Bau obat antiseptik sudah menjadi bagian dari hidup Rean sejak ia bisa mengingat sesuatu. Ruangan serba putih itu bukan penjara, tapi bertahun-tahun tinggal di dalamnya membuatnya terasa seperti satu.
Ia berbaring menghadap jendela, memandangi langit sore yang jingga. Selang infus menempel di lengan kirinya, monitor jantung berbunyi pelan dan teratur di sampingnya.
"Rean," suara ibunya lembut dari pintu, "mau Ibu bacakan buku lagi?"
Rean menoleh, tersenyum tipis. "Yang kemarin saja, Bu. Yang tentang sekolah itu."
Ibunya duduk di kursi dekat ranjang, membuka novel bersampul biru yang sudah lecek karena terlalu sering dibaca. Selama bertahun-tahun, buku-buku semacam itu adalah jendela satu-satunya bagi Rean untuk melihat dunia yang tidak pernah bisa ia sentuh langsung — sekolah, teman, festival, cinta pertama yang canggung. Semua hanya ada di atas kertas.
Novel itu berjudul Starline, kisah tentang seorang pemuda bernama Kieran Ashford di sebuah sekolah elite bernama Starline High School. Rean menyukainya bukan karena ceritanya rumit, tapi karena di dalamnya ada hal-hal sederhana yang tidak pernah ia miliki — makan siang bersama teman, lomba antar kelas, festival sekolah yang riuh.
Malam itu, seperti biasa, monitor di sampingnya berbunyi teratur. Namun menjelang subuh, bunyi itu berubah. Napas Rean memberat. Ia merasa dadanya seperti ditekan sesuatu yang tidak terlihat.
"Rean? Rean, sayang, tahan sebentar—"
Suara ibunya semakin jauh, seperti didengar dari ujung terowongan panjang. Rean tidak takut. Aneh rasanya, tapi ia tidak takut sama sekali. Ia hanya menyesal tidak sempat merasakan hal-hal kecil yang selalu ia baca di buku itu — berjalan ke sekolah, duduk di kelas, tertawa bersama teman sebangku.
Kegelapan datang perlahan, lembut, seperti selimut yang menutupi matanya satu per satu.
Ketika Rean membuka mata lagi, hal pertama yang ia sadari adalah: tidak ada bau obat.
Ia berbaring di kamar yang jauh lebih besar dari kamar rumah sakitnya. Langit-langit tinggi berukir, lampu gantung kristal tergantung di tengahnya. Rean mengerjap beberapa kali, lalu perlahan bangkit duduk. Tubuhnya terasa ringan — terlalu ringan, dibanding tubuhnya yang dulu selalu lemas setiap bangun tidur.
Ia menoleh ke cermin besar di sudut kamar. Yang dipantulkan bukan wajahnya.
Atau lebih tepatnya — mirip wajahnya, tapi lebih muda, lebih segar. Mata jernih, kulit pucat, wajah baby face yang membuatnya tampak dua atau tiga tahun lebih muda dari usianya yang sebenarnya.
Rean mengangkat tangan, menyentuh pipinya sendiri di cermin. Bayangan itu ikut bergerak.
"Ini..." gumamnya pelan.
Di meja dekat ranjang, tergeletak sebuah buku bersampul biru yang sangat familiar. Rean meraihnya dengan tangan gemetar. Starline. Judul yang sama persis dengan novel yang selalu dibacakan ibunya.
Ia membuka halaman pertama, matanya membaca cepat nama-nama yang tertera di sana. Kieran Ashford. Elora Roswell. Starline High School.
Dan di salah satu halaman, tercantum nama seorang tokoh figuran yang hanya disebut sekilas — seorang anak dari Keluarga Vale yang meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namanya sama persis dengan namanya sendiri.
Rean Vale.
Ia menutup buku itu perlahan, dadanya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang jauh lebih asing — harapan.
"Kalau ini benar novel yang sama," bisiknya pada diri sendiri, "berarti aku masih punya kesempatan untuk merasakannya sendiri."
Untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat, Rean tersenyum bukan karena berusaha terlihat kuat di depan orang tuanya. Ia tersenyum karena benar-benar bahagia.
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang wanita paruh baya berwajah lembut melangkah masuk, membawa nampan berisi sarapan.
"Rean? Kamu sudah bangun, sayang?" Ia berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca. "Dokter bilang... dokter bilang kondisimu membaik drastis semalam. Bahkan semua gejalanya menghilang."
Rean menatap wanita itu — Liora Vale, ibunya di kehidupan yang baru ini — dan untuk sesaat, ia hanya bisa terdiam, mencoba mencerna semuanya.
"Ibu," katanya pelan, mencoba kata itu di lidahnya untuk pertama kali dalam kehidupan yang baru, "aku... baik-baik saja."
Butuh beberapa hari bagi Rean untuk terbiasa dengan kehidupan barunya.
Keluarga Vale, ternyata, bukan keluarga biasa. Rumah tempat ia tinggal lebih mirip istana kecil, dengan halaman luas dan puluhan ruangan yang belum sempat ia jelajahi semua. Ayahnya, Darius Vale, adalah pria berwibawa yang selalu tampak sibuk namun selalu menyempatkan diri makan malam bersama keluarga.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Darius suatu malam, meletakkan garpu dan menatap Rean dengan seksama.
"Sudah jauh lebih baik, Ayah," jawab Rean jujur. "Rasanya... aneh. Tapi baik."
Darius mengangguk pelan, tapi tatapannya masih menyimpan kekhawatiran seorang ayah yang bertahun-tahun melihat anaknya berjuang melawan penyakit. Rean bisa merasakan itu, meski ia baru mengenal sosok ini beberapa hari.
Yang paling sulit diprediksi justru sang kakak.
"REANNN!"
Suara itu menggelegar dari ujung lorong sebelum sosok pemiliknya muncul. Seorang gadis dengan rambut panjang tergerai berlari kecil menghampirinya, langsung memeluknya erat hingga Rean nyaris kehilangan keseimbangan.
"Kamu tahu, aku benar-benar khawatir waktu dengar kamu pingsan lagi minggu lalu! Untung sekarang membaik. Coba lihat wajahmu—" Aria mencubit pipi Rean tanpa ampun, "—masih menggemaskan seperti biasa."
"Sakit, Kak," protes Rean, meski nadanya tidak benar-benar kesal.
"Namanya juga sayang." Aria terkekeh, lalu mengacak rambut Rean hingga berantakan. "Dengar-dengar kamu mau daftar ke Starline High School? Serius?"
Rean mengangguk mantap. "Aku ingin merasakan sekolah, Kak. Ikut kegiatan, punya teman... hal-hal yang belum pernah aku rasakan."
Untuk sesaat, tawa jahil Aria memudar, digantikan sesuatu yang lebih hangat. Ia menatap adiknya lama, mengingat bertahun-tahun ketakutan yang selalu menghantuinya — ketakutan bahwa suatu hari ia akan kehilangan Rean untuk selamanya.
"Bagus," katanya akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Kamu pantas merasakan semua itu."
Lalu, seakan sadar suasana jadi terlalu serius, ia kembali menyeringai. "Tapi awas ya, kalau ada anak nakal yang berani menggodamu, laporkan ke Kakak. Kakak yang akan urus."
"Memangnya kenapa harus digoda?" tanya Rean polos.
Aria hanya tertawa, menepuk kepala adiknya pelan. "Sudahlah. Nanti kamu juga akan mengerti sendiri."
Rean mengerutkan kening, tidak benar-benar paham maksud kakaknya, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Ada hal yang jauh lebih penting mengisi benaknya malam itu — besok adalah hari pertamanya mendaftar ke Starline High School.
Ia membuka lagi buku bersampul biru itu di kamarnya, membaca ulang bab-bab awal yang masih ia ingat samar-samar. Nama-nama tokoh, garis besar cerita, konflik yang katanya akan terjadi di sekolah itu.
Namun, semakin ia membaca, semakin ia sadar ada satu hal yang mengganjal.
Di dalam buku itu, sosok Rean Vale — pemilik tubuh yang sekarang ia tempati — seharusnya sudah meninggal sebelum cerita ini dimulai.
"Kalau begitu," gumamnya pelan sambil menutup buku, "berarti mulai sekarang, aku benar-benar berjalan di luar cerita yang aku tahu."
Ada sedikit gugup terselip di dadanya. Tapi lebih dari itu, ada semangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Keesokan paginya, mobil keluarga Vale melaju menuju kantor administrasi Starline High School, membawa Rean bersama Darius yang sengaja meluangkan waktu di sela jadwal padatnya.
"Biasanya pendaftaran murid baru sudah ditutup sejak awal tahun ajaran," jelas Darius di dalam mobil, menatap Rean sekilas. "Tapi karena kondisi kesehatanmu yang berubah drastis, aku sudah bicara langsung dengan kepala sekolah minggu lalu. Mereka bersedia membuka jalur pendaftaran khusus untukmu."
"Terima kasih, Ayah," jawab Rean, agak terkejut mengetahui ayahnya sudah mengurus semuanya diam-diam sejak jauh hari.
"Tidak perlu berterima kasih," Darius tersenyum tipis, jarang terlihat namun tulus. "Ini yang paling tidak bisa aku lakukan, setelah bertahun-tahun kamu tidak pernah punya kesempatan menjalani masa sekolah seperti anak-anak lain."
Sesampainya di kantor administrasi, mereka disambut oleh kepala sekolah dan wali kelas yang nantinya akan menjadi wali kelas Rean. Ruangan itu formal, dipenuhi rak piala dan sertifikat prestasi sekolah yang berjajar rapi di dinding.
"Selamat datang, Rean," sapa kepala sekolah ramah, mempersilakan mereka duduk. "Kami sudah menerima seluruh berkas kesehatanmu dari rumah sakit. Sungguh perkembangan yang luar biasa."
"Terima kasih sudah memberi kesempatan ini," jawab Rean sopan, sedikit gugup namun berusaha tenang.
Proses selanjutnya berjalan lebih formal dari yang Rean bayangkan — sesi wawancara singkat untuk mengetahui sejauh mana kemampuan akademiknya, mengingat bertahun-tahun ia hanya menjalani pendidikan lewat tutor pribadi di rumah. Beberapa pertanyaan seputar minat baca, kemampuan berhitung dasar, hingga alasan pribadinya ingin bersekolah.
"Kenapa kamu memilih masuk di tengah tahun ajaran seperti ini, bukan menunggu tahun ajaran baru?" tanya wali kelas, penasaran.
Rean terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang jujur namun tidak menimbulkan kecurigaan berlebihan. "Aku sudah menunggu kesempatan ini seumur hidupku," jawabnya akhirnya, tulus. "Begitu dokter bilang aku benar-benar sembuh, aku tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk merasakannya."
Jawaban sederhana itu membuat kepala sekolah dan wali kelas saling bertukar pandang, tersentuh oleh ketulusan yang jarang mereka temukan pada calon murid dari keluarga sebesar Vale.
"Baiklah," kepala sekolah akhirnya mengangguk mantap. "Berdasarkan hasil wawancara dan rekomendasi dari pihak keluarga, kami putuskan Rean bisa langsung bergabung di kelas 10-B mulai minggu depan. Sekolah juga akan menyediakan modul tambahan untuk membantu menyesuaikan materi yang mungkin tertinggal."
"Terima kasih banyak," Rean membungkuk sopan, dadanya dipenuhi kelegaan sekaligus kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dalam perjalanan pulang, Darius sesekali melirik ke arah Rean yang masih tersenyum lebar menatap keluar jendela mobil, memandangi gedung sekolah yang perlahan menjauh di kaca spion.
"Sudah siap menghadapi minggu depan?" tanya Darius, nada suaranya hangat.
"Sangat siap, Ayah," jawab Rean mantap, matanya berbinar penuh semangat.
Sepanjang sisa perjalanan, Rean tidak berhenti memikirkan hari pertamanya nanti — membayangkan lorong-lorong sekolah yang akan ia lewati, wajah-wajah baru yang akan ia temui, dan kehidupan yang selama ini hanya bisa ia baca lewat halaman-halaman buku, kini akhirnya benar-benar berada dalam jangkauannya.
-
Gerbang Starline High School jauh lebih megah dari yang pernah Rean bayangkan lewat deskripsi di novel.
Bangunan utama menjulang dengan arsitektur klasik, dikelilingi taman rapi dan jalan setapak berbatu.
Siswa-siswa berseragam rapi berlalu-lalang, tertawa, mengobrol, berjalan berkelompok — pemandangan yang selama bertahun-tahun hanya bisa Rean bayangkan dari balik jendela rumah sakit.
Ia berdiri sejenak di depan gerbang, menghirup napas dalam-dalam.
"Ini sungguhan," bisiknya, nyaris tidak percaya.
"Hei, kamu murid baru?"
Rean menoleh. Seorang pemuda berambut cokelat dengan senyum ramah berdiri di sampingnya, membawa bola basket di bawah lengan.
"I-iya," jawab Rean, sedikit gugup. Ini kali pertama ia benar-benar berbicara dengan seseorang seusianya di luar keluarganya.
"Namaku Ethan Walker, kelas 10-B. Kamu?"
"Rean. Rean Vale."
Mata Ethan sedikit membulat mendengar nama itu.
"Vale? Keluarga Vale Group?"
Rean mengangguk pelan, tidak yakin harus bereaksi bagaimana terhadap fakta bahwa namanya ternyata cukup berpengaruh di sini.
"Wah, keren juga," Ethan menyeringai santai, sama sekali tidak canggung. "Selamat datang di Starline, kalau begitu. Kelas berapa kamu?"
"Sepuluh."
"Kebetulan, sama kayak aku. Semoga sekelas!" Ethan menepuk bahu Rean ringan, lalu berlari kecil meninggalkannya sambil melambaikan tangan.
"Sampai ketemu di dalam!"
Rean menatap punggung Ethan yang menjauh, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Interaksi sesederhana itu — seorang teman baru menyapanya, bicara santai tanpa beban — terasa jauh lebih berharga daripada yang bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Ia melanjutkan langkah menuju gedung administrasi untuk mengurus pendaftaran, masih dengan senyum tipis tersisa di wajahnya.
Namun tanpa disadarinya, sepasang mata tengah memperhatikannya dari kejauhan.
Di bawah pohon dekat lapangan, seorang gadis berambut cokelat madu duduk bersama tiga temannya, memegang buku catatan yang sedari tadi tidak benar-benar ia baca. Matanya justru terus mengikuti sosok anak baru berwajah baby face yang baru saja masuk gerbang.
"Elora, kamu dengar aku barusan, nggak?" tanya gadis di sampingnya, Lily Anderson, sedikit cemberut karena diabaikan.
"Eh? Apa?" Elora tersadar, menoleh cepat.
Lily mengikuti arah pandang sahabatnya tadi, lalu menyeringai jahil begitu menemukan objeknya.
"Ooh. Kamu memperhatikan anak baru itu, ya?"
"Bukan begitu," Elora buru-buru menyangkal, meski pipinya sedikit merona. "Cuma... dia terlihat lucu saja. Wajahnya seperti anak kelas delapan yang nyasar."
Chloe Bennett, yang duduk di sisi lain, ikut melirik. "Baby face banget, ya. Tapi manis, sih."
Emma Collins, yang sedari tadi diam membaca buku, hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada halamannya. "Rean Vale. Anak Keluarga Vale."
"Kamu tahu namanya?" tanya Lily kaget.
"Baru saja dengar dari Ethan," jawab Emma singkat, tanpa mengangkat kepala.
Elora tidak berkata apa-apa lagi, tapi matanya sekali lagi mencuri pandang ke arah gerbang, tempat sosok itu sudah menghilang masuk ke gedung. Ada rasa penasaran kecil yang mulai tumbuh di dadanya — sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya, dan tidak akan ia pahami untuk waktu yang cukup lama.
Ruang kelas 10-B ramai dengan obrolan pagi ketika Rean melangkah masuk, membawa jadwal pelajaran yang baru saja ia terima dari petugas administrasi.
Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Bisik-bisik kecil terdengar dari sudut ruangan.
"Itu anak baru?"
"Wajahnya kecil banget, kelas berapa sih dia?"
"Katanya dari Keluarga Vale."
Rean berdiri canggung di depan pintu, tidak yakin harus duduk di mana. Ia baru akan mencari bangku kosong ketika suara familiar memanggilnya.
"Rean! Sini, sini!" Ethan melambai dari bangku dekat jendela, menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Untung banget kamu sekelas sama aku."
Rean menghela napas lega, segera menghampiri dan duduk di sebelah Ethan.
"Makasih," katanya tulus.
"Santai aja." Ethan menyeringai, lalu menoleh ke arah dua orang lain yang duduk tak jauh dari mereka. "Oh iya, kenalin. Ini Lucas, dan itu Adrian."
Pemuda berkacamata bernama Lucas Sterling mengangguk sopan. "Lucas. Senang berkenalan."
Sementara yang satunya, Adrian Frost, hanya melirik sekilas lalu mengangguk singkat tanpa banyak bicara — tapi tidak terkesan tidak ramah, hanya pendiam.
Belum sempat obrolan berlanjut, pintu kelas terbuka lagi. Kali ini, suasana kelas mendadak sedikit berubah — beberapa siswa duduk lebih tegak, beberapa yang lain membisikkan sesuatu dengan nada kagum.
Seorang pemuda tinggi dengan rambut hitam rapi dan aura percaya diri melangkah masuk. Langkahnya tenang, namun entah kenapa seluruh ruangan seperti otomatis memberi jalan untuknya.
"Itu Kieran," bisik Ethan pelan pada Rean. "Kieran Ashford. Ketua kelas kita. Kalau ada yang namanya 'anak paling populer di angkatan', ya dia orangnya."
Rean menoleh, memperhatikan sosok yang baru saja ia baca namanya berkali-kali di dalam novel bersampul biru miliknya. Rasanya aneh — seperti melihat tokoh fiksi yang tiba-tiba hidup di depan mata.
Kieran melintas di dekat bangku mereka, dan sekilas, matanya bertemu pandang dengan Rean. Ada jeda singkat, tatapan yang menilai — bukan bermusuhan, hanya rasa ingin tahu sesaat terhadap wajah baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!