Indonesia
NovelToon NovelToon

ONCE AGAIN

BAB 1: PERSAHABATAN ORANG TUA

Bagian 1: tetangga sebelah sahabat selamanya.

Yogyakarta, 2013.

Langit sore Yogya selalu punya caranya sendiri untuk membuat siapa pun jatuh cinta. Warnanya jingga kemerahan, teduh, diiringi angin sepoi-sepoi yang berembus pelan melewati deretan rumah berarsitektur klasik di sebuah kompleks asri kawasan pinggiran kota. Anak-anak kecil riuh berlarian mengejar bola plastik, sementara beberapa ibu rumah tangga menikmati senja di teras sambil bertukar cerita.

Di sudut kompleks itu, ada dua bangunan yang tak pernah sepi. Rumah keluarga Fernansyah dan rumah keluarga Adhitama.

Dua rumah bersejarah itu berdiri berdampingan, hanya dipisahkan pagar besi setinggi pinggang berwarna putih yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian. Pagar itu lebih sering dibiarkan terbuka lebar daripada terkunci. Menandakan betapa tidak adanya sekat di antara dua kepala keluarga di sana.

"Bu, Arga berangkat dulu!" teriak seorang remaja laki-laki seraya terburu-buru menyengkelit sepatu prapatan tebalnya.

"Jangan ngebut, Arga! Helm dipasang!" sahut ibunya setengah berteriak dari balik jendela dapur.

"Siap, Kanjeng Ratuu!"

Remaja itu menyampirkan ranselnya di satu bahu, lalu mendorong pagar besi yang berderit pelan. Baru dua langkah kakinya menapak di atas paving blok, pintu rumah sebelah mendadak terbuka.

"Masih sempat, kan?"

Arga menghentikan langkah. Ia menoleh, mendapati seorang gadis berseragam putih-abu-abu berlari-lari kecil sambil sibuk merapikan jilbab putih nya yang agak berantakan.

"Nadira?" Arga menaikkan sebelah alisnya. "Lama banget, sih. Kebiasaan."

"Nyalahin alarm, lah! Tadi mati lampu, jam wekerku mendadak mati," elak gadis itu membela diri, sedikit napasnya terengah.

Arga menggelengkan kepala pelan, terkekeh sinis namun pandangannya hangat. "Naik motor aja, yuk?

Udah pepet jam bel, nih."

"Nanti dimarahin Papa. Katanya belum cukup umur," tolak Nadira cepat.

"Yaudah, jalan kaki. Tapi kalau dihukum lari keliling lapangan, kamu yang tanggung jawab ya."

Mereka akhirnya berjalan berdampingan menyusuri gang kompleks menuju gerbang utama. Langkah kaki mereka saling bersahutan secara alami, menciptakan irama yang sudah dihafal oleh jalanan kompleks itu bertahun-tahun lamanya.

Beginilah ritme pagi mereka. Selalu ada Arga, dan selalu ada Nadira. Lahir berdekatan. Tetanggaan sejak bayi. Sekolah di tempat yang sama, dan puncak kesialan atau keberuntungan mereka selalu terjebak di kelas yang sama.

SMA Negeri favorit di tengah Kota Yogyakarta pagi itu mulai riuh.

Arga Fernansyah adalah tipe cowok yang kehadirannya tak pernah bisa diabaikan. Tingginya di atas rata-rata anak seusianya, kapten tim basket, dan namanya langganan dipanggil guru piket bukan karena nakal berat, melainkan karena tingkah ajegnya yang tidak bisa diam seminit pun.

Berseberangan dengan itu, Nadira Adhitama adalah definisikan 'anak emas' para guru. Juara umum kelas, pengurus aktif organisasi, dan terkenal ramah nan anggun.

Namun, semua predikat 'anggun' dan 'kalem' milik Nadira akan menguap begitu saja tanpa sisa jika Arga sudah mulai bertingkah.

"Arga! Balikin buku catatan gue, nggak?!" pekik Nadira, melupakan citra siswi teladan demi mengejar cowok yang sedang melambaikan buku sampul cokelat di atas kepala.

"Kejar dulu! Lagian pelit banget, cuma mau liat tugas sejarah doang!" balas Arga santai sambil berlari kecil menjauhi jangkauan tangan Nadira.

"Arga, sumpah ya, nyebelin banget!"

Langkah patuh dan teriakan mereka memenuhi koridor kelas tiga. Teman-teman yang bersandar di dinding koridor hanya memandangi pemandangan itu sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"Duh, kalian berdua tuh ya... besok kalau gede nikah aja sekalian. Daripada berantem terus," seloroh salah satu teman kelas mereka dari pintu depan.

"Ih, amit-amit jabang bayi!" seru Nadira spontan, menepok jidatnya sendiri.

Arga yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan memutar badan, menyahut tak kalah sengit, "Siapa juga yang mau sama cewek galak kayak kamu!"

Mereka saling melotot tajam. Udara di antara mereka mendadak tegang selama tiga detik.

Lalu...

Bffft.

Keduanya meledak dalam tawa yang sama. Pertengkaran itu menguap begitu saja, digantikan oleh cengiran tanpa beban khas remaja belasan tahun.

Sore harinya, matahari mulai meredupkan sinarnya.

Seperti hari-hari biasa, pos ronda kayu di depan kompleks menjadi saksi bisu tumbuh kembang mereka. Tempat itu sudah menjelma menjadi markas pribadi. Ada meja kayu tua yang penuh coretan, beberapa kursi plastik warna biru, dan warung kelontong milik Bu Siti tepat di seberangnya.

"Bu Sitiii!" panggil Arga setengah berteriak, menyadarkan wanita paruh baya yang sedang merapikan dagangan.

"Iya, Ga? Apa lagi?"

"Es teh dua ya, Bu!"

"Utang lagi?" tanya Bu Siti sambil menyipitkan mata, berkacak pinggang.

Arga memamerkan deretan giginya yang putih. "Nanti dibayar pas uang saku minggu depan cair, Bu. Suwer!"

Bu Siti hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan. "Halah, gaya kamu. Ya sudah, ditunggu."

Nadira yang duduk di sampingnya langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Malu-maluin banget, sih, Ga."

"Malu kenapa, coba?"

"Gaya doang sok gagah, jajan es teh aja utang."

"Elah, yang penting dicatat. Prinsip pengusaha itu: arus kas harus tetap berputar, Nad," jawab Arga asal-asalan, mengacak rambutnya sendiri.

"Halah, alasan. Catatan utangmu di Bu Siti itu udah sejilid novel tau nggak!"

Tak lama, dua kantong plastik es teh dengan sedotan merah mendarat di meja.

Arga dan Nadira meminumnya dalam diam, menikmati semilir angin sore sambil menyaksikan anak-anak kecil yang mulai kelelahan bermain sepak bola di lapangan tanah tak jauh dari sana.

"Aku pengen kuliah di luar Jogja," letup Nadira tiba-tiba. Suaranya pelan, menyelinap di antara suara jangkrik yang mulai bersahut-sahutan.

Arga menghentikan sedotannya. Matanya beralih menatap samping wajah Nadira. "Serius?"

"Iya."

"Ke mana?"

"Belum tahu pasti. Mungkin Jakarta, atau Bandung. Pengen cari suasana baru aja."

"Kalau jauh banget?"

"Ya... dijalanin. Kan udah gede," gumam Nadira halus, menatap lurus ke depan.

Arga terdiam sejenak, menatap es teh di tangannya sebelum mengangguk pelan. "Bagus, sih. Kamu emang pinter, sayang kalau cuma mendekam di sini terus."

"Kamu sendiri gimana?" tanya Nadira balik, menolehkan kepalanya. "Mau ke mana habis lulus nanti?"

"Aku?" Arga terkekeh hambar. "Ayah pengennya aku nerusin usaha bengkel dan furnitur keluarga."

"Terus kamu maunya apa?"

"Aku... pengen jadi arsitek."

Nadira membelalakkan matanya kaget. "Hah? Arsitek? Bukannya cita-citamu jadi pemain basket nasional?"

"Basket itu hobi, Nad," sahut Arga santai, ada kilat keseriusan yang jarang terlihat di matanya.

"Tapi merancang bangunan... menggambar sesuatu yang nantinya bakal ditempati orang banyak dan bertahan puluhan tahun? That's my dream."

Nadira tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang membuat matanya menyipit indah. "Baru tahu aku."

"Soalnya kamu nggak pernah nanya," goda Arga.

"Kamu juga nggak pernah cerita!" balik Nadira menonjok lengan Arga pelan.

Mereka kembali terdiam. Hening, namun tidak canggung.

Inilah mereka. Sebuah bentuk persahabatan murni yang terikat oleh waktu dan kebiasaan. Tidak perlu pamer, tidak perlu jaim, dan tidak ada batasan palsu di antara mereka.

Malam menancapkan kekuasaannya. Lampu teras dari dua rumah yang berdampingan itu menyala terang, membiaskan cahaya kekuningan ke arah jalanan yang mulai sepi.

Arga duduk bersila di atas tembok pagar pembatas rumahnya, jemarinya memetik senar gitar akustik secara acak.

Tak lama kemudian, pintu rumah sebelah berdecit. Nadira keluar membawa dua cangkir mug berisi susu cokelat hangat yang berasap tipis.

"Nih," sodor Nadira.

"Buat aku?"

"Bukan, buat hantu pohon mangga. Ya buat kamulah!"

Nadira mendesis gemas lalu duduk di tangga teras, bersandar pada tembok pagar.

"Makasih, ya," kata Arga, menerima cangkir itu lalu menyeruputnya pelan.

"Kok diam aja? Lanjutin main gitarnya."

Arga kembali memetik senar. Sebuah melodi sederhana nan lembut mengalun, menyatu sempurna dengan ketenangan malam Yogyakarta. Beberapa tetangga yang baru pulang dari masjid berjalan melintasi rumah mereka dan tersenyum maklum.

"Masih nongkrong aja, Ga, Nad?" sapa Pak RT yang lewat.

"Iya, Pak. Nyari angin malam," balas Arga ramah sambil melambaikan tangan.

"Hampir tiap malam ya kalian ini," kekeh beliau sebelum berlalu.

Memang benar. Hampir setiap malam, di batas pagar inilah tempat mereka menumpahkan segalanya.

Tentang nilai ulangan yang hancur, tentang cita-cita setinggi langit, tentang film yang baru dirilis di bioskop, hingga tentang masa depan yang masih remang-remang.

Bahkan kadang... tentang tipe pasangan impian masing-masing.

"Nad," panggil Arga pelan di sela petikan gitarnya.

"Hm?"

"Kalau nanti kamu nikah... pengen dapet cowok yang kayak gimana?"

Nadira menengadahkan kepalanya, menatap deretan bintang yang tersebar samar di langit malam. Ia berpikir cukup lama sebelum menjawab, "Yang baik. Yang nggak gampang nyerah."

Arga tertawa kecil. "Cuma gitu doang? Singkat amat."

"Ya lagian ngapain rumit-rumit? Yang penting baik," jawab Nadira jujur. "Kalau kamu sendiri gimana?"

"Aku?" Arga menghentikan petikan gitarnya, menatap Nadira dalam-dalam di bawah temaram lampu teras.

"Aku pengen cewek yang ekstra sabar."

"Kenapa harus yang sabar?"

"Soalnya ngadepin aku itu susah, Nad. Cuma cewek sabar yang nggak bakal kabur di hari pertama."

Tawa ceria Nadira pecah seketika, disusul oleh tawa Arga yang ikut menggema di sunyinya malam.

Mereka tertawa bersama, tanpa sedikit pun menyadari...

Bahwa takdir di masa depan adalah misteri yang paling kejam sekaligus indah. Bahwa beberapa tahun dari malam ini, arus kehidupan akan membawa

langkah mereka ke persimpangan jalan yang berbeda.

Namun, benang merah dan ikatan rapat antara dua keluarga itu tidak akan pernah benar-benar terputus.

Nadira menunduk, memandangi deretan soal Matematika tentang limit fungsi yang rasanya seperti deretan kode rahasia. Pensil di jemarinya terantuk-antuk pada permukaan kertas. Sesekali ia merapikan rambutnya yang terjatuh melintasi pipi, lalu mengembuskan napas panjang hingga poni depannya bergoyang.

"Arga..." panggil Nadira lagi, kali ini dengan nada menyerah.

"Apa?" Arga menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari buku Fisika miliknya.

"Nomor empat ini maksudnya gimana sih? Gue udah muter-muter pakai rumus turunan, tapi jawabannya malah jadi minus tak hingga. Mana ada angka begitu di pilihan ganda..."

Arga menghentikan ketukan bolpoinnya. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Wangi samar sabun mandi yang khas dari tubuh Argan tercium oleh Nadira aroma yang selalu terasa familiar dan menenangkan sejak mereka kecil.

Arga menarik buku catatan Nadira mendekat ke arahnya. Matanya yang tajam membaca kilat setiap baris corat-coret tangan Nadira yang agak berantakan.

"Ini," tunjuk Arga dengan ujung bolpoinnya pada baris ketiga. "Lu salah masukkan pemfaktoran di bagian penyebutnya. Harus ganti tanda."

Nadira mendekatkan wajahnya ke buku, mengamati bagian yang ditunjuk Arga. "Eh? Mana? Oh... astaga, iya! Kok gue bisa salah tanda plus-minus gini sih?"

"Makanya konsentrasi. Jangan ngelamun terus," kata Arga pelan.

"Gue nggak ngelamun ya! Gue cuma... mikir," elak Nadira sambil cengengesan kecil. Ia mengambil penghapus lalu membersihkan coretan yang salah, membiarkan remah-remah penghapus berserakan di atas tikar pandan.

Arga menatap Nadira dari samping. Di bawah temaram cahaya lampu teras yang kekuningan, raut wajah Nadira terlihat begitu jelas. Ada ketulusan yang polos di mata gadis itu, tipe kepribadian yang selalu mengungkapkan apa pun yang dirasakannya tanpa ditutup-tutupi.

"Lu tadi tanya kan..." Arga tiba-tiba bersuara lagi. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh derik jangkrik di pekarangan.

Nadira menoleh. "Tanya apa?"

"Soal cewek yang sabar."

"Oh." Nadira menegakkan punggungnya, tertarik. "Kenapa? Lu nemu contohnya?"

Arga memutar-mutar bolpoin di antara jemarinya dengan lihai. "Lu salah kalau mikir nggak ada cewek yang bisa sabar terus."

"Dih, emang ada?" Nadira memicingkan mata, menantang. "Siapa? Coba sebutin satu aja. Nyokap gue aja yang kelihatan anggun dan sabar banget kadang bisa ngomel kalau Papa lupa taruh handuk basah di kasur."

Arga tersenyum tipis jenis senyuman langka yang selalu berhasil membuat suasana hati Nadira mendadak tenang.

"Ada," jawab Arga singkat.

"Siapa?"

"Cewek yang rela nungguin cowok cuek kayak gue, yang sering ngilang tanpa kabar gara-gara sibuk latihan, tapi pas ketemu masih mau ngajakin belajar bareng di atas tikar kusam gini."

Nadira terdiam seketika.

Suasana di antara mereka mendadak hening. Angin malam berembus lagi, memainkan sudut-sudut kertas buku mereka yang terbuka. Nadira merasa kedua pipinya mendadak menghangat. Ia tahu betul siapa yang sedang dibicarakan oleh Arga, tetapi lidahnya mendadak kelat untuk membalas dengan nada bercanda seperti biasanya.

Nadira buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke buku Matematika, berpura-pura sibuk menghitung ulang pemfaktoran yang tadi salah.

"I-itu mah bukan sabar..." bisik Nadira lirih, usahanya untuk terlihat santai gagal total karena suaranya sedikit bergetar. "Itu mah... kasihan aja sama lu, makanya ditemanin."

Arga tidak tertawa. Ia hanya menatap sisi wajah Nadira yang kini merona merah, lalu terkekeh sangat pelan dalam dadanya.

"Terserah lu mau sebut itu apa," kata Arga seraya menyandarkan punggungnya ke tembok teras yang dingin. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Yang penting, buat gue... cewek itu ada. Dan dia lagi duduk di samping gue sekarang."

Nadira menggigit b1b1r bawahnya rapat rapat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari ritme normal. tanpa berani menoleh lagi ke arga, ia memegang pensil nya erat erat diatas kertas walaupun sebenarnya, konsentrasi sudah buyar sepenuhnya sejak kalimat terakhir arga tadi

Bagian 2, Langit setelah lulus

Sore itu, langit Yogyakarta dihiasi semburat jingga keemasan yang perlahan meleleh menjadi warna ungu keabuan. Angin sepoi-sepoi berembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon mangga yang berderet rapi di sepanjang jalan kompleks.

Seperti biasa, pos ronda di ujung jalan itu kembali menjadi saksi bisu dari jutaan percakapan tak terarah milik dua remaja

Arga Fernansyah dan Alya Nadira Adhitama.

Di atas meja kayu tua yang penuh coretan nama dan tanggal, tergeletak dua plastik es teh yang mulai mencair, beberapa bungkus gorengan yang sudah dingin, serta tumpukan buku pelajaran kelas dua belas yang sejak satu jam lalu hanya menjadi pajangan.

Mereka lebih banyak mengobrol dan melempar lelucon ketimbang menatap rumus-rumus rumit di depan mata.

Arga merebahkan tubuh tingginya di atas bangku panjang, menggunakan tas ransel sebagai bantal seraya memandangi langit malam yang perlahan merayap naik.

"Capek banget, asli... Baru aja masuk kelas dua belas udah berasa mau rontok," keluh Arga sambil mengusap wajahnya kasar.

Nadira terkekeh kecil, merapikan letak kacamata tipisnya. "Baru juga awal semester, Ga. Perjalanan masih panjang."

"Justru itu! Bayangin nanti kalau udah masuk musim ujian nasional, terus tryout beruntun... Bisa gila gue."

"Ya makanya belajar, bukannya malah rebahan terus sambil ngitungin burung lewat."

"Belajar mulu, pusing. Otak gue butuh istirahat," balas Arga dengan nada santai yang menjadi ciri khasnya.

Nadira hanya menggelengkan kepala pelan. Sudah bertahun-tahun berteman rapat dengan Arga, cowok itu memang tidak pernah berubah. Selalu santai, selalu punya cara untuk meringankan suasana berat, dan tidak pernah membiarkan tenggat waktu merusak suasana hatinya.

Hening menyelinap sebentar di antara mereka. Hanya terdengar derik jangkrik dari balik semak-semak dan riuh samar suara anak-anak kompleks yang dipanggil pulang oleh ibu mereka.

Nadira menoleh ke arah Arga yang masih betah menatap langit sore. Ada keraguan di matanya sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.

"Em... Ga?"

"Hm?"

"Kita kan udah kelas dua belas, ya?"

"Iya, tahu. Kan tadi gue yang sambatan."

"Bentar lagi... kita mau lulus."

Arga mengangguk kecil, pandangannya masih tertuju pada garis-garis awan di atas sana. "Iya..."

"Abis ini... kita bakal melangkah ke jenjang yang beda. Kuliah... atau kerja."

"Hmm."

Nadira menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian sebelum melontarkan pertanyaan yang menggantung di kepalanya sejak lama. "Lu... serius nggak mau ngejar cita-cita lu buat masuk ITB?"

Pertanyaan itu seketika membuat Arga mengalihkan pandangannya dari langit. Tatapannya berubah total. Tidak ada lagi pendar jenaka yang biasanya selalu menghiasi wajah cowok itu.

Ia tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa begitu paksain dan berat.

"Mau, lah... Siapa yang nggak mau?" bisik Arga pelan.

Nadira bergeming, menunggu kelanjutan kalimat sahabatnya.

"Apalagi gue emang pengen banget masuk jurusan Arsitektur di sana. Itu impian gue dari SMP, Nad."

"Makanya... kan emang itu yang lu mau dari dulu. Kampusnya bagus, jurusannya juga salah satu yang terbaik."

"Iya, gue tahu," Arga menghela napas panjang, menatap tutup botol minuman yang ia pilin di jemarinya. "Tapi..."

"Tapi kenapa?"

"Pengen sih pengen, tapi ortu gue pasti nggak bakal ngizinin."

Nadira mengernyitkan dahi. "Kenapa gitu? Tante sama Om kan selalu dukung lu?"

"Bukan masalah dukung nggak dukung, Nad. Ayah pengennya gue tetep di Jogja," jawab Arga halus, ada kekecewaan yang tersirat di suaranya. "Beliau mau gue langsung bantu ngurus usaha furnitur dan bengkel keluarga setelah lulus."

"Lah, tapi kan bisa kuliah dulu? Nanti ilmu arsitek lu malah bisa dipakai buat ngembangin usaha Ayah kamu, kan?"

Arga tersenyum hambar, menggelengkan kepala pelan. "Kalau Ayah gampang diyakinin, dari kemarin gue udah sibuk ikut bimbingan belajar buat tembus ITB. Ayah itu keras kalau udah menyangkut masa depan bisnis keluarga."

Nadira ikut terdiam. Ia tahu betul karakter Ayah Arga. Beliau memang sosok penyayang dan sangat royal pada anak-anaknya, tapi dalam urusan prinsip dan masa depan... beliau punya garis tegas yang sulit ditawar.

Nadira menatap Arga selama beberapa detik, memperhatikan raut ketidakberdayaan di wajah cowok yang biasanya paling ceria itu.

"Kalau Ayah nggak setuju..." gumam Nadira pelan.

Arga menoleh. "...kenapa?"

"...kita bilang baik-baik."

"Kita?" Arga membelalakkan mata.

"Iya. Gue ikut ngomong sama Ayah lu."

Arga terkekeh kecil, menyandar lemas di sandaran kayu. "Lu pikir Ayah gue bakal dengerin omongan anak SMA kayak kita?"

"Ya dicoba dulu! Kita jelasin pelan-pelan kalau cita-cita lu itu berharga."

"Susah, Nad. Percaya sama gue."

"Belum dicoba udah nyerah!" tegas Nadira gemas.

"Nanti malah lu yang dimarahin Ayah gue, gimana?"

"Yaudah, dimarahin doang. Nggak bakal bikin gue patah tulang ini," sahut Nadira mantap.

Arga tertawa geli, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat kenekatan gadis di depannya. "Lu enak banget ngomongnya, kayak nggak tahu galaknya Ayah gue aja."

"Gue serius, Arga," potong Nadira cepat. Matanya menatap tepat ke dalam manik mata Arga dengan kepastian yang utuh. "Kalau masalah biaya yang bikin lu ragu... kita bisa kerja berdua di sana nanti."

"Hah? Maksud lu gimana?"

"Iya. Kita bisa cari kerja part-time bareng di Bandung. Buat nambah biaya hidup, buat bayar kontrakan, atau bantu-bantu biaya kuliah. Kita usahain bareng-bareng."

Arga memandang Nadira seolah gadis itu baru saja mengusulkan ide paling gila di muka bumi. "Lu... beneran mau repot-repot gitu cuma buat gue?"

"Ya mau," jawab Nadira pelan. Ia menundukkan kepala, memainkan sedotan di dalam gelas es tehnya yang mulai berembun. "Soalnya... gue juga pengen kuliah di luar Jogja, Ga."

"Lah, emang siapa yang ngelarang lu? Lu kan pinter, pasti gampang dapet beasiswa."

"Bapak," bisik Nadira.

Arga mengernyit. "Maksudnya?"

"Kalau kuliahnya masih di sekitaran Jogja... Bapak

izinin. Tapi kalau mau merantau keluar kota..."

Nadira menggeleng pelan dengan mata redup.

"...Bapak nggak bakal pernah kasih izin."

"Alasannya?"

"Katanya anak perempuan kalau jauh dari orang tua bikin pikiran. Khawatir."

Arga terdiam. Kata-kata Nadira seolah mengunci rapat mulutnya.

"Makanya..." Nadira mengangkat kepalanya kembali, tersenyum kecil menatap Arga. "Kalau nggak merantau bareng lu... gue nggak bakal pernah dibolehin keluar dari Jogja."

Ucapan polos namun bermakna dalam itu sukses membuat jantung Arga berdesir halus. "Gimana... gimana?"

"Iya. Bapak udah pernah bilang langsung ke gue kemarin lusa." Nadira menirukan nada bicara ayahnya yang berat. 'Kalau Nadira merantaunya ada Arga, Bapak masih tenang.'

Arga sampai kehilangan kata-kata untuk beberapa detik. "Seriusan Bapak lu bilang gitu?"

Nadira mengangguk pelan. "Beliau percaya banget sama lu."

"Lah, kok bisa gitu, sih?"

"Soalnya dari kecil kita tumbuh bareng. Rumah cuma berjarak satu pagar, orang tua kita udah kayak saudara. Bapak bilang... Arga itu anak baik, bertanggung jawab."

Seketika rasa canggung bercampur bangga membuat wajah Arga memerah. Cowok itu menyeringai lebar sambil membusungkan dadanya.

"Wah... gila. Gue baru aja dipuji sama calon mertua nih ceritanya?"

PLAK!

"ARGA!" Nadira refleks memukul lengan Arga cukup keras hingga cowok itu teraduh pelan. "Apaan sih! Nggak jelas banget!"

"Bercanda, Nad! Astaga, galak banget sih lu!" Arga mengusap-usap lengannya sambil tertawa lepas.

"Dikit-dikit bercanda! Nggak usah kepedean ya!"

"Iya, iya, ampun! Oke, maap!"

Suasana di pos ronda itu kembali hening setelah tawa mereka mereda. Namun, keheningan kali ini terasa hangat dan penuh harapan.

Di balik candaan konyol dan godaan tak bertepi, ada mimpi-mimpi besar yang perlahan mulai menenun jalannya sendiri. Mimpi untuk menembus batas kota lahir mereka, mimpi untuk merantau, dan mimpi untuk saling menjaga di tanah asing.

Dan mungkin... sebuah tekad terselubung untuk tetap berjalan berdampingan, apa pun yang terjadi nanti.

Arga menatap langit yang kini sepenuhnya telah gelap, berganti menjadi hamparan tirai hitam bertabur bintang tipis.

"Nad."

"Hm?"

"Kalau nanti... kita beneran takdirnya kuliah di Bandung bareng..."

"Iya?"

"Janji ya, jangan pernah ninggalin gue di sana."

Nadira menoleh, menatap garis rahang Arga dari samping sebelum tersenyum manis. "Gue yang harusnya bilang gitu ke lu."

"Kenapa gitu?"

"Soalnya lu kan anak basket, gampang akrab sama orang baru, temen lu di mana-mana. Kalau gue..." Nadira tertawa pelan, agak sumbang. "...gue takut sendirian di kota orang."

Arga duduk tegak, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dengan jari kelingking yang terulur tegak lurus.

"Yaudah. Makanya... janji."

Nadira menatap jari kelingking itu sejenak, lalu ikut mengacungkan jari kelingking kecilnya

bagian 3 : teras yang selalu ramai

Malam mulai merayap turun secara perlahan di Kota Yogyakarta.

Lampu-lampu jalan berkerlap-kerlip sepanjang gang kompleks, membiaskan cahaya kekuningan ke atas jalan paving blok yang sejak sore riuh oleh gelak tawa anak-anak kecil. Kini, suasana meredup tenang. Hanya tersisa derik jangkrik di antara semak-semak, sesekali diselingi obrolan santai bapak-bapak yang menikmati ronda malam di ujung gang.

Di teras rumah keluarga Fernansyah...

Dua remaja duduk berdampingan di atas tikar pandan yang agak kusam. Di hadapan mereka, sebuah meja lipat kayu mungil dijejali buku tebal Matematika IPA, Fisika, Biologi, lembaran kertas coretan yang berantakan, kalkulator, serta dua gelas teh hangat yang mulai mendingin karena tak tersentuh sama sekali.

Arga sibuk memutar-mutar pensil 2B di sela jemarinya dengan lihai, sementara Nadira tampak serius menunduk, menggoreskan rumus-rumus rumit ke dalam buku catatannya. Sesekali dahi gadis itu berkerut dalam, menatapi soal yang rasanya tak masuk akal.

"Ga," panggil Nadira tanpa menoleh.

"Hm?"

"Nomor tujuh ini gimana, sih? Rumus integral tertentunya kok nggak nemu hasilnya?"

Arga melirik sekilas ke arah kertas kerja Nadira.

"Yang integral turunan itu?"

"Iya. Hasil gue minus terus dari tadi."

Arga tertawa kecil. "Duh, gampang banget ini mah."

"Gampang dari mananya? Coba kerjain kalau bisa!"

"Sini." Arga menarik buku catatan Nadira mendekat. Jemari panjangnya mulai menggoreskan beberapa langkah penyelesaian yang ringkas namun presisi di tepi kertas.

Nadira memperhatikan gerakan tangan Arga dengan saksama. Alur berpikirkannya selalu ajaib-cepat dan praktis.

Beberapa detik kemudian...

"OHHH!" Nadira menepuk jidatnya sendiri. "Tinggal disubstitusi ke p dulu dari awal?!

"Kan," kekeh Arga jumawa. "Kirain susah.

"Ya lagian rumit banget muter-muturnya!"

"Soalnya otak lu kebanyakan mikir beban hidup," ledek Arga santai.

PLAK!

Nadira menyabet lengan Arga menggunakan penghapus karet berwarna putih. "Setan. Nyebelin banget!"

Arga hanya tertawa lepas, mengusap lengannya yang sama sekali tidak sakit.

Sudah jadi rahasia umum di kompleks mereka. Kalau ada tugas kelompok atau jadwal belajar bersama, entah kenapa tempat akhirnya selalu di rumah Arga-atau di rumah Nadira. Pindah-pindah begitu saja tanpa rencana.

Lagipula, rumah mereka berdampingan persis. Kalau bosan di rumah Nadira, tinggal lompat pagar ke rumah Arga. Kalau buntu di rumah Arga, tinggal geser beberapa langkah ke rumah Nadira. Kedua orang tua mereka bahkan sudah paham betul luar-dalam. Kalau salah satu anak hilang dari rumah jam berapa pun, cari saja di rumah sebelah.

"Eh, ini besok dikumpulin jam pertama, kan?" tanya Nadira memastikan seraya merapikan letak kacamatanya.

"Iya, Pak Rudi kan galak. Untung kita ngerjain sekarang."

"Kalau nggak, besok pagi pasti lu yang kelabangan nyontek di kelas."

"Dih, kok gue? Kita, kali!"

Baru saja Nadira hendak melayangkan pukulan kedua, terdengar engsel pintu rumah Arga berderit.

Ceklek.

Seorang pria berusia awal empat puluh tahunan melangkah keluar sambil memegang secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis. Wajahnya teduh, dengan senyum hangat khas bapak-bapak Jawa yang selalu berhasil menyebarkan rasa nyaman.

Pak Surya Fernansyah. Ayah Arga

Begitu mendapati dua anak remaja itu masih ngelesot di atas tikar teras, alisnya terangkat sedikit. "Lho..."

Arga dan Nadira spontan menoleh bersamaan.

Pak Surya tersenyum lebar, matanya menyipit ramah. "Ealah... ada Dira toh."

Nadira seketika langsung menegakkan punggung dan berdiri sopan. "Iya, Om. Malam, Om."

"Lho, kok malah di luar, Nak? Nggak masuk aja?" tanya Pak Surya penuh perhatian.

Nadira tersenyum canggung. "Tadi mumpung anginnya enak di luar, Om. Sekalian ngerjain tugas sekolah."

Pak Surya kemudian menatap putranya tajam,

namun berbalut nada bercanda. "Arga."

"Iya, Yah?"

"Kamu ini gimana, toh? Punya tamu kok diajak di luar begini? Nggak kamu suruh masuk?"

Arga menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Hehe... di luar adem, Yah. Enak."

Pak Surya menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan. "Adem gimana, wong udah jam delapan malam lewat. Nanti diculik angin malam, malah masuk angin Dira-nya."

Arga cuma menyengir tanpa dosa.

Pak Surya kembali beralih menatap Nadira dengan tatapan kebapakan yang hangat. "Ayo masuk, Dira. Nggak usah sungkan-sungkan kayak sama siapa aja. Kerjain tugasnya di dalam ruangan, lampunya lebih terang. Sekalian nanti cerita-cerita sama Om."

Nadira tersenyum kikuk, mengusap tengkuknya. Sejujurnya, ia sudah sangat akrab dengan keluarga Fernansyah. Sejak masih balita, ia sudah terbiasa bolak-balik keluar-masuk rumah ini tanpa permisi dan tak pernah dimarahi. Namun, rasa tahu diri sebagai seorang gadis membuatnya tetap merasa segan.

Matanya secara refleks beralih menatap Arga, seolah meminta dorongan.

Arga yang peka langsung mengangguk pelan. Keningnya terangkat sedikit, seolah memberikan isyarat terselubung 'Masuk aja, elah. Santai kayak biasanya.'

Nadira akhirnya mengangguk lega. "Kalau gitu... izin ngerjain di dalam ya, Om."

"Lho, pakai izin segala," Pak Surya tertawa renyah. "Rumah ini mah udah kayak rumah sendiri buat kamu dari dulu, Dira."

Kalimat sederhana itu merambat masuk ke dalam dada Nadira, menghangatkannya. Ia sudah ratusan kali mendengar Pak Surya atau Bu Rani mengucapkan hal itu, tapi rasanya tidak pernah berubah. Selalu menghadirkan rasa aman dan keterikatan yang pekat.

Pak Surya mendorong pintu depan lebih lebar. "Ayo, masuk."

Mereka berdua merapikan buku-buku lalu melangkah masuk ke ruang keluarga. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun sangat berkarakter dan tertata rapi. Di sudut ruangan, berdiri rak kayu jati berisi barisan novel, majalah arsitektur tua, dan beberapa piala kejuaraan basket Arga semasa SMP.

Di dinding kremnya, terpajang puluhan bingkai foto keluarga dalam berbagai ukuran. Foto Arga balita yang pipinya masih tembem, foto liburan ke Parangtritis, foto ulang tahun, hingga... sebuah foto unik yang selalu menarik perhatian.

Di foto itu, Arga kecil tampak menangis sesenggukan dengan seluruh permukaan wajah yang dicoret-coret garis hitam asal-asalan.

Melihat bingkai itu lagi, tawa Nadira refleks pecah. "Om..."

Pak Surya yang hendak menuju meja makan menoleh. "Iya, Dira?"

"Itu Arga waktu kecil kenapa mukanya penuh coretan spidol gitu, Om?"

Pak Surya langsung terkekeh geli mengingat momen itu. "Oalah, itu! Itu ulah dia sendiri, Dira."

"Yah! Astaga... dijaga dong aurat masa kecil Arga," protes Arga panik, wajahnya mendadak merona merah. "Malu-maluin banget didepan Dira!"

"Lah, memang kenyataan!" balas Pak Surya santai. "Waktu umur lima tahun, habis nonton film kartun, dia bilang sama Ayah pengen jadi harimau Sumatra."

Nadira menahan tawanya setengah mati, memegangi perutnya. "Terus, Om?"

"Terus dia ngambil spidol permanen hitam milik Ayah, dibalurin ke seluruh mukanya sendiri buat bikin kumis dan loreng-loreng harimau!"

Kini, pertahanan Nadira jebol sepenuhnya. Tawa nyaringnya memenuhi ruang keluarga. "BHAHAHA! Seriusan, Om?!"

Pak Surya mengangguk mantap. "Serius! Ibumu sampai nangis-nangis nggosok mukanya pakai minyak kayu putih berturut-turut seminggu biar hilang!"

Arga menutup seluruh wajahnya menggunakan bantal sofa abu-abu, mengaduh pasrah. "Yah... udah, Yah... cukup. Malu banget, sumpah."

Pak Surya justru makin puas tertawa. "Makanya, kecilnya bertingkah aneh-aneh. Biar Dira tahu kelakuan asli kamu!"

Nadira masih tertawa mengikik, melirik Arga yang masih bergulingan menyembunyikan wajahnya di balik bantal. "Duh... kirain dari kecil udah sok keren kayak sekarang. Lah ternyata..."

"Ternyata apa?!" sahut Arga dari balik bantal, suaranya terendam.

"...ternyata harimau dipakein spidol!"

"DIRA! Awas kamu ya!"

Ruang keluarga itu makin pecah oleh gelak tawa. Tak berapa lama kemudian, dari arah dapur terdengar aroma gurih yang menguar manis, disusul suara derap langkah kaki.

Bu Rani-ibu Arga-muncul membawa nampan berisi sepiring pisang goreng kipas yang masih kebul-kebul dan semangkuk singkong rebus tabur kelapa.

"Wah, ada Dira rupanya! Pantesan ramai banget," sapa Bu Rani hangat.

"Iya, Tante," balas Nadira, langsung menyalami tangan Bu Rani dengan takzim.

"Pas banget, Nak. Ini Tante baru aja ngangkat pisang goreng sama singkong. Yuk, dimakan dulu selagi hangat." Beliau meletakkan nampan itu di meja kaca.

"Aduh, jadi ngerepotin, Tante..."

"Ngerepotin apa toh, Dira ini," potong Bu Rani cepat sambil mengibaskan tangan. "Nggak usah nolak. Tante tahu kamu kalau udah belajar suka lupa makan."

Nadira hanya bisa tersenyum malu-malu. "Makasih banyak ya, Tante."

Bu Rani mengusap lembut puncak kepala Nadira yang tertutup rambut terurai halus. "Iya, Sayang. Kamu sama Arga ini jangan belajar terus-terusan, toh. Otak juga butuh dimanja."

Pak Surya yang kembali membawa cangkir kopinya mengangguk setuju dari sofa sebelah. "Betul kata Ibu. Lagian kelas dua belas memang berat, tapi jangan sampai stres cuma gara-gara ngejar nilai. Kesehatan fisik sama hati itu yang nomor satu."

Arga akhirnya menurunkan bantal dari wajahnya, lalu saling berpandangan dengan Nadira. Ada kehangatan membuncah di dalam dada mereka masing-masing.

"Iya, Yah," sahut Arga pelan.

"Iya, Om, Tante," timpal Nadira tulus.

Malam itu, di dalam ruang keluarga Fernansyah yang sederhana, aroma pisang goreng hangat, denting cangkir kopi, dan tawa yang renyah menyatu sempurna-menciptakan kenangan sederhana tentang masa remaja yang kelak akan sangat mereka rindukan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!