Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Bab 1

Suasana di ruang kantor notaris itu terasa sangat dingin.

Hujan deras turun membasahi kaca jendela dengan suara gemuruh yang tidak henti.

Brak!

Seorang pria paruh baya menggebrak meja kayu di hadapannya dengan sangat keras.

"Aku tidak peduli apa pun yang terjadi pada gunung sialan itu!" teriak pria itu dengan wajah memerah.

"Gunung itu hanya membawa kerugian bagi keluarga kita selama sepuluh tahun terakhir."

Pria itu adalah Budi Santoso.

Dia adalah paman tertua Rizky yang selalu merasa paling berhak atas semua kekayaan keluarga.

Di sebelahnya duduk seorang wanita dengan riasan tebal dan perhiasan emas yang mencolok.

Wanita itu memutar bola matanya dan tersenyum sinis.

"Mas Budi benar sekali," kata Maya, bibi Rizky, sambil mengikir kukunya dengan santai.

"Kakek sudah pikun saat memutuskan untuk mempertahankan Gunung Sumber Abadi."

"Setiap bulan kakek selalu menghabiskan ratusan juta hanya untuk memperbaiki fasilitas yang selalu rusak sendiri."

"Sekarang setelah dia meninggal, kita harus segera membuang tempat sampah itu dari daftar aset kita."

Rizky hanya bisa duduk diam di sudut ruangan.

Tangannya saling meremas satu sama lain dengan gelisah.

Hatinya masih hancur karena kakeknya baru saja dimakamkan kemarin sore.

Kakek adalah satu-satunya orang yang peduli padanya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan belasan tahun lalu.

"Lalu siapa yang akan menanggung hutang operasional kawasan wisata itu?" tanya Hendra, sang pengacara keluarga.

Pengacara itu membetulkan letak kacamatanya sambil melihat tumpukan dokumen warisan.

"Hutangnya kepada bank sudah mencapai lima ratus juta rupiah."

"Jatuh temponya adalah akhir bulan ini."

Hening sejenak menyelimuti ruangan tersebut.

Tidak ada satu pun dari keluarga kaya raya itu yang berani bersuara setelah mendengar angka tersebut.

Mereka semua memiliki rumah mewah di Jakarta dan mobil keluaran terbaru.

Namun, mendengar kata hutang membuat telinga mereka tiba-tiba menjadi tuli.

Tatapan mata Budi perlahan beralih ke arah sudut ruangan.

Senyum licik mulai terbentuk di wajah pria paruh baya tersebut.

"Bukankah kita masih punya pewaris yang paling disayangi oleh ayah?" ucap Budi sambil menunjuk ke arah Rizky.

Rizky mengangkat kepalanya dengan terkejut.

"Paman bermaksud memberikan gunung itu padaku?" tanya Rizky dengan suara serak.

"Tentu saja, Nak," jawab Maya dengan nada suara yang dibuat-buat agar terdengar lembut.

"Kakekmu sangat menyayangimu sejak kamu masih kecil."

"Jadi sudah sepantasnya kamu yang meneruskan impian terbesarnya mengurus gunung itu."

"Impian apanya?" batin Rizky sambil menggertakkan giginya menahan marah.

"Kalian hanya ingin melimpahkan semua hutang itu kepadaku agar kalian bisa membagi aset perusahaan dengan bersih."

Rizky tahu betul niat busuk keluarganya yang serakah ini.

Gunung Sumber Abadi sudah lama mati dan tidak ada pengunjung yang datang.

Fasilitasnya hancur berantakan dan rumor tentang kutukan pendaki yang hilang membuat tempat itu sangat ditakuti.

"Rizky, kamu kan masih muda dan butuh banyak tantangan," tambah Budi sambil berjalan mendekati keponakannya.

"Lagipula, kamu tidak punya pekerjaan tetap sekarang."

"Anggap saja ini adalah modal awal dari paman dan bibimu agar kamu bisa belajar mandiri."

Budi menepuk pundak Rizky dengan keras hingga pemuda itu sedikit meringis.

"Tapi paman, aku tidak punya uang sepeser pun untuk membayar hutang lima ratus juta itu," bantah Rizky mencoba mempertahankan diri.

"Aku bahkan kesulitan hanya untuk membayar uang sewa kamar kos bulan ini."

"Bagaimana mungkin aku bisa mengelola kawasan sebesar itu sendirian?"

Brak!

Budi kembali memukul meja di dekat Rizky untuk mengintimidasi.

"Jangan banyak alasan kamu!" bentak Budi dengan mata melotot.

"Orang tuamu dulu juga hanya menjadi beban keluarga ini."

"Sekarang saatnya kamu membalas budi karena kami sudah membiarkanmu hidup menumpang selama ini."

Kata-kata itu menusuk hati Rizky seperti pisau yang sangat tajam.

Dia menatap wajah paman dan bibinya secara bergantian dengan tatapan tajam.

Hanya ada keserakahan dan kebencian yang terlihat jelas di mata mereka berdua.

"Bagaimana, Tuan Rizky?" potong pengacara Hendra yang sepertinya sudah tidak sabar.

"Jika Anda menolak, gunung ini akan disita oleh pihak bank dan nama baik almarhum kakek Anda akan hancur."

"Bank akan mengumumkan kebangkrutan kakek Anda besok pagi di halaman utama surat kabar."

Rizky mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Nama baik kakeknya adalah segalanya bagi Rizky.

Kakeknya selalu percaya bahwa Gunung Sumber Abadi memiliki keindahan luar biasa yang belum ditemukan oleh dunia.

Dia tidak bisa membiarkan nama kakeknya dicemarkan oleh bank.

"Baiklah," ucap Rizky akhirnya dengan suara bergetar menahan emosi.

"Aku akan mengambil Gunung Sumber Abadi beserta seluruh hutangnya."

Maya langsung tertawa kecil mendengar jawaban tersebut.

"Bagus sekali, kamu memang anak yang paling berbakti," kata Maya sambil menyodorkan sebuah pena ke arah Rizky.

Srekk.

Srekk.

Suara gesekan pena di atas kertas perjanjian memecah keheningan ruangan.

Rizky menandatangani tiga rangkap dokumen penyerahan hak milik tanpa ragu.

Dengan tanda tangan itu, dia resmi menjadi pemilik kawasan wisata gagal beserta tumpukan hutangnya.

Budi langsung merebut dokumen itu dengan wajah yang sangat gembira.

"Mulai detik ini, kamu bukan lagi tanggung jawab kami," ucap Budi sambil tersenyum lebar.

"Jangan pernah berani datang mengemis ke rumahku untuk meminjam uang."

"Ayo kita pergi dari sini, Maya."

Kedua orang itu berjalan keluar dari ruangan notaris tanpa menoleh lagi.

Mereka meninggalkan Rizky sendirian bersama sang pengacara keluarga.

Hendra merapikan sisa dokumennya dan menatap Rizky dengan tatapan kasihan.

"Semoga berhasil, Nak," kata Hendra sebelum ikut melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Kini hanya tersisa Rizky sendirian di ruangan yang dingin itu.

Dia menatap selembar kertas sertifikat tanah yang terlihat kusam di tangannya.

"Kakek, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Rizky dengan tatapan kosong.

"Aku bahkan tidak tahu cara mengurus bisnis tempat wisata."

Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.

Rasa putus asa mulai menyelimuti pikiran pemuda berusia dua puluh dua tahun itu.

Namun, tiba-tiba sebuah suara mekanis yang aneh terdengar di dalam kepalanya.

Ding!

[Memindai Host yang cocok...]

[Pemindaian selesai.]

[Sertifikat kepemilikan terdeteksi di tangan Host.]

Rizky terlonjak dari kursinya dan langsung menoleh ke kiri dan kanan.

"Siapa itu?" teriak Rizky dengan panik.

"Siapa yang sedang berbicara barusan?"

Tidak ada siapa pun di ruangan itu selain dirinya sendiri.

Ding!

[Selamat! Sistem Raja Wisata berhasil diaktifkan!]

[Mengikat jiwa Host: Rizky Santoso.]

Sebuah layar transparan berwarna biru tiba-tiba muncul melayang tepat di depan wajah Rizky.

Layar itu memancarkan cahaya redup yang membuat Rizky harus menyipitkan matanya.

"Sistem?" batin Rizky dengan kening berkerut bingung.

"Apakah aku sedang berhalusinasi karena terlalu stres memikirkan hutang raksasa itu?"

Rizky mencoba menyentuh layar biru itu menggunakan jari telunjuknya.

Namun tangannya menembus hologram itu begitu saja.

Teks di layar biru itu mulai berubah dan menampilkan barisan kalimat baru.

[Status Host]

[Nama: Rizky Santoso]

[Gelar: Pemilik Tempat Wisata Bangkrut]

[Poin Wisata: 0]

[Aset: Gunung Sumber Abadi (Level 0)]

[Kondisi Aset: Hancur, Terabaikan, Memiliki Kutukan Ringan, Memiliki Hutang]

Rizky menelan ludahnya dengan susah payah saat membaca rentetan informasi tersebut.

Status itu benar-benar mengejek kondisinya saat ini dengan sangat brutal dan jujur.

"Tunggu sebentar," gumam Rizky saat membaca baris terakhir.

"Apa maksudnya memiliki kutukan ringan?"

Sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, sistem kembali mengeluarkan bunyi nyaring.

Ding!

[Misi Pemula telah diterbitkan!]

[Deskripsi Misi: Seorang calon Raja Wisata tidak boleh berdiam diri melihat wilayahnya hancur berantakan.]

[Tugas: Pergi ke Gunung Sumber Abadi dan bersihkan area gerbang utama dari sampah dalam waktu 24 jam.]

[Hadiah Keberhasilan: 100 Poin Wisata dan 1 Kotak Hadiah Pemula.]

[Hukuman Kegagalan: Sistem akan dicabut secara paksa dan Host akan botak permanen.]

Mata Rizky terbelalak lebar saat membaca kalimat terakhir di layar tersebut.

"Botak permanen?" teriak Rizky sambil memegang rambut hitamnya yang lebat dengan ketakutan.

"Sistem macam apa yang mengancam Hostnya dengan kebotakan!"

Rizky menghela napas panjang dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat.

Dia sering membaca novel fantasi saat sedang memiliki waktu luang di kosannya.

Dia tahu betul apa arti keberadaan sebuah sistem bagi tokoh utama yang sedang terpuruk.

Ini adalah sebuah keajaiban yang turun dari langit.

Ini adalah kunci baginya untuk membalikkan keadaan dan membalas perlakuan paman serta bibinya.

Rizky menggenggam sertifikat tanah di tangannya dengan sangat erat hingga sedikit lecek.

Matanya yang tadi memancarkan keputusasaan kini berubah menjadi tatapan yang dipenuhi kobaran tekad.

"Kalian membuang gunung ini karena menganggapnya sebagai tempat sampah pembawa sial," gumam Rizky dengan senyum tipis di bibirnya.

"Aku akan membuat kalian semua menangis darah karena menyesali keputusan bodoh ini."

Rizky melangkah keluar dari kantor notaris dan menerjang hujan badai di luar sana.

Langkah kakinya terasa ringan seolah beban berat di pundaknya baru saja terangkat.

Tujuannya saat ini hanya satu.

Gunung Sumber Abadi sedang menunggunya.

Bab 2

Suara mesin motor tua terdengar menderu memecah kesunyian jalanan berbatu di lereng gunung.

Brummm!

Rizky memarkirkan motor bebek usangnya tepat di depan sebuah gapura kayu yang sudah lapuk dimakan usia.

Tulisan Kawasan Wisata Gunung Sumber Abadi di gapura itu bahkan sudah kehilangan beberapa hurufnya hingga sulit dibaca.

"Jadi ini warisan kebanggaan keluarga yang mereka buang kepadaku?" gumam Rizky sambil melepas helmnya.

Dia menatap nanar ke arah gerbang masuk yang tertutup ilalang liar setinggi dada orang dewasa.

Loket karcis di sebelah kanan gapura terlihat sangat menyedihkan dengan kaca jendela yang pecah berantakan.

Bahkan ada aroma pesing yang menyengat dari arah bangunan kecil yang terbengkalai tersebut.

"Tempat ini lebih mirip rumah hantu daripada tempat wisata liburan," batin Rizky sambil menghela napas panjang.

Tiba-tiba terdengar suara tawa serak dari arah warung kopi kecil di seberang jalan yang berdebu.

"Hei anak muda, sedang mencari tempat uji nyali ya?" tanya seorang bapak tua berkumis tebal yang sedang mengaduk kopi seduhannya.

Bapak itu adalah Pak Joko, pemilik satu-satunya warung yang masih berani bertahan di area mati tersebut.

"Bukan Pak, saya datang ke sini untuk mulai mengurus tempat ini," jawab Rizky sambil berjalan perlahan mendekati warung tersebut.

Pak Joko langsung menghentikan adukannya dan menatap Rizky dari atas sampai bawah dengan heran.

"Mengurus tempat ini?" tanya Pak Joko dengan nada yang terdengar sangat meremehkan.

"Jangan bercanda kamu, tempat ini sudah dikutuk dan mati sejak sepuluh tahun lalu."

"Saya adalah cucu dari pemilik sebelumnya, Pak."

"Kakek saya baru saja meninggal dan secara resmi mewariskan gunung ini kepada saya."

Mendengar jawaban polos itu, Pak Joko justru tertawa semakin keras hingga dadanya terguncang.

Uhuk! Uhuk!

"Oh, jadi kamu cucu si tua bangka yang keras kepala itu?" ucap Pak Joko sambil menggelengkan kepalanya merasa kasihan.

"Keluargamu pasti sangat membencimu sampai tega menumbalkanmu ke tempat sialan ini."

Rizky hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan jujur dan menohok dari warga lokal tersebut.

"Lebih baik kamu pulang saja mencari pekerjaan lain anak muda," saran Pak Joko sambil menyeruput kopi panasnya.

"Minggu lalu ada dua orang pendaki yang hilang di atas sana dan sampai sekarang tim SAR belum bisa menemukan mereka."

"Belum lagi hutang kakekmu kepada preman desa sebelah yang sering datang menagih dengan membawa golok kemari."

Rizky sedikit terkejut mendengar informasi baru tentang preman desa tersebut.

Keluarga dan pengacaranya bilang hutang kakeknya itu hanya kepada pihak bank kota.

"Ternyata paman Budi sengaja menyembunyikan fakta tentang hutang kepada preman berandalan," batin Rizky sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Terima kasih atas peringatannya, Pak."

"Tapi saya tidak akan melangkah pergi dari sini sebelum tempat ini kembali ramai dikunjungi orang."

Pak Joko hanya mencibir sinis dan melambaikan tangannya seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.

"Terserah kamu saja, dasar anak muda keras kepala yang bosan hidup."

"Nanti kalau kamu didatangi hantu penunggu gunung ini di malam hari, jangan menangis meminta tolong ke warungku."

Rizky tidak memperdulikan ejekan tajam Pak Joko dan segera berbalik menuju gerbang utama wisatanya.

Waktu terus berjalan dan misi pertama dari sistem memiliki batas waktu dua puluh empat jam saja.

Dia sama sekali tidak ingin kepalanya menjadi botak permanen hanya karena menunda sebuah pekerjaan bersih-bersih.

Rizky membuka bagasi motor bebeknya dan mengeluarkan sebuah sabit berkarat serta sapu lidi panjang yang dia bawa dari kosan.

Sreng!

Dia mulai menebas ilalang liar yang menutupi jalan masuk utama dengan sekuat tenaga dan penuh amarah.

"Ayo kita mulai mengubah nasib buruk yang ditimpakan paman ini!" teriak Rizky untuk menyemangati dirinya sendiri.

Srek! Srek! Srek!

Suara tebasan sabit yang beradu dengan batang ilalang terdengar tanpa henti selama dua jam berikutnya.

Peluh keringat bercucuran dengan deras membasahi kaus putih tipis yang dikenakan oleh Rizky.

Telapak tangannya mulai memerah dan melepuh karena dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar seperti ini.

Beberapa warga desa yang melintas menggunakan sepeda motor tampak memelankan laju kendaraan mereka karena penasaran.

"Lihat itu, ada orang gila baru dari kota yang sedang membersihkan sarang hantu," bisik seorang ibu-ibu kepada suaminya di atas motor.

"Biarkan saja bu, paling besok pagi juga sudah lari terbirit-birit melihat genderuwo menampakkan diri," balas sang suami sambil tertawa pelan.

Rizky mendengar semua cibiran menyakitkan itu dengan sangat jelas di telinganya.

Namun dia memilih untuk menutup telinganya rapat-rapat dan terus fokus melanjutkan tebasannya pada semak belukar.

"Kalian semua boleh tertawa puas sekarang," batin Rizky sambil menyapu tumpukan daun kering ke pinggir selokan.

"Tapi suatu saat nanti, kalian akan mengemis kepadaku untuk bisa bekerja di tempat wisata ini."

Matahari mulai condong jauh ke arah barat ketika Rizky akhirnya berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

Gerbang utama yang tadinya tertutup semak belukar lebat kini terlihat jauh lebih bersih, rapi, dan luas.

Area sekitar loket karcis juga sudah dia bersihkan dari pecahan kaca tajam dan kotoran hewan liar.

Rizky menjatuhkan sapu lidinya ke tanah dan duduk bersandar di tiang kayu gapura dengan napas yang terengah-engah.

"Selesai juga akhirnya penderitaan awal ini," gumam Rizky sambil mengusap keringat kotor di dahinya menggunakan punggung tangan.

Tepat pada detik itu, suara mekanis yang sangat dia tunggu-tunggu kembali bergema nyaring di dalam kepalanya.

Ding!

[Pemberitahuan Sistem!]

[Misi Pemula: Membersihkan area gerbang utama telah selesai dievaluasi oleh sistem.]

[Tingkat Kebersihan: 85 Persen (Cukup Baik).]

[Selamat! Host berhasil menghindari hukuman kebotakan permanen.]

Rizky menghela napas sangat lega hingga tubuhnya perlahan merosot duduk ke atas tanah berdebu.

"Syukurlah rambut kebanggaanku ini aman," ucap Rizky sambil tertawa kecil sendirian karena merasa lucu.

Layar biru transparan kembali muncul melayang di hadapannya dengan menampilkan sebuah animasi kotak kado yang berputar-putar.

[Menyerahkan Hadiah Misi kepada Host...]

[Host mendapatkan 100 Poin Wisata.]

[Host mendapatkan 1 Kotak Hadiah Pemula.]

"Sistem, bagaimana cara untuk membuka kotak hadiah yang melayang ini?" tanya Rizky di dalam hatinya dengan penasaran.

[Host hanya perlu memberikan perintah buka secara jelas di dalam pikiran Host.]

"Kalau begitu, buka Kotak Hadiah Pemula itu sekarang juga!" perintah Rizky dengan mata berbinar penuh semangat.

Kotak kado bercahaya di layar itu tiba-tiba terbuka paksa dan memancarkan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan mata.

Ding!

[Selamat! Host mendapatkan Item Bangunan Dasar: Toilet Bintang Lima (Level 1).]

Rizky terdiam kaku sejenak sambil terus menatap layar biru tersebut.

Matanya berkedip berulang kali untuk memastikan dia tidak salah membaca deretan tulisan di depannya.

"Toilet?" teriak Rizky dengan nada suara yang terdengar sangat frustasi.

"Aku sedang butuh wahana yang luar biasa memukau untuk menarik pengunjung, dan kau malah memberiku fasilitas toilet?"

[Menjawab keluhan Host: Kebersihan fasilitas umum adalah nyawa utama dari sebuah tempat wisata kelas dunia.]

[Toilet Bintang Lima ini dilengkapi dengan sistem pembersihan kotoran otomatis dan pengharum ruangan abadi yang magis.]

"Tetap saja itu pada akhirnya hanya sebuah tempat untuk buang air!" bantah Rizky sambil mengacak-acak rambutnya kesal.

"Siapa orang bodoh yang mau datang jauh-jauh ke gunung berhantu hanya untuk menumpang buang air di toiletku?"

Ding!

[Selamat! Host berhasil memicu Hadiah Tersembunyi karena menyelesaikan misi pemula di bawah target lima jam.]

[Host mendapatkan sebuah Cetak Biru Atraksi Misterius (Tingkat Rendah).]

Mata Rizky yang tadinya meredup langsung berbinar terang kembali saat mendengar kata atraksi misterius.

"Nah, ini baru jenis hadiah yang masuk akal untuk seorang tokoh utama," ucap Rizky sambil tersenyum lebar menahan haru.

"Cepat buka cetak birunya sekarang, Sistem!"

[Membuka gulungan Cetak Biru...]

[Selamat! Host mendapatkan Atraksi Alam: Air Terjun Pelangi (Tingkat Rendah).]

[Deskripsi: Air terjun magis setinggi dua puluh meter yang memancarkan tujuh warna pelangi abadi ketika malam hari tiba.]

[Efek Khusus: Setiap pengunjung yang meminum atau mandi dengan airnya akan merasakan tubuh bugar dan rileks selama tiga hari berturut-turut tanpa efek samping.]

Mulut Rizky terbuka sangat lebar hingga dagunya hampir menyentuh tanah.

Sebuah air terjun yang bisa memancarkan cahaya pelangi di malam hari tanpa membutuhkan bantuan lampu sorot buatan sedikit pun?

Dan air jernihnya bisa memberikan efek kebugaran tubuh secara instan bak ramuan magis?

"Ini benar-benar gila," gumam Rizky dengan suara bergetar karena emosi kebahagiaan yang meluap-luap.

"Jika aku benar-benar membangun ini, Gunung Sumber Abadi akan meledak menjadi perbincangan viral semua orang di negara ini!"

[Apakah Host ingin menempatkan Toilet Bintang Lima dan Air Terjun Pelangi di area wisata sekarang juga?]

[Proses penempatan instan hanya membutuhkan waktu sepuluh detik dan sepenuhnya gratis untuk percobaan kali pertama ini.]

"Tentu saja aku sangat ingin menempatkannya!" jawab Rizky tanpa ada keraguan sedikit pun di hatinya.

"Tempatkan kedua atraksi itu tepat di rute pertama dari arah gerbang masuk utama agar mudah terlihat."

[Perintah Host diterima.]

[Memulai proses modifikasi topografi area wisata...]

Tiba-tiba, permukaan tanah berpasir di bawah telapak kaki Rizky bergetar cukup hebat layaknya sedang terjadi gempa bumi berskala kecil.

Gemuruh!

Suara deburan air yang sangat deras terdengar menggema dari arah balik tebing berbatu di belakang loket karcis.

Angin pegunungan yang sejuk berhembus kencang membawa aroma kesegaran luar biasa yang belum pernah Rizky rasakan sebelumnya.

Rizky segera bangkit dan berlari kencang melewati gerbang untuk melihat langsung apa yang sedang terjadi di dalam area wisatanya.

Langkah kakinya terhenti secara mendadak saat sepasang matanya menangkap sebuah pemandangan yang sangat tidak masuk akal.

Di kejauhan sana, tepat pada tebing batu yang tadinya kering kerontang dan mati, kini mengalir deras sebuah air terjun raksasa.

Meskipun langit sore mulai berubah gelap, aliran air itu justru memancarkan pendaran cahaya tujuh warna yang sangat indah dan memukau mata.

"Sangat luar biasa," bisik Rizky dengan napas tertahan sambil menatap takjub ke arah keajaiban pertamanya.

"Paman Budi dan Bibi Maya, bersiaplah kalian melihat bagaimana aku akan menghancurkan kesombongan kalian hingga tidak tersisa."

Bab 3

Malam turun menyelimuti kawasan Desa Sukatani dengan hawa dingin yang menusuk tulang.

Warung kopi Pak Joko yang berada tepat di bawah lereng Gunung Sumber Abadi sudah bersiap untuk tutup.

Suara jangkrik mengerik bersahutan mengisi kesunyian jalanan desa yang mulai sepi dari aktivitas warga.

Kriet.

Pak Joko baru saja menutup sebelah pintu kayu warungnya ketika matanya menangkap sesuatu yang aneh.

Seorang pemuda desa bernama Tono tiba-tiba berlari tergopoh-gopoh dari arah jalan tanjakan.

Napas Tono terdengar tersengal-sengal seolah dia baru saja melihat hantu yang sangat menyeramkan.

"Pak Joko, tunggu sebentar!" teriak Tono sambil melambaikan tangannya dengan panik.

"Ada apa Tono, malam-malam begini berteriak seperti orang kesurupan?" tanya Pak Joko sambil menghentikan kegiatannya.

Tono langsung menunjuk ke arah puncak Gunung Sumber Abadi dengan jari gemetar.

"Bapak lihat ke atas sana, arah kawasan wisata tua itu!" seru Tono dengan suara bergetar ketakutan.

Pak Joko menyipitkan matanya dan menatap ke arah gulita malam di atas gunung.

Detik berikutnya, cangkir kopi yang masih dipegang oleh Pak Joko jatuh ke tanah.

Prang!

Cangkir itu hancur berkeping-keping, tetapi Pak Joko sama sekali tidak mempedulikannya.

Tepat di balik lebatnya pepohonan yang gelap gulita, sebuah cahaya tujuh warna memancar menembus kabut malam.

Cahaya itu berkedip lembut layaknya pelangi yang anehnya muncul di tengah malam buta.

"Gusti nu Agung, cahaya apa itu?" gumam Pak Joko dengan wajah pucat pasi.

"Apakah rumor tentang kutukan roh penunggu gunung itu benar-benar nyata?"

"Saya tidak tahu Pak, tapi cahayanya terlihat sangat indah sekaligus mengerikan," balas Tono sambil memeluk tubuhnya sendiri karena merinding.

"Pasti ini gara-gara pemuda kota gila tadi sore yang nekat membersihkan gerbang masuknya."

Berita tentang cahaya misterius dari kawasan wisata terbengkalai itu menyebar dengan sangat cepat dari mulut ke mulut.

Dalam waktu kurang dari satu jam, belasan warga desa sudah berkumpul di depan warung Pak Joko.

Mereka semua menatap penuh tanda tanya ke arah pendaran cahaya pelangi yang menari-nari di balik tebing gunung.

Tidak ada satu pun dari mereka yang berani naik untuk memastikan sumber cahaya tersebut karena terhalang oleh mitos menakutkan.

Sementara itu, di atas gunung yang menjadi pusat kehebohan, Rizky sedang mendengkur dengan sangat pulas.

Pemuda itu tidur beralaskan selembar kardus bekas di dalam ruang loket karcis yang sempit.

Udara gunung yang sangat dingin tidak mampu mengalahkan rasa lelahnya setelah seharian menebas ilalang liar.

Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyilaukan mata Rizky dan memaksanya untuk terbangun dari tidur yang tidak nyaman.

"Aduh, punggungku sakit semua rasanya," keluh Rizky sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.

Perutnya berbunyi nyaring, menandakan bahwa dia belum makan apa pun sejak siang kemarin.

Rizky berjalan gontai keluar dari loket karcis dan pandangannya langsung tertuju pada sebuah bangunan baru di dekat gerbang.

Bangunan itu terbuat dari marmer putih bersih yang mengkilap di bawah sinar matahari.

"Ah benar juga, aku belum mencoba hadiah Toilet Bintang Lima dari sistem," gumam Rizky sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.

Dia melangkah mendekati bangunan elegan yang terlihat sangat salah tempat di tengah kawasan wisata yang kumuh tersebut.

Wushhh.

Pintu kaca otomatis toilet itu terbuka dengan sendirinya saat Rizky berdiri di depannya.

Aroma lavender yang sangat menenangkan langsung menyambut penciumannya.

"Ini benar-benar di luar nalar," batin Rizky sambil menatap takjub ke sekeliling ruangan dalam toilet.

Lantainya terasa hangat saat dipijak, dan setiap bilik dilengkapi dengan kloset duduk berlapis emas tiruan yang mewah.

Bahkan ada wastafel dengan cermin besar yang memantulkan wajah kusamnya.

Rizky menyalakan keran air dan mencuci wajahnya dengan air hangat yang mengalir deras.

Sensasi segar langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, menghilangkan rasa lengket dari keringat kemarin sore.

Setelah merasa lebih segar, Rizky keluar dari toilet dan berjalan menuju sumber kebanggaan barunya.

Air Terjun Pelangi.

Meskipun hari sudah terang dan cahaya pelanginya tidak seterang semalam, aliran air raksasa itu tetap terlihat sangat memukau.

Airnya mengalir sangat jernih dan menghantam bebatuan di bawahnya dengan suara yang menenangkan jiwa.

Byurrr! Byurrr!

"Aku harus mencoba meminum air ini untuk membuktikan efek magisnya," ucap Rizky pada dirinya sendiri.

Dia berjalan mendekati kolam dangkal di bawah air terjun dan meraup air jernih itu dengan kedua tangannya.

Gluk. Gluk.

Air itu terasa sangat manis dan dingin saat melewati tenggorokannya.

Tiba-tiba, rasa hangat menjalar dari perutnya menyebar hingga ke ujung jari kaki dan tangannya.

Rasa pegal di punggungnya menghilang seketika seolah dia baru saja dipijat oleh ahli pijat profesional.

Ding!

[Pemberitahuan Sistem!]

[Host telah mengkonsumsi Air Terjun Pelangi tingkat rendah.]

[Efek Kebugaran Instan telah aktif.]

[Stamina Host akan berada pada kondisi puncak selama tiga hari berturut-turut.]

Rizky mengepalkan tangannya dan merasakan tenaga yang meluap-luap di dalam tubuhnya.

"Sistem ini memang tidak pernah berbohong," ucap Rizky sambil tersenyum lebar.

"Dengan air terjun ini, aku yakin pengunjung akan berbondong-bondong datang kemari."

Namun, senyuman di wajah Rizky tidak bertahan lama.

Sayup-sayup dari arah jalan raya di bawah sana, terdengar suara gerungan mesin motor yang sangat bising.

Brummm! Brummm!

Suara itu semakin lama semakin mendekat dan diiringi oleh klakson yang ditekan secara kasar tanpa henti.

Tin! Tin! Tin!

Rizky menoleh ke arah gerbang masuk dan melihat debu tebal mengepul di jalanan berbatu.

Lima buah sepeda motor bodong melaju kencang dan berhenti tepat di depan gapura kayu yang baru saja dibersihkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!