Indonesia
NovelToon NovelToon

Kau Rebut Tunanganku, Ku Rayu Gebetanmu

01

.

Alena berdiri di depan meja rias dengan gaun pengantin berwarna putih yang terlihat begitu indah dengan bagian bawah panjang menjuntai hingga menyapu lantai. Renda di bagian gaunnya bergerak lembut setiap kali ia sedikit menggeser posisi tubuh. Riasan tipis di wajahnya tidak mampu menyembunyikan semburat gugup yang sejak tadi menguasai hati. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Reno pria yang sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Namun, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

Derrrtt… derrrtt… derrrtt…

Baru saja gadis itu mengambil nafas untuk menenangkan hatinya, tiba-tiba ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja rias berdering memecah kesunyian.

Alena menatap ke arah layar ponsel dan tampak olehnya nama Reno sebagai pemanggil. Seketika, jantung Alena berdetak dengan kencang, firasat buruk ia rasakan sejak tadi seakan menghantamnya semakin keras. Dengan tangan sedikit gemetar gadis itu mengambil ponselnya lalu menggeser ikon hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

“Ha…”

"Alena…?"

Belum sempat Alena menyapa, suara Reno yang terdengar cemas memenuhi telinganya.

“Maaf, aku tidak bisa datang. Selena tiba-tiba pingsan dalam perjalan ke hotel."

Seketika itu juga cengkeraman tangan Alena mengeras. Dadanya bergemuruh mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Reno. Tangan kirinya meremas bagian samping gaunnya hingga lecek.

"Kita tunda dulu acara pernikahan kita, ya? Kita akan menggelarnya nanti kalau Selena pulang dari rumah sakit.”

Rahang Alena mengeras, mata gadis itu berkilat merah. Ditunda? Pada saat seperti ini? Saat semua persiapan bahkan sudah sembilan puluh sembilan persen dan hanya tinggal menunggu kedatangannya? Apa Reno sudah gila?

Klik!

Alena memutuskan panggilan tanpa menjawab atau mendengar kelanjutan apa yang akan diucapkan oleh Reno. Mata gadis itu terlihat berkilat merah, dadanya tampak turun naik menahan amarah. Ia memejamkan matanya sejenak kemudian menghirup nafas dalam-dalam. Belum sempat pikirannya merasa lebih tenang, tiba-tiba…

Brakk!

Pintu ruang rias terbuka dengan kasar dan tampak oleh Alena mama dan papanya masuk dengan wajah panik.

"Alena…?” panggil Nyonya Miranda, mamanya.

Namun, Alena sama sekali tidak menanggapinya. Dia sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh mamanya. Apalagi jika bukan meminta pemakluman atas apa yang terjadi? Tanpa sepatah kata pun gadis itu menyambar ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja, lalu melangkah dengan cepat keluar dari ruang rias. Suara teriakan panggilan dari mama dan papanya sama sekali tak ia dengarkan.

.

Begitu sampai di ballroom hotel tempat akan diadakannya ijab kabul, para tamu telah memenuhi ruangan. Beberapa kerabat jauh menatap ke arahnya sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk, suara bisik mereka terdengar seperti dengungan lebah. Namun, Alena sama sekali tak menghiraukannya.

"Sudah jam sepuluh lebih, kenapa pengantin pria belum datang?" bisik salah seorang tamu kepada tetangganya, sambil melihat ke arah jam dinding yang besar.

"Tidak tahu. Katanya ijab kabul jam sepuluh, kan? Tapi kok sudah lewat jamnya belum datang juga?"

“Mungkin jalanan macet," jawab temannya dengan suara pelan, namun ekspresinya juga mulai menunjukkan rasa cemas.

Alena berjalan ke arah panggung di mana penghulu sudah menunggu di sana.

"Ini sudah waktunya, kenapa pengantin pria belum datang?” tanya penghulu seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Tanpa menjawab, Alena mengambil salah satu mikrofon yang ada di tangan seorang MC, lalu melangkah menuju tengah-tengah panggung.

"Selamat pagi, para tamu undangan yang saya hormati,” ucap Alena dengan suaranya yang tegas, matanya menyapu wajah-wajah yang memenuhi ruangan megah itu.

Tuan dan nyonya Bagaskara mendekat dengan wajah panik. “Alena, apa yang akan kamu lakukan? Jangan berbuat yang aneh-aneh!" seru Tuan Gunawan Bagaskara.

Alena menepis tangan papa dan mamanya, lalu kembali mendekatkan mikrofon ke mulutnya dan berkata…

“Saya, Alena Bagaskara, hari ini menyatakan bahwa pernikahan antara saya, dengan Tuan Muda Reno Sebastian, DIBATALKAN!" ucap Alena dengan lantang. "Sekali lagi saya katakan… Pernikahan kami DIBATALKAN!! Bukan DITUNDA.”

Setelah berkata demikian, Alena kembali menyerahkan mikrofon yang ada di tangannya kepada petugas MC. Lalu dengan dua tangan yang mengangkat bagian samping gaunnya agar tidak mengganggu gerakan kakinya, gadis itu bergegas turun dari panggung.

"Alena!” Suara teriakan Tuan Gunawan Bagaskara terdengar menggelegar. Namun, Alena sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

Tuan Gunawan Bagaskara dan nyonya Miranda istrinya, bergegas turun dari panggung lalu mengejar Alena.

"Hentikan dia!” perintah Tuan Gunawan pada para pengawal yang segera menghadang langkah Alena.

Para tamu undangan yang berada dalam ruangan itu seketika berdiri dari tempat duduknya. Semuanya saling pandang dan saling bertanya dengan orang-orang yang ada di sebelah mereka. Ada apa? Apa yang terjadi? Itulah pertanyaan yang menyerbu benak mereka.

“Apa yang baru saja kamu lakukan?!” Teriak Tuan Gunawan tepat di hadapan wajah Alena yang kedua tangannya sedang dicekal oleh dua orang pengawal. "Kamu membatalkan pernikahan secara sepihak, apa kamu sudah gila?!"

Alena menatap tajam ke arah Papanya. "Lalu menurut papa aku harus apa?" Tanya Alena tanpa mata berkedip. “Apa aku harus tetap berdiri di sini menunggu tanpa kepastian? Papa lihat sendiri, di sana!"

Alena mengarahkan telunjuk tangannya ke arah penghulu yang masih menunggu. “Penghulu sudah datang, semuanya sudah siap, tamu-tamu sudah menunggu, semua persiapan sudah sembilan puluh sembilan persen dan hanya tinggal menunggu kedatangan mempelai laki-laki. Tapi apa yang dilakukan oleh calon menantu papa? Dia menunda pernikahan untuk waktu yang tidak ditentukan. Lalu apa aku harus tetap menunggu di sini?"

“Tapi Tuan Muda Reno juga tidak sengaja menunda pernikahan ini,” hardik Tuan Gunawan membela calon menantunya. Dia tidak ingin pernikahan dua keluarga yang sudah lama direncanakan kandas begitu saja. Karena jika itu terjadi, maka ia akan kehilangan klien besar seperti Richard Sebastian. "Selena pingsan, dia masuk rumah sakit. Dia itu kakakmu, apa kamu tidak punya empati sedikitpun? Kenapa malah marah-marah hanya untuk hal sepele seperti ini?"

Jantung Alena seakan berdetak semakin kencang. Nafasnya memburu, matanya menatap ke arah ayahnya dengan kemarahanmu yang tak lagi bisa disembunyikan. Sepele katanya? Ini adalah pernikahannya, hari yang begitu sakral. Dan Papanya menganggap itu hanya sesuatu yang sepele?

“Selena, Selena, Selena!" Teriak gadis itu. "Kenapa dia selalu pingsan di saat krusial?”

"Alena!” teriak Nyonya Miranda lantang. "Jaga sopan santunmu, dia itu kakakmu!"

Alena menatap ke arah mamanya dengan senyum miring dan tatapan mengejek. “Kakak?" ulangnya. “Kalau benar dia kakakku dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatku dipermalukan. Aku jadi ragu apakah Selena benar-benar sakit atau hanya pura-pura? Kenapa pingsannya selalu bertepatan di saat aku…”

"Hentikan omong kosong mu!" teriak Nyonya Miranda sebelum Alena melanjutkan ucapannya.

"Terserah Mama. Yang jelas, aku membatalkan pernikahan ini. Selena mau mengambil Reno dariku, kan? Katakan padanya untuk tak usah bermain intrik. Aku memberikannya dengan ikhlas. Anggap saja ini sedekah dariku."

"ALENA...!!!"

Alena tidak peduli pada teriakan kedua orang tuanya. Beberapa pengawal menghadang langkahnya tapi secepat kilat ia mengambil tiara yang ada di atas kepalanya, lalu mengarahkan bagian runcing dari tiara tersebut ke lehernya sendiri.

"jika kalian berani menghentikan langkahku, kalian akan melihat aku bersimbah darah di sini!"

Para pengawal bergerak mundur dengan mengangkat kedua tangan mereka, tak ada yang berani mendekat ke arah Alena yang kemudian melenggang dengan tenang keluar dari ballroom hotel tersebut.

"Jika kamu berani selangkah saja keluar dari hotel ini, kami tidak akan pernah menganggap kamu sebagai putri dari keluarga Bagaskara lagi!"

Suara teriakan bernada ancaman keluar dari mulut Tuan Gunawan Bagaskara. Namun itu sama sekali tidak menyurutkan langkah Alena. Gadis itu tetap melenggang pergi dengan melambaikan sebelah tangannya.

02

.

Dalam mobil taksi yang melaju perlahan meninggalkan gedung hotel bintang lima itu, air mata perlahan membanjiri wajah Alena. Gadis yang tampak begitu tegar saat berdiri di hadapan semua orang, bahkan dengan tegas menjawab kata-kata orang tuanya, nyatanya tampak begitu rapuh ketika sendirian.

“Kita ke mana, Nona?" tanya sopir taksi yang menatapnya dari kaca spion.

Alena mengangkat wajahnya sesaat lalu menatap keluar jendela. Ia juga tak tahu mau ke mana. Tangannya meremas gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.

Sopir taksi yang seakan mengerti kebingungan gadis itu, mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Alena.

Alena menatap wajah sopir itu sesaat sebelum kemudian menerimanya. Ini pertama kalinya ia mendapat perhatian. Dan mirisnya itu dari orang yang sama sekali tak ia kenal. Seorang sopir taksi yang tadi ia hanya masuk ke dalam mobilnya secara asal saat taksi itu menurunkan penumpang di halaman hotel. Gadis yang bahkan lupa kalau ia memiliki mobil sendiri.

“Terima kasih, Pak," ucap Alena tulus.

Sopir taksi hanya mengangguk sambil tersenyum lalu kembali fokus pada jalan di hadapannya. “Jadi, saya harus mengantar Anda kemana?" tanya sopir itu lagi.

“Saya juga tidak tahu, Pak. Saya tidak punya tujuan."

Sopir taksi mengambil nafas dalam kemudian melajukan mobilnya ke sebuah taman kota. Taman yang tetap sejuk meski sinar matahari sudah berada tepat di atas kepala. Sesampainya di taman kota, sopir itu menghentikan mobilnya lalu dia turun. Mesin mobil masih dibiarkan menyala.

"Saya tiba-tiba merasa lapar,” ucapnya saat Alena membuka kaca jendela. "Bisakah nona menunggu di sini sebentar? Saya akan mencari makanan di sana," lanjutnya sambil mengarahkan ujung jarinya ke sebuah kedai yang ada di depan taman.

Alena menganggukkan kepala, lalu sopir itu pun berjalan ke arah yang tadi ia tunjuk. Namun, hanya beberapa menit hingga sopir itu kembali dan mengulurkan sebotol air mineral pada Alena. Alena merasa ragu, tapi tetap menerimanya juga. Tak ingin berprasangka buruk pada seseorang.

"Kak Selena?" gumam Alena lirih saat hanya tinggal dirinya di dalam mobil. Mata yang baru saja ia keringkan menggunakan tisu itu kembali basah. Namun, bukan karena kakaknya yang masuk rumah sakit, melainkan karena rasa sakit dan kecewa yang telah terpendam sekian lama.

Ini bukan pertama kalinya. Sejak kecil, Selena selalu tiba-tiba jatuh sakit setiap kali Alena mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Saat Alena lulus dengan nilai terbaik, dan seharusnya kedua orang tua mereka mendampingi menerima penghargaan, Selena mendadak sesak napas dan harus dirawat.

Saat hari ulang tahun Alena, Selena tiba-tiba demam tinggi hingga seminggu tidak bisa bangun dari tempat tidur. Pesta untuk Alena pun dibatalkan. Dan banyak lagi acara Alena yang harus gagal hanya karena Selena.

Dan hari ini... di hari pernikahannya yang telah direncanakan dengan sangat matang... lagi-lagi Selena sakit. Hari pernikahan yang telah dipersiapkan berbulan-bulan, dari pemilihan gaun hingga resepsi yang sudah dibayar lunas... di hadapan ratusan tamu yang datang dari berbagai kota... ditunda hanya karena calon suaminya memilih menemani kakaknya?

“Bodohnya aku,” gumam Alena sambil tertawa getir. “Bagaimana bisa aku mengabaikan gelagat Selena yang selalu mencari perhatian Reno?"

Alena membuang nafas yang terasa menyesakkan dadanya. Ini bukan hanya salah Selena, tapi juga Reno yang selalu menuruti apapun kata Selena. Hanya dengan alasan bahwa Selena adalah kakak dari Alena.

Alena mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya, lalu mengambil nafas dalam dalam untuk melonggarkan dadanya yang masih saja terasa sesak.

Bertepatan dengan itu, sopir taksi kembali masuk ke dalam mobil. Seakan tahu bahwa kondisi Alena sudah lebih tenang.

"Anda sudah tahu kita akan ke mana?” tanya sopir taksi itu lagi.

Alena pun menyebutkan alamat rumahnya.

Sopir taksi mengangguk lalu mulai melajukan mobilnya.

Tak lama kemudian taksi yang ia tumpangi telah berhenti di depan gerbang rumah mewah keluarga Bagaskara. Gadis itu membayar ongkos taksi menggunakan aplikasi QR di ponselnya karena dia memang tidak membawa dompet.

Baru saja ia hendak masuk ke dalam rumah, mamanya menghampiri dengan wajah merah padam.

"Alena, cepat ganti baju. Kita sekarang langsung ke rumah sakit untuk melihat kakakmu."

Alena menoleh perlahan, wajahnya yang sembab terlihat datar tanpa ekspresi. Sedikit terkejut karena mamanya sudah ada di rumah. Bagaimana cara kedua orang tuanya menenangkan para tamu di hotel tadi? Tapi, untuk apa ia peduli. Dirinya saja sudah dipermalukan sedemikian rupa.

“Untuk apa?" tanya Alena acuh.

Wajah nyonya Miranda mengeras mendengar pertanyaan itu. "Untuk apa katamu? Yang sedang sakit itu kakakmu. Dia sedang kritis, dan kamu bertanya untuk apa? Apa kamu tidak punya hati nurani?”

Alena menatap mamanya dengan mata menyipit. "Kritis? Benarkah?"

Tatapan nyonya Miranda yang tadinya penuh dengan kesal mendadak berubah tajam, bahkan matanya mulai memerah karena kemarahan. "Maksudmu apa bertanya seperti itu? Kamu menuduh kakakmu hanya berpura-pura?"

"Kenyataannya memang seperti itu!”

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kanan Alena hingga membuat kepala gadis itu tertoleh ke samping. Alena memegang pipinya yang terasa kebas. Tawa getir lagi-lagi tersungging di sudut bibirnya. Selalu saja seperti itu. Dirinya tak boleh salah bicara sedikitpun apalagi tentang Selena. Pernah ia bertanya dalam hati, apakah dirinya benar-benar anak kandung namanya? Kenapa perlakuan mereka berbeda antara dirinya dan kakaknya?

"Berani sekali kamu menuduh kakakmu seperti itu!" bentak sang ibu dengan wajah merah padam "Selena sudah selalu baik sama kamu, tapi kamu malah bisa berpikir jelek begitu padanya!"

Papanya yang baru saja turun dari lantai atas ikut menatap marah, kedua tangannya mengepal kuat-kuat.

"Kamu memang selalu iri pada Selena! Dari kecil kamu selalu tidak suka kalau Selena lebih banyak mendapat perhatian! Harusnya kamu sadar. Kami melakukan itu karena kondisi kakakmu yang tidak baik-baik saja. Harusnya kamu itu prihatin pada kakakmu, bukan malah menyimpan iri dengki!"

Alena tertawa lirih di sela air mata yang kembali mengalir. "Iri? Aku iri?” tanyanya pilu. Benar-benar tidak percaya papanya mengatakan itu. Gadis itu menggeleng pelan dengan mata menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.

"Sejak kecil, apa pernah ada yang benar-benar menjadi milikku? Boneka yang aku inginkan selalu diberikan ke Kak Selena. Buku cerita yang aku mau selalu dibeli untuknya. Bahkan jika aku ingin gaun baru, aku harus menunggu Selena bosan dengan gaun lamanya!"

“Dasar picik!" sahut nyonya Miranda. “Selena memberikan gaunnya karena dia sayang padamu. Dia yang selalu mau mengalah agar kamu merasa bahagia, tapi ternyata kamu hanya adik yang tidak tahu terima kasih!”

Alena memejamkan matanya, merasa muak dengan situasi yang ia hadapi saat ini. Orang tuanya hanya menyayangi selena. Apapun yang dilakukan Selena selalu benar. Jadi percuma ia berdebat, hanya akan menghabiskan tenaga. Mungkin lebih baik mandi dan berendam air hangat untuk mengembalikan kewarasannya.

Namun, belum sempat ia beranjak dari tempat itu, sang ibu kembali menarik lengannya dengan kuat.

"Ya sudah kalau kamu tidak mau ganti baju. Pokoknya sekarang juga kamu ikut kami ke rumah sakit. Jangan membuat kakakmu menunggu lama!"

"Tidak.” Alena menghempaskan tangan mamanya dengan cepat, lalu mundur satu langkah.

"Apa? Kamu tidak mau pergi?"

"Aku tidak akan pergi ke rumah sakit.”

"Kamu mau membiarkan kakakmu mati sendirian di rumah sakit?"

Alena menatap lurus kedua orang tuanya, matanya yang tadi merah karena menangis kini mulai menunjukkan sikap tegas yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya.

"Selena sudah memiliki banyak orang yang menyayanginya. Jadi aku tidak mau ikut-ikutan. Mulai sekarang, aku akan lebih memilih menyayangi diriku sendiri!”

“Anak kurang ajar!" Tuan Gunawan mengepalkan tangan hingga urat-uratnya menonjol, wajahnya memerah dan rahangnya mengeras. "Kamu sangat egois, Alena! Padahal Selena selalu menyayangimu!"

Alena tersenyum pahit sambil menatap lurus wajah papanya. "Egois? Papa bilang aku egois? Hari ini adalah hari pernikahanku. Tapi calon suamiku memilih menemani kakakku di rumah sakit. Dan kedua orang tuaku... juga memilih kakakku daripada aku yang sedang berdiri sendirian di tengah aula pernikahan yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan."

Alena mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Tolong katakan... siapa sebenarnya yang egois?" tanya Alena keras bahkan sambil menepuk-nepuk dadanya yang mungkin terasa sesak.

Alena mengangkat ujung gaunnya yang panjang, lalu melangkah perlahan meninggalkan ruangan itu. Sebelum menaiki tangga menuju kamarnya, Alena berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.

"Hari ini bukan hari aku kehilangan calon suami, tetapi hari aku berhenti memohon untuk dicintai."

03

.

Alena mengerjapkan matanya menerima rangsangan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Tadi setelah berendam dengan air hangat, lalu mencoba melepaskan semua beban dalam hatinya dan memilih untuk tidak lagi peduli apapun, gadis itu lalu tidur dengan nyenyak. Dan siapa sangka dia bahkan baru terbangun ketika hari telah sore?

Alena membuka pintu kamarnya berniat turun ke lantai bawah untuk mengisi perutnya yang tidak diisi sejak pagi tadi. Namun, langkah gadis itu terhenti ketika ponsel yang berada di atas nakas tiba-tiba berdering. Alena pun membalikkan kembali badannya, urung untuk keluar kamar.

Alena mengambil ponsel itu lalu duduk di tepi ranjang dengan mata melihat ke arah layar ponselnya. Ada nama Rika di sana, temannya yang bekerja di rumah sakit tempat Selena dirawat. Alena mengerutkan kening beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.

"Halo…?"

"Alena... kamu sedang di mana?" terdengar suara temannya dengan nada pelan seolah sedang berbisik.

"Aku?" tanya Alena tak mengerti. “Tentu saja ada di rumahku. Ada apa memangnya?" tanya Alena penasaran.

"Oh, syukurlah… aku kira kamu nekat bunuh diri gara-gara batal nikah? Habisnya dari tadi aku mencoba menghubungimu tapi tak tersambung.”

“Sialan kau!" umpat Alena dengan nada yang dibuat kesal, padahal tentu saja itu hanya pura-pura. Ia tahu sahabatnya hanya bercanda. “Ada apa? Buruan bilang! Aku lagi lapar ini, mau buru-buru makan."

Di seberang sana Rika memutar bola matanya malas. Dia juga tahu Alena hanya pura-pura kesal. “Aku itu ngubungin kamu karena mau ngasih info penting. Tapi kayaknya kamu gak butuh? Ya sudahlah gak jadi."

“Apa sih? Buruan ngomong! Aku PHK dari pertemanan juga kau!”

"Iya deh iya. Dasar gak sabaran,” gerutu Rika. Sahabat Alena itu pun kemudian menceritakan semua yang ia lihat saat ia sedang bertugas. Mulai dari Reno yang datang sambil menggendong Selena yang dalam kondisi pingsan, hingga hasil diagnosa dokter bahwa sebenarnya Selena sama sekali tidak apa-apa. Namun, Selena yang meminta dokter untuk berbohong pada Reno. Dan juga fakta bahwa dokter itu yang memeriksa Selena itu sebenarnya adalah teman Selena.

Alena mengambil nafas dalam-dalam mendengar kebenaran yang diungkap oleh temannya. Walaupun sebenarnya sudah lama ia curiga bahwa sakitnya Selena selama ini hanya berpura-pura, tetap saja kekesalan itu masih ada. Apa sebenarnya tujuan Selena? Apa hanya karena ingin merebut Reno darinya? Kalau memang ia menyukai Reno, kenapa tidak minta saja terus terang. Dengan senang hati ia akan memberikannya.

“Sepertinya bukan itu alasan Selena. Ia bukan menyukai Reno. Ia hanya ingin mengambil apapun yang seharusnya menjadi milikku.” Alena menarik kesimpulan dari semua yang telah ia lihat selama ini.

“Sudahlah," ucap Alena. “Aku tidak peduli apa dia benar-benar sakit atau hanya pura-pura."

“Kok gitu? Ya gak bisa dong! Harusnya kamu jelasin semua itu pada Reno dan kedua orang tuamu. Mereka harus tahu seperti apa Selena sebenarnya."

Alena tersenyum sendiri mendengar Rika yang bahkan terdengar lebih marah daripada dirinya.

“Buat apa?" tanya Selena acuh. “Aku malas ikut dalam sandiwara Selena. Lagipula dengan kejadian ini, aku justru tahu Reno bukan orang yang pantas aku pertahankan. Malah lebih bagus pernikahan kami batal. Aku juga tidak sudi hidup dengan pria yang tidak bisa menjadikan aku prioritas."

“Iya sih," ucap Rika. “Terus kamu mau ngapain sekarang? Jadi kamu akan membiarkan Selena begitu saja? Padahal aku pengen banget kamu datang ke rumah sakit terus jambak rambut dia.”

Alena tertawa terbahak-bahak mendengar sahabatnya yang terdengar begitu kecewa. "Kamu pikir aku apaan? Bukan levelku main jambak-jambakan. Lagian sandiwara seperti itu suatu saat juga akan terbongkar dengan sendirinya. Biarkan saja sekarang mereka begitu membela dia. Semakin mereka menyayangi Selena, akan semakin sakit saat mereka tahu telah dibohongi."

“Haahh…” Rika membuang nafas lelah. “Ya sudahlah. Aku gak akan menang debat sama kamu. Ya udah bye. Aku mau lanjut kerja lagi."

*

Setelah sambungan telepon berakhir, Alena melanjutkan niatnya untuk turun ke lantai bawah. Sesampai di ruang makan, seorang pelayan bergegas melayaninya. Sambil makan, ia membuka ponselnya. Namun, tidak ada sesuatu yang menarik baginya.

Saat ia hendak menutup ponselnya, tiba-tiba ponsel itu berdering membuatnya sedikit terjingkat. Gadis itu menghela nafas berat saat melihat Reno sebagai kontak pemanggil.

“Mau apa sih dia?" gumamnya. Namun, tak urung ia menggeser tombol hijau dan mengaktifkan fitur loudspeaker karena masih ingin melanjutkan makan.

“Alena…?!” Suara keras dari Reno terdengar bahkan sebelum ia sempat mengucapkan kata “hallo".

“Ada apa?" tanya Alena dengan suara yang tak begitu jelas karena sambil mengunyah makanan. Dari nada suaranya ia tahu Reno sedang kesal, atau lebih tepatnya marah. Tapi ia tidak peduli.

"Kenapa kamu membatalkan pernikahan?” tanya Reno keras. "Aku sudah bilang, pernikahan itu hanya ditunda, bukan dibatalkan. Kita bisa menggelar pernikahan setelah kakakmu keluar dari rumah sakit. Apa kamu tidak paham dengan kata-kataku? Sekarang semua jadi seperti ini, saham.perusahaanku ikut anjlok gara-gara postingan dari beberapa tamu. Apa yang akan aku katakan kalau papa dan mamaku pulang dari luar negeri dan bertanya? Mereka tidak bisa datang karena harus menunggu Oma di rumah sakit, dan kalau mereka tahu pernikahan batal, mereka bisa murka. Apa kamu tidak sadar, itu akan menjadi masalah pada hubungan kerja dua perusahaan?!"

Alena terus saja mengunyah meski kata-kata Reno yang panjang kali lebar terus terdengar dari ponsel yang tergeletak di atas meja tak jauh dari tangannya.

"Alena! Apa kamu tidak dengar aku bicara?!” Suara teriakan Reno kembali terdengar.

"Iya dengar,” sahut Alena cuek. "Lanjut aja. Aku dengerin,” ucapnya lagi. Satu tangannya terulur untuk kembali mengambil lauk dan kembali melanjutkan makan. Tampaknya ocehan Reno sama sekali tak membuat ia terusik.

“Alena, aku benar-benar minta maaf. Tidak datang di hari pernikahan memang salahku. Tapi aku juga tidak melakukan itu dengan sengaja. Itu karena kakakmu yang tiba-tiba pingsan. Lalu bagaimana bisa kamu membatalkan pernikahan secara sepihak?!"

“Alena…! Kamu dengar gak sih? Alena…?!” suara Reno terdengar benar-benar kesal karena Alena sama sekali tak menanggapi ucapannya.

"Iya, iya, aku dengar. Ngomong aja gak usah teriak.” Alena mengambil gelas berisi air putih lalu menenggak separuh isinya sebelum kemudian membersihkan mulut menggunakan tisu, lalu membuang tisu itu ke atas piring yang sudah kosong.

Di seberang telepon Reno mengerutkan keningnya. Ini bukan Alena. Alena tak pernah bersikap cuek seperti ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!