang Nathaniel mengeras seketika. Ia membalas tatapan berani dari seorang direktur keuangan perusahaannya. Ia tersenyum miring, matanya terus menatapnya tajam.
"Apa saya pernah bilang, perusahaan tidak mampu?" Suaranya terdengar rendah, namun nada itu justru menunjukkan bahwa Nathaniel sedang menahan amarah.
Angelica yang mendengar itu hanya bisa menelan salivanya susah payah. Ia melirik sekitar dan menghela napas panjang.
"Tidak tuan. Tapi alangkah baiknya kita menggunakan anggaran yang ada tanpa bergantung pada siapapun."
Nathaniel berdehem kecil. Tangannya membenarkan letak jasnya, matanya menyapu tajam anggota rapat, terutama pada Angelica yang sedang berbicara di ruangan. Dan itu mampu membuat anggota rapat menjadi tegang. Atmosfer sekitar semakin memanas.
"Apa saya sedang membutuhkan pendapat?" Nathaniel menautkan kedua jarinya. Dia mendengus, stretching dan mengetukkan jari telunjuknya dua kali.
Dengan berani Angelica membalas tatapan Nathaniel.
"Tidak. Saya hanya sedang menyuarakan apa yang ada dalam pikiran saya."
Nathaniel terkekeh kecil. Tangannya menggebrak meja satu kali. Itu mampu membuat semua orang menahan napas.
"Tinggalkan ruangan ini." Nathaniel bersuara dingin. Rahangnya masih terlihat mengeras.
"Kecuali dia..." Nathaniel menunjuk Angelica dengan dagu. Semua orang beranjak berdiri, mereka mengambil laptop masing-masing dan membungkukkan badannya sebelum meninggalkan ruangan.
Angelica duduk dalam posisi hanya terhalang satu kursi dari Nathaniel, ia masih disana dan masih mempertahankan keberaniannya.
Setelah semua orang pergi. Nathaniel beranjak berdiri, pria itu menumpukkan kedua tangannya diatas meja. Tatapan matanya semakin tajam, memicing kearah Angelica seperti melihat sampah.
"Punya apa kamu sampai seberani itu?" Senyum miring itu kembali hadir.
Angelica tersenyum lebar. Wanita itu menghembuskan napas panjang dan beranjak berdiri. Ia berjalan perlahan menghampiri Nathaniel.
"Saya tidak punya apapun tuan Alister. Saya hanya punya diri sendiri." Itu terdengar seperti bisikan. Angelica semakin mempertipis jarak diantara mereka. Ia memiringkan kepalanya, menatap Nathaniel intens dengan bibir bawah yang ia gigit.
Nathaniel menatap wanita yang bekerja dikantornya baru menginjak satu bulan. Jika sebelumnya Nathaniel tahu bahwa pelamar pekerjaan waktu itu adalah Angelica. Ia tidak akan menerimanya.
Nathaniel mengumpat kasar dalam hati. Amarahnya semakin memuncak ketika Angelica mulai bersikap tidak sopan. Wanita itu semakin mendekat hingga aroma parfumnya memenuhi ruangan.
Darah Nathaniel mendidih. Tangannya bergerak dan mencengkeram kuat dagu Angelica. Ia menatapnya tajam seakan pisau yang siap menusuknya kapan saja.
Mulutnya seakan ingin meludahi wajah murahan itu.
"Jangan bersikap menjijikkan." Cengkeraman itu semakin kencang. Angelica terlihat kesakitan, namun wanita itu masih berusaha santai dan tetap tersenyum.
"Bukankah Anda juga pernah menikmati perhatian saya, Tuan?"
Nathaniel mendorong Angelica hingga tersungkur dilantai. Punggung wanita itu sempat menabrak meja cukup keras.
"Jangan mencoba memancing amarah saya."
"Keluar!" Nathaniel menggeram. Pria itu membenarkan letak jasnya kemudian melangkah meninggalkan Angelica. Ia berhenti di ambang pintu yang sudah terbuka. Disana, sudah ada Attar yang menunggu.
"Bereskan jalang sialan itu." Nathaniel melanjut langkah lebarnya.
"Perlu saya panggilku petugas keamanan, tuan."
"Tidak. Kamu yang akan mengurusnya."
Attar mengangguk cepat dan bergegas pergi kedalam ruangan. Disana, terdengar Angelica yang berteriak mengumpati Nathaniel.
Kejadian malam itu adalah sebuah kesalahan. Nathaniel bahkan menyumpahinya. Ia tidak mau lagi berada dalam situasi yang menjijikkan seperti itu.
Kesalahan manusia adalah hal wajar, tapi dengan catatan... Manusia itu mau belajar dari kesalahannya. Kita tidak bisa mengendalikan takdir, tapi kita masih bisa mengendalikan nafsu dan pikiran kita sendiri.
Langkah Nathaniel semakin cepat. Pagi ini mampu membuat energinya terkuras.
Ia menyisir rambutnya kebelakang yang terlihat sama sekali tidak berantakan. masih terlihat rapih tersisir kebelakang, dengan satu helaian rambut yang jatuh di pelipis.
Semua orang yang melihatnya menundukkan kepala. Mereka yang sedang berkumpul seketika terbelah dan menunjukkan rasa hormat.
Nathaniel masuk kedalam lift. Tapi sebelum itu, kakinya berhenti melangkah. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap pada orang-orang yang masih menunduk.
"Panggil HRD keruangan saya." Perintah itu bukan ditujukan kepada satu orang, melainkan pada semua orang yang mendengarnya.
"Baik, tuan." Timpal mereka kompak dengan nada rendah.
Nathaniel mengangguk pelan kemudian mulai masuk kedalam lift. Ia akan menemui HRD untuk membahas perihal penerimaan karyawan baru. Setelah sampai dilantai tigapuluh lima, kaki Nathaniel melangkah keluar.
Ia baru saja memasuki ruangan kerjanya. Ia duduk di kursi dan akan menunggu HRD.
Tak sampai satu menit. Pintu terbuka dan HRD tersebut muncul diambang pintu. Ia menghampiri Nathaniel setelah dipersilahkan, dan duduk dihadapannya.
"Mulai sekarang, penerimaan karyawan baru harus melalui saya." Ucap Nathaniel dingin.
HRD bernama Ethan mengangguk patuh. "Baik tuan. Tapi... Apakah ada kesalahan?" Ia bertanya dengan nada sopan.
"Kamu tidak menyeleksi dengan teliti." Nathaniel menyenderkan punggungnya di kursi, tangannya bergerak memainkan pulpen.
Ethan terlihat menahan napas, "maaf tuan, tapi siapa?" Pria itu menatap dengan raut cemas.
Nathaniel mengetukkan pulpen beberapa kali. Ia baru akan berusaha tapi suara notifikasi mengalihkan perhatiannya.
Tangannya melepaskan pulpen dan bergerak mengambil ponsel. Ia membaca notifikasi dari seseorang.
"Maaf saya mengabaikan panggilan anda karena semalam bukan waktunya untuk bekerja. Anda bisa mengatur jadwal pertemuan untuk membahas itu."
Sudut bibir Nathaniel terangkat tipis. Ia membaca pesan dari Aurelia Evandra. Rapat pagi ini gagal, tapi proyek ini tidak boleh sampai gagal. Ia akan bertemu dengan Investment Director Evandra Capital secara langsung.
Nathaniel tidak tahu...
Pertemuan itu bukan hanya akan menentukan kerja sama bernilai triliunan rupiah.
Pertemuan itu akan mengubah hidup mereka berdua.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!