Hujan rintik-rintik seolah turut meratapi suasana di dalam aula pernikahan termewah di kota itu. Lampu gantung kristal yang berkilauan memantulkan cahaya keemasan, menyinari deretan tamu undangan yang sebagian besar adalah tokoh terpandang, pejabat, dan rekan bisnis berpengaruh. Namun, kemegahan itu terasa hampa, bahkan seakan mencekik, ketika mata semua orang tertuju pada satu sosok yang duduk diam di atas kursi roda di pelaminan.
Itu adalah Argan Adhyaksa—pewaris tunggal keluarga konglomerat Adhyaksa, pemimpin perusahaan yang namanya disegani di seluruh negeri. Tubuhnya tegap namun terlihat kaku, kemeja jas putih yang disesuaikan dengan sempurna menutupi bekas luka yang masih terasa perih, bukan hanya pada tubuhnya yang lumpuh sejak kecelakaan setahun silam, melainkan juga pada hatinya yang lama tertutup rapat. Wajahnya tampan namun dingin, matanya yang tajam tak menyiratkan sedikit pun kegembiraan yang seharusnya dimiliki seorang pengantin pria. Hanya ada kekosongan, dan sedikit rasa lelah yang tak mampu ia sembunyikan.
Ia sudah tahu sejak awal pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian. Perjanjian yang disusun oleh kedua orang tuanya, untuk menyatukan keluarga Adhyaksa dengan keluarga tunangannya, Aisyah. Sebuah pernikahan yang dimaksudkan untuk menjaga nama baik keluarga, memperkuat kerja sama bisnis, dan memastikan bahwa tak ada yang tahu betapa hancurnya dirinya pasca kecelakaan itu. Argan setuju, bukan karena cinta, melainkan karena ia sudah tak punya alasan untuk menolak—setelah kecelakaan itu merenggut kemampuannya berjalan sekaligus harapan bahwa ia akan pernah dicintai apa adanya.
Jam dinding di ujung aula berdentang pelan, tepat menunjukkan pukul delapan malam. Upacara seharusnya sudah dimulai sepuluh menit yang lalu. Namun, sosok yang seharusnya berdiri di sampingnya—Aisyah—tak kunjung muncul.
Bisik-bisik pelan mulai terdengar di antara tamu undangan. Awalnya samar, lalu perlahan makin nyaring.
“Mana pengantin wanitanya?”
“Bukankah undangan sudah menyatakan mereka akan menikah hari ini?”
“Dengar-dengar dia tak mau menikah dengan pria yang tak bisa berjalan...”
“Kasihan sekali Tuan Muda Argan...”
Setiap bisikan itu terasa seperti jarum yang menusuk perlahan ke dalam dada Argan. Rahangnya mengeras, tangannya yang bertumpu pada sandaran kursi roda mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah menduga hal ini mungkin terjadi. Aisyah selalu terlihat ragu setiap kali mereka bertemu, dan tatapannya yang penuh rasa iba perlahan berubah menjadi rasa jijik yang tak bisa disembunyikan. Namun, ia tak pernah menyangka wanita itu akan berani melarikan diri tepat di hari pernikahan mereka, di hadapan semua orang yang mereka kenal.
Saat kebingungan mulai berubah menjadi keributan kecil, seorang wanita muda melangkah masuk ke dalam aula dengan langkah ragu. Ia mengenakan gaun pengantin sederhana yang sedikit kebesaran, wajahnya pucat pasi namun matanya berkilat penuh keteguhan yang tak terduga. Itu adalah Aruna—adik kandung Aisyah.
Ia berjalan melewati barisan tamu yang menatapnya heran, langkahnya gemetar namun tak berhenti sampai ia berdiri tepat di samping Argan. Dengan suara yang sedikit bergetar namun jelas terdengar oleh siapa saja yang mendengarnya, ia berkata:
“Maafkan keterlambatan saya... Saya Aruna, pengantin wanita Tuan Argan malam ini.”
Kata-kata itu membuat seluruh aula mendadak senyap total. Bahkan Argan sendiri tertegun menatap wanita di hadapannya itu, matanya menyiratkan tanya yang besar—tak mengerti mengapa adik tunangannya yang menghilang justru datang menggantikan posisinya, dan apa yang sebenarnya tersembunyi di balik keputusan mendadak itu. Aruna menatapnya balik, menyembunyikan rasa takut dan sedih yang mendalam di balik senyum tipisnya, menyadari bahwa langkah yang baru saja ia ambil akan mengubah seluruh hidupnya dan hidup pria dingin di hadapannya itu selamanya.
Suasana hening itu masih menyelimuti aula bagai selimut tebal yang mencekik. Argan masih terpaku menatap Aruna, matanya menyisir setiap inci wajah gadis itu—mencari kepalsuan atau sekadar kebingungan yang biasa ditunjukkan adiknya. Namun yang ia temukan hanyalah keteguhan yang dipaksakan, seolah gadis itu sedang memikul beban yang jauh lebih berat dari usianya.
“Kau?” suara Argan terdengar berat dan rendah, hanya terdengar oleh mereka berdua. “Di mana Aisyah?”
Aruna menelan ludah, jari-jarinya meremas ujung gaun yang kebesaran itu. “Kakak... Kakak tidak bisa datang, Tuan. Saya di sini untuk menggantikannya.”
Tawa sinis kecil lolos dari bibir Argan, namun tak ada senyum di matanya. “Menggantikan? Pernikahan ini bukan soal sepatu yang bisa ditukar saat tak pas, Aruna. Kau tahu apa yang kau katakan?”
“Saya tahu,” jawab Aruna cepat, suaranya bergetar namun tak mundur. “Saya tahu ini perjanjian antar keluarga. Saya tahu jika pernikahan ini batal malam ini, nama baik keluarga kami hancur, dan nama baik Anda pun tak kalah buruk. Biarlah saya yang menggantikannya.”
Sebelum Argan sempat membalas, ayah mereka bergegas menghampiri, wajahnya merah padam antara malu dan putus asa. “Argan... mohon terimalah. Aisyah... dia pergi tanpa pesan. Aruna rela melakukannya demi menyelamatkan kehormatan kedua keluarga.”
Argan memejamkan mata sejenak, merasakan kepahitan yang makin menumpuk. Ia tak punya pilihan. Membatalkan upacara saat ini berarti mengumumkan pada seluruh dunia bahwa ia ditelantarkan calon istrinya—bahwa ia tak cukup berharga untuk dipertahankan. Dan ia tak sanggup menanggung rasa malu itu.
Dengan gerakan lambat, ia membuka mata, menatap Aruna tajam. “Baiklah. Kau mau menggantikannya? Kalau begitu kau harus menjalani semuanya. Jangan harap aku akan memperlakukanmu lembut hanya karena kau adiknya.”
“Saya siap,” jawab Aruna pelan, meski hatinya berteriak takut.
Upacara pun dilanjutkan dengan kaku. Tak ada janji cinta yang tulus, tak ada senyum bahagia. Hanya ucapan janji suci yang terucap bagai beban berat, disaksikan orang-orang yang masih tampak bingung dan berbisik-bisik. Saat pria tua penghulu mengucapkan kalimat sah, Aruna merasakan genggaman tangan Argan yang dingin dan kaku—tak ada kehangatan, hanya tekanan yang menandakan sebuah ikatan yang dipaksakan.
Setelah semua tamu perlahan pulang dan kemeriahan berubah menjadi sunyi senyap, mereka berdua kini berada di kamar pengantin yang luas dan mewah namun terasa dingin seperti istana es. Argan membiarkan dirinya didorong kursi rodanya ke tengah ruangan, lalu menatap Aruna yang berdiri tak jauh dari pintu.
“Sekarang katakan padaku yang sebenarnya,” ucap Argan tiba-tiba, suaranya menekan. “Apa yang sebenarnya terjadi pada Aisyah? Dan kenapa kau begitu rela menyerahkan hidupmu hanya untuk menggantikannya?”
Aruna menunduk, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipi. “Kakak pergi... Ia tak sanggup menerima Anda yang seperti ini. Ia bilang ia tak bisa hidup bersama pria yang tak bisa berjalan, yang tak bisa menemaninya berpesta atau berkeliling dunia. Ia meminta saya untuk menutupi kekacauannya sampai ia aman pergi jauh.”
Argan tertawa pahit, kali ini lebih keras. “Jadi kau dikorbankan untuk keserakahannya? Kau rela menjadi istri bayangan pria cacat hanya karena kakakmu pengecut?”
“Saya melakukannya karena saya tak ingin keluarga kami hancur,” isak Aruna pelan, namun ia tetap mengangkat wajahnya menatap Argan. “Dan saya tidak menganggap Anda cacat, Tuan Argan. Anda mungkin tak bisa berjalan sekarang... tapi saya yakin hati dan pikiran Anda jauh lebih utuh daripada orang yang berlari menjauh saat masa sulit datang.”
Kata-kata itu seolah menampar Argan. Ia terdiam lama, menatap gadis di hadapannya dengan pandangan yang berubah—dari kebencian dan kekecewaan, menjadi rasa ingin tahu yang bercampur heran. Di balik topeng pernikahan palsu ini, ternyata ada rahasia yang lebih dalam, dan perasaan yang mungkin perlahan tumbuh di tempat yang tak pernah ia duga.
Lanjut ke Bab 3 sekarang?
lKeheningan yang berat kembali menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara detak jam dinding yang teratur seolah menghitung setiap detik perubahan nasib yang baru saja terjadi. Argan masih terpaku menatap Aruna, kata-kata gadis itu masih berputar di benaknya—terasa asing, namun entah mengapa sedikit demi sedikit mengikis dinding pertahanan yang selama ini ia bangun setinggi langit. Tidak ada yang pernah berani berkata demikian padanya; semua orang hanya memandangnya dengan rasa iba, rasa jijik yang disembunyikan, atau sekadar menghormati namanya saja tanpa melihat siapa dirinya sebenarnya.
Dengan perlahan, Argan menggerakkan kursi rodanya mendekat. Raut wajahnya masih dingin, namun tatapan tajamnya kini tak lagi penuh amarah, melainkan penuh kewaspadaan yang mendalam.
“Kau bilang kau tidak menganggapku cacat?” suaranya rendah, namun terdengar jelas bergetar sedikit—entah karena emosi yang tertahan atau karena rasa terkejut yang belum hilang. “Kau belum tahu apa yang harus kau hadapi mulai detik ini, Aruna. Kau pikir pernikahan ini hanya soal berdiri di sampingku di depan tamu? Kau pikir kau hanya perlu tersenyum dan berpura-pura bahagia? Tidak semudah itu.”
Aruna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu tak menentu. Ia tahu konsekuensi dari keputusan yang diambilnya sesaat lalu sangat besar, namun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mundur, apa pun yang terjadi.
“Katakan padaku apa yang harus saya lakukan, Tuan,” jawabnya mantap, meski tangannya masih gemetar di samping tubuh. “Saya sudah siap menjalani semuanya.”
Argan mengangguk pelan, lalu mulai merangkai aturan main yang akan menjadi batas di antara mereka berdua selama ikatan ini masih berlangsung.
“Baik. Kalau begitu dengarkan baik-baik. Ini adalah perjanjian yang mengikat, bukan pernikahan yang didasari perasaan. Jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu layaknya suami yang penuh kasih sayang, apalagi menggantikan perasaan yang seharusnya untuk kakakmu—walaupun dia ternyata pengecut yang tak tahu diri.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hati gadis itu sebelum melanjutkan dengan nada yang makin tegas:
“Pertama, di hadapan publik, keluarga, dan semua orang yang mengenal kita, kau adalah istriku yang sah. Kau harus bersikap seolah kita adalah pasangan yang paling bahagia. Jangan pernah tunjukkan kelemahan atau keraguan sedikit pun, karena itu akan menjadi bahan cemoohan bagi mereka yang menunggu kesalahan keluarga Adhyaksa.”
“Kedua, di balik pintu tertutup seperti sekarang, kau bebas menjadi dirimu sendiri. Tapi ingat batasnya. Jangan pernah mencoba masuk ke ruang pribadiku yang belum kubuka untuk siapa pun. Jangan bertanya berlebihan tentang masa laluku, tentang lukaku, atau tentang apa yang kurasakan. Aku butuh waktu untuk sendiri, dan aku harap kau menghormatinya.”
“Ketiga, kau akan tinggal di sini, di rumah ini. Kau akan memegang kendali atas urusan rumah tangga sebagaimana layaknya nyonya rumah. Tapi jangan berpikir kau bisa mengatur hidupku atau mengubah kebiasaanku sesuka hati. Aku yang memegang kendali penuh di sini.”
“Dan yang paling penting,” Argan menatapnya tajam seolah ingin menembus kedalaman jiwa gadis itu, “jangan sampai kau jatuh cinta padaku. Karena jika itu terjadi, kau yang akan terluka paling dalam. Aku tak punya hati yang tersisa untuk dicintai, Aruna. Semuanya sudah hancur bersamaan dengan kecelakaan itu setahun yang lalu. Kau hanya pengganti sementara, dan saat waktunya tiba, kau akan melepaskanku begitu saja.”
Setelah menyampaikan semua itu, Argan berhenti bicara. Ia membiarkan Aruna mencerna setiap aturan yang terasa begitu dingin dan keras itu.
Aruna menunduk sejenak, air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Sakit memang mendengar kalimat bahwa ia hanya sekadar pengganti sementara, dan bahwa ia dilarang untuk merasakan hal yang paling manusiawi—cinta. Namun ia tahu, ia tak berhak menuntut apa pun saat ini. Ia datang bukan membawa cinta, melainkan datang untuk menutupi kesalahan orang lain.
Dengan berani, ia kembali mengangkat wajahnya, menghapus jejak air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu berkata dengan suara yang tenang namun teguh:
“Saya mengerti semua aturan itu, Tuan Argan. Saya akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Saya tak akan menuntut apa pun dari Anda, dan saya berjanji tak akan memaksakan perasaan apa pun yang tak Anda inginkan. Saya hanya meminta satu hal pada Anda: perlakukanlah saya dengan jujur, sebagaimana saya akan bersikap jujur pada Anda.”
Mendengar jawaban itu, Argan terdiam cukup lama. Ada sesuatu dalam tatapan mata Aruna yang membuatnya sulit untuk terus bersikap dingin sepenuhnya—seperti ada cahaya kecil yang mencoba menerangi ruangan yang sudah gelap terlalu lama. Namun ia segera menepis perasaan itu. Ia tak boleh melemah, apalagi pada gadis yang baru saja menjadi korban keadaan sama sepertinya.
“Baik,” ucapnya singkat. “Mulai besok, kau akan memulai peranmu yang sesungguhnya. Sekarang istirahatlah. Kamar tamu sebelah kanan sudah disiapkan untukmu. Jangan pernah mencoba masuk ke kamarku sendiri tanpa izinku.”
Tanpa menunggu jawaban, Argan menekan tombol pada sandaran kursi rodanya, lalu bergerak perlahan meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya sendiri yang sunyi. Pintu ditutup perlahan, memisahkan mereka berdua dalam dunia yang berbeda—namun kini terikat oleh janji yang dipaksakan oleh keadaan.
Aruna duduk perlahan di tepi tempat tidur yang besar itu, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar di sudut ruangan. Gaun pengantin yang ia kenakan terasa semakin berat, bukan karena kainnya, melainkan karena tanggung jawab yang baru saja ia pikul. Namun di dalam hatinya, ia berjanji: ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak hanya menyelamatkan kehormatan keluarganya, tapi juga perlahan menyembuhkan hati pria yang kini menjadi suaminya itu—tanpa ia sadari, perjalanan panjang dan penuh rintangan baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!