Bab 1: Kesalahan Semalam
Val.
Tiga gelas tequila.
Sebanyak itu yang sudah kutenggak saat kulihat dia masuk.
Atau empat. Aku tidak tahu lagi. Setelah gelas kedua, aku berhenti menghitung karena suara Lukian terus berputar di kepalaku.
"Kamu gila, Valentina. Dari dulu memang begitu."
"Tidak ada yang akan tahan denganmu. Tanpa aku, kamu bukan apa-apa."
Kuteguk sisa minuman di gelas dalam sekali habis. Panasnya membakar. Bagus. Aku lebih memilih rasa itu daripada terus merasakan penghinaan yang menempel di tenggorokan, seperti sesuatu yang tidak bisa kutelan ataupun kumuntahkan.
Bar Penerbangan Malam. Kamis. Setengah kosong. Aku tidak peduli. Satu-satunya yang kuinginkan hanya mabuk sampai wajah Lukian terhapus dari ingatanku, bersama tangkapan layar yang dikirim Kamila kepadaku.
"Tambah satu," kataku kepada bartender, menghantamkan gelas ke meja bar.
Dia menuangkannya tanpa bertanya. Bagus.
Tiga tahun bersama Lukian Reyhan. Tiga tahun bersama pria yang tidak bisa disebut baik, tapi juga tidak benar-benar jahat. Dia hanya kosong. Seperti furnitur mahal yang berdiri di sana sampai kau terbiasa dengan keberadaannya.
Tapi hari ini aku tahu furnitur itu bisa bicara buruk tentangku di belakang.
Kamila, adik tiriku, memasukkanku ke grup WhatsApp teman-teman Lukian. Dua menit. Itu cukup untuk membaca semuanya.
"Si Valentina itu makin kacau kepalanya, ya? Kemarin dia sampai nangis cuma karena nasinya gosong. Menurutku dia beneran butuh rumah sakit jiwa."
"Hahaha terus kenapa lo masih sama dia, bro?"
"Ya tahulah, dia itu Mahendra. Kalau gue tinggalin, si tua bisa cabut kontraknya."
"Oh, jadi lo sama dia karena duit papanya?"
"Anggap saja satu paket: si gila sudah termasuk tanda tangan. Lagian dia juga nggak jelek-jelek amat, masih ada yang bisa dimanfaatkan hahaha."
Kamila mengeluarkanku dari grup sebelum aku sempat menulis apa pun. Setelah itu, dia menelepon dengan suara manisnya yang berbisa.
"Aduh, maaf ya, adikku. Aku nggak tahu mereka bakal masukin kamu. Parah banget yang Lukian bilang, kan?"
Dia melakukannya dengan sengaja. Seperti semua hal yang dia lakukan. Tapi itu sudah tidak penting. Yang penting adalah kata-kata dalam gelembung abu-abu itu, kata-kata yang kulihat setiap kali aku memejamkan mata.
Gila. Paket. Masih ada yang bisa dimanfaatkan.
Kuangkat gelasku.
"Untuk para pria jujur," aku bersulang sendirian. "Tiga orang yang ada di dunia ini, dan tidak satu pun jatuh ke tanganku."
"Empat, kalau aku dihitung."
Suara itu. Aku akan mengenalinya di mana pun. Mabuk, sadar, bahkan di tengah gempa sekalipun. Ada suara yang masuk ke tubuhmu dan tinggal di sana, bukan di tempat bernama ingatan, melainkan lebih rendah, lebih liar.
Aku berputar di kursi bar.
Sebastian Bara.
Tidak mungkin. Dari semua bar di kota ini, teman sebangkuku saat SMA, pria paling arogan, paling menyebalkan, dan paling tidak masuk akal tampannya yang pernah kukenal, berdiri setengah meter dariku dengan jaket kulit hitam dan senyum brengsek yang sama seperti saat dia berumur tujuh belas tahun.
"Mahendra?" Dia mengenaliku. Keterkejutan itu hanya bertahan dua detik sebelum berubah menjadi geli. "Valentina Mahendra. Jangan bercanda."
"Bara." Kuucapkan nama belakangnya seperti umpatan.
"Kamu minum sendirian pada Kamis malam?" Dia duduk di sampingku tanpa minta izin. Memang begitu dirinya. Sebastian Bara tidak pernah meminta izin untuk masuk ke ruang seseorang. "Ini baru. Valentina yang kuingat dulu bahkan tidak minum air soda."
"Valentina itu masih tujuh belas tahun. Banyak yang sudah terjadi."
"Kelihatan," katanya, lalu matanya menyusuri tubuhku dengan cara yang terasa langsung di kulit.
Aku balas menatapnya karena aku bukan pengecut. Dia bukan lagi anak tinggi kurus yang selalu merebut peringkat pertama dariku saat ujian. Tubuhnya lebih bidang, rahangnya lebih keras, tatapannya lebih gelap. Ada sesuatu pada dirinya yang dulu belum ada. Atau aku yang terlalu muda untuk menyadarinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku. Bartender meletakkan segelas wiski di depannya tanpa diminta, dan itu memberitahuku bahwa dia sering datang.
"Istirahat di antara jadwal terbang." Dia mengangkat gelas ke bibir. "Kamu? Merayakan sesuatu atau sedang menenggelamkan diri?"
"Yang kedua."
"Pacarmu?"
Aku tidak menjawab. Diamku sudah mengatakan semuanya.
"Aku mengerti," katanya, dan untuk pertama kalinya, kesombongan itu turun dari suaranya. "Kadang kamu butuh tempat di mana tidak ada yang mengenalmu."
"Kamu mengenalku."
"Tidak." Dia menatap mataku, dan sesuatu di udara berubah. "Aku mengenalmu. Sepuluh tahun lalu. Perempuan yang sekarang ada di depanku belum kukenal."
"Lebih baik begitu. Kamu tidak akan menyukaiku."
"Dulu pun aku tidak menyukaimu, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memandangimu."
Panas naik ke wajahku. Entah karena tequila, entah karena ucapannya. Aku menatapnya, menunggu sarkasme, menunggu ejekan. Tapi matanya serius.
Kami tetap begitu. Saling menatap. Sepuluh tahun terbentang di antara kami, tetapi berdiri di hadapannya terasa seperti sesuatu yang dikenali tubuhku, sekalipun kepalaku berkata tidak.
Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu mendekat. Aku mabuk dan tidak punya saringan. Dia tidak pernah termasuk orang yang menunggu.
Yang kutahu, saat kami berciuman, itu tidak indah. Itu benturan. Dia terasa seperti wiski, aku seperti tequila dan keputusan-keputusan yang kelak kusesali. Dia memegangi wajahku dengan kedua tangan dan menciumku seolah ada sepuluh tahun hasrat yang tertahan, dan aku membalasnya dengan kekuatan yang sama karena saat itu aku tidak peduli pada apa pun: Lukian, Kamila, ayahku, seluruh hidupku.
"Ini ide yang sangat buruk," kataku di bibirnya.
"Sangat buruk," katanya, lalu meremas pinggangku.
"Aku membencimu, Bara."
"Aku tahu, Mahendra."
Dan kami meninggalkan bar.
Hotel itu dua blok dari sana. Kami tidak bicara di jalan. Tangannya berada di punggung bawahku, dan panas jari-jarinya terasa menembus kain, seakan membakar kulitku.
Pintu kamar baru saja tertutup ketika dia sudah menahanku ke dinding. Dia menciumi leherku, rahangku, titik di belakang telinga yang membuat lututku lemas. Tangannya menjelajahi tubuhku dari atas pakaian, pinggang, pinggul, naik menyusuri sisi tubuhku, dan di setiap tempat yang disentuhnya, kulitku menyala.
"Tunggu," kataku, tapi tanganku sudah melepas jaketnya.
"Kamu mau aku berhenti?" Bibirnya berada di tulang selangkaku. Suaranya bergetar di kulitku.
"Tidak."
Dia menarik blusku melewati kepala. Lalu menatapku. Tidak ada seorang pun yang pernah menatapku seperti itu, bukan seperti Lukian yang menatapku seperti orang memeriksa barang belian. Seb menatapku seolah sedang menghafal setiap sentimeter diriku.
"Berhenti menatapku seperti itu," gumamku.
"Seperti apa?"
"Seperti itu."
Dia tidak berhenti menatap. Ibu jarinya menyusuri bibirku pelan, dan gerakan itu begitu intim sampai aku merasa lebih telanjang oleh sentuhan itu daripada oleh tubuhku yang hanya separuh berpakaian di depannya.
Aku melepas kemejanya. Dadanya keras, kulitnya panas, ada bekas luka kecil di bawah rusuknya yang ingin kusentuh, dan kusentuh. Dia memejamkan mata sesaat ketika jariku melewatinya, seolah rasanya sakit, tapi bukan karena nyeri.
Dia mengangkatku. Semudah itu, seakan aku tidak berbobot. Kakiku melingkar di pinggangnya secara naluriah, dan dia membawaku ke ranjang tanpa berhenti menciumku. Kasur menyambut punggungku, dan berat tubuhnya di atasku menguras udara dari paru-paruku.
Dia tidak terburu-buru. Itu yang paling menghancurkan pertahananku. Lukian selalu tergesa, seolah seks hanya satu kotak lagi yang harus dicentang dalam daftar urusannya. Seb tidak. Seb mencium perutku, lekuk pinggulku, bagian dalam pahaku, dan setiap ciuman terasa lambat, basah, disengaja. Seolah dia sedang mempelajari tubuhku dengan mulutnya.
"Bara," kataku, dan suaraku sudah tidak terdengar seperti milikku. "Cepat."
"Tidak."
"Aku membencimu."
"Kamu sudah bilang."
Mulutnya turun lebih jauh dan aku berhenti bicara.
Ketika akhirnya dia berada di dalamku, suara yang keluar dari tenggorokanku adalah suara yang tidak kukira bisa kubuat. Dia membungkam mulutku dengan bibirnya dan mulai bergerak pelan, terlalu pelan, sampai aku menancapkan kuku ke punggungnya dan berbisik di telinganya agar berhenti menyiksaku.
Dia tidak berhenti menyiksaku. Dia mengubah ritme hanya ketika dia mau, dan setiap kali aku nyaris mencapai puncak, dia berhenti, menatapku dengan mata gelap itu, lalu memulai lagi. Seolah dia tahu persis di mana batasku dan menikmati membawaku sampai ke sana sebelum mundur kembali.
"Kamu bajingan," kataku, dan dia tertawa di leherku.
Ketika dia akhirnya membiarkanku selesai, seluruh tubuhku ikut runtuh. Aku melengkung ke arahnya, memejamkan mata kuat-kuat, mencengkeram bahunya, dan merasakan sesuatu di dalam diriku pecah, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan seks. Lebih besar dari itu. Seperti melepaskan beban yang sudah lama kupikul.
Dia menyusul kemudian, wajahnya tenggelam di leherku, napasnya berat, mengatakan sesuatu yang tidak sempat kudengar, tapi kurasakan di kulitku seperti tanda.
Kami tetap begitu. Berkeringat, terengah, saling terbelit. Ibu jarinya membuat lingkaran kecil di pinggulku, sementara wajahku menempel di dadanya, mendengarkan detak jantungnya perlahan kembali normal.
Kami tidak bicara. Tidak perlu.
Aku tertidur tanpa sadar. Dan hal terakhir yang kucatat adalah bibirnya di rambutku dan lengannya yang mengerat di tubuhku, seolah seseorang bisa datang untuk mengambilku.
Aku terbangun dengan sinar matahari di wajah.
Semuanya sakit. Kepalaku, tubuhku, bagian-bagian yang tidak kutahu bisa terasa seperti itu. Mulutku terasa seperti penyesalan bercampur tequila.
Aku menoleh. Ranjang kosong. Hanya ada jejak tubuhnya di bantal. Dan selembar catatan di meja samping ranjang.
Nomor telepon dengan tulisan tegas. Tulisan tangan yang sama seperti saat SMA. Di bawahnya, satu kalimat:
"Untuk saat kamu berhenti membohongi dirimu sendiri. - S."
Aku menatapnya lima detik.
Lalu kucabik-cabik catatan itu, berpakaian dengan sisa harga diri yang kumiliki, dan keluar dari sana tanpa menoleh.
Itu hanya satu malam. Tequila yang bersalah. Aku korbannya. Titik.
Aku tidak akan meneleponnya. Tidak akan mencarinya. Sebastian Bara adalah kesalahan semalam, dan aku tidak mengulangi kesalahan.
Atau begitulah yang kupikirkan.
Di parkiran hotel, ponselku bergetar. Lukian.
"Sayang, kamu pergi tanpa bilang apa-apa. Kita bisa bicara? Aku mencintaimu."
Kubaca. Aku tertawa. Kuhapus.
Kunyalakan mobil dan melaju ke bandara. Aku harus bekerja. Duduk di menara kendali dan berpura-pura hidupku tidak sedang runtuh berkeping-keping.
Tapi sepanjang perjalanan, suaranya tetap ada.
"Dulu pun aku tidak menyukaimu, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memandangimu."
Dasar bajingan tolol.
Bab 2: Kapten Cakrawala Air
Val.
Hal terburuk dari menjadi pengatur lalu lintas udara bukan tekanannya. Bukan sif dua belas jam, bukan pula fakta bahwa tiga ratus orang bergantung pada suaramu agar tidak saling menabrak di udara.
Hal terburuknya adalah kau tidak boleh datang dengan pengar.
Dan hari ini pengarku sebesar Boeing 747.
Kupakai kacamata hitam, kutelan kopi paling pahit dari kafetaria bandara, lalu berjalan menuju menara kendali sambil berdoa agar tidak ada yang mengajakku bicara. Terutama Pati, yang punya radar pendeteksi drama asmara lebih akurat daripada sistem navigasi mana pun.
Lalu aku melihatnya.
Awalnya kupikir tequila masih bekerja di tubuhku. Karena tidak mungkin. Tidak mungkin pria yang kutinggalkan pagi itu kini berjalan di koridor bandara dengan seragam pilot yang melekat di tubuhnya seolah dijahit khusus untuknya.
Seragam kapten.
Empat garis emas di bahu. Kemeja putih yang menegaskan bidang pundaknya. Dasi sempurna. Topi pilot di tangan. Aku menatapnya dari atas sampai bawah, dan tubuhku bereaksi lebih cepat daripada otakku. Tarikan panas di perut, sensasi yang sama seperti semalam saat dia menyentuhku, membuatku harus mengatupkan gigi agar tidak terlihat.
Dia berhenti. Aku juga berhenti.
Tiga detik. Kami saling menatap di tengah koridor, sementara orang-orang berlalu-lalang tanpa tahu mereka sedang menyaksikan momen terburuk dalam hidupku.
"Tidak." Kata itu keluar sebagai penolakan umum. Kepada semesta. Kepada semuanya. "Tidak, tidak, tidak."
Sudut bibirnya terangkat.
"Selamat pagi juga untukmu, Mahendra."
"Kamu pilot?" Aku menunjuknya seperti sedang menuduhnya melakukan kejahatan. "Pilot?"
"Kapten, tepatnya." Dia merapikan topi di bawah lengannya. "Cakrawala Air. Kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan di sini pukul tujuh pagi dengan wajah ingin membunuh orang?"
"Aku bekerja di sini," kataku di sela gigi.
"Serius?" Kejutannya tulus. "Sebagai apa?"
"Pengatur lalu lintas udara."
Hening. Aku melihat pemahaman itu jatuh ke tempatnya. Dia bekerja di menara. Aku terbang untuk Cakrawala Air. Pekerjaan kami saling menempel.
Lalu dia tertawa.
Bukan tawa kecil yang sopan. Dia tertawa dengan seluruh tubuhnya, menengadahkan kepala dan memperlihatkan gigi. Gigi yang semalam menggigit bibir bawahku dan memaksaku mengeluarkan suara yang masih membuatku malu saat mengingatnya.
"Biar kupahami dulu," katanya, mengusap air mata di sudut mata. "Perempuan yang tidur denganku semalam adalah orang yang akan memberiku instruksi penerbangan?"
"Pelankan suaramu!" Aku menoleh ke segala arah. "Dengar, yang semalam itu kesalahan. Kecelakaan. Aku mabuk, kamu ada di sana, itu terjadi. Tidak akan terulang."
"Tidak akan itu waktu yang panjang, Mahendra."
"Aku punya sesuatu untukmu." Aku mengeluarkan amplop dari tas. Sudah kusiapkan di mobil, berisi uang dari ATM, karena aku perempuan yang menyelesaikan masalah dengan cepat. "Rp100 juta. Untuk semalam."
Tawanya hilang dari wajahnya. Dia menatapku. Menatap amplop itu. Menatapku lagi.
"Kamu membayarku?" Suaranya turun dua nada. "Kamu mencoba membayarku karena sudah tidur denganmu?"
"Jangan bilang begitu."
"Lalu harus kubilang bagaimana, Valentina?" Nama lengkapku. Terdengar berbeda di mulutnya. Lebih berat. Aku teringat bagaimana nama itu terdengar semalam, serak di leherku. "Kamu memberiku uang seolah aku ini..."
"Agar tidak ada utang," potongku, mendorong amplop itu ke arahnya. "Ambil uangnya, lupakan yang terjadi, selesai."
Dia menatapku lama. Tatapannya terasa menembus tubuhku. Seb punya cara menatap yang membuatmu merasa semua yang kau sembunyikan terlihat olehnya, dan semalam dia melihatku seluruhnya, tanpa pakaian dan tanpa topeng. Itu jauh lebih menakutkan daripada hal lain.
Dia mengambil amplop itu.
Tubuhku mengendur. Bagus. Ini akan berhasil. Dia akan mengambil uangnya dan akan...
Dia merobeknya menjadi dua.
Lalu merobek dua bagian itu menjadi empat. Empat bagian itu menjadi serpihan. Dia menjatuhkannya di antara kami.
"Apa-apaan yang kamu lakukan?" Mulutku terbuka. "Itu uang, tolol!"
"Tahu apa yang kuingat tentangmu waktu SMA, Mahendra?" Dia maju selangkah. Suaranya rendah, terkendali. "Kamu selalu ingin mengendalikan segalanya. Setiap ujian, setiap nilai, setiap situasi. Karena kamu panik setengah mati saat ada hal yang tidak bisa kamu kendalikan."
Dia benar, dan aku membencinya karena itu.
"Yang semalam," lanjutnya, begitu dekat sampai aku mencium aroma cologne bercampur bau tubuhnya, bau yang sama dengan bantal hotel dan masih terasa menempel di kulitku, "bukan kesalahan. Bukan kecelakaan. Aku tidak akan berpura-pura itu tidak terjadi. Dan aku tidak akan menerima uangmu untuk melupakannya."
"Lalu apa yang kamu mau?" Suaraku keluar lebih lemah daripada yang kuinginkan.
"Tidak ada." Dia menjauh, dan jarak itu jatuh ke tubuhku seperti pukulan. "Aku tidak menginginkan apa pun darimu, Valentina. Tapi aku tidak akan membiarkanmu mengubah yang terjadi menjadi transaksi. Kamu dan aku tidak semurah itu."
Dia memakai topinya, merapikan seragamnya, lalu pergi.
"Hei!" panggilku. "Uangnya!"
"Simpan uangmu," katanya tanpa menoleh. "Dan lain kali kalau kamu ingin membayar seseorang untuk tidur denganmu, pastikan orang itu bukan pria yang melakukannya gratis karena memang menginginkannya."
Aku melihatnya menghilang di koridor. Langkah panjang, pasti. Jenis pria yang berjalan seolah segala sesuatu miliknya.
"Sialan..." desisku, membungkuk untuk memunguti serpihan uang dari lantai.
"Ehm... kamu baik-baik saja?"
Aku tersentak. Tiga meter dariku berdiri seorang pria berseragam perwira pertama, rambutnya berantakan, wajahnya di antara geli dan khawatir. Dia menatapku, menatap uang sobek di lantai, lalu menatapku lagi.
"Aku Rodrigo," katanya, mengulurkan tangan. "Rodrigo Zamora. Kopilot Kapten Bara. Tapi semua orang memanggilku Rodri."
"Bagus untukmu, Rodri." Aku berdiri dengan kedua tangan penuh serpihan uang. "Kamu butuh sesuatu?"
Dia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
"Tidak... aku cuma ingin memastikan sesuatu." Senyumnya melebar. "Kamu perempuan yang semalam itu?"
Wajahku pasti berubah merah dengan warna yang belum pernah ada, karena Rodri langsung mengangkat kedua tangan.
"Wow, tenang, jangan bunuh aku. Soalnya kapten datang hari ini dengan wajah yang belum pernah kulihat, lalu sekarang aku melihatmu memunguti uang dari lantai setelah bicara dengannya, jadi... cukup jelas."
"Tidak ada perempuan. Tidak ada malam apa pun. Dan kalau kamu mengatakan sesuatu kepada siapa pun, sumpah, setiap pendaratanmu akan kujadikan mimpi buruk dari menara kendali."
Rodri mengerjap. Lalu tertawa.
"Ya Tuhan, kamu sempurna untuk dia."
"Rodri!"
"Aku pergi!" Dia hampir berlari sambil tertawa terbahak-bahak. "Tapi catat, aku tidak tahu apa-apa!"
Aku tertinggal sendirian di koridor. Dikelilingi uang sobek. Dengan harga diriku tercecer di lantai dan denyut nadi yang masih berpacu.
Sebastian Bara adalah pilot. Kapten. Di Cakrawala Air.
Aku akan harus mendengar suaranya lewat radio. Memandunya secara profesional. Bersikap seolah aku tidak tahu seperti apa suaranya saat mencapai puncak, bagaimana berat tubuhnya di atasku, bagaimana tangannya mencengkeram rambutku ketika...
Tidak. Cukup.
Kupunguti serpihan uang terakhir, kumasukkan ke tas, lalu berjalan menuju menara dengan rahang terkunci.
Aku hanya perlu mengabaikannya. Bersikap profesional. Melakukan pekerjaanku.
Memangnya seberapa sulit?
Bab 3: Kunci Yang Dikembalikan
Val.
Aku tiba di apartemen dengan langkah terseret.
Sif di menara terasa seperti siksaan. Setiap kali frekuensi terbuka, seluruh tubuhku menegang, menunggu suara berat itu berkata, "CA-3576, meminta izin." Itu tidak terjadi. Penerbangannya baru besok, menurut papan jadwal yang kuperiksa tiga kali. Kebetulan sekali.
Kubuka pintu, dan bau piza dingin serta deodoran pria menghantam wajahku sebelum aku sempat menyalakan lampu.
Tidak.
"Sayang!" Lukian Reyhan berbaring di sofaku, dengan remote-ku, menonton televisiku, makan piza di mejaku seolah dia masih tinggal di sini. "Kupikir kamu tidak akan pulang."
"Lukian." Suaraku terdengar datar. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku datang untuk bicara denganmu." Dia bangkit dengan senyum anak baik-baik yang dulu kuanggap manis dan sekarang membuat perutku mual. "Kita belum bicara sejak... kamu tahu. Kesalahpahaman di grup itu."
"Itu bukan kesalahpahaman."
"Tentu saja begitu, sayang. Anak-anak cuma bercanda dan aku ikut main. Begitulah pria kalau sedang dengan teman-temannya. Itu tidak berarti apa-apa."
Aku menatapnya. Lukian Reyhan tampan. Tinggi, kulit terang, rambut cokelat selalu tertata, pakaian mahal. Tipe pria yang akan dipasang majalah di sampul depan. Tapi di balik semua itu tidak ada apa-apa. Seperti membuka hadiah besar dan menemukan kotaknya kosong.
Dan semalam, pria lain menyentuhku seolah setiap sentimeter kulitku layak dihargai. Perbedaan antara ingatan itu dan pria di hadapanku begitu besar sampai aku hampir ingin tertawa.
"Kamu masih punya kunci apartemenku?" tanyaku, menyilangkan tangan.
"Kamu tidak pernah memintanya kembali." Dia mencoba menggenggam tanganku. Aku mundur. "Val, kamu serius mau membuang tiga tahun hanya karena lelucon di grup WhatsApp?"
"Bukan karena lelucon, Lukian. Tapi karena kamu mengatakannya dengan serius." Aku bertahan, meski di dalam tubuhku semuanya gemetar. "Kamu menyebutku gila. Kamu bilang kamu cuma bersamaku karena kontrak dengan ayahku."
"Itu tidak benar, sayang. Aku mencintaimu."
"Oh ya?" Aku tertawa kering. "Karena itu kamu bilang kepada teman-temanmu aku ini 'paket' yang ikut bersama tanda tangan Papa?"
Senyumnya rusak. Selama satu detik, Lukian yang asli muncul. Tatapan dingin seseorang yang selalu menghitung harga dari setiap emosi yang dia pura-purakan.
"Kamu melebih-lebihkan. Seperti biasa." Nadanya berubah. "Ini persis yang kukatakan kepada mereka: kamu selalu mendramatisasi semuanya."
"Kita selesai, Lukian."
"Selesai?" Dia tertawa seolah tidak percaya. "Val, jangan konyol. Kamu tidak bisa mengakhiri hubungan denganku."
"Baru saja kulakukan."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sendirian?" Dia menyilangkan tangan. Menatapku dengan ejekan dan sesuatu yang lebih buruk. "Kamu tidak punya siapa-siapa. Ayahmu bahkan tidak bicara denganmu. Adikmu membencimu. Ibumu sudah sepuluh tahun koma. Nenekmu ada di klinik di kota lain. Siapa yang akan tahan denganmu kalau bukan aku?"
Setiap kalimat adalah pukulan. Tepat ke tempat yang dia tahu paling sakit.
Karena dia benar. Di setiap titik, bajingan itu benar.
Ayahku memperlakukanku seperti gangguan. Kamila membenciku dengan sepenuh hati. Ibuku berada di Klinik Santa Lucia, tertidur sejak aku berusia tujuh belas tahun. Dan Nenek, satu-satunya hal baik yang masih kumiliki, jauh dariku dan kian rapuh.
Aku sendirian.
Tapi aku lebih memilih sendirian daripada bersama seseorang yang membuatku merasa tidak bernilai. Semalam seseorang menatapku seolah aku bernilai segalanya, dan meski itu hanya kesalahan semalam, setidaknya kini aku tahu seperti apa rasanya.
"Taruh kuncinya di meja dan pergi," kataku. Suaraku tidak gemetar. Aku tidak tahu dari mana mendapatkannya, tapi suaraku tidak gemetar.
Dia mengamatiku beberapa saat. Menghitung ulang. Lalu berjalan ke meja, menjatuhkan kunci dengan bunyi logam, dan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, dia berhenti. Dan ucapannya tidak terdengar seperti perpisahan.
"Kamu akan kembali, Valentina. Kamu selalu kembali." Suaranya lembut, nyaris manis. Matanya dingin. "Tanpaku, kamu tidak akan bisa hidup. Dan saat kamu sadar nanti, aku akan ada di sini menunggumu."
Pintu tertutup.
Aku tetap berdiri di ruang tamu. Jantungku menghantam tulang rusuk. Ini bukan kesedihan. Ini gema dari semua kali aku diberi tahu bahwa aku tidak cukup, bahwa aku rusak, bahwa aku seharusnya bersyukur masih ada seseorang yang mau tinggal bersamaku.
Ponselku bergetar. Kamila.
"Adikku, aku dengar kamu putus dengan Luki. Aduh, kasihan. Tapi jangan khawatir, aku yang akan menghiburnya untukmu 😘"
Kubaca tiga kali. Setiap kali, sakitnya berkurang. Bukan karena aku terbiasa, melainkan karena sesuatu di dalam diriku mulai mengeras. Seperti kulit baru di atas luka. Belum sembuh, tapi setidaknya berhenti berdarah.
Kuhapus pesan itu.
Aku pergi ke dapur. Kubuang piza Lukian ke tempat sampah. Kutuan segelas air dan duduk di lantai, punggung menempel pada kulkas.
Kupejamkan mata. Aku tidak memikirkan Lukian, Kamila, ayahku, atau sepuluh tahun hidup brengsek yang kupikul.
Aku memikirkan sebuah bar gelap. Sebuah tawa. Suara yang berkata, "Dulu pun aku tidak menyukaimu, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memandangimu." Tangan yang menjelajahiku seolah punya seluruh waktu di dunia. Cara dia mengucapkan namaku di leherku, serak, setengah tercekat, tepat sebelum mencapai puncak.
Kubuka mata dan menampar diriku sendiri dalam pikiran.
Tidak, Valentina. Kamu tidak akan memikirkan Sebastian Bara. Tidak senyumnya, tidak tangannya, tidak rasanya saat dia berada di atasmu, tidak hal yang dia lakukan dengan mulutnya hingga kakimu masih gemetar saat mengingatnya.
Dia kesalahan. Lukian masa lalu. Dan besok kamu harus bangun pukul lima untuk memandu pesawat.
Aku mandi. Lalu masuk ke ranjang.
Sebelum tidur, kubuka ponsel untuk terakhir kali.
Tiga puluh tujuh pesan dari Lukian. "Maafkan aku." "Aku cuma bercanda." "Kamu hal terpenting dalam hidupku."
Tidak satu pun kujawab.
Tapi yang tidak bisa kuabaikan adalah pesan terakhir. Dari nomor tidak dikenal.
"Aku menemukan tanda pengenal bandaramu di jaketku. Kurasa kamu membutuhkannya untuk bekerja. Mau kukembalikan, atau kamu lebih suka membayarku Rp100 juta agar aku melupakannya?"
Aku menggigit bibir.
Dasar Bara sialan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!