Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
Gadis itu berdiri di depan cermin besar kamarnya, mematut diri untuk kesekian kalinya. Anya menghela napas panjang, merapikan rok jepret selutut berwarna biru pastel yang baru dibelinya minggu lalu. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, dunia Anya rasanya hanya berputar pada satu poros tunggal: Edgard.
Edgard adalah anak dari rekan bisnis paling penting papanya. Sosoknya tinggi, rahangnya tegas, dan selalu mengenakan kemeja yang seolah disetrika dengan presisi tanpa cela. Bagi Anya, Edgard adalah definisi sempurna dari seorang pria. Masalahnya hanya satu: di mata Edgard, Anya tidak lebih dari seonggok angin lalu atau, paling bagus, seorang adik kecil yang berisik.
"Anya! Cepat turun, Sayang! Tamu Papa sudah mau sampai!" Suara mamanya melengking dari lantai bawah, memecah lamunan Anya.
"Iya, Ma! Sebentar lagi!" sahut Anya setengah berteriak.
Anya menyambar botol parfum beraroma manis stroberi di atas mejanya. Dia menyemprotkannya dengan murah hati ke pergelangan tangan, leher, dan rambutnya. Dia tahu Edgard tidak menyukai bau yang terlalu menyengat, jadi dia memilih aroma buah yang segar, berharap aroma ini bisa tertinggal di indra penciuman pria itu malam ini.
Dengan langkah riang dan hati yang berdebar-debar, Anya menuruni anak tangga rumah mewahnya di kawasan Jakarta Selatan. Di ruang tamu, papanya, Bramantyo, sedang berbincang serius dengan Joana, kakak kandung Anya. Joana, yang berusia dua puluh dua tahun, baru saja menyelesaikan sidang skripsinya dengan predikat cum laude. Joana adalah kebanggaan keluarga—anggun, pintar, tenang, dan selalu tahu cara bersikap di depan kolega Papa. Berbeda jauh dengan Anya yang masih sering meledak-ledak dan bertingkah kekanak-kanakan.
"Kamu wangi sekali, Anya. Seperti toko permen karet berjalan," goda Joana saat Anya duduk di sampingnya.
Anya hanya mengerucutkan bibirnya. "Ini parfum mahal, Kak. Biar segar."
"Sudah, jangan ribut. Mereka sudah datang," potong Papa sambil berdiri dari sofa ketika mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah.
Jantung Anya serasa melompat ke tenggorokan. Dia ikut berdiri di belakang Papa dan Mamanya, meremas ujung blusnya dengan gugup. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Om Baskoro—mitra bisnis Papa—bersama istrinya. Dan di belakang mereka, berdirilah Edgard.
Malam itu, Edgard mengenakan kemeja rajut hitam dengan lengan yang digulung hingga sikut, memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar kokoh di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya ditata rapi, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dahinya. Anya menahan napas. Ketampanan Edgard selalu berhasil membuatnya terpaku.
Setelah sesi salam-salaman yang formal antara orang tua, pandangan Edgard akhirnya jatuh pada kedua anak gadis keluarga Bramantyo.
"Halo, Kak Joana. Selamat atas kelulusannya," ucap Edgard dengan suara baritonnya yang berat dan tenang. Senyum tipis mengembang di bibirnya—sebuah senyuman yang sangat jarang dia perlihatkan.
Joana tersenyum anggun. "Terima kasih, Edgard. Senang kamu bisa datang malam ini."
Anya segera memajukan langkahnya, memotong jarak agar Edgard melihatnya. "Halo, Kak Edgard! Kak Edgard apa kabar? Aku sengaja pakai baju biru malam ini, lho. Katanya Kak Edgard suka warna biru, ya?" rentond Anya tanpa jeda, matanya berbinar penuh harap.
Senyum tipis di wajah Edgard langsung lenyap, digantikan oleh ekspresi datar yang biasa. Dia menatap Anya datar, tatapan yang selalu membuat Anya merasa seperti anak kecil yang sedang merengek meminta mainan.
"Kabar baik, Anya. Terima kasih," jawab Edgard singkat, sangat singkat hingga terasa dingin. Pria itu bahkan tidak mengomentari baju atau usaha Anya sama sekali. Dia langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah Papa dan Om Baskoro yang mulai bergerak menuju ruang makan.
Anya terpaku di tempatnya berdiri. Bahunya merosot seketika. Sisa wangi parfum stroberinya seolah menguap sia-sia di udara, tidak mampu menembus dinding es yang selalu dibangun Edgard di sekelilingnya.
"Anya, ayo ke meja makan. Jangan melamun di situ," tegur Mama dengan suara berbisik namun penuh penekanan. Anya mengangguk lemah dan mengikuti dari belakang.
Di meja makan, makan malam berlangsung dengan obrolan bisnis yang membosankan bagi Anya. Papa dan Om Baskoro tertawa keras membahas saham dan ekspansi pabrik baru mereka. Joana sesekali menimpali dengan cerdas, membuat Om Baskoro berkali-kali memujinya di depan semua orang.
"Joana ini memang luar biasa, Bram. Sudah cantik, pintar berbisnis lagi. Beruntung sekali kamu punya anak seperti dia," puji Om Baskoro tulus.
Papa tertawa bangga. "Ah, Baskoro bisa saja. Tapi memang Joana ini yang paling bisa diandalkan di rumah."
Anya yang duduk di seberang Edgard hanya bisa memainkan sendoknya, menusuk-nusuk daging steak di piringnya tanpa selera. Dia melirik Edgard. Pria itu sedang mendengarkan Joana berbicara tentang tren ekonomi terkini dengan perhatian penuh. Tatapan Edgard pada Joana terasa berbeda—ada rasa hormat dan ketertarikan intelektual di sana. Sesuatu yang tidak pernah Edgard berikan pada Anya.
Rasa cemburu dan tidak aman mulai merayap di dada Anya. Dia ingin memecah perhatian itu. Dia ingin Edgard melihatnya, bukan kakaknya.
"Kak Edgard!" panggil Anya sedikit keras, memotong pembicaraan Joana yang belum selesai.
Seluruh meja makan mendadak hening. Semua mata tertuju pada Anya. Papa memberikan tatapan memperingatkan, namun Anya mengabaikannya.
"Kak Edgard, minggu depan kampusku mengadakan festival seni. Aku ikut panitia bagian dekorasi. Kak Edgard mau datang, kan? Aku bisa pesankan tiket VIP buat Kakak," ujar Anya dengan senyum yang dipaksakan ceria, mencoba terdengar penting.
Edgard meletakkan garpu dan pisaunya dengan perlahan. Dia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain sebelum menatap Anya. Tatapannya sangat tenang, namun terasa begitu menghakimi.
"Maaf, Anya. Minggu depan jadwal kerja saya sangat padat. Saya tidak punya waktu untuk datang ke acara seperti itu," jawab Edgard. Suaranya datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun.
"Tapi kan cuma sebentar, Kak? Malam hari juga bisa..." Anya mencoba membujuk, suaranya mulai bergetar karena menahan malu.
"Anya, cukup. Jangan kekanak-kanakan. Edgard itu sibuk mengurus perusahaan, bukan waktunya mengurusi pensi sekolahmu," potong Papa dengan suara tegas dan dingin. Kalimat Papa bagai tamparan keras di wajah Anya di depan keluarga Edgard.
"Ini festival kampus, Pa, bukan pensi sekolah," bisik Anya lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sama saja. Habiskan makananmu dan jangan mengganggu tamu," titah Papa tidak terbantahkan.
Anya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata sudah mengumpul di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja. Dia melirik ke arah Edgard melalui sudut matanya, berharap pria itu setidaknya menunjukkan sedikit rasa kasihan atau pembelaan. Namun, Edgard justru kembali melanjutkan makannya seolah penolakan kejam tadi tidak pernah terjadi. Edgard tampak begitu biasa saja, begitu tidak peduli pada badai yang sedang berkecamuk di dalam hati gadis delapan belas tahun di hadapannya.
Malam itu, Anya menyadari satu hal yang menyakitkan. Di dunia Edgard yang penuh dengan angka, logika, dan kedewasaan, tidak ada tempat bagi Anya yang penuh dengan imajinasi dan obsesi remaja. Namun, alih-alih menyerah, rasa sakit itu justru memicu sesuatu yang lain di dalam diri Anya. Dia bersumpah, dengan cara apa pun, dia akan membuat Edgard melihatnya sebagai seorang wanita, bukan lagi sebagai pengganggu yang tidak signifikan.
Anya tidak pernah tahu, bahwa keputusasaan dan obsesinya malam ini akan menuntunnya pada sebuah jurang patah hati yang jauh lebih dalam di masa depan.
Bagi Anya, kata menyerah tidak ada dalam kamus hidupnya, terutama jika itu menyangkut Edgard. Kejadian memalukan di meja makan seminggu lalu perlahan dia kubur dalam-dalam, digantikan oleh semburat ambisi baru. Jika Edgard menganggapnya anak kecil karena dia belum bekerja atau selalu membicarakan hal-hal sepele, maka Anya harus masuk ke dunia Edgard dengan caranya sendiri.
Pagi itu, suasana kantor pusat Baskoro Group tampak sibuk seperti biasa. Di lantai teratas gedung pencakar langit di kawasan Sudirman tersebut, Edgard sedang fokus memeriksa laporan keuangan kuartal kedua. Ketukan berirama di pintu ruangannya memecah keheningan.
"Masuk," ucap Edgard tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.
Pintu terbuka, namun tidak ada suara langkah sepatu hak tinggi sekretarisnya. Yang terdengar justru langkah kaki yang agak ragu, disusul oleh aroma manis stroberi yang sangat familier. Edgard menghentikan jemarinya di atas papan ketik. Dia mendongak dan mendapati Anya berdiri di sana, mengenakan blazer formal berwarna krem yang ukurannya tampak sedikit kebesaran di tubuh kecilnya. Rambutnya dicepol rapi, mencoba meniru gaya wanita karier.
"Halo, Kak Edgard," sapa Anya dengan senyum paling manis yang bisa dia pamerkan. Di kedua tangannya, dia membawa sebuah kotak bekal berwarna pastel.
Edgard menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Anya? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana Siska?"
"Oh, Mbak Siska tadi lagi ke toilet. Aku bilang aku adiknya Kak Edgard—maksudnya, calon... ah, maksudnya adik dari mitra Papa, jadi dijinin masuk," jawab Anya tangkas, menyembunyikan kegugupannya. Dia berjalan mendekat dan meletakkan kotak bekal itu di atas meja kerja Edgard yang rapi, tepat di samping tumpukan berkas penting.
Edgard melirik kotak itu, lalu beralih ke penampilan Anya. "Apa yang kamu lakukan dengan pakaian seperti itu? Dan apa ini?"
"Ini makan siang buat Kak Edgard! Aku tahu Kak Edgard pasti sibuk banget dan sering lupa makan. Ini aku sendiri yang masak, lho. Ayam teriyaki kesukaan Kakak," bohong Anya sedikit. Sebenarnya, dia hanya membantu memotong bawang, sisanya dikerjakan oleh koki di rumahnya. Tapi bagi Anya, niatnya tetaplah yang utama.
Edgard tidak menyentuh kotak itu. Dia justru melirik jam tangan peraknya. "Ini masih jam sepuluh pagi, Anya. Belum waktunya makan siang. Dan ini kantor, bukan tempat untuk bermain rumah-rumahan."
Kalimat dingin Edgard langsung menusuk ego Anya. Senyum di wajah gadis itu agak menyusut, namun dia berusaha bertahan. Dia menarik kursi di depan meja Edgard dan duduk di sana tanpa diminta.
"Aku enggak main-main, Kak. Aku sengaja ke sini karena aku peduli sama Kak Edgard. Aku juga pakai baju rapi begini supaya Kak Edgard tahu kalau aku sudah dewasa, aku bisa diajak bicara soal hal-hal serius," ujar Anya, memajukan tubuhnya dengan tatapan penuh kesungguhan.
Edgard menatap Anya lurus-lurus. Di matanya, usaha Anya justru terlihat menggelikan. Pakaian formal yang dikenakan gadis itu tidak membuatnya tampak dewasa, melainkan seperti anak kecil yang sedang meminjam baju ibunya untuk menghadiri pesta kostum.
"Anya, kedewasaan itu bukan diukur dari pakaian yang kamu pakai atau bekal yang kamu bawa ke kantor orang lain," kata Edgard, suaranya terdengar datar dan dingin, tanpa emosi. "Kedewasaan itu adalah tahu tempat dan situasi. Saat ini, saya sedang bekerja. Setiap menit saya di sini adalah uang dan tanggung jawab. Kamu berada di sini tanpa janji temu, mengganggu waktu saya, dan itu sangat tidak profesional."
Anya menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak mendengar kata "mengganggu" keluar lagi dari mulut pria itu. "Aku cuma mau ketemu Kakak sebentar. Apa sesulit itu memberikan waktu lima menit buat aku? Kenapa kalau sama Kak Joana, Kak Edgard selalu punya waktu buat diskusi berjam-jam?"
Pertanyaan bernada cemburu itu membuat alis Edgard bertaut. "Joana adalah rekan diskusi yang sepadan. Kami bicara tentang bisnis yang menguntungkan kedua perusahaan. Sedangkan kamu? Kamu ke sini hanya untuk memuaskan keinginan kekanak-kanakanmu."
"Aku bukan anak kecil, Edgard!" Kali ini Anya kelepasan. Dia tidak memanggilnya dengan sebutan 'Kakak' lagi. Matanya mulai memanas, memerah menahan air mata yang mendesak ingin keluar.
Edgard tertegun sejenak mendengar bentakan Anya, namun ekspresi wajahnya kembali mengeras. "Jika kamu tidak ingin dianggap anak kecil, bersikaplah seperti orang dewasa. Tolong ambil bekalmu, dan keluar dari ruangan saya. Saya harus melanjutkan pekerjaan."
Anya berdiri dengan sentakan kasar. Dia menyambar kotak bekalnya dengan tangan gemetar. Rasa malu, marah, dan sakit hati bercampur menjadi satu di dadanya. Dia telah menghabiskan waktu dua jam untuk bersiap-siap, menembus kemacetan Jakarta dengan harapan bisa melihat senyum atau setidaknya apresiasi kecil dari Edgard. Namun yang dia dapatkan lagi-and-lagi adalah penolakan yang begitu telak.
"Kak Edgard jahat! Kak Edgard enggak punya hati!" tangis Anya pecah. Dia berbalik dan berlari keluar dari ruangan kerja Edgard tanpa memedulikan tatapan heran dari Siska, sekretaris Edgard yang baru saja kembali dari toilet.
Edgard hanya memandangi pintu yang tertutup rapat itu dengan pandangan datar. Dia tidak mengejar, tidak juga merasa bersalah. Baginya, Anya hanyalah gadis remaja yang sedang mengalami fase cinta monyet yang berlebihan. Dia percaya, bersikap dingin adalah cara terbaik agar Anya sadar dan berhenti melakukan hal-hal konyol seperti ini. Edgard kembali memfokuskan matanya pada layar komputer, melanjutkan analisis keuangannya seolah badai emosi Anya tidak pernah singgah di ruangannya.
Sementara itu, Anya berlari menuju lift dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Di dalam lift yang sepi, dia memandangi pantulan dirinya di dinding kaca. Maskara yang dipakainya sedikit luntur di sudut mata. Dia merutuki dirinya sendiri yang terlihat begitu menyedihkan.
Sampai di lobi gedung, Anya berjalan dengan kepala tertunduk, memeluk kotak bekalnya erat-erat. Dia berjalan keluar menuju area parkir untuk mencari taksi. Namun, karena tidak fokus memperhatikan jalan, kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi setinggi lima sentimeter—yang belum terbiasa dia pakai—tersandung undakan semen pembatas taman.
Bruk!
Anya jatuh terduduk di atas paving blok. Kotak bekalnya terlempar, penutupnya terbuka, dan ayam teriyaki yang dibuatnya dengan susah payah kini berserakan di atas tanah, kotor terkena debu. Rasa sakit di pergelangan kakinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Anya duduk di sana, di tengah terik matahari Jakarta, menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang begitu malang.
Beberapa orang yang lewat memandangnya dengan iba, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengenalnya. Di saat-saat seperti ini, Anya menyadari betapa rapuhnya dia. Segala cara kreatif, nekat, dan melelahkan yang dia lakukan selama ini untuk menarik perhatian Edgard selalu berakhir menjadi sebuah lelucon yang tidak lucu. Sikap Edgard yang selalu biasa saja dan sedingin es benar-benar mulai mengikis rasa percaya dirinya.
Namun, di balik tangisnya yang pilu, sebuah ego yang terluka di dalam diri gadis delapan belas tahun itu mulai berbisik. Dia menolak untuk kalah secepat ini. Dia akan mencari cara lain, cara yang lebih besar, yang tidak akan bisa diabaikan begitu saja oleh seorang Edgard Baskoro. Anya tidak pernah menduga bahwa langkah nekat berikutnya justru akan membawanya pada sebuah kenyataan yang akan menghancurkan seluruh harapannya berkeping-keping.
Rasa sakit di pergelangan kaki akibat jatuh di pelataran kantor Edgard sembuh dalam beberapa hari, namun luka di hati Anya justru semakin menganga. Bukannya jera, penolakan demi penolakan itu malah memicu keras kepalanya yang legendaris. Anya meyakinkan dirinya sendiri bahwa Edgard hanya belum terbiasa melihatnya sebagai wanita dewasa. Dia percaya, konsistensi adalah kunci untuk mencairkan gunung es seperti Edgard Baskoro.
Maka, dimulailah rangkaian rencana-rencana baru yang jauh lebih gencar.
Anya mulai mengirimi Edgard pesan singkat setiap pagi. Mulai dari ucapan sederhana seperti, "Selamat pagi, Kak Edgard! Jangan lupa sarapan, ya, hari ini Jakarta diprediksi hujan," hingga foto-foto pemandangan jalanan yang dia ambil saat berangkat kuliah. Namun, layar ponsel Anya lebih sering menampilkan status Read tanpa ada balasan sama sekali. Jika beruntung, Edgard hanya akan membalas dengan satu kata: "Ya." atau "Terima kasih." Pendek, padat, dan sangat menyakitkan.
Tidak berhenti di situ, Anya juga kerap memanfaatkan hubungan bisnis ayah mereka. Setiap kali Papa mengatakan bahwa Edgard akan datang ke rumah untuk mengantarkan dokumen atau sekadar mampir, Anya akan langsung heboh. Dia akan menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin, berganti-ganti pakaian hingga kamarnya berantakan seperti kapal pecah.
Sore itu, kesempatan itu datang lagi. Mobil Edgard memasuki pekarangan rumah keluarga Bramantyo. Anya, yang sudah menunggu di balik tirai jendela kamarnya sejak satu jam lalu, langsung berlari turun dengan setengah melompat. Dia sengaja membawa sebuah buku tebal tentang analisis saham—buku yang sebenarnya tidak dia pahami sama sekali, melainkan milik Joana yang dia pinjam diam-diam.
"Kak Edgard!" seru Anya riang, menghadang Edgard tepat di depan pintu masuk sebelum pria itu sempat mengetuk.
Edgard menghentikan langkahnya. Dia mengenakan setelan kerja abu-abu gelap tanpa dasi, terlihat sedikit lelah namun tetap memesona. Matanya melirik Anya yang berdiri dengan senyum lebar, lalu turun ke buku tebal yang didekap gadis itu di dadanya.
"Halo, Anya. Papamu ada di dalam?" tanya Edgard, suaranya sedatar biasanya, tanpa ada riak terkejut atau senang melihat kehadiran Anya.
"Papa lagi di ruang kerja, tapi katanya Kak Edgard disuruh tunggu di ruang tamu dulu," bohong Anya cepat. Padahal Papa sudah berpesan agar Edgard langsung masuk ke ruang kerjanya. Anya hanya ingin mencuri waktu beberapa menit bersama pria impiannya ini.
Edgard menghela napas, namun tetap melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Anya dengan sigap ikut duduk di sofa yang sama, berjarak hanya beberapa puluh sentimeter dari Edgard. Aroma parfum stroberi Anya kembali memenuhi ruangan, namun Edgard tampak tidak terganggu maupun tertarik. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu dengan serius.
"Kak Edgard, aku lagi baca buku ini, lho," pancing Anya, menyodorkan buku analisis saham ke hadapan Edgard. "Aku rasa bab tentang pergerakan grafik pasar modal ini agak membingungkan. Menurut Kak Edgard, bagaimana cara membaca tren sentimen pasar yang benar?"
Anya sengaja menghafal kalimat itu dari internet semalam, berharap Edgard akan terkesan dan mengajaknya berdiskusi panjang lebar seperti yang biasa pria itu lakukan dengan Joana.
Edgard menghentikan ketukannya di ponsel. Dia menatap buku itu, lalu beralih menatap mata Anya yang memancarkan binar penuh kepura-puraan. Edgard adalah pria yang sangat peka. Dia tahu persis Anya sedang berakting.
"Anya," panggil Edgard pelan, namun nadanya begitu berat. "Kamu kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, bukan Ekonomi atau Akuntansi."
Anya tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya langsung memerah karena tertangkap basah. "Ya... memang. Tapi kan enggak ada salahnya kalau aku mau belajar bisnis? Biar nanti kalau ngobrol sama Kak Edgard bisa nyambung."
Edgard meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Dia memutar tubuhnya menghadap Anya, memberikan perhatian penuh yang ironisnya justru membuat Anya merasa terintimidasi.
"Dengarkan saya," kata Edgard dengan suara yang teramat tenang namun menusuk. "Kamu tidak perlu memaksakan diri membaca buku yang tidak kamu sukai hanya untuk menarik perhatian saya. Hubungan kita tidak akan berubah hanya karena kamu tahu cara membaca grafik saham."
"Kenapa?" potong Anya, suaranya mulai meninggi, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Kenapa kalau Kak Joana yang bicara soal ini Kak Edgard mendengarkan dengan antusias? Kenapa kalau aku yang mencoba, Kak Edgard selalu menganggapnya sebagai lelucon? Apa aku sebegitu tidak berartinya di mata Kakak?"
Edgard menatap Anya tanpa ekspresi bersalah atau kasihan. "Karena Joana membicarakan hal itu karena dia memang mengerti dan itu adalah dunianya. Sedangkan kamu melakukannya sebagai kedok. Anya, sikap kamu yang selalu memaksakan diri seperti ini lama-lama membuat saya tidak nyaman."
Kata tidak nyaman itu menghantam jantung Anya seperti gada besi. Air mata yang sejak tadi dia tahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku cuma suka sama Kak Edgard! Apa salah kalau aku melakukan banyak cara supaya Kakak melihat aku?" tanya Anya dengan suara bergetar, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya. "Aku sudah menahan malu, aku mengirimi Kakak pesan setiap hari, aku membuatkan makanan, aku mencoba masuk ke dunia Kakak... tapi sikap Kak Edgard selalu seperti ini! Dingin! Biasa saja! Seperti aku ini enggak ada harganya!"
Di tengah luapan emosi Anya, pintu ruang tamu terbuka. Joana berjalan masuk dengan langkahnya yang anggun, mengenakan pakaian rumah yang kasual namun tetap terlihat berkelas. Dia terkejut melihat Anya yang menangis sesenggukan di depan Edgard.
"Eh? Ada apa ini? Anya, kamu kenapa menangis?" tanya Joana bingung, langsung mendekati adiknya.
Edgard berdiri dari sofa, merapikan jasnya yang sedikit kusut tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang sedingin es. "Tidak ada apa-apa, Joana. Anya hanya sedikit sensitif. Di mana Papamu? Saya ada dokumen yang harus segera ditandatangani."
"Oh, Papa ada di ruang kerjanya sejak tadi, Edgard. Dia menunggumu," jawab Joana.
"Baik, saya ke ruang kerja Papamu dulu," ucap Edgard. Sebelum melangkah pergi, dia melirik Anya sekilas—tatapan yang kosong, seolah tangisan dan air mata Anya barusan tidak memberikan dampak apa pun pada perasaannya. Pria itu kemudian berjalan melewati Anya begitu saja, meninggalkan sisa keheningan yang menyakitkan.
Anya menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah sejadi-jadinya di pelukan Joana. Dia merasa sangat kecil, sangat bodoh, dan sangat tidak berdaya. Di depan Edgard, segala pesona dan usahanya runtuh tak bersisa. Sikap Edgard yang selalu tampak biasa saja di tengah badai perasaan Anya adalah jenis penolakan yang paling kejam yang pernah dia rasakan.
Anya tidak tahu bahwa beberapa minggu setelah hari itu, sebuah badai yang jauh lebih besar akan datang menghancurkan seluruh sisa harapannya, mengubah rasa kagumnya menjadi sebuah trauma yang mendalam.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!