Indonesia
NovelToon NovelToon

Takdir Sang Pembantai Abadi

Bab 1 - Anak Tanpa Bakat

Tendangan itu menghantam dada Lin Tian dengan keras.

Tubuhnya terpental, menabrak pilar kayu di halaman rumah, lalu jatuh berlutut di atas tanah berdebu. Rasa sakit menjalar dari tulang rusuknya, tetapi ia tidak berteriak. Ia hanya menggigit bibir, mengepalkan tangan, dan bangkit perlahan.

Di hadapannya, tiga pemuda berjubah biru berdiri sambil tertawa. Jubah itu milik Akademi Awan Biru, sekte kecil di Kota Qingshui yang terkenal sompong.

"Lihat, sampah Lin masih mau berdiri," kata pemuda paling tinggi di antara mereka. Namanya Zhou Wei. Usianya mungkin sembilan belas tahun, dua tingkat di atas Lin Tian. "Kau pikir bisa ikut ujian masuk sekte bulan depan? Meridianmu tertutup rapat, bodoh."

Lin Tian tidak menjawab. Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan lengan baju yang sudah lusuh, lalu menatap ketiga pemuda itu dengan tenang.

Matanya tidak memancarkan amarah. Juga tidak memancarkan ketakutan. Hanya keheningan yang dalam, seperti kolam yang tidak berdasar.

Zhou Wei tidak suka tatapan itu. Ia melangkah maju, meraih kerah baju Lin Tian, dan mengangkatnya hingga kaki pemuda enam belas tahun itu nyaris tidak menyentuh tanah.

"Aku dengar ayahmu masih sibuk menyelidiki gulungan tua itu," bisik Zhou Wei. Napasnya berbau arak murah. "Bilang padanya, jangan terlalu dalam menggali. Ada hal-hal yang sebaiknya tetap terkubur."

Lin Tian terdiam. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena firasat yang tiba-tiba muncul. Ayahnya, Lin Hong, memang seorang sarjana yang menghabiskan bertahun-tahun meneliti artefak dan naskah kuno. Beberapa bulan terakhir, ayahnya semakin sering mengurung diri di ruang kerja, keluar hanya untuk makan dan tidur sebentar.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," jawab Lin Tian pelan.

Zhou Wei mendengus, lalu melemparnya ke tanah seperti membuang karung beras. "Terserah. Ayo pergi," katanya pada dua temannya. Mereka berbalik dan melangkah keluar dari gerbang kediaman keluarga Lin.

Lin Tian tetap duduk di tanah, menatap punggung mereka yang menjauh. Kata-kata Zhou Wei terus berputar di kepalanya. Jangan terlalu dalam menggali.

Ancaman? Peringatan? Atau keduanya?

Kediaman keluarga Lin bukan rumah mewah. Hanya sebuah halaman persegi dengan empat bangunan kayu sederhana di pinggiran Kota Qingshui. Dulu, keluarga ini pernah dihormati. Kakek Lin Tian adalah seorang kultivator tingkat menengah yang disegani, dan ayahnya mewarisi perpustakaan kecil berisi naskah-naskah kuno tentang formasi, pil, dan teknik bela diri.

Namun sejak Lin Tian lahir, semuanya berubah.

Meridiannya tertutup. Seluruh tiga ratus enam puluh lima titik qi di tubuhnya seolah disegel oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh tabib maupun kultivator mana pun. Di dunia di mana bahkan petani pun bisa merasakan aliran qi samar, Lin Tian adalah anomali. Kosong. Mati rasa terhadap energi langit dan bumi.

Ibunya, Su Mei, pernah membawa Lin Tian kecil ke tujuh tabib terkenal di tiga kota berbeda. Hasilnya selalu sama. Tidak ada yang bisa dilakukan.

"Tubuhnya sehat," kata tabib terakhir yang mereka temui, seorang pria tua bermata tajam di Kota Lingnan. "Tetapi meridiannya… seolah sengaja dikunci. Maaf, Nyonya. Saya tidak mampu membukanya."

Ibunya menangis sepanjang perjalanan pulang. Ayahnya diam, tetapi Lin Tian melihat tangan pria itu gemetar saat memegang tali kekang kuda.

Lin Tian sendiri tidak pernah menangis karena hal itu. Bukan karena ia tidak sedih, tetapi karena ia tidak ingin menambah beban keluarganya. Sejak usia sepuluh tahun, ia memilih untuk mengisi waktunya dengan hal-hal yang bisa ia lakukan. Membaca. Berlatih fisik. Menghafal formasi dari naskah-naskah ayahnya.

Ia tidak bisa menyerap qi, tetapi ia bisa memukul batu hingga retak. Ia tidak bisa terbang di atas pedang, tetapi ia bisa berlari tiga puluh li tanpa berhenti.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Lin Tian sudah berada di halaman belakang, memukul tiang kayu dengan tinjunya. Ratusan kali. Ribuan kali. Kulit tangannya mengeras, membentuk kapalan tebal yang tidak pernah hilang.

Ayahnya pernah melihatnya berlatih sendirian di tengah hujan, dan malam itu Lin Tian mendengar suara isak tertahan dari balik pintu kamar orang tuanya.

Sore itu, langit di atas Kota Qingshui berwarna kemerahan, seolah terbakar dari ujung ke ujung. Lin Tian sedang duduk di beranda, membaca gulungan tentang formasi pelindung tingkat dasar. Matanya menangkap setiap garis dan simbol dengan teliti, meskipun ia tahu tidak akan pernah bisa mengaktifkannya sendiri.

Ibunya keluar dari dapur, membawa nampan berisi teh hangat dan kue wijen. "Tian'er, istirahatlah sebentar."

Lin Tian tersenyum dan menerima cangkir teh dari tangan ibunya. Jari-jari wanita itu hangat, dan untuk sesaat, dunia terasa tenang.

"Ibu, apakah Ayah masih di ruang kerja?" tanyanya.

Su Mei mengangguk, wajahnya sedikit murung. "Sudah tiga hari tidak keluar. Bahkan makannya hanya sedikit." Ia duduk di samping putranya, menatap langit merah di kejauhan. "Tian'er, ibu merasa tidak enak hati belakangan ini."

Lin Tian meletakkan cangkirnya. "Maksud Ibu?"

"Tidak tahu," jawab Su Mei pelan. "Hanya perasaan tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang mengawasi kita."

Lin Tian teringat kata-kata Zhou Wei siang tadi. Jangan terlalu dalam menggali. Ia ingin memberitahu ibunya, tetapi menahannya. Belum ada bukti. Mungkin Zhou Wei hanya menggertak.

"Aku akan bicara dengan Ayah nanti," katanya.

Su Mei mengangguk dan mengusap rambut putranya, meskipun Lin Tian sudah jauh lebih tinggi darinya sekarang.

Malam turun cepat, membawa udara dingin yang tidak wajar untuk musim ini. Lin Tian berbaring di kamarnya, tetapi tidak bisa tidur. Perasaannya gelisah, seperti ada jarum halus yang menusuk-nusuk tengkuknya.

Ia bangkit, duduk di tepi ranjang, dan mendengarkan.

Hening. Terlalu hening.

Biasanya ia bisa mendengar suara jangkrik dari kebun belakang, atau gonggangan anjing tetangga. Malam ini, tidak ada apa-apa. Hanya keheningan yang menekan, seolah seluruh kota menahan napas.

Lalu ia mendengarnya.

Suara langkah kaki. Banyak langkah kaki. Ringan, terkoordinasi, dan bergerak cepat mendekati kediaman keluarga Lin.

Lin Tian berdiri. Darahnya terasa dingin.

Ia menyambar pisau dapur yang selalu ia letakkan di bawah bantal—kebiasaan yang ia mulai sejak beberapa minggu lalu, tanpa alasan yang jelas—dan berlari ke arah kamar orang tuanya.

Pintu depan meledak.

Bukan didobrak. Meledak. Pecahan kayu beterbangan ke segala arah, dan Lin Tian melihat sesosok bayangan hitam melangkah masuk melalui lubang yang tadinya adalah pintu gerbang rumahnya.

Bayangan itu mengenakan jubah hitam pekat tanpa lambang apa pun. Wajahnya tertutup topeng besi berwarna gelap. Di belakangnya, berdiri setidaknya dua puluh sosok lain dengan pakaian yang sama.

"Istana Langit Hitam," bisik Lin Tian. Ia pernah mendengar nama itu dari percakapan ayahnya dengan seorang tamu beberapa bulan lalu. Ayahnya berkata dengan suara berbisik, dan ekspresinya saat itu adalah ketakutan yang tidak pernah Lin Tian lihat sebelumnya.

Sosok bertopeng itu menoleh ke arah Lin Tian. Di balik topeng besinya, Lin Tian merasa ada sepasang mata yang menatapnya tanpa emosi apa pun. Seperti menatap semut.

"Lin Hong. Gulungan itu. Serahkan, atau semua orang di sini mati."

Suara itu datar. Tenang. Bukan ancaman yang berapi-api, melainkan pernyataan fakta.

Pintu ruang kerja terbuka. Ayahnya muncul, wajah pucat, rambut berantakan, dan di tangannya tergenggam sebuah gulungan kulit yang berkilau samar.

"Tian'er," suara ayahnya bergetar. "Lari."

Lin Tian tidak lari. Kakinya terpaku di lantai, bukan karena keberanian, tetapi karena sesuatu yang lain. Instingnya berkata bahwa lari dari dua puluh kultivator adalah tindakan yang sia-sia.

Sosok bertopeng mengangkat tangan.

"Terakhir kali kami peringatkan. Serahkan gulungan itu."

Lin Hong menatap putranya, lalu menatap istrinya yang baru keluar dari kamar dengan wajah pucat pasi. Untuk sesaat yang terasa seperti selamanya, pria itu menutup matanya.

Ketika ia membukanya kembali, ia melempar gulungan itu ke tanah. "Ambil. Tapi biarkan keluargaku hidup."

Sosok bertopeng menatap gulungan di tanah, lalu menatap Lin Hong. Dan ia tertawa. Tawa pendek, kering, tanpa kegembiraan apa pun.

"Kau pikir aku datang hanya untuk gulungan itu?"

Tangannya bergerak. Cepat. Terlalu cepat untuk mata Lin Tian yang belum pernah berkultivasi.

Suara daging tertembus.

Ibunya berteriak.

Lin Tian melihat darah. Darah di mana-mana. Dan dunia yang ia kenal runtuh dalam satu malam.

Bab 2 - Abu dan Segel Dewa

Darah hangat memercik ke wajah Lin Tian.

Ia tidak menjerit. Ia menerjang.

Pisau dapur di tangan kanannya diayunkan sekuat tenaga ke arah leher sosok bertopeng itu. Sebuah serangan yang lahir dari keputusasaan murni, bukan teknik bela diri.

Clang!

Mata pisau itu patah sebelum menyentuh kulit.

Sosok bertopeng itu bahkan tidak bergeser satu inci pun. Ia hanya menatap Lin Tian dengan sepasang mata kosong di balik topeng besi, lalu menjentikkan jari telunjuknya.

Kekuatan tak kasatmata menghantam dada Lin Tian seperti palu godam.

Tulang rusuknya berbunyi retak, menusuk paru-paru. Tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak dinding ruang kerja hingga jebol dan terhempas ke dalam kegelapan.

"Bocah tanpa qi. Tidak sepadan untuk kubunuh sendiri," suara datar itu bergema di tengah halaman. "Bakar rumahnya. Pastikan tidak ada yang tersisa."

Lin Tian berusaha bangkit, tetapi paru-parunya terasa seperti diisi pecahan kaca.

Melalui lubang di dinding, ia melihat ayahnya roboh dengan dada tertembus. Ibunya memeluk tubuh kaku itu, menangis histeris, sebelum sebuah tebasan cahaya memisahkan kepala wanita itu dari tubuhnya.

"Ibu..." suara Lin Tian tercekat.

Darah memenuhi mulutnya, membuatnya tersedak.

Api mulai menjilat tiang-tiang kayu dengan cepat.

Jubah hitam para pembunuh itu berkibar saat mereka melompat ke atap, menghilang ke dalam malam. Mereka membawa gulungan kulit yang menjadi akhir dari keluarga Lin.

Asap hitam mengepul pekat.

Panas membakar kulit wajah Lin Tian. Ia merangkak keluar dari puing dinding. Kuku-kukunya mencakar lantai kayu yang mulai hangus.

Ia ingin mencapai mayat orang tuanya, tetapi balok atap yang terbakar runtuh, menimpanya tanpa ampun.

Gelap.

Hanya ada suara api yang menderu, dan bau daging hangus yang akan menghantui mimpi buruknya seumur hidup.

Hujan turun deras saat Lin Tian membuka mata.

Air dingin merembes melalui celah-celah balok kayu hangus yang menindih tubuhnya. Ia mendorong dengan sisa tenaga, batuk-batuk memuntahkan abu dan gumpalan darah.

Kediaman keluarga Lin sudah rata dengan tanah.

Hanya tersisa arang, puing, dan genangan air berlumpur. Ia merangkak keluar, seluruh tubuhnya berlumuran jelaga dan darah kering.

Hujan tidak mampu memadamkan bara api yang masih menyala di beberapa sudut. Namun cukup untuk menyadarkan Lin Tian bahwa ia masih hidup.

Di tengah puing-puing ruang utama, ia menemukan dua gundukan hangus yang saling berpelukan.

Lin Tian jatuh berlutut di atas lumpur.

Ia tidak menangis.

Air matanya seolah sudah menguap bersama api semalam. Ia hanya menatap kedua gundukan itu, menghafalkan setiap detail, setiap tulang yang menghitam.

Tangannya menggali tanah di bawah mereka dengan tangan kosong.

Kuku-kukunya patah, ujung jarinya berdarah, tetapi ia terus menggali hingga membuat lubang yang cukup dalam. Ia mengubur orang tuanya di sana, tanpa nisan, tanpa upacara.

"Aku akan membunuh mereka," bisik Lin Tian pada tanah yang basah. "Semuanya."

Tiga hari kemudian, Lin Tian berdiri di depan gerbang Akademi Awan Biru.

Pakaian yang ia kenakan adalah kain compang-camping hasil memungut dari jemuran tetangga yang sudah lari ketakutan. Wajahnya kurus, matanya cekung, tetapi tatapannya tajam menusuk.

Ia datang untuk melapor.

Istana Langit Hitam adalah organisasi terlarang. Jika sekte setempat tahu, mereka pasti akan mengirim utusan ke kota besar untuk memburu mereka.

"Minggir, pengemis!" bentak seorang murid penjaga gerbang, mendorong bahu Lin Tian dengan ujung tombak.

Lin Tian terhuyung, tetapi tidak jatuh.

"Aku harus bertemu Tetua. Keluargaku dibantai Istana Langit Hitam."

Penjaga itu tertawa meremehkan.

"Istana Langit Hitam? Organisasi mitos itu? Kau gila karena kelaparan, ya?"

Keributan itu menarik perhatian Zhou Wei, yang kebetulan berjalan keluar bersama dua temannya. Pemuda itu menyipitkan mata, mengenali wajah di balik kotoran dan jelaga.

"Lihat siapa yang masih hidup," cibir Zhou Wei. "Sampah Lin. Kudengar rumahmu terbakar. Ternyata kau yang membakarnya sendiri karena gila?"

"Keluargaku dibunuh," kata Lin Tian, suaranya parau dan berat. "Mereka mengambil gulungan ayahku."

Zhou Wei mendekat, menendang lutut Lin Tian hingga pemuda itu berlutut paksa.

"Gulungan? Maksudmu harta karun yang seharusnya diserahkan ke Akademi sebagai upeti? Kau berani menyembunyikannya?"

"Itu peninggalan kakekku," geram Lin Tian.

"Itu milik Akademi!" Zhou Wei memukul wajah Lin Tian dengan sarung tangan besinya.

Darah segar mengalir deras dari hidung Lin Tian.

Dua teman Zhou Wei ikut menendang perut dan punggungnya.

Mereka memukuli Lin Tian di tengah jalan, di depan murid-murid lain yang hanya menonton sambil berbisik. Tidak ada yang menolong. Di mata mereka, Lin Tian hanyalah sampah tanpa qi yang kebetulan masih bernapas.

"Mati saja di selokan," desis Zhou Wei, meludahi wajah Lin Tian sebelum berbalik pergi.

Lin Tian diseret oleh dua pelayan akademi dan dibuang ke gang sempit di belakang pasar.

Hujan kembali turun, membasahi luka-lukanya yang perih.

Tulang rusuknya yang patah saat pembantaian kini bertambah parah. Setiap napas membawa rasa sakit yang menusuk hingga ke otak.

Ia bersandar di dinding bata yang lembap dan berlumut.

Pandangannya mulai kabur.

Apakah aku akan mati di sini? pikirnya. Tanpa membunuh satu pun dari mereka?

Amarah membakar dadanya, lebih panas dari api yang melahap rumahnya.

Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya yang patah kembali menancap ke daging telapak tangannya sendiri.

Langkah kaki terdengar.

Lambat, tidak beraturan, diiringi suara cairan yang berguncang di dalam wadah.

Seseorang berhenti di mulut gang.

Bayangan pria tua dengan jubah abu-abu kusam dan topi bambu yang menutupi separuh wajahnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah labu arak dari kayu.

Bau alkohol menyengat hidung Lin Tian.

"Bocah," suara pria tua itu serak, tetapi bergema jelas di tengah suara hujan. "Meridianmu mati, tapi niat membunuhmu bisa membuat iblis pun merinding."

Lin Tian mengangkat kepalanya, menatap pria itu dengan mata yang merah oleh darah dan kebencian.

"Ajari aku," sahut Lin Tian sebelum memuntahkan darah. "Atau bunuh aku."

Pria tua itu meneguk araknya, lalu tersenyum tipis.

"Kau pikir aku pengemis yang suka memungut sampah?"

Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya menatap labu arak di tangan pria tua itu.

Ia tidak peduli siapa orang ini. Asal bisa memberinya kekuatan, ia rela menyerahkan jiwanya.

"Mereka membunuh ayahku," suara Lin Tian bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan. "Mereka memenggal ibuku. Aku tidak punya qi. Aku tidak punya apa-apa. Tapi aku masih bernapas."

Pria tua itu terdiam, menurunkan labu araknya dari balik tepi topi bambu.

Hujan membasahi jubah kusamnya hingga menempel di tubuh kurus.

"Kau tahu mengapa meridianmu tertutup?" tanya pria tua itu tiba-tiba.

Lin Tian mengerutkan kening. "Tabib bilang aku cacat sejak lahir."

"Cacat?" Pria tua itu mendengus, tawanya terdengar sinis namun mengandung rasa sedih yang samar. "Bocah bodoh. Tidak ada tabib di benua ini yang matanya cukup tajam untuk melihat apa yang ada di dalam tubuhmu."

Ia melangkah maju, berjongkok di depan Lin Tian.

Jari keriputnya menusuk dada Lin Tian, tepat di titik tengah tulang dada.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.

Lin Tian menggigit lidahnya agar tetap sadar. Darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Ini bukan cacat," bisik pria tua itu, matanya berkilat tajam, tak lagi terlihat seperti pemabuk. "Ini adalah segel. Seseorang mengunci meridianmu dengan formasi dewa sejak kau dalam kandungan."

Lin Tian terkesiap, matanya membelalak lebar.

"Siapa..." suaranya tercekat.

"Itu pertanyaan untuk nanti," potong pria tua itu, berdiri dan menepuk jubah basahnya. "Pertanyaan sekarang adalah, apakah kau siap menahan rasa sakit saat segel ini kurobek paksa?"

Sebelum Lin Tian sempat menjawab, pria tua itu menginjak tanah.

Qi yang padat meledak dari tubuhnya, membuat air hujan di sekitar mereka menguap seketika.

Bab 3 - Napas Pertama dan Jejak Darah

Uap panas mengepul dari tubuh pria tua itu, mengubah tetesan hujan menjadi kabut putih yang pekat. Tekanan tak kasatmata menghimpit gang sempit, membuat dinding bata di sekitarnya retak dan mengelupas. Lin Tian merasa paru-parunya diremas oleh tangan raksasa. Ia tidak bisa bernapas. Lututnya yang tadi bersandar di dinding kini terpaku ke tanah, tidak mampu menopang beratnya tekanan spiritual yang mendadak turun.

"Tahan," perintah pria tua itu. Suaranya tidak lagi serak, melainkan bergema seperti dentang lonceng perunggu. "Jika kau pingsan sekarang, meridianmu akan hancur dan kau akan mati konyol di selokan ini."

Jari keriput itu kembali menusuk dada Lin Tian. Kali ini, bukan rasa sakit biasa yang menjalar. Serasa ribuan jarum panas disuntikkan langsung ke dalam sumsum tulangnya. Lin Tian melengkungkan punggungnya, mulutnya terbuka lebar, namun tidak ada suara yang keluar. Otot-ototnya kejang, urat-urat di lehernya menonjol seolah siap meledak.

Di dalam tubuhnya, sesuatu yang telah tidur selama enam belas tahun mulai terbangun. Sebuah penghalang tak terlihat, tebal dan dingin, menghalangi aliran energi alam. Pria tua itu memaksa qi-nya menerobos penghalang tersebut tanpa sedikit pun rasa ragu.

Krek.

Suara itu tidak terdengar di dunia nyata, melainkan bergema nyaring di dalam pikiran Lin Tian. Retakan pertama pada segelnya telah muncul.

Bersamaan dengan itu, darah hitam kental merembes dari pori-pori kulit Lin Tian. Bau amis dan busuk menyeruak, bercampur dengan aroma arak dan hujan. Tubuhnya sedang membuang racun yang terakumulasi selama bertahun-tahun akibat segel yang perlahan membusukkan darahnya dari dalam.

"Keras kepala juga bocah ini," gumam pria tua itu, matanya menyipit di balik topi bambu. "Segel Dewa Penelan Langit. Seperti nya orang tuamu bukan orang biasa."

Lin Tian tidak mendengar kata-kata itu. Kesadarannya ditarik paksa ke dalam pusaran api. Ia merasa dagingnya dilelehkan, lalu ditempa kembali. Setiap inci meridiannya yang sebelumnya mati rasa kini dipaksa terbuka secara brutal. Rasa sakit itu melampaui batas toleransi manusia biasa, cukup untuk membuat kultivator dewasa pun gila.

Namun, bayangan kepala ibunya yang terpisah dari tubuh dan dada ayahnya yang berlubang terus berputar di benaknya. Amarah itu menjadi jangkar besi, menahannya agar tidak tenggelam dalam kegelapan. Ia menggigit bibirnya hingga robek, menelan darah dirinya sendiri agar tetap sadar.

Krek. Krek. Krek.

Retakan itu menyebar dengan cepat. Penghalang dingin di dalam dadanya runtuh sepotong demi sepotong, hancur menjadi debu energi.

Lalu, sebuah ledakan senyap terjadi di pusat dantian-nya.

Hujan di atas mereka tiba-tiba berhenti. Bukan karena awan telah pergi, melainkan karena qi di sekitar gang itu tersedot masuk ke dalam tubuh Lin Tian seperti pusaran air raksasa. Genangan air di tanah menguap dalam sekejap.

Napas pertama.

Lin Tian menarik napas, dan untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, ia benar-benar merasakan dunia. Selama enam belas tahun, dunia baginya adalah tempat yang bisu dan mati rasa. Ia hanya bisa melihat orang lain terbang, merasakan angin qi, dan menghancurkan batu dengan satu jari. Kini, selubung yang menutupi matanya telah robek.

Ia bisa melihat partikel-partikel cahaya samar yang melayang di udara, berputar mengelilingi tubuh Mo Cang seperti kunang-kunang yang patuh. Ia bisa mendengar detak jantung tikus yang bersembunyi di balik tembok. Energi alam yang hangat dan tebal mengalir masuk melalui hidungnya, mengisi kekosongan di dadanya yang telah lama menganga.

Matanya terbuka. Pupilnya yang semula cokelat gelap kini berkilau dengan cahaya samar berwarna perak.

Pria tua itu mundur selangkah, menurunkan tangannya. Wajahnya yang tertutup bayangan topi bambu menampilkan ekspresi terkejut yang cepat disembunyikan. Ia meneguk arak dari labu kayunya, menutupi decak kagumnya dengan suara tegukan yang keras.

"Luar biasa," gumamnya pelan. "Meridian yang disegel bukan karena cacat, melainkan karena terlalu lebar dan murni. Jika tidak dikunci sejak dalam kandungan, tubuh bayi sekecil itu pasti sudah meledak karena tidak mampu menampung qi alam yang liar."

Lin Tian menatap kedua tangannya. Darah hitam masih menetes dari ujung jarinya, tetapi di balik kulitnya yang pucat, ia bisa merasakan kekuatan yang mengalir. Ringan, namun sangat padat. Ia mengepalkan tangan, dan udara di sekeliling tinjunya berdesis pelan, terbelah oleh tekanan fisik semata.

"Siapa namamu, kakek?" tanya Lin Tian. Suaranya masih parau, tetapi tidak lagi bergetar lemah.

"Mo Cang," jawab pria tua itu santai, sambil menggaruk perutnya yang rata. "Seorang pemabuk yang kebetulan lewat dan kasihan melihat bocah yang hampir mati. Kau sendiri siapa, bocah?"

"Lin Tian."

Mo Cang mengangguk-angguk. "Lin Tian. Nama yang bagus. Tapi namamu tidak akan berguna jika kau mati dalam lima menit ke depan."

Lin Tian mengerutkan kening, menatap pria tua itu dengan waspada. "Maksudmu?"

Mo Cang tidak menjawab. Ia melangkah maju, lalu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan kiri Lin Tian. Qi yang tajam menusuk masuk, membuat Lin Tian menyentak kaget dan nyaris memukul wajah orang tua itu dengan refleks.

"Diam," perintah Mo Cang. Wajah santainya lenyap, digantikan oleh ketajaman yang membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.

Dari bawah kulit pergelangan tangan Lin Tian, sebuah titik merah sebesar biji wijen mulai berkedip. Titik itu bersinar redup, berdenyut seiring dengan detak jantung Lin Tian. Cahayanya menembus kulit dan daging, tampak sangat jelas di dalam kegelapan gang.

"Jejak Darah Pemburu," desis Mo Cang, matanya menyipit tajam menatap titik merah itu. "Pantas saja mereka tidak repot-repot memastikan kematianmu di tengah api. Mereka sudah menandaimu sejak malam pembantaian."

Lin Tian menatap titik merah di pergelangan tangannya. Darahnya mendidih, amarah yang baru saja ia redam kembali bergejolak liar. "Mereka... masih melacakku? Sejak malam itu?"

"Jejak ini ditanam melalui kontak fisik saat mereka membunuh orang tuamu," jelas Mo Cang, suaranya dingin dan tanpa emosi. "Mereka sengaja menyisakanmu. Bukan karena belas kasihan, melainkan karena mereka tahu segel di tubuhmu adalah kunci untuk membuka sesuatu yang mereka ambil dari keluargamu. Mereka membiarkanmu hidup agar segel ini melemah seiring waktu, lalu mereka akan datang memanenmu."

Lin Tian mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka... masih melacakku?"

"Tentu saja. Dan melihat kecerahan cahayanya, orang yang sedang melacakmu saat ini bukanlah pembunuh rendahan yang membantai keluargamu," Mo Cang melepaskan tangan Lin Tian dan menatap ujung gang yang gelap gulita. "Mereka adalah anjing-anjing pelacak kelas atas. Dan mereka sudah sangat dekat."

Suara langkah kaki yang seragam dan berat tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Bukan satu atau dua orang, melainkan puluhan. Getarannya membuat genangan air di tanah berombak pelan. Suara baju besi yang beradu terdengar samar, membawa aura kematian yang kental.

Suhu di dalam gang turun drastis. Embun beku mulai merayap di dinding bata, membekukan lumut yang tadinya basah oleh hujan. Anjing-anjing liar di kejauhan melolong panjang, suara mereka penuh ketakutan sebelum akhirnya terdiam mendadak, seolah leher mereka telah ditebas. Tekanan spiritual yang berat menekan dari segala arah, mengunci setiap jalan keluar. Mereka tidak datang untuk menangkap. Mereka datang untuk menyapu bersih.

Mo Cang menghela napas panjang, seolah sangat terganggu dari waktu minum araknya. Ia menyumbat labu araknya dan menyelipkannya di pinggang dengan gerakan malas.

"Bocah," kata Mo Cang tanpa menoleh, punggungnya menghadap Lin Tian. "Aku mengerti kau baru bisa merasakan energi qi. Tapi malam ini, kau akan belajar cara menggunakannya untuk membunuh."

Dari kegelapan ujung gang, sepasang mata merah menyala menatap mereka, diikuti oleh suara geraman rendah yang sama sekali bukan berasal dari manusia.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!