Benua Tengah adalah pusat dari Alam Abadi. Di tempat ini, Qi spiritual sepuluh kali lipat lebih padat daripada di Wilayah Utara. Di sinilah Istana Pusat berdiri, bukan di atas tanah, melainkan berupa gugusan pulau melayang yang terbuat dari giok putih abadi, diselimuti oleh awan emas dan dijaga oleh ribuan naga bersisik baja.
Di puncak tertinggi Istana Pusat, terdapat sebuah paviliun sakral yang dijaga oleh sembilan ahli Ascendant Tahap Awal: Aula Giok Jiwa.
Di dalam aula ini, jutaan keping giok jiwa dari seluruh pejabat, jenderal, dan murid elit Istana Pusat tersusun rapi. Namun, di altar tertinggi, hanya ada segelintir giok jiwa yang memancarkan cahaya matahari menyilaukan. Itu adalah giok jiwa milik garis keturunan langsung sang Kaisar Langit.
Di posisi kedua teratas, giok jiwa milik Pangeran Pertama, Di Tian, bersinar paling terang, melambangkan calon pewaris takhta yang sedang berada di ambang ranah Ascendant Sejati.
Seorang Tetua Penjaga berambut putih sedang duduk bermeditasi di sudut aula. Selama puluhan ribu tahun, tempat ini adalah tempat paling damai di seluruh Istana Pusat.
Namun, kedamaian itu pecah pada hari ini.
KRAAAAK...
Sebuah suara retakan yang sangat pelan terdengar.
Tetua Penjaga itu perlahan membuka matanya. Ia mencari sumber suara tersebut, dan pandangannya langsung tertuju pada altar tertinggi.
Seketika, darah di sekujur tubuh sang Tetua membeku. Jantungnya berhenti berdetak.
Giok jiwa milik Di Tian, yang selalu memancarkan cahaya matahari keemasan... kini dipenuhi oleh retakan mengerikan berwarna hitam pekat!
"T-T-Tidak mungkin... Pangeran Pertama sedang berada di Lautan Bintang... Dimensi itu ditutup untuk siapa pun di atas ranah Soul Transformation! Siapa yang bisa mengancam nyawanya?!" sang Tetua bergetar hebat, merangkak maju menuju altar.
Namun, sebelum ia sempat menyentuh altar tersebut...
PRANG!
Giok jiwa emas itu meledak hancur berkeping-keping! Cahaya keemasannya padam sepenuhnya, digantikan oleh kepulan asap hitam berbau busuk yang memancarkan penderitaan karma ekstrem.
Di Tian telah mati. Jiwanya bahkan tidak tersisa untuk memasuki siklus reinkarnasi!
"TIDAAAAAKK!" Tetua Penjaga itu menjerit ngeri, memuntahkan darah karena serangan balik dari hancurnya formasi jiwa sang Pangeran.
Pada detik yang sama, jauh di kedalaman inti bintang yang menjadi fondasi Istana Pusat, sebuah mata raksasa yang telah tertutup selama ribuan tahun tiba-tiba terbuka.
BOOOOOOOOOOOOOOOOM!
Seluruh Benua Tengah berguncang dahsyat! Langit yang cerah mendadak berubah menjadi merah darah. Suhu udara melonjak drastis hingga lautan di sekitar benua itu mendidih. Sebuah Niat Membunuh yang jauh melampaui ranah Ascendant sebuah kehendak dari Kaisar Langit Di Shitian meledak menembus langit!
Sebuah raungan yang dipenuhi duka dan amarah menggema di benak triliunan penduduk Benua Tengah.
"SIAPA YANG BERANI MEMUTUS GARIS KETURUNANKU?! SIAPA YANG MEMBUNUH TIAN'ER?!"
Suara itu menghancurkan awan-awan di langit. Di Aula Utama Istana Pusat, ratusan jenderal tingkat Soul Transformation dan Ascendant langsung jatuh berlutut hingga lantai marmer retak. Mereka berkeringat dingin, tak berani mengangkat kepala.
"Segel seluruh akses antar benua! Kirim Divisi Matahari Darah ke perbatasan Lautan Bintang! Ekstrak sisa-sisa karma dari giok jiwa Tian'er! Temukan siapa pun yang bertanggung jawab... aku ingin sektenya, keluarganya, dan benuanya dihapus dari peta Alam Abadi!"
Di Waktu yang Sama, Benua Utara — Sekte Angin Merah
Langit di atas Puncak Pedang tampak damai. Burung-burung spiritual berkicau, dan para murid Pelataran Luar sedang berlatih formasi dasar di bawah bimbingan para instruktur.
Ketua Sekte Jiu Feixue sedang berdiri di balkon Paviliun Utama, memandang hamparan sektenya dengan wajah sedingin pualam. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kecemasan yang terus beriak.
Sudah berbulan-bulan sejak Zeng Niu membawa sepuluh jenius terbaik mereka ke Lautan Bintang. Tidak ada kabar. Mengingat kekejaman Turnamen Lautan Bintang yang dikuasai oleh Istana Pusat, peluang sekte kelas menengah seperti mereka untuk kembali utuh sangatlah tipis.
Di sudut balkon, Leluhur Jiu Zui sedang duduk bersandar, menenggak arak dari kendi kesayangannya.
"Kau terlalu tegang, Feixue," kekeh pria tua pemabuk itu. "Berhentilah mondar-mandir di dalam hatimu. Asura kecil itu memiliki kulit yang lebih tebal dari tembok sekte kita. Dia tidak akan mati semudah itu."
"Aku tidak mengkhawatirkan anak barbar itu, Paman," balas Jiu Feixue dingin. "Aku mengkhawatirkan Mo Tian, Wang Chen, dan yang lainnya. Mereka adalah tulang punggung masa depan sekte ini. Jika Zeng Niu bertindak gila di dalam sana dan mengorbankan mereka..."
Sebelum Jiu Feixue sempat menyelesaikan kalimatnya, udara di langit pelataran utama tiba-tiba berdistorsi hebat.
ZRAAAAAASH!
Sebuah robekan spasial berukuran besar terbuka. Dari dalam robekan itu, energi kosmik ungu pekat meluap keluar.
Puluhan ribu murid sekte langsung menghentikan latihan mereka dan mendongak kaget.
"Musuh menyerang?!" teriak seorang Tetua Penegak Hukum.
Namun, dari balik robekan dimensi itu, bukan pasukan musuh yang keluar. Melainkan seorang pemuda berjubah hitam yang melangkah dengan santai, mengunyah batang rumput spiritual. Ia meregangkan pinggangnya, memancarkan aura Soul Transformation Tahap Akhir yang luar biasa padat dan mendominasi.
Di belakangnya, sepuluh pemuda-pemudi mengikuti dengan langkah tegap, wajah berbinar-binar, dan... mengenakan pakaian berlapis-lapis yang tampak sangat konyol karena kepenuhan barang jarahan.
"PAMAN MUDA ZENG NIU!"
Sorak-sorai menggelegar dari pelataran bawah. Para murid mengenali sosok idola mereka yang akhirnya kembali dengan selamat.
Jiu Feixue dan Jiu Zui langsung berteleportasi dari balkon, mendarat di depan kelompok tersebut.
Mata Jiu Feixue melebar melihat kesepuluh murid elitnya. Bukan karena mereka terluka, melainkan karena mereka tampak jauh lebih kuat dari sebelumnya! Fluktuasi kultivasi, Wang Chen, dan Lin Feng telah mencapai puncak Nascent Soul, hanya selangkah lagi menuju Soul Transformation. Ketajaman di mata mereka bukanlah ketajaman murid akademi, melainkan ketajaman veteran yang telah meminum darah musuh.
"Kalian... kalian semua selamat?" ucap Jiu Feixue, nada suaranya yang selalu dingin kini sedikit bergetar karena lega.
"Melapor pada Ketua Sekte!" Mo Tian melangkah maju, lalu berlutut dengan satu kaki. Sembilan jenius lainnya serentak mengikuti. "Kami telah kembali dengan selamat di bawah bimbingan Paman Muda!"
Zeng Niu meludah batang rumputnya ke samping, lalu menyeringai pada Jiu Feixue. "Kulihat rambutmu tidak tambah putih, Nenek maksudku, Ketua Sekte. Jangan menatapku seolah aku hantu."
Urat kesabaran Jiu Feixue sedikit berkedut mendengar panggilan hampir kelepasan itu, tapi ia menahannya karena kelegaan yang luar biasa.
Leluhur Jiu Zui berjalan tertatih-tatih mendekat, matanya yang sayu tiba-tiba memicing tajam saat menatap tubuh Zeng Niu. Pria tua itu nyaris tersedak araknya sendiri.
"Bocah... kau... Soul Transformation Tahap Akhir?! Dan fisikmu... bau bintang purba apa ini?!" seru Jiu Zui tak percaya. "Hanya dalam beberapa bulan?!"
Zeng Niu terkekeh, menggaruk belakang kepalanya. "Yah, ada beberapa kecelakaan kecil. Aku kebetulan menemukan kolam air hangat di sana, jadi aku berendam sebentar. Ternyata itu cukup bergizi."
Zeng Niu menoleh ke arah Mo Tian. Ia menganggukkan kepalanya pelan. "Mo Tian, tunjukkan pada Ketua Sekte dan Guru Tua ini suvenir yang kita bawa dari Lautan Bintang."
Mo Tian menyeringai lebar. Ia berdiri, lalu melepas cincin penyimpanan utamanya. Sembilan murid lainnya melakukan hal yang sama. Mereka maju ke tengah pelataran batu raksasa tersebut, memfokuskan Qi mereka, dan membuka kunci cincin-cincin curian mereka secara serentak.
WUUUUUUSSSSHHH!
KRAK! KLINTING! PRANG!
Seketika, badai harta karun meledak di tengah pelataran utama Sekte Angin Merah!
Ribuan senjata tingkat bumi, ratusan zirah sutra dari Benua Timur, puluhan ribu botol pil spiritual kualitas puncak, gulungan sihir dari Sekte Awan Ungu, hingga Kristal Esensi Bintang yang belum dipoles tumpah ruah bagaikan air bah!
Tumpukan harta karun itu terus menggunung hingga mencapai ketinggian tiga tombak, berkilauan di bawah sinar matahari, memancarkan fluktuasi Qi yang begitu pekat hingga awan di atas Puncak Pedang tersapu bersih.
Puluhan ribu murid Pelataran Luar, para Tetua, hingga Tetua Pertama Mo Cang yang baru saja tiba, membeku seperti patung. Mulut mereka menganga cukup lebar untuk dimasuki kepalan tangan.
Jiu Feixue mundur selangkah, matanya terbelalak tak percaya. Bahkan sebagai Ketua Sekte, ia belum pernah melihat kekayaan sebanyak ini terkumpul di satu tempat seumur hidupnya. Seluruh perbendaharaan Sekte Angin Merah selama seribu tahun bahkan tidak mencapai sepersepuluh dari tumpukan rongsokan mewah di depannya ini!
"A... A... Apa ini?!" Jiu Feixue tergagap, menunjuk gunung harta itu dengan jari gemetar.
"Ini adalah sumbangan sukarela dari saudara-saudara kita di sekte lain, Ketua Sekte!" jawab Wang Chen dengan bangga, membusungkan dadanya. "Paman Muda mengajari kami bahwa mengumpulkan karma adalah hal lain, sementara mengumpulkan harta benda duniawi orang mati adalah kewajiban kultivator sejati!"
Jiu Zui menjatuhkan kendinya hingga pecah. Mulut pria tua pemabuk itu bergetar. "Kalian... kalian tidak pergi ikut turnamen... kalian merampok seluruh dimensi itu?!"
"Kami merampok dengan sangat sopan, Leluhur!" timpal Mu Qingqing polos.
Zeng Niu hanya tertawa melihat ekspresi para petinggi sektenya. Ia berjalan mendekati tumpukan harta itu, menepuknya pelan, lalu menoleh ke arah Jiu Feixue dan Jiu Zui. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan algojo yang dingin, tenang, dan luar biasa mematikan.
"Nikmati pandangan ini, Ketua Sekte. Bagikan sumber daya ini pada para murid, percepat kultivasi mereka ke batas maksimal, perkuat formasi pertahanan sekte hingga tingkat tertinggi, dan panggil kembali seluruh murid yang sedang menjalankan misi di luar," ucap Zeng Niu santai, namun kata-katanya membawa bobot gunung es.
Jiu Feixue merasakan hawa dingin merayap di tulang punggungnya. Ia sangat mengenal Zeng Niu. Di balik harta yang melimpah, asura ini pasti membawa masalah yang sebanding.
"Zeng Niu..." bisik Jiu Feixue. "Apa yang sebenarnya kau lakukan di Lautan Bintang?"
Zeng Niu menyilangkan lengannya, memandang langit biru Benua Utara dengan tatapan kosong.
"Tidak banyak. Turnamennya batal karena kiamat monster purba. Tapi sebelum itu terjadi..." Zeng Niu mengusap dagunya, menyeringai dengan Niat Ketiadaan yang sangat pekat.
"...aku mungkin tidak sengaja membuat Pangeran Pertama dari Istana Pusat terbunuh dengan cara yang sangat mengenaskan. Jadi, aku sarankan kalian bersiap-siap. Karena tidak lama lagi, seluruh armada dewa dari Benua Tengah akan mengetuk pintu depan sekte kita."
Hening.
Keheningan yang luar biasa mutlak melanda seluruh Sekte Angin Merah. Angin berhenti bertiup. Jantung setiap orang yang mendengar ucapan Zeng Niu seakan berhenti berdetak.
Membunuh Pangeran Pertama Istana Pusat? Pewaris takhta Kaisar Langit?!
Wajah Jiu Feixue perlahan berubah memucat, kemudian memerah karena amarah bercampur syok, dan akhirnya menjadi putih murni seputih salju kematian.
Wanita sedingin es itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas panjang, lalu berteriak dengan suara yang mengguncang seluruh Puncak Pedang.
"ZENG NIUUUU! KAU BENAR-BENAR INGIN MENGUBUR SEKTE INI BERSAMAMU?!"
Jeritan histeris Ketua Sekte Jiu Feixue masih menggema, memantul di antara tebing-tebing Puncak Pedang Sekte Angin Merah. Puluhan ribu murid yang berada di pelataran bawah saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka belum pernah mendengar Dewi Es kebanggaan sekte mereka kehilangan kendali seperti itu.
Di atas pelataran utama, Leluhur Jiu Zui menatap Zeng Niu dengan mata membelalak, mabuknya hilang seketika. Kendi araknya yang pecah di lantai bahkan tidak ia pedulikan.
"Membunuh... Pangeran Pertama?" suara Jiu Zui bergetar, terdengar setua usianya untuk pertama kalinya. "Zeng Niu, bocah gila... Istana Pusat bukanlah Sekte Iblis Darah! Mereka adalah penguasa mutlak! Kaisar Langit memiliki ribuan ahli Soul Transformation dan lusinan dewa Ascendant! Menyinggung mereka sama dengan menantang seluruh langit Alam Abadi!"
Jiu Feixue mengusap wajahnya yang pucat, matanya menatap Zeng Niu dengan keputusasaan murni. "Kita tamat. Ribuan tahun warisan Angin Merah... akan hancur menjadi abu karena arogansimu."
Zeng Niu berdiri diam membiarkan mereka meluapkan kepanikan. Sang Algojo tidak tersinggung. Ia tahu betul beban mental dari nama "Istana Pusat" bagi kultivator pinggiran seperti mereka.
Namun, waktu untuk panik sudah habis.
BOOOOOOOOOOOM!
Zeng Niu menghentakkan kaki kanannya ke lantai marmer.
Seketika, fluktuasi absolut dari Soul Transformation Tahap Akhir meledak keluar dari tubuhnya! Tekanan Domain Ketiadaan miliknya menyebar bagaikan badai, menekan seluruh pelataran. Jiu Feixue dan Jiu Zui terdorong mundur beberapa langkah, napas mereka tercekat. Udara di sekeliling Zeng Niu berubah menjadi sangat berat, membuat ruang itu sendiri berderak.
"Dengarkan baik-baik," suara Zeng Niu tidak keras, namun menggema di Lautan Kesadaran setiap orang yang hadir, dingin dan penuh otoritas mutlak.
"Pertama," Zeng Niu mengangkat satu jarinya. "Secara teknis, aku tidak membunuhnya. Dia terlalu rakus, menginjak jebakanku, dan ditelan bulat-bulat oleh monster lumpur kosmik dari zaman purba. Jadi, secara hukum, monster itulah pembunuhnya."
"Kau pikir Istana Pusat peduli pada teknis hukum sialanmu?!" desis Jiu Feixue, matanya merah.
"Tentu saja tidak," Zeng Niu menyeringai, memamerkan deretan giginya. "Itulah poin keduaku. Keadilan di dunia ini hanya berlaku untuk mereka yang lehernya cukup keras untuk menahan pedang algojo. Istana Pusat memang raksasa, tapi kitalah yang memegang sumber dayanya sekarang!"
Zeng Niu menunjuk ke arah gunungan harta karun yang menjulang di tengah pelataran. Cahaya dari ribuan artefak tingkat bumi dan surga, serta aroma puluhan ribu pil spiritual, kembali menyadarkan Jiu Feixue dan Jiu Zui pada realitas di depan mata mereka.
"Kalian meratapi kematian sekte, tapi apakah kalian buta melihat gunung emas di depan kalian?" ucap Zeng Niu. "Lautan Bintang telah memberiku fondasi! Aku berada di Soul Transformation Tahap Akhir. Dengan fisik asuraku, bahkan jika ahli Ascendant Tahap Awal datang, aku bisa mematahkan lehernya!"
Zeng Niu menoleh ke arah sepuluh muridnya yang sejak tadi berdiri tegak tanpa rasa takut sedikit pun di belakangnya.
"Mo Tian!"
"Ya, Paman Muda!" teriak Mo Tian lantang.
"Buka seluruh segel cincin jarahan itu. Distribusikan pil spiritual tingkat puncak kepada seluruh Tetua dan murid inti! Siapa pun yang berada di Golden Core Puncak, paksa mereka menerobos ke Nascent Soul hari ini juga! Jika ada yang gagal dan meridiannya meledak, itu salah mereka sendiri karena terlalu lemah! Kita butuh pasukan, bukan sekumpulan cendekiawan manja!"
"Laksanakan!" kelompok Angin Merah langsung bergerak seperti mesin perang yang efisien, membongkar harta dan mulai menyortirnya dengan kecepatan gila.
Zeng Niu menatap kembali Jiu Feixue. Niat Membunuh yang sedingin es neraka terpancar dari matanya.
"Ketua Sekte Nenek, berhenti meratapi nasib. Aktifkan Formasi Perlindungan Angin Darah sekarang juga. Aku membawa Kristal Esensi Bintang dan sebongkah batu aneh bernama Air Mata Kiamat dari suku primitif. Aku akan memodifikasi formasi sekte kita dari tingkat pertahanan fana menjadi formasi pembunuh tingkat kosmik!"
Jiu Feixue menelan ludahnya. Ketegasan, kekejaman, dan rasa percaya diri yang memancar dari pemuda ini... perlahan menularkan keberanian yang gila ke dalam hatinya. Zeng Niu benar. Mereka tidak bisa melarikan diri. Satu-satunya jalan adalah menghadapi langit itu sendiri!
"Berapa lama waktu yang kita miliki?" tanya Jiu Feixue, suaranya kembali sedingin pualam, akhirnya menerima kenyataan perangnya.
"Paling cepat tiga hari, paling lambat satu minggu, sebelum barisan depan mereka mencapai Benua Utara," analisis Zeng Niu santai. "Cukup waktu untuk mengasah pedang kita."
Jiu Zui tertawa parau, menenggak sisa arak dari botol cadangannya. "Gila. Kita semua benar-benar sudah gila. Menantang Istana Pusat... hahaha! Baiklah! Tulang tuaku ini sudah lama tidak dipanaskan!"
Mesin perang Sekte Angin Merah akhirnya dihidupkan pada kapasitas dua ratus persen. Gunung harta jarahan itu langsung dilebur. Sepanjang malam, raungan terobosan kultivasi terdengar sambung-menyambung dari seluruh penjuru puncak gunung, diiringi oleh getaran formasi pelindung yang sedang diperkuat oleh Zeng Niu menggunakan pilar-pilar kosmik.
Tiga Hari Kemudian — Perbatasan Langit Benua Tengah dan Utara
Sementara Sekte Angin Merah mengubah rumah mereka menjadi benteng landak yang dipenuhi duri mematikan, langit di perbatasan Benua Tengah telah berubah warna menjadi lautan darah.
Sebuah pemandangan yang cukup untuk membuat sekte lapis pertama mana pun menyerah tanpa syarat sedang melintasi hamparan awan.
Lima puluh kapal perang astral raksasa melayang membelah angin. Setiap kapal terbuat dari kayu dewa berwarna emas dan merah, panjangnya mencapai lima ribu tombak, dilengkapi dengan meriam formasi yang moncongnya sebesar kawah gunung berapi.
Ini adalah Divisi Matahari Darah, pasukan pelopor yang paling ditakuti dari Istana Pusat. Mereka tidak dikirim untuk menaklukkan; mereka dikirim secara eksklusif untuk menghapus sebuah wilayah dari sejarah.
Di geladak kapal bendera yang berada paling depan, berdiri puluhan jenderal bertubuh kekar mengenakan zirah api. Fluktuasi kultivasi mereka rata-rata berada di Soul Transformation Tahap Menengah hingga Akhir.
Namun, yang membuat aura kapal itu begitu mencekik adalah pria yang duduk di singgasana naga di tengah geladak.
Jenderal Xue Yang (Matahari Berdarah).
Pria itu mengenakan jubah merah tua yang terbuat dari kulit naga api. Wajahnya dipenuhi bekas luka bakar, dan matanya tidak memiliki putih mata, melainkan sepenuhnya berwarna merah magma. Ia adalah ahli Ascendant Tahap Awal, salah satu dari tiga puluh enam Jenderal Dewa Istana Pusat.
Seorang letnan tingkat Soul Transformation melangkah maju, berlutut dengan satu kaki di hadapan Xue Yang.
"Jenderal! Kami telah memasuki ruang udara Benua Utara. Radar formasi spiritual mendeteksi target: Sekte Angin Merah, berjarak sekitar sepuluh ribu mil ke arah utara. Estimasi waktu ketibaan: setengah hari."
Xue Yang memutar cincin giok di jari telunjuknya perlahan. Udara di sekitarnya mendesis, membakar setiap tetes embun yang berani mendekat.
"Hanya sebuah sekte pinggiran," suara Xue Yang terdengar seperti batu bara yang dihancurkan. "Sungguh penghinaan bagi Divisi Matahari Darah karena harus turun tangan membasmi semut. Namun, titah Yang Mulia Kaisar mutlak. Mereka berani menyentuh sehelai rambut Pangeran Pertama."
Xue Yang berdiri. Tubuhnya yang menjulang tinggi memancarkan paksaan hukum dunia yang menekan seluruh pasukan di kapal itu.
"Dengarkan perintahku!" raung Xue Yang, suaranya diperkuat oleh Niat Langit, menggema melintasi lima puluh kapal perang raksasa.
"Aktifkan seluruh Meriam Bintang Pembakar! Begitu kita berada dalam jangkauan pandang, jangan berikan peringatan, jangan berikan kesempatan menyerah! Ratakan gunung mereka! Bakar laut mereka! Jangan tinggalkan anjing atau ayam yang hidup di Sekte Angin Merah! Aku ingin kepala pelakunya dibawa hidup-hidup ke hadapanku untuk dikuliti!"
"SIAP, JENDERAL!" seratus ribu pasukan elit Matahari Darah meraung serempak, Niat Membunuh mereka menyatu menjadi Niat Perang berbentuk naga darah raksasa di atas armada tersebut.
Armada maut itu melaju semakin cepat, meninggalkan jejak awan terbakar di langit Benua Utara.
Langit di atas Benua Utara yang biasanya cerah dan membeku kini berubah menjadi lautan api karma. Lima puluh kapal perang astral raksasa dari Divisi Matahari Darah merobek awan, memancarkan niat membunuh yang membuat binatang spiritual di radius ribuan mil tiarap tak berani bernapas.
Di geladak kapal bendera, Jenderal Xue Yang berdiri dengan tangan di belakang punggung. Matanya yang semerah magma menatap merendahkan ke arah Puncak Pedang Sekte Angin Merah di bawah sana.
"Tembak," perintahnya dingin.
BOOOOOOOOOOOOOOM!
Lima puluh Meriam Bintang Pembakar memuntahkan pilar cahaya merah yang membawa fluktuasi penghancuran. Serangan gabungan ini cukup untuk menghapus sebuah kerajaan fana dari peta keberadaan dalam satu kedipan mata!
Namun, saat pilar-pilar api itu tinggal sepuluh tombak dari atap paviliun sekte...
WUUUUUUNG...
Sebuah tabir pelindung berbentuk kubah bermanifestasi. Tabir itu tidak berwarna emas atau putih layaknya formasi pedang ortodoks, melainkan berwarna hitam legam dengan kilatan perak kosmik hasil modifikasi Zeng Niu menggunakan Air Mata Kiamat dan Kristal Esensi Bintang.
Alih-alih meledak, pilar-pilar api dari meriam kapal perang itu justru terisap dan terdistorsi ke dalam tabir hitam tersebut, layaknya lumpur yang dilemparkan ke dalam rawa ketiadaan. Tabir itu bahkan tidak bergetar!
Di atas geladak, mata Xue Yang menyipit. "Formasi yang menarik untuk ukuran sekte pinggiran. Pantas saja Pangeran Pertama bisa terjebak jika mereka memiliki ahli formasi tingkat ini. Sayangnya, formasi kura-kura tidak akan menyelamatkan nyawa kalian."
Xue Yang tidak langsung turun tangan. Sebagai ahli Ascendant Tahap Awal, harga dirinya terlalu tinggi untuk memukul tabir secara langsung. Ia mengangkat tangannya, memberikan isyarat.
"Sepuluh Jenderal Sayap Kiri, turun! Hancurkan titik tumpu formasi mereka dan seret ketua sektenya keluar!"
"Siap, Jenderal!"
WUSH! WUSH! WUSH!
Sepuluh ahli tingkat Soul Transformation Tahap Menengah melesat turun dari kapal perang layaknya meteor merah. Mereka menghunuskan tombak dan pedang yang memancarkan api matahari, membentuk formasi tempur di udara untuk menggempur kubah ketiadaan tersebut.
Di dalam kubah, suasana Sekte Angin Merah jauh dari kata panik.
Di balkon tertinggi Paviliun Utama, Ketua Sekte Jiu Feixue sedang duduk di kursi kebesarannya, menyeruput teh spiritual yang masih mengepul. Fluktuasi auranya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat kini sedikit beriak. Bukan lagi sekadar batas fana, melainkan sebuah tekanan yang menyatu dengan kehendak bumi itu sendiri Setengah Langkah Kaisar Bumi!
Di sampingnya, Leluhur Jiu Zui bersandar malas di pilar kayu, menenggak arak dari kendi barunya. Jika ada ahli mata batin yang melihatnya, mereka akan menyadari bahwa pria tua pemabuk ini adalah monster purba sejati yang tertidur. Kultivasinya telah lama mencapai Kaisar Raja Tahap Akhir, sebuah ranah yang bahkan membuat Kaisar Langit di Benua Tengah harus berpikir dua kali sebelum menyerang secara personal!
Inilah alasan mengapa mereka berdua tidak terburu-buru turun tangan menghadapi armada pelopor ini. Bagi sosok seperti Jiu Zui, Jenderal Xue Yang yang baru mencapai Ascendant Awal hanyalah seekor anak harimau yang sedang mengaum di depan gua naga.
"Kau tidak mau turun tangan, Paman?" tanya Jiu Feixue tanpa menoleh, matanya menatap tajam ke arah sepuluh jenderal yang sedang membombardir formasi dari luar.
"Untuk apa mengotori tanganku?" kekeh Jiu Zui. "Bocah asura itu yang membawa masalah ini, biarkan dia yang memanaskan otot-otot murid pelataran dalam. Jika kita turun tangan sekarang, kapan anak-anak itu akan belajar mencicipi darah sungguhan?"
Tepat seperti perkataan sang Leluhur, sesosok bayangan hitam melesat dari Puncak Pedang, menembus kubah formasi dari dalam, dan berdiri melayang tepat di hadapan sepuluh jenderal musuh.
Zeng Niu.
Sang Algojo mengibaskan jubah hitamnya. Tangan kanannya mencengkeram gagang Nisan Petir Asura. Auranya tidak lagi ditahan; fluktuasi Soul Transformation Tahap Akhir meledak keluar, berpadu dengan Niat Jurang Ketiadaan yang membuat langit di sekitarnya menjadi redup.
"Sepuluh serangga pemakan bangkai dari Istana Pusat," Zeng Niu menyeringai biadab, mematahkan lehernya hingga berbunyi krak. "Kalian sangat terburu-buru mencari jalan ke alam baka."
"Lancang!" raung salah satu jenderal Benua Tengah. "Hanya kultivator barbar yang baru menembus Soul Transformation! Formasi Segi Sepuluh Matahari! Bakar dia menjadi abu!"
Kesepuluh jenderal itu menyerang serentak. Tombak-tombak mereka menyatu membentuk seekor gagak api raksasa yang menukik ke arah Zeng Niu. Panasnya cukup untuk melelehkan baja surgawi.
Zeng Niu tidak menghindar. Ia tidak menggunakan kekuatan instan untuk menyelesaikan pertarungan. Ia ingin menguji seberapa jauh batas fisik dan ranah barunya di pertarungan nyata.
[Pedang Pertama: Pemisah Debu Fana - Tebasan Tarikan Gravitasi!]
SRAAAAAASH!
Zeng Niu mengayunkan pedangnya secara horizontal. Bukannya gelombang energi yang melesat keluar, melainkan gravitasi di sekitar gagak api itu mendadak berlipat ganda seribu kali! Gagak api itu terdistorsi, sayapnya hancur terkompresi sebelum sempat menyentuh tubuh Zeng Niu.
"Apa?!" jenderal musuh membelalakkan matanya, mundur teratur. "Niat apa itu?!"
"Kalian terlalu lambat," Zeng Niu melesat menembus sisa-sisa api. Tulang Perak Asura-nya bersinar keemasan. Ia muncul tepat di hadapan jenderal terdepan, bukan menebas dengan pedang, melainkan merapatkan jari kirinya dan menusuk lurus!
BAM!
Tangan kosong Zeng Niu menembus zirah tingkat surga dan merobek dada jenderal Soul Transformation Menengah itu layaknya kertas basah. Ia mencabut jantung musuhnya dan meremasnya hingga hancur dalam satu genggaman!
Satu jatuh dalam tiga tarikan napas. Pertarungan bertahap ini mulai memancarkan kengerian murni dari sang Algojo.
Di bawah sana, Mo Tian, Wang Chen, dan puluhan murid inti yang baru menembus Nascent Soul Puncak turut melesat keluar dari formasi, mulai mengepung sisa-sisa jenderal yang formasi tempurnya telah dikacaukan oleh Zeng Niu. Pertempuran berdarah di udara pun pecah!
Di tengah kekacauan benturan senjata dan ledakan Qi, suhu udara di sekitar Zeng Niu tiba-tiba anjlok hingga mencapai titik beku. Kepingan salju berbentuk teratai turun dari langit yang terbakar, memadamkan sisa-sisa api dari serangan musuh.
Udara beriak. Sesosok wanita bermanifestasi di samping Zeng Niu, melayang dengan keanggunan seorang dewi yang turun dari kahyangan.
Ia mengenakan gaun putih seputih salju, rambut panjangnya dihiasi jepit es abadi. Matanya biru jernih, memancarkan kedinginan yang cukup untuk membekukan jiwa. Di belakang punggungnya, sebuah roda ilusi yang terbuat dari tujuh bintang kosmik berputar perlahan, memancarkan Niat Langit yang luar biasa menindas.
Zhao Ying.
Dewi Es dari dimensi atas yang selama ini memulihkan kekuatannya di kedalaman sekte, akhirnya keluar. Kultivasinya saat ini berada di ranah Ascendant Menengah - Roda Bintang 7! Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat sisa jenderal Istana Pusat bergidik ketakutan.
"Kau bermain-main terlalu lama, Zeng Niu," suara Zhao Ying merdu namun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Ia melentikkan jari telunjuknya.
CRAT! CRAT!
Dua jenderal musuh di kejauhan bahkan tidak sempat menjerit saat tubuh mereka tiba-tiba membeku menjadi patung es transparan, lalu pecah berkeping-keping tertiup angin!
Zeng Niu menoleh ke samping, memandangi wajah cantik nan dingin itu. Senyum algojonya melembut. Ia tidak merasa terintimidasi oleh ranah Zhao Ying yang lebih tinggi, karena ia tahu jiwa dewi es ini telah lama bertaut dengan takdirnya.
"Aku hanya membiarkan anak-anak pemula itu berlatih memegang pedang, Ying'er," balas Zeng Niu santai, menyarungkan kembali pedangnya sejenak. Ia melangkah mendekat, mengabaikan medan perang di sekitar mereka, lalu menyelipkan sehelai rambut putih Zhao Ying ke belakang telinganya.
"Kau merindukanku setelah aku berbulan-bulan pergi ke Lautan Bintang?" bisik Zeng Niu menggoda.
Zhao Ying mendengus pelan, semburat merah tipis (yang sangat langka) muncul di pipinya yang sedingin es. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya keluar karena lalat-lalat berisik di atas sana mengganggu meditasiku."
Zeng Niu tertawa pelan. Ia menatap lurus ke dalam mata biru jernih wanita itu. Ekspresinya berubah serius.
"Sesuai janjiku," ucap Zeng Niu pelan, namun penuh dengan keteguhan asura. "Setelah aku memenggal kepala kaisar bodoh di Benua Tengah yang mengirim anjing-anjing ini... ranahku akan cukup tinggi untuk menembus parit kosmik. Saat itu tiba, aku akan memegang tanganmu, menembus langit ini, dan mengantarkanmu pulang ke alam semestamu. Dan siapa pun di atas sana yang berani menghalangimu... akan kucincang menjadi makanan anjing."
Mendengar janji yang begitu brutal namun diucapkan dengan ketulusan, Zhao Ying menundukkan tatapannya, senyum tipis yang luar biasa indah akhirnya mekar.
"Kau berutang padaku, Asura Pembohong. Pastikan kau tidak mati hari ini."
"Mati?" Zeng Niu kembali menyeringai biadab, berbalik menatap armada kapal raksasa di atas mereka. "Di kamusku, hanya ada kata merampok dan memenggal."
Di atas geladak kapal bendera, urat di dahi Jenderal Xue Yang menonjol hebat.
Matanya yang merah magma membelalak melihat Jenderal-jenderalnya dibantai satu per satu oleh seorang pemuda Soul Transformation Akhir dan murid-muridnya. Namun, yang paling membuatnya gemetar adalah kehadiran wanita berambut salju dengan Roda 7 Bintang di punggungnya.
"Ascendant Menengah..." Xue Yang menggertakkan giginya hingga berdarah. "Laporan intelijen sialan! Mereka bilang ini hanya sekte fana tingkat menengah! Dari mana datangnya ahli Ascendant Menengah ini?!"
Xue Yang tahu, di hadapan Ascendant Menengah, armada pelopornya bisa hancur berantakan jika mereka bertarung gegabah. Ia harus bertindak sekarang sebelum moral pasukannya hancur total!
"AKTIFKAN FORMASI DEWA MATAHARI DARAH!" raung Xue Yang. "Gabungkan seluruh Niat dari lima puluh kapal padaku! Aku akan membakar wanita es itu dan asura sombong itu sendiri!"
BOOOOOOOOOOOM!
Xue Yang melompat dari geladak. Tubuhnya membesar, menyerap seluruh energi dari armada kapalnya. Ia bermanifestasi menjadi raksasa magma setinggi seratus tombak, memegang pedang api yang membelah awan. Ranahnya melonjak secara paksa, mendekati puncak Ascendant Awal, menantang langit Benua Utara.
Di bawah sana, Zeng Niu mencabut kembali Nisan Petir Asura-nya. Urat-urat emas kegelapan di lengannya berdenyut.
Zhao Ying melangkah maju, es abadi di telapak tangannya mulai memadat. "Biar aku yang membekukan anjing merah ini."
"Tidak," Zeng Niu mengangkat tangannya, menghentikan Zhao Ying. Matanya yang sebelah memancarkan emas suci dan sebelahnya hitam berputar ganas.
"Kau simpan tenagamu untuk kaisar mereka. Anjing besar yang satu ini... adalah batu asahan yang sempurna untuk menguji batas dari Pedang Ketigaku!"
Zeng Niu menjejakkan kaki ke udara, memelesat naik menyongsong raksasa magma Ascendant itu sendirian.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!