"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain."
Suara dokter terdengar pelan, tetapi setiap katanya menghantam dada Vivienne Laurent seperti palu. Kalimat itu sama dengan kalimat yang pernah menghancurkan dunianya setengah tahun lalu. Kini, kalimat itu kembali merenggut harapan yang susah payah ia bangun.
Vivienne memejamkan mata rapat. Air mata hangat mengalir tanpa henti dari sudut matanya, membasahi pipi yang pucat. Jemarinya yang dingin mencengkeram seprai putih hingga kusut, seolah hanya itu yang mampu menahan tubuhnya agar tidak benar-benar runtuh.
Perlahan, tangan Vivienne bergeser ke atas perutnya. Sentuhan itu begitu lembut, seakan ia masih berharap bisa merasakan kehidupan kecil yang dijaganya dengan sepenuh hati sebulan belakangan ini. Kini rahim itu kembali kosong.
Sesak memenuhi dada wanita berusia 35 tahun itu hingga membuatnya sulit bernapas. Isak kecil lolos dari bibirnya yang bergetar.
"Kenapa?" bisik Vivienne lirih. Kelopak matanya tetap terpejam saat air mata terus mengalir. "Apakah aku memang tidak pantas menjadi seorang ibu?"
Tak ada jawaban. Tak ada suara yang mampu menghapus luka itu.
Ruangan rawat inap terasa begitu sunyi. Hanya bunyi monitor yang berdetak pelan, terdengar seperti hitungan mundur yang mengiringi hancurnya harapan seorang perempuan.
Vivienne memalingkan wajah. Pandangannya jatuh pada jendela kamar yang memperlihatkan langit sore berwarna kelabu.
Sebulan yang lalu, Vivienne sangat bahagia ketika dokter mengatakan dirinya positif hamil. Dia sampai melakukan bed rest karena takut keguguran seperti kehamilannya yang pertama.
Beberapa hari lalu, Vivienne masih membayangkan dirinya menggendong bayi mungil. Ia bahkan sempat berbicara pada janin di dalam kandungannya setiap malam, menceritakan betapa bahagianya ia menunggu hari kelahiran. Kini, semua impian itu lenyap begitu saja.
Pintu kamar perlahan terbuka. Dominic Ashcroft melangkah masuk.
Biasanya pria itu selalu tampil rapi dengan jas yang pas di tubuhnya. Namun kali ini, dasinya longgar, rambutnya sedikit berantakan, dan jas mahal yang dikenakannya tampak kusut. Sorot matanya memerah. Lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia pun tidak baik-baik saja.
Begitu melihat Vivienne membuka mata, Dominic segera menghampiri. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi ke samping ranjang lalu duduk di sana. Tangannya yang hangat menggenggam jemari dingin sang istri dengan hati-hati.
"Vivi," panggil Dominic pelan.
Vivienne menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Mata Dominic dipenuhi rasa khawatir. Sementara, mata Vivienne hanya menyisakan kesedihan yang begitu dalam. Tak satu pun dari mereka mampu mengucapkan kata-kata.
Keheningan itu justru terasa lebih menyakitkan. Bibir Vivienne bergetar. Dalam sekejap, semua usaha untuk terlihat tegar runtuh begitu saja. Ia menundukkan kepala dan menangis sesenggukan.
"Ma-maaf." Suara Vivienne patah. "Maaf, Dominic."
Dominic langsung menggeleng cepat. "Jangan minta maaf."
"Aku gagal lagi." Vivienne menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak semakin keras.
"Jangan bicara seperti itu," bisik Dominic. "Ini sudah menjadi takdir."
"Aku tidak bisa menjaga bayi kita," ucapnya dengan suara serak. "Aku bahkan tidak bisa melakukan satu hal yang paling kuinginkan— menjadi seorang ibu."
Dominic bangkit dari kursinya. Dengan sangat hati-hati ia memeluk tubuh Vivienne yang masih lemah.
"Kau tidak gagal," bisiknya sambil mengusap rambut panjang istrinya.
"Tapi bayi kita pergi lagi."
"Kau tidak pernah gagal, Vivi."
Suara Dominic begitu lembut, membuat tangisan Vivienne semakin pecah. Ia mencengkeram bagian depan kemeja suaminya erat-erat, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat bersandar.
Ini adalah keguguran kedua. Enam bulan yang lalu, mereka pernah merasakan luka yang sama. Saat itu usia kandungan baru menginjak sebelas minggu.
Vivienne mengurung diri selama berhari-hari. Ia berhenti tersenyum, kehilangan nafsu makan, bahkan berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri.
"Kalau saja aku lebih berhati-hati. Kalau saja aku tidak terlalu banyak bekerja."
Kalimat-kalimat itu terus menghantuinya hingga membuatnya perlahan bangkit dengan susah payah.
Setelah tahun berlalu sebelum garis dua kembali menghiasi alat tes kehamilan. Hari itu, Vivienne menangis bahagia sambil memeluk Dominic. Ia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan doa mereka. Diam-diam Vivienne memilih beberapa nama yang menurutnya indah.
Di lantai dua rumah mereka, sebuah kamar mungil telah dicat dengan warna krem lembut. Sebuah boks bayi putih bahkan sudah berdiri rapi di sudut ruangan. Setiap malam, Vivienne masuk ke kamar itu hanya untuk membayangkan tawa kecil yang suatu hari akan memenuhi rumah mereka.
"Aku capek, Dominic." Suara Vivienne nyaris tak terdengar.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada sang suami sambil terus menangis. "Aku benar-benar capek."
Dominic mengusap rambutnya perlahan.
"Kalau memang Tuhan belum mengizinkan kita memiliki anak—"
"Aku tidak sanggup kehilangan lagi, tapi aku juga tidak sanggup berhenti berharap," potong Vivienne sambil mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
Dominic menatapnya lama. Lalu senyum tipis terukir di wajahnya. Senyum yang hangat dan menenangkan.
"Kalau begitu jangan menyerah." Pria berambut cokelat kemerahan itu menggenggam kedua tangan Vivienne dan menatap kedua matanya dengan penuh keyakinan.
"Jika kamu sungguh-sungguh ingin punya anak, masih ada satu jalan lagi."
"Apa?" tanya Vivienne mengerjap pelan.
"Kita jalani program bayi tabung," jawab Dominic.
Vivienne terdiam dan napasnya tertahan. Ia takut berharap terlalu tinggi dan takut kembali kehilangan.
"A-aku takut ga-gal lagi," ucap wanita berparas cantik dengan lensa berwarna biru itu, pelan.
Dominic mengangkat tangan Vivienne, lalu mengecup lembut punggung tangannya.
"Kalau gagal, kita bangkit lagi." Pria itu tersenyum tipis.
"Kalau gagal lagi?" Air mata Vivienne jatuh kembali membasahi pipinya yang mulus.
"Kita coba lagi."
"Kalau tetap gagal?"
Dominic mengusap pipi istrinya yang basah oleh air mata. "Aku tetap memilih hidup bersamamu."
Vivienne menatapnya lekat.
"Bagiku, kau jauh lebih penting daripada siapa pun." Dominic mengelus pipinya dengan ibu jari. "Kau adalah keluargaku. Kau adalah rumahku."
Air mata kembali mengalir di pipi Vivienne. Namun kali ini, di balik rasa sakit yang masih menyelimuti hatinya, muncul secercah kehangatan. Harapan yang tadi hampir padam perlahan menyala kembali.
Dengan bibir yang masih bergetar, ia menganggukkan kepala. "Baik, kita coba."
Vivienne menggenggam tangan Dominic lebih erat.
***
Assalamualaikum. Aku kembali lagi dengan karya baru. Semoga kalian suka. Sebagai dukungan kalian terhadap karya ini, jangan lupa selalu tinggalkan jejak like dan komentar, ya!
Enam Bulan Kemudian
Sudah enam bulan berlalu sejak Vivienne Laurent kehilangan buah hatinya untuk kedua kalinya. Luka di tubuhnya memang perlahan pulih, tetapi luka di hatinya masih sering terasa perih.
Setiap minggu, Vivienne rutin menjalani terapi sesuai anjuran dokter. Ia belajar menerima kehilangan sedikit demi sedikit, meski tak jarang air matanya kembali jatuh ketika melihat seorang ibu menggendong bayinya di ruang tunggu rumah sakit.
Beberapa kali Vivienne diam-diam masuk ke kamar bayi yang sudah mereka siapkan sejak kehamilan sebelumnya. Kamar itu masih sama. Dindingnya berwarna krem lembut. Boks bayi putih berdiri rapi di sudut ruangan. Lemari kecil berisi pakaian bayi yang belum pernah dipakai masih tertutup rapat.
Vivienne mengusap salah satu baju bayi berukuran paling kecil. Senyum tipis sempat terukir di bibirnya, tetapi hanya bertahan beberapa detik sebelum air mata kembali mengalir.
Dominic selalu menemukannya di sana. Tanpa banyak bicara, pria itu akan menghampiri, memeluknya dari belakang, lalu membiarkan Vivienne menangis hingga hatinya sedikit lebih lega.
"Aku masih ingin menjadi seorang ibu," bisik Vivienne suatu malam dengan suara bergetar.
Dominic mengusap rambut istrinya perlahan. "Dan kau akan menjadi ibu," jawabnya lembut. "Kita akan berjuang bersama."
Beberapa minggu kemudian, perjuangan itu benar-benar dimulai. Setiap hari, Vivienne harus menerima suntikan hormon untuk merangsang pertumbuhan sel telur. Jarum-jarum kecil meninggalkan bekas lebam di sekitar perutnya. Tubuhnya mudah lelah. Kepalanya sering pusing. Kadang ia mual tanpa sebab. Emosinya pun naik turun hingga membuatnya mudah menangis.
Suatu malam, setelah Dominic selesai menyuntikkan obat, Vivienne meringis pelan sambil memegang bagian perutnya.
"Sakit?" tanya Dominic dengan wajah penuh khawatir.
Vivienne mengangguk kecil. "Sedikit."
Dominic meniup pelan bekas suntikan itu, lalu mengecup kening istrinya. "Maaf. Aku tahu ini tidak mudah."
Vivienne tersenyum tipis. "Kalau semua rasa sakit ini bisa membawaku bertemu anak kita, aku akan menjalaninya."
Dominic menggenggam tangannya lebih erat. "Kau perempuan paling kuat yang pernah kutemui."
Mata Vivienne kembali memanas. "Aku hanya takut."
"Apa?"
"Takut semuanya berakhir sia-sia."
Dominic langsung menarik Vivienne ke dalam pelukannya.
"Tidak akan."
"Bagaimana kalau gagal lagi?"
"Kalau gagal, kita bangkit."
Jawaban itu selalu sama. Dan entah mengapa, setiap kali mendengarnya, hati Vivienne terasa sedikit lebih tenang.
Hari pengambilan sel telur akhirnya tiba. Vivienne mengenakan pakaian pasien sambil duduk di atas ranjang tindakan. Telapak tangannya terasa dingin. Jantungnya berdetak semakin cepat ketika seorang perawat datang menjelaskan prosedur yang akan dijalani.
Dominic duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan Vivienne dengan lembut. "Takut?" tanyanya.
Vivienne mengangguk pelan. "Sedikit."
Dominic tersenyum menenangkan. "Aku akan menunggumu di luar."
Vivienne menatap suaminya beberapa saat, lalu menarik napas panjang. "Jangan pergi."
Dominic mengusap pipinya. "Aku tidak akan ke mana-mana."
Vivienne mengangguk pelan sebelum akhirnya dibawa masuk ke ruang tindakan.
Beberapa hari kemudian Dokter Malcolm menyampaikan bahwa embrio berkembang dengan baik dan siap dipindahkan ke dalam rahim.
Vivienne berbaring tenang di ruang tindakan. Lampu putih di langit-langit tampak begitu terang. Dominic berdiri di sampingnya sambil menggenggam tangannya.
Vivienne memejamkan mata. Di dalam hati, ia terus mengulang doa yang sama.
"Tuhan, tolong izinkan kali ini berhasil. Aku tidak meminta apa pun lagi. Aku hanya ingin menjadi seorang ibu." Tanpa sadar, air mata mengalir dari sudut matanya.
Dominic mengusapnya pelan menggunakan ibu jarinya. "Kita pasti bisa," bisiknya.
Vivienne mengangguk pelan. Ia memilih mempercayai harapan itu sekali lagi.
Dua minggu berikutnya terasa seperti dua tahun. Setiap pagi, Vivienne bangun dengan perasaan cemas. Setiap malam, ia tidur sambil memeluk bantal dan berdoa agar embrio kecil itu tetap bertahan. Ia bahkan takut berharap terlalu tinggi. Takut kembali merasakan kehilangan.
Hingga akhirnya hari yang mereka tunggu tiba. Vivienne duduk di ruang konsultasi sambil menggenggam hasil pemeriksaan dengan kedua tangan yang gemetar. Ia menatap amplop putih itu cukup lama. Jantungnya berdetak begitu keras hingga memenuhi telinganya sendiri.
"Buka saja," ucap Dominic lembut sambil menggenggam tangannya.
Vivienne mengangguk pelan. Dengan napas tertahan, ia membuka hasil pemeriksaan. Matanya langsung terpaku pada satu kata.
Positif.
Tubuh Vivienne membeku. Beberapa detik kemudian, kedua tangannya menutup mulut. Air mata jatuh begitu saja.
Tangis bahagia yang selama ini ia pendam akhirnya pecah. "A-ku ... ha-mil," bisiknya lirih, seolah takut semua itu hanyalah mimpi.
Dominic langsung memeluknya erat. "Kita berhasil, Vivi!"
Vivienne menangis di dada suaminya tanpa mampu berkata apa-apa. Seluruh perjuangan selama berbulan-bulan seolah terbayar dalam satu detik.
Beberapa saat kemudian, ia mendongakkan wajahnya. "Aku benar-benar hamil, Dominic."
Dominic mengangguk sambil tersenyum hangat. "Ya."
Tangan pria itu perlahan menyentuh perut Vivienne. "Kali ini kita akan menjaga si kecil bersama."
Sebulan berlalu. Ruang pemeriksaan dipenuhi suara detak jantung kecil yang terdengar dari alat USG.
Vivienne menutup mulutnya sambil menangis haru. "Itu detak jantung bayi kita?" tanyanya dengan suara bergetar.
Dokter Malcolm tersenyum sambil mengangguk. "Ya. Kondisinya sangat baik."
Vivienne menoleh kepada Dominic. Keduanya saling tersenyum dengan mata yang sama-sama berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Vivienne kembali berani bermimpi. Ia mulai menyusun daftar nama bayi di buku kecil yang selalu dibawanya.
Setiap malam sebelum tidur, Vivienne mengusap perutnya sambil tersenyum. "Halo, Sayang."
Suara Vivienne terdengar begitu lembut. "Mama sudah tidak sabar bertemu denganmu."
Vivienne sama sekali tidak menyadari, bahwa di balik setiap doa, setiap air mata, dan setiap kebahagiaan yang kini memenuhi hidupnya, sebuah rahasia besar sedang menunggu. Rahasia yang suatu hari nanti akan menghancurkan seluruh dunia yang susah payah ia bangun.
Dominic Ashcroft menghentikan langkahnya di area parkir basement sebuah gedung studio. Sorot matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada wajah yang dikenalnya berada di sekitar sana.
Dua orang satpam sedang berbincang di dekat pintu keluar. Setelah merasa situasi benar-benar aman, Dominic membenarkan letak jasnya, lalu berjalan cepat menuju lift.
Pintu lift terbuka di lantai lima. Begitu keluar, aroma kosmetik dan parfum mahal langsung menyambutnya. Suara para penata rias yang sedang membereskan peralatan bercampur dengan obrolan para model yang baru selesai bekerja.
Langkah Dominic berhenti di depan sebuah ruang rias. Senyum tipis terbit di bibirnya. Di depan cermin besar yang dipenuhi lampu-lampu bulat, seorang wanita bergaun merah sedang melepaskan anting berlian dari telinganya.
Rambut panjang bergelombangnya terurai anggun di atas bahu. Wajah cantiknya masih terlihat sempurna meski telah menjalani pemotretan sejak pagi. Setiap gerakannya memancarkan pesona yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan.
Wanita itu adalah Giselle Moreau. Supermodel internasional yang wajahnya berkali-kali menghiasi sampul majalah mode dan billboard di berbagai kota besar.
Melihat bayangan Dominic di cermin, senyum Giselle langsung mengembang.
"Hai, Darling. Tunggu sebentar, ya. Aku bersihkan makeup dulu," sapanya manja
"Tidak usah terburu-buru," jawab Dominic sambil tersenyum.
Pria itu menarik sebuah kursi di dekat pintu, lalu duduk dengan santai. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponselnya. Beberapa pesan masuk memenuhi layar. Sebagian berasal dari rekan bisnis. Sebagian lagi dari asistennya.
Di antara semua notifikasi itu, matanya berhenti pada nama yang begitu dikenalnya.
Vivienne.
Dominic, jangan lupa makan siang, ya. Jangan terlalu capek bekerja. Aku dan si kecil menunggumu pulang.
Sudut bibir Dominic terangkat tipis. Namun, senyum itu bukan karena rasa haru. Ia hanya mengetik balasan singkat.
Baik. Jaga kesehatan kalian.
Pesan terkirim.
Tanpa ragu, Dominic langsung mengunci layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas.
Tak lama kemudian, Giselle berdiri. Wajahnya kini bersih dari riasan tebal, tetapi kecantikannya justru tampak semakin alami.
"Ayo, kita pergi."
Dominic bangkit dari duduknya.
Baru beberapa langkah berjalan, Giselle tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu membenarkan dasi Dominic dengan gerakan yang begitu akrab.
"Kau selalu tampan kalau memakai jas begini."
Dominic segera menangkap pergelangan tangan wanita itu. "Bukan di sini."
Giselle terkekeh pelan. "Takut ketahuan?"
"Aku tidak mau ada yang memotret kita."
"Kamu masih saja selalu berhati-hati." Giselle menggeleng sambil tersenyum menggoda.
Dominic menatapnya datar. "Ini bukan permainan."
"Bukan? Lalu apa?" Giselle mengangkat sebelah alisnya.
Dominic tidak menjawab. Ia hanya mengajak Giselle berjalan meninggalkan ruang rias.
Bukan rahasia lagi bagi beberapa orang di lingkungan kerja Giselle bahwa Dominic sering datang menjemput sang supermodel. Mereka memang tidak mengetahui hubungan sebenarnya, tetapi pemandangan keduanya bersama sudah terlalu sering terlihat untuk dianggap kebetulan.
Untungnya, dunia hiburan sudah terbiasa dengan kehadiran para pengusaha dan sponsor. Tak banyak yang mempertanyakan hubungan mereka.
Mereka memasuki lift..Begitu pintu tertutup, Giselle langsung menyelipkan jemarinya ke sela-sela jari Dominic.
Pria itu membalas genggaman tersebut. Tak satu pun dari mereka berniat melepaskannya hingga pintu lift kembali terbuka di area basement. Mereka berjalan berdampingan menuju deretan mobil.
"Aku baru saja menandatangani kontrak baru," ucap Giselle dengan mata berbinar.
Dominic menoleh. "Selamat."
"Minggu depan aku terbang ke Paris. Setelah itu lanjut ke New York. Jadwalku penuh sampai akhir tahun." Nada suara Giselle terdengar penuh semangat.
Dominic tersenyum bangga. Ia menatap wajah Giselle beberapa saat.
"Honey, kamu memang hebat. Aku bangga padamu."
Giselle berhenti melangkah. "Dari dulu kau selalu bilang begitu."
"Karena memang begitu."
Jawaban sederhana itu membuat senyum Giselle semakin lebar.
Dominic kembali memperhatikan wanita di depannya. Wajah itu nyaris tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu bertahun-tahun lalu. Kulitnya tetap mulus. Rambutnya tetap berkilau. Tubuhnya tetap ramping dengan lekuk yang sempurna.
"Ada apa?" tanya Giselle sambil terkekeh kecil.
"Kamu kelihatan semakin kurus." Dominic mengusap pelan pipi wanita itu. "Jangan terlalu memaksakan diri."
Giselle menggeleng. "Tidak bisa, Darling."
Wanita itu menatap tubuhnya sendiri. "Aku mempertahankan semua ini bukan tanpa perjuangan."
Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan, "Setiap pagi aku harus olahraga. Makananku ditimbang. Kalau ingin makan sesuatu, aku harus berpikir berkali-kali."
Dominic tertawa kecil. "Kamu memang keras kepala."
"Bukan keras kepala. Ini pekerjaanku." Giselle tersenyum tipis. Tatapannya menerawang. "Industri ini kejam. Sedikit saja berat badanku naik, mereka akan mencari model yang lebih muda."
Ucapan itu membuat Dominic teringat masa lalu. Bertahun-tahun lalu, ia pernah melamar Giselle. Saat itu ia yakin mereka akan membangun keluarga bersama. Namun, wanita itu menolak dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Dominic. Tapi aku belum siap meninggalkan karierku. Aku ingin menjadi supermodel terkenal di dunia."
Kalimat itu masih teringat jelas hingga hari ini. Tak lama setelah itu, hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda. Dominic menikahi Vivienne. Sementara Giselle mengejar impiannya hingga menjadi salah satu supermodel paling terkenal. Namun, perasaan mereka tak pernah benar-benar berakhir.
Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di samping mobil Dominic. Giselle memandang sekeliling lebih dulu sebelum kembali menatap pria itu.
"Bagaimana keadaan kandungan Vivienne?"
Dominic memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Kehamilannya baik."
Senyum tipis muncul di wajah Giselle. "Dia tidak curiga kan sedang mengandung anak kita?" tanya Giselle.
Dominic menggeleng pelan. Tatapannya dipenuhi rasa percaya diri. "Vivi tidak tahu kalau sel telur miliknya diganti sama sel telur milik kamu, Honey. Vivi terlalu percaya kepadaku."
Giselle senang. Dia bisa punya anak tanpa harus hamil dan melahirkan.
Giselle mengembuskan napas lega. Ia menatap Dominic lekat-lekat.
"Syukurlah. Yang penting semuanya berjalan sesuai rencana."
Dominic mengangguk singkat. "Sampai sekarang tidak ada hambatan."
Wajah Giselle berubah cerah. Rasa puas terpancar jelas dari sorot matanya. Ia membayangkan masa depan yang selama ini diimpikannya tanpa harus kehilangan karier yang sudah dibangun dengan susah payah.
"Setelah bayi itu lahir dan harta kekayaan Vivienne dipindah tangankan atas nama kamu dan anak itu, langsung saja ceraikan dia. Jangan lupa dengan janjimu," kata Giselle dengan mata memicing.
Dominic tersenyum tipis. "Aku tidak pernah melupakan janjiku."
Tatapan keduanya saling bertemu. Seolah sama-sama memahami arti dari kalimat itu tanpa perlu mengucapkannya lebih jauh.
"Darling, jangan sampai rencana yang sudah lama kita susun jadi berantakan!" ucap wanita itu dengan tegas.
"Tentu saja. Aku sudah merencanakan itu sejak dua tahun yang lalu. Sekarang perusahaan pun sudah aku pimpin."
Giselle mendekat, lalu memeluk Dominic dengan erat. "Aku semakin mencintaimu."
Dominic membalas pelukan itu. "Aku juga mencintaimu, Honey."
Tangannya mengusap lembut punggung wanita itu. "Semua ini kulakukan demi masa depan kita."
Giselle menutup mata sambil tersenyum puas. Ia benar-benar percaya bahwa sebentar lagi tidak akan ada lagi penghalang di antara mereka.
Namun, baik Dominic maupun Giselle tidak menyadari, di dalam sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tepat di samping kendaraan Dominic, seseorang sedang duduk dalam diam.
Kaca mobil itu tertutup rapat dengan lapisan film yang gelap. Dari balik sana, sepasang mata mengamati setiap gerakan mereka tanpa berkedip dan mendengarkan semua pembicaraan mereka.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!