Aroma minyak kayu putih dan gesekan sepatu kets di atas semen basah selalu menjadi aroma khas SMA Garuda Bangsa di pagi hari—terutama lima menit sebelum gerbang besi setinggi tiga meter itu digembok rapat oleh Pak Slamet.
Naya Aurelia tidak berniat terlambat. Sungguh. Tapi ketika tali sepatunya putus tepat saat ia hendak melompati parit di samping pagar belakang sekolah, hukum alam seolah menyatakan perang padanya.
"Anjir, kok malah lepas, sih!" gumam Naya setengah berbisik. Tangannya dengan sigap mengikat kasar sisa tali kets hitamnya yang menyedihkan.
Ia menatap dinding pagar setinggi dua meter di hadapannya. Di atas sana, pecahan kaca yang biasa ditancapkan di semen sudah lama runtuh dihantam hujan, meninggalkan celah aman bagi siswa-siswi yang bernasib malang—atau malas—seperti dirinya. Dengan satu lompatan lincah dan tumpuan pada bekas batako yang menumpuk di balik dinding, Naya berhasil mendarat di area belakang laboratorium biologi.
Ia membersihkan rok abu-abunya yang terkena debu dengan tepukan cepat, menarik napas lega. Aman.
Atau begitulah pikirnya, sebelum sebuah suara dingin dan teratur terdengar dari balik pohon mangga.
"Naya Aurelia. Kelas 12 IPS 2."
Naya membeku. Suara itu. Suara yang frekuensinya cukup untuk membuat usus buntu siapa pun mendadak meradang.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum paling tidak ikhlas yang bisa ia produksi pagi ini. "Pagi, Pak Ketua OSIS yang terhormat. Sedang berpatroli mencari mangsa?"
Arka Pradipta berdiri di sana. Berdiri tegak dengan seragam putih yang terlipat rapi tanpa satu pun garis kusut, dasi terikat sempurna di pangkal leher, dan ban lengan kain biru bertuliskan KETUA OSIS yang terpasang presisi di lengan kirinya. Di tangannya, sebuah papan jalan kayu bertumpuk kertas presensi kedisiplinan siap memakan korban.
Arka tidak tersenyum. Ia tidak pernah tersenyum pada Naya—atau mungkin pada siapa pun di sekolah ini jika sedang bertugas. Matanya yang tajam menatap celana dan kets Naya, lalu berpindah pada tumpukan batako di balik pagar.
"Lompat pagar lagi. Hari Selasa, jam tujuh lewat delapan menit," ujar Arka tenang, sambil mencatat sesuatu di kertasnya dengan pulpen hitam. "Ini sudah ketiga kalinya dalam bulan ini, Naya."
"Dua kali!" potong Naya cepat, memajukan langkahnya dengan wajah menantang. "Minggu lalu itu gue nggak lompat pagar. Gue cuma lewat pintu samping yang kebetulan nggak dikunci!"
"Pintu samping itu area sterilisasi petugas kebersihan, bukan jalan masuk siswa yang bangun kesiangan," balas Arka tanpa mengangkat pandangannya dari papan jalan. "Dan perhatikan caramu berbicara. 'Gue-elu' bukan tata bahasa yang sopan untuk dipakai di lingkungan sekolah, apalagi saat berhadapan dengan pengurus OSIS."
Naya menghela napas kasar, memutar matanya lebar-lebar. "Aduh, Arka Pradipta... ini masih jam tujuh lewat sepuluh. Otak gue belum siap menerima ceramah kewarganegaraan dari lo. Lagian, lo ngapain sih nongkrong di balik pohon begini? Kurang kerjaan banget. Enggak ada rapat OSIS yang harus lo pimpin atau dokumen penting yang harus lo tandatangani?"
Arka akhirnya menghentikan coretan pulpennya. Ia menatap Naya datar. Ketinggian tubuhnya yang terpaut jauh membuat Naya harus sedikit mendongak, sebuah posisi yang selalu dibenci Naya karena membuatnya merasa kerdil.
"Tugas saya menjaga ketertiban. Dan kamu," Arka menunjuk Naya dengan ujung pulpennya, "adalah sumber utama kekacauan di sekolah ini."
"Sok suci banget sih lo!" cibir Naya, melipat kedua tangannya di dada. "Cuma terlambat lima menit karena tali sepatu putus! Bukan berarti gue mau ngerampok ruang kepala sekolah!"
"Peraturan tidak memandang alasan tali sepatu atau ban bocor, Naya. Kalau kamu tahu tali sepatumu rapuh, harusnya kamu ganti dari kemarin. Itu namanya antisipasi. Sesuatu yang tampaknya tidak pernah ada di dalam kamus hidup kamu."
Kata-kata Arka diucapkan dengan nada yang sangat tenang, tanpa emosi, tanpa bentakan. Namun justru ketenangan itulah yang selalu berhasil membakar emosi Naya sampai ke ubun-ubun. Sejak kelas 10, Arka selalu menjadi sosok yang paling ia hindari. Laki-laki itu seperti robot yang diprogram tanpa rasa humor, selalu berlindung di balik buku tata tertib, dan selalu memandang orang lain dari atas hidungnya yang mancung itu.
"Ikut saya ke lapangan," kata Arka balik kanan tanpa menunggu jawaban Naya. "Pak Danu sudah menunggu anak-anak yang terlambat di depan tiang bendera."
"Gue nggak mau!" Naya berdiri diam di tempatnya.
Arka menghentikan langkahnya, memalingkan kepala sedikit. "Kamu mau poin pelanggaranmu ditambah karena melawan pengurus OSIS?"
"Biarin! Tambah aja sampai lima ratus! Kurang sekalian!" pekik Naya kesal.
Beberapa siswa yang sedang berjalan di koridor lantai dua mulai menengok ke bawah, tertarik dengan suara nyaring Naya. Di sekolah ini, tidak ada yang berani membentak Arka Pradipta. Arka bukan cuma ketua OSIS; dia juara umum paralel, kapten tim basket, dan kesayangan para guru. Melawan Arka sama saja seperti mendaftarkan diri untuk dimusuhi satu sekolah.
Namun Naya tidak peduli. Bagi Naya, Arka hanyalah cowok sok berkuasa yang kebetulan punya wajah lumayan—oke, sangat tampan jika harus jujur, tapi kepribadiannya sebusuk sampah di kantin belakang.
Arka menghela napas panjang. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap Naya, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa dua jengkal. Naya refleks mundur setengah langkah, namun menahan diri agar tidak terlihat takut.
"Naya," suara Arka merendah, kini hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Saya nggak punya waktu buat berdebat sama kamu pagi-pagi gini. Jangan bikin masalah makin panjang. Cukup jalan ke lapangan, berdiri sepuluh menit, hormat bendera, selesai. Susah?"
"Susah!" jawab Naya cepat, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arka. "Karena yang nangkap gue itu lo. Kalau yang nangkap gue Dito atau anak OSIS lain, gue pasti cuma dikasih teguran biasa. Lo sengaja kan nyari-nyari kesalahan gue?"
Ujung alis Arka terangkat sedikit. "Nyari kesalahan? Kamu yang melompati pagar sekolah tepat di depan mata saya. Kamu pikir saya bertapa di balik pohon ini cuma buat nungguin kamu jatuh dari pagar?"
"Bisa jadi! Siapa tahu lo emang obsessed banget mau menghukum gue!"
Arka menatapnya diam selama beberapa detik. Untuk sejurus kecil, Naya melihat kilatan kekesalan di mata Arka—sebuah retakan tipis pada topeng kesempurnaan cowok itu. Tapi dengan cepat, Arka menguasai diri kembali.
"Terserah apa anggapan kamu," kata Arka dingin. Tangannya meraih pergelangan tangan Naya yang terbalut jaket, memegangnya dengan pegangan yang cukup kuat agar Naya tidak bisa kabur, namun tidak sampai menyakitkan. "Sekarang, jalan."
"Eh! Lepas! Jangan pegang-pegang!" seru Naya kaget, berusaha menarik tangannya. Namun Arka terus melangkah menyeretnya menuju lapangan utama, menghiraukan tatapan puluhan pasang mata yang kini resmi tertuju pada mereka.
Di koridor, Saskia—sahabat Naya—terbelalak melihat pemandangan itu dari balik jendela kelas. Sementara di sudut lain, Dito yang sedang memegang pengeras suara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan.
"Gila ya lo, Arka! Lepasin nggak?!" Naya terus mengomel sepanjang jalan. "Awas ya lo! Demi apa pun, suatu hari nanti gue bakal bikin lo kehilangan muka di depan umum! Gue bakal bikin sifat asli lo yang menyebalkan ini terbongkar!"
Arka tidak membalas. Ia hanya terus berjalan dengan wajah datar menuju tiang bendera, melepaskan cengkeramannya begitu mereka sampai di depan barisan siswa terlambat lainnya.
"Berdiri di sini sampai bel jam pertama selesai," ujar Arka singkat tanpa menatap Naya lagi, lalu berjalan meninggalkan area lapangan menuju ruang OSIS.
Naya menyilangkan tangan di dada, napasnya naik turun menahan gumpalan amarah yang rasanya ingin meledak saat itu juga. Ia menatap punggung tegap Arka yang perlahan menjauh.
"Lihat aja nanti, Arka Pradipta," bisik Naya penuh dendam. "Gue sumpahin hidup lo nggak bakal pernah tenang!"
Naya sama sekali tidak menyadari bahwa sumpah serapahnya pagi itu akan dikabulkan oleh semesta—dengan cara yang paling tragis, gila, dan tak terbayangkan dalam hidupnya.
Hukuman berdiri di bawah tiang bendera selama empat puluh lima menit sukses membuat dua tumit Naya terasa kebas. Ditambah lagi sengatan matahari pagi pukul delapan yang mulai terik, lengkap sudah penderitaannya. Namun, hal yang paling membakar dadanya bukanlah rasa pegal di kaki, melainkan tatapan mengejek dari beberapa anggota pengurus OSIS yang lalu lalang di koridor utama.
Terutama Arka. Laki-laki itu sempat lewat membawa setumpuk map Ordan tanpa meliriknya sedikit pun. Seolah-olah Naya hanyalah seonggok patung semen yang memang dipasang untuk menghiasi halaman sekolah.
"Gue sumpahin tuh cowok kakinya kesandung kerikil terus masuk got," gumam Naya sengit begitu bel istirahat pertama berbunyi dan ia akhirnya diperbolehkan kembali ke kelas.
"Lagian lo nyari penyakit banget sih, Nay," komentar Saskia saat mereka bertiga—bersama mangkuk bakso masing-masing—duduk di pojokan kantin. Saskia menjejali mulutnya dengan kerupuk kulit sebelum melanjutkan, "Udah tahu Arka Pradipta itu tipe cowok yang jalannya pakai penggaris. Lurus banget, kaku, nggak ada fleksibel-fleksibelnya. Kenapa lo malah nekat lompat pagar di area belakang lab biologi? Itu kan jalur patroli rutin dia."
"Ya mana gue tahu dia bakalan nongkrong di situ kayak wewe gombel!" Naya mendesis, mengaduk-aduk kuah baksonya dengan emosi berlebih hingga cipratannya hampir mengenai seragam Saskia. "Lagian dia itu dendam kesumat sama gue dari kelas sepuluh. Inget nggak waktu kita acara persami terus gue ketahuan bawa snack mie instan mentah? Siapa yang menyita dan malah makan mie itu di tenda pembina? Dia, Sas! Dia!"
"Tapi kan itu dua tahun lalu, Naya..." Saskia menghela napas, menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang masih memelihara dendam purba. "Tapi jujur ya, tadi pagi pas Arka menyeret pergelangan tangan lo ke lapangan... anak-anak kelas dua belas pada heboh. Melisa aja langsung cemberut pas nyaksiin dari koridor lantai dua."
Naya menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya bertaut. "Melisa? Cemberut kenapa?"
"Ya iyalah! Satu sekolah juga tahu Melisa itu naksir Arka dari zaman purba. Dia kan sekretaris OSIS, sering jalan bareng Arka buat urusan kegiatan sekolah. Dengar-dengar sih orang tua mereka juga saling kenal," terang Saskia penuh semangat gosip. "Jadi pas ngeliat Arka yang biasanya antikontak fisik sama cewek tiba-tiba megang tangan lo—walaupun bentuknya kayak polisi nangkep pencopet—jelas aja Melisa kepanasan."
Naya mencebikkan bibirnya, kembali menyantap baksonya dengan kasar. "Peduli setan sama Melisa. Kalau dia mau ambil tuh ketua OSIS kaku, ambil aja sana! Kasih pita pink sekalian di kepalanya biar makin lucu."
Meskipun mulutnya berkata begitu, dada Naya tetap terasa sesak oleh sisa-sisa amarah pagi tadi. Bagi Naya, Arka Pradipta adalah simbol dari segala hal yang paling ia benci dalam hidup: ketertiban yang berlebihan, kesempurnaan yang dipamerkan, dan sikap sok berkuasa yang dibungkus dengan nada bicara sopan.
Rasa kesal itu masih terbawa sampai Naya menginjakkan kaki di pelataran rumahnya sore hari. Rumah keluarga Aurelia bernuansa hangat dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman hias milik ibunya. Biasanya, aroma masakan Ibu sudah menyambut Naya begitu ia membuka pintu depan. Namun sore ini, suasana rumah terasa berbeda. Sunyi.
Naya melepas sepatu ketsnya—yang tali kirinya masih terikat bundut asal-asalan—dan melangkah masuk.
"Ibu? Naya pulang..." panggilnya seraya meletakkan tas sekolah di atas sofa ruang tamu.
Tidak ada jawaban dari dapur. Sebaliknya, pintu ruang kerja Ayah di ujung koridor terbuka. Raka Aurelia keluar dari sana. Pria paruh baya bertubuh tegap itu masih mengenakan kemeja kerjanya, tapi lengan kemejanya sudah digulung sampai siku. Wajahnya yang biasa ramah dan penuh canda sore ini terlihat sangat serius. Ada garis kelelahan yang tebal di bawah matanya.
"Naya? Sudah pulang?" suara Ayah terdengar berat.
"Iya, Yah. Ibu mana?" Naya mendekat, bermaksud menyalami tangan ayahnya.
"Ibumu lagi ke supermarket sebentar, beli bahan makanan buat makan malam." Raka menatap putrinya lama, membuat Naya mendadak merasa jengah. Tatapan itu bukan tatapan marah seperti saat Naya ketahuan mendapat nilai merah di mata pelajaran Matematika. Ini tatapan yang jauh lebih rumit. Datar, cemas, dan sarat akan beban berat.
"Ada apa, Yah? Kok liatin Naya gitu banget? Naya nggak bikin masalah kok di sekolah hari ini," dusta Naya cepat-cepat. Keterlambatan pagi tadi jelas tidak boleh sampai ke telinga ayahnya.
Raka tidak tertawa mendengar gurauan defensif putrinya. Ia hanya mengibaskan tangan pelan. "Masuk ke ruang kerja Ayah sebentar. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan sama kamu."
Firasat Naya langsung tidak enak. Langkah kakinya terasa berat saat mengekor di belakang ayahnya masuk ke ruang kerja berpintu kayu jati tersebut. Ruangan itu beraroma kertas tua, kayu, dan aroma kopi hitam yang sudah dingin. Raka duduk di balik meja kerjanya yang penuh dengan berkas dokumen, lalu mengisyaratkan Naya untuk duduk di kursi kayu berseberangan dengannya.
Naya duduk canggung. "Kenapa, Yah? Soal pendaftaran universitas? Kan Naya udah bilang, Naya mau mencoba jalur mandiri di—"
"Bukan soal kuliah, Naya," potong Raka pelan. Ia menyatukan kedua jemarinya di atas meja, menatap Naya lurus-lurus. "Ini soal masa depan kamu. Dan keluarga kita."
Naya mengerutkan kening. "Masa depan? Maksudnya gimana?"
Raka menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat melelahkan. "Ayah sudah berpikir panjang soal ini. Sudah membicarakannya juga dengan Ibumu sejak bulan lalu. Dan keputusan Ayah sudah bulat."
"Keputusan apa, Yah?" Naya mulai merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang semakin menegang ini.
"Kamu harus segera menikah."
Dua kata itu meluncur dari mulut Raka dengan begitu tenang, namun dampaknya bagaikan hantaman petir di siang bolong tepat di atas kepala Naya.
Naya membeku. Selama beberapa detik, otaknya menolak mencerna susunan kata yang baru saja ia dengar. Ia bahkan sempat mendengus geli, mengira ayahnya sedang melancarkan lelucon bapak-bapak yang gagal.
"Ayah becandanya nggak lucu ah," kekeh Naya garing, sambil membetulkan letak duduknya. "Menikah? Naya masih kelas dua belas, Yah. Umur Naya baru tujuh belas tahun. Ujian nasional aja belum, pendaftaran PTN belum buka. Masa tiba-tiba bahas nikah? Ayah keseringan nonton sinetron sore-sore ya sama Ibu?"
Raka tidak ikut tertawa. Tidak ada sedikit pun lekukan senyum di wajah tegasnya.
"Ayah tidak sedang bercanda, Naya Aurelia," tegas Raka dengan nada suara yang membuat tawa garing Naya langsung terhenti seketika. "Ayah sangat serius. Kamu akan menikah. Segera setelah persiapan dari pihak keluarga laki-laki selesai."
Jantung Naya berdegup kencang, kali ini oleh rasa panik yang nyata. Udara di ruang kerja itu mendadak terasa begitu tipis hingga ia kesulitan bernapas. "Yah! Ini gila! Naya masih sekolah! Kenapa Naya harus nikah?! Memangnya ada masalah apa sama keluarga kita? Ayah kebelit utang? Atau perusahaan Ayah bangkrut?!"
"Jaga bicaramu, Naya!" tegur Raka tajam, walau matanya menyiratkan kepedihan yang berusaha ia sembunyikan. "Ini bukan soal utang atau bangkrut. Ini soal janji. Janji antara Ayah dan sahabat lama Ayah yang sudah seperti saudara sendiri. Ada alasan besar di balik semua ini, alasan yang belum bisa Ayah jelaskan sekarang ke kamu. Tapi percayalah, Ayah melakukan ini demi kebaikan dan perlindungan kamu juga."
"Kebaikan apa?!" suara Naya naik satu oktav. Matanya mulai berkaca-kaca oleh campuran rasa takut, bingung, dan amarah yang meletup-letup. "Menikahkan anak umur tujuh belas tahun sama orang asing itu kebaikan kata Ayah?! Siapa cowok itu, Yah? Bapak-bapak umur empat puluh tahun rekan bisnis Ayah? Atau anak juragan tanah yang mana?!"
Raka memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya sebelum kembali menatap putri tunggalnya itu.
"Dia bukan orang asing. Dan dia bukan bapak-bapak," kata Raka pelan. "Dia anak dari Adrian Pradipta. Sahabat terbaik Ayah."
Naya terpaku. Nama Pradipta berdenging di telinganya bagaikan sirene bahaya.
"P-Pradipta?" bisik Naya, berharap telinganya salah mendengar. "Maksud Ayah... Om Adrian Pradipta?"
"Iya. Om Adrian," Raka mengangguk. "Dan calon suami kamu adalah anak sulungnya."
Dunia Naya rasanya runtuh seketika saat itu juga. Nama itu—nama yang paling ia benci di seluruh muka bumi, nama yang baru saja merusak harinya beberapa jam yang lalu—kini tergantung di udara sebagai takdir barunya.
Anak sulung Adrian Pradipta.
Arka Pradipta.
"Nggak..." Naya menggelengkan kepala secara refleks, berdiri dari kursinya hingga kursi kayu itu terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berderit nyaring. "Nggak mau! Ayah! Naya nggak mau! Siapa aja boleh, Yah! Siapa aja! Tapi jangan Arka!"
"Naya, duduk dan dengarkan Ayah dulu!"
"Nggak mau dengar!" teriak Naya, air matanya kini benar-benar menetes membasahi pipinya. "Ayah tahu nggak siapa Arka?! Dia itu ketua OSIS di sekolah Naya! Dia cowok paling menyebalkan, paling kaku, paling sok suci yang pernah Naya kenal! Naya berantem sama dia tiap hari di sekolah! Dan Ayah mau nikahin Naya sama musuh Naya sendiri?!"
"Arka anak yang bertanggung jawab, pintar, dan sopan—"
"Itu di depan Ayah! Di sekolah dia itu monster!" potong Naya histeris. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya naik turun oleh isolasi emosi yang tidak tertampung lagi. "Naya nggak bakal mau nikah sama Arka! Lebih baik Naya dikirim ke pesantren di luar pulau daripada harus nikah sama dia!"
Tanpa menunggu balasan dari ayahnya lagi, Naya memutar tubuhnya dan berlari keluar dari ruang kerja. Suara panggil keras ayahnya menghantam punggungnya, namun Naya terus berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Brak!
Naya membanting pintu kamar keras-keras, memutar kuncinya, lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia membenamkan wajahnya di atas bantal, meluapkan tangisnya yang pecah.
Bayangan wajah Arka yang datar, suara dinginnya saat mencatat keterlambatan Naya pagi tadi, dan senyum tipis mengejeknya kini berputar-putar di otak Naya bagaikan mimpi buruk terburuk. Bagaimana mungkin laki-laki yang menjadi sumber penderitaannya di sekolah, besok-besok akan menjadi orang yang harus berbagi hidup dengannya?
Naya mengepalkan jemarinya di sprei kamar. "Gue nggak bakal biarin ini terjadi. Nggak akan pernah."
Seharian kemarin, Naya melakukan aksi mogok makan dan mengurung diri di kamar. Ia berharap sikap keras kepalanya akan membuat Ayah luluh, atau setidaknya mau mempertimbangkan kembali keputusan gila yang tercetus kemarin sore. Namun, pertahanan Naya hancur berantakan saat Ibu masuk ke kamarnya membawa gaun terusan warna krem polos yang anggun, lengkap dengan wajah memelas yang tidak bisa Naya tolak.
"Tolong, Naya... sekali ini aja turuti kata Ayah," bisik Maya lembut sembari mengelus rambut putrinya. "Ini bukan cuma soal janji. Keadaan keluarga kita dan keluarga Om Adrian sedang... rumit. Kamu akan mengerti nanti. Untuk malam ini, kita makan malam bersama dulu, ya?"
Dan di sinilah Naya sekarang.
Duduk canggung di ruang makan kediaman keluarga Pradipta yang megah, berjarak sekitar dua puluh menit dari rumahnya. Meja makan dari kayu mahoni berukir itu dihiasi berbagai hidangan mewah yang aroma harumnya biasanya sanggup membuat perut Naya berbunyi nyaring. Namun detik ini, tenggorokannya terasa begitu sempit hingga menelan ludah pun rasanya sakit.
Naya menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik pada motif serbet kain di pangkuannya. Di sebelahnya, Ayah dan Ibu sedang mengobrol ramah dengan Om Adrian Pradipta—seorang pria paruh baya berwibawa dengan kacamata berbingkai tipis—serta Tante Elena, istrinya yang tampil sangat anggun dengan senyum hangat yang tak pernah pudar.
"Naya sudah makin besar ya, Raka. Cantik sekali, persis Maya waktu muda dulu," puji Tante Elena, membuat Naya menyunggingkan senyum paksa yang teramat kaku.
"Iya, Elena. Tapi sifat keras kepalanya murni diturunkan dari Raka," sahut Maya terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana yang Naya buat begitu tegang.
"Anak laki-laki kami juga sama keras kepalanya," Om Adrian menyela sambil menatap tangga melingkar di sudut ruang makan. "Arka mana, Ma? Kok belum turun? Padahal tadi katanya cuma mau ganti baju sebentar."
"Sebentar ya, Pa. Tante panggilkan dulu—"
"Tidak perlu, Ma. Arka sudah turun."
Suara bariton yang teratur, tenang, dan teramat familier itu membuat tubuh Naya menegang seketika.
Naya refleks mendongak. Dari arah tangga, seorang laki-laki berjalan santai menghampiri meja makan. Arka sudah melepaskan serbagam sekolahnya. Kini ia mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya yang biasa disisir rapi agak sedikit berantakan secara alami, memberikannya kesan yang jauh lebih santai dibanding penampilannya di sekolah.
Namun bagi Naya, Arka tetaplah Arka: si manusia kaku yang menyebalkan.
Arka membungkuk sopan menyalami Raka dan Maya. "Maaf, Om, Tante... Arka terlambat turun. Tadi baru selesaikan beberapa berkas OSIS untuk besok."
"Tidak apa-apa, Arka. Kamu memang selalu rajin," puji Raka penuh kebanggaan yang membuat Naya di dalam hati ingin muntah.
Saat Arka memutar tubuhnya untuk duduk di kursi yang berseberangan tepat dengan Naya, pandangan mata kedua remaja itu akhirnya bertemu.
Clang!
Naya yang sedang memegang gelas tangkai berisi air putih secara tidak sengaja menyenggol tepi piring, menciptakan suara berdenting yang cukup nyaring. Jarinya gemetar hebat. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut dan kebencian yang berkobar-kobar.
Di sisi lain, Arka yang tadinya hendak menarik kursinya mendadak membeku. Ekspresi wajanya yang biasanya selalu tenang bagaikan permukaan danau tanpa angin, runtuh seketika. Ujung alisnya bertaut tajam. Pipinya menegang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Naya melihat Arka Pradipta melotot tak percaya.
"K-kamu...?" bisik Arka pelan, hampir tak terdengar.
"Lo...?!" balas Naya dengan nada yang ditahan di tenggorokan, giginya menggeretuk sengit.
"Lho, kalian sudah saling kenal?" tanya Tante Elena sumringah, matanya berbinar melihat reaksi kedua remaja di hadapannya.
"Tentu saja kenal, Ma," jawab Om Adrian sambil terkekeh. "Mereka kan satu sekolah. Satu angkatan lagi. Pasti sering ketemu."
"Bukan cuma sering ketemu, Om," potong Naya cepat, tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Ia menegakkan punggungnya, menatap Raka dan Om Adrian secara bergantian. "Kita berdua itu musuh di sekolah! Dia ketua OSIS yang tiap hari nulis nama Naya di buku pelanggaran, dan Naya adalah orang yang paling benci sama aturan-aturan konyol dia!"
"Naya! Jaga bicaramu!" tegur Raka dengan suara menekan.
"Tapi ini beneran, Yah!" seru Naya meluapkan kekesalannya. Ia menunjuk Arka dengan jari telunjuknya. "Ayah minta Naya nikah sama dia? Sama cowok kaku yang nggak punya perasaan ini?! Mending Naya nggak usah nikah seumur hidup!"
Arka yang tadinya sempat syok, kini kembali menguasai dirinya. Ia menghela napas panjang, lalu memalingkan wajahnya menatap ayahnya sendiri dengan raut dingin.
"Papa tidak bercanda, kan?" suara Arka terdengar sangat datar, namun ada nada penolakan yang sangat kuat di sana. "Perjodohan yang Papa maksud sejak minggu lalu... adalah dengan dia?"
"Arka, dengarkan Papa dulu—"
"Pa, ini gila," potong Arka tegas. Ia melipat kedua tangannya di dada, membalas tatapan tajam Naya tanpa rasa takut sedikit pun. "Naya ini siswi paling bermasalah di angkatan kami. Dia kekanak-kanakan, emosional, tidak disiplin, dan sama sekali tidak bisa diajak bicara baik-baik. Bagaimana bisa Papa berpikiran untuk menjodohkan Arka dengan cewek seperti dia?"
"Apa lo bilang?!" Naya berdiri dari kursinya, mengebrak meja makan pelan. "Gue bermasalah?! Lo yang robot! Lo yang nggak punya empati! Lo pikir gue sudi dijodohin sama cowok kaku yang hidupnya cuma berdasarkan buku tata tertib sekolah?! Muka lo emang ganteng, tapi kelakuan lo bikin enek!"
"Naya Aurelia! Duduk!" bentak Raka, suaranya menggelegar di ruang makan.
"Arka, jaga katakatamu pada calon istrimu!" Om Adrian menimpali dengan nada tak kalah tegas.
Suasana ruang makan yang tadinya hangat langsung berubah menjadi medan perang. Maya hanya bisa memegang pelipisnya sambil mengelus dada, sementara Tante Elena justru menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang anehnya muncul melihat dinamika heboh di depannya.
"Naya, duduk," ulang Raka dengan tatapan mata yang tidak menerima bantahan.
Naya menghentakkan kakinya kesal, lalu membanting tubuhnya kembali ke kursi. Dadanya naik turun, membusungkan amarah yang meluap-luap. Di depannya, Arka menyandarkan punggungnya di kursi, memalingkan wajah ke arah lain sambil mengurut pangkal hidungnya. Tampak jelas bahwa cowok itu juga sedang dilanda stres berat.
Om Adrian terbatuk pelan untuk meredakan ketegangan. "Ehem... Arka, Naya. Papa tahu ini mengejutkan buat kalian berdua. Apalagi kalian sudah punya pandangan tersendiri tentang satu sama lain di sekolah. Tapi keputusan ini bukan dibuat tanpa alasan."
"Alasan apa, Om?" tanya Naya tajam. "Kalau soal perusahaan atau bisnis, kenapa harus tumbalin kita berdua?"
"Ini bukan soal bisnis, Naya," sahut Raka tenang namun dalam. "Ini soal rasa tanggung jawab dan perlindungan. Kakek kalian berdua dulu punya perjanjian besar. Dan situasi keluarga saat ini menuntut janji itu harus ditepati sekarang. Kami tidak meminta kalian untuk langsung saling mencintai malam ini."
"Bahkan sampai kiamat pun nggak bakal terjadi, Yah," gumam Naya sinis.
"Arka," Om Adrian menatap putra sulungnya serius. "Sebagai laki-laki dan ketua OSIS yang selalu kamu banggakan itu, Papa harap kamu bisa dewasa menghadapi ini. Ini bukan sekadar tugas sekolah yang bisa kamu tolak kalau kamu tidak suka. Ini keputusan keluarga."
Arka memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik. Ketika ia membuka matanya kembali, pandangannya terkunci pada Naya. Ada rasa frustrasi yang sangat dalam di manik mata hitam itu, namun juga ada kepasrahan terselubung yang perlahan muncul. Arka tahu betul tabiat papanya; jika Adrian Pradipta sudah mengambil keputusan bersama Raka, tidak ada benteng argumen apa pun yang bisa meruntuhkannya.
"Kalau memang tidak bisa dibatalkan..." Arka bersuara, nadanya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Naya meremang. "...Arka punya syarat."
Naya menaikkan sebelah alisnya. "Gue juga punya syarat! Jangan pikir cuma lo yang punya hak buat nawar!"
Tante Elena tersenyum tipis, bertopang dagu menatap kedua anak remaja itu. "Wah, lihat Pa... baru ketemu sebentar saja mereka sudah punya kesepakatan bersama."
"Bukan kesepakatan, Tante! Ini gencatan senjata!" selak Naya cepat.
Arka tidak memedulikan pancingan Naya. Ia menatap ayahnya lurus-lurus. "Pernikahan ini harus dirahasiakan dari siapa pun. Tidak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu. Baik guru, teman-teman, maupun anggota OSIS."
Naya menahan napasnya. Untuk pertama kalinya dalam malam yang mengerikan ini, ia setuju seratus persen dengan ide Arka.
"Kalau sampai ada yang tahu..." Arka melirik Naya dengan tatapan mengancam, "...hidup kita berdua di sekolah bakal hancur. Dan saya tidak mau reputasi saya rusak cuma karena berstatus sebagai suami dari cewek pembuat masalah ini."
"Heh! Muka lo yang bakal hancur kalau orang-orang tahu ketua OSIS idaman mereka ternyata nikah sama cewek yang paling dia benci!" sembur Naya tak mau kalah.
Raka dan Adrian saling berpandangan, lalu tersenyum tipis. Sebuah kesepakatan implisit telah tercapai di antara para orang tua.
"Baik," kata Om Adrian. "Pernikahan akan digelar secara tertutup akhir minggu ini. Hanya keluarga inti yang hadir. Tapi ingat, begitu kalian resmi menikah, kalian harus tinggal di rumah ini bersama."
"WHAT?!" Naya dan Arka berteriak serentak, suara mereka bergema memenuhi seluruh ruangan.
Naya menatap Arka dengan pandangan horor, sementara Arka hanya bisa menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menghembuskan napas berat seolah-olah seluruh beban dunia baru saja dijatuhkan di atas pundaknya.
Malam itu, Naya tahu... masa-masa SMA-nya yang damai resmi berakhir.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!