Indonesia
NovelToon NovelToon

Wanita Yang Kau Siakan

​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah

   ​Malam itu, hujan deras mengguyur kota Bandung tanpa ampun. Gemuruh petir sesekali menyambar, memecah kegelapan dan mempertegas suasana dingin di dalam rumah megah berarsitektur modern milik keluarga Ziko.

   Di dapur yang luas dan berlantai marmer dingin, Mahira masih berdiri berkutat dengan apron lusuhnya. Jemarinya yang halus tampak kemerahan dan kaku karena terlalu lama berhadapan dengan air es, pisau dapur, dan hawa panas dari kompor yang menyala sejak sore.

   ​Mahira mengusap sedikit keringat di dahinya menggunakan lengan baju yang tergulung. Rasa lelah yang menggelayut di tubuhnya seolah tak dihiraukan. Baginya, tiga tahun pernikahan ini adalah ujian kesabaran yang tak pernah usai.

   Ia menatap panci sup yang masih menggelembungkan uap panas di atas kompor. Sup daging kesukaan Ziko yang ia racik dengan ketelitian ekstra, berharap racikan hangat itu bisa sedikit mencairkan kebekuan di antara mereka.

   ​Namun, ketenangan singkat di dapur itu seketika sirna. Langkah kaki yang tergesa dan kentara ditekan penuh amarah terdengar dari arah tangga.

   Ibu mertuanya, Ibu Rani, berjalan mendekat dengan dagu terangkat penuh kesombongan. Pakaian rumah berbahan sutra mewahnya berkilat di bawah lampu kristal dapur. Tatapannya yang tajam menatap Mahira dari ujung kepala hingga ujung kaki, memancarkan rasa jijik dan nada menghina yang tak pernah berusaha ia sembunyikan.

   ​"Hira! Jam berapa ini? Kenapa sup untuk Ziko belum selesai juga?" Suara Bu Rani melengking keras, menggelegar mengalahkan suara deburan hujan di luar sana.

   ​Hira terperanjat kecil, segera mematikan kompor lalu memutar tubuhnya. Ia menyunggingkan senyum setenang dan selembut mungkin, meski di dalam dadanya ada rasa perih yang teriris. "Sedikit lagi, Bu. Supnya baru saja matang. Saya mendidihkannya agak lama agar dagingnya benar-benar empuk untuk Mas Ziko...."

   ​"Alasan terus! Alasan!" potong Bu Rani seraya melangkah makin dekat dan menggebrak meja dapur dengan kasar.

   Brak!

   ​Hira terperanjat mundur setengah langkah.

   ​"Kamu itu memang wanita tidak bisa diandalkan!" bentak Bu Rani dengan mata mendelik lebar. "Mengurus hal sepele seperti memasak sup saja butuh waktu berjam-jam. Sudah tiga tahun kamu menikah dengan Ziko, tidak bisa memberi keluarga ini keturunan, mengurus rumah saja leletnya minta ampun. Kalau bukan karena Ziko yang terlalu kasihan dan bermurah hati padamu, sudah sejak lama kamu saya tendang keluar dari rumah ini!"

   ​Mahira menunduk dalam-dalam. Kepala dan bahunya bergetar pelan. Setiap kata yang keluar dari mulut mertuanya tidak ubahnya sembilu yang menyayat hatinya tanpa belas kasihan. Kata-kata pedas itu sudah menjadi makanan sehari-harinya.

   Mahira memilih diam dan menahan semuanya bukan karena ia bodoh, tidak berdaya, atau tidak punya taring untuk membalas. Ia memilih bertahan semata-mata demi menjaga kehormatan pernikahan dan janji setia yang pernah ia ucapkan di hadapan Tuhan.

   ​Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki garasi rumah. Tak lama kemudian, pintu depan kayu jati yang tebal terbuka.

   Ziko melangkah masuk. Setelan jas mewahnya sedikit basah oleh bintik-bintik air hujan. Wajahnya yang tampan terlihat sangat lelah, namun sapuan garis rahangnya menampilkan ekspresi yang dingin dan keras.

   ​Melihat kehadiran putranya, raut wajah Bu Rani berubah drastis dalam sekejap mata. Raut galak dan penuh amarah itu lenyap, berganti menjadi senyuman manis dan raut penuh keprihatinan yang dibuat-buat.

   ​"Ziko, sayang... Kamu baru pulang, Nak?" ujar Bu Rani tergesa menghampiri Ziko, menyambut jas basah putranya dengan nada suara yang dimanja-manjakan. "Lihatlah istrimu ini. Jam segini sup untukmu belum juga dihidangkan. Padahal dia seharian hanya diam di rumah, tidak bekerja, tidak menghasilkan uang sepeser pun untukmu, tapi mengurus hal sepele begini saja selalu gagal!"

   ​Ziko tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam dan pekat menatap Hira yang berdiri kaku memegang kain lap di sudut dapur. Pandangan mata Ziko begitu dingin, begitu asing, tanpa ada sedikit pun menyisakan kehangatan atau rasa empati seorang suami terhadap istrinya.

   ​"Hira, benar apa yang dikatakan Ibu?" tanya Ziko. Suaranya berat, datar, dan penuh tekanan yang menuntut.

   ​"Aku sudah menyiapkannya, Mas. Ini tinggal dihidangkan ke meja...."

   ​"Cukup, Hira!" potong Ziko cepat, melambaikan tangannya di udara dengan nada frustrasi yang teramat sangat. "Aku pulang ke rumah dalam keadaan lelah setengah mati setelah rapat seharian di kantor. Masalah pekerjaan di luar sudah menumpuk, dan kamu di rumah selalu saja membuat masalah kecil menjadi rumit. Bisakah sekali saja dalam sehari kamu tidak membuat Ibu kesal?"

   ​"Tapi aku tidak membuat masalah, Mas...." lirih Mahira. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata suaminya, mencari sisa-sisa cinta yang mungkin masih tertinggal di sana. "Aku hanya berusaha memasak sup ini sebaik mungkin...."

   ​"Lalu apa? Kamu mau menyalahkan Ibu? Mau bilang Ibu yang berbohong?" Suara Ziko mendadak meninggi, bergema keras di sudut-sudut ruangan dan membuat suasana dapur terasa makin mencekam.

"Harusnya kamu sadar diri, Hira! Kamu itu beruntung bisa tinggal di rumah mewah ini. Dulu kamu datang ke hidupku tanpa membawa apa-apa, dan sampai detik ini pun kamu tidak memberikan kontribusi apa pun untuk keluarga ini selain membuat suasana rumah jadi tidak tenang!"

   ​Dug.

   ​Kalimat itu menancap sangat dalam, menghantam tepat di pusat dada Mahira hingga napasnya terasa sesak. Tidak membawa apa-apa? Tidak berkontribusi apa-apa?

   ​Mahira mengepalkan kedua tangannya erat-erat di balik apron lusuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ziko tidak pernah tahu, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa berkas analisis bisnis rumit yang berhasil membuat perusahaannya memenangkan tender bernilai puluhan miliar bulan lalu adalah hasil pemikiran jenius Mahira yang secara diam-diam ia selipkan di dalam tas kerja Ziko.

Ziko juga tidak pernah tahu bahwa relasi bisnis internasional yang tiba-tiba bersedia menanamkan investasi besar di perusahaannya adalah kenalan lama Mahira yang sengaja ia hubungi demi menyelamatkan karier suaminya.

   ​Mahira sengaja menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri pengusaha terpandang dan lulusan terbaik bisnis. Ia memilih menjadi wanita biasa yang mengabdi sepenuhnya di balik layar, rela merendahkan dirinya demi mengangkat derajat dan nama besar suaminya. Namun, apa yang ia dapatkan sebagai balasan? Hanya hinaan, dan tuduhan tak berguna yang tak pernah usai.

   ​"Kenapa diam? Kamu merasa paling tersakiti sekarang?" kekeh Ziko dengan senyuman sinis yang terukir di bibirnya. "Ibu benar. Mungkin selama ini aku yang terlalu memanjakanmu, sampai kamu lupa di mana posisi dirimu yang sebenarnya di rumah ini."

   ​Ziko berpaling dingin, membelakangi Mahira begitu saja tanpa sedikit pun niat untuk mendengarkan pembelaan istrinya. Ia melangkah menuju ruang makan bersama Ibunya yang menyunggingkan senyum kemenangan penuh kepuasan di belakang punggung Ziko.

   ​Di dapur yang kini kembali sunyi dan mencekam, Mahira berdiri sendirian dalam hening. Setetes air mata yang hangat akhirnya lolos menetes, membasahi pipinya yang pucat. Dengan cepat, ia mengusap air mata itu menggunakan punggung tangannya.

   ​Rasa sakit malam ini terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang tak berwujud namun terasa sangat jelas telah patah di dalam dadanya, sebuah kesabaran dan cinta tulus yang selama ini ia jaga rapat-rapat, kini runtuh menjadi serpihan tak berharga. Rasa sakit itu tidak lagi menyisakan kesedihan, melainkan berubah menjadi keputusasaan yang berubah bentuk menjadi rasa muak yang teramat sangat.

   ​Mahira berjalan mendekati jendela dapur. Ia menatap pantulan bayangannya sendiri di kaca gelap yang tertutup bintik-bintik air hujan. Wajahnya pucat, tapi matanya kini memancarkan kilatan ketegasan yang belum pernah ada sebelumnya.

   "​Sebetulnya, aku sudah lelah menjadi wanita lemah yang selalu kau rendahkan, Mas Ziko. Tunggu saja," bisik Mahira dingin dalam hatinya.

Hai, karya baru nih setelah beberapa hari semedi nyari ide... Mari melipir di mari ya, Sayang2nya Author..jangan lupa beri dukungan, semoga karya ini tidak gagal lagi.

Bab 2 Jus yang Kemanisan

   ​Udara dingin khas Bandung yang menusuk hingga ke tulang tidak pernah sedikit pun menyurutkan beban yang menumpuk di pundak Mahira.

   Sebelum jam dinding menunjukkan pukul empat pagi, saat seluruh isi rumah megah itu masih terlelap nyaman di balik selimut tebal, Mahira sudah harus berdiri kaku di dapur. Bagi wanita berusia dua puluh lima tahun itu, subuh bukanlah tanda dimulainya hari baru yang penuh harapan, melainkan awal dari siklus kelelahan yang seolah tak pernah berujung.

   Tanpa sempat memanjakan diri atau sekedar menikmati secangkir teh hangat dalam ketenangan, jemarinya yang dingin sudah harus bergelut dengan tumpukan bahan makanan untuk sarapan seluruh kebutuhan keluarga Ziko.

   ​Rumah dua lantai berarsitektur modern minimalis itu berdiri gagah di kawasan elit. Dindingnya didominasi warna putih bersih dengan lantai marmer yang selalu berkilauan. Namun bagi Mahira, kemewahan itu tak ubahnya sangkar emas yang dingin. Tidak ada sudut di rumah ini yang terasa ramah baginya.

Sebagai seorang istri dari pemilik perusahaan yang tengah berkembang pesat, Mahira tidak memiliki asisten rumah tangga satu pun. Bukan karena Ziko tidak mampu menyewa jasa pembantu, melainkan karena Bu Rani, ibu mertuanya, secara tegas melarangnya.

​"Untuk apa menyewa pembantu kalau di rumah ini ada kamu?" Kalimat Bu Rani dua tahun lalu masih terngiang jelas di ingatan Mahira. "Kamu itu tidak bekerja, Hira. Tidak menghasilkan uang sepeser pun untuk Ziko. Jadi sudah sepatutnya kamu membalas kebaikan anak saya dengan mengurus rumah ini sampai tuntas. Anggap saja itu bentuk tahu diri."

​Mahira menghela napas panjang, mengusap peluh halus di dahi dengan punggung tangannya yang terasa kasar. Jemari yang dulu dikenal sangat lihai menari di atas papan ketik laptop untuk menganalisis data finansial tingkat tinggi, kini dihiasi bekas luka kapalan tipis akibat terlalu sering mengupas bumbu, mencuci piring, dan memegang gagang sapu.

​"Hira! Mana jus jeruk saya?" Suara lengkingan Bu Rani memecah kesunyian pagi dari arah ruang makan.

​Mahira terperanjat kecil. Dengan cekatan, ia mengelap tangannya pada apron kain yang sudah agak melar di bagian pinggangnya. Ia dengan sigap mengambil gelas berisi jus jeruk murni yang baru saja disaringnya, lalu melangkah tergesa menuju ruang makan.

​Di sana, Bu Rani sudah duduk anggun dengan pakaian sutra berwarna merah marun. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles riasan tipis meski hari masih sangat pagi.

Di sampingnya, Ziko duduk mengamati layar tablet premiumnya, tampil rapi dalam balutan kemeja putih yang disetrika licin, tentu saja oleh tangan Mahira sejam yang lalu.

​"Ini jus jeruknya, Bu," ucap Mahira lembut sambil meletakkan gelas kaca itu perlahan di samping piring Bu Rani.

​Bu Rani meraih gelas tersebut, menyesapnya sedikit, lalu seketika dahinya berkerut dalam. Wajahnya menampilkan ekspresi jijik yang dibuat-buat sebelum menghempaskan gelas itu kembali ke meja hingga airnya terciprat ke atas taplak meja putih.

​"Manis sekali! Kamu mau membuat saya kena gula darah, ya?" bentak Bu Rani seraya menatap Mahira penuh permusuhan. "Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak mau pakai gula sama sekali. Kenapa otakmu ini sulit sekali diberi tahu, sih?"

​Mahira menunduk. "Maaf, Bu. Saya tadi hanya menambahkan sedikit madu murni agar tidak terlalu asam untuk lambung Ibu...."

​"Alasan! Jangan sok pintar di depan saya!" potong Bu Rani keras. "Ziko, lihat istrimu ini. Diajari hal sepele seperti membuat jus saja tidak pernah becus. Selalu saja membantah kalau dikasih tahu!"

​Mahira menatap suaminya dengan tatapan berharap. Ia ingin Ziko menyahut, membela bahwa niatnya baik demi kesehatan sang ibu. Namun Ziko bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Pria itu menghembuskan napas jengkel, tampak terganggu oleh kegaduhan di meja makan.

​"Hira, kalau Ibu minta A, lakukan A. Tidak usah sok tahu menambah madu segala," ujar Ziko dingin tanpa menatap wajah istrinya. "Ganti jusnya sekarang. Jangan buang-buang waktu, aku ada rapat penting jam delapan."

​Nada suara Ziko begitu datar, tanpa emosi, tanpa menyisakan sedikit pun celah kepedulian. Bagi Ziko, Mahira hanyalah elemen pelengkap di rumahnya, seorang wanita sederhana yang kebetulan berstatus istri, namun lebih sering diperlakukan sebagai pengurus rumah tangga yang tak digaji.

​"Baik, Mas," lirih Mahira. Ia mengambil kembali gelas itu dan melangkah mundur menuju dapur.

​Ziko kemudian beranjak dari kursi setelah menghabiskan sarapan tanpa pernah mengajak Mahira duduk bersama. "Bu, Ziko berangkat dulu."

​"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," jawab Bu Rani manis.

​Ziko berjalan menuju pintu depan. Mahira bergegas menghampirinya, membawa tas kerja kulit dan jas suaminya. "Mas, jasnya," kata Mahira.

​Ziko mengambil jas itu tanpa mengucap terima kasih. Saat Mahira mengulurkan tangan untuk menyalami tangannya seperti yang biasa dilakukan seorang istri, Ziko justru berbalik begitu saja dan melangkah keluar rumah. Tangan Mahira tergantung di udara, hampa dan dingin.

​"Ingat Hira." Suara Bu Rani terdengar dari belakang. "Setelah ini, bersihkan seluruh kaca jendela lantai atas dan cuci sprei kamar tamu. Jangan malas-malasan!"

​Mahira berdiri mematung di ambang pintu yang terbuka. Pandangannya menatap mobil Ziko yang perlahan menghilang di balik pagar besi. Mahira menatap jemarinya sendiri. Dulu, jemari ini dipuji oleh para kolega bisnis karena ketajamannya menyusun strategi investasi jutaan dolar. Kini, ia tak ubahnya bayangan tak berharga yang hanya dipanggil saat butuh dilayani, dan dihina saat dianggap tak berguna.

Jangan lupa dukungannya ya... 🥰🥰🥰

Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis

   ​"Kalian semua tidak punya otak! Bagaimana bisa salah menghitung risiko proyek lima puluh miliar?"

   ​Pintu jati berukir di ruang depan dihempas keras oleh Ziko saat ia melangkah masuk ke rumah malam itu. Suara dentumannya bergema melintasi lorong-lorong rumah megah berlantai marmer tersebut, memecah kesunyian malam yang dingin.

   Wajah Ziko pucat pasi, matanya merah memancarkan amarah sekaligus keputusasaan yang membuncah. Dasinya sudah melonggar tidak beraturan, kancing teratas kemejanya terbuka, dan rambut klimisnya kini acak-acakan akibat usapan frustrasi yang tak henti-hentinya ia lakukan sepanjang jalan.

   ​Rasa panik, tertekan, dan amarah menyelimuti seluruh tubuh Ziko. Perusahaan yang ia bangun dan ia bangga-banggakan di depan semua orang, perusahaan tempat ia bertaruh nama besar dan harga dirinya sebagai pria sukses, sedang berada di ujung tanduk. Kesalahan fatal analisis dari tim finansialnya mengancam akan menghancurkan segalanya dalam semalam.

   ​Bu Rani yang sedang duduk di ruang tamu sembari menikmati teh hangat langsung berdiri terkejut. Cangkir porselen di tangannya hampir saja terlepas. "Ziko! Ada apa, Nak? Kenapa pulang-pulang marah-marah begitu? Apa yang terjadi di kantor?"

   ​"Perusahaan Ziko terancam rugi lima puluh miliar besok pagi, Bu." bentak Ziko frustrasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit impor, lalu memegangi kepalanya yang terasa seperti mau pecah. Denyut nyeri di pelipisnya kian menusuk. "Rapat direksi jam sembilan pagi besok adalah penentuannya. Kalau Ziko tidak bisa memberikan solusi finansial dan pemetaan risiko yang masuk akal, kontrak dibatalkan dan perusahaan Ziko gulung tikar! Ziko bisa hancur, Bu!"

   ​Bu Rani menutup mulutnya dengan telapak tangan, wajahnya seketika pucat membayangkan kemewahan hidupnya akan sirna. Namun, ketakutan itu dalam sekejap berubah menjadi kilatan amarah yang membara. Matanya yang tajam melirik ke arah lorong dapur, di mana Mahira baru saja keluar membawa nampan berisi segelas air hangat.

   ​"Ini semua pasti gara-gara pembawa sial di rumah ini!" tuduh Bu Rani tanpa ragu, jarinya melayang menunjuk lurus ke wajah Mahira. "Sejak Ziko menikah denganmu, nasib keluarga ini makin banyak masalah. Dasar wanita tidak berguna! Bukannya membantu suami memberi solusi, kamu cuma bisa berdiri planga-plongo seperti patung di situ!"

   ​Mahira tidak membalas tuduhan tak berdasar itu. Hatinya sudah terlalu tebal oleh tumpukan hinaan yang saban hari ia terima. Ia melangkah tenang mendekati sofa, meletakkan gelas air hangat di atas meja kopi dengan gerakan sehalus mungkin, mencoba memberikan sedikit ketenangan di tengah badai.

   ​"Mas Ziko, diminum dulu airnya... Tenangkan pikiran dulu, Mas," ucap Mahira dengan suara pelan dan lembut.

   ​"Diam, Hira! Aku tidak butuh air putihmu!" bentak Ziko keras dengan mata memelotot tajam. Emosinya yang membumbung tinggi dilampiaskan sepenuhnya pada wanita di hadapannya.

   ​Sebelum Mahira sempat menarik tangannya, Ziko menepis tangan istrinya dengan kasar.

   Brak!

   Gelas kaca itu terlempar ke lantai, pecah berkeping-keping dan menyiramkan air hangat yang mengotori celana panjang serta sepatu mahal milik Ziko.

   ​"Aku butuh solusi lima puluh miliar, bukan perhatian murahan dari wanita yang bahkan tidak tahu artinya laporan keuangan!" teriak Ziko lagi, napasnya memburu penuh keputusasaan. "Pergi kamu dari hadapanku! Jangan ganggu aku!"

   ​Mahira menatap suaminya yang dipenuhi emosi buta. Tidak ada rasa marah di mata Mahira, hanya ada kesedihan mendalam dan kekecewaan yang telah mencapai puncaknya. Tanpa mengucap sepatah kata pun untuk membela diri, Mahira berlutut di atas marmer dingin. Dengan jemarinya yang halus, ia memunguti pecahan kaca tajam satu per satu dan mengelap tumpahan air menggunakan sapu tangan kainnya, lalu melangkah kembali ke dalam kamar tanpa berpaling lagi.

   ​Malam makin larut, membawa hawa dingin menusuk yang menyelimuti seluruh sudut rumah. Dentang jam dinding berbunyi satu kali, menandakan waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Rumah megah itu akhirnya benar-benar hening, menyisakan deru angin malam di luar.

   ​Di dalam ruang kerja berlantai kayu, Ziko akhirnya terkulai lelap di atas sofa kulit karena kelelahan fisik dan stres berat yang menguras energinya.

   Lampu meja masih menyala temaram, memancarkan cahaya kuning pada lembaran-lembaran kertas proyek yang berserakan di atas meja kerja kayu jati. Berkas-berkas itu dipenuhi angka-angka kerugian dan kalkulasi risiko yang salah, bukti kepanikan yang tak menemukan jalan keluar.

   ​Pintu ruang kerja berderit pelan. Mahira melangkah masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pakaian sederhananya bergesekan lembut dengan udara malam. Ia berdiri mematung di samping sofa, menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dengan dahi yang masih berkerut rapat dan napas yang berat.

   ​Mahira menghela napas panjang. Seberapapun jahatnya perlakuan Ziko padanya, seberapapun pedasnya racun kalimat yang diucapkan Bu Rani setiap hari, nurani Mahira tidak tega melihat pria yang masih berstatus suaminya itu hancur secara mengenaskan. Bagaimanapun, ada kenangan masa lalu dan janji yang pernah ia patuhi.

   ​Mahira mengalihkan pandangannya ke meja kerja. Ia mendekati tumpukan dokumen tersebut. Jemarinya yang lentik meraih beberapa lembar kertas kosong bergaris dan sebuah pena tinta hitam dari dalam tempat pensil.

   ​Mahira menarik kursi kayu di balik meja. Ketika jemarinya menyentuh pena dan matanya meneliti deretan angka di lembar proyek Ziko, aura dalam diri Mahira seketika berubah. Langkahnya yang tadi lesu kini berganti dengan ketegasan seorang analis ulung.

Di balik statusnya yang selalu direndahkan sebagai "wanita kampung tak berpendidikan", Mahira adalah putri tunggal pemilik Grand Wijaya Group, lulusan terbaik manajemen finansial internasional yang kecerdasan analisanya pernah diperebutkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa.

   ​Hanya butuh waktu empat puluh lima menit bagi Mahira. Jemarinya menari dengan cepat dan presisi di atas kertas bergaris. Tanpa ragu, ia mencoret seluruh kalkulasi salah yang dibuat oleh tim finansial Ziko yang tidak kompeten.

   ​Dengan pemikiran tingkat tinggi dan intuisi bisnisnya yang tajam, Mahira menyusun ulang seluruh pemetaan risiko. Ia menghitung kembali alokasi modal, memangkas pembengkakan anggaran yang tidak perlu, dan menyelipkan strategi alokasi investasi darurat yang sanggup mengamankan aset perusahaan.

 Kalkulasi yang dikerjakan Mahira bukan sekedar solusi sementara, melainkan sebuah formula bisnis sempurna yang berpotensi mengubah ancaman kerugian lima puluh miliar menjadi keuntungan berlipat ganda.

   ​Setelah menyelesaikan lembar ketiga, Mahira membubuhkan garis bawah di akhir rumusannya, sebuah ciri khas penulisan analisis yang selalu ia gunakan dulu. Ia mengeringkan tinta hitam itu sejenak, lalu merapikan kertas-kertas tersebut.

   ​Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Mahira membuka tas kerja kulit milik Ziko yang tergeletak di atas meja. Ia menyelipkan tiga lembar kertas analisis berharga jutaan dolar itu ke dalam map kerja hitam utama, map yang dipastikan akan dibuka Ziko saat rapat krusial bersama para direksi besok pagi.

   ​Setelah semuanya rapi kembali seperti semula, Mahira melangkah mendekati sofa tempat Ziko tertidur. Ia berdiri menatap paras tampan suaminya dalam keheningan malam yang cengkeram. Senyum tipis yang amat dingin dan penuh kepahitan terukir di bibirnya yang pucat.

   ​"Ini bantuan terakhir dariku untuk kariermu, Mas," bisik Mahira pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam desir angin malam. "Semoga lembaran ini cukup untuk membuktikan padamu dan ibumu, siapa sebenarnya wanita yang selama ini selalu kalian sebut tak berguna."

   ​Mahira berbalik, melangkah keluar dari ruang kerja itu dan menutup pintunya rapat-rapat. Malam itu, Mahira telah menuntaskan kewajibannya sebagai seorang istri untuk yang terakhir kalinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!