Indonesia
NovelToon NovelToon

Terjebak Menjadi Villain Favorit

Bab 1

Pagi itu, Aruna bahkan tak sempat menutup halaman terakhir novel yang ia genggam erat semalaman. Matanya terasa perih dan berat, berbayang-bayang akibat begadang menuntaskan kisah The Crown's Beloved, sebuah cerita kerajaan yang begitu merajai pembaca, namun baginya menyimpan rasa kesal yang tak kunjung usai.

Bukan tokoh utama yang ia kagumi. Justru setiap kali nama Lady Evelyne Ashcroft muncul, bibirnya tak henti menggerutu.

"Wanita itu cantik, lahir dari keluarga bangsawan paling terpandang, memiliki segalanya... kenapa harus sebodoh itu membuang semuanya hanya demi mengejar pria yang jelas-jelas tak pernah memandangnya?" gerutunya pelan sambil membalik lembar terakhir.

Dan akhir kisah itu sungguh menyayat hati. Evelyne dijebak menjadi dalang percobaan pembunuhan, dikhianati oleh keluarganya sendiri demi menyelamatkan nama baik, pertunangannya diputus sepihak, hingga akhirnya ia harus berakhir di tiang gantungan di hadapan rakyat yang dulu memujanya.

Aruna menghela napas panjang. "Kalau aku yang jadi dia, aku pasti akan pergi jauh. Menjauh dari semua tokoh utama, hidup tenang di desa terpencil. Apa itu sulit?"

Belum sempat kata-kata itu hilang, rasa kantuk yang luar biasa menyergap. Ponsel terlepas dari genggamannya, kelopak matanya perlahan menutup rapat.

Namun alih-alih merasakan empuknya kasur, tubuhnya seolah melayang lalu jatuh bebas ke dalam jurang yang tak berdasar.

"AAAAH!"

Dentuman keras terdengar samar saat tubuhnya menghantam sesuatu yang empuk namun lebar. Aruna tersentak terbangun, napasnya memburu, dan hal pertama yang tertangkap pandangannya adalah langit-langit tinggi berukiran emas mewah. Tirai beludru merah menjuntai anggun dari jendela besar, sementara lampu kristal bergoyang pelan di atas kepalanya, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan.

"Di... di mana ini?"

Ia segera bangkit duduk. Tempat tidur yang ia huni begitu luas, karpet berbulu halus menutupi lantai, dan lemari besar berhias ukiran emas berdiri megah di sudut ruangan.

"Ini bukan kamarku..."

Kekhawatiran itu baru saja merayap saat ketukan pintu terdengar, disusul suara sopan seorang pelayan.

"Nona Evelyne? Apakah Anda sudah bangun? Tuan Duke dan seluruh keluarga sudah menunggu di ruang makan."

Evelyne?

Darah Aruna seketika berdesir hebat. Ia melompat turun dan berlari menuju cermin besar yang berdiri tegak di sudut ruangan.

Di sana, pantulan seorang gadis muda menatapnya balik. Rambut pirang keemasan yang berkilau, mata biru jernih seperti danau musim panas, dan wajah yang begitu sempurna hingga nyaris tak terlihat manusiawi.

Namun Aruna tak merasa bangga. Ia justru gemetar hebat.

'Ini... wajah Lady Evelyne Ashcroft...'

Jemarinya menyentuh pelan pipinya sendiri. Kulit yang halus dan dingin itu nyata.

'Aku... aku berubah menjadi penjahat itu?'

Seiring kalimat itu terucap, ribuan ingatan asing membanjiri benaknya sekaligus nama keluarga Ashcroft, aturan ketat dunia bangsawan, hubungan dengan setiap tokoh dalam cerita, hingga fakta bahwa ia telah bertunangan dengan salah satu pria paling berkuasa di kerajaan ini.

Aruna memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. 'Jangan bilang... aku benar-benar masuk ke dalam novel itu?'

Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu mereda, digantikan oleh kesadaran yang perlahan kembali utuh. Ia masih ingat setiap lembar cerita, setiap kejadian, dan setiap akhir nasib tokoh-tokohnya.

Dan saat ini, kisah baru saja dimulai. Tokoh utama wanita bahkan belum masuk ke akademi kerajaan. Artinya... waktu masih berpihak padanya.

Masih ada kesempatan untuk mengubah takdir.

Aruna mengepalkan tangannya erat, menatap pantulan dirinya dengan tekad yang baru tumbuh.

'Baiklah. Mulai sekarang, aku bukan Evelyne yang bodoh. Aku tak akan lagi mengejar Putra Mahkota atau mengganggu si tokoh utama."

'Bahkan jika perlu, aku akan berpura-pura sakit sampai cerita ini berakhir!'

Rencana itu terdengar begitu sempurna. Bagaimanapun juga, satu-satunya tujuan hidupnya sekarang hanyalah satu hal yaitu bertahan hidup.

Saat ia tersenyum kecil merasa puas, suara pelayan kembali terdengar dari balik pintu.

"Nona Evelyne? Tuan Duke mulai cemas menunggu Anda."

"A-ah! Aku segera turun!"

Aruna buru-buru merapikan gaun biru muda yang ia kenakan, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.

Bab 2

Koridor luas kediaman keluarga Ashcroft membentang jauh, lantai marmer putihnya berkilau memantulkan cahaya lampu gantung, seolah menjadi cermin raksasa yang tak bercela.

Di sepanjang dindingnya, lukisan para leluhur yang tampak gagah dan berwibawa tergantung rapi, sepasang mata mereka yang dilukis dengan teliti seolah tak lepas mengawasi setiap langkah yang melintas di bawahnya.

Di tengah keagungan itu, Aruna berjalan mengikuti pelayan yang berjalan di depannya. Ia kini menyandang nama besar Lady Evelyne Ashcroft, meski di dalam lubuk hatinya ia masih merasa seperti orang asing yang tersesat.

'Tenanglah... Jangan panik, Aku hanya perlu duduk, makan dengan sopan, lalu kembali ke kamar dengan selamat. Yang terpenting, jangan sampai membuat kesalahan bodoh seperti yang dilakukan Evelyne di dalam cerita itu.'

Langkah pelayan di depannya terhenti tepat di depan pintu besar ruang makan.

"Lady Evelyne telah tiba," ucap pelayan itu dengan suara jelas dan hormat.

Pintu kayu kokoh itu perlahan terbuka lebar, membiarkan Aruna melangkah masuk ke ruangan yang luas dan penuh kemewahan itu. Di meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni berkilau, sudah duduk empat orang yang memancarkan wibawa luar biasa, seolah udara di ruangan itu pun menjadi lebih berat karena kehadiran mereka.

Di kursi utama duduk Duke Arthur Ashcroft, wajahnya tegas dan penuh ketegasan yang tak bisa dibantah. Di sampingnya, Duchess Helena duduk dengan keanggunan yang memukau, setiap gerakannya memancarkan kemuliaan seorang wanita bangsawan sejati.

Tak jauh dari sana ada Adrian Ashcroft, kakak laki-laki Evelyne yang dikenal memiliki sifat dingin dan jarang tersenyum. Dan di ujung meja, sosok yang paling membuatnya tertegun...

Seorang pria berambut hitam pekat dengan sepasang mata kelabu setajam bilah pedang. Dialah calon tunangan Evelyne yaitu Cedric Ravenwood.

Saat pandangannya bertemu dengan wajah pria itu, Aruna tak bisa menahan kekaguman yang menyembur keluar dari benaknya.

[Wah... ternyata kenyataannya dia jauh lebih tampan daripada gambar ilustrasi di sampul buku itu!]

Namun di saat yang sama, jantung Cedric seakan berhenti berdetak. Cangkir teh yang baru saja ia angkat perlahan terhenti di udara, nyaris terlepas dari genggaman tangannya.

Tadi... apakah ia salah dengar? Atau mimpi?

Sungguh, ia mendengar suara seorang wanita yang jernih persis seperti suara Evelyne. Padahal gadis itu baru saja berdiri diam, bibirnya terkunci rapat, belum sempat membuka mulut sedikit pun.

Bukan hanya Cedric. Duke Arthur pun mengernyitkan dahi lebar, matanya menatap heran ke sekeliling ruangan.

"Siapa yang baru saja berbicara?" tanyanya dengan suara berat yang bergema.

Keheningan menyelimuti ruangan. Semua orang saling berpandangan bingung, saling bertanya lewat tatapan tanpa sepatah kata pun. Tak ada yang mengaku, tak ada yang menggerakkan bibir.

Aruna ikut merasa bingung. Ia melirik kanan-kiri. [Mengapa mereka semua saling menatap dengan wajah aneh seperti ini?]

Namun pertanyaan itu terjawab sendiri ketika suara itu kembali terdengar, lebih jelas dan nyata dari sebelumnya. Dan kali ini, setiap orang yang hadir seketika menyadari bahwa suara itu berasal dari arah gadis itu.

Adrian menyipitkan matanya tajam ke arah adiknya. "Ayah... suara itu..."

Duchess Helena menggenggam gagang sendok peraknya semakin erat hingga buku jarinya memutih. "Itu suara Evelyne," ucapnya pelan namun penuh keyakinan.

Suasana hening seketika terasa menyesakkan dada. Aruna yang tak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa menyunggingkan senyum canggung, lalu menyapa dengan sopan, "Selamat pagi."

Namun di detik berikutnya, suara itu kembali memecah keheningan ruangan

[Kenapa semuanya menatapku begitu tajam? Jangan-jangan mereka sudah tahu bahwa aku bukanlah Evelyne yang asli? Ya Tuhan... jangan sampai rahasia transmigrasi ku terbongkar sekarang juga!]

Cedric terdiam kaku di tempatnya. Duke Arthur membelalakkan mata tak percaya. Trans... apa itu? pikirnya bergetar.

Bahkan Adrian yang selalu tenang nyaris tersedak air minumnya karena kaget yang luar biasa.

Mereka kembali menatap gadis itu. Evelyne masih berdiri dengan senyum sopan yang manis, bibirnya diam tak bergerak sedikit pun. Namun suara itu terus terdengar jelas di telinga mereka, seolah gadis itu sedang berbicara tepat di samping telinga masing-masing.

[Tenang Aruna. Jangan panik...]

Tanpa sadar Duke Arthur mengusap pelipisnya yang tiba-tiba terasa berat. 'Siapa Aruna? Dan mengapa putriku menyebut dirinya dengan nama lain?' batinnya penuh tanda tanya yang menumpuk.

Sementara itu, Cedric yang biasanya dingin dan tak tersentuh kini tak mampu mengalihkan pandangannya walau sedetik pun. Untuk pertama kalinya, wajah yang selalu datar itu kini terbaca jelas rasa bingung yang mendalam.

Bab 3

"Evelyne..." panggil Cedric yang masih bingung dengan apa yang terjadi.

"Ya?" jawab Aruna dengan suara lembut.

"Apakah... kau baru saja mengatakan sesuatu?" tanyanya lagi, ingin memastikan apakah pendengarannya benar-benar tidak salah.

Aruna segera menggeleng cepat, "Tidak."

[Sesuatu apa? Dari tadi aku diam, memangnya mereka bisa mendengar suara dalam pikiranku?]

Sekarang tak ada lagi keraguan di hati mereka. Cedric, Adrian, Duke, dan Duchess... keempatnya diam seribu bahasa.

Sementara itu Aruna sama sekali belum menyadari keanehan itu. Ia duduk dengan gerakan anggun di kursi yang telah disiapkan, lalu membiarkan pelayan menyajikan roti hangat, sup krim yang harum, telur rebus, dan teh yang mengepulkan uapnya. Matanya berbinar gembira melihat hidangan itu.

[Wah, sungguh indah pemandangannya... makanan ini pasti rasanya luar biasa lezat, meski sayang sekali... Duke ini nanti akan kehilangan separuh harta kekayaannya hanya karena terlalu percaya pada omongan manis Duke Harold.]

Krak!

Suara benda yang jatuh terdengar nyaring memecah keheningan. Sendok perak milik Duke Arthur terlepas dari tangannya dan jatuh berdentang di atas piring.

Semua kepala seketika menoleh serentak. Kehilangan harta? Duke Harold? Bukankah Harold adalah sahabat lamanya yang paling ia percaya selama bertahun-tahun ini? Pria yang ia anggap saudara sendiri?

Duke Arthur menatap putrinya dengan sorot mata yang kini jauh lebih tajam dan penuh perhatian, seolah ingin menembus setiap pemikiran yang tersembunyi di kepala gadis itu.

"Evelyne," panggilnya sekali lagi dengan nada yang berat.

"Ya, Ayah?" jawab Aruna ramah.

"Bagaimana pendapatmu tentang Duke Harold?"

Aruna hampir saja melontarkan jawaban yang keluar begitu saja dari mulutnya, namun ia segera menahan diri dan memaksakan senyum sopan. "Beliau... adalah orang yang terlihat sangat baik," jawabnya pelan.

Namun suara di dalam ruangan itu kembali meledak dengan ketulusan yang tak terbendung, [Orang baik dari mana? Dia sebenarnya penjahat yang paling kejam! Dia yang akan datang untuk menipu Ayah sampai tak bersisa!]

Jantung Duke Arthur berdegup kencang seolah dipukul palu yang berat. Kini ia tak lagi ragu sedikit pun. Apa pun yang sedang terjadi di sini, suara yang bergema di telinganya bukanlah khayalan semata.

Suasana di ruang makan yang luas itu perlahan berubah menjadi hening yang canggung, seolah ada beban berat yang menekan dada setiap orang yang hadir. Tak ada lagi yang bergerak untuk menyentuh hidangan di piring masing-masing.

Satu-satunya suara yang terdengar jelas hanyalah bunyi lembut peralatan makan yang beradu pelan, saat Aruna dengan santai dan nikmat menyantap sup krim yang disajikan di hadapannya.

[Rasanya sungguh luar biasa lezat... Pantas saja keluarga Ashcroft hidup makmur dan kaya raya. Bahkan sup sederhana untuk sarapan pagi ini saja rasanya jauh lebih nikmat daripada hidangan istimewa di restoran mewah mana pun]

Keempat orang yang duduk mengelilingi meja panjang itu kembali saling bertukar tatapan penuh tanda tanya. Sekali lagi suara itu terdengar nyata di telinga mereka, namun mata mereka yang jeli menangkap hal yang sama bahwa sedari tadi bibir Lady Evelyne tetap terkunci rapat, tak bergerak sedikit pun seolah tak ada kata yang keluar.

Duchess Helena menjadi orang pertama yang tak sanggup lagi menyembunyikan kegelisahan yang merayap di hatinya. Ia memandang putrinya dengan sorot mata yang bercampur bingung dan khawatir.

"Evelyne..." panggilnya lembut namun menyisakan keraguan yang besar.

"Ya, Ibu?" jawab gadis itu dengan suara manis dan sopan.

"Apakah... kepalamu pernah terbentur benda keras akhir-akhir ini?" tanyanya hati-hati, berharap ada alasan yang masuk akal untuk semua hal aneh ini.

Aruna dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak ada sama sekali."

Namun suara yang langsung menyusul di benak mereka justru membuatnya menghela napas lega, [Syukurlah tidak terjadi hal demikian. Jika sampai kepala ini terluka, bisa-bisa aku malah lupa seluruh jalan cerita novel ini dan terjebak dalam masalah yang lebih besar lagi.]

Hening kembali menyelimuti ruangan. Wajah Duchess Helena tampak kian bingung, tak mampu menemukan jawaban yang pas atas segala hal yang terjadi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!