Bab 1: Kecurigaan di Lantai 29
"Bang Bima, sini. Cepat. Yang ini seru banget."
Doni memiringkan ponselnya dari balik meja pos. Cahaya video berkedip-kedip di wajahnya, sementara satu earphone menggantung di telinga kiri.
Bima tidak menoleh.
Matanya tetap menyapu dua belas kotak CCTV di hadapannya.
Pukul 23.07 WIB. Akhir Juli, tetapi panas Surabaya masih menempel di kaca pos seperti lapisan minyak. Pendingin ruangan tua di atas pintu hanya menggeram tanpa membuat udara lebih sejuk. Di luar, lobi Apartemen Danau Utara telah sepi. Seorang pengemudi ojek daring tertidur di atas motornya dekat gerbang, sedangkan petugas kebersihan terakhir baru saja pulang sepuluh menit lalu.
"Kalau ketahuan Bang Jarot, ponselmu disita," kata Bima.
Doni mendengus. "Bang Jarot juga paling sekarang lagi karaoke. Memangnya dia pernah benar-benar cek CCTV?"
"Berarti malam ini kamu yang rajin."
"Rajin apaan? Aku ngajak nonton, malah diceramahin."
Bima hampir tersenyum. Hampir.
Gerakan kecil di monitor nomor delapan menahan perhatiannya.
Dua pria baru keluar dari lorong servis di belakang gedung. Keduanya memakai topi gelap dan jaket tipis meski udara malam terasa gerah. Yang berjalan di depan sempat menengadah ke arah kamera. Bukan tatapan penasaran orang yang tersesat. Ia hanya melihat sekali, cepat, untuk memastikan posisi lensa.
Kemudian pria itu menundukkan kepala dan mempercepat langkah.
"Don."
"Hmm?"
"Kamu kenal dua orang ini?"
Doni akhirnya berdiri. Ia mendekat sambil masih memegang ponsel. Di layar, kedua pria itu melewati lobi samping tanpa melapor ke pos, lalu masuk ke lift penghuni tepat sebelum pintunya tertutup.
"Kurir kali," jawab Doni.
"Tanpa paket?"
"Temannya penghuni."
Bima menunjuk panel kecil di sudut rekaman. Angka lift terus naik.
12.
18.
24.
29.
Lift berhenti.
Wajah Doni berubah sedikit. "Lantai dua puluh sembilan?"
Di lantai itu hanya ada dua unit besar. Penghuni unit sebelah barat sedang ke luar kota sejak tiga hari lalu; formulir pemberitahuan parkirnya masih terselip di laci pos. Unit timur dihuni seorang perempuan yang selalu pulang sendiri.
Bima tidak mengenalnya dekat. Hanya beberapa kali berpapasan di lobi. Perempuan itu selalu mengangguk, mengucapkan terima kasih saat dibukakan gerbang, dan tidak pernah memperlakukan seragam satpam seolah-olah seragam itu membuat pemakainya tak kasatmata.
Di gedung yang penghuninya sering melempar kunci mobil tanpa menatap wajah petugas, kesopanan kecil mudah diingat.
Monitor lantai 29 hanya menampilkan pintu lift dan sebagian koridor. Kamera di ujung timur sudah mati selama dua minggu. Bima telah menulisnya tiga kali di buku laporan. Manajemen tiga kali pula menjawab bahwa teknisi akan datang "secepatnya".
Kedua pria itu keluar dari lift. Salah seorang merogoh balik jaketnya. Sebuah benda logam memantulkan cahaya lorong sebelum mereka lenyap dari jangkauan kamera.
Doni menelan ludah. "Pisau?"
Bima sudah mengambil radio dari meja.
"Hubungi teknisi gedung. Minta mereka blokir akses lift ke lantai 29 setelah aku sampai. Kalau lima menit aku tidak mengabari, telepon polisi."
"Kita lapor Bang Jarot dulu, ya?"
"Lima menit."
"Bang, tunggu. Kita naik berdua saja."
Bima meraih pentungan listrik yang tersandar di bawah meja. Ia menekan tombol uji.
Tidak ada letupan. Tidak ada cahaya.
Baterainya mati sejak entah kapan. Pengajuan pengganti baterai tersimpan bersama laporan kamera rusak dan permintaan sepatu dinas yang tak pernah dijawab.
Doni menatap benda itu, lalu menatap Bima. "Pakai apa kalau mereka benar bawa pisau?"
Bima menyelipkan pentungan mati itu ke sabuknya.
"Seragam. Siapa tahu mereka takut."
"Bang Bima, aku serius!"
Namun pintu pos sudah menutup di belakangnya.
Bima melintasi lobi tanpa berlari. Langkah terburu-buru akan memancing perhatian orang di balik kamera, jika memang ada rekan lain yang mengawasi. Ia menekan tombol lift dan berdiri tepat di sisi pintu, bukan di depannya.
Tiga detik kemudian, bunyi denting terdengar.
Kosong.
Ia masuk, menekan angka 29, lalu melihat angka digital merangkak naik.
Selama dua belas tahun, ruang sempit semacam itu pernah membawanya menuju lantai hotel yang dipasangi bom, atap gedung tempat penembak jitu menunggu, dan ruang bawah tanah yang dijaga pria-pria bersenjata otomatis.
Malam ini ia hanya memakai seragam cokelat murah, sepatu yang sol kirinya mulai terkelupas, dan pentungan tanpa listrik.
Aneh. Ia justru merasa lebih tenang.
Radio di bahunya berdesis.
"Bang, teknisi gedung nggak angkat," suara Doni terdengar. "Aku telepon lagi."
"Tetap di pos. Pantau lobi dan tangga darurat."
"Kalau ada yang turun?"
"Kunci pintu pos. Jangan jadi pahlawan."
"Lah, terus Bang Bima jadi apa?"
Pintu lift terbuka sebelum Bima menjawab.
Koridor lantai 29 jauh lebih dingin daripada lobi. Lampu dinding berwarna kuning memantul di lantai marmer. Tidak ada suara televisi, percakapan, atau langkah kaki.
Hanya dengung pendingin sentral.
Bima keluar. Hidungnya menangkap bau tajam yang tidak seharusnya ada di koridor apartemen mewah.
Logam tergores.
Ia mendekati unit timur. Di bawah lampu, tampak bekas congkel baru pada sisi kunci. Daun pintu tidak tertutup rapat; celah hitam selebar dua jari terbuka di antara pintu dan kusen.
Dari dalam terdengar benturan tertahan.
Lalu suara benda berat jatuh.
Bima menekan tombol radio sekali, memberi tanda diam kepada Doni. Tangan kanannya menyentuh pentungan di sabuk, lalu melepaskannya lagi.
Benda mati itu hanya akan mengganggu.
Ia mendorong pintu dengan dua jari.
Ruang tamu berantakan. Bantal sofa tergeletak di lantai. Sebuah gelas pecah dekat meja. Televisi masih menyala tanpa suara, menampilkan iklan produk kecantikan yang terlalu cerah untuk ruangan setegang itu.
Pria pertama muncul dari balik dinding dapur.
Pisau lipat terbuka di tangannya.
Mata pria itu turun ke seragam Bima, lalu rasa tegang di wajahnya berubah menjadi ejekan.
"Cuma satpam."
Temannya keluar dari arah lorong kamar. Tubuhnya lebih besar, lehernya dipenuhi tato hitam. Ia juga memegang pisau.
"Pergi kalau masih mau hidup," katanya. "Anggap saja kamu nggak lihat apa-apa."
Bima melirik pintu kamar di belakang pria bertato. Tertutup. Di dekat ambangnya ada sobekan kain tipis berwarna pucat.
Sesuatu bergerak di balik pintu.
Isakan tertahan menyusul sesaat kemudian.
Tatapan Bima kembali kepada kedua pria itu.
"Taruh pisaunya," katanya.
Pria pertama tertawa. "Kamu tuli?"
Ia menerjang tanpa aba-aba. Bilah pisaunya bergerak dari bawah, mengarah ke perut.
Bima bergeser setengah langkah.
Ujung pisau lewat selebar kuku dari seragamnya.
Jari Bima menangkap pergelangan lawan. Tidak keras, tetapi tepat pada sudut yang mematikan tenaga genggam. Sebelum pria itu sempat mengumpat, telapak tangan Bima menghantam sisi lehernya.
Tubuh pria itu kehilangan kekuatan seketika.
Pisau jatuh lebih dulu.
Pemiliknya menyusul, ambruk di atas karpet tanpa sempat berteriak.
Pria bertato membeku.
Rasa meremehkan di matanya hilang. Ia mengangkat pisau dengan dua tangan, mundur satu langkah, lalu menggeram untuk menutup rasa takutnya sendiri.
"Bangsat!"
Ia menebas ke arah wajah Bima.
Bima merunduk, masuk ke sisi dalam lengan lawan, lalu mengunci siku dan bahunya dalam satu gerakan. Tubuh besar itu terpuntir. Lututnya menghantam lantai marmer dengan bunyi keras.
"Lepas!"
Bima menambah tekanan satu jari.
Pisau terlepas.
Pria itu mencoba meraih pinggangnya dengan tangan bebas. Bima sudah membaca gerak bahunya. Siku Bima menyentuh titik di bawah telinga.
Mata pria itu berputar. Ia jatuh menimpa temannya.
Semuanya selesai dalam beberapa detik.
Televisi masih menampilkan senyum seorang model. Pecahan gelas masih berkilau. Bahkan tetangga di unit seberang mungkin belum sempat mendengar apa pun.
Bima membungkuk, menendang kedua pisau ke bawah meja, lalu memeriksa napas para penyerang. Hidup. Pingsan. Salah satu akan bangun dengan leher kaku, yang lain dengan siku bengkak dan harga diri yang jauh lebih sakit.
"Bang?" Doni berbisik dari radio. "Ada apa? Aku dengar suara jatuh."
"Dua orang. Sudah aman. Telepon polisi sekarang. Bilang ada pembobolan dan senjata tajam."
Beberapa detik hanya berisi desis radio.
"Sudah... aman? Bang, kamu apakan mereka?"
Bima tidak menjawab.
Isakan dari kamar terdengar lagi.
Lebih lemah.
Ia melangkahi dua tubuh di lantai dan bergerak menuju lorong. Pintu kamar terkunci dari luar dengan seutas kabel yang dililitkan pada gagang. Bima merobek kabel itu, mencoba gagang pintu, lalu berhenti.
Dari balik kayu terdengar tarikan napas panik. Seperti seseorang sedang berusaha berteriak dengan mulut tersumbat.
"Saya satpam," kata Bima, cukup keras agar terdengar ke dalam. "Anda aman. Saya akan buka pintunya."
Tidak ada jawaban, hanya benturan kecil dan isak yang pecah.
Bima mundur satu langkah.
Tumitnya menancap. Bahunya berputar.
BRAK!
Daun pintu kamar jebol dari kusennya.
Bima masuk, dan pandangannya membeku pada sesuatu di dalam.
Bab 2: Anindya, Sang Janda yang Ditolong
Yang membuat pandangan Bima membeku bukan tubuh perempuan itu.
Melainkan mata ketakutan yang menatapnya dari atas tempat tidur.
Kedua tangan perempuan tersebut terikat pada sisi ranjang. Pergelangan kakinya disatukan dengan tali plastik, sementara mulutnya disumpal kain. Piyama saten berwarna gading yang dikenakannya robek pada bagian bahu. Satu tali tipis terlepas, memperlihatkan kulit yang memerah akibat gesekan.
Bima mengenal wajah itu.
Penghuni yang selalu menyapa satpam di lobi.
Perempuan itu berusaha mundur saat ia masuk. Punggungnya membentur kepala ranjang. Isak tertahan keluar dari balik sumpal.
"Tenang," kata Bima cepat. Ia mengangkat kedua tangan agar terlihat jelas. "Saya satpam yang tadi bicara dari luar. Dua orang itu sudah saya lumpuhkan."
Mata perempuan itu bergerak ke pintu, lalu kembali kepada Bima. Ketakutannya belum hilang, tetapi bahunya turun sedikit.
Bima memalingkan wajah seperlunya dan mengambil selimut tipis dari ujung ranjang. Ia menutupkannya ke bahu perempuan itu sebelum mendekat.
"Saya lepas sumpalnya dulu. Boleh?"
Perempuan itu mengangguk cepat.
Bima menarik simpul di belakang kepalanya. Begitu kain terlepas, perempuan itu menghirup udara dalam-dalam sampai batuk.
"Mereka... mereka di mana?"
"Di ruang tamu. Pingsan. Pisau mereka juga sudah saya amankan."
"Mereka akan masuk lagi. Pintu kamar..."
"Tidak akan."
Hanya dua kata. Suaranya tidak keras, tetapi perempuan itu berhenti menggigil sesaat.
Bima berjongkok di sisi ranjang untuk memeriksa ikatan tangannya. Tali plastik itu ditarik terlalu kencang hingga meninggalkan garis merah. Ia bisa memutuskannya dengan satu tarikan, tetapi bekas ikatan harus tetap utuh untuk barang bukti.
"Saya perlu melonggarkan simpulnya. Mungkin agak sakit."
"Nggak apa-apa. Cepat, tolong."
Jarinya bekerja di antara tali dan pergelangan. Perempuan itu tersentak ketika buku jari Bima tanpa sengaja menyentuh kulit bahunya yang terbuka.
Bima langsung menarik tangan.
"Maaf."
Perempuan itu menatap profil wajahnya. Di tengah keadaan yang berantakan, telinga satpam itu justru tampak sedikit merah.
"Saya nggak akan menuduh penyelamat saya macam-macam," gumamnya, masih terengah-engah.
Bima melirik sekilas. "Syukurlah. Gaji saya nggak cukup buat bayar pengacara."
Untuk pertama kalinya sejak pintu didobrak, sudut bibir perempuan itu bergerak tipis.
Simpul pertama terlepas. Bima memindahkan diri ke ujung ranjang dan membuka ikatan kaki tanpa komentar. Ia menjaga selimut tetap menutupi tubuh perempuan itu, bahkan ketika tangannya harus menjangkau simpul di balik pergelangan kaki.
Begitu bebas, perempuan itu segera merapatkan selimut ke dada.
"Ada yang sakit? Kepala terbentur? Mereka memukul Anda?"
"Mereka mendorong saya ke lantai." Ia menyentuh siku kirinya. "Cuma sakit di sini. Mereka belum sempat..."
Kalimatnya patah.
Bima tidak memaksanya menyelesaikan.
"Tidak perlu cerita sekarang. Polisi akan datang. Anda bisa menyampaikan sebatas yang Anda sanggup, lalu minta pemeriksaan medis kalau ada nyeri."
Perempuan itu mengangguk. Setelah beberapa tarikan napas, ia berkata, "Saya baru selesai mandi. Lagi nonton televisi di sofa. Mereka congkel pintu, lalu masuk begitu saja."
Tangannya kembali bergetar.
"Mereka minta uang. Salah satunya bilang... kalau saya nggak punya uang tunai, mereka akan ambil yang lain dari saya."
Mata Bima menjadi datar.
Di luar kamar, salah satu penyerang mengerang pelan.
Bima berdiri.
"Tetap di sini. Kunci pintunya setelah saya keluar."
Perempuan itu langsung mencengkeram ujung lengan seragamnya.
"Jangan tinggalkan saya."
Genggamannya lemah, tetapi cukup untuk menahan langkah Bima.
"Saya hanya ke ruang tamu untuk menelepon polisi," katanya. "Saya tidak akan pergi dari unit ini."
"Janji?"
"Janji."
Perempuan itu perlahan melepaskan lengannya.
Bima keluar dan membiarkan pintu kamar menutup. Dua penyerang masih tergeletak di dekat sofa. Pria bertato mulai sadar, tetapi tubuhnya belum mampu bergerak dengan benar. Matanya terbuka setengah saat Bima lewat.
"Jangan," kata Bima tanpa berhenti.
Pria itu membeku, lalu pura-pura pingsan lagi.
Bima mengambil ponselnya dan menelepon 110. Ia menyebut nama gedung, alamat, lantai, jumlah pelaku, kondisi korban, serta adanya dua pisau lipat. Petugas di ujung sambungan memintanya tidak memindahkan senjata atau membersihkan ruangan.
"Pelaku masih hidup dan bernapas," kata Bima. "Keduanya tidak terikat, tetapi belum mampu melawan."
"Jangan melakukan kekerasan tambahan. Amankan jarak dan tunggu petugas," jawab operator.
"Dipahami."
Setelah panggilan berakhir, radio di bahunya langsung berbunyi.
"Bang Bima? Polisi sudah aku hubungi juga," kata Doni. "Mereka benar-benar pingsan? Dua-duanya?"
"Iya."
"Bang pakai pentungan?"
Bima melihat pentungan mati di pinggangnya.
"Nggak sempat."
"Terus pakai apa?"
"Nanti saja. Buka akses petugas ke lift. Jangan izinkan penghuni lain naik ke sini."
"Siap. Tapi Bang..."
Bima mematikan radio sebelum pertanyaan berikutnya keluar.
Ia mengambil dua handuk bersih dari rak dekat kamar mandi, lalu meletakkannya di lantai untuk menandai jarak aman dari kedua pisau tanpa menyentuh barang bukti. Setelah itu ia berdiri di tempat yang bisa mengawasi ruang tamu dan lorong kamar sekaligus.
Pintu kamar terbuka beberapa sentimeter.
"Pak Satpam?"
"Saya di sini."
"Saya mau ganti baju."
"Silakan. Pintu depannya saya jaga."
"Jangan lihat ke sini."
Bima menatap lurus ke televisi. "Saya bahkan nggak tahu kamar Anda ada di sebelah mana."
Pintu terbuka sedikit lebih lebar. "Tadi Anda yang mendobraknya."
"Berarti saya lupa. Banyak kerjaan malam ini."
Hening sesaat. Kemudian terdengar tawa kecil yang masih bergetar.
"Pembohong."
Beberapa menit kemudian, perempuan itu keluar mengenakan gaun hitam sederhana dan kardigan tipis. Rambutnya yang masih lembap diikat seadanya. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya sudah lebih terarah.
Bima berdiri dari kursi dekat pintu.
"Polisi sedang menuju ke sini."
Perempuan itu memandang kedua penyerang, lalu berhenti. Bima langsung bergeser menutup sebagian pandangannya.
"Duduk saja. Jangan dekat-dekat mereka."
Ia mengantar perempuan itu ke sofa tunggal yang tidak tersentuh. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan meja kaca yang salah satu sudutnya retak.
"Saya belum tahu nama Anda," kata Bima.
Perempuan itu berkedip, seolah baru menyadari hal yang sama. "Anindya Kusuma. Panggil Anindya saja."
"Bima. Bima Prawira."
Anindya mengulurkan tangan. Bima menyambutnya dengan genggaman ringan, berhati-hati pada memar di sikunya.
"Terima kasih, Bima. Kalau kamu terlambat sedikit saja..."
"Saya tidak terlambat."
Anindya menatapnya lebih lama. Matanya turun ke pentungan yang masih utuh di pinggang, lalu ke kedua pria dewasa yang terkapar tanpa ikatan.
"Kamu pernah jadi tentara?"
Bima melepaskan tangannya. "Pernah."
"Tentara apa?"
"Yang gajinya juga nggak cukup buat pengacara."
Anindya mengembuskan napas yang nyaris menjadi tawa. Namun rasa ingin tahu di matanya tidak ikut hilang.
Dari kejauhan, sirene mulai terdengar mendekati kompleks.
Anindya merapatkan kardigan, lalu berkata pelan, "Sayang banget kalau kamu cuma jadi satpam di sini... kelihatannya kamu bisa jadi apa saja."
Bab 3: Kak Anin, Adik Bima
Sirene berhenti di bawah gedung kurang dari tiga menit kemudian.
Dua petugas naik bersama Doni. Rekan Bima itu tiba paling belakang, napasnya memburu meski datang memakai lift. Begitu melihat dua pria terkapar di lantai, langkahnya langsung terhenti.
"Bang Bima..."
"Jangan masuk terlalu jauh," kata Bima. "Pisau ada di bawah meja. Tali dan kain penyumpal di kamar. Jangan sentuh apa pun."
Petugas pertama mengenakan sarung tangan sebelum memeriksa kedua pelaku. Rekannya memotret posisi pisau, bekas congkel pada pintu depan, kabel di gagang kamar, serta ikatan yang sudah dilepas.
"Siapa yang melumpuhkan mereka?" tanya petugas itu.
Bima mengangkat tangan.
Petugas tersebut menatap seragamnya, lalu kedua pelaku, lalu pentungan yang masih terselip rapi di pinggang.
"Sendirian?"
"Mereka terpeleset berkali-kali, Pak."
Doni mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak. Bima meliriknya satu kali. Doni langsung menutup mulut.
Anindya duduk di sofa dengan kardigan dirapatkan. Seorang petugas menanyakan apakah ia membutuhkan ambulans. Setelah memeriksa memar di siku dan memastikan kepalanya tidak terbentur, Anindya memilih menjalani pemeriksaan lanjutan setelah laporan awal selesai.
Kedua pelaku dibangunkan, diborgol, lalu digiring ke lift. Pria bertato berjalan pincang dengan satu lengan menggantung kaku. Saat melewati Bima, ia berhenti setengah detik.
"Awas kau," desisnya. "Aku ingat mukamu."
Koridor mendadak sunyi.
Doni menegang. Anindya memucat lagi.
Bima hanya tersenyum tipis.
"Bagus," katanya. "Jadi lain kali kamu tahu harus lari ke arah mana."
Petugas mendorong pria itu masuk ke lift sebelum ia sempat menjawab.
Setelah pemeriksaan awal tempat kejadian selesai, Bima dan Anindya diminta ikut ke Polsek Danau Utara untuk membuat laporan serta memberikan keterangan terpisah. Doni kembali ke pos untuk menjaga akses gedung dan menyimpan rekaman CCTV agar tidak tertimpa rekaman baru.
"Jangan lupa salin bagian saat mereka masuk lorong servis," pesan Bima.
"Siap, Bang." Doni mengangguk cepat, lalu berbisik, "Tapi soal mereka terpeleset berkali-kali itu..."
"Jaga pos."
"Iya, iya. Rahasia negara."
Polsek Danau Utara hanya berjarak beberapa blok dari apartemen. Bima dan Anindya dibawa dengan kendaraan patroli yang berbeda dari kendaraan para pelaku.
Di dalam ruang pemeriksaan, lampu putih terasa terlalu terang. Seorang penyidik meminta Bima menjelaskan kejadian sejak melihat dua pria di CCTV sampai petugas tiba. Pertanyaannya diulang dari beberapa sudut: kapan ia masuk, siapa menyerang lebih dulu, di mana pisau ditemukan, dan apakah ia memukul setelah lawan tak mampu melawan.
Bima menjawab singkat dan konsisten.
"Saya menghindari serangan pertama, menguasai pergelangan pelaku, lalu menghentikan perlawanan. Setelah keduanya jatuh, saya tidak memukul lagi."
Penyidik memandang lembar catatannya. "Anda punya pelatihan bela diri?"
"Pernah mendapat pelatihan saat bekerja di luar negeri."
"Militer?"
Bima diam sepersekian detik. "Sejenis itu."
Penyidik mengangkat alis, tetapi tidak memaksa. Ia meminta KTP Bima untuk melengkapi data.
Saat Bima membuka dompet, selembar foto lama terlepas dan meluncur ke lantai.
Anindya kebetulan baru keluar dari ruang pemeriksaan sebelah. Ia membungkuk lebih cepat dan mengambilnya.
Foto itu sudah pudar di bagian sudut. Dua pemuda memakai seragam loreng berdiri di samping mobil sport merah yang berdebu. Senapan tergantung di dada mereka. Pemuda di sebelah kiri menyeringai lebar sambil merangkul bahu Bima; Bima sendiri tampak lebih muda, lebih kurus, tetapi tatapannya sama, tenang seperti seseorang yang selalu tahu letak pintu keluar.
"Ini kamu?" tanya Anindya.
Bima mengambil foto itu dengan hati-hati, jauh lebih hati-hati daripada ketika ia menangkap pergelangan penyerang.
"Iya."
"Yang di sebelahmu?"
Jempol Bima menyapu debu tipis di wajah pemuda itu.
"Surya. Sahabat saya."
Hanya itu. Namun nada suaranya membuat Anindya tidak melanjutkan pertanyaan.
Bima menyimpan foto di bagian terdalam dompet, menyerahkan KTP kepada penyidik, lalu menandatangani berita acara setelah membacanya sampai akhir.
Hampir dua jam berlalu sebelum keduanya diperbolehkan pulang. Petugas menjelaskan bahwa mereka mungkin akan dipanggil kembali untuk melengkapi keterangan, sementara rekaman CCTV, dua pisau, tali, serta hasil dokumentasi pintu akan dimasukkan ke berkas penyelidikan.
Pukul menunjukkan lewat satu dini hari.
Bima menawarkan memesan kendaraan, tetapi Anindya menggeleng.
"Dekat. Aku ingin jalan sebentar. Di ruangan tadi rasanya susah bernapas."
Sapaan formalnya telah luruh tanpa mereka sadari.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar. Jalanan masih basah oleh siraman petugas pertokoan. Beberapa warung sudah tutup, menyisakan bau arang dan minyak goreng. Bima mengambil posisi di sisi luar, di antara Anindya dan jalan raya.
Selama beberapa menit, Anindya tidak bicara.
Kemudian sebuah motor melaju terlalu dekat. Suara knalpotnya meledak di belakang mereka.
Anindya tersentak dan meraih lengan Bima.
"Maaf," katanya cepat, hendak melepas tangan.
Bima membiarkannya menggenggam.
"Nggak perlu minta maaf."
"Aku masih merasa mereka mengikuti."
"Nggak ada siapa-siapa."
"Kalau teman mereka datang? Yang tadi mengancam kamu?"
Bima menoleh. Di bawah lampu jalan, wajah Anindya masih pucat dan lelah. Namun kekhawatiran dalam matanya sekarang bukan hanya untuk dirinya sendiri.
"Ada aku," katanya. "Nggak akan kenapa-kenapa."
Anindya membuang muka. Cahaya lampu memantul pada air yang tertahan di sudut matanya.
Ia tidak menangis. Hanya mempererat genggaman selama beberapa langkah, lalu perlahan melepaskannya saat gerbang Apartemen Danau Utara mulai terlihat.
"Bima."
"Hmm?"
"Boleh minta nomor teleponmu? Untuk urusan laporan. Atau... kalau aku merasa takut lagi."
Bima menyebutkan nomornya. Anindya menelepon sekali agar nomornya tersimpan di ponsel Bima.
Layar menyala dengan nama yang baru ia ketik: Anindya.
Perempuan itu mengintip. "Kaku banget."
"Harus disimpan apa? Bu Penghuni Lantai Dua Puluh Sembilan?"
"Jangan Bu. Aku belum setua itu." Anindya menahan senyum. "Panggil Kak Anin saja."
"Kak? Usia kita mungkin beda dua tahun."
"Justru cocok. Kamu jadi adikku. Adik yang kebetulan bisa menjatuhkan dua perampok."
Bima mengetik ulang namanya menjadi Kak Anin.
"Kalau begitu, Kak Anin harus traktir adiknya."
"Baru juga jadi adik, sudah minta makan."
"Gaji satpam, Kak. Harus pintar cari peluang."
Tawa Anindya kali ini terdengar lebih utuh.
Di depan lobi, mereka berhenti. Anindya memandang lift, menarik napas, lalu menoleh kepada Bima.
"Terima kasih sudah mengantar."
"Kabarin setelah pintu unit terkunci. Besok minta teknisi ganti silinder kuncinya. Jangan cuma kusennya yang diperbaiki."
"Siap, adik cerewet."
Bima menunggu sampai pintu lift menutup. Beberapa menit kemudian, pesan masuk di ponselnya.
Sudah di dalam. Pintu terkunci. Selamat malam, Dik Bima.
Ia baru saja memasukkan ponsel ke saku ketika Doni menyembulkan kepala dari pos.
"Bang Bima!"
"Kecilkan suara."
Doni berlari mendekat dengan senyum yang terlalu lebar. "Aku lihat semuanya dari CCTV lobi. Tatapan Kak Anin ke Bang Bima itu bukan tatapan korban ke satpam. Itu tatapan orang mau jatuh cinta."
Bima mendorong wajah Doni dengan satu telapak tangan dan berjalan menuju pos.
"Kebanyakan nonton video."
"Tapi Bang senyum!"
"Aku lagi mikir cara potong gajimu."
"Bohong. Bang Bima jelas senang."
Bima tidak menjawab. Ia duduk kembali di depan dua belas layar CCTV, seolah malam itu tidak terjadi apa-apa.
Namun di saku seragamnya, ponsel dengan nama Kak Anin terasa sedikit lebih berat daripada sebelumnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!