Indonesia
NovelToon NovelToon

Dari Selir Yang Diabaikan Menjadi Permaisuri

Bunga di Sudut Istana Dingin

Udara pagi di Istana Ziyun terasa menusuk tulang, membawa serta embun beku yang menempel di kelopak-kelopak bunga Prem yang layu. Di tempat paling terpencil di kompleks harem kekaisaran inilah Mu Qingran menghabiskan hari-harinya. Jauh dari kemegahan aula utama, jauh dari wangi dupa mahal, dan yang paling utama: jauh dari pandangan sang Putra Langit, Kaisar Tang Xuanze.

Bagi para kasim dan pelayan istana, Qingran bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah seorang selir tingkat rendah—pion tak berharga yang dikirim oleh keluarganya sendiri sebagai tumbal politik yang gagal. Di dunia persilatan istana yang kejam ini, di mana darah dan intrik mengalir di balik jubah sutra mewah, ia hidup bagaikan sehelai daun kering yang terabaikan angin.

Di dalam kamarnya yang sederhana, Qingran bersila di atas dipan kayu yang dingin. Di hadapannya, sebuah papan cuxi terbentang rapi. Jemarinya yang lentik memegang bidak hitam, melangkah perlahan tanpa suara. Lawannya bukanlah manusia, melainkan pikirannya sendiri. Ia tengah menghitung langkah, membaca arah angin, dan menelaah setiap kemungkinan terburuk.

“Selir Mu, Anda masih sempat bermain catur di saat genting seperti ini?”

Suara itu milik Chun'er, pelayan setianya yang baru saja kembali dari dapur istana dengan napas memburu dan wajah pucat pasi. Chun'er membanting nampan kayu berisi mangkuk bubur encer yang nyaris tak layak makan.

Qingran bahkan tidak mendongak. Matanya tetap fokus pada papan catur, sementara suaranya meluncur tenang bagaikan air telaga yang membeku, "Ada apa di dapur kekaisaran lagi, Chun'er? Apakah jatah makanan kita dipangkas setengahnya lagi, atau para pelayan Istana Ruyi baru saja melemparkan sisa tulang ikan ke depan pintu kita?"

Chun'er menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir tumpah. "Bukan itu, Nyonya! Selir Mei baru saja mengadakan jamuan minum teh di Taman Jinfeng. Semua selir diundang untuk memamerkan hadiah giok putih yang baru dikirim oleh Kaisar. Dan... dan mereka sengaja mengolok-olok Anda di depan para selir tingkat tinggi."

Mendengar itu, gerakan tangan Qingran berhenti sejenak. Sebuah senyuman tipis, dingin dan setajam bilah pedang tersembunyi, terukir di sudut bibirnya.

Bukannya marah, tersinggung, atau berlari menangis seperti selir-selir naif pada umumnya, Qingran justru meletakkan bidak hitamnya dengan mantap. Suara kayu beradu dengan papan cuxi terdengar begitu Nyaring di dalam ruangan yang sunyi. Ia mendongak, menatap bayangan dirinya di cermin perunggu yang kusam.

Bagi orang-orang bodoh, diabaikan Kaisar adalah bentuk kehancuran mutlak. Tapi bagi Mu Qingran? Diabaikan adalah perisai pelindung terbaik. Di istana yang dipenuhi racun ambisi dan niat membunuh terselubung, berdiri di panggung utama berarti menjadi target pertama panah musuh. Menjadi sosok yang "tak terlihat" memberinya kebebasan penuh untuk mengamati, merancang strategi, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik.

"Biarkan mereka tertawa dan pamer, Chun'er," ucap Qingran, suaranya lembut namun berbobot, mengandung ketenangan batin tingkat tinggi yang membuat pelayannya tertegun. "Pohon yang tumbuh paling tinggi adalah yang paling dulu diterpa badai. Selir Mei merasa dirinya sedang berada di puncak dunia... padahal ia sedang menggali kuburnya sendiri dengan tangannya sendiri."

Chun'er terpaku. Ada kilat tajam yang memancar dari dalam mata jernih sang selir—sebuah tatapan penuh kebijaksanaan dan keteguhan jiwa yang sama sekali tidak mencerminkan wanita lemah. Aura yang mengalir dari tubuh Qingran begitu tenang, bagaikan seorang pendekar sakti yang menyimpan seluruh tenaga dalamnya di balik ketenangan permukaan.

Sebelum Chun'er sempat berkata-kata lagi, suara derap langkah kaki berat dan teriakan nyaring memecah keheningan pagi di luar halaman Istana Ziyun.

"Keputusan Kaisar telah tiba!"

Suara kasim agung menggema tajam, memecah ketenangan istana dingin itu. Jantung Chun'er langsung berdegup kencang karena dilanda kepanikan luar biasa. Namun, Mu Qingran perlahan bangkit berdiri. Ia merapikan jubah polosnya yang berwarna biru pudar tanpa terburu-buru. Tidak ada rasa takut, tidak ada tangan yang gemetar.

Permainan catur yang sesungguhnya baru saja dimulai, batin Qingran, menyambut takdir yang datang mendekat.

Kriet...

Pintu kayu tua Istana Ziyun terbuka lebar, membiarkan angin dingin bulan musim gugur menerpa masuk. Seorang kasim senior berwajah licin tanpa janggut melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya, dua baris prajurit kekaisaran berpakaian zirah perak berdiri tegak, memegang tombak dengan ujung yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.

Itu adalah Kasim Pei, orang kepercayaan dekat Kasim Agung yang dikenal sebagai anjing pemburu Istana Ruyi—tempat bermarkasnya Selir Mei.

Chun'er segera berlutut di lantai batu yang dingin, tubuhnya gemetar ketakutan. Di dunia istana, kehadiran pasukan pengawal kekaisaran tanpa undangan resmi bukanlah pertanda berkah, melainkan sinyal maut.

Namun, Mu Qingran tetap berdiri tegak. Ia tidak berlutut, tidak pula membungkuk. Kedua tangannya disilangkan di depan dada dengan postur yang anggun namun penuh wibawa. Tatapannya menatap lurus kepada Kasim Pei, seolah-olah pria paruh baya itu bukanlah siapa-siapa selain angin lalu.

Kasim Pei menyipitkan matanya, merasa terhina dengan sikap tenang sang selir. Ia mendengus dingin, lalu membentangkan gulungan titah kekaisaran bertepi emas.

"Dengarkan titah suci!" suara Kasim Pei melengking tinggi, memecah keheningan. "Selir Mu Qingran dari Istana Ziyun! Karena kelalaianmu dalam menjaga tugas istana dan sikapmu yang tidak tahu aturan, Kaisar memerintahkanmu untuk menghadap ke Paviliun Chaoyang sekarang juga! Jangan berani membuat Kaisar menunggu!"

Chun'er yang bersujud di bawah hampir menjerit ngeri. Paviliun Chaoyang adalah tempat para selir diadili jika melakukan kesalahan besar. Ini adalah jebakan telak! Selir Mei pasti telah memutarbalikkan fakta dan melemparkan fitnah keji untuk menghancurkan nyonya mudanya.

Tetapi, apa reaksi Mu Qingran?

Bukannya panik atau memohon ampun, sudut bibir Qingran justru terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang misterius. Dalam benaknya, roda taktik telah berputar ribuan kali. Fitnah murahan seperti ini terlalu mudah ditebak.

"Kasim Pei," suara Qingran meluncur tenang, memotong napas sang kasim yang hendak melanjutkan ancamannya. "Udara di Istana Ziyun sangat dingin, dan tubuhku tidak dalam kondisi terbaik. Namun, jika Putra Langit sendiri yang memanggilku, sebagai seorang selir yang tahu adat, tentu aku akan mematuhi titah tersebut."

Qingran melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya diringi ketenangan mutlak, memancarkan aura seorang ratu sejati meskipun ia hanya mengenakan jubah kain pudar.

Saat melewati Kasim Pei, Qingran berbisik pelan tepat di telinga sang kasim, suaranya begitu rendah namun sarat akan kekuatan tenaga dalam yang membuat bulu kuduk pria itu merinding seketika, "Sampaikan pada yang mengirimmu... seekor harimau yang tidur di dalam gua tidak pernah takut pada sekumpulan anjing yang menggonggong di luar."

Kasim Pei menelan ludah kasar, punggungnya mendadak basah oleh keringat dingin, kakinya sempat sedikit mundur karena tekanan dari Mu Qingran. Ada tekanan tak kasat mata yang menghimpit dadanya, seolah-olah ia sedang berdiri di hadapan seorang pendekar agung, bukan seorang selir yang diabaikan.

"Mari kita pergi, Chun'er," titah Qingran tenang.

Di bawah langit Zhengzhou yang membentang luas, langkah kaki Mu Qingran bergema mantap. Menuju ke sarang singa, tempat badai intrik istana yang sebenarnya telah menunggunya.

Badai di Paviliun Chaoyang

Paviliun Chaoyang berdiri megah di pusat istana bagian dalam, dikelilingi oleh pilar-pilar kayu mahoni merah yang diukir dengan motif naga emas melingkar. Atap genteng pirusnya berkilau di bawah terik matahari, menciptakan kontras yang mencolok dengan kemiskinan dan kesunyian Istana Ziyun tempat Mu Qingran tinggal. Hari ini, tempat itu dipenuhi oleh aroma dupa kayu gaharu yang mahal, bercampur dengan ketegangan yang pekat bagaikan badai yang siap meledak.

Di kursi kehormatan utama, Selir Mei—atau yang memiliki gelar resmi Selir Mei Gui—duduk dengan angkuh. Mengenakan jubah sutra merah bersulam benang emas dengan hiasan rambut giok berkilau, ia tampak seperti seorang permaisuri penguasa harem. Di sekelilingnya, selir-selir tingkat tinggi dari berbagai istana duduk berjejer, berbisik-bisik sambil melirik ke arah pintu masuk dengan seringai meremehkan di wajah mereka.

Mereka tidak dipanggil untuk sidang keadilan yang adil. Mereka di sini untuk menonton eksekusi sosial seorang wanita rendahan yang berani hidup tenang di dunianya sendiri.

Kriet...

Pintu besar Paviliun Chaoyang terbuka lebar. Seluruh pasang mata di dalam ruangan langsung menoleh.

Yang mereka harapkan adalah sosok selir yang gemetar ketakutan, menangis histeris, atau menyeret dirinya dengan pakaian kotor. Namun, yang melangkah masuk justru sebaliknya. Mu Qingran berjalan dengan punggung tegak, dagu terangkat sewajarnya, dan langkah kaki yang begitu terukur. Jubah birunya yang sederhana tidak mengurangi sedikit pun keanggunan alaminya. Ia memancarkan ketenangan seorang pertapa sakti yang memasuki arena pertarungan tanpa rasa gentar.

Chun’er mengikuti di belakangnya dengan kepala tertunduk, lututnya nyaris lemas menahan beban mental dari tatapan benci para selir di sana.

"Berlutut!" bentak seorang kasim pengawal dengan suara melengking tajam.

Qingran berhenti tepat di tengah ruangan. Ia melirik sekilas ke arah sang kasim, lalu perlahan menjatuhkan satu lututnya sesuai dengan etika istana bagi seorang selir tingkat rendah di hadapan para selir senior. Gerakannya begitu anggun, tidak menunjukkan kepatuhan yang tunduk, melainkan sebuah bentuk formalitas belaka.

"Salam kepada Selir Mei Gui," ucap Qingran, suaranya tenang tanpa ada getaran sedikit pun.

Selir Mei menyipitkan mata, kebencian terpancar jelas dari balik pulasan gincu merah di bibirnya. Ia melambaikan tangan dengan malas, memberi isyarat agar Qingran tetap berada di posisinya.

"Mu Qingran," suara Selir Mei melengking tajam, memecah keheningan paviliun. "Kau tahu kesalahan besar apa yang telah kau perbuat hingga diseret ke hadapanku hari ini?"

Suasana di dalam paviliun mendadak senyap. Para selir lain menahan napas, menikmati drama yang tersaji di hadapan mereka.

Qingran perlahan mendongakkan kepalanya. Tatapan matanya yang jernih dan tajam menghujam tepat ke mata Selir Mei, membuat sang selir sempat merasa ciut secara naluriah sebelum kembali mengeraskan raut wajahnya.

"Aku hanyalah seorang selir yang tinggal di sudut terpencil dan tidak pernah keluar dari Istana Ziyun, Selir Mei," jawab Qingran dengan nada datar yang sarat akan sindiran halus. "Sungguh sebuah keajaiban besar bagiku jika seorang wanita rendahan sepertiku mampu melakukan kesalahan besar yang menarik perhatian para bangsawan di istana utama. Oleh karena itu, aku ingin mendengar kebodohan apa yang telah dituduhkan kepadaku hari ini."

Mendengar jawaban itu, Selir Mei sontak membanting cangkir teh porselen di hadapannya hingga hancur berkeping-keping. Air teh hangat terciprat ke lantai marmer.

"Lancang!" teriak Selir Mei penuh murka. "Kau masih berani berbicara dengan nada tinggi setelah tertangkap basah melakukan pengkhianatan? Kemarin malam, penjaga gerbang istana menemukan benda terlarang ini di dekat dinding Istana Ziyun—sebuah jimat hitam dengan simbol kutukan yang ditujukan untuk mencelakai Kaisar!"

Seorang kasim maju sambil membawa sebuah nampan tertutup kain hitam. Ketika kain itu disingkap, sebuah lempengan kayu hitam dengan ukiran aksara kuno yang menyeramkan terpampang nyata di hadapan semua orang. Simbol kutukan istana—sebuah pelanggaran hukum tertinggi yang hukumannya adalah kematian dengan cara dipenggal.

Bisikan-bisikan kotor langsung memenuhi ruangan.

"Keterlaluan sekali..."

"Selir rendahan itu benar-benar berniat membunuh Putra Langit!"

"Tidak disangka wanita pendiam menyimpan racun sebesar itu di dalam hatinya!"

Chun’er yang mendengar tuduhan itu langsung menjerit dan bersujud histeris. "Nyonya tidak mungkin melakukan itu! Demi Surga, kami bahkan tidak memiliki akses keluar dari Istana Ziyun! Ini adalah fitnah keji!"

"Diam!" Selir Mei membentak Chun'er. "Pelayan rendahan berani menyela sidang tingkat tinggi? Seret pelayan ini dan beri dia hukum cambuk!"

Sebelum para pengawal sempat bergerak maju menyentuh Chun’er, sebuah suara dingin yang tenang namun mengalir deras bagaikan aliran air terjun memotong seluruh kekacauan di ruangan itu.

"Tunggu."

Mu Qingran berdiri perlahan. Posturnya yang tegak memancarkan wibawa yang membuat para pengawal mendadak ragu-ragu untuk melangkah. Ia menatap lempengan kayu hitam itu tanpa sedikit pun rasa takut di matanya. Di dalam kepalanya, roda strategi telah berputar dengan kecepatan penuh, membedah setiap celah kebohongan yang dibuat oleh musuhnya.

"Selir Mei," ucap Qingran, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang penuh makna. "Kau menghabiskan banyak tenaga untuk merancang skenario murahan ini. Tapi sayang... kebohonganmu memiliki terlalu banyak lubang yang bahkan bisa dilewati oleh seekor kuda beban."

Selir Mei tertegun, wajahnya memerah menahan amarah. "Apa maksudmu, wanita sialan?! Kau berani menuduhku memfitnahmu di hadapan para selir senior?!"

"Mari kita gunakan akal sehat, jika kau punya," balas Qingran dengan nada santun namun menusuk tajam ke ulu hati. "Pertama, lempengan kayu kutukan ini menggunakan ukiran tinta emas murni dari kuil kekaisaran. Jatah tinta jenis itu hanya diberikan kepada selir tingkat tinggi yang memiliki wewenang khusus di istana bagian dalam—seperti dirimu, Selir Mei. Seorang selir miskin di istana dingin sepertiku bahkan tidak pernah melihat bentuk tinta itu seumur hidupku."

Beberapa selir tingkat tinggi mulai saling berpandangan, berbisik-bisik kecil karena argumen Qingran masuk akal.

"Kedua," lanjut Qingran, melangkah maju satu langkah dengan anggun, menciptakan tekanan mental yang membuat Selir Mei tanpa sadar bersandar ke kursi. "Jika aku berniat mencelakai Kaisar, apakah aku akan meletakkan bukti sefatal itu di dinding istanaku sendiri agar mudah ditemukan oleh penjaga patroli? Hanya orang bodoh atau pelayan yang kehilangan akal sehat yang akan melakukan kejahatan sambil meninggalkan plakat namanya di tempat kejadian."

Qingran menatap sekeliling ruangan, lalu kembali menatap Selir Mei dengan tatapan tajam bagaikan bilah pedang yang siap menebas leher lawannya.

"Atau... justru ada seseorang yang sengaja meletakkannya di sana, karena ia sangat ketakutan melihat bayangannya sendiri, dan ingin segera melenyapkanku sebelum Kaisar menyadari keberadaanku?"

Suasana di Paviliun Chaoyang mendadak sunyi senyap. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Selir Mei gemetar karena murka dan rasa malu yang luar biasa, sementara para selir lain mulai menyadari betapa cerdik dan berbahayanya wanita dari Istana Ziyun ini.

Namun, sebelum Selir Mei sempat membalas benturan kata-kata itu, suara derap langkah kaki berat tiba-tiba menggema dari luar pintu paviliun, diiringi teriakan panjang yang membuat seluruh orang di dalam ruangan mendadak pucat pasi.

"Kaisar, hadir!"

Bayangan Naga di Balik Layar

Udara di dalam Paviliun Chaoyang mendadak berubah beku, seolah-olah musim dingin turun seketika di tengah teriknya siang hari. Seluruh selir, kasim, dan pengawal yang tadinya berdiri dengan angkuh langsung berlutut serentak hingga dahi mereka mencium lantai marmer yang dingin.

"Panjang umur kepada Yang Mulia Kaisar!"

Suara koor itu menggema memenuhi ruangan, diwarnai oleh getaran ketegangan yang luar biasa. Di antara kerumunan yang bersujud, Mu Qingran tetap berdiri dengan postur anggun. Ia hanya membungkuk hormat secukupnya, menjaga harga dirinya sebagai seorang selir, namun cukup tunduk untuk tidak dianggap membangkang. Di dalam dadanya, detak jantungnya tetap stabil—sebuah bukti ketenangan batin yang luar biasa.

Pintu besar paviliun terbuka lebar, menampakkan sesosok pria tinggi tegap berbalut jubah naga kuning keemasan. Kaisar Tang Xuanze melangkah masuk dengan wibawa yang mendominasi seluruh ruangan. Garis wajahnya tegas, rahangnya kokoh terpahat, dan sepasang matanya yang gelap bagaikan jurang tak bertepi menyapu seisi ruangan dengan tatapan dingin yang mampu membuat siapa saja bertekuk lutut tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.

Di belakangnya, Kasim Agung berjalan dengan langkah hati-hati, membawa aura kekuasaan mutlak yang menyertai sang Putra Langit.

Tang Xuanze tidak langsung duduk di singgasananya. Langkah kakinya terhenti tepat di tengah ruangan, di mana pecahan porselen teh berserakan dan lempengan kayu hitam berukir simbol kutukan masih tergeletak di atas nampan.

Suasana hening mencekam. Tidak ada yang berani mengangkat kepala, termasuk Selir Mei yang wajahnya kini pucat pasi, kehilangan warna merah dari gincunya. Rencana awalnya yang ingin menghancurkan Mu Qingran kini berbalik menjadi pedang bermata dua yang siap menghujam lehernya sendiri jika ia salah melangkah di hadapan Kaisar.

"Ada apa ini?"

Suara Tang Xuanze rendah, berat, namun bergema tajam di setiap sudut ruangan. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dalam suaranya, tetapi justru ketenangan dingin itulah yang jauh lebih mematikan daripada badai.

Selir Mei merangkak maju dengan gemetar, air mata palsunya langsung tumpah membasahi pipi. Ia memasang wajah paling menyedihkan yang ia miliki. "Yang Mulia... mohon tegakkan keadilan bagi istana dalam! Hamba... hamba tidak sengaja menemukan bukti pengkhianatan ini. Selir Mu Qingran dari Istana Ziyun... ia berani merencanakan kutukan untuk mencelakai keselamatan Yang Mulia!"

Selir Mei menunjuk ke arah lempengan kayu hitam di atas nampan, lalu melirik sekilas ke arah Qingran dengan tatapan penuh kebencian yang disembunyikan di balik isak tangisnya. "Hamba menemukan laporan dari para penjaga bahwa benda terlarang ini ditemukan di dekat tempat tinggalnya. Hamba hanya tidak ingin bahaya mengancam keselamatan Yang Mulia..."

Tang Xuanze mengalihkan pandangannya dari Selir Mei. Perlahan, mata elangnya menoleh ke arah Mu Qingran yang berdiri tegak tanpa rasa gentar sedikit pun.

Bagi Kaisar, ini adalah pemandangan yang langka. Selama ini, setiap kali ia memanggil seorang selir—terutama mereka yang tertuduh melakukan kejahatan besar—pemandangan yang ia temui selalu sama: wanita-wanita yang meratap histeris, memohon ampun, atau pingsan karena ketakutan. Namun, wanita di hadapannya ini justru menatap balik matanya dengan sorot jernih yang tenang, seolah-olah ia sedang menilai seorang pedagang di pasar, bukan seorang penguasa mutlak negeri.

"Selir Mu," suara Tang Xuanze memecah keheningan, bernada menguji. "Apa pembelaanmu? Bukti kejahatan ada di hadapanmu, dan tuduhan telah dijatuhkan. Apakah kau hendak menolak takdirmu?"

Chun’er di samping Qingran sudah menutup matanya rapat-rapat, siap menyambut kematian.

Namun, Mu Qingran perlahan merapatkan kedua tangannya di depan dada, lalu membungkuk hormat dengan anggun. Suaranya meluncur tenang, mengalir bagaikan mata air pegunungan yang jernih di tengah padang pasir yang membara.

"Menjawab Yang Mulia," ucap Qingran, suaranya terdengar jelas tanpa ada getaran sedikit pun. "Seseorang yang tidak memiliki kekuasaan, tidak memiliki pengaruh, dan bahkan diabaikan di sudut istana yang paling dingin, tidak akan pernah memiliki alasan untuk melakukan pengkhianatan. Sebab, mengkhianati Putra Langit sama artinya dengan menghancurkan nyawanya sendiri dalam satu kedipan mata. Hamba mungkin tidak memiliki kecerdasan yang tinggi, tetapi hamba cukup waras untuk tidak menggali kubur sendiri."

Beberapa selir di belakang menahan napas mendengar keberanian Qingran yang secara tersirat membalikkan logika tuduhan tersebut.

Tang Xuanze menyipitkan matanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah gerakan mikro yang hampir tidak terlihat. "Lalu, bagaimana kau menjelaskan lempengan kayu hitam berukir simbol kutukan yang ditemukan di dekat istanamu? Apakah kau akan mengatakan benda itu jatuh dari langit dengan sendirinya?"

"Tentu saja tidak, Yang Mulia," jawab Qingran mantap, mengangkat kepalanya untuk menatap langsung ke dalam mata sang kaisar. "Lempengan itu memang nyata, tetapi pemilik niat busuknya bukanlah penghuni Istana Ziyun. Seperti yang hamba katakan kepada Selir Mei sebelumnya, tinta emas murni dan ukiran kuil kekaisaran hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kedudukan tinggi di istana utama—mereka yang memiliki akses langsung ke gudang harta karun kekaisaran."

Qingran melirik sekilas ke arah Selir Mei yang kini tubuhnya sudah gemetar hebat.

"Jika seseorang merasa posisinya terancam oleh bayangannya sendiri, atau jika seseorang ingin menyingkirkan orang lain demi mengamankan kekuasaannya di harem, maka membuat fitnah murahan adalah cara paling cepat. Hamba menyerahkan kebijaksanaan ini sepenuhnya kepada Yang Mulia untuk melihat siapa yang sebenarnya sedang panik di ruangan ini."

Suasana Paviliun Chaoyang menjadi sangat sunyi hingga suara detak jantung setiap orang terdengar jelas di telinga.

Tang Xuanze terdiam selama beberapa detik. Ia menatap lempengan kayu hitam di nampan, lalu kembali menatap Mu Qingran dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilat ketertarikan yang dalam di dalam mata sang kaisar—sebuah rasa penasaran terhadap wanita yang selama ini terabaikan di sudut istana, yang ternyata menyimpan pikiran setajam pedang dan keberanian sekeras baja.

Selir Mei, yang menyadari situasi mulai berbalik menghancurkannya, mendadak menjerit histeris sambil bersujud lebih rendah. "Yang Mulia! Jangan dengarkan wanita licik itu! Dia memutarbalikkan fakta! Hamba tidak bersalah!"

Tang Xuanze mengangkat sebelah tangannya, membuat Selir Mei langsung terdiam seketika, menelan sisa kata-katanya dalam ketakutan yang mencekam.

Sang kaisar perlahan melangkah mendekati Qingran. Aroma wangi dupa gaharu dan wibawa seorang penguasa menguar pekat di sekitar mereka. Tang Xuanze berhenti tepat satu langkah di depan sang selir, menatapnya dengan tatapan menyelidik.

"Mu Qingran," bisik Tang Xuanze pelan, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Kau jauh lebih menarik daripada yang tertulis di dalam laporan kasim istana."

Qingran tidak mundur. Ia mempertahankan ketenangannya, lalu menjawab dengan suara rendah yang sama, "Kenyataan di istana ini seringkali jauh lebih gelap daripada apa yang terlihat di permukaan, Yang Mulia. Hamba hanya mencoba bertahan hidup di antara para serigala."

Tang Xuanze mendengus pelan—sebuah respons yang mengejutkan semua orang di ruangan itu, karena sang kaisar tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu kepada selir mana pun selama bertahun-tahun.

Kaisar kemudian berbalik badan, kembali menghadap ke arah seluruh isi paviliun dengan suara yang menggelegar penuh wibawa.

"Sidang hari ini ditutup," titah Tang Xuanze mutlak. "Bukti ini palsu, dan tuduhan terhadap Selir Mu tidak terbukti. Karena ada pihak yang mencoba bermain-main dengan intrik kotor di dalam istana dalam..."

Tang Xuanze melirik tajam ke arah Selir Mei yang kini terduduk lemas di lantai.

"...Mulai hari ini, Selir Mei dicabut hak istimewanya selama tiga bulan dan diperintahkan untuk merenung di istananya sendiri. Dan untukmu..." Kaisar kembali menatap Qingran,

"...Mu Qingran, pindahlah ke Paviliun Lanting mulai hari ini. Istana Ziyun terlalu dingin untuk seseorang yang memiliki kepala secerdas milikmu."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!