Indonesia
NovelToon NovelToon

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR

​Aroma mawar yang mekar di penghujung musim panas selalu terasa terlalu pekat di malam hari. Bagi sebagian besar penghuni Istana Valerian, wewangian itu hanyalah penghias kelopak kelopak bunga yang diterpa embun. Namun bagi Alena Virelle, wewangian itu adalah aroma ketakutan yang tersamar oleh keindahan.

​Langkah kakinya hampir tak bersuara saat melintasi jalan setapak berkerikil putih. Gaun sederhananya—perpaduan kain linen biru tua dan katun kasar—bergesek halus dengan semak-semak yang terpotong rapi. Di tangannya, sebilah lentera kecil berbahan kuningan memancarkan pendar kuning yang redup, bergoyang seirama dengan napasnya yang tertahan.

​Alena berusia tujuh belas tahun, dan ia cukup berakal sehat untuk memahami bahwa berada di sudut paling terisolasi dari Taman Mawar pada tengah malam adalah tindakan kebodohan. Jika salah satu pengawal kerajaan menemukannya, ia akan dituduh melakukan penyusupan. Namun jika yang menemukannya adalah orang yang berjanji menunggunya di sini, risikonya jauh lebih besar dari sekadar hukuman cambuk atau pengasingan.

​Risikonya adalah hatinya sendiri.

​"Kau terlambat, Alena."

​Suara itu datang dari balik bayangan kanopi pohon eboni yang tumbuh di tengah taman. Suaranya rendah, tenang, namun memiliki gema alami yang membekukan udara di sekitarnya.

​Alena menghentikan langkah. Ia menurunkan lenteranya sedikit, membiarkan cahayanya menyapu bagian bawah jubah beludru hitam yang terhias sulaman benang perak berbentuk lambang elang Kerajaan Aveloria.

​"Pangeran Adrian," bisik Alena. Ia membungkuk kecil, sebuah gestur formal yang terasa canggung di antara mereka, namun menjadi perisai tipis yang selalu ia gunakan untuk mengingatkan dirinya sendiri tentang batas-bangsa.

​Pria yang berdiri di bawah naungan pohon itu melangkah maju. Dalam pendar remang lentera, garis wajah Adrian Valerian terlihat tegas, dipahat oleh disiplin ketat pelatihan militer dan tuntutan takhta yang sudah dibebankan ke pundaknya sejak lahir. Berusia dua puluh satu tahun, sang Putra Mahkota Aveloria memancarkan otoritas yang alami. Namun malam ini, di mata manusianya yang berwarna abu-abu pekat seperti langit menjelang badai, tidak ada jejak kediktatoran seorang calon raja.

​Yang ada hanya kelelahan yang disembunyikan dengan rapi.

​"Aku sudah memintamu untuk tidak memanggilku seperti itu saat kita hanya berdua," kata Adrian. Langkahnya terhenti hanya sejengkal di depan Alena. Begitu dekat hingga Alena bisa menghirup aroma kayu cendana dan dinginnya malam yang menempel pada mantel pria itu.

​"Hukum istana tidak mengenal kata 'berdua', Yang Mulia," sahut Alena pelan. Ia menatap dada Adrian, enggan menatap langsung mata yang selalu mampu membongkar seluruh pertahanannya. "Jika ada pelayan atau dewan bangsawan yang melihat—"

​"Biarkan mereka melihat."

​Kalimat itu terucap begitu ringkas, begitu santai, seolah Adrian sedang membicarakan cuaca esok hari dan bukan sebuah skandal yang sanggup mengguncang fondasi istana.

​"Jangan berbicara seperti itu," tegur Alena, keberaniannya mencetus secara spontan. Ia mengadahkan wajah, menatap Adrian tepat di matanya. "Anda adalah pewaris takhta Aveloria. Setiap kata yang Anda ucapkan memiliki bobot bagi masa depan kerajaan ini. Sedangkan saya... saya hanya putri dari seorang baronet kecil yang kebetulan diizinkan tinggal di istana sebagai juru tulis perpustakaan."

​Adrian menatap Alena dalam diam. Ia memperhatikan detail kecil yang selama beberapa bulan terakhir telah mengacaukan konsentrasinya dalam setiap rapat dewan: helai rambut cokelat keemasan yang terlepas dari gulungannya, bintik halus di pangkal hidungnya, dan bayangan kecemasan yang selalu membayangi matanya yang berwarna hijau hazel.

​"Juru tulis yang sanggup mengoreksi terjemahan naskah kuno berbahasa Elarian milik Penasihat Rowan," gumam Adrian, sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyuman langka yang hanya pernah disaksikan oleh tembok-tembok taman ini. "Kau selalu merendahkan dirimu sendiri, Alena."

​"Saya hanya tahu diri, Adrian."

​Nama itu terlepas dari bibirnya. Tanpa gelar. Tanpa sebutan kehormatan. Dan respons Adrian terhadap panggilan itu adalah tarikan napas halus, seolah beban berat yang menghimpit dadanya mendadak terangkat seketika.

​Adrian mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang dan berkapalan—akibat bertahun-tahun menggenggam pedang—menyentuh dagu Alena, mengangkatnya perlahan. Sentuhan itu hangat, berkontradiksi dengan angin malam yang mulai menusuk tulang.

​"Ayahku telah menentukan jadwal pengumuman pertunanganku dengan Lady Seraphina Ardent," ujar Adrian mendadak.

​Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti bongkahan es yang dilemparkan ke permukaan telaga jernih. Keretakan rasanya merambat ke udara di sekitar mereka.

​Alena tidak terkejut. Ia sudah tahu hari ini akan datang. Seluruh Aveloria tahu bahwa keluarga Ardent memegang kendali atas setengah legiun prajurit di perbatasan utara dan sebagian besar cadangan perak kerajaan. Pernikahan antara Putra Mahkota dan putri tunggal Duke Ardent bukanlah masalah cinta, melainkan sebuah transaksi keamanan negara.

​Namun tahu tidak membuat rasa sakitnya berkurang. Ada sesuatu yang berdenyut pedih di balik dada Alena, sebuah kekosongan yang perlahan meluas.

​"Selamat, Yang Mulia," bisik Alena, suaranya terdengar datar, terlatih untuk tidak gemetar. "Lady Seraphina adalah wanita yang sangat anggun. Ia akan menjadi calon Ratu yang dicintai rakyat."

​"Kau tahu aku tidak menginginkan pernikahan itu, Alena." Suara Adrian mendadak merendah, menajam oleh intensitas emosi yang jarang ia perlihatkan. Tangannya bergeser dari dagu Alena ke sisi leher wanita itu, jempolnya mengusap garis rahangnya yang halus. "Aku tidak memedulikan aliansi Ardent. Aku tidak memedulikan berapa banyak pedang yang bisa disumbangkan oleh ayahnya untuk dewanku."

​"Tetapi Raja Cedric memedulikannya!" potong Alena, suaranya meninggi sebelum ia dengan cepat memelankannya kembali karena takut terdengar pengawal patroli. "Raja memedulikannya, dewan memedulikannya, dan rakyat Aveloria membutuhkan kepastian. Anda tidak bisa mengorbankan stabilitas kerajaan hanya untuk..."

​Alena menghentikan kalimatnya. Ia tidak sanggup melanjutkan.

​"Untuk apa?" desak Adrian, matanya mengunci mata Alena. "Untukmu? Untuk apa yang kita rasakan selama enam bulan terakhir ini?"

​"Ini hanya kebodohan musim panas, Adrian," kata Alena, membohongi dirinya sendiri dengan kata-kata paling kejam yang bisa ia temukan. "Kita terjebak dalam ilusi perpustakaan tua dan malam-malam yang sepi. Ketika saatnya tiba, Anda akan duduk di takhta itu dan saya akan kembali ke wilayah asal keluarga saya, menikah dengan seorang ksatria atau bangsawan rendah, dan melupakan bahwa kita pernah berada di taman ini."

​Tangan Adrian yang berada di leher Alena mengetat sekilas sebelum perlahan terkulai lemas ke samping tubuhnya. Pria itu mundur satu langkah. Ekspresi hangat yang tadinya sempat muncul mendadak lenyap, digantikan oleh topeng dingin yang biasa ia kenakan di hadapan para menteri.

​"Melupakan?" ulang Adrian. Ia tertawa pelan, sebuah tawa tanpa rasa humor yang terdengar sangat menyakitkan. "Kau begitu mudah mengatakannya, Alena. Seolah-olah kau bisa menghapus semua naskah yang kita baca bersama, setiap kata yang kita bisikkan, seolah-olah kau bisa mencabut hatimu sendiri dan meninggalkannya di sini."

​Alena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya, menyembunyikan getaran hebat yang melanda jemarinya. Kuku-kukunya menekan telapak tangannya hingga terasa perih, sebuah usaha sengaja untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya.

​"Aku tidak akan membiarkan ayahku mengatur seluruh hidupku," kata Adrian kemudian. Suaranya kembali tenang, namun jenis ketenangan ini jauh lebih berbahaya daripada kemarahan. Itu adalah ketenangan seorang pria yang telah mengambil keputusan mutlak. "Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai Putra Mahkota. Aku akan menyetujui pertunangan politik ini karena dewan memaksaku. Namun dengarkan aku baik-baik, Alena Virelle..."

​Adrian kembali mendekat. Kali ini, ia tidak menyentuh Alena. Ia hanya menunduk, mendekatkan wajahnya hingga Alena bisa merasakan hembusan napas hangatnya di kulit pipinya.

​"Suatu hari nanti, ketika takhta itu menjadi milikku sepenuhnya, aku tidak lagi harus tunduk pada aturan dewan tua yang ketakutan. Aku akan menemukan cara untuk membawamu kembali ke sisiku. Bukan sebagai rahasia di taman malam hari. Bukan sebagai juru tulis yang harus bersembunyi di balik pilar. Tetapi sebagai wanita yang hidup di sampingku."

​Alena menatap pria di hadapannya dengan rasa haru yang bercampur dengan ketakutan yang luar biasa. Janji itu... janji itu terlalu indah, terlalu berbahaya, dan sangat tidak realistis. Pangeran Adrian berbicara seperti seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara, bukan sebagai calon penguasa yang terikat oleh hukum monarki yang kejam.

​Kerajaan Aveloria tidak pernah mengizinkan seorang wanita dari keluarga bangsawan rendah tanpa pengaruh politik untuk berdiri sejajar dengan Raja. Jika Adrian nekat melakukan hal itu kelak, dewan bangsawan akan menganggapnya sebagai ancaman dan kelemahan. Mereka tidak akan meragukan untuk menyingkirkan penyebab kelemahan itu.

​Sebab dalam permainan politik istana, menyingkirkan seorang wanita tanpa pelindung adalah hal yang sangat mudah dilakukan.

​"Anda berjanji pada sesuatu yang tidak bisa Anda tepati, Adrian," gumam Alena pelan.

​Sebagai jawaban, Adrian merogoh sesuatu dari balik mantel tebalnya. Cahaya lentera yang remang menangkap kilatan logam perak dan pantulan cahaya dari sebuah batu permata kecil berwarna biru legam—sebuah batu Saphira kualitas tertinggi yang diukir halus membentuk kelopak bunga mawar.

​Itu adalah liontin pribadi keluarga Valerian, sebuah pusaka kecil yang diberikan oleh Almarhumah Nenek Adrian saat sang pangeran memenangkan pertempuran pertamanya di perbatasan barat.

​"Pegang ini," ujar Adrian sambil meletakkan rantai perak dingin itu ke telapak tangan Alena, lalu memindahkan jemari wanita itu agar menggenggamnya erat.

​"Tidak, Adrian! Ini terlalu berharga, aku tidak bisa—"

​"Ini bukan hadiah, Alena. Ini adalah ikrar," potong Adrian dengan nada tidak dapat diganggu gugat. "Selama kau memegang liontin itu, kau membawa sebagian dari jiwaku bersamamu. Jika kau ragu pada janjiku, lihat batu itu. Ingat malam ini. Ingat bahwa di balik semua hukum dan mahkota busuk ini, ada seorang pria yang menyembah tanah yang kau pijak."

​Alena meremas liontin itu. Sudut siku batu permata yang tajam menekan kulit telapak tangannya, meninggalkan rasa sakit yang nyata. Ia menatap Adrian, dan untuk pertama kalinya malam itu, Alena membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya menetes melintasi pipinya.

​Adrian mengusap air mata itu dengan jempolnya, gerakan yang sangat lembut hingga membuat dada Alena semakin sesak.

​"Jangan menangis," bisik Adrian. "Ini bukan perpisahan. Ini hanya penundaan."

​Namun malam itu, saat angin dingin berhembus kencang menerbangkan kelopak-kelopak mawar yang gugur di sekitar kaki mereka, Alena merasakan firasat yang sangat pekat di dalam dadanya.

​Sebuah firasat bahwa janji yang diucapkan di bawah naungan bayang-bayang tidak akan pernah bisa bertahan di bawah teriknya matahari istana.

​Keduanya berdiri saling menatap dalam keheningan yang panjang, menikmati sisa-sisa detik sebelum kenyataan memisahkan mereka kembali. Mereka tidak pernah tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir mereka akan berbicara sebagai dua orang yang saling mencintai tanpa ada rahasia, tanpa ada kebohongan, dan tanpa ada darah yang menuntut kebenaran.

​Ketika Alena akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan Taman Mawar dengan membawa liontin perak di genggamannya, ia tidak tahu bahwa dalam beberapa minggu ke depan, kehidupan kecil baru sedang bersiap untuk tumbuh di dalam tubuhnya—sebuah rahasia yang tidak hanya akan menghancurkan janjinya dengan Adrian, tetapi juga akan memaksa dirinya menjadi seorang buronan.

BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA

​Tiga minggu sejak malam terakhir di Taman Mawar, Istana Valerian sibuk mempercantik diri. Perjamuan besar untuk merayakan pengumuman resmi pertunangan Pangeran Adrian dengan Lady Seraphina Ardent tinggal menghitung hari. Bendera-bendera bersulam lambang elang emas dipasang di sepanjang dinding batu koridor utama, sementara wangi lilin lebah dan minyak lavender tercium dari setiap sudut ruangan.

​Namun bagi Alena, suasana megah itu terasa tak ubahnya perayaan atas kematian masa depannya.

​Di dalam kamar kecilnya yang terletak di lorong selatan kediaman pelayan dan juru tulis, udara pagi terasa menghempit dada. Alena berlutut di samping baskom tembikar berisi air dingin. Tubuhnya gemetar hebat, bahunya naik turun seiring rasa mual yang mencengkram perut bagian bawahnya. Ia telah memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hampir kosong sejak semalam.

​Ketika kejang pada perutnya perlahan mereda, Alena menyandarkan keningnya yang dingin pada tepian tembikar. Peleringan peluh membasahi pelipis dan helai-helai rambut cokelat keemasannya yang terurai berantakan.

​Ia berusaha rasional. Ia mencoba membodohi dirinya sendiri dengan berpikir bahwa ini hanyalah demam biasa akibat hawa dingin musim gugur yang mulai menusuk, atau mungkin efek dari rasa cemas yang berkecamuk di dadanya selama tiga minggu terakhir. Namun, logika yang selama ini menjadi keunggulannya sebagai seorang juru tulis tidak dapat membohongi tanda-tanda biologis tubuhnya.

​Siklus bulanannya tidak kunjung datang. Selera makannya mendadak hilang, digantikan oleh kepekaan aneh terhadap aroma-aroma tajam. Bau lilin lebah yang biasa ia sukai kini membuatnya pusing membendung mual.

​Dengan tangan yang masih gemetar, Alena meletakkan jemarinya di atas permukaan perutnya sendiri. Datar, lembut, dan terasa tak ada yang berbeda dari luar. Namun di balik kulit dan dagingnya, Alena tahu—sebuah naluri primitif yang mendalam memberitahunya—bahwa ada sebuah kehidupan kecil yang baru saja menyalakan apinya di sana.

​Sebuah benih yang ditanam dalam kerahasiaan Taman Mawar.

​"Tidak..." bisik Alena pada keheningan kamar. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan. "Tuhan, jangan sekarang..."

​Kehamilan di luar pernikahan adalah sebuah bencana bagi wanita bangsawan mana pun di Kerajaan Aveloria. Namun mengandung anak dari Sang Putra Mahkota—pria yang baru saja ditunangkan secara resmi dengan putri keluarga paling berpengaruh di negeri ini—bukan lagi sekadar skandal.

​Itu adalah eksekusi mati.

​Hukum kerajaan Aveloria sangat ketat mengenai kesucian garis keturunan kerajaan. Seorang wanita tanpa gelar tinggi yang mengandung darah pewaris takhta tanpa ikatan sah akan dianggap sebagai ancaman keamanan nasional. Ia akan dituduh melakukan konspirasi untuk mencemari takhta atau mengacaukan suksesi. Jika anak itu lahir, ia akan dianggap sebagai anak haram yang berpotensi memicu perang saudara di masa depan.

​Dunia di sekitar Alena mendadak serasa berputar lambat. Rasa takut yang begitu dingin meluncur dari kepala hingga ke ujung jarinya.

​Bukan rasa takut untuk dirinya sendiri.

​Saat jemarinya kembali menekan perutnya pelan, sebuah gelombang kehangatan yang tidak terduga menyelusup ke dalam hatinya yang hancur. Di tengah keputusasaan yang membendung, ada bisikan kecil di dalam jiwanya yang berbisik bahwa kehidupan ini adalah milik Adrian dan dirinya. Anak ini adalah bukti dari cinta yang mereka bagi secara tersembunyi—satu-satunya hal nyata yang tersisa dari masa lalu mereka.

​Alena mencintai kehidupan kecil ini bahkan sebelum ia sempat mendengar detak jantungnya. Dan justru karena rasa cinta itulah, ketakutannya berlipat ganda.

​Ia harus memberitahu Adrian.

​Adrian harus tahu. Apapun yang terjadi nanti—apakah pria itu akan memintanya bersembunyi, membantunya melarikan diri, atau mencari cara gila untuk melindunginya—pria itu berhak tahu bahwa ia akan menjadi seorang ayah.

​Alena membasuh wajahnya dengan air dingin, merapikan gaun cokelat pudar yang biasa ia kenakan untuk bekerja, dan mengikat rambutnya erat-erat. Ia mengambil liontin batu mawar perak pemberian Adrian dari balik bantalnya, menggenggamnya sebentar untuk meminjam keberanian, lalu menyembunyikannya kembali di dalam saku gaunnya yang terdalam.

​Ia melangkah keluar kamar dengan keteguhan hati yang rapuh.

​Perpustakaan Istana siang itu relatif sepi. Sebagian besar bangsawan muda sibuk mempersiapkan diri di aula latihan parade atau mendampingi Lady Seraphina yang sedang meninjau dekorasi taman. Alena berjalan menyusuri rak-rak buku kayu ek yang menjulang tinggi, bermaksud menyelesaikan tugas penyalinan dokumennya sebelum berusaha mencari kesempatan bertemu Adrian di Paviliun Barat.

​Namun, saat ia sampai di meja kerjanya yang terasing di sudut rak naskah sejarah, dua pria berzirah besi dengan jubah perak telah berdiri menunggunya.

​Mereka bukan pengawal biasa. Mereka adalah Penjaga Sumpah—prajurit elite yang hanya menerima perintah langsung dari Dewan Kerajaan dan Raja sendiri.

​"Lady Alena Virelle?" tanya salah satu pengawal, suaranya terdengar kaku seperti benturan besi.

​Alena menghentikan langkah. Jantungnya meloncat naik ke tenggorokan. "Ya... saya. Ada apa, Tuan-tuan?"

​"Anda diminta menghadiri panggilan pribadi di Menara Selatan. Segera."

​Menara Selatan bukan tempat perjamuan, bukan pula ruang dewan umum. Itu adalah bangunan tertua di Istana Valerian, tempat di mana ruang interogasi khusus dan kamar kerja para penasihat senior berada. tempat yang jarang sekali tersentuh cahaya matahari siang.

​"Panggilan dari siapa?" tanya Alena, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Saya masih harus menyelesaikan salinan naskah untuk Master Perpustakaan—"

​"Penasihat Rowan menunggu Anda," potong pengawal kedua dengan nada dingin yang menolak sanggahan. "Mari ikut kami."

​Tidak ada ruang untuk menawar. Pengawal itu tidak menarik pedang mereka, namun posisi berdiri mereka yang mengapit Alena secara tersirat menegaskan bahwa ia adalah seorang tahanan tanpa rantai.

​Alena menarik napas panjang, menekan rasa mual yang kembali bergejolak di dada akibat stres yang mendadak melonjak. Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Izinkan saya berjalan sendiri."

​Perjalanan menuju Menara Selatan terasa seperti jalan panjang menuju tiang gantungan. Setiap langkah kaki yang bergema di atas lantai marmer dingin seolah membilang sisa waktu kebebasannya. Alena terus memikirkan bagaimana caranya menghubungi Mira Lorien, sahabat satu-satunya di tempat ini, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.

​Ketika pintu kayu ek tebal Menara Selatan dibuka, aroma minyak cat lama, kertas lapuk, dan kemenyan tajam menyambutnya. Di tengah ruangan beratap kubah yang temaram oleh satu lampu gantung besar, berdiri seorang pria tua berambut putih terikat kencang. Ia mengenakan jubah beludru hijau tua bersulam benang emas.

​Duke Rowan. Penasihat senior Kerajaan Aveloria yang telah mengabdi selama tiga generasi.

​Di sampingnya, berdiri seorang pria lain yang wajahnya tersembunyi di balik bayangan kanopi jendela—pria berbadan tegap dengan lambang keluarga Ardent di dada zirahnya.

​"Tinggalkan kami," perintah Rowan kepada kedua pengawal.

​Pintu berat itu ditutup dengan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan, menyisakan Alena berdiri sendirian di tengah karpet merah pudar.

​"Nona Virelle," Rowan memulai, suaranya tenang, serak oleh usia, namun dipenuhi oleh ketegasan politisi yang tak tersentuh emosi. Ia berjalan mendekati meja kayunya yang tertimbun gulungan kertas. "Aku menghargai ketepatan waktumu. Duduklah."

​"Saya lebih memilih berdiri, Lord Rowan," jawab Alena kaku. tangannya saling bertaut di depan gaunnya, menyembunyikan getaran yang tak bisa ia hentikan. "Boleh saya tahu mengapa saya dipanggil ke sini? Jika ini mengenai naskah terjemahan bahasa Elarian minggu lalu—"

​"Ini bukan mengenai naskah kuno, Alena," sela Rowan. Pria tua itu berbalik, menatap Alena dengan mata cokelatnya yang tajam, penuh perhitungan seperti mata seekor elang yang sedang mengintai mangsa. "Ini mengenai sesuatu yang jauh lebih baru. Dan jauh lebih berbahaya."

​Rowan berjalan perlahan mengelilingi Alena, langkah kakinya teratur di atas lantai batu.

​"Tiga hari yang lalu, seorang tabib istana melaporkan adanya permintaan racikan herbal khusus pembersih rahim dan penahan mual yang diajukan oleh salah satu pelayan di lorong selatan. Pelayan itu, setelah sedikit diinterogasi, mengaku mengambil racikan itu untuk temannya... seorang juru tulis bernama Alena."

​Darah di tubuh Alena serasa membeku seketika.

​Ia tidak pernah meminta racikan pembersih rahim—pasti pelayan yang disuruhnya membeli obat mual biasa telah bertindak lancang atau salah paham. Namun fakta bahwa namanya telah tercatat oleh tabib kerajaan sudah cukup untuk menjatuhkan vonisnya.

​"Aku melihat wajahmu mendadak pucat, Nona Virelle," lanjut Rowan dengan nada yang hampir terdengar prihatin, meski matanya tetap sedingin es. "Artinya kecurigaanku tidak salah. Kau sedang mengandung."

​Alena menutup matanya rapat-rapat. Udara terasa lenyap dari paru-parunya. Ia ingin membantah, ingin berbohong dan mengatakan itu semua tidak benar. Namun raut wajah Rowan yang penuh kemenangan memberitahunya bahwa kebohongan apapun saat ini hanya akan terdengar menyedihkan.

​"Siapa ayahnya?" tanya pria berzirah keluarga Ardent dari sudut jendela, suaranya berat dan berbahaya.

​Alena membuka matanya, menatap pria itu, lalu kembali menatap Rowan. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

​"Kau tidak perlu menjawabnya," ujar Rowan santai, seolah ia sudah mengetahui jawabannya sebelum pertanyaan itu dilemparkan. "Hanya ada satu pria yang menghabiskan waktu dua jam di ruang arsip tertutup setiap Selasa malam bersama seorang juru tulis. Hanya ada satu pria yang kebetulan sering terlihat berada di dekat Taman Mawar saat larut malam."

​Rowan menghela napas panjang, berjalan mendekati meja dan mengambil sebuah gulungan perkamen berstempel lilin merah—stempel resmi Raja Cedric.

​"Pangeran Adrian Valerian adalah masa depan kerajaan ini, Alena," kata Rowan dengan nada bicara yang berubah menjadi sangat serius, hampir seperti nasihat seorang kakek, namun diisikan racun ancaman di setiap kata. "Pernikahannya dengan Lady Seraphina akan mengamankan perbatasan utara dari ancaman invasi Kerajaan Oakhaven. Pernikahan itu adalah pilar stabilitas Aveloria untuk lima puluh tahun ke depan."

​Rowan melangkah mendekati Alena, berhenti hanya sejarak satu lengan darinya.

​"Dan kau... beserta janin tidak sah yang ada di dalam perutmu itu... adalah retakan yang sanggup meruntuhkan seluruh pilar tersebut."

​"Adrian..." suara Alena akhirnya keluar, parau dan tipis. "Pangeran Adrian berhak mengetahui hal ini. Biarkan saya berbicara dengannya—"

​"Bicara dengannya?" Rowan tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk Alena berdiri. "Apakah kau pikir apa yang akan terjadi jika Adrian tahu? Pangeran muda yang impulsif dan penuh idealisme konyol itu mungkin akan mencoba membatalkan pertunangannya. Ia akan menantang keputusan ayahnya dan Dewan Kerajaan."

​Rowan menunduk, menatap langsung ke dalam mata Alena yang mulai berkaca-kaca.

​"Dan tahukah kau apa yang dilakukan Raja Cedric terhadap orang-orang yang mengancam stabilitas takhta putranya? Raja tidak akan mengampunimu, Alena. Kau akan dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi di alun-alun istana sebelum matahari terbit besok."

​Alena mencengkeram kain gaunnya erat-erat. "Saya... saya bisa pergi. Saya bisa bersumpah tidak akan pernah menuntut apapun—"

​"Dan bagaimana dengan anak itu?" potong pria dari keluarga Ardent, melangkah keluar dari bayangan. Wajahnya keras, penuh kebencian. "Apakah kau pikir dewan akan membiarkan seorang anak berdarah Valerian tumbuh di luar sana, menjadi ancaman klaim takhta di masa depan? Begitu anak itu lahir, jika kau masih hidup, anak itu akan diambil. Ia akan dibesarkan sebagai tahanan politik atau disingkirkan secara diam-diam agar tidak ada duri di dalam daging kepemimpinan Adrian kelak."

​Setiap kata yang diucapkan pria itu menghantam Alena seperti pukulan fisik.

​Anak itu akan diambil.

Atau disingkirkan secara diam-diam.

​Gambar bayangan anak kecil yang tak berdosa dipisahkan darinya, diderita di dalam penjara atau dibunuh demi politik kerajaan, menghancurkan sisa-sisa keberanian Alena. Hatinya menjerit oleh rasa sakit yang tak terbayangkan.

​"Kau punya satu kesempatan, Nona Virelle," bisik Rowan, suaranya kembali melunak, namun intensitas ancamannya melipat ganda. "Malam ini, perjamuan pertunangan akan berlangsung di Aula Utama. Pangeran Adrian akan mengumumkan pertunangannya di hadapan seluruh bangsawan negeri."

​Rowan menyelipkan selembar surat kosong dan sebuah pena bulu ke tangan Alena yang dingin membebas.

​"Tulis surat untuknya. Beritahu dia bahwa kau tidak pernah mencintainya. Beritahu dia bahwa hubungan kalian hanyalah kebodohan dan kau telah memutuskan untuk pergi meninggalkan Aveloria bersama pria lain dari wilayah asalmu. Buat dia membencimu hingga ia tidak akan pernah sudi mencarimu lagi."

​"Tidak..." Alena menggelengkan kepalanya lemah. "Saya tidak bisa..."

​"Jika kau melakukannya," lanjut Rowan tanpa memedulikan penolakan Alena, "aku sendiri yang akan memastikan kau bisa keluar dari gerbang istana malam ini secara diam-diam. Aku akan memberimu sedikit emas untuk bertahan hidup di luar batas kerajaan. Kau bisa melahirkan anakmu di tempat yang jauh, membesarkannya sebagai rakyat biasa yang bebas. Anakmu akan selamat. Kau akan selamat."

​Rowan menunduk lebih dekat, membisikkan ancaman terakhirnya tepat di telinga Alena.

​"Tetapi jika kau menolak... jika kau mencoba menemui Adrian malam ini atau membocorkan rahasia ini kepada siapa pun... aku bersumpah demi makam raja-raja Valerian, kau akan dijebloskan ke penjara bawah tanah sebelum pesta dimulai. Dan anakmu tidak akan pernah melihat indahnya cahaya matahari."

​Ruangan itu mendadak terasa begitu hening. Suara detak jam dinding kuningan di sudut ruangan terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis.

​Alena berdiri membeku. Di dalam dadanya, pertempuran hebat terjadi antara cintanya pada Adrian dan naluri keibuannya untuk melindungi nyawa anak yang baru saja hadir di rahimnya.

​Jika ia memberi tahu Adrian, pria itu mungkin akan melindunginya, tetapi mereka akan berhadapan dengan seluruh kekuatan Kerajaan Aveloria, Raja, Dewan, dan pasukan Ardent. Anak mereka akan menjadi sasaran pembunuhan politis. Adrian sendiri mungkin akan kehilangan hak takhtanya atau hancur dalam perang saudara.

​Namun jika ia pergi... jika ia berbohong dan membuat Adrian membencinya...

​Anaknya akan hidup. Anak mereka akan aman dalam pelukannya, jauh dari racun intrik istana.

​Hanya saja, harga yang harus dibayar adalah kehancuran hatinya sendiri dan rasa sakit Adrian yang harus menanggung luka pengkhianatan palsu ini selamanya.

​Dengan tangan yang gemetar hebat hingga tetesan tinta hitam menodai kertas putih di depannya, Alena perlahan mengangkat pena bulu itu. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas kertas, membasahi serat-serat kayu halus sebelum tinta mulai digoreskan.

​Ia telah mengambil keputusannya. Keputusan seorang ibu yang rela menjadi penjahat di mata pria yang paling dicintainya, demi menyelamatkan buah cinta mereka.

BAB 3 — HUKUMAN UNTUK SEORANG WANITA

​Tinta hitam di atas kertas perkamen itu sudah mengering, meninggalkan jejak kata-kata kejam yang ditulis dengan tangan gemetar. Setiap goresan pena Alena terasa bagai sabetan sembilu pada jiwanya sendiri. Di lembar itu, ia mengaku tidak pernah sungguh-sungguh mencintai Adrian. Ia menyebut hubungan mereka sebagai sekadar pelarian sesaat dan pengisi kekosongan, lalu menutupnya dengan kebohongan terbesar dalam hidupnya: bahwa ia memilih pergi bersama seorang pemuda dari kampung halamannya yang telah lama menunggunya.

​Penasihat Rowan mengambil perkamen itu dengan gerakan perlahan. Matanya yang dingin menyapu baris demi baris tulisan Alena sebelum mengangguk puas.

​"Pilihan yang sangat bijaksana, Nona Virelle," ujar Rowan pelan. Ia melipat surat itu, lalu menyegelnya tanpa stempel, seolah-olah surat tersebut ditulis tanpa paksaan sama sekali. "Kau mungkin merasa tindakan ini kejam, tetapi percayalah, suatu hari nanti—jika kau cukup beruntung untuk bertahan hidup—kau akan sadar bahwa ini adalah satu-satunya cara agar semua orang tetap bernapas."

​Alena tidak menjawab. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Ia berdiri membisu, menatap lantai batu Menara Selatan yang kelam.

​"Gareth," panggil Rowan ke arah pintu.

​Pintu kayu tebal berderit terbuka, memperlihatkan sosok pria bertubuh kekar dengan seragam perwira Pengawal Kerajaan. Gareth—kepala pengawal pribadi Pangeran Adrian—melangkah masuk. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan emosi, namun matanya yang tajam sempat menatap Alena dengan kilat keprihatinan yang tersembunyi rapat.

​"Pastikan Nona Virelle tetap berada di dalam kediamannya hingga jamuan makan malam dimulai," perintah Rowan kepada Gareth. "Setelah perayaan pertunangan diiringi musik keras dan perhatian seluruh istana terpusat ke Aula Utama, bawa dia keluar melalui gerbang barat. Berikan kereta kuda tanpa lambang dan sekantong koin perak ini padanya."

​"Diterima, Lord Rowan," jawab Gareth pendek.

​Alena mendongak, matanya yang sembap menatap Rowan dengan sisa keberanian terakhirnya. "Saya ingin menyampaikan satu permintaan."

​Rowan menaikkan sebelah alisnya. "Kau tidak berada dalam posisi untuk menawar, Alena."

​"Ini bukan tawaran. Ini permohonan seorang wanita yang tidak akan pernah kembali ke tempat ini," potong Alena, suaranya parau namun tegas. "Izinkan saya melintas di balik balkon Aula Utama sebelum saya pergi. Hanya lima menit. Saya ingin melihatnya... untuk terakhir kalinya dari jauh. Tanpa bicara, tanpa menunjukkan diri."

​Pria berzirah Ardent yang berdiri di dekat jendela hendak memprotes dengan hardikan keras, namun Rowan mengangkat tangannya, menahannya. Pria tua itu menatap Alena cukup lama, mengukur apakah ada potensi bahaya dalam permintaan itu.

​"Lima menit di balkon atas," kata Rowan akhirnya. "Di bawah pengawasan ketat Gareth. Jika kau membuat gerakan sekecil apa pun yang menarik perhatian bawah, atau mencoba memanggil pangeran, Gareth memiliki wewenang penuh untuk mengeksekusimu di tempat demi keamanan kerajaan."

​"Saya mengerti," bisik Alena.

​Malam merayap turun membawa hawa dingin yang menusuk. Istana Valerian menjelma menjadi panggung megah berhiaskan ribuan lilin lebah dan karangan bunga mawar putih. Suara musik simfoni dari para pemain musik istana bergema hingga ke koridor-koridor terluar, bersahut-sahutan dengan gelak tawa para bangsawan yang mengenakan gaun sutra dan perhiasan berkilauan.

​Dari celah tirai beludru di galeri lantai atas Aula Utama, Alena berdiri dalam kegelapan. Di sampingnya, Gareth berdiri membisu seperti patung batu, tangannya bersandar kaku pada gagang pedangnya.

​Alena mencengkeram pembatas kayu berukir. Matanya menyapu aula besar di bawahnya.

​Di pusat ruangan, berdiri Raja Cedric Valerian dengan mahkota emas di kepalanya, tampak megah dan tidak tersentuh. Di sampingnya, Ratu Eleanor tersenyum lembut namun matanya memancarkan kecemasan yang samar. Dan di hadapan mereka berdua, berdiri Pangeran Adrian Valerian bersama Lady Seraphina Ardent.

​Seraphina tampak sempurna. Gaun berwarna perak berhias batu permata biru membuatnya terlihat bagai seorang dewi dari legenda tua. Ia tersenyum anggun, memegang lengan Adrian dengan kebanggaan seorang wanita yang tahu bahwa ia telah memenangkan hadiah terbesar di kerajaan ini.

​Namun mata Alena hanya tertuju pada Adrian.

​Pria itu mengenakan pakaian kebesaran Putra Mahkota berwarna hitam bersulam benang perak. Wajahnya tampan, namun dingin luar biasa. Tidak ada senyuman di bibirnya. Tatapan matanya yang berwarna abu-abu pekat menyapu kerumunan bangsawan di bawahnya dengan keheningan yang hampa, seolah-olah ia sedang berdiri di tengah kuburan dan bukan perjamuan megahnya sendiri.

​Adrian... batin Alena menjerit, suaranya terkunci rapat di dalam dada. Maafkan aku...

​Tiba-tiba, lonceng besar istana berdentang tiga kali, menandakan saatnya pengumuman resmi pertunangan dipanjatkan. Raja Cedric mengangkat piala emasnya, suara nyaringnya memenuhi aula, memuji aliansi baru antara keluarga Valerian dan Ardent yang akan membawa kedamaian dan kejayaan bagi Aveloria.

​Seraphina membungkuk anggun menyambut tepuk tangan riuh para tamu. Sementara itu, Adrian melangkah maju sejenak untuk menerima ucapan selamat dari para menteri dewan.

​Pada momen itulah, tangan Adrian tanpa sengaja meraba bagian dalam saku jubahnya. Alena tahu apa yang dicari pria itu secara refleks. Adrian mencari liontin batu mawar perak yang biasa ia pegang ketika merasa tertekan atau terbebani. Namun jemari pangeran itu menyentuh saku yang kosong—karena liontin itu kini tersembunyi aman di balik dada Alena.

​Alena melihat Adrian menghentikan gerakannya sekilas. Kerutan halus muncul di dahi pangeran itu, dan matanya secara spontan terangkat, menatap ke arah galeri atas tempat Alena tersembunyi di balik bayangan tirai tebal.

​Untuk satu detik yang terasa seperti keabadian, mata abu-abu Adrian seakan menembus kegelapan dan menatap langsung ke dalam mata hijau hazel milik Alena.

​Jantung Alena serasa berhenti berdetak. Ia terengah pelan, melangkah mundur selangkah secara naluriah. Rasa ingin melompat turun dari galeri itu, berlari ke pelukan Adrian, dan membisikkan seluruh kebenaran hampir saja mematahkan akal sehatnya.

​"Waktu lima menitmu sudah habis, Nona," bisik Gareth pelan di sampingnya. Suara perwira itu tidak lagi terdengar galak, melainkan dipenuhi simpati tersembunyi yang dalam. "Kita harus pergi sekarang sebelum pengawal lain memeriksa area ini."

​Alena memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata hangat meluncur turun melintasi pipinya, menetes ke gaun sederhananya. Ia memaksa dirinya berbalik dan membelakangi kemegahan cahaya Aula Utama, melangkah masuk ke dalam kegelapan lorong rahasia bersama Gareth.

​Kereta kuda kusam tanpa lambang keluarga bangsawan menunggunya di luar gerbang barat istana. Malam begitu pekat, diiringi angin malam yang melambaikan pepohonan Hutan Elaris di kejauhan.

​Gareth membantunya naik ke dalam kabin kereta yang berbau kayu lembap dan jerami kering. Sebelum menutup pintu kayu kereta, sang kepala pengawal menyerahkan sebuah kantong kain kecil yang berdenting pelan oleh koin perak, serta surat pengunduran diri palsu Alena yang nantinya akan diserahkan kepada Adrian setelah wanita itu menghilang sepenuhnya.

​"Nona Alena," kata Gareth, menatap wanita muda di dalam kabin dengan raut wajah serius. "Saya tidak berhak bertanya apa yang sebenarnya terjadi antara Anda dan Lord Rowan. Tetapi jika boleh saya memberi satu nasihat... pergilah selauh mungkin dari batas Kerajaan Aveloria. Jangan pernah menginjakkan kaki di tanah ini lagi, apa pun yang terjadi."

​Alena menggenggam kantong koin itu kaku. "Terima kasih, Gareth. Untuk semuanya."

​"Semoga dewa melindungimu dan... kehidupan yang kau bawa," gumam Gareth pelan, sebuah pengakuan tersirat bahwa sang perwira sebenarnya tahu rahasia kehamilannya.

​Pintu kereta ditutup dengan dentuman kencang. Kereta kuda itu mulai melaju, roda-roda kayunya berderit menyusuri jalan setapak berbatu meninggalkan Istana Valerian yang megah di belakang mereka.

​Di dalam kabin kereta yang bergoyang keras, Alena duduk bersandar pada dinding kayu yang dingin. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan liontin perak pemberian Adrian, dan memeluknya erat di dada. Di balik kegelapan kereta yang membawa dirinya menuju pengasingan tanpa kepastian, Alena akhirnya membiarkan dirinya menangis terisak-isak, meratapi cinta yang harus ia korbankan dan masa depan yang kini harus ia raih sendirian demi keselamatan buah hatinya.

​Sementara itu, di dalam aula megah istana yang dipenuhi gelak tawa dan denting piala perak, Pangeran Adrian Valerian meraba sakunya yang kosong sekali lagi. Ia berdiri kaku di samping calon tunangannya, tidak tahu bahwa wanita yang memegang jiwanya baru saja melewati gerbang istana untuk terakhir kalinya, membawa serta rahasia terbesarnya yang kelak akan mengubah takdir Aveloria tujuh tahun kemudian.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!