Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi memenuhi dapur kecil kami yang hangat. Di balik jendela, matahari pagi Kota Bandung menyinari halaman rumah peninggalan almarhum orang tuaku dengan lembut. Suasana pagi yang selalu menyajikan ketenangan yang sama selama empat tahun terakhir.
"Mimo! Pipo mana? Naya mau minum susu, Mimo!"
Suara mungil Naya bergaung dari arah ruang tengah. Putri kecilku yang baru berusia tiga setengah tahun itu berlari kecil mendekatiku. Rambut ikalnya dikuncir dua, bergoyang mengikuti langkah kakinya yang aktif.
Aku tertawa kecil, berlutut untuk menyamakan tinggiku dengannya. "Pipo masih di kamar, Sayang. Lagi pakai dasi. Naya duduk manis dulu di meja makan, ya?"
"Siap, Mimo!" Naya memberikan hormat patah-patah dengan tangan kanannya yang mungil, membuatku tak tahan untuk tidak mencium kedua pipinya yang tembam.
Tak lama kemudian, langkah kaki teratur terdengar mendekat. Bayu pria yang kuikahi empat tahun lalu muncul dengan kemeja kerja biru muda yang sudah rapi. Wajahnya yang bersih dan senyumnya yang selalu hangat langsung menyapa pandanganku.
"Pipo!" Naya berseru girang, menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
"Anak Pipo yang paling cantik udah siap sarapan?" Bayu menghampiri Naya, mengangkat tubuh mungil itu ke udara hingga Naya tertawa melengking, lalu mendaratkannya dengan lembut di kursi.
Setelah mencium puncak kepala Naya, Bayu berjalan mendekatiku yang sedang menyiapkan piring di atas meja. Tangan kanannya melingkar santai di pinggangku, menyandarkan dagunya sebentar di bahuku dari belakang.
"Pagi, Mimo-ku yang paling rajin," bisiknya lembut, memberi kecupan singkat di pipiku.
"Pagi, Pipo. Duduk dulu, yuk. Nasi gorengnya udah matang," balasku sambil tersenyum lebar.
Kehidupan kami sangat harmonis. Sebagai pasangan muda, kami membiasakan diri memanggil Pipo dan Mimo di depan Naya agar suasana keluarga selalu terasa hangat dan dekat. Bayu adalah sosok suami yang manis, penyabar, dan hampir tak pernah memperlakukanku dengan kasar.
Saat kami duduk menikmati sarapan, Bayu merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu meletakkannya tepat di samping piringku.
"Ini buat bulan ini ya, Mimo. Udah Pipo lebihin dikit buat tabungan Naya," ucap Bayu tulus.
Aku menatap amplop itu, lalu menatap suami di hadapanku dengan rasa syukur yang membuncah. "Makasih ya, Pipo. Pipo selalu pengertian banget sama kebutuhan rumah kita."
"Sama-sama, Sayang. Kamu kan Mimo yang paling pinter ngatur rumah tangga kita. Pipo percaya seratus persen sama kamu," jawabnya mantap, mengusap punggung tanganku di atas meja.
Momen-momen seperti inilah yang membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Kami hidup mandiri, cukup dan penuh cinta.
Setelah Bayu berangkat kerja dan Naya sibuk mewarnai buku gambarnya di ruang tengah, suasana rumah mendadak henim. Aku melangkah ke ruang tamu, berdiri diam di depan sebuah bingkai foto berukuran sedang yang menggantung di dinding kayu.
Di foto itu, kedua orang tuaku tersenyum merona di hari pernikahan kami empat tahun lalu. Air mataku mendadak menetes tipis. Sudah satu tahun berlalu sejak kecelakaan maut itu merenggut nyawa Ayah dan Ibu sekaligus.
Sebagai anak tunggal, rasa kehilangan itu sempat membuatku hancur dan terpuruk dalam kesedihan yang tak berkesudahan. Bandung, kota kelahiranku ini, adalah satu-satunya tempat yang menyimpan seluruh jejak dan kenangan bersama mereka. Rumah ini, sudut-sudut jalanan kota ini, semuanya adalah benteng rasa amanku.
"Ayah... Ibu... Maya kangen," bisikku pelan pada foto yang tak bisa menjawab itu.
Namun, di tengah rasa sepi itu, aku selalu bersyukur memiliki Bayu dan Naya.
Bayu adalah sosok yang menggantikan posisi pelindungku setelah Ayah pergi. Dialah satu-satunya tempatku bersandar di dunia ini.
Goyangan pelan di ujung bajuku membuyarkan lamunanku. Aku menunduk dan menemukan Naya sedang menatapku dengan mata bulatnya yang polos.
"Mimo kenapa nangis? Kangen Opa sama Oma ya?" tanya Naya pelan.
Aku menyapu air mataku cepat-cepat, lalu tersenyum dan mengangkat Naya ke dalam pelukanku. "Nggak apa-apa, Sayang. Mimo cuma kangen aja. Sekarang Mimo kan udah punya Naya sama Pipo."
Aku membawa Naya kembali ke kamar utama untuk menidurkannya siang itu.
Setelah Naya tertidur lelap, aku berniat merapikan tas kerja Bayu yang sengaja dia tinggalkan karena hari ini dia hanya membawa map tipis untuk rapat di luar kantor.
Tas laptop kulit hitam milik Bayu terletak di atas meja kerja di sudut kamar. Aku membukanya dengan niat membersihkan remah-remah atau kertas bekas pembayaran yang biasanya menumpuk di bagian dalam.
Namun, jemariku menyentuh sebuah dokumen tebal berstempel resmi dari kantor pusat perusahaan tempat Bayu bekerja.
"Surat apa ini?" gumamku pelan.
Aku menarik lembaran kertas itu keluar. Di bagian paling atas, tertera tulisan berhuruf tebal yang seketika membuat dadaku berdesir hebat.
SURAT KEPUTUSAN MUTASI DAN PEMINDAHAN TUGAS KERJA
Jantungku berdegup kencang. Dengan tangan bergetar, aku membaca baris demi baris isi surat resmi tersebut.
Bahwa atas permohonan mandiri yang diajukan oleh Saudara Bayu Samudra, maka pihak manajemen menyetujui pemindahan lokasi kerja dari Kantor Cabang Bandung ke Kantor Cabang Jawa Tengah... Terhitung efektif mulai bulan depan.
"Permohonan... mandiri?" bisikku lirih, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja kubaca.
Darahku serasa berhenti mengalir. Mataku terpaku pada tanggal pengajuan permohonan itu. Surat ini sudah diajukan oleh Bayu sejak tiga bulan yang lalu.
Tiga bulan yang lalu! Itu artinya, di saat dia masih menciumku setiap pagi, di saat dia berakting manis dan memanggilku Mimo dengan penuh kasih, dia sudah merencanakan kepindahan ini secara diam-diam tanpa pernah mendiskusikannya sepatah kata pun denganku.
Kertas di tanganku remuk dalam genggamanku yang memutih. Rasa sesak luar biasa langsung menghimpit dadaku, menyisakan kekecewaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sore harinya, deru mesin mobil Bayu terdengar berhenti di halaman depan. Langkah kakinya masuk ke dalam rumah dengan siulan kecil yang terdengar riang, seperti biasanya.
"Mimo! Pipo pulang!" serunya dari ruang tamu.
Aku keluar dari kamar tidur dengan langkah pelan. Tidak ada senyum hangat yang biasanya menyambutnya. Wajahku datar, mataku sembap karena terlalu banyak menahan tangis seharian ini.
Bayu yang menyadari perubahanku mendadak menghentikan siulannya. "Mimo? Kamu kenapa, Sayang? Kok mukanya pucat gitu? Kamu sakit?"
Bayu mendekat, hendak menyentuh dahi dan pipiku. Tapi dengan cepat, aku melangkah mundur, menghindar dari sentuhannya.
"Mimo?" Bayu tampak terkejut dengan penolakanku.
Aku menarik napas panjang, mencoba menguasai suara bergetarku, lalu mengeluarkan lembaran surat yang sejak tadi kukepal di dalam saku celanaku. Aku meletakkannya di atas meja makan di antara kami.
"Bisa jelaskan ke aku, Pipo... ini maksudnya apa?" tanyaku dengan suara yang sangat pelan, tapi sarat akan rasa sakit.
Mata Bayu tertuju pada kertas itu. Seketika, ekspresi wajahnya berubah total. Senyum dan keceriaannya hilang, berganti dengan kepanikan yang teramat sangat. Matanya bergerak liar, memandang surat itu dan wajahku bergantian.
"Mimo... kamu... kamu buka tas Pipo?" tanyanya terbata-bata.
"Jangan alihkan pembicaraan, Bayu!" tegasku, untuk pertama kalinya aku memanggil nama aslinya tanpa sebutan kesayangan. "Kamu mengajukan mutasi kerja ke kota asalmu? Tiga bulan yang lalu? Tanpa ngomong sepatah kata pun sama aku?!"
"Sayang, dengarin Pipo dulu, tolong..." Bayu mencoba maju melangkah, tapi aku mengangkat tanganku, menyuruhnya tetap di tempat.
"Kenapa, Bayu? Kenapa kamu tega melakukan ini?" Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya meluncur deras membasahi pipiku. "Kamu tahu rumah ini adalah peninggalan orang tuaku. Kamu tahu Bandung adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa punya ingatan tentang Ayah dan Ibu! Kenapa kamu ambil keputusan sebesar ini tanpa diskusi sama aku?!"
Bayu mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa bersalah terpancar jelas dari matanya. Dia melangkah cepat, tidak peduli lagi dengan penolakanku, lalu langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.
"Lepas, Bayu! Lepas!" Aku meronta, memukul dada bidangnya. Tapi Bayu makin mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leherku.
"Maafkan Pipo, Mimo... Maafkan Pipo," bisiknya lirih dengan suara yang ikut bergetar. "Pipo tahu Pipo salah karena nggak ngomong dari awal. Tapi Pipo punya alasan, Sayang. Tolong dengarkan Pipo dulu..."
Aku berhenti meronta, tubuhku lemas bersandar pada dadanya, menangis sesenggukan.
Bayu mengelus rambutku dengan lembut, mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya, menatap mataku dengan tatapan paling memohon yang pernah kulihat.
"Ibu di kampung udah makin tua, Mimo," ucap Bayu pelan, mencoba menyusun kata-kata. "Selama ini cuma ada Rika di sana. Pipo sebagai anak laki-laki merasa berdosa kalau nggak mendampingi Ibu di usianya yang sekarang. Ibu sering sakit-sakitan, Sayang..."
"Tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi?" tanyaku terisak. "Kenapa nggak bicara baik-baik sama aku?"
Bayu menunduk, menghela napas berat. "Pipo takut... Pipo takut kamu menolak. Pipo tahu kamu masih berduka atas meninggalnya Ayah dan Ibu setahun lalu. Pipo tahu betapa beratnya kamu meninggalkan rumah ini. Tapi percaya sama Pipo, ini demi kebaikan keluarga kita juga."
Bayu memegang kedua bahuku, menatapku dalam-dalam dengan pandangan manis yang selalu berhasil meluluhkan hatiku.
"Kita bisa kontrakan rumah ini, Mimo. Hasil kontrakannya bisa jadi tabungan tambahan buat Naya. Di sana, kita nggak usah sewa rumah lagi. Kita tinggal di rumah Ibu. Rumahnya luas, ada Ibu dan Rika juga. Naya bakal punya banyak saudara yang jagain. Kamu juga nggak bakal kesepian lagi..."
Bayu menggenggam kedua tanganku, membelai punggung tanganku dengan lembut. "Lagian... di Bandung ini kamu kan udah nggak ada siapa-siapa lagi, Sayang. Orang tuamu udah nggak ada. Kalau kita pindah ke kota Pipo, ada keluarga Pipo yang bakal jadi keluargamu juga. Kita bakal merawat Ibu sama-sama, ya?"
Kalimat itu...
Kalimat bahwa aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi menghantam dadaku seperti godam berat. Menyadarkanku betapa sebatang karanya aku di dunia ini. Kata-kata Bayu terdengar begitu masuk akal, begitu penuh kasih dan bakti seorang anak, hingga aku tidak sanggup menemukan celah untuk membantahnya.
Aku menatap mata suamiku. Pria yang selama empat tahun ini selalu memanjakanku, menyerahkan seluruh gajinya padaku, dan mencintaiku dengan tulus. Aku percaya padanya. Aku percaya bahwa di mana pun kami berada, selama Bayu ada di sisiku, aku akan baik-baik saja.
"Pipo janji... kita bakal tetap bahagia di sana?" tanyaku lirih di antara sisa isak tangis.
Senyum manis Bayu kembali merekah. Dia mengecup keningku lama sekali. "Pipo janji, Mimo. Pipo bakal tetap jadi Pipo yang selalu sayang sama Mimo dan Naya. Nggak ada yang bakal berubah."
Aku akhirnya mengangguk pelan, menyandarkan kepalaku di dadanya. Sebuah keputusan yang kuambil atas dasar rasa cinta dan kepatuhanku sebagai seorang istri.
Ingatan tentang hari terakhir di Bandung itu selalu hadir tiap kali aku menatap langit-langit kamar ini. Hari di mana aku membiarkan diriku dituntun oleh rasa cinta dan kepatuhan sebagai seorang istri. Hari di mana aku percaya pada janji manis Pipo bahwa tidak ada yang akan berubah di antara kami.
Kini, sudah seminggu berlalu sejak kaki kami resmi melangkah di rumah keluarga Bayu di Jawa Tengah.
Seharusnya rumah besar berarsitektur lama ini terasa hangat karena diisi oleh orang-orang yang terikat pertalian darah. Namun bagi diriku, tiap sudut rumah ini justru terasa begitu asing dan menekan. Tidak ada rasa aman yang pernah kurasakan di Bandung dulu. Yang ada hanya kecanggungan yang terus menumpuk di dalam dada.
"Mimo, Naya mau main sama Kucing di luar boleh?"
Suara mungil Naya memecahkan lamunanku. Siang itu, putri kecilku sedang duduk di atas karpet kamar sambil memeluk boneka beruang lusuhnya.
Aku tersenyum tipis, berlutut menghampirinya. "Main di teras depan aja ya, Sayang? Jangan dekat-dekat sama selokan belakang."
"Siap, Mimo!" jawabnya riang.
Saat aku menggandeng tangan kecil Naya keluar menuju area ruang tamu, aku melihat Ibu Mertuaku Ibu Sumiati sedang duduk di sofa kayu sambil merapikan tumpukan pakaian. Wajahnya yang keriput di sekitar mata nampak serius.
"Ibu... Naya izin main di teras depan sebentar ya," sapaku sopan sambil tersenyum ramah.
Ibu Sumiati melirikku sekilas. Tidak ada senyum hangat yang menyambutku.
Tatapannya menelusuri penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan dingin dan menyipit.
"Iya," jawabnya singkat tanpa berekspresi, lalu kembali melanjutkan kegiatannya melipat baju seolah kehadiranku di sana hanya angin lalu.
Perlakuan dingin seperti ini bukan yang pertama kalinya kurasakan sejak kami tiba seminggu lalu. Sikap Ibu Sumiati benar-benar membuatku bingung setengah mati.
Dulu, saat kami masih tinggal di Bandung dan Ibu Sumiati sesekali berkunjung menginap selama dua atau tiga hari, beliau adalah sosok ibu mertua yang sangat manis. Beliau selalu memujiku di depan Bayu, mengusap kepalaku dengan kasih sayang dan selalu mengagumi betapa pintarnya aku mengurus rumah serta membesarkan Naya.
Tapi kenapa sekarang berubah seratus delapan puluh derajat?
Sejak kami menginjakkan kaki untuk tinggal menetap satu atap di sini, kehangatan itu menguap tanpa bekas. Ibu Sumiati lebih banyak diam jika berhadapan denganku. Tindak-tandukku di dapur seolah selalu dia awasi dengan pandangan menilai. Jika aku memasak, beliau kerap menatap bumbu-bumbu yang kugunakan dengan helaan napas berat, seolah aku sedang melakukan kesalahan besar.
Rasa tidak nyaman itu terus menggerogoti pikiranku sepanjang hari. Aku merasa seperti seorang penyusup di rumah ini, bukan sebagai menantu yang disambut dengan tangan terbuka.
Malam harinya, jam dinding kayu di ruang tengah sudah menunjukkan pukul delapan malam. Deru mesin mobil Bayu akhirnya terdengar memasuki halaman.
Aku segera merapikan pakaianku dan melangkah ke pintu depan. Saat pintu terbuka, wajah lelah Bayu menyambutku. Kemeja kerjanya sudah tertekuk di bagian lengan, dasinya sudah dilonggarkan.
"Pipo pulang..." bisiknya pelan.
"Pagi sampai malam kerja pasti capek banget ya, Pipo?" ucapku tulus. Aku menyambut tas kerjanya dan mencium punggung tangannya dengan hormat.
Bayu tersenyum tipis, merangkul bahuku sejenak. "Lumayan, Mimo. Penyesuaian di kantor cabang baru ternyata lumayan menyita pikiran. Naya udah tidur?"
"Baru aja merem sepuluh menit yang lalu," jawabku.
Setelah Bayu membersihkan diri dan menyantap makan malam sederhana yang kupanaskan kembali di dapur, kami akhirnya bisa beristirahat di dalam kamar utama kami yang berukuran sedang. Naya sudah tertidur lelap di ranjang kecil di sudut kamar.
Bayu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, memejamkan mata sambil memijat pelipisnya sendiri. Rasa lelah terpancar jelas dari garis-garis wajahnya.
Aku melangkah mendekat, duduk di sampingnya, lalu perlahan menggantikan jemarinya untuk memijat lembut kedua pelipis dan bahunya yang tegang.
Bayu menghela napas lega, membiarkan jemariku bekerja. "Makasih ya, Mimo. Pijatan kamu selalu paling enak."
Aku tersenyum pelan, namun kepalaku masih dipenuhi oleh ganjalan yang menumpuk sejak siang tadi. Aku menatap wajah suamiku yang terpejam. Bagi diriku yang kini tidak memiliki orang tua dan hidup jauh dari kota kelahiran, Bayu adalah satu-satunya rumah, tempatku mengadu dan bersandar dari segala resah.
"Pipo..." panggilku pelan dengan suara ragu-ragu.
Bayu membuka matanya perlahan, menatapku dengan pandangan lembut. "Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?"
Aku menghentikan pijatanku, lalu menggenggam jemari suamiku di atas pangkuan. Aku menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian.
"Aku... mau ngobrol sebentar boleh?" tanyaku.
"Ngobrol apa, Mimo? Ngomong aja, kayak sama siapa aja," sahut Bayu sambil tersenyum tipis, mengusap punggung tanganku.
Aku menunduk sejenak, memilih kata-kata yang paling halus agar tidak menyinggung perasaannya.
"Ini tentang Ibu, Pipo..." bisikku lirih.
Alis Bayu bertaut tipis. "Ibu? Kenapa sama Ibu? Ibu sakit?"
"Nggak, bukan sakit fisik..." Aku mendongak, menatap mata suamiku jujur. "Pipo... jujur aku merasa agak bingung sama sikap Ibu seminggu belakangan ini. Aku ngerasa Ibu agak beda ke aku."
Bayu menatapku heran. "Beda gimana maksud kamu, Mimo?"
"Sikapnya dingin banget, Pipo," aku menyampaikan isi hatiku yang paling dalam. "Kalau aku sapa, Ibu jawabnya singkat banget tanpa natap aku. Kalau aku lagi di dapur atau lagi ngurus Naya, tatapan Ibu itu kayak... kayak nggak suka atau kurangg sreg gitu sama aku."
Aku menggenggam tangan Bayu lebih erat, mencoba mencari kepastian. "Dulu waktu Ibu main ke rumah kita di Bandung, Ibu manis dan hangat banget sama aku, kan? Tapi kenapa semenjak kita pindah ke sini dan tinggal satu atap, Ibu kayak menjaga jarak? Apa ada perkataan atau perbuatanku yang salah tanpa aku sadari, Pipo?"
Bayu diam sejenak. Dia menarik tangannya dari genggamanku untuk mengusap wajahnya sendiri, lalu menghela napas panjang. Wajah lelahnya makin terlihat keruh.
"Mimo..." Bayu memegang kedua bahuku, menatapku dengan pandangan tenang yang terkesan mengayomi. "Kamu itu cuma terlalu sensitif aja karena baru seminggu di sini."
"Sensitif?" ulangku pelan.
"Iya, Mimo. Kamu kan belum terbiasa tinggal sama orang tua lagi setelah sekian lama kita mandiri berdua di Bandung," jelas Bayu dengan nada suara yang sangat halus, mencoba menenangkanku. "Ibu itu orangnya memang begitu. Beliau udah sepuh, pikirannya banyak. Apalagi rumah ini kan biasanya sepi, tiba-tiba ada kita."
"Tapi Pipo, bedanya berasa banget..." potongku lirih. "Aku bukan cuma ngerasa asing, tapi ngerasa kayak nggak diharapkan di sini."
Bayu tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan seolah anggapanku hanyalah sebuah kekhawatiran yang berlebihan. Dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya, merengkuhku erat di dadanya.
"Nggak mungkin Ibu nggak suka sama kamu, Mimo," bisik Bayu lembut di telingaku sambil mengelus rambut panjangku. "Kamu kan menatunya. Kamu yang melahirkan Naya, cucu kesayangan Ibu. Ibu cuma butuh waktu buat adaptasi sama kehadiran kita. Kamu juga harus belajar memahami karakter orang tua, ya?"
Aku bersandar di dada bidangnya, mendengarkan detak jantungnya yang teratur. Kalimat-kalimat manis Bayu selalu memiliki sihir untuk menenangkan gejolak di dadaku, namun kali ini, ada rasa ganjal yang masih tersisa di sudut hatiku.
"Beneran cuma karena adaptasi, Pipo?" tanyaku memastikan dari balik dadanya.
"Iya, Sayang. Percaya sama Pipo," jawab Bayu mantap, lalu mengecup puncak kepalaku dengan hangat. "Jangan mikir yang aneh-aneh lagi ya? Pipo nggak mau kamu stres. Tugas kamu di sini cuma fokus ngurus Naya dan bantu-bantu Ibu sebisanya. Soal perasaan Ibu, biar nanti Pipo yang pelan-pelan ajak Ibu ngobrol kalau memang ada yang ganjal."
Mendengar janji itu, pertahananku melunak. Aku memilih untuk mempercayai suamiku. Mungkin benar kata Bayu, aku saja yang terlalu berlebihan dan mudah terbawa perasaan karena belum terbiasa dengan suasana baru ini.
"Maaf ya, Pipo... aku malah nambah beban pikiran kamu pas kamu lagi capek kerja," ucapku merasa bersalah.
Bayu mengurai pelukannya, menatap wajahku dengan senyum manisnya yang sangat kukenali. "Nggak apa-apa, Mimo. Kan Pipo udah bilang, kalau ada apa-apa ngomong sama Pipo. Pipo bakal selalu ada buat kamu dan Naya."
Malam itu ditutup dengan pelukan hangat suamiku di atas ranjang. Di dalam kegelapan kamar, aku memejamkan mata sambil berdoa dalam hati agar perasaanku ini salah. Aku berharap rumah ini benar-benar bisa menjadi tempat bernaung yang aman bagi keluarga kecil kami, sebagaimana yang dijanjikan Bayu sebelum kami berangkat dari Bandung.
Namun, intuisi seorang wanita jarang sekali meleset. Aku tidak pernah tahu bahwa sikap dingin Ibu Sumiati selama seminggu ini hanyalah tenang sebelum badai besar datang menerjang rumah tanggaku.
Satu bulan sudah kami menetap di rumah ini. Satu bulan pula aku berusaha menjadi menantu yang penurut, menahan segalanya demi menjaga kedamaian yang dijanjikan Bayu. Namun, berada di bawah atap orang lain meskipun itu rumah ibu dari suamiku sendiri pelan-pelan mengikis rasa percaya diriku.
Di rumah ini, aku bukanlah ratu di dalam rumah tanggaku sendiri. Aku hanyalah penumpang yang harus selalu tahu diri.
Hari ini adalah tanggal satu. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh keluarga kecil kami setiap bulannya. Hari di mana Bayu biasanya menerima gaji bulanan dari kantornya. Namun, ada hal lain yang membuat hari ini terasa begitu spesial bagiku, hari ini adalah hari ulang tahun Naya yang keempat tahun.
Sejak Naya berusia satu tahun, kami selalu punya tradisi kecil yang hangat di Bandung dulu. Setiap kali Naya ulang tahun, aku dan Mas Bayu tidak pernah menggelar pesta mewah. Kami cukup memesan puluhan kotak nasi tumpeng mini atau paket makanan sehat, lalu membawanya ke panti asuhan terdekat atau membagikannya kepada anak-anak di sekitar lingkungan kami. Kami ingin mengajarkan Naya indahnya berbagi sejak dini.
Pagi sampai sore tadi, aku sudah menyiapkan mental dan daftar makanan yang akan dipesan. Naya bahkan sudah kegirangan sejak pagi, menanti-nanti momen membagikan makanan itu bersama Pipo dan Mimo nya.
Malam harinya, setelah Naya tertidur lelap karena kelelahan bermain, aku dan Bayu akhirnya memiliki waktu berdua di dalam kamar. Naya tampak begitu tenang dalam lelapnya, tidak tahu bahwa di luar kamar, sebuah badai besar siap menghancurkan kebahagiaan kecilnya.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap Bayu yang sedang melepas kemeja kerjanya.
"Pipo..." panggilku pelan, memecah keheningan kamar.
Bayu menoleh, tersenyum tipis meski garis lelah di wajahnya terlihat sangat jelas. "Iya, Mimo?"
"Uang bulanan udah masuk, Pipo?" tanyaku penuh harap, menyatukan kedua jemariku di atas pangkuan. "Uang gaji kamu belum ditransfer ke rekening Mimo, ya? Dari tadi Mimo cek m-banking belum ada notifikasi masuk."
Raut wajah Bayu seketika berubah. Senyum manis yang tadi menghiasi bibirnya mendadak kaku. Gerakan tangannya yang sedang menggantung pakaian terhenti di udara. Dia menunduk, menghindari tatapan mataku.
"Mimo..." suara Bayu terdengar begitu pelan, bahkan cenderung ragu-ragu.
Aku mengerutkan dahi, merasakan firasat tak enak mulai merayapi dadaku.
"Kenapa, Pipo? Kan kamu bilang kemarin, gajian bulan ini mau kita pakai buat beli makanan tasyakuran ultah Naya? Naya udah seneng banget dari pagi, Pipo. Kita kan mau bikin acara berbagi kecil-kecilan kayak biasanya yang kita lakukan setahun sekali..."
Bayu menghela napas panjang, berjalan mendekatiku lalu duduk di sampingku di tepi ranjang. Dia menatapku dengan sorot mata yang sarat akan rasa bersalah. Tangan kanannya terulur, mencoba meraih tanganku.
"Mimo... maafin Pipo, ya," ucapnya terbata-bata. "Soal tasyakuran Naya... kayaknya bulan ini kita tunda dulu atau kita bikin tumpeng kecil aja di dapur rumah, ya?"
Jantungku berdesir heboh. "Tunda? Kenapa harus ditunda, Pipo? Itu kan tradisi kita buat Naya. Uangnya nggak cukup atau gimana? Lagian, kenapa uang bulanan rumah tangga kita belum kamu transfer sama sekali ke aku?"
Belum sempat Bayu menjawab pertanyaan bertubi-tubiku, sebuah ketukan keras dan beruntun membentur pintu kamar kami dari luar.
TOK! TOK! TOK!
"Bayu! Maya! Keluar sebentar! Ibu mau bicara penting!"
Suara Ibu Sumiati melengking dari luar kamar, terdengar begitu tegas dan menuntut.
Bayu mengusap wajahnya kasar. "Tunggu sebentar, Bu!" sahutnya. Dia lalu menatapku. "Yuk, Mimo... kita keluar dulu. Ibu mau ngomong."
Dengan perasaan campur aduk dan dada yang bergemuruh kencang, aku berdiri dari ranjang. Aku sempat melirik Naya yang masih tertidur pulas di pojok kamar. Untunglah putri kecilku itu tertidur lelap hingga tak terganggu oleh suara ketukan pintu tadi.
Aku dan Bayu melangkah keluar kamar menuju ruang tamu. Di sana, Ibu Sumiati sudah duduk tegak di sofa kayu utama. Wajahnya yang keriput nampak dingin, tanpa ada sedikit pun sisa kehangatan. Di meja tengah, sudah ada dua cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul.
Atmosfer di ruang tamu itu terasa begitu ganjil dan menekan. Ini bukan sekadar obrolan keluarga biasa. Tatapan mata Ibu Sumiati yang tajam menusuk kearahku membuatku merasa seperti seorang terdakwa yang siap disidang atas kesalahan yang bahkan tidak kuketahui.
"Duduk, Bayu, Maya," perintah Ibu Sumiati dingin.
Kami berdua duduk di sofa yang berseberangan dengan Ibu Sumiati. Bayu duduk tepat di sampingku, posisinya kaku dan menunduk dalam-dalam.
"Ada apa, Bu? Kok malam-malam gini ngajak ngobrol?" tanya Bayu membuka suara dengan nada sangat hati-hati.
Ibu Sumiati menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya tidak lepas menatapku, seolah-olah pesan yang akan disampaikannya malam ini memang sengaja ditujukan murni untuk meruntuhkan posisiku sebagai seorang istri.
"Ibu cuma mau memperjelas aturan main di rumah ini mulai bulan ini," ucap Ibu Sumiati tanpa berbelit-belit. Suaranya datar, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan sembilu. "Bayu... tadi siang kamu udah cerita kan sama Ibu kalau gajimu udah cair?"
Bayu menelan ludahnya kepayahan. "U-udah, Bu..."
Ibu Sumiati mengangguk lambat, lalu pandangannya beralih sepenuhnya mengunci mataku.
"Mulai bulan ini dan seterusnya, seluruh gaji Bayu akan ditransfer utuh ke rekening Ibu," kata Ibu Sumiati tegas. "Ibu yang akan pegang dan mengelola semua uang gajian Bayu. Biaya dapur, listrik, sampai kebutuhan harian rumah tangga... semuanya nanti Ibu yang atur dan kasih jatahnya."
"Milik... Ibu?."
Kata-kata itu menghantam dadaku begitu keras. Rasanya benar-benar seperti disambar petir di siang bolong! Telingaku mendadak berdenging hebat, napasku tertahan di tenggorokan.
Aku menoleh cepat menatap Bayu, berharap suamiku itu akan bersuara, membela hakku, atau setidaknya memprotes keputusan gila ini. Namun, Bayu hanya diam membisu! Wajahnya pucat, matanya terus menatap lantai, seolah-olah dia sudah menyetujui eksekusi ini sebelum kami melangkah keluar dari kamar tadi.
"Tapi... Bu..." suaraku akhirnya keluar, bergetar hebat menahan badai emosi yang bergejolak di dalam dada. "Kenapa harus begitu, Bu? Selama hidup berumah tangga dengan Mas Bayu saya yang selalu mengelola uang bulanan rumah tangga kami. Mas Bayu selalu mempercayakan gaji dan keuangan keluarga kecil kami ke saya..."
Ibu Sumiati menyunggingkan senyum sinis yang belum pernah kulihat sebelumnya. Senyuman yang meremehkan statusku sebagai menantu di rumah ini.
"Itu kan dulu, Maya! Dulu saat kalian masih sok-sok hidup mandiri di kota asalmu!" potong Ibu Sumiati cepat, nadanya naik satu oktav. "Sekarang kalian itu tinggal di sini! Ini rumah Ibu! Karena rumah ini milik Ibu, jadi wajar kalau Ibu yang pegang kendali penuh atas keuangan anak laki-laki Ibu!"
Tinggal di sini... rumah Ibu...
Lidahku kufur untuk berkata-kata. Dada rasanya hancur berkeping-keping mendengarkan penegasan itu.
Rumah tangga yang sudah kupupuk selama lima tahun dengan penuh rasa saling percaya, hari ini dirampas hak dasarnya begitu saja dalam hitungan detik. Tempatku sebagai seorang istri yang berhak atas nafkah suaminya diinjak-injak tanpa sisa.
Ibu Sumiati melanjutkan kalimatnya dengan santai, tanpa peduli betapa hancurnya perasaanku saat ini. "Lagian, kamu di rumah ini kan cuma mengurus anak dan bantu-bantu sedikit. Kamu nggak perlu pusing-pusing mikirin uang lagi. Nanti kalau mau beli apa-apa atau butuh uang buat belanja dapur, kamu tinggal minta sama Ibu. Nanti Ibu takar sesuai kebutuhan. Lebih hemat dan adil buat seisi rumah!"
"Adil?" bisikku lirih, air mata kekecewaan mulai membasahi pelupuk mataku. "Adil buat siapa, Bu?"
"Tentu adil buat rumah ini!" jawab Ibu Sumiati galak. "Bayu itu anak laki-laki Ibu satu-satunya. Uang gajinya itu bukan cuma buat kamu dan anakmu, tapi juga buat berbakti sama Ibunya yang udah membesarkannya sampai sukses kayak sekarang!"
Mendengar penuturan itu, sudut hatiku berteriak histeris. Ingin rasanya aku menjerit tepat di depan wajah Ibu Sumiati saat ini juga.
Ingin sekali aku mengingatkannya," Ibu! Kami pindah ke sini bukan karena kami pengen menumpang hidup atau ngemis di rumah Ibu. Dulu, aku dan Mas Bayu sudah hidup sangat aman, berkecukupan dan tentram di rumah peninggalan orang tuaku di Bandung. Kami punya rumah sendiri, punya privasi, dan kebahagiaan kami sendiri."
Ibu yang terus-terusan memohon, menangis dan memanfaatkan rasa bakti Mas Bayu agar kami mau meninggalkan kota kelahiranku dan pindah ke sini demi menemani Ibu! Kami datang untuk menemani Ibu, bukan untuk dijadikan tawanan yang diatur-atur dan dipangkas haknya seperti ini.
Namun, seluruh jeritan itu tertahan di tenggorokanku. Aku melihat Bayu di sampingku. Pria yang dulunya kuanggap sebagai pahlawan dan pelindung terhebatku, kini duduk mematung bagaikan patung tanpa nyawa. Dia terlalu takut pada ibunya. Dia terlalu lemah untuk membela istri dan anaknya sendiri.
Melihat mataku yang mulai berkaca-kaca dan napasku yang memburu, Bayu tampak panik. Dia memberanikan diri mengulurkan tangannya, mencoba menggenggam erat jemariku yang mendingin untuk memberikan penenangan palsu.
"Mimo... dengarin Pipo dulu..." bisik Bayu memohon.
SET!
Sebelum jemarinya berhasil menyentuh kulitku, aku dengan sengaja menepis dan menarik tanganku menjauh darinya.
Aku enggan disentuh olehnya. Sentuhannya yang dulu terasa hangat dan menenangkan, kini terasa begitu asing dan menyakitkan. Tangan itu adalah tangan suami yang baru saja menyerahkan hak istri dan anaknya begitu saja kepada ibunya tanpa perlawanan.
Bayu terkejut dengan penolakanku yang begitu dingin. Matanya menatapku dengan pancaran rasa bersalah yang mendalam, namun aku menolak untuk bertatapan mata dengannya lagi.
Aku berdiri dari sofa. Aku tidak sanggup lagi berada di ruang tamu ini lebih lama. Rasanya udara di sekitar sini terlalu beracun untuk kuhirup.
"Maya! Ibu belum selesai bicara!" tegur Ibu Sumiati galak melihatku berdiri tanpa izinnya.
Aku menghentikan langkahku, berdiri membelakangi mereka berdua. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai suaraku agar tidak terdengar seperti wanita yang kalah.
"Permisi, Bu... Saya mau masuk kamar. Naya takut terbangun," ucapku pelan, namun dingin dan datar.
Tanpa menunggu tanggapan dari Ibu Sumiati maupun Bayu, aku melangkah lebar memasuki kamar tidur kami. Begitu pintu kayu itu tertutup rapat, aku langsung menguncinya dari dalam.
KLIK.
Tubuhku meluncur turun, terduduk lemas bersandar pada balik pintu yang terkunci. Aku meremas dada kiriku yang terasa sangat sesak, seolah-olah pasokan oksigen di dalam ruangan ini habis tak berbekas. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah tak terbendung.
Aku menangis tanpa suara. Menutupi mulutku dengan kedua tangan agar isak tangisku tidak membangunkan Naya yang sedang tertidur lelap di atas ranjang.
Aku menatap putri kecilku yang polos itu." Naya... kasihan anakku. Kebahagiaan kecil yang sangat dinantikannya esok hari tasyakuran ulang tahun dan berbagi makanan manis harus lenyap hanya karena keegoisan dan kepatuhan buta Ayahnya."
Pipo yang dulunya menyayangimu dan selalu mengutamakan kita, hari ini resmi menghamba pada ibunya.
Malam itu, di dalam kamar yang dingin di rumah mertuaku, aku sadar akan satu hal yang sangat pahit: janji Bayu di Bandung dulu hanyalah omong kosong. Di rumah ini, aku tidak lagi memiliki suami yang bisa kuandalkan.
Dan malam ini menjadi malam pertama di mana rasa cintaku pada Bayu... mulai retak dan runtuh perlahan-lahan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!