Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Idiot Sang Jenderal

IISJ Bab 1 - Suamiku

Angin dingin berembus kencang di desa kecil yang berada tak jauh dari wilayah perbatasan Servo. Debu beterbangan saat sebuah gerobak becak tua berhenti di ujung jalan yang sepi. Seorang gadis muda turun dengan langkah canggung. Pakaiannya lusuh dan rambut panjangnya sedikit berantakan, sementara senyum polos tak pernah lepas dari wajahnya yang cantik.

Gadis itu bernama Ashlyn, tapi semua orang di desa mengenalnya sebagai gadis idiot.

"Ayo cepat turun!" bentak seorang wanita paruh baya sambil mendorong bahu Ashlyn hingga hampir terjatuh.

Ashlyn menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Mama, kita mau ke mana?"

Sinta mendengus jijik, meski telah bersama selama bertahun-tahun tapi baginya Ashlyn bukanlah sang anak sambung. Bagi Sinta, Ashlyn adalah bentuk kesialan di dalam hidupnya. Dan kini akhirnya Sinta akan menyingkirkan Ashlyn untuk selama-lamanya.

"Jangan panggil aku Mama! Aku bukan Mamamu!"

Ashlyn menggigit bibirnya. Meski sudah berkali-kali mendengar kalimat itu, hatinya tetap terasa sakit.

Di samping wanita itu berdiri seorang pria yang sejak tadi hanya diam. Pria itu adalah ayah kandung Ashlyn. Namun, seperti biasanya, ia tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membela Ashlyn.

Sinta menyilangkan kedua tangan di dada. "Karena kamu, keluarga kita tidak pernah mendapatkan ketenangan. Bisnis bangkrut, panen gagal, ibumu bahkan meninggal saat melahirkanmu. Kamu memang anak pembawa sial."

Ashlyn menggeleng pelan. "Ashlyn tidak membawa sial."

"Diam!" bentak Sinta. "Dasar idiot! Kamu bahkan tidak mengerti apa pun."

Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Ashlyn. Ia hanya bisa menundukkan kepala sambil memainkan ujung bajunya yang lusuh. Meski tak tahu apa maksud ucapan sang ibu, tapi suara keras Sinta membuatnya merasa sangat sedih. Saat ini usia Ashlyn sudah memasuki umur 20 tahun, tapi sikapnya seperti seorang anak kecil.

"Papa," panggil Ashlyn, tapi seseorang yang dipanggil papa justru memalingkan wajah.

Derick bukannya tak menyayangi sang anak, tapi semakin lama rasanya ucapan Sinta ada benarnya. Keberadaan Ashlyn di keluarga mereka hanya akan mendatangkan kesialan.

Sebentar lagi adik Ashlyn yang bernama Sandrina akan menikah dengan salah satu orang penting di kota Servo. Derick tak ingin keberadaan Ashlyn kembali menghancurkan semuanya, karena itulah kini ia ikut dengan Sinta untuk membuang sang anak di dekat perbatasan.

Ini adalah keputusan yang paling tepat untuk keluarga mereka.

"Mulai hari ini, kamu bukan bagian dari keluarga kami lagi," ucap Derick akhirnya.

Kalimat itu membuat Ashlyn terdiam, butuh beberapa detik baginya untuk memahami kalimat tersebut. Tapi melihat raut wajah sang ayah, Ashlyn tahu ayahnya sedang marah.

"Papa, Ashlyn salah apa?" tanya Ashlyn.

Derick tidak menjawab, ia naik kembali ke atas gerobak tanpa sedikit pun menoleh kepadanya.

Sinta tersenyum tipis, tatapan matanya penuh kebencian pada Ashlyn. "Oh ya, sebelum kami pergi, ada satu hal yang harus kamu ingat," ucap Sinta.

Ashlyn langsung mengangkat kepala dan menatap ibunya.

"Apa itu, Ma?"

Sinta mendekat lalu berbicara seolah sedang memberitahu sesuatu yang sangat penting. "Suamimu adalah Jenderal Ethan Harold."

Ashlyn berkedip beberapa kali. "Suami?"

"Iya."

"Namanya Ethan?"

"Benar."

"Jenderal Ethan Harold?"

Sinta mengangguk sambil menahan senyum licik. "Kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan kalau kamu adalah istrinya."

Dalam hati Sinta tertawa puas setelah mengucapkan kata-kata itu.

Jenderal Ethan Harold terkenal dingin dan tidak suka dipermainkan. Begitu gadis bodoh ini mengaku sebagai istrinya, pasti kepalanya akan langsung dipenggal.

Tapi Ashlyn justru tersenyum begitu lebar setelah mendengarnya, baginya suami adalah seseorang yang akan menghabiskan waktu bersamanya sampai seumur hidup, sama seperti papa Derick dan mama Sinta.

"Benarkah? Ashlyn punya suami?" tanya Ashlyn dengan polosnya.

"Iya."

"Ashlyn akan tinggal bersama suami?"

"Tentu saja."

Ashlyn bertepuk tangan kegirangan. "Ashlyn senang sekali!"

Sinta memutar bola matanya dengan malas, 'Dasar gadis idiot!'

"Kalau begitu cepat pergi mencari suamimu," titah Sinta.

"Iya!" Tanpa sedikit pun curiga, Ashlyn melambaikan tangan. "Mama, Papa... hati-hati di jalan. Ashlyn akan menemukan suami."

Sinta segera memasuki becak dan pergi menjauh. Ashlyn terus melambaikan tangan dengan senyum polos, bahkan ketika becak itu sudah tidak terlihat lagi.

Ashlyn tidak tahu bahwa keluarganya baru saja membuangnya di tempat asing ini. Ashlyn juga tidak tahu bahwa mereka berharap ia mati.

Sejak saat itu, Ashlyn berjalan tanpa tujuan. Di dalam hatinya hanya ada satu nama, Jenderal Ethan Harold.

"Jenderal Ethan Harold, Jenderal Ethan adalah suamiku, Jenderal Ethan adalah suamiku," ucap Ashlyn berulang kali.

Tapi Ashlyn tidak tahu di mana rumah Ethan. Ia hanya tahu satu hal, bahwa Ethan adalah suaminya.

Setiap bertemu orang di jalan, Ashlyn langsung menghampiri dengan wajah ceria.

"Permisi," ucap Ashlyn.

Seorang pria tua menoleh. "Iya?"

"Apakah Kakek tahu rumah suamiku?"

"Suamimu siapa?"

"Jenderal Ethan."

Pria tua itu tertawa terbahak-bahak. "Gadis kecil, jangan bercanda."

"Ashlyn tidak bercanda."

Pria tua itu menggeleng lalu pergi begitu saja.

Namun Ashlyn tidak menyerah. Tak lama kemudian ia bertemu beberapa pedagang.

"Bibi," panggil Ashlyn.

"Ada apa?"

"Rumah suamiku di mana ya?"

"Siapa suamimu?"

"Jenderal Ethan."

Para pedagang saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Dasar gadis aneh!"

"Jenderal Ethan itu orang penting."

"Kau mimpi apa semalam?"

Ashlyn hanya memiringkan kepala tanda bingung. "Tapi Mama bilang Jenderal Ethan memang suamiku."

Mereka kembali tertawa sebelum meninggalkan Ashlyn sendirian.

Hari mulai beranjak sore dan perut Ashlyn keroncongan karena belum makan sejak pagi. Kakinya juga mulai terasa sakit karena berjalan terlalu jauh.

Meski begitu Ashlyn tetap menguatkan diri. "Ashlyn harus menemukan suami."

Ashlyn terus melangkah menuju jalan utama yang mengarah ke wilayah perbatasan.

Di saat yang sama suara iring-iringan mobil terdengar semakin dekat.

Puluhan kendaraan militer melintas memasuki jalanan. Para prajurit berseragam rapi mengawal seorang pria yang duduk tegak di dalam sebuah mobil hitam.

Pria itu memiliki wajah tampan dengan sorot mata tajam yang dipenuhi wibawa. Seragam jenderal yang dikenakannya membuat siapa pun otomatis menundukkan kepala saat melihat.

Dialah Jenderal Ethan Harold.

Pasukan yang baru kembali dari perbatasan itu melaju perlahan melewati jalan desa.

Semua warga segera menyingkir dan memberi hormat. Namun di tengah kerumunan itu, seorang gadis justru berlari dengan wajah berseri-seri.

Mata bening Ashlyn berbinar saat melihat lambang bintang di dada pria tersebut.

"Jenderal Ethan!!" teriak Ashlyn penuh semangat.

Ashlyn bahkan langsung berlari menghampiri rombongan.

Para prajurit sontak mencabut pedang. "Berhenti! Jangan mendekat!"

Tapi Ashlyn sama sekali tidak takut. Ia menerobos masuk hingga menghentikan iring-iringan mobil, dan detik itu juga Ashlyn berdiri tepat di depan mobil Ethan, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum paling cerah yang pernah ia miliki.

"Suamiku!!" panggil Ashlyn.

IISJ Bab 2 - Pertama Kali Bertemu

Suara pengaman pistol yang dilepas terdengar hampir bersamaan.

Klik!

Klik!

Klik!

Beberapa prajurit yang berada di barisan depan langsung mengangkat senjata api mereka dan mengarahkannya tepat ke kepala Ashlyn.

"Jangan bergerak!"

"Menjauh dari kendaraan Jenderal!"

"Angkat kedua tanganmu!"

Suasana yang semula hanya dipenuhi rasa penasaran berubah mencekam dalam sekejap.

Para warga desa yang menyaksikan kejadian itu langsung mundur beberapa langkah. Beberapa ibu bahkan menutup mata anak-anak mereka.

"Astaga! mereka mengeluarkan pistol dan pedang."

"Gadis itu akan mati."

"Berani sekali mengaku sebagai istri Jenderal Ethan."

"Kasihan, ternyata dia benar-benar idiot."

Namun semua ancaman itu tidak berarti apapun bagi Ashlyn. Ia sama sekali tidak melihat moncong-moncong pistol dan pedang yang mengarah kepadanya. Yang Ashlyn lihat hanyalah sosok pria tampan di balik kaca mobil. Meski tak pernah bertemu secara langsung namun Ashlyn sering sekali melihat foto Ethan dimana-mana.

Seorang Jenderal yang paling dikagumi oleh semua orang, terutama di wilayah perbatasan. Karena itulah ketika pertama kali melihat Ashlyn langsung bisa mengenali sang suami.

Dengan wajah penuh harapan, Ashlyn pun melambaikan tangan kecilnya. "Suamiku!"

Para prajurit semakin menegang.

"Diam!"

Ashlyn menggeleng pelan. "Ashlyn tidak mau diam."

Seorang kapten pasukan melangkah maju. Jarinya sudah berada di pelatuk pistol. "Nona, mundur sekarang juga atau kami tembak!"

Bukannya takut, Ashlyn justru tersenyum semakin lebar. "Tapi Ashlyn mau ikut pulang bersama suami."

Kalimat polos itu membuat seluruh jalanan menjadi sunyi.

"Ashlyn tidak punya rumah lagi," lanjutnya lirih. "Mama dan Papa menyuruh Ashlyn mencari suami. Jadi, Ashlyn mau ikut pulang."

Beberapa prajurit saling berpandangan.

Apa gadis ini benar-benar tidak mengerti situasinya?

Sementara itu di dalam mobil, Ethan Harold masih memperhatikan setiap gerak-gerik gadis tersebut.

Tatapannya dingin dan pikirannya dipenuhi tanda tanya. Tapi sejak beberapa menit lalu, Ethan tidak sekali pun melihat kepura-puraan di mata gadis tersebut.

Tak ada rasa takut.

Tak ada ambisi.

Tak ada kepentingan.

Yang ada hanyalah kepolosan seorang gadis yang benar-benar percaya bahwa dirinya sedang berbicara dengan suaminya.

Ethan perlahan mengangkat tangan. "Turunkan senjata."

Semua prajurit membeku.

"Jenderal?"

"Aku bilang turunkan," ucap Ethan yang suaranya terdengar begitu datar.

Tanpa berani membantah, seluruh pistol dan senjata segera diturunkan.

Para warga semakin dibuat tercengang.

"Apa aku salah dengar?"

"Jenderal tidak marah?"

"Tidak mungkin."

Pintu mobil hitam itu akhirnya terbuka dan Ethan turun dengan langkahnya yang tenang. Tubuhnya yang tinggi dan tegap memancarkan wibawa yang membuat semua orang otomatis menundukkan kepala.

Ethan berhenti tepat di depan Ashlyn. Sementara Ashlyn mendongak sambil tersenyum manis. Sumpah demi apapun, ternyata jenderal Ethan terlihat lebih tampan jika dilihat secara langsung dan sedekat ini.

Untuk beberapa detik Ashlyn sampai terpaku melihat ketampanan itu.

"Suamiku," ucap Ashlyn pelan, masih mencoba sadar dari ketampanan Ethan yang membuatnya membeku.

Dan Ethan menatap wajah gadis itu beberapa saat. "Kamu memanggilku?"

Ashlyn mengangguk cepat. "Iya."

"Kamu mengenalku?"

"Iya."

"Dari mana?"

"Mama yang bilang."

"Apa yang dia katakan?"

Ashlyn menjawab tanpa ragu sedikit pun. "Katanya Jenderal Ethan Harold adalah suamiku."

Hening.

Tak seorang pun berani bersuara.

Ethan memperhatikan wajah Ashlyn lebih lama. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa gadis itu sedang berbohong. Tatapannya sebening mata seorang anak kecil.

Tiba-tiba Ethan bertanya dengan suara datar. "Di mana keluargamu?"

Ashlyn menoleh ke belakang. "Mereka pulang."

"Pulang?"

"Iya. Mama bilang Ashlyn harus mencari suami. Ashlyn tidak boleh ikut mereka lagi."

Entah mengapa kalimat sederhana itu membuat hati Ethan yang selama ini membeku seakan terusik. Tanpa perlu dijelaskan dengan gamblang, mereka semua bisa tahu bahwa wanita di hadapan saat ini adalah seseorang yang memiliki keistimewaan. Tubuhnya memang sudah besar, tapi pemikirannya tak lebih dari anak berusia lima tahun.

Kata-kata 'Tak boleh ikut mereka lagi' artinya gadis ini telah dibuang, tapi bahkan gadis ini pun seperti tak mengetahui maknanya.

Ethan sudah melihat ribuan korban perang. Menyaksikan kematian dan kehilangannya anak buah. Saat ini harusnya ia mati rasa, namun tatapan kosong seorang gadis yang baru saja dibuang keluarganya membuat hati Ethan benar-benar terusik.

Setelah beberapa saat terdiam, Ethan akhirnya membuka suara. "Masuk."

Ashlyn berkedip.b"Masuk?"

"Kamu ingin ikut denganku, bukan?"

Wajah Ashlyn langsung berbinar. "Iya!"

Tanpa pikir panjang, Ashlyn menghampiri Ethan dengan langkah kecil yang riang.

Melihat itubpara prajurit langsung panik. "Jenderal! Anda serius? Identitas gadis ini bahkan belum diketahui. Kami belum memeriksa apakah dia berbahaya atau tidak!"

Asisten kepercayaan Ethan ikut maju. "Tuan, membawa orang asing ke kediaman Anda sangat berisiko."

Ethan bahkan tidak menoleh. "Ini perintah."

Satu kalimat itu langsung membungkam semua orang. Tak ada yang berani membantah keputusan seorang Jenderal Ethan Harold.

Ashlyn dengan polosnya masuk ke dalam mobil mewah milik Ethan. Begitu duduk di kursi empuk, matanya langsung membulat kagum.

"Waah!" Tangan Ashlyn menyentuh jok kulit dengan hati-hati. "Lembut sekali."

Ashlyn melihat ke kanan dan ke kiri seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk ke dunia baru. "Suamiku kaya sekali!"

Ucapan itu membuat beberapa pengawal yang duduk di depan hampir tersedak. Mereka saling melirik melalui kaca spion.

Belum pernah ada orang yang berani memanggil Ethan seperti itu berulang kali. Dan yang lebih mengejutkan, Jenderal mereka bahkan membiarkannya.

Ethan duduk di samping Ashlyn. Aroma bunga liar yang samar tercium dari tubuh gadis itu. Ethan menatap Ashlyn yang sejak tadi sibuk mengagumi interior mobil.

Di hadapan gadis ini semua ketegasan dan kewibawaannya seperti tidak ada artinya. Ethan

 mengembuskan napas pelan.

"Siapa namamu?" tanya Ethan kemudian.

Ashlyn langsung menoleh. "Ashlyn."

Ethan menatapnya lekat. "Bagaimana bisa aku menjadi suamimu?"

Ashlyn tersenyum karena pertanyaan itu sangat mudah untuk dijawab. "Karena Mama bilang Jenderal Ethan Harold adalah suamiku."

"Itu saja?"

Ashlyn mengangguk polos. "Iya."

Ethan mengusap pelipisnya. Berarti semua ini bermula dari ucapan seseorang. Entah karena sengaja atau karena alasan lain.

Sebelum Ethan sempat bertanya lagi, Ashlyn tiba-tiba memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa senti. Tatapan bening Ashlyn dipenuhi rasa penasaran.

"Jenderal," panggil Ashlyn lembut.

"Apa?"

"Bukannya ini pertama kali kita bertemu?"

"Benar."

Ashlyn mengerucutkan bibirnya, lalu berkata dengan nada kecewa yang begitu polos.

"Kalau begitu, apa Jenderal tidak ingin memelukku?"

IISJ Bab 3 - Seekor Kucing

Pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil seketika membeku.

Semua orang terdiam.

Bahkan para pengawal yang duduk di kursi depan sampai membelalakkan mata. Mereka saling melirik memastikan bahwa telinga mereka tidak salah mendengar.

Memeluk?

Tidak ada seorang pun yang berani meminta hal seperti itu kepada Jenderal Ethan Harold.

Bahkan para pejabat tinggi pun selalu menjaga jarak saat berbicara dengannya.

Namun gadis polos di sampingnya justru memintanya dipeluk dengan wajah yang begitu serius. Seolah pertemuan yang aneh ini memang adalah pertemuan yang seharusnya antara suami dan istri.

Sementara itu, Ethan hanya menatap Ashlyn tanpa berkedip. Seumur hidupnya, belum pernah ada seseorang yang mampu membuatnya kehilangan kata-kata seperti sekarang.

Di hadapan gadis ini, pangkat, kekuasaan, kewibawaan, bahkan tatapan dinginnya seolah tidak memiliki arti sedikit pun. Ashlyn sama sekali tidak takut kepadanya.

Baginya Ethan hanyalah seorang suami.

Belum sempat Ethan membuka mulut untuk menjawab, keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara yang sangat pelan.

Kruuukk...

Wajah Ashlyn sontak berubah memerah. Ashlyn menundukkan kepala sambil memegang perutnya yang kembali berbunyi.

Kruuukk...

Dengan wajah malu-malu, Ashlyn mengangkat kepalanya dan menatap sang suami.

"Suamiku," ucap Ashlyn lirih. Ethan juga mendengar dengan jelas suara perut itu, tapi kini ia masih kehabisan kata-kata.

Ethan hanya mengernyit kecil. "Ada apa?" tanyanya seolah tak tahu apa-apa.

"Ashlyn lapar sekali," ucap Ashlyn dengan mengusap perutnya pelan. "Sejak ditinggal mama dan papa pagi tadi, Ashlyn belum makan," ucapnya lagi, sedangkan saat ini waktu sudah menjelang sore.

Kemudian Ashlyn menatap Ethan dengan penuh harap. "Suamiku, apa Suami punya makanan?"

Tatapan polos itu membuat Ethan mengembuskan napas pelan. Ia menekan tombol interkom yang terhubung ke mobil pengawal di depan.

"Berhenti."

"Iya, Jenderal."

Iring-iringan kendaraan segera menepi di depan sebuah warung makan sederhana yang berada di pinggir jalan.

Ethan menoleh kepada salah seorang bawahannya. "Belikan makanan."

"Siap, Jenderal."

Pengawal itu segera berlari memasuki warung. Tak sampai lima menit kemudian ia kembali dengan beberapa kotak makanan hangat, roti, buah-buahan, serta sebotol air mineral.

"Jenderal." Pria itu menyerahkan semuanya kepada Ethan.

Ethan mengambil kotak makanan itu, lalu meletakkannya di pangkuan Ashlyn. "Makan."

Mata Ashlyn langsung berbinar. "Untuk Ashlyn?"

"Iya."

"Benarkah?"

Ethan mengangguk singkat dan Ashlyn memeluk kotak makanan itu dengan wajah yang begitu bahagia. "Terima kasih, Suamiku."

Aroma makanan hangat langsung memenuhi kabin mobil. Perut Ashlyn kembali berbunyi pelan.

Namun beberapa detik berlalu. Ashlyn hanya memandangi makanan itu tanpa membukanya.

Ethan memperhatikannya. "Bukankah tadi kamu bilang lapar?"

"Iya."

"Kalau begitu kenapa tidak dimakan?"

Ashlyn menggigit bibirnya pelan. Ia menatap Ethan, lalu kembali menatap kotak makanan di tangannya.

Setelah ragu beberapa saat, Ashlyn akhirnya berkata dengan suara lirih. "Di rumah... Mama, Papa dan Sandrina selalu makan lebih dulu. Kalau masih ada sisanya, baru Ashlyn boleh makan," jawab Ashlyn.

Seluruh isi mobil kembali hening. Para pengawal yang mendengar ucapan itu kembali saling berpandangan. Dari penampilan gadis itu nampak jelas jika selama ini hidupnya tak baik, tapi siapa sangka bahwa ternyata hidupnya memang seburuk itu.

Ashlyn kembali menatap Ethan dengan senyum polosnya. "Jadi sekarang juga begitu. Jenderal harus makan dulu. Nanti sisanya baru buat Ashlyn," ucapnya dengan begitu tulus. Tidak ada sedikit pun rasa dipaksa. Karena bagi Ashlyn memang begitulah aturan yang selama ini ia yakini.

Tatapan Ethan perlahan berubah. Dari yang semula dingin dan selalu waspada kini jadi lebih lembut. Gadis ini, bahkan ketika kelaparan ia masih berpikir bahwa dirinya adalah orang yang harus makan paling akhir.

Ethan memandangi wajah polos Ashlyn beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.

"Di tempatku tidak ada aturan seperti itu," ucap Ethan.

Ashlyn berkedip bingung. "Tidak ada?" tanyanya cengo.

Ethan menggeleng pelan. "Siapa pun yang lapar, dia boleh makan. Tidak perlu menunggu orang lain. Tidak perlu menunggu sisa."

Ashlyn masih memeluk kotak makanan itu erat-erat. "Tapi..." ucap Ashlyn ragu. "Mama selalu bilang Ashlyn harus makan paling akhir."

"Itu aturan di rumahmu."

Ashlyn mengangguk pelan. "Iya."

"Dan sekarang kamu tidak berada di rumah itu lagi."

Kalimat Ethan membuat Ashlyn terdiam. Sedangkan Ethan menatap lurus ke arah gadis itu. "Sekarang kamu ikut denganku," tegas Ethan, ia sendiri tak menyangka kalimat ini bisa lolos begitu saja dari mulutnya.

Sebuah keputusan yang Ethan ambil tanpa melewati pemikiran yang panjang.

Dua pengawal di depan bahkan sampai tersentak saat mendengar kalimat tersebut, karena artinya sang Jenderal benar-benar berniat membawa gadis asing itu bersamanya. 'Astaga,' batin keduanya tak mampu berkata-kata.

Sementara Ethan hanya mampu melanjutkan ucapannya. "Yang harus kamu ikuti sekarang adalah aturanku."

Ashlyn tampak berpikir keras. Otaknya yang sederhana berusaha memahami setiap kata yang diucapkan Ethan.

"Jadi, bukan aturan Mama lagi?" tanya Ashlyn.

"Bukan."

"Bukan aturan Papa juga?"

"Bukan."

"Lalu..." Ashlyn menunjuk Ethan dengan jari telunjuknya. "Harus ikut aturan Suami?"

Ethan mengangguk singkat. Kata Suami yang selalu diucapkan Ashlyn entah kenapa tak terasa menganggu ditelinganya. Dia biarkan semua keanehan ini begitu saja.

"Benar," balas Ethan.

Wajah Ashlyn langsung dipenuhi keraguan. "Tapi kalau Ashlyn makan duluan, nanti Suami marah bagaimana?"

"Aku tidak akan marah."

"Benarkah?"

"Ya."

Ashlyn masih tampak belum yakin. Mana ada kebaikan yang datang dengan cuma-cuma. Hingga akhirnya Ethan mengambil kotak makanan itu dari pangkuan Ashlyn, membukanya dan menyodorkan kembali ke hadapan gadis tersebut.

"Makan."

Ashlyn menggigit bibirnya pelan. "Tapi..."

Ethan memotong ucapannya. "Ini perintah."

Seketika Ashlyn langsung mengangguk cepat. "Iya."

Dengan hati-hati Ashlyn mengambil sendok plastik, lalu menyendok nasi dalam jumlah yang sangat sedikit.

Ashlyn meniupnya pelan sebelum memasukkannya ke dalam mulut.

Begitu rasa makanan itu menyentuh lidahnya, kedua matanya langsung membulat.

"Mm..." Ashlyn buru-buru mengunyah, lalu menatap Ethan dengan wajah berbinar. "Enak sekali."

Ashlyn kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, kali ini lebih banyak daripada sebelumnya. "Enak, enak sekali."

Tanpa sadar senyum lebar menghiasi wajah Ashlyn. Di dalam hati, Ashlyn terus berseru penuh kegembiraan. 'Makanan ini enak sekali. Suamiku baik sekali. Ternyata ikut Suami membuat perut Ashlyn kenyang,' batin Ashlyn.

Dan melihat Ashlyn yang makan dengan lahap, Ethan hanya terdiam. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat. Seolah ia batu saja memungut seekor kucing yang kelaparan di tengah jalan.

Ethan bahkan merasa keputusan membawa gadis asing ini, mungkin bukanlah sebuah kesalahan.

Iring-iringan kendaraan terus melaju meninggalkan wilayah perbatasan.

Mobil hitam yang ditumpangi Ethan kini berada paling depan, diikuti belasan kendaraan militer yang mengawal dari belakang. Jalanan tanah perlahan berganti menjadi jalan beraspal yang lebar saat mereka memasuki kawasan Kota Servo.

Di sepanjang perjalanan, Ashlyn menikmati setiap pemandangan dari balik jendela.

"Suamiku, pohonnya besar sekali."

"Suamiku, lihat! Banyak burung!"

Setiap beberapa detik, suara riangnya kembali terdengar memenuhi kabin mobil.

Ethan yang sejak awal hanya menjawab dengan anggukan atau sepatah dua patah kata, mulai terbiasa dengan ocehan gadis itu.

Lama-kelamaan suara Ashlyn semakin pelan. Kelopak matanya berkedip semakin lambat. Hari ini terlalu melelahkan baginya.

Sejak pagi dibuang keluarga, berjalan tanpa arah di bawah terik matahari, menangis, ketakutan, lalu bertemu Ethan. Semua kejadian itu menguras habis tenaganya.

Tanpa sadar, kepala Ashlyn mulai terangguk-angguk. Beberapa detik kemudian jatuh pelan ke bahu Ethan.

Napasnya berubah teratur dan Ashlyn tertidur pulas.

Ethan menoleh sekilas ke arah gadis yang kini bersandar di bahunya, wajah polos ini.

Pada akhirnya Ethan membiarkan gadis itu tetap bersandar di bahunya. Tak ada satu pun pengawal yang berani bersuara. Mereka hanya saling bertukar pandang tercengang. Jika berita ini sampai menyebar, mungkin tidak akan ada yang percaya.

Jenderal Ethan Harold membiarkan seorang gadis asing tidur di bahunya.

Saat pagi buta rombongan akhirnya memasuki kawasan elite di Kota Servo.

Gerbang besi raksasa perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah kediaman megah berdiri di atas lahan yang sangat luas.

Air mancur bertingkat menghiasi halaman depan. Taman bunga tertata rapi di kanan dan kiri jalan masuk.

Puluhan penjaga berdiri tegak memberi hormat ketika iring-iringan mobil memasuki halaman utama.

Mobil Ethan berhenti tepat di depan pintu masuk mansion.

Sander sang asisten segera berlari cepat untuk membukakan pintu sang jenderal.

Ethan turun dari mobil dan akhirnya Sander melihat gadis asing itu sedang tertidur pulas dengan kepala bersandar di kursi belakang.

Sander menatap atasannya dengan sikap tegas seperti biasa. "Jenderal."

"Ada apa?" balas Ethan seraya menghentikan langkah.

Sander kembali melirik ke arah Ashlyn yang masih tertidur tanpa mengetahui bahwa ia telah tiba di tempat asing.

"Apa Anda benar-benar akan membawa gadis itu tinggal bersama Anda?" tanya Sander.

Pertanyaan itu menggantung di udara. Sementara para pengawal lain diam-diam ikut menunggu jawaban Ethan, sebab mereka semua memiliki pertanyaan yang sama.

Apakah keputusan yang dibuat sang jenderal di perbatasan tadi hanyalah rasa kasihan sesaat atau memang Ethan Harold telah memutuskan bahwa gadis bernama Ashlyn itu akan menjadi bagian dari kehidupannya mulai hari ini?

Karena Ethan hanya diam saja, Sander akhirnya kembali buka suara. "Anda tidak harus membawanya untuk tinggal bersama, saya akan menyiapkan tempat tinggal yang layak untuknya," putus Sander.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!