Indonesia
NovelToon NovelToon

The Captain's Discarded Siri Wife

Episode 1

Bab 1

Talak dan Ratu di Lantai Teratas

“Apartemen ini harus dikosongkan hari ini, Bu Anindya. Tempat ini akan disiapkan untuk calon istri Pak Arkana.”

Kalimat pria berjas abu-abu itu jatuh di antara dua piring sarapan. Kopi hitam di depan kursi Arkana masih utuh, tetapi cincin di jari Anindya sudah tidak ada.

Kurang dari satu jam sebelumnya, ia masih berdiri berjinjit di depan suaminya.

“Jangan bergerak. Pangkatmu miring.”

Anindya berdiri berjinjit di depan Arkana. Ujung jarinya merapikan epolet empat garis emas di bahu seragam putih pria itu. Kainnya masih hangat setelah disetrika. Aroma kopi hitam bercampur wangi sabun yang begitu dikenalnya memenuhi dapur apartemen mereka.

Mereka memang tak pernah tercatat sebagai suami istri di dokumen negara. Tak ada foto pernikahan di ruang tamu, tak ada nama Anindya di undangan keluarga Adiwijaya. Hanya akad sederhana tiga tahun lalu, dua cincin polos, dan apartemen di SCBD yang menjadi rumah rahasia mereka.

Namun, setiap kali Arka mengenakan seragam kapten, Anindya tetap merasa lelaki itu pulang kepadanya, meski langit lebih sering memilikinya.

“Sudah.” Anindya menepuk pelan bahunya. “Sarapan dulu. Kamu punya waktu dua puluh menit sebelum berangkat ke bandara.”

Arka tidak langsung menjawab. Ponselnya bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras, tetapi ia membalikkan ponsel sebelum Anindya sempat membacanya.

“Siapa?”

“Kantor.”

Jawabannya terlalu cepat.

Anindya meletakkan roti panggang di piring. Saat berbalik, ia mendapati Arka sedang memandang tangannya. Lebih tepatnya, cincin tipis di jari manisnya.

Pria itu mendekat.

Untuk sesaat, Anindya mengira Arka hendak menggenggam tangannya seperti biasa. Namun, jemari pria itu justru mencabut cincin tersebut. Logam dingin bergesekan dengan kulitnya, lalu hilang ke dalam saku seragam putih.

Bekas pucat melingkar di jari Anindya.

“Arka?”

“Nanti ada orang datang untuk bicara denganmu.”

Suara pengumuman penerbangan terdengar samar dari panggilan yang baru saja ia angkat. Arka meraih topi kapten, lalu berjalan menuju pintu.

“Bicara soal apa?”

Langkahnya berhenti, tetapi ia tidak menoleh.

“Ikuti saja penjelasannya.”

Pintu tertutup.

Roti di meja masih mengepulkan uap. Kopi hitamnya belum disentuh.

Kurang dari satu jam kemudian, bel apartemen berbunyi.

Seorang pria berjas abu-abu berdiri di luar dengan tas dokumen hitam. Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara keluarga Adiwijaya, lalu meminta izin masuk dengan kesopanan yang terasa seperti ujung pisau.

Anindya duduk di seberangnya. Jari manisnya tetap berada di bawah meja.

“Saya akan langsung ke pokok persoalan, Bu Anindya.” Pria itu mengeluarkan amplop tebal. “Pak Arkana telah mengambil keputusan untuk menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan nikah siri kalian.”

Dengung pendingin ruangan mendadak terdengar terlalu keras.

“Ulangi.”

Pengacara itu menarik napas pendek. “Pak Arkana mengakhiri pernikahan ini. Apartemen harus dikosongkan hari ini karena akan dipersiapkan untuk calon istrinya, Nona Amara Wicaksana.”

Nama itu jatuh tepat di tengah meja makan yang masih menyimpan dua piring sarapan.

Amara.

Adik tirinya sendiri.

Anindya menatap amplop di hadapannya. Segelnya sudah dibuka. Di dalamnya ada lembar transfer dana, dokumen pengalihan sebuah unit apartemen kecil, dan daftar barang yang selama tiga tahun pernah diberikan Arka kepadanya.

Pengacara itu membaca satu per satu.

“Jam tangan, satu unit kendaraan, biaya hidup selama masa iddah, beberapa perhiasan, dan nilai kompensasi yang sudah ditransfer pagi ini.”

Ia membalik halaman.

“Kemudian, pin penerbang lama milik Adiwijaya Airlines yang pernah diberikan kepada Ibu saat masih menjadi siswa penerbang. Barang tersebut tercatat sebagai aset perusahaan dan harus dikembalikan.”

Dada Anindya akhirnya bergerak.

Pin itu bukan emas. Nilainya bahkan tak seberapa dibanding angka yang tercetak pada dokumen kompensasi. Namun, Arka memberikannya saat Anindya lulus penerbangan solo pertamanya. Malam itu, pria tersebut memasangnya sendiri di kerah seragam latihannya dan berkata bahwa langit tak pernah salah memilih orang.

Sekarang kenangan itu dimasukkan ke dalam daftar inventaris.

“Berapa?” tanya Anindya.

“Maaf?”

“Berapa harga tiga tahun saya menurut keluarga Adiwijaya?”

Pria itu menunduk pada angka terakhir. “Jumlah keseluruhannya tercantum di halaman empat.”

“Saya tidak bertanya halaman berapa.”

Pengacara itu terdiam.

Anindya mengambil ponselnya dan menekan nomor Arka. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua baru dijawab setelah dering panjang.

Suara roda koper dan pengumuman keberangkatan memenuhi sambungan. Arka sudah berada di dekat pesawat, mungkin hanya beberapa langkah dari pintu kokpit.

“Arka, apa semua ini benar?”

Hening dua detik.

“Ikuti kata pengacara.”

“Kamu mengambil cincinku sebelum berangkat, lalu menyuruh orang lain menalakku?”

“Aku harus terbang.”

Anindya mencengkeram ponsel. “Dan Amara akan tinggal di sini?”

Kali ini jedanya lebih lama. Seorang petugas memanggil, “Kapten Arkana, kami siap boarding.”

“Kosongkan apartemen hari ini,” katanya akhirnya. “Jangan mempersulit keadaan.”

Sambungan terputus.

Anindya tidak langsung menurunkan ponselnya. Layar hitam memantulkan wajah yang masih rapi, seolah pagi ini tidak baru saja merobek hidupnya dari tengah.

Pengacara di seberang menggeser bolpoin.

“Jika Ibu bersedia menandatangani, staf kami akan membantu memindahkan barang pribadi.”

Anindya meraih bolpoin itu.

“Tidak perlu.”

Ia membaca setiap halaman, mengembalikan pin penerbang ke dalam kotak kecil, lalu menandatangani di tempat yang ditunjukkan. Goresan tintanya lurus. Hanya ujung jari yang memegang kertas terlihat memutih.

“Untuk apartemen kecil dan uangnya?” tanya pengacara itu hati-hati.

“Biarkan prosesnya jalan.” Anindya menutup dokumen. “Saya ingin tahu seberapa murah keluarga Adiwijaya menilai rasa bersalah mereka.”

Pria itu tidak berani menjawab.

Anindya masuk ke kamar. Lemari besar di sisi Arka penuh oleh seragam, kemeja, dan jas. Di sisinya hanya ada beberapa pakaian yang benar-benar ia sukai. Ia memasukkannya ke satu koper kabin. Tak ada foto yang perlu dibawa. Arka tak pernah mengizinkan foto mereka dipajang.

Di depan meja rias, Anindya membuka kotak beludru hijau. Sepasang anting milik mendiang Laras terbaring di dalamnya. Ia mengenakan anting itu, menyentuh permukaannya sekali, lalu menutup kotak.

Itulah satu-satunya benda yang tidak pernah diberikan Arka kepadanya.

Menjelang siang, Anindya keluar hanya dengan satu koper.

Pengacara itu berdiri saat ia melewati ruang makan. Roti panggang sudah dingin. Kopi hitam Arka masih utuh.

“Bu Anindya, mobil dari keluarga bisa mengantar.”

“Saya masih punya mobil sendiri.”

“Kendaraan itu tercantum dalam daftar pemberian.”

Anindya berhenti. Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di bibirnya.

“Bukan mobil yang di basemen. Yang itu boleh kalian ambil.”

Ia pergi sebelum pria tersebut sempat memahami maksudnya.

Empat puluh menit kemudian, sebuah sedan hitam tanpa logo berhenti di depan bangunan batu berwarna gelap di kawasan bisnis Jakarta. Dari luar, tempat itu tampak seperti klub privat yang sengaja menolak perhatian. Tak ada papan nama besar. Hanya simbol huruf E di pintu kaca.

Petugas keamanan melihat plat mobilnya dan segera membuka palang.

Anindya masuk tanpa menunggu dibukakan pintu. Sepatu haknya berdetak di lantai marmer. Beberapa tamu di lobi menoleh, tetapi ia tidak berhenti. Kartu hitam di tangannya membuka lift khusus yang bahkan tak tercantum pada panel umum.

Lift melaju langsung ke lantai teratas.

Saat pintunya terbuka, Sisi sudah menunggu bersama belasan staf. Perempuan itu mengenakan kemeja hitam dengan tablet di tangan. Di belakangnya, ruang kendali Klub Enggar membentang di balik dinding kaca, dipenuhi layar, peta koneksi, dan orang-orang yang selama ini bekerja tanpa pernah menyebut nama pemilik sesungguhnya di luar lantai itu.

Mereka serempak menundukkan kepala.

“Selamat siang, Bos.”

Anindya menyerahkan koper kepada seorang staf. Punggungnya tegak. Tak ada yang akan mengira, kurang dari dua jam lalu, seorang pengacara baru saja menghitung harga dirinya halaman demi halaman.

Enggar keluar dari ruang rapat sambil membawa sebuah map.

“Kami siap sejak Bos mengirim pesan dari jalan.” Pandangannya turun ke jari Anindya yang kosong, lalu segera beralih. “Ada satu informasi lain. Adiwijaya Airlines sedang membuka posisi kopilot untuk rute domestik. Batas pengajuan berkas siang ini.”

Sisi mengangkat tablet. “Lisensi CPL Bos masih aktif. Jam terbang dan pemeriksaan kesehatan juga lengkap. Saya bisa kirim berkasnya sekarang.”

Anindya menyentuh anting peninggalan ibunya. Bayangan Arka dengan seragam putih, cincin di sakunya, dan suara dingin dari ujung telepon melintas sekali.

Lalu ia menekan tombol lift untuk turun lagi.

“Kirim berkasnya,” katanya. “Aku akan terbang kembali.”

Episode 2

Bab 2

Kembali ke Kokpit

Tujuh hari setelah meninggalkan apartemen itu, Anindya menempelkan kartu identitas Adiwijaya Airlines di dada kirinya.

Tulisan di bawah fotonya tercetak jelas.

ANINDYA WICAKSANA

FIRST OFFICER

“Selamat datang di Adiwijaya Airlines.” Pak Bimo menyerahkan map biru kepadanya. “Pemeriksaan latar belakang, lisensi CPL, medical certificate, dan catatan jam terbang Anda sudah kami verifikasi. Tidak ada masalah.”

“Terima kasih, Pak.”

“Jangan berterima kasih dulu.” Kepala HRD itu mengangkat kacamata ke pangkal hidung. “Saya tidak peduli siapa keluarga Anda atau siapa yang merekomendasikan Anda. Begitu memakai kartu itu, kesalahan kecil pun bisa membuat Anda dilarang terbang.”

“Itu juga yang saya harapkan.”

Pak Bimo menatapnya selama satu detik lebih lama, lalu mengangguk. Mungkin ia menyukai jawaban tersebut. Mungkin juga tidak. Wajah pria yang terkenal keras terhadap calon pilot itu terlalu datar untuk dibaca.

Anindya membawa mapnya menuju ruang persiapan awak. Suara roda koper kru beradu dengan lantai, diselingi pengumuman perubahan gerbang dan percakapan singkat tentang cuaca. Bau kopi mesin dan kertas briefing membangkitkan sesuatu yang selama ini ia kunci rapat.

Tiga tahun lalu, di dalam pesawat latih yang diguncang udara buruk, tangannya pernah memegang kendali sementara awan cumulonimbus tumbuh seperti dinding gelap di depan kaca.

“Jangan lawan guncangannya,” suara Arka terdengar melalui headset. Tenang, tegas, nyaris dingin. “Jaga sikap pesawat. Lihat instrumenmu, bukan ketakutanmu.”

Anindya mengikuti arahannya. Mereka keluar dari tepi awan dengan telapak tangan basah, tetapi jalur terbang tetap stabil.

Saat itulah Arka pertama kali benar-benar menatapnya.

Bukan sebagai putri keluarga Wicaksana. Bukan sebagai perempuan yang kelak disembunyikan di sebuah apartemen. Sebagai pilot.

“Bu Anindya?”

Panggilan Pak Bimo mengembalikannya ke lorong.

“Ruang briefing domestik di sebelah kanan. Jadwal awal Anda masih menunggu penetapan kapten penguji.”

“Baik, Pak.”

Anindya melangkah masuk.

Beberapa kepala langsung menoleh. Seragam putih dengan tiga garis di bahunya masih terlalu baru bagi ruangan itu, tetapi cara ia membawa flight bag membuat dua orang pilot senior saling bertukar pandang. Bukan cara orang yang baru belajar terlihat pantas. Ia tahu persis ke mana harus berjalan, di mana meletakkan berkas, dan layar mana yang menampilkan cuaca keberangkatan.

Seorang kopilot pria yang berdiri dekat mesin kopi tersenyum kepadanya.

“Orang baru?”

“Kelihatannya begitu.”

“Reza.” Ia menunjuk tiga garis di bahunya sendiri. “Kalau Pak Bimo sudah memasang wajah lebih seram dari biasanya, berarti berkasmu bagus.”

“Atau beliau sedang menyesal menerima saya.”

Reza terkekeh. “Saya suka jawaban kedua.”

Belum sempat percakapan berlanjut, suara sepatu hak terdengar dari lorong.

“Arka, nanti setelah mendarat, jangan lupa Mama sudah pesan tempat untuk makan malam.”

Tawa kecil di ruang briefing menghilang.

Amara masuk dengan seragam awak kabin berwarna gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya tersanggul rapi. Satu tangannya melingkar di lengan Arkana, seolah seluruh lantai kru perlu melihat bahwa ia boleh menyentuh pria itu.

Arka mengenakan seragam kapten yang sama seperti tujuh hari lalu. Empat garis di bahunya lurus sempurna.

Kali ini bukan Anindya yang merapikannya.

Pandangan Arka menemukan Anindya di antara kru lain. Langkahnya berhenti begitu tiba-tiba hingga Amara ikut tertahan.

Warna di wajah pria itu menghilang sesaat.

“Kamu?”

Satu kata. Bukan sapaan, bukan pula pertanyaan yang layak.

Anindya menutup map birunya. “Selamat pagi, Kapten Arkana.”

Panggilan resmi itu membuat garis rahang Arka menegang.

Amara mengikuti arah tatapannya. Senyum manisnya membeku sebelum segera dipasang kembali, kali ini lebih lebar.

“Kak Anindya?” Ia melepaskan lengan Arka dan berjalan mendekat. “Ya ampun, kamu benar-benar di sini. Aku dengar ada pilot baru, tapi aku enggak menyangka...”

Ia memegang tangan Anindya di depan semua orang.

“Kamu baik-baik saja, kan? Setelah keluar dari apartemen, aku khawatir banget. Kalau butuh uang atau tempat tinggal, bilang saja. Aku dan calon suamiku pasti bantu.”

Sejumlah awak kabin menahan napas. Seorang petugas operasi menunduk ke tabletnya, pura-pura tidak mendengar.

Anindya menarik tangannya. Dari saku celana seragam, ia mengambil tisu basah, menyeka punggung tangan yang baru disentuh Amara, lalu menjatuhkan tisu itu ke tempat sampah.

“Maaf,” ucapnya ringan. “Kita kenal?”

Sudut bibir Reza bergerak. Seseorang di belakangnya gagal menyembunyikan bunyi batuk yang mirip tawa.

Mata Amara berkedip cepat. “Kak, jangan begitu. Aku tahu kamu masih marah soal Arka. Tapi membawa urusan perasaan ke perusahaan bukan keputusan yang bijak.”

“Urusan perasaan?” Anindya melihat sekeliling, seakan sungguh mencari sesuatu. “Di sini?”

“Maksudku, menjadi pilot itu bukan seperti melamar pekerjaan biasa.” Suara Amara melembut, tetapi cukup keras agar satu ruangan mendengar. “Butuh lisensi, jam terbang, kesehatan yang lolos pemeriksaan. Jangan karena ingin dekat dengan Arka, kamu sampai memakai dokumen yang...”

Ia menggantung kalimatnya dengan rapi.

Tak perlu menyebut kata palsu. Semua orang sudah diarahkan ke sana.

Anindya memandang pin sayap di dada Amara, lalu tiga garis di bahunya sendiri.

“Kamu bekerja di bagian pemeriksaan lisensi sekarang?”

“Aku cuma khawatir ada yang tertipu.”

“Kalau begitu, kekhawatiranmu salah alamat.”

“Cukup.”

Suara Pak Bimo memotong dari pintu. Ia masuk sambil membawa tablet dan satu bundel berkas. Wajahnya lebih dingin daripada saat mewawancarai Anindya.

“Nona Amara, apakah Anda bagian HRD penerbangan?”

“Bukan, Pak. Saya hanya...”

“Apakah Anda memiliki kewenangan mengakses data lisensi pilot?”

“Tidak.”

“Lalu atas dasar apa Anda menuduh dokumen yang sudah diperiksa tim saya sebagai dokumen palsu?”

Pipi Amara memerah. “Saya tidak menuduh. Saya bilang saya khawatir.”

“Kekhawatiran yang disampaikan di depan satu ruangan bisa menjadi fitnah kalau tidak memiliki dasar.”

Pak Bimo meletakkan bundel berkas di meja tengah. Halaman teratas memperlihatkan salinan lisensi, hasil pemeriksaan kesehatan penerbangan, dan rekap jam terbang Anindya.

“CPL diterbitkan secara sah. Catatan jam terbang cocok dengan logbook dan data operator sebelumnya. Pemeriksaan kesehatan masih berlaku. Dua referensi instruktur sudah kami hubungi.” Tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Adiwijaya tidak merekrut pilot karena hubungan keluarga. Adiwijaya juga tidak menggugurkan pilot karena gosip keluarga.”

Keheningan berubah bentuk.

Tadi orang-orang memandangi Anindya dengan rasa ingin tahu. Sekarang dua kapten senior di sudut ruangan mengangguk tipis ke arahnya. Seorang awak kabin yang berdiri di belakang Amara perlahan mundur setengah langkah.

Amara menoleh kepada Arka. “Aku hanya ingin melindungi perusahaanmu.”

Arka tak menjawab. Sejak masuk, tatapannya tidak pernah benar-benar meninggalkan Anindya.

“Kenapa saya tidak menerima pemberitahuan soal perekrutan ini?” tanyanya kepada Pak Bimo.

“Karena proses rekrutmen pilot berada di bawah komite operasional dan HRD, Pak Arkana. Seluruh tahap administratif sudah selesai sesuai prosedur.”

“Siapa kapten pengujinya?”

“Belum ditetapkan. Rencananya Kapten Surya untuk penerbangan observasi pertama, tetapi jadwalnya berubah pagi ini.”

Arka mengalihkan mata ke kartu identitas di dada Anindya.

“Anda melamar ke perusahaan saya tanpa memberi tahu saya.”

Anindya mengangkat alis. “Lowongannya dibuka untuk umum, Kapten. Saya tidak melihat syarat harus meminta izin CEO.”

“Anda tahu maksud saya.”

“Saya takut menebak. Baru seminggu lalu, Anda meminta saya mengikuti semua perkataan pengacara. Hari ini saya sedang mengikuti prosedur HRD Anda.”

Beberapa orang segera menundukkan wajah. Mereka telah mendapat cukup bahan untuk dibicarakan di grup WhatsApp kru selama sebulan.

Amara menggenggam ujung blazer seragamnya. “Arka, jangan terpancing. Kalau memang kemampuannya asli, kapten penguji mana pun bisa membuktikannya.”

“Benar,” sahut Anindya. “Jadi tak perlu takut.”

“Aku tidak takut.”

“Bagus.”

Senyum Amara retak.

Pak Bimo membuka jadwal penerbangan pada tabletnya. “Saya akan mencari pengganti Kapten Surya.”

“Tidak perlu.” Arka mengambil map biru dari tangan Anindya.

Gerakannya cepat, tetapi Anindya tidak berusaha merebutnya. Ia hanya menatap tangan pria itu di atas namanya sendiri.

“Pak Arkana?”

“Saya yang menguji.”

Pak Bimo mengernyit. “Penerbangan Anda pagi ini sudah memiliki kopilot terjadwal.”

“Pindahkan kopilot itu ke kru cadangan. Masukkan Anindya ke penerbangan saya. Catat sebagai line observation dan evaluasi awal.”

“Perubahannya harus disetujui operasi penerbangan.”

“Hubungi mereka sekarang.”

Pak Bimo menatap Anindya, memberinya kesempatan untuk menolak.

Anindya mengambil kembali mapnya dari tangan Arka. “Saya siap terbang selama perubahannya tercatat resmi.”

“Baik.” Pak Bimo mengetik sesuatu. “Saya urus dokumennya. Kalian briefing lima belas menit lagi.”

Ruangan langsung dipenuhi bisik-bisik.

CEO Adiwijaya Airlines tidak sekadar meninjau pegawai baru. Ia sendiri akan duduk di kursi kiri dan menguji mantan istri rahasianya di kursi kanan.

Amara berdiri kaku. “Arka, aku juga bertugas di penerbanganmu. Kita seharusnya berangkat bersama.”

“Kamu ke briefing awak kabin,” jawab Arka tanpa menoleh. “Kru kokpit punya urusan sendiri.”

Wajah Amara kehilangan warna.

Arka berbalik menuju pintu, seolah keputusan itu telah menutup semua percakapan. Anindya tidak segera mengikutinya. Ia memeriksa perubahan jadwal di aplikasi kru, memastikan nomor penerbangan, rute, cuaca, serta nama kapten yang baru muncul di layar.

ARKANA ADIWIJAYA.

Reza mendekat sambil membawa cangkir kopi.

“Hari pertama yang lumayan tenang,” katanya dengan wajah serius palsu.

Anindya hampir tersenyum. “Begini standar ketenangan di sini?”

“Biasanya lebih membosankan. Semoga betah.” Reza mengulurkan tangan. “Kalau butuh info soal rute atau sistem laporan, tanya saja.”

“Terima kasih.”

Anindya menerima uluran tangannya.

Baru satu detik telapak mereka bersentuhan, Arka sudah kembali. Jarinya melingkar di pergelangan tangan Anindya dan menariknya menjauh dari Reza.

Anindya langsung menghentakkan tangannya sampai lepas.

“Jangan sentuh saya tanpa izin, Kapten.”

Kalimat itu jatuh di tengah ruangan yang kembali senyap.

Arka menatap tangannya sendiri, seolah baru menyadari apa yang ia lakukan. Sesuatu yang gelap bergerak di matanya, tetapi suaranya tetap rendah.

“Waktu briefing tinggal sedikit.”

“Saya bisa berjalan sendiri.”

“Kalau begitu, jalan.”

Ia berbalik. Anindya mengambil flight bag dan mengikutinya dengan jarak dua langkah. Saat melewati Amara, ia mencium parfum manis yang dulu tidak pernah ada di lorong menuju penerbangan Arka.

Amara tidak berkata apa-apa. Kukunya menancap ke telapak tangan, sementara seluruh kru melihat Anindya berjalan menuju gerbang bersama satu-satunya pria yang baru seminggu lalu membuangnya.

Di depan pintu menuju garbarata, Arka menempelkan kartu akses. Lampu berubah hijau.

Ia menoleh setengah wajah kepada Anindya.

“Naik ke pesawat saya.”

Episode 3

Bab 3

Satu Kokpit, Dua Orang Asing

Anindya melewati pintu garbarata tanpa menjawab perintah Arkana.

Ia tidak naik ke pesawat milik pria itu. Pesawat tersebut milik maskapai, membawa penumpang yang mempercayakan nyawa kepada kru, dan pagi ini Anindya masuk sebagai kopilot yang sah.

Bukan sebagai perempuan yang baru dibuang dari tempat tidur Arka.

Di depan pintu kokpit, ia berhenti untuk menyapa kepala awak kabin. Amara sudah berada di sana dengan senyum profesional, seolah pertengkaran di ruang briefing tak pernah terjadi.

“Selamat datang di penerbangan kami, Kopilot Anindya.”

Tekanan pada kata kopilot terdengar seperti ejekan yang dipaksakan melewati gigi.

“Terima kasih.” Anindya membalas senyumnya. “Pastikan kabin siap sesuai waktu boarding.”

Amara menahan tatapannya, lalu bergeser memberi jalan.

Arka sudah duduk di kursi kiri ketika Anindya masuk. Cahaya dari kaca depan jatuh pada empat garis di bahunya. Flight bag milik Anindya diletakkan di tempatnya, headset dipasang, lalu ia duduk di kursi kanan dengan jarak kurang dari satu meter dari mantan suaminya.

Ruang itu terlalu sempit untuk dua orang yang memiliki tiga tahun kenangan dan tak lagi boleh membicarakannya.

“Dokumen penerbangan,” kata Arka.

Anindya menyerahkan berkas. “Rute dan cuaca sudah saya periksa. Ada potensi turbulensi ringan di tengah perjalanan. Tidak ada NOTAM yang memengaruhi keberangkatan.”

Arka membaca catatannya. “Bahan bakar?”

Ia menyebutkan angka sesuai flight plan, cadangan, serta bandara alternatif. Jawabannya keluar tenang tanpa tergesa.

“Berat lepas landas?”

Anindya menjawab lagi.

“Kalau cuaca memburuk sebelum titik keputusan?”

“Kita kembali atau menuju bandara alternatif sesuai kondisi aktual, bukan memaksakan jadwal.”

Arka menutup berkas. Tak ada celah yang bisa ia serang.

Seorang petugas operasi masuk untuk menyerahkan pembaruan muatan. Anindya memeriksa perubahan angka bersama Arka, lalu memasukkannya ke sistem. Percakapan mereka menjadi pendek, resmi, dan bersih.

“Checked.”

“Confirmed.”

“Set.”

Tiga tahun lalu, mereka pernah berbagi headset sambil tertawa setelah pendaratan buruk Anindya yang pertama. Hari ini, bahkan siku mereka tak bersentuhan.

Amara muncul sebelum pintu kokpit ditutup. Ia membawa dua gelas kopi.

“Kopi hitam tanpa gula untuk Arka.” Ia meletakkan satu gelas di tempat aman. “Dan latte untuk Kak Anindya. Aku masih ingat kesukaanmu.”

“Saya tidak minum latte sebelum terbang.”

“Dulu kamu suka.”

“Dulu banyak hal yang saya sukai.”

Tatapan Amara bergerak cepat ke Arka, menunggu pria itu bereaksi. Arka hanya memeriksa panel di depannya.

“Awak kabin bersiap untuk penutupan pintu,” katanya.

Amara tersenyum tipis. “Tentu, Kapten.”

Pintu kokpit akhirnya tertutup.

Suara dunia luar meredup. Di dalam, hanya ada dengung peralatan, komunikasi radio, dan dua orang asing yang mengetahui kebiasaan bernapas satu sama lain.

Arka bertindak sebagai pilot flying untuk sektor itu. Anindya menjalankan tugas pilot monitoring. Ia membaca checklist tanpa satu kata berlebih, memverifikasi izin, lalu mengawasi instrumen saat pesawat mulai bergerak dari apron.

“Taxi checklist complete,” ucapnya.

Arka melirik sekilas. “Anda tidak gugup?”

“Apakah ada alasan operasional untuk gugup, Kapten?”

“Ini penerbangan pertama Anda di Adiwijaya.”

“Bukan penerbangan pertama saya.”

Ia mengatakannya tanpa menoleh.

Pesawat berhenti di titik tunggu. Setelah izin lepas landas diterima, deru mesin membesar. Landasan pacu memanjang di depan mereka seperti garis yang tak memberi kesempatan untuk mundur.

Arka mendorong tuas daya. Tubuh Anindya tertekan ke sandaran kursi.

“Thrust set.”

Kecepatan meningkat.

Anindya menyebutkan callout dengan suara stabil. Saat roda meninggalkan aspal, gedung-gedung di bawah mereka mengecil, lalu tersapu lapisan tipis awan pagi.

Tak ada ruang untuk luka di fase kritis penerbangan. Anindya tidak memikirkan cincin, apartemen, atau kopi dingin yang ditinggalkan seminggu lalu. Matanya berpindah dari instrumen ke jalur terbang, lalu kembali lagi.

Arka bisa mengujinya sesulit apa pun. Langit tetap mengenali tangannya.

Setelah pesawat mencapai ketinggian jelajah, ketegangan sedikit turun. Arka menyerahkan kendali kepadanya.

“Your control.”

“My control.”

Anindya mengambil alih. Pergerakannya halus, nyaris tanpa koreksi yang tidak perlu.

Beberapa menit kemudian, indikator cuaca menunjukkan area guncangan di depan. Anindya meminta awak kabin memastikan semua orang duduk. Tanda sabuk pengaman menyala.

“Kita geser sedikit ke kanan,” katanya setelah memeriksa rute dan lalu lintas. “Sel awannya berkembang lebih cepat dari laporan awal.”

“Alasannya?”

Anindya menunjuk pantulan pada radar cuaca, lalu menjelaskan pilihan jalur dengan singkat. Arka menilai layar yang sama.

“Lakukan.”

Ia menghubungi pengatur lalu lintas udara dan memperoleh izin perubahan kecil. Pesawat tetap memasuki udara bergelombang, tetapi guncangannya jauh lebih ringan daripada jalur semula.

Gelas kopi Arka bergetar di tempatnya. Tangan Anindya tetap mantap.

Dari sudut mata, Anindya menangkap Arka sedang memperhatikan profil wajahnya. “Siapa yang melatih Anda setelah keluar dari sekolah penerbangan?”

“Pertanyaan itu ada di berkas HRD.”

“Saya ingin mendengarnya dari Anda.”

“Kita sedang berada di tengah area turbulensi, Kapten.”

Panggilan itu lagi. Bukan Arka. Bukan pula Kana yang hanya pernah keluar saat mereka berdua dan pintu kamar terkunci. Hanya Kapten, seperti nama jabatan di sebuah kartu.

Rahang Arka mengeras. “Fokus pada penerbangan.”

“Sejak tadi saya memang fokus.”

Guncangan mereda setelah beberapa menit. Seorang awak kabin menghubungi kokpit melalui interphone untuk melaporkan kondisi kabin aman. Tak lama kemudian, bel akses berbunyi.

Arka memeriksa layar pintu sebelum mengizinkan masuk.

Amara muncul membawa kotak makanan kecil.

“Penumpang sudah tenang,” lapornya. “Aku bawakan makanan. Arka biasanya telat makan kalau penerbangannya pagi.”

“Taruh saja,” jawab Arka.

Amara meletakkan kotak itu, tetapi tidak segera pergi. Matanya bergantian menatap tangan Anindya pada kendali dan Arka di kursi kiri.

“Turbulensinya lumayan, ya? Kak Anindya enggak panik?”

“Kabin sudah aman?” tanya Anindya.

“Sudah.”

“Kalau begitu, awak kabin kembali ke kabin. Jangan berada di kokpit lebih lama dari kebutuhan operasional selama penerbangan.”

Amara berkedip. “Aku sedang melapor kepada kapten.”

“Laporan selesai dua puluh detik lalu.”

“Arka?”

Pria itu menatap lurus ke depan. “Kembali ke kabin, Amara.”

Senyum di bibir Amara menghilang. Ia keluar, dan pintu kokpit menutup rapat di belakangnya.

Anindya tidak menoleh, tetapi pantulan kaca memperlihatkan wajah Amara sesaat sebelum terhalang pintu. Wajah orang yang baru sadar ada tempat di pesawat ini yang tak bisa ia kuasai hanya dengan memegang lengan Arka.

Sisa penerbangan berjalan lancar. Pada pendekatan akhir, Arka mengambil kembali kendali. Anindya membaca checklist, memantau kecepatan dan konfigurasi, lalu memberikan callout dengan tepat sampai roda menyentuh landasan.

Pendaratan itu halus.

Namun, begitu mesin dimatikan di apron, Arka melepas headset dan berkata, “Ke kantor saya setelah debriefing.”

“Apakah ada catatan terkait kinerja saya?”

“Ada hal yang harus dibicarakan.”

“Masukkan ke laporan evaluasi.”

“Anindya.”

Untuk pertama kali hari itu, namanya keluar tanpa jabatan. Nadanya rendah dan terlalu pribadi.

Anindya mengunci flight bag. “Baik, Kapten.”

Satu jam kemudian, ia berdiri di kantor kapten di lantai operasi. Arka masuk di belakangnya dan menutup pintu dengan keras. Ia tidak mendekat, tetapi tubuhnya menghalangi satu-satunya jalan keluar.

“Geser dari pintu,” kata Anindya.

Arka bergerak ke samping. “Duduk.”

“Saya lebih suka berdiri.”

“Di mana kamu tinggal selama seminggu ini?”

“Itu evaluasi penerbangan?”

“Kenapa kamu masuk ke perusahaan saya?”

“Saya pilot. Adiwijaya membuka lowongan pilot.”

“Jangan main-main dengan saya.”

“Saya tidak pernah lebih serius.”

Anindya meletakkan salinan hasil evaluasinya di meja. Tak ada catatan kritis. Semua kolom utama memenuhi standar.

“Anda ingin membuktikan saya memalsukan kemampuan. Sekarang sudah terbukti saya layak duduk di kursi kanan. Ada lagi?”

Arka meremas ujung meja. “Kamu menghilang tanpa memberi kabar.”

Anindya tertawa pendek. Suaranya tak mengandung kegembiraan.

“Kamu menyuruhku mengosongkan apartemen hari itu juga.”

“Aku tidak menyuruhmu memutus semua nomor.”

“Apa yang kamu harapkan? Laporan alamat baru dari perempuan yang sudah kamu talak?”

“Aku perlu tahu kamu aman.”

“Supaya daftar kompensasinya bisa dikirim ke alamat yang benar?”

Napas Arka tertahan.

Anindya menatap empat garis di bahunya. “Kamu sudah memastikan aku keluar tanpa hak atas rumah, tanpa status, dan tanpa cincin. Kamu juga pernah menyebutku anak dari keluarga pembunuh. Jadi jangan berdiri di sini seolah seminggu ketidaktahuanmu lebih menyakitkan daripada apa yang kamu lakukan.”

“Masalah ayahku bukan sesuatu yang bisa kamu anggap selesai.”

“Aku tidak menganggapnya selesai. Aku hanya tidak akan menerima hukuman atas kejahatan yang tidak pernah kubuktikan melakukan.”

“Keluargamu...”

“Bukti, Arka. Bukan bisikan Amara. Bukan dendam yang diwariskan. Bawa bukti kalau kamu ingin menuduhku lagi.”

Nama itu membuat mata Arka menyipit. “Jangan seret Amara ke sini.”

“Saya tidak menyeret siapa pun. Calon istri Anda sendiri yang masuk ke kokpit dua kali untuk memastikan kami tidak bernapas terlalu dekat.”

“Dia bagian dari awak kabin.”

“Tepat.”

Anindya mengambil mapnya dan berjalan ke pintu. Arka tidak lagi menghalangi.

Tangannya sudah berada di gagang ketika ia menoleh.

“Dia memang pramugari. Dia bisa terbang bersamamu, di kabin.” Senyum tipis menyentuh bibir Anindya. “Tapi aku kopilotmu, orang yang duduk satu kokpit denganmu.”

Ia membuka pintu.

“Jangan sampai calon istrimu melihat wajahmu sekarang, Kapten.”

Anindya pergi tanpa menunggu jawaban.

Malamnya, di kamar sewaan sementara yang hanya memiliki satu tempat tidur dan sebuah meja kecil, seragam putih itu akhirnya terlepas dari tubuhnya.

Ia meletakkan gelas air di meja, tetapi jemarinya mendadak kehilangan tenaga. Gelas jatuh. Pecahannya menyebar di lantai, memantulkan cahaya lampu seperti serpihan es.

Anindya berjongkok untuk memungutnya. Sebuah ujung tajam menggores kulit jarinya.

Darah muncul.

Baru saat itulah napas yang ia tahan sejak pagi pecah.

Ia menutup mulut dengan telapak tangan agar suara tangisnya tidak terdengar ke kamar sebelah. Bahunya berguncang. Air mata jatuh ke lantai di antara pecahan gelas, cepat dan tanpa isak panjang.

Di kokpit tadi, Arka masih mengingat kebiasaan kecilnya. Masih memperhatikan tangannya saat turbulensi. Masih marah karena tak tahu tempat tinggalnya.

Namun, pria itu juga tetap membela nama Amara.

Anindya membiarkan dirinya menangis sampai dadanya sakit, lalu mengambil sapu. Ia membersihkan setiap pecahan, mencuci luka di jari, dan menempelkan plester kecil.

Ketika lantai kembali bersih, ponselnya bergetar.

Pesan dari Enggar hanya terdiri atas dua baris.

Bos, kami menemukan sesuatu pada catatan kematian Ibu Laras.

Ada nama yang sengaja dihapus dari laporan lama.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!