Bismillahirrahmanirrahim....
Taniza dan Tania adalah dua saudara kembar identik secara fisik, namun bagai langit dan bumi dalam hal kepribadian.
Taniza adalah sosok anak yang lembut, penurut, dan selalu berusaha menyenangkan hati orang tuanya. Sebaliknya, Tania adalah jiwa yang liar, pemberani, dan tak suka diatur. Meskipun Tania sering membuat pusing dengan sifatnya, kedua saudara ini saling menyayangi dengan luar biasa. Taniza adalah pelindung lembut Tania, sementara Tania adalah perisai berani bagi Taniza. Mereka saling melengkapi.
Sore itu, keluarga kecil itu berada dalam perjalanan pulang ke desa untuk berkumpul dengan keluarga besarnya di desa , perjalanan yang menembus jalur perbukitan yang dingin. Di kursi depan, Sang Ibu, dan Sang Ayah, mengobrol hangat sambil sesekali memperhatikan dua putri kembar mereka dari kaca spion tengah.
Di kursi belakang, Tania yang cepat bosan mulai mengusik Taniza.
"Taniza, bosan nih! Gimana kalau kita main tukar nama?" goda Tania dengan seringai nakalnya.
Taniza tersenyum tipis. "Maksudmu, aku jadi Tania yang nakal dan kamu jadi Taniza yang penurut?"
"Iya! Biar makin pas, kita tukar kalung nama ini," kata Tania sambil melepaskan kalung emas berukir nama TANIA dari lehernya dan memasangkannya ke leher Taniza. Taniza hanya menurut mengimbangi kejahilan kembarannya, lalu memakaikan kalung berukir nama TANIZA ke leher Tania.
Dari kursi depan, Ibunya menoleh sambil tertawa kecil. "Tania, Taniza... jangan aneh-aneh. Nanti Ayah sama Ibu bingung membedakan kalian."
"hehehe, sekali-kali Bu, biar nanti di rumah nenek , om dan Tante bingung, tidak bisa. Membedakan kita" ujar Tania yang memakai kalung Taniza ...
"Tapi nanti di rumah nenek, Tania jangan bikin onar ya, Tania harus nurut kalau mau jadi Taniza!" ejek ibunya sambil terkekeh melihat Tania memajukan bibirnya.
"Ih...tapi ibu kan tahu, Tania tidak bisa diem, " lanjutnya masih pura-pura ngambek .
Taniza yang memakai kalung Tania terkekeh.
"Nanti orang-orang di sana akan merasa bingung, Tania yang selalu buat onar kini menjadi pendiam"
Semuanya tertawa, perjalanan yang cukup jauh menuju desa kini terlihat lebih berwarna dengan celotehan si kembar yang menggemaskan.
Namun, tawa itu menguap dalam hitungan detik.
Di sebuah belokan tajam yang licin, sebuah truk mendadak hilang kendali dari arah berlawanan. Ayahnya yang panik refleks membanting setir ke arah kiri untuk menghindari benturan langsung.
BRAAKK!
Mobil mereka dihantam keras dari samping, terguling beberapa kali hingga akhirnya menghantam pembatas jalan di tepi jurang. Pintu belakang sebelah kanan terlempar terbuka akibat benturan hebat.
Tubuh anak yang sedang memakai kalung TANIZA yang sebenarnya adalah Tania, terlempar keluar dari kabin dan jatuh bebas meluncur deras ke dalam jurang yang gelap dan tertutup kabut tebal. Ayah dan Ibunya mengembuskan napas terakhir mereka di kursi depan, meninggalkan satu anak lagi yang pingsan dan terluka di dalam mobil.
____
Mobil yang melintas di belakang mereka adalah milik Akhtar dan Alina, pasangan suami istri kaya raya yang sudah lima tahun mendambakan hadirnya buah hati namun tak kunjung dikaruniai anak. Tergerak oleh rasa kemanusiaan, Akhtar dan Alina menghubungi ambulans ,dan mereka lebih dulu bergegas melarikan anak yang selamat itu ke rumah sakit terdekat. Membiarkan dua nyawa yang meninggal di tunggu oleh pengendara lain yang melintas, sambil menunggu ambulance.
Di rumah sakit, Alina menggenggam jemari mungil anak yang masih terkulai lemah itu. Matanya tertuju pada kalung emas yang melingkar di leher sang anak, berukir nama TANIA. Padahal, sosok lembut di atas ranjang itu sebenarnya adalah Taniza.
Ketika kerabat jauh dari keluarga almarhum tiba di rumah sakit, suasana duka menyelimuti. Namun, di balik rasa duka itu, terselip kecemasan finansial tentang bagaimana kerabat tersebut harus membesarkan seorang anak yatim piatu.
Melihat celah tersebut, Akhtar dan Alina menyampaikan niat mereka untuk mengadopsi anak itu secara resmi. Tak hanya itu, Akhtar menawarkan bantuan finansial yang sangat besar, uang kompensasi dan pesangon yang melimpah untuk keluarga yang ditinggalkan. Tanpa ragu, pihak keluarga menyepakati penyerahan hak asuh tersebut. Bagi mereka, masalah ekonomi teratasi, sementara bagi Alina dan Akhtar, doa lima tahun mereka akhirnya terjawab...
____
Sebelum kerabat sempat mengurus lebih jauh mengenai keberadaan anak satunya lagi yang dikabarkan hilang di jurang dan diduga tak selamat, Alina dan Akhtar sudah bergerak cepat menyelesaikan proses pengadopsian.
Dengan identitas baru sebagai putri tunggal pasangan kaya tersebut, Taniza, yang kini diyakini semua orang sebagai Tania diboyong terbang keluar negeri. Di sana, Alina dan Akhtar melimpahkan seluruh kasih sayang, memanjakannya dengan kemewahan, pendidikan terbaik, dan kehidupan yang tanpa kekurangan sedikit pun. Akibat trauma berat dan usianya yang masih sangat muda, ingatan Taniza tentang ingatan masa kecilnya perlahan terkikis, menyisakan keyakinan bahwa ia memang lahir sebagai Tania yang bergelimang harta.
____
Sementara itu, jauh di dasar jurang, benturan keras saat jatuh tersangkut pepohonan tidak hanya membuat Tania , si anak yang sebenarnya berjiwa liar menderita amnesia total, tetapi juga merusakkan kalung emas di lehernya.
Saat seorang warga setempat menemukannya terkulai di semak-semak, kalung itu sudah patah terbelah dua. Bagian depan yang memuat huruf TA- telah hilang terlempar entah ke mana, menyisakan liontin patah yang hanya menampilkan ukiran huruf NiZa.
Warga desa yang menolongnya berusaha menanyakan nama dan asal-usulnya, namun anak itu hanya menatap bingung tanpa mengingat apa pun. Berpatokan pada satu-satunya petunjuk yang tersisa di dadanya, warga akhirnya sepakat memanggilnya Niza.
Niza diangkat anak oleh keluarga sederhana yang menjunjung tinggi agama dan adab di desa kaki gunung tersebut. Kehidupan baru ini sama sekali tak mudah bagi Niza. Berbeda dengan saudara kembarnya yang hidup bagai putri raja di luar negeri, Niza dibesarkan dengan didikan yang sangat keras.
Setiap hari, sejak subuh ia sudah harus bangun untuk membantu pekerjaan rumah, mengurus ladang, dan hidup dalam keterbatasan yang menuntut ketahanan fisik serta mental. Ibu dan ayah angkatnya tidak memanjakannya sedikit pun, disiplin tinggi dan kerja keras ditempakan pada dirinya setiap hari.
Namun, tanpa disadari, sifat dasar Tania yang pemberani, tangguh, dan tak mudah menyerah justru membuat Niza bertahan dari gemblengan hidup yang keras itu. Di balik tangan yang kini kasar dan pakaian sederhananya, sosok Niza tumbuh menjadi gadis yang sangat kuat.
"Niza bangun.... Ini sudah jam 3, saatnya sholat tahajjud" seru ibu angkatnya sambil menggedor-gedor pintu nya secara keras.
"Iya Bu, Niza sudah bangun" jawab Niza yang ikut berteriak.
Dua belahan kalung, dua benua yang berbeda, dan dua garis nasib yang bertolak belakang. Satu dibesarkan sebagai ratu di sangkar emas, dan satu lagi ditempa sebagai baja di tengah kerasnya dunia.
Langkah kaki bermerek mahal itu terhenti di hadapan gerbang besi menjulang tinggi milik Mansion Hasanuddin. Di balik abaya hitam serta Khimar nya , Tania , sosok yang jiwa aslinya adalah Taniza menghirup udara Jakarta yang kontras dengan dinginnya benua Eropa.
Meskipun Akhtar dan Alina memanjakannya bak ratu, Tania tetap tumbuh menjadi gadis yang santun dan berhati lembut. Baginya, kepulangannya ke Indonesia bukan sekadar mudik, melainkan niat tulus untuk dekat dengan akar keluarga angkatnya.
Pintu jati utama berukir megah itu terbuka. Di ruang tamu utama yang mewah namun dingin, beberapa anggota dari tiga pilar keluarga besar Hasanuddin sudah berkumpul. Tatapan mata mereka melayang pada Tania, sebagian besar dingin, penuh selidik, dan sarat akan penolakan terhadap sosok anak angkat yang beruntung ini.
"Assalamu’alaikum, Kakek... Om, Tante," sapa Tania lembut, membungkukkan badan sedikit dengan senyum manis yang tulus, melangkah mendekat.
Sebelum keheningan yang canggung makin mencekam, seorang pria tua bertongkat kayu ukir berdiri dengan menggebu-gebu. Kakek Hamzah. Wajah sepuhnya yang tegas seketika melunak, matanya berkaca-kaca melihat cucu kesayangannya.
"Wa'alaikumsalam, cucu Kakek yang paling sholehah..." suara Kakek Hamzah bergetar, merentangkan kedua tangannya.
Tania menyalami dan mencium punggung tangan Kakek Hamzah penuh hormat sebelum memeluknya hangat. Bagi Kakek Hamzah, di antara tingkah polah anak-cucunya yang sibuk merebutkan warisan dan gengsi, Tania adalah ketenangan. Pakaian Tania yang selalu tertutup rapi, tutur katanya yang santun, dan ketulusannya adalah penyejuk hati sang kakek.
"Kakek sangat rindu, Tania. Kau makin anggun dan santun," puji Kakek Hamzah sambil mengelus lembut kepala Tania.
"Tania juga sangat rindu Kakek. Tania sengaja pulang... karena Tania ingin menetap di sini, merawat Kakek,, Tania akan melanjutkan kuliah di sini kek" tutur Tania pelan.
"Paling cuma akting," sebuah gumaman tajam memotong momen hangat itu.
Filio, gadis seusia Tania dengan pakaian stylish bernada angkuh, melangkah maju sambil bersedekap dada. Matanya menatap Tania dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan jijik. Sebagai salah satu cucu kandung dari keluarga Hasanuddin, Filio selalu merasa Tania adalah benalu yang mengambil porsi kasih sayang Kakek Hamzah.
"Jangan sok manis deh, Tania. Rumah ini sudah sempit, tak perlu tambah anak angkat yang mendadak sok berbakti cuma buat cari perhatian Kakek," cibir Filio tajam, melipat tangannya di dada.
Tania menunduk pelan, jemarinya meremas tepi abayanya. Sifat aslinya yang penurut dan tak suka konflik membuatnya hanya memilih diam, menahan denyut nyeri di dadanya.
"Cukup, Filio! Jaga bahasamu!" bentak Kakek Hamzah tegas, menghentakkan tongkatnya ke lantai marmar hingga terdengar gema nyaring. "Rumah ini milik Kakek! Siapa pun yang Kakek izinkan tinggal, tidak ada yang boleh melarang, termasuk kamu!"
Filio mendengkus kesal, memutar matanya malas, namun tak berani membalas sang kakek.
Tak lama, langkah kaki tergesa mendekat dari arah tangga utama. Seorang pemuda tampan dengan senyum hangat menyibak ketegangan di ruangan itu. Dialah saudara sepupu Filio satu-satunya figur di Mansion Hasanuddin yang sejak kecil selalu menganggap Tania sebagai adiknya sendiri, tanpa peduli status darah.
"Tania?" panggil pemuda itu dengan nada tak percaya sekaligus lega.
Mata Tania berbinar begitu melihat sosoknya. "Kak..."
Ia melangkah mendekat dan berdiri di hadapan Tania, menepuk pelan puncak kepala Tania dengan penuh kasih sayang seperti yang biasa ia lakukan dulu.
"Akhirnya kamu pulang juga. Jangan dengarkan yang lain. Kalau ada yang mengganggumu, bilang padaku," ucapnya sambil memberikan tatapan peringatan yang dingin ke arah Filio.
Filio hanya menghentakkan kakinya kesal lalu berlalu pergi menuju kamarnya.
Tania tersenyum tipis, merasa sedikit tenang..,
"Tapi Minggu depan kakak akan berangkat lagi ke Amerika, kamu di sini jaga kakek ya, nanti kalau kakak pulang,kakak akan membawakan mu hadiah" ucap pemuda tampan itu.
"Terimakasih kak, Kakak sangat baik pada Tania"Di mansion megah ini, ia memang dikelilingi oleh tembok ketidaksukaan dari keluarga angkatnya dan kebencian dari Filio. Namun, hadirnya Kakek Hamzah dan saudara sepupu yang mengayominya memberikan Tania alasan untuk bertahan.
____
Malam harinya Di sudut balkon lantai dua Mansion Hasanuddin yang menghadap ke taman belakang, angin malam bertiup cukup kencang. Pemuda itu yang ternyata adalah Ameer menatap lurus ke kegelapan malam, menyembunyikan sisi gelap kehidupannya dari dunia luar. Bagi keluarga besar Hasanuddin, Ameer hanyalah pemuda yatim piatu, putra dari almarhum kakak pertama Akhtar yang pergi menata hidup di Amerika setelah kematian orang tuanya yang sangat tragis. Tak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di balik senyum hangatnya, Ameer adalah salah satu aset mematikan milik SECTOR 7, organisasi intelijen tingkat tinggi di Amerika.
Suara langkah kaki yang sangat pelan membuat Ameer menoleh. Suasana hatinya yang dingin seketika melunak saat melihat Tania berdiri di pintu balkon dengan gaun tidurnya dan jilbab instan yang tertutup rapat dan sopan.
"Tania... Kakak akan kembali ke Amerika, tugas kakak di sana masih lama, semoga kamu betah di sini," ucap Ameer lembut sambil membalikkan badan dan mengelus puncak kepala Tania yang tertutup jilbab.
Tania menatap Ameer dengan mata berbinar cemas. "Harus berangkat malam ini juga, Kak Ameer? Baru saja Tania sampai... Katanya Minggu depan"
"Panggilan pekerjaan, Tania. Kamu tahu kan bisnis Kakak di sana tidak bisa ditinggal lama?" ujar Ameer tersenyum tipis, berbohong demi melindungi rahasia besarnya. Padahal, sebuah enkripsi pesan darurat baru saja masuk ke jam tangan taksisnya, misi penting SECTOR 7 menunggunya.
"Ayah dan ibu juga kembali ke Eropa, Tania sendiri disini, mereka akan pulang tapi nunggu Tania ujian akhir semester" balas Tania dengan mata berkaca-kaca.
Ameer menggenggam kedua pundak Tania, menatap mata adik sepupunya itu dengan dalam. "Ingat pesan Kakak. Jangan terlalu polos. Om Danin dan Tante Chana bukan orang yang bisa kamu percaya sepenuhnya. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi nomor rahasia yang sudah Kakak simpan di ponselmu. Paham?"
Tania mengangguk pelan meski hatinya diliputi kebingungan. Sifat dasarnya yang penurut dan selalu berpikiran positif membuatnya sulit mencerna peringatan Ameer. "Iya, Kak. Tania akan jaga diri baik-baik. Kakek juga ada di sini."
Ameer mengepalkan tangannya rapat-rahat. Ia tahu, dengan ketiadaannya di mansion ini, Tania akan menjadi target empuk. Namun, ia harus pergi. Sebelum melangkah pergi meninggalkan mansion menuju bandara, Ameer sempat melirik dingin ke arah sudut ruang tengah lantai bawah, tempat di mana Danin dan Chana sedang memperhatikan mereka dari jauh.
Sepeninggal Ameer, takhta kepemimpinan Hasanuddin Group kini sepenuhnya berada di tangan Danin, anak bungsu Kakek Hamzah sekaligus ayah dari Filio. Didampingi istrinya, Chana, yang berambisi besar menguasai seluruh harta kekuasaan keluarga, mereka merasa di atas angin. Bagi Danin dan Chana, Ameer yang berada jauh di Amerika dan tak berminat pada perusahaan adalah keuntungan besar, meski mereka tidak tahu Ameer sebenarnya memegang hak waris mutlak yang ditinggalkan almarhum ayahnya.
Di ruang makan mewah keesokan harinya, suasana terasa sangat menekan. Kakek Hamzah belum turun karena kesehatannya mendadak menurun pagi itu.
Danin meletakkan koran bisniskannya dengan kasar di atas meja kaca. Matanya yang tajam menatap Tania yang sedang melayani menyendokkan nasi untuk dirinya sendiri dengan canggung.
"Sekarang Ameer sudah pergi. Kak Akhtar juga sudah kembali ke Eropa untuk mengurus bisnisnya, Jangan berpikir kamu punya tameng lagi di rumah ini, Tania," pangkas Danin dengan suara berat dan dingin.
Chana, yang duduk di samping Danin sambil mengoleskan selai pada rotinya, tertawa sinis. "Mas Danin benar. Kamu itu cuma anak angkat dari Kak Akhtar. Seharusnya kamu sadar diri, tempatmu bukan di mansion ini, apalagi sampai membawa-bawa nama besar Hasanuddin. Dulu Akhtar cuma kasihan padamu."
Filio yang duduk di sebelah ibunya tersenyum puas, melipat tangan di dada melihat Tania yang kini menunduk dalam-dalam.
"Maafkan Tania, Om, Tante.. Tania di sini tidak ada niat untuk merebut apa pun. Tania hanya ingin dekat dengan Kakek dan merawat Kakek," bisik Tania pelan, menahan air mata yang hampir menetes. Hatinya yang lembut dan penurut terasa teriris, namun ia memilih untuk tidak membalas sepatah kata pun.
"Bagus kalau sadar diri!" cetus Chana tajam. "Mulai hari ini, jangan lancang ikut campur urusan keluarga ini. Dan ingat, urusan Kakek adalah tanggung jawab dokter, bukan anak kemarin sore seperti kamu!"
Tania meremas kuat Gamisnya di bawah meja. Di dalam kemewahan Mansion Hasanuddin, ia merasa begitu terasing dan terancam. Tanpa perlindungan Ameer dan dengan kondisi Kakek Hamzah yang makin lemah, Tania harus bertahan di tengah serigala-serigala berkulit domba.
Di kaki gunung yang sejuk, sinar matahari pagi menerobos celah-celah dedaunan pohon jati. Suara kayu yang terbelah rapi beradu tajam dengan dentang kampak yang diayunkan penuh presisi. Bagi Niza, sosok yang sebenarnya adalah Tania, pekerjaan berat bukanlah siksaan, melainkan rutinan harian yang menempa ketahanan fisik dan mentalnya.
Niza menyapu keringat tipis di dahinya dengan lengan bajunya yang longgar. Rambutnya terbungkus jilbab instan sederhana yang ujungnya disingkap dan diikat rapi ke belakang agar tak mengganggu pekerjaannya memotong kayu bakar.
"Niza, kamu kan cerdas nak , apa kamu tidak mau ambil beasiswa kuliah di Jakarta?" tanya ibu angkatnya, Ibu Sumi, yang berjalan mendekat sambil membawa teh hangat dan pisang goreng. " Ya , walaupun tanpa beasiswa juga kamu bisa kuliah dimana saja sesuai keinginan mu".
Niza meletakkan kapaknya, menancapkannya di atas bongkahan kayu besar, lalu tersenyum manis, sebuah senyum yang memancarkan ketegaran sekaligus ketenangan.
"Tidak, Bu. Niza betah di sini, hidup sederhana lebih menyenangkan," balas Niza mantap.
Ibu Sumi menghela napas panjang, menatap putri angkatnya itu dengan rasa bangga bercampur haru. Orang-orang di desa sering kali salah sangka. Mereka mengira Ibu Sumi dan suaminya memperlakukan Niza dengan kejam karena sejak kecil Niza selalu disuruh bekerja keras, dari mengurus ladang, memotong kayu, hingga bangun sebelum subuh untuk sholat tahajud dan membersihkan rumah.
Padahal, keluarga angkat Niza bukanlah keluarga miskin. Mereka memiliki puluhan hektar sawah dan perkebunan teh di kaki gunung tersebut. Didikan keras dan penuh disiplin itu sengaja diberikan bukan karena benci, melainkan karena kebiasaan dan prinsip hidup mereka, anak harus dididik dengan kebaikan, kerendahan hati, dan kerja keras agar tidak lembek digilas zaman.
"Lagipula," lanjut Niza sambil menerima cangkir teh dari ibunya dengan kedua tangan, menunjukkan adab dan rasa hormat yang amat tinggi "ilmu itu bisa dicari di mana saja, Bu. Menjaga Ibu, Ayah, dan membantu warga di sini sudah bikin Niza bahagia."
Niza memang tumbuh menjadi sosok yang luar biasa. Di satu sisi, ia memiliki sopan santun dan adab yang sangat dijunjung tinggi, ia tak pernah bersuara keras pada orang tua, selalu menyapa warga desa dengan senyum hangat, dan ringan tangan membantu siapa saja yang kesulitan. Namun di sisi lain, fisik dan mentalnya sekeras baja. Ia mampu memikul beban berat yang bahkan jarang sanggup diangkat oleh laki-laki sebayanya, dan ia tak pernah gentar menghadapi kesulitan hidup.
"Kamu itu pintarnya kebangetan, Niza. Sayang kalau cuma memotong kayu dan mengurus sawah," celethuk Pak Harto, ayah angkatnya, yang baru pulang dari memantau para pekerja sawah.
"Rezeki dan takdir sudah ada yang mengatur, Yah," sahut Niza tenang. "Kalau memang Niza harus ke kota atau ke mana pun suatu hari nanti, Niza yakin jalannya akan terbuka sendiri. Untuk sekarang, Niza cuma mau mengabdi untuk Ayah dan Ibu."
Pak Harto dan Ibu Sumiati bertukar pandang, menyembunyikan rasa haru mereka. Di dalam diri Niza, mengalir keberanian alami dan jiwa pantang menyerah yang sebenarnya berasal dari sifat asli Tania. Amnesia akibat kecelakaan belasan tahun lalu telah menghapus ingatan tentang statusnya sebagai anak bergelimang harta, namun sifat pembawaan lahirnya tidak pernah hilang, hanya kini terbalut oleh ketakwaan dan adab yang luhur.
____
*
*
*
Beberapa bulan kemudian, suasana di Mansion Hasanuddin mendadak pekat oleh aura duka yang mencekam.
Tania berdiri mematung di tengah ruang keluarga. Jemari mungilnya gemetar memegang selembar kertas hasil studi semester pertamanya dari salah satu universitas paling ternama di Jakarta. Di sana terukir angka IPK Sempurna, pencapaian luar biasa yang sejujurnya ingin ia persembahkan sebagai kejutan manis untuk Akhtar dan Alina yang sedang dalam perjalanan pulang. orang tua angkat yang sangat ia cintai dan hormati.
Namun, kertas berharga itu kini basah oleh tetesan air mata yang jatuh tanpa henti.
Di layar televisi berukuran besar, berita duka diputar berulang kali, "Pesawat Komersial Rute Internasional Jatuh di Samudra, Seluruh Penumpang dan Awak Dipastikan Tidak Selamat." Di antara daftar manifest penumpang, nama Akhtar dan Alina terpampang jelas.
"Ibu... Ayah..." bisik Tania parau. Dadanya sesak luar biasa, seolah pasokan udara di sekitarnya mendadak diisap habis. Seluruh dunianya runtuh seketika. Orang tua yang selama belasan tahun mengasihinya dengan begitu melimpah telah pergi selamanya.
"Semua ini gara-gara kamu... hiks....kalau kamu tidak menyuruh paman dan bibi pulang, mungkin mereka tidak akan seperti ini..!"
PLAK!....
Sebuah dorongan kasar dari Filio membuat Tania tersungkur ke lantai marmer yang dingin. Lembar nilai yang tadi digenggamnya terlepas dan melayang jatuh, terinjak oleh sepatu Filio.
"Filio! Cukup!" bentak Kakek Hamzah dari kursi rodanya. Suara pria tua itu bergetar hebat, matanya merah menyala menahan syok yang teramat sangat. Kehilangan anak dan menantunya secara mendadak membuat kondisi kesehatan Kakek Hamzah drop drastis. Napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat hingga harus dipapah oleh pelayan.
"Kenapa Filio harus diam, Kakek?!" teriak Filio Histeris, airnya mengalir deras mendengar berita kecelakaan itu, ia menunjuk wajah Tania yang tergeletak sembari menangis sesenggukan. "Sejak anak angkat pembawa sial ini masuk ke keluarga kita, musibah datang bertubi-tubi! Paman Akhtar dan Bini Alina meninggal tragis karena dia! Dia itu pembawa petaka di rumah ini..., Kalau dia tidak menyuruh mereka pulang, semuanya tidak akan seperti ini!"
Danin dan Chana melangkah mendekat. Bukannya menenangkan, Chana justru tersenyum tipis di balik ekspresi pura-pura berdukanya.
"Filio ada benarnya, Ayah," potong Chana dengan nada dingin dan beracun. "Anak ini memicu nasib buruk. Dulu orang tua kandungnya mati mengenaskan dalam kecelakaan, dan sekarang? Akhtar dan Alina yang mengadopsinya juga tewas di udara. Apa lagi kalau bukan pembawa sial?"
"Bukan... Tania bukan pembawa sial... Tania sayang Ayah dan Ibu...hiks..." tangis Tania pecah. Ia bersimpuh di lantai, memohon pengertian. Jiwa lembutnya yang tak terbiasa dengan bentrokan keras sama sekali tak mampu membela diri. Sifat penurutnya justru membuat Tania menelan semua makian itu dan mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Danin menatap Tania penuh penderitaan dan kebencian yang dibuat-buat. "Mulai hari ini, jangan pernah panggil kami keluarga! Kamu bukan siapa-siapa lagi di sini!"
Kakek Hamzah yang hendak membela Tania mendadak terbatuk hebat hingga memegang dadanya, tak berdaya menghadapi kejamnya anak dan cucunya sendiri sebelum akhirnya dilarikan ke kamar oleh dokter pribadi.
Penderitaan Tania baru saja dimulai. Dengan tiadanya Akhtar dan Alina, serta Kakek Hamzah yang terbaring lemah di ranjang akibat stroke ringan pasca-syok, Danin dan Chana mengambil alih seluruh kekuasaan rumah.
Tania dipindahkan dari kamar mewahnya di lantai dua ke sebuah kamar sempit dekat area servis belakang. Kartu kredit dan semua fasilitas dari almarhum orang tuanya dibekukan oleh Danin .
Setiap hari adalah siksaan mental bagi Tania, Di Rumah , Filio menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah tangga layaknya seorang pelayan, menyiramnya dengan air dingin jika Tania terlambat menyajikan teh, atau membantu nya mengisi pr , dan secara konstan memaki Tania sebagai anak sialan. Bahkan Filio kerap kali memukul Tania , Tania yang berhati lembut hanya bisa menangis diam-diam di kamarnya setiap malam, memeluk foto Akhtar dan Alina.
Di Kampus Tania tetap bertahan kuliah meski harus berjalan kaki atau naik transportasi umum, berjuang menyembunyikan lebam di hatinya di balik pakaian yang selalu rapi dan tertutup.
"Tania, kamu yang sabar ya, setelah tugas kakak selesai disini, kakak akan menetap di jakarta dan akan melindungi mu" setiap malam Ameer selalu menghubungi Tania,ia tidak tahu kalau Tania di siksa, ia hanya mengira ,Tania Hanya di kucilkan saja karena hanya keluarga angkat di sana.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!