Indonesia
NovelToon NovelToon

MAMAKU RATU MAFIA

1

Hari itu Alya sedang menyiapkan sarapan nasi putih dan lauk seadanya di piring untuk mereka berdua.

"Ayo sayang kita sarapan, makan yang banyak ya," kata Alya tersenyum lembut. Alisya mengangguk dan mulai melahap makanan.

Saat Alisya makan, Alya menatap putri kecilnya dengan hati terenyuh dengan keadaan mereka sekarang.

Kejadian itu berputar di benaknya. Dulunya, dia adalah ketua Order Tabir hitam, first Order The Iron Donna, penguasa absolut sindikat mafia yang namanya bahkan tak berani di bicarakan oleh para aparat hukum.

Dia punya segalanya, takhta, harta yang tak habis tujuh turunan.

Namun sang Ratu Mafia menukar semua kemegahan itu karena ia mencintai pria kantor biasa.

Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.

Mereka akhirnya dikaruniai anak perempuan yang sangat cantik. Tapi sayangnya... kebahagiaan keluarga cemara itu tak bertahan lama.

"Andi! Sudah aku bilang pada mu sejuta kali! Ceraikan saja istri mu! Aku tidak sudi memiliki menantu miskin seperti dia! Dia itu pembawa sial di rumah kita! Lebih baik kamu menikah dengan managermu yang suka padamu itu, dia lebih menjanjikan dari pada istrimu yang hanya numpang hidup dengan mu!" begitulah kata-kata mertuanya dan mendesak suaminya menceraikan dirinya hingga menelantarkan putri kecil mereka.

Meskipun begitu, Alya tak putus asa, ia tetap akan menghidupi Alisya dengan sepenuh jiwanya.

Ini sudah 6 bulan sejak perceraian itu, dan ia rela tinggal di sebuah kontrakan sempit demi menjalani hidup damai meskipun tak seperti ia bayangkan.

Sementara mantan suaminya, jangankan menunaikan nafkahnya, menjenguk saja tidak pernah.

Saat ini alasan ia belum kembali kedunia lamanya adalah, ia tak mau putri kecilnya yang tidak tahu apa-apa itu ternodai oleh dunia yang kejam itu. Dan ia tak mau anak yang tak berdosa itu menjadi sasaran para pemburu di dunia hitam.

Dan saat ini, ia rela bekerja di salah satu rumah makan sebagai pencuci piring untuk bertahan hidup.

"Ayo sayang, kita berangkat sekolah," kata Alya dengan lembut.

"Tunggu Mama," kata Alisya berlari ke depan pintu di mana Alya berdiri.

Saat mereka hendak keluar dari pintu kontrakan, tiba-tiba saja ibu kontrakan muncul di depan Alya.

"Alya! Ini sudah dua bulan kamu menunggak bayar kontrakan. Kalau kamu tidak bisa bayar kamu bisa pergi dari sini!" kata ibu kontrakan dengan kasar.

"Maafkan saya buk, akan saya usahakan mencari uang untuk membayarnya, mohon beri saya keringanan 1 minggu lagi," kata Alya mengenggam erat tangan putri kecilnya.

"Janji ya 1 minggu lagi? Jika tidak, angkat kaki kamu dari sini," kata Ibu kontrakan menatap Alya dengan tatapan tajam, lalu beranjak pergi.

Bisik-bisik para tetangga pun terdengar.

"Ya ampun janda sebelah itu nunggak lagi ya?" bisik mereka.

"Seharusnya dia jangan di kasih ngontrak di sini lagi nggak sih. Kok aku jadi takut ya, takut tiba-tiba dia menggoda suami ku demi bisa bayar kontrakan!" kata mereka memandang dengan wajah jijik.

"Iya ya, biasanya janda memang suka menggoda suami orang. Kita harus waspada dan harus selalu memperhatikannya," bisik mereka lagi.

Alya sengaja lewat di depan mereka. "Buk, dari pada Anda memperhatikan saya, alangkah baiknya kalian memperhatikan suami kalian masing-masing. Bukan saya yang menggoda suami ibu, tapi suami ibu yang sering pura-pura duduk di teras melihat ke dalam rumah saya!" kata Alya dengan suara sopan tapi menekan.

"Hey Janda miskin! Kamu bilang suami ku yang menggoda kamu? Suami ku sama tidak tertarik dengan Janda sepertimu! Aku jauh lebih cantik dan bohay di banding kamu kurus kerempeng begini!" teriak ibu yang tubuhnya lebih gemoy.

"Jika ibu tidak percaya, ibu bisa perhatikan suami ibu jika dia libur," kata Alya berlalu meninggal mereka, ia tak punya waktu meladeni mereka lebih lama lagi.

Alisya yang tangannya di gandeng Alya menatap ibunya dengan wajah sedih.

"Mama... Mama celalu di hina cama tante itu, Alicya cedih banget. Kenapa kita tidak pindah caja?" tanya Alisya.

Alya tersenyum tipis melihat berapa pengertiannya gadis kecil itu. "Tidak apa-apa Sayang. Untuk sementara kita tinggal di sini dulu, karena hanya kontrakan ini yang paling murah, sementara kebutuhkan semakin mencekik, jika kebutuhan kita sudah tercukupi, kita akan pindah dari sini ya, tapi kita butuh waktu," kata Alya menenangkan anaknya.

"Iya Ma." angguk Alisya.

"Ayo cepat sayang, setelah antar kamu ke sekolah, Mama langsung ke tempat kerja," kata Alya tersenyum memberi semangat kepada buah hatinya.

Sesampainya di sekolah. Alya mencium kening sang putri. "Belajar yang rajin ya Sayang, jadi anak yang pintar, agar kamu sukses kelak."

"Iya Mama, da-da." Alisya melambaikan tangannya ke arahnya sambil berlari masuk ke dalam kelasnya.

Saat berbalik badan, ia melihat mertuanya sedang mengandeng tangan gadis kecil seusia Alisya yang ternyata satu sekolah dengan Alisya.

Ya, dan itu adalah anak manager, kekasih mantan suaminya. Alya melihat mantan mertuanya yang terlihat sangat menyanyangi cucu tiri di banding cucu kandungnya sendiri.

"Heh! Dia menyayangi anak itu melebihi cucu kandungnya sendiri," kata Alya tersenyum getir.

2

Suara decitan rem mobil sedan putih mewah berhenti di dekat gerbang TK.

Pintu mobil terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan perhiasan emas yang mencolok di leher dan pergelangan tangannya.

Di sampingnya, seorang anak perempuan sebaya Alisya turun dengan tas bermerek.

Wanita itu melangkah mendekati Alya dengan dagu terangkat tinggi, pandangannya merendahkan dari ujung kepala hingga ujung kaki Alya.

"Oh... kamu di sini juga? Jadi anakmu sekolah di sini?" tanya Linda dengan nada mengejek.

Alya menatap Linda datar, berusaha menekan gemuruh di dadanya.

"Iya," jawab Alya singkat, tak ingin memperpanjang interaksi.

Linda terkekeh sinis, melipat tangannya di dada seraya menatap papan nama TK swasta yang berdiri megah di belakang Alya.

"Ha ha ha! Berani juga kamu yang miskin ini menyekolahkan anakmu di sini? Kamu sadar diri tidak, biaya di sini itu mahal? Awas ya, kalau sampai nunggak, jangan berani-berani kamu mengemis atau minta uang ke anakku! Hubungan kita sudah putus total sejak kamu dan Andi bercerai!" cibir Linda. Wajahnya mengkerut jijik.

Alya menatap Mantan mertuanya itu dengan tatapan tajam. "Memangnya kenapa? Semua anak berhak sekolah di sini."

"Ingat ya, Alya. Tidak ada lagi tanggung jawab Andi untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian! Toh, dari dulu aku juga tidak pernah sudi menganggap anak dari rahimmu itu sebagai cucuku! Lihat ini, ini baru cucu yang pantas buat keluarga kami, berkelas!" lanjut Linda semakin menjadi-jadi, menyenggol bahu cucu tirinya agar berdiri lebih maju.

Alya menghembuskan napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata Linda dengan ketenangan yang dingin.

"Ya, sebaiknya jangan," balas Alya pelan namun penuh penekanan. "Tolong pegang kata-kata Ibu hari ini. Karena jika suatu saat nasib aku dan anakku berubah... aku harap kalian tidak perlu datang merangkak dan memohon di hadapanku."

Alya langsung membalikkan badan dan berniat untuk segera meninggalkan tempat berbisa itu.

"Alah! Berubah apaan?!" teriak Linda dari belakang, suaranya melengking hingga memancing perhatian beberapa orang tua murid yang lalu lalang. "Berubah makin ngenes yang ada! Jangan mimpi kamu!"

Alya tetap melangkah, namun Linda belum puas. Wanita itu melangkah cepat beberapa baris untuk mengejar langkah Alya.

"Lagian wanita miskin dan tidak berguna seperti kamu, siapa juga pria yang mau sih?!" celeduk Linda lagi, tertawa remeh. "Aku ini bersyukur setengah mati anakku bisa lepas dari wanita seperti kamu! Beban, nyusahin, dan cuma bisa numpang hidup! Sekarang Andi sudah dapat calon istri baru yang kaya raya, tidak seperti kamu yang cuma jadi sampah!"

Langkah Alya menyusuri trotoar terasa makin berat, tapi ia menolak untuk menoleh seraya melanjutkan langkahnya menembus terik matahari.

Di dalam hatinya, sebuah ikrar tertanam begitu dalam di hatinya

"Saat ini memang belum saatnya pembalasanmu, Linda... tapi pegang ucapanku. Suatu saat nanti, kau dan anak kebanggaanmu itu yang akan berlutut dan menderita di hadapanku!" kata Alya bertekad.

"Heh! Dasar miskin! Kita lihat nanti, mana yang lebih pintar, cucu kesayangan ku atau anak naifmu itu," kata Linda tersenyum sinis.

"Ayo sayang, kita masuk. Dan kamu harus belajar pintar ya, biar bisa mengalahkan anak wanita miskin itu, kamu jangan sampai kalah ya," kata Linda kepada Raya.

"Iya Nenek," katanya mengangguk, meskipun ia tidak begitu mengerti ucapan Linda.

3

Alya masuk lewat pintu belakang restoran La Luna. Bau tumisan bumbu, uap panas, dan aroma amis sisa makanan langsung tercium

Restoran ini selalu penuh sesak setiap hari hingga malam, dan di sinilah Alya kini berada, yaitu mencuci piring.

Dulu, jemari lentik itu hanya perlu menarik picu senjata atau menggerakkan jari untuk menghabisi musuh dan mengendalikan kerajaan bisnis gelap.

Ia adalah seorang ratu mafia, osok dingin yang ditakuti di dunia hitam. Namun kini, tangannya yang sama harus bergelimang air dingin dan busa sabun.

Srrr...

Ia menyalakan keran. Tanpa mengeluh, tanpa bersuara, Alya mulai menggosok piring satu persatu.

Matanya tumpul dan lelah, berpura-pura menjadi wanita lemah yang tak berdaya.

Tak jauh dari tempat Alya berdiri, dua karyawan dapur, Wiwin dan Ratna, sedang nyantai. Namun, mata mereka terus melirik sinis ke arah Alya.

"Hey Ratna, Alya itu tidak banyak bicara dan pendiam, dan tidak mau bicara dengan orang," kata Wiwin menunjuk dengan mulutnya.

"Dan dia terlihat sombong, tidak mau berbicara dengan orang lain," sahut Ratna sambil mencibir licik. "Mungkin dia mikir tempat ini di bawah derajatnya. Lihat tuh cara berdirinya, sok keibuan tapi pucat kayak mayat!"

Seketika mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum licik.

"Kita kerjain yuk," kata Wiwin.

"Ha ha ha, ayo gas!" sahut Ratna dengan tawa pelan yang penuh niat buruk. "Nanti aku yang pancing, kamu yang eksekusi."

Ratna sengaja melangkah menghampiri area cuci piring sambil membawa nampan berisi mangkuk-mangkuk bekas sup minyak yang licin.

Brak!

Ratna menumpukkan mangkuk-mangkuk itu secara kasar tepat di samping tangan Alya hingga tumpukannya goyah.

"Duh, Alya! Ini tumpukannya masih kurang tinggi ya? Kerjamu lambat banget sih!" seru Ratna bernada tinggi, sengaja memancing perhatian.

Alya menghentikan gerakannya sejenak. Ia menghela napas pelan, mengontrol refleks membunuhnya yang sempat terpicu secara otomatis. Dengan suara sepelan mungkin, ia menunduk. "Terima kasih... taruh saja di situ. Nanti saya selesaikan."

"Suaramu ke mana, Alya? Nggak punya mulut ya buat ngomong yang jelas?" celetuk Wiwin yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Ratna dengan tangan bersedekap.

"Maaf... saya cuma mau fokus kerja," sahut Alya tenang, meski sorot matanya yang tertutup poni menyembunyikan tatapan matanya yang berbahaya.

"Fokus kerja atau sok jual mahal?" potong Ratna tajam. "Di sini itu kita tim! Jangan kayak patung hidup! Kamu pikir kamu siapa, hah? Putri raja yang terdampar?"

"Saya hanya orang biasa yang butuh pekerjaan ini. Tolong, biarkan saya bekerja," kata Alya lembut, menyembunyikan kenyataan bahwa ia bisa mematahkan leher kedua wanita ini dalam hitungan detik jika ia mau.

Tapi demi Alisya, ia harus menahannya.

"Wah, dengar tuh, Win! Dia bilang kita ganggu!" seru Ratna berpura-pura kaget.

"Duh, berani juga ya," kekeh Wiwin. "Ya udah deh, karena kamu rajin banget... ini ada hadiah!"

PRANG!

Dengan sengaja, lengan Wiwin menyenggol tumpukan piring keramik bersih yang baru saja selesai dikeringkan oleh Alya. Keramik-keramik mahal itu jatuh berserakan di lantai, pecah menjadi serpihan tajam.

Alya mematung. Matanya tertuju pada pecahan keramik di bawah kakinya.

Wiwin membungkuk sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Alya dengan nada meremehkan, "Ups! Maaf ya... sengaja!"

Ratna dan Wiwin terkekeh puas. Namun sebelum tawa mereka reda...

"Ada apa ini?!"

Suara bentakan keras menggema dari arah pintu dapur. Pak Herman, kepala koki yang terkenal pemarah, berjalan cepat dengan wajah merah padam.

"Pak Herman! Ini Alya, Pak!" potong Ratna cepat dengan wajah pura-pura panik. "Dia ceroboh banget! Piring-piring bersih yang baru dikeringkan malah disenggol sampai pecah semua!"

"Iya, Pak! Kami tadi udah ingetin baik-baik biar hati-hati, tapi dia malah emosi dan nyenggol piringnya," tambah Wiwin menyudutkan.

Pak Herman menatap Alya dengan napas memburu. "Alya! Kamu baru kerja belum. setahun di sini sudah bikin rugi! Beresin semuanya sekarang! Kalau ada satu serpihan tersisa, gaji mu saya potong habis!"

Alya mendongak pelan. Untuk sepersekian detik, aura intimidasi yang begitu pekat dan mematikan memancar dari matanya, membuat Pak Herman mendadak merinding dan terdiam kaku tanpa tahu sebabnya.

Namun, bayangan senyum manis Alisya membuat ia meredakan tatapan tajam itu.

"Baik, Pak. Maafkan saya... saya akan bersihkan semuanya," jawab Alya pelan.

"Hmph! Beresin cepat!" gertak Pak Herman, berusaha menutupi rasa takut aneh tadi, lalu berbalik pergi.

Wiwin dan Ratna melambaikan tangan mengejek ke arah Alya sebelum kembali ke meja mereka sambil tertawa puas tanpa rasa bersalah.

Alya berlutut sendirian di atas lantai dingin. Jemarinya mulai memunguti satu per satu pecahan keramik tajam itu.

Ujung serpihan keramik sempat menggores kulit jarinya hingga meneteskan darah segar.

Alya menatap darah di jarinya, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh bahaya.

"Nikmatilah permainan kecil kalian," bisik Alya dalam hati sambil mengusap darah di jarinya. "Selama kalian tidak menyentuh putriku... aku akan tetap berpura-pura menjadi domba yang lemah."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!