Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Check-in Tiada Tanding

Bab 1

Hari ini adalah penentuan nasib bagi seluruh siswa tingkat akhir.

Suasana di aula SMA Pertama Kota Jinghai terasa sangat panas dan mencekam.

Ribuan siswa berkumpul dengan wajah tegang yang tidak bisa disembunyikan.

Mereka sedang menunggu giliran untuk naik ke atas panggung utama.

Di atas panggung itu, terdapat sebuah batu kristal raksasa yang memancarkan cahaya biru redup.

Itu adalah Batu Kebangkitan, artefak yang akan menentukan masa depan mereka semua.

"Hei, kau dengar tidak? Katanya tahun ini standar kelulusan Akademi Naga Bintang dinaikkan lagi!"

"Benarkah? Aduh, tamatlah riwayatku kalau begitu."

"Kalau aku tidak membangkitkan bakat minimal Rank C, ayahku pasti akan membunuhku."

Suara obrolan dan bisik-bisik para siswa terdengar saling bersahutan di seluruh penjuru aula.

Di tengah kerumunan yang gelisah itu, Chen Mo berdiri dengan sangat tenang.

Wajahnya datar, tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana seragamnya.

Seolah-olah acara kebangkitan ini hanyalah tes ulangan harian biasa baginya.

"Chen Mo, apa kau tidak gugup sama sekali?"

Sebuah suara lembut terdengar dari sampingnya.

Chen Mo menoleh dan melihat Su Mengqi sedang menatapnya dengan raut wajah khawatir.

Gadis itu sangat cantik, dengan rambut hitam panjang yang diikat menyerupai ekor kuda.

Su Mengqi adalah teman masa kecilnya yang selalu menempel bersamanya sejak mereka masih di taman kanak-kanak.

"Tidak ada gunanya merasa gugup, Mengqi."

"Lagipula, nilai ujian teoriku sudah cukup untuk mengamankan satu kursi di akademi," Chen Mo menjawab dengan nada datar.

Su Mengqi memanyunkan bibirnya, tampak sedikit kesal dengan jawaban yang kelewat santai itu.

"Kau ini selalu saja begitu, terlalu percaya diri dengan nilai teorimu."

"Tapi dunia ini digerakkan oleh kekuatan kultivasi, bukan sekadar angka di atas kertas."

"Aku hanya berharap kita berdua bisa mendapatkan bakat yang bagus hari ini," Su Mengqi menundukkan kepalanya, memainkan ujung seragamnya.

"Ya, semoga saja begitu," Chen Mo mengangguk pelan.

Teng! Teng! Teng!

Suara bel yang menggema keras memecah keributan di dalam aula.

Seorang pria paruh baya dengan aura yang sangat mengintimidasi melangkah maju ke depan Batu Kebangkitan.

Dia adalah Kepala Sekolah Lin, sosok kultivator kuat yang dihormati di Kota Jinghai.

"Semuanya, harap diam!"

Suara Kepala Sekolah Lin bergema, diperkuat oleh energi spiritual hingga membuat dada para siswa bergetar.

Aula yang tadinya berisik seketika menjadi hening tanpa suara.

"Upacara Kebangkitan akan segera dimulai."

"Ingat, apa pun hasil yang kalian dapatkan hari ini, itulah takdir kalian."

"Siswa pertama, Su Mengqi! Silakan naik ke panggung!"

Mendengar namanya dipanggil pertama kali, bahu Su Mengqi tersentak kaget.

Dia menatap Chen Mo dengan mata yang sedikit gemetar.

"Pergilah, semuanya akan baik-baik saja," Chen Mo memberinya senyuman tipis untuk menenangkannya.

"Mm! Aku akan berjuang!"

Su Mengqi mengangguk kuat dan melangkah naik ke atas panggung.

Semua mata kini tertuju pada gadis cantik nomor satu di sekolah itu.

Su Mengqi meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan Batu Kebangkitan yang dingin.

Dia menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam.

Wuuush!

Seketika, gelombang energi yang luar biasa besar meledak dari dalam batu tersebut.

Cahaya biru redup itu tiba-tiba berubah menjadi cahaya keemasan yang sangat menyilaukan mata.

Cahaya itu membumbung tinggi hingga menembus atap aula.

Brak!

Beberapa jendela kaca di aula bahkan retak akibat tekanan energi yang melonjak tiba-tiba.

Layar holografik di atas batu itu berkedip cepat sebelum menampilkan huruf besar berwarna emas.

[Bakat Terdeteksi: Elemen Es Ilahi - Rank S!]

Keheningan total melanda aula selama beberapa detik.

Semua orang terpaku, mulut mereka terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.

"Rank S?! Apakah aku tidak salah lihat?!"

"Ya Tuhan! Seorang jenius telah lahir di sekolah kita!"

"Ini gila! Sudah sepuluh tahun tidak ada yang membangkitkan bakat Rank S di Kota Jinghai!"

Aula itu seketika meledak oleh sorak-sorai dan teriakan histeris dari para siswa dan guru.

Kepala Sekolah Lin bahkan gemetar karena terlalu bersemangat.

Dia menatap Su Mengqi seolah sedang melihat harta karun nasional.

"Luar biasa! Sangat luar biasa, Nak Mengqi!"

"Akademi Naga Bintang pasti akan langsung mengirimkan undangan VIP untukmu hari ini juga!" Kepala Sekolah Lin tertawa terbahak-bahak.

Su Mengqi membuka matanya perlahan.

Gadis itu menatap kedua tangannya sendiri dengan tatapan tidak percaya, lalu senyum lebar merekah di wajahnya.

Dia telah berhasil dan baru saja melangkah ke puncak dunia.

Di bawah panggung, Chen Mo masih berdiri dengan tenang.

"Syukurlah, dia mendapatkan bakat yang hebat," batin Chen Mo dengan tulus.

Namun, saat Su Mengqi turun dari panggung, sesuatu yang janggal terjadi.

Gadis itu tidak berjalan kembali ke arah Chen Mo.

Langkah kaki Su Mengqi terhenti di tengah jalan.

Dia ditahan oleh sekelompok siswa dari kelas elit, yang dipimpin oleh pemuda arogan bernama Lin Feng.

"Selamat, Mengqi. Aku sudah tahu kau pasti akan mendapatkan hasil yang luar biasa," Lin Feng tersenyum penuh pesona.

"Terima kasih, Tuan Muda Lin," Su Mengqi tersipu malu, nadanya jauh lebih lembut dari biasanya.

"Mulai sekarang, lingkaran pergaulanmu sudah berbeda."

"Kau tidak perlu lagi bergaul dengan orang-orang biasa," Lin Feng melirik sinis ke arah Chen Mo di kejauhan.

Chen Mo melihat kejadian itu dengan jelas.

Dia melangkah maju beberapa langkah dan melambaikan tangannya.

"Mengqi, selamat ya," ucap Chen Mo santai.

Su Mengqi menoleh ke arah Chen Mo.

Namun, tatapan gadis itu tidak lagi sehangat tadi.

Ada jarak, rasa superioritas, dan keengganan yang jelas terlihat di matanya.

"Ah, iya. Terima kasih, Chen Mo."

Su Mengqi menjawab dengan nada dingin dan kaku.

Dia bahkan tidak menatap mata Chen Mo saat mengucapkan kalimat itu.

Gadis itu kemudian membuang muka dan kembali asyik mengobrol dengan kelompok elit Lin Feng.

Seolah-olah Chen Mo tiba-tiba menjadi makhluk tak kasat mata yang tidak penting baginya.

Chen Mo memiringkan kepalanya sedikit.

Tangan kanannya yang tadinya melambai kini perlahan turun kembali ke dalam sakunya.

"Oh. Jadi begini jalannya. Kehidupan yang sangat realistis," batin Chen Mo tanpa ekspresi.

Tidak ada rasa sakit hati yang meledak-ledak, hanya sebuah pemahaman pragmatis tentang sifat dasar manusia.

Manusia akan selalu mencari tempat yang lebih tinggi, dan beban lama harus ditinggalkan.

"Siswa selanjutnya, Chen Mo! Naik ke panggung!"

Suara panggilan dari guru memecah lamunannya.

Bab 2

Chen Mo berjalan santai menaiki tangga panggung.

Banyak pasang mata menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Itu si juara satu teori itu, kan?"

"Halah, teori saja tidak cukup. Kita lihat saja apa bakatnya."

"Melihatnya sok tenang begitu membuatku muak. Dia pikir dia siapa?"

Bahkan Su Mengqi yang berada di kejauhan kini melipat tangannya di dada, menatap Chen Mo dengan ekspresi datar.

Chen Mo mengabaikan semua omongan sampah itu.

Dia berdiri di depan Batu Kebangkitan dan meletakkan kedua tangannya di sana.

Permukaan batu itu terasa dingin meresap ke telapak tangannya.

Chen Mo menunggu, dan semua orang di aula juga ikut menahan napas menunggu.

Satu detik berlalu, dua detik berlalu, tiga detik berlalu.

Tidak ada cahaya yang menyilaukan.

Tidak ada ledakan energi yang menggetarkan ruangan.

Hanya ada pendaran cahaya abu-abu kusam yang sangat lemah, seakan-akan lampu yang hampir mati.

Bzzzt...

Layar holografik berkedip lemah dan memunculkan satu huruf yang menyedihkan.

[Bakat Terdeteksi: Peningkatan Fisik Dasar - Rank F]

Aula itu kembali hening, namun kali ini bukan karena takjub.

Satu detik kemudian, suara tawa yang meledak-ledak menggema di seluruh ruangan.

"Pffft! Hahahahaha!"

"Rank F?! Serius?! Itu kan bakat paling sampah yang pernah ada!"

"Cuma peningkatan fisik dasar? Kuli panggul di pelabuhan juga punya bakat seperti itu!"

"Astaga, juara satu kita ternyata hanya seorang sampah! Hahahaha!"

Hinaan dan ejekan mengalir deras seperti air bah dari segala penjuru aula.

Bahkan para guru hanya bisa menggelengkan kepala mereka dengan ekspresi kecewa.

Kepala Sekolah Lin membuang muka, tidak tertarik lagi untuk melihat ke arah panggung.

Di sudut ruangan, Lin Feng tertawa mengejek dan menoleh pada Su Mengqi.

"Lihat itu, Mengqi. Untung saja kau sadar lebih awal."

"Kalian berdua sekarang hidup di dua dunia yang benar-benar berbeda," ucap Lin Feng puas.

Su Mengqi hanya menghela napas panjang.

"Ya. Untung saja," balas Su Mengqi pelan, matanya menatap Chen Mo dengan rasa iba yang bercampur dengan rasa jijik.

Di atas panggung, Chen Mo hanya menarik napas pelan.

Dia menatap huruf F di layar itu sejenak.

"Rank F, ya? Pantas saja tubuhku tidak merasakan perubahan energi apa pun," batinnya santai.

Dia menarik tangannya, merapikan kerah seragamnya, dan berbalik.

Wajahnya masih sedatar tembok, ketenangannya sama sekali tidak goyah oleh ribuan tawa yang mengelilinginya.

Chen Mo menuruni panggung dengan langkah kaki yang teratur.

Dia berjalan melewati kerumunan siswa yang secara otomatis membuka jalan untuknya, seolah menghindar dari penyakit menular.

Chen Mo terus berjalan hingga dia melewati Su Mengqi.

Gadis itu sedikit memalingkan wajahnya, enggan bertatap mata.

Chen Mo tidak berhenti, dia juga tidak menoleh ke arah gadis itu.

Dia berjalan lurus keluar dari pintu aula, meninggalkan segala keributan dan kepalsuan di belakangnya.

Matahari mulai terbenam saat Chen Mo berjalan menyusuri trotoar menuju rumahnya.

Angin sore berhembus menerpa wajahnya yang tenang.

Sesampainya di rumah, dia membuka pintu dan melihat ayah serta ibunya sedang duduk di ruang tamu.

Wajah mereka tampak suram, jelas mereka sudah melihat pengumuman hasil kebangkitan dari grup wali murid.

"Mo-er..." Ibunya berdiri dengan mata berkaca-kaca.

Ayahnya hanya menghela napas panjang dan menepuk sofa di sebelahnya.

"Duduklah, Nak. Tidak apa-apa," ucap ayahnya dengan suara serak.

"Rank F bukanlah akhir dari dunia, kau masih bisa menjadi pegawai kantoran biasa dengan otak pintarmu itu."

Ibunya tidak tahan lagi dan mulai menangis pelan.

Chen Mo tersenyum tipis dan berjalan menghampiri mereka.

"Ayah, Ibu, jangan berlebihan begitu."

"Aku tidak apa-apa, sungguh. Cuma Rank F, bukan berarti aku akan mati kelaparan besok," ucap Chen Mo santai.

Dia menepuk bahu ayahnya dengan lembut.

"Aku agak lelah, aku mau langsung ke kamar dan istirahat."

Melihat ketenangan putranya, kedua orang tuanya hanya bisa mengangguk pasrah.

Chen Mo masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.

Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk.

Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.

"Hidup memang kadang selucu ini," batinnya perlahan.

Matanya perlahan terasa berat dan dia bersiap untuk tidur.

Namun, tepat pada saat itu, sebuah suara mekanis yang sangat jernih dan dingin bergema langsung di dalam tengkoraknya.

Ting!

[Mendeteksi fluktuasi mental yang stabil dalam menghadapi krisis.]

[Persyaratan terpenuhi.]

Chen Mo tersentak kaget dan langsung duduk dari kasurnya.

Sebuah layar holografik transparan berwarna biru tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya.

[Sistem Check-i berhasil diikat pada Host: Chen Mo.]

Chen Mo menatap layar itu tanpa berkedip.

'Sistem? Aku pernah membaca ini di novel-novel terkenal."

Ujung bibirnya perlahan melengkung ke atas, membentuk senyuman misterius untuk pertama kalinya hari ini.

[Apakah Anda ingin melakukan Check-in?]

"Ya. Lakukan Check-in."

Bab 3

"Ya. Lakukan Check-in," ucap Chen Mo tanpa ragu.

Suara mekanis yang dingin itu kembali bergema di dalam kepalanya.

Ding!

[Check-in hari pertama berhasil.]

[Karena ini adalah check-in pertama Host, Host mendapatkan Hadiah Pemula Kritis.]

[Mendapatkan: Pil Pembersih Sumsum Tingkat Sempurna x1.]

[Mendapatkan: Poin Atribut Fisik x10.]

Sebuah botol giok kecil berukir naga tiba-tiba muncul dari udara kosong dan jatuh tepat di atas telapak tangan Chen Mo.

Chen Mo menatap botol giok itu dengan mata sedikit melebar.

"Pil Pembersih Sumsum? Dan tingkat sempurna?" gumamnya pelan.

Dia adalah juara satu ujian teori di sekolah, tentu saja dia tahu apa arti pil ini.

Pil Pembersih Sumsum adalah harta karun yang biasanya hanya bisa dibeli oleh keluarga konglomerat di pelelangan elit.

Fungsinya adalah untuk membuang kotoran dari dalam tubuh dan memperlebar saluran energi spiritual.

Apalagi ini adalah tingkat sempurna, barang yang bahkan tidak pernah terlihat di Kota Jinghai.

"Jika ini nyata, maka Rank F milikku hanyalah sebuah lelucon," batin Chen Mo dengan tenang.

Dia membuka tutup botol giok itu tanpa ragu sedikit pun.

Aroma herbal yang sangat harum dan menyegarkan langsung memenuhi seluruh ruangan kamarnya.

Hanya dengan mencium aromanya saja, Chen Mo merasa pikirannya menjadi sangat jernih.

Dia menuangkan sebuah pil bundar seukuran kelereng yang memancarkan cahaya keemasan redup ke telapak tangannya.

Glek.

Tanpa berpikir panjang, Chen Mo langsung menelan pil tersebut.

Satu detik pertama, tidak ada yang terjadi.

Namun pada detik berikutnya, suhu tubuhnya melonjak drastis seolah-olah dia baru saja dilempar ke dalam kawah gunung berapi.

Syuuut!

Arus energi yang sangat panas meledak dari perutnya dan menyebar dengan ganas ke seluruh pembuluh darahnya.

Chen Mo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah untuk menahan teriakannya.

Dia tidak ingin membangunkan kedua orang tuanya yang sedang tidur di kamar sebelah.

Rasa sakitnya luar biasa, seakan-akan tulang-tulangnya sedang dihancurkan dan disusun kembali satu per satu.

Keringat hitam berbau busuk mulai keluar dari pori-pori kulitnya.

Itu adalah racun dan kotoran yang mengendap di dalam tubuhnya selama belasan tahun.

Proses penyiksaan itu berlangsung selama hampir dua jam sebelum akhirnya energi panas itu perlahan mereda.

Bruk.

Chen Mo jatuh terlentang di atas kasurnya dengan napas terengah-engah.

Tubuhnya dipenuhi lapisan kotoran hitam yang lengket, bau busuknya sangat menyengat hidung.

Namun anehnya, dia belum pernah merasa seringan dan sekuat ini seumur hidupnya.

"Sistem, buka panel statusku," ucap Chen Mo di dalam hati.

Layar biru transparan kembali muncul di hadapannya.

[Status Host]

Nama: Chen Mo

Kekuatan Fisik: 25 (Rata-rata manusia dewasa adalah 10)

Kelincahan: 24

Kekuatan Spiritual: 15

Bakat Tersembunyi: Tubuh Emas Tanpa Noda (Tahap Awal)

Chen Mo menatap panel itu dengan senyum tipis yang memuaskan.

Kekuatan fisiknya telah melonjak lebih dari dua kali lipat dalam satu malam berkat sistem ini.

Bahkan dia sekarang memiliki bakat tersembunyi yang terdengar sangat luar biasa.

"Ternyata begini rasanya menjadi karakter utama," gumam Chen Mo pelan.

Dia bangkit dari kasur dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Air dingin yang mengguyur tubuhnya terasa sangat menyegarkan.

Saat dia melihat ke cermin, Chen Mo sedikit terkejut dengan pantulan dirinya sendiri.

Otot-otot tubuhnya kini terbentuk dengan sangat proporsional dan padat.

Kulitnya yang tadinya sedikit pucat kini terlihat sehat dan bersinar, matanya juga tampak lebih tajam dari biasanya.

Dia mengepalkan tangannya dan bisa mendengar suara retakan kecil dari tulang-tulangnya yang dipenuhi tenaga.

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sedikit canggung.

Ibu Chen Mo menyajikan sarapan dengan senyum yang dipaksakan.

"Mo-er, makanlah yang banyak. Hari ini kau harus mengurus dokumen pendaftaran ke Akademi Naga Bintang, kan?" tanya ibunya lembut.

"Iya, Ibu. Hari ini hanya penyerahan formulir terakhir," jawab Chen Mo sambil melahap buburnya dengan santai.

Ayahnya yang sedang membaca koran pagi melirik ke arahnya.

"Jika ada yang mengolok-olokmu di sekolah, abaikan saja mereka."

"Kau masuk akademi dengan nilai jerih payahmu sendiri, bukan karena belas kasihan siapa pun," ucap ayahnya dengan nada tegas.

"Tenang saja, Ayah. Aku tahu apa yang harus kulakukan," Chen Mo tersenyum menenangkan.

Selesai sarapan, Chen Mo berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki seperti biasa.

Udara pagi terasa lebih segar, dan pendengarannya kini jauh lebih tajam.

Dia bahkan bisa mendengar kepakan sayap burung dari jarak puluhan meter di atas pohon.

Sesampainya di gerbang SMA Pertama Kota Jinghai, suasana langsung berubah drastis.

Tatapan mata dari para siswa yang melewatinya penuh dengan cemoohan dan ejekan yang tidak ditutupi.

"Eh, lihat. Itu si jenius Rank F kita."

"Muka tembok sekali dia masih berani datang ke sekolah."

"Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah mengurung diri di kamar sambil menangis meratapi nasib."

Bisik-bisik itu terdengar sangat jelas di telinga Chen Mo, namun dia sama sekali tidak peduli.

Dia berjalan menyusuri koridor dengan langkah teratur menuju ruang tata usaha.

Namun, langkahnya terhenti saat sebuah kaki tiba-tiba dijulurkan ke tengah lorong untuk menjegalnya.

Chen Mo berhenti tepat satu inci sebelum kakinya menyandung kaki tersebut.

Dia menoleh perlahan dan melihat Lin Feng berdiri menyandar di loker dengan senyum arogan.

Di sebelah Lin Feng, berdiri Su Mengqi yang hanya menatap Chen Mo dengan ekspresi rumit.

"Ups, maaf. Kakiku terlalu panjang, aku tidak melihat ada lalat lewat di bawah sana," ucap Lin Feng memancing tawa dari kroni-kroninya.

Su Mengqi menghela napas pelan.

"Chen Mo, jangan buat masalah. Cukup jalan memutar saja," ucap gadis itu dengan nada memerintah yang dingin.

Chen Mo menatap Su Mengqi sejenak, lalu beralih menatap Lin Feng.

"Tarik kakimu," ucap Chen Mo datar.

Lin Feng tertawa keras dengan nada meremehkan.

"Oh? Berani juga kau sekarang? Bagaimana kalau aku tidak mau?"

Lin Feng sengaja melepaskan sedikit tekanan energi spiritual dari tubuhnya.

Sebagai seseorang yang membangkitkan bakat Rank A, tekanannya cukup untuk membuat orang biasa kesulitan bernapas.

Namun, Chen Mo bahkan tidak berkedip.

Tekanan energi Lin Feng terasa seperti hembusan angin sepoi-sepoi bagi tubuhnya yang telah dibersihkan oleh pil tingkat sempurna.

"Kubilang, tarik kakimu," ulang Chen Mo, kali ini nadanya terdengar sedikit lebih mengancam.

Lin Feng merasa terhina karena tekanannya tidak berdampak sama sekali pada siswa sampah di depannya.

Pemuda arogan itu mendengus marah dan mencoba mendorong dada Chen Mo dengan tangannya yang dilapisi energi spiritual.

"Jangan sombong kau, sampah!" teriak Lin Feng.

Wuuussh!

Tangan Lin Feng melesat dengan cepat ke arah dada Chen Mo.

Bagi murid lain, gerakan itu terlalu cepat untuk dilihat oleh mata telanjang.

Namun di mata Chen Mo, gerakan Lin Feng terlihat lambat seperti adegan gerak lambat di film aksi murahan.

Plaak!

Sebuah suara tamparan keras bergema di sepanjang koridor sekolah.

Bukan menampar pipi, tapi Chen Mo dengan santai menepis pergelangan tangan Lin Feng dengan punggung tangannya sendiri.

Tepisan itu terlihat sangat biasa, tapi tenaga fisiknya yang telah mencapai angka 25 langsung bekerja.

Krak!

"Arghhh!"

Lin Feng menjerit kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini terkilir dengan sudut yang tidak wajar.

Tubuhnya terhuyung mundur hingga menabrak deretan loker besi di belakangnya.

Brak!

Koridor itu seketika menjadi hening dan sunyi senyap.

Semua orang melebarkan mata mereka, menatap kejadian itu seolah-olah mereka baru saja melihat hantu di siang bolong.

Lin Feng, murid jenius Rank A, baru saja ditepis hingga tangannya terkilir oleh seorang siswa Rank F?

"Tuan Muda Lin!" teriak kroni-kroninya panik sambil bergegas menolong.

Su Mengqi menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya menatap Chen Mo dengan penuh ketidakpercayaan.

"C-Chen Mo, apa yang baru saja kau lakukan?!" seru Su Mengqi dengan suara bergetar.

Chen Mo hanya merapikan lengan seragamnya yang sama sekali tidak kusut.

"Dia mencoba menyerangku, aku hanya menepisnya. Sesederhana itu," jawab Chen Mo datar tanpa rasa bersalah.

Dia melangkah maju mendekati Lin Feng yang masih meringis kesakitan di lantai.

Chen Mo membungkukkan badannya sedikit, menatap tepat ke mata Lin Feng yang kini dipenuhi rasa kaget dan takut.

"Ini area sekolah, Lin Feng. Gunakan otakmu sedikit sebelum bertindak seperti preman," bisik Chen Mo dengan nada dingin.

Tanpa menunggu balasan apa pun, Chen Mo kembali berdiri tegak.

Dia berjalan melewati Su Mengqi dan Lin Feng begitu saja, melanjutkan langkahnya menuju ruang tata usaha.

Langkah kakinya bergema pelan di koridor yang masih diselimuti keheningan panjang.

Di belakangnya, Su Mengqi menatap punggung pemuda itu dengan perasaan gundah yang sangat aneh.

"Apakah dia benar-benar Chen Mo yang kukenal?" batin Su Mengqi kebingungan.

Sementara itu, Chen Mo terus berjalan menyusuri sekolah sambil menatap layar biru yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

[Anda telah memasuki area Ruang Tata Usaha yang berdekatan dengan Brankas Sekolah.]

[Mendeteksi lokasi check-in khusus.]

[Apakah Anda ingin melakukan Check-in di lokasi ini?]

Chen Mo tersenyum tipis, matanya memancarkan ketertarikan.

"Tentu saja. Lakukan check-in," ucapnya dalam hati.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!