Indonesia
NovelToon NovelToon

Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Jadi Simpanan

"Sialan! Sialan! Sialan!" maki Cecilia tertahan di dalam kamar mandi mewah berukuran besar itu.

​Kedua matanya melotot lebar, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin wastafel dengan horor. Leher jenjangnya, dada, hingga bagian tubuhnya yang lain dipenuhi oleh kissmark bekas kemerahan yang mencolok. Ingatan asing yang tiba-tiba berkelebat di kepalanya membuat darah tinggi Cecilia mendidih seketika. Bagaimana bisa pemilik tubuh ini begitu liar bergerak di atas ranjang dengan seorang pria yang jelas-jelas sudah memiliki tunangan?.

​"Aku ini penganut garis keras anti pelakor! Kenapa takdir malah menjerumuskan ku ke dalam tubuh seorang wanita simpanan?!" geramnya frustrasi, mengacak-acak rambutnya sendiri.

​Sebagai pecinta novel transmigrasi, Cecilia selalu membayangkan dirinya bangun sebagai seorang Duchess bangsawan bergaun megah di abad pertengahan, bukan menjadi sugar baby di apartemen mewah era modern dengan skandal murahan seperti ini.

​Sebelumnya, dia terbangun dengan ingatan liar yang membuatnya nyaris pingsan. Mengingat bagaimana fisik ini melayani pria bernama Douglas Michael Essen, pria kaya raya yang membiayai gaya hidup mewahnya membuat perut Cecilia mual. Tanpa berpikir panjang, tadi dia langsung melompat dari ranjang, mengumpat kencang, dan berlari tergopoh-gopoh menerobos pintu kamar mandi secara asal-asalan, tanpa menyadari bahwa tindakannya yang heboh itu justru membangunkan sang pria dari tidurnya.

​Setelah membasuh mukanya dan mencoba menenangkan debar jantungnya, Cecilia memberanikan diri melangkah keluar dari kamar mandi.

​Napasnya langsung tercekat. Di tepi ranjang besar yang masih berantakan, Douglas duduk dengan selimut melilit di pinggangnya. Pria itu menatap tajam ke arahnya dengan sepasang mata biru sedingin es, membuat bulu kuduk Cecilia meremang seketika.

​Cecilia buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi itu, lalu melangkah cepat meninggalkan kamar tidur utama.

​Douglas menyipitkan matanya. Alis tebal pria itu menaut ke atas. Sikap wanita di depannya terasa sangat janggal dan tidak biasa. Biasanya, Cecilia akan langsung berlari menghambur ke pelukannya, merengek manja, menciuminya, atau bahkan mengajaknya morning sex demi mendapatkan kartu kredit hitam atau kucuran uang tunai dalam jumlah besar. Hari ini? Wanita itu justru terlihat jijik dan menghindarinya seperti melihat kuman.

​Douglas bergeming. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia bangkit dari tempat tidur dan memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi lain sebelum meninggalkan apartemen tersebut.

​Di ruang tengah yang luas, Cecilia mondar-mandir gelisah sambil memeluk kedua lengannya sendiri. Pikirannya berkecamuk hebat.

​"Bagaimana ini? Kalau aku langsung minta putus sekarang, dia pasti curiga. Tapi kalau aku lanjutin jadi selingkuhannya, harga diriku mau ditaruh di mana?!" bisiknya panik pada diri sendiri, mondar-mandir mondar-mandir seperti setrikaan.

"Aku benci pelakor! Demi Tuhan, aku tidak mau dicap sebagai perebut laki orang! Lagipula dia sudah memiliki tunangan. Bisa-bisa aku disiram air keras atau dilenyapkan secara misterius!"

​"Siapa yang mau kamu lenyapkan?"

​Sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan datar tiba-tiba memecah keheningan ruangan.

​Cecilia terperanjat kaget, hampir melompat setinggi setengah meter. Ia mendapati Douglas sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi, sudah berpakaian rapi mengenakan setelan jas kerja yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Rambut hitamnya sedikit basah, menambah kesan maskulin yang berbahaya.

​"E-Eh? Tidak! Tidak ada siapa-siapa!" jawab Cecilia dengan nada tinggi, salah tingkah luar biasa.

"Kau... kau sudah mau pergi?"

​Douglas tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah pelan namun pasti, menatap Cecilia lekat-lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya seolah-olah sedang memindai kebohongan di wajah wanita itu.

​"Biasanya kamu tidak pernah bertanya jam berapa aku pergi," ucap Douglas dengan suara rendah, suaranya terdengar mengintimidasi.

"Kamu juga tidak pernah menghindariku setelah malam yang panjang. Apa kepalamu terbentur sesuatu di kamar mandi tadi?"

​"Ha? Kepala terbentur? Oh, ya! Betul sekali! Kepalaku tadi sempat terbentur tembok kamar mandi saking licinnya!" kilah Cecilia cepat, mencari-cari alasan bodoh agar tidak dicurigai. Ia memaksakan sebuah cengiran kaku di bibirnya.

"Makanya ingatanku agak sedikit... ehm, konslet."

​Douglas terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat sebelah, membentuk senyuman sinis yang sangat tipis.

"Konslet? Menarik. Tapi ingat, Cecilia, kamu tidak punya hak untuk mengatur jadwal atau pun bersikap aneh di depanku. Lakukan saja tugasmu dengan benar, dan fasilitasmu akan terus aman."

​Mendengar kata tugasmu dan fasilitas, darah Cecilia langsung mendidih. Harga dirinya sebagai wanita mandiri meskipun kini terjebak di tubuh orang lain berontak hebat.

​"Tugas? Apa maksudmu tugas?!" ceplos Cecilia tanpa sadar.

"Kau pikir aku ini barang sewaan yang bisa diatur sesuka hatimu?! Asal kau tahu ya, Tuan Douglas yang terhormat, hubungan tidak sehat seperti ini sama sekali tidak ada dalam kamus hidupku! Aku ini punya prinsip!"

​Douglas mengerjap pelan, tercengang sejenak. Alisnya naik tinggi. Selama mengenal Cecilia, wanita itu tidak pernah berani membentaknya, apalagi menggurui dengan nada sewot seperti emak-emak kurang piknik.

​"Prinsip?" Douglas mengulang kata itu dengan nada meremehkan. Pria itu mendekatkan wajahnya, membuat Cecilia refleks mundur hingga punggungnya membentur dinding dingin di belakangnya.

"Sejak kapan seorang wanita simpanan sepertimu punya prinsip? Bukankah kamu sendiri yang merengek minta dibelikan apartemen ini dan tas desainer bulan lalu demi mengejar gaya hidup mewah?"

​Cecilia menggigit bibir bawahnya, kesal setengah mati. Ingin sekali ia memaki tubuh pemilik sebelumnya yang membuat posisinya begitu lemah sekarang.

​"Itu kan pemilik tubuh ini sebelumnya! Kenapa jadi aku yang kena getahnya?!" batin Cecilia menjerit frustrasi.

​"Diam? Skakmat?" lanjut Douglas dengan suara dingin, menatap manik mata coklat Cecilia yang membelalak sebal.

"Jangan coba-coba bermain teater di depanku, Cecilia. Aku benci wanita yang bertingkah banyak drama setelah apa yang kita lakukan semalam."

​"Aku tidak sedang berteater!" protes Cecilia ngegas.

"Dan dengar ya, Tuan Essen! Hubungan gelap kita ini... uh! Hubungan terlarang ini benar-benar tidak sehat! Kau sudah punya tunangan bernama Adara kan? Kenapa masih bermain api di belakangnya? Kasihan wanita itu! Kalau kau tidak mencintainya, putusin secara jantan! Jangan malah mendua dan menjadikan aku tameng pelakor!"

​Suasana apartemen mendadak sunyi senyap. Udara di sekitar mereka seolah membeku.

​Douglas terpaku di tempatnya. Mata birunya menatap Cecilia dengan tatapan yang jauh lebih tajam dan berbahaya dari sebelumnya. Nama Adara disebut begitu saja secara gamblang oleh Cecilia, sesuatu yang biasanya tidak pernah disentuh atau dibahas oleh wanita itu karena Cecilia selalu pura-pura tidak peduli dengan status pernikahan atau pertunangan Douglas.

​"Dari mana kamu tahu tentang Adara?" tanya Douglas pelan, namun nadanya mengandung ancaman dari setiap suku kata yang diucapkannya.

​Cecilia menelan ludah kasar. "Mampus! Kebablasan!" batinnya menjerit ngeri.

Ingatan liar tadi memberitahunya bahwa Cecilia yang asli memang tahu soal Adara, tapi selalu pura-pura bego agar Douglas tidak marah.

​"A-Ah... itu... ya dari gosip majalah sosialita lah! Siapa sih yang tidak kenal Adara si wanita cantik itu?" elak Cecilia cepat, mengibas-ngibaskan tangannya dengan canggung.

"Maksudku... ya ampun, Tuan Douglas, sebagai warga negara yang baik yang menjunjung tinggi moral, aku kan cuma mengingatkan. Tidakkah kau merasa berdosa membagi hati dan tubuhmu di sini sementara di luar sana ada wanita yang menunggumu?"

​Douglas menyipitkan mata, menyelami setiap gerak-gerik Cecilia yang terlihat salah tingkah. Pria itu tidak percaya begitu saja. Ada perubahan drastis pada diri Cecilia hari ini, mulai dari cara bicaranya, keberaniannya membentak, hingga kepeduliannya yang mendadak pada sang tunangan.

​Sebelum Douglas sempat melontarkan pertanyaan interogasi lebih lanjut, ponsel di dalam saku jas mahalnya berdering nyaring.

​Douglas melirik layar ponselnya sekilas. Raut wajahnya semakin mengeras begitu melihat nama yang tertera di sana.

​Logan.

​Pria itu mengangkat panggilan tersebut dengan suara berat. "Ada apa?"

​Di ujung telepon, suara asisten pribadinya, Logan, terdengar begitu tenang, datar, dan kaku, sebelas duabelas mirip dengan sang bos.

​"Tuan Essen, maaf mengganggu pagi Anda. Nona Adara mendadak datang ke kantor pusat dan memaksa ingin menemui Anda sekarang juga. Beliau membawa sarapan khusus dan terlihat sangat marah karena Anda belum tiba di kantor. Keberadaan Anda..." Logan menjeda sejenak kalimatnya.

"Sedikit dipertanyakan oleh beliau."

​Douglas menghembuskan napas berat dengan kasar. Kepalanya mendadak pening menghadapi situasi yang rumit ini.

"Katakan padanya aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Tahan dia di ruang tunggu privat."

​"Baik, Tuan," jawab Logan singkat sebelum sambungan telepon ditutup.

​Douglas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia kembali menatap Cecilia yang kini berdiri dengan ekspresi campur aduk antara tegang, takut, dan sedikit rasa ingin tahu.

​"Kamu dengar itu?" ujar Douglas dingin.

"Tunanganku sedang mengamuk di kantor. Jadi, simpan ceramah moralmu tentang pelakor itu untuk lain waktu."

​Cecilia mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada. "Baguslah kalau begitu! Makanya, selesaikan urusanmu dengan Adara sana! Dan dengar ya, Tuan Douglas, mulai detik ini, detik di mana matahari pagi ini bersinar... aku menyatakan resign dari posisi selingkuhanmu!"

​Douglas tertegun untuk kesekian kalinya hari ini. Wanita di depannya ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

​"Resign?" ulang Douglas dengan nada tidak percaya.

"Kamu pikir hubungan ini pekerjaan paruh waktu yang bisa kamu tinggalkan begitu saja kapan pun kamu mau?"

​"Tentu saja bisa!" sahut Cecilia tidak mau kalah.

"Aku tidak mau jadi bahan hujatan netizen kalau skandal ini terbongkar, dan aku tidak mau hidup dalam rasa bersalah! Mulai sekarang, kita putus! The end! Finish! Jangan cari aku lagi!"

​Douglas menatap Cecilia lekat-lekat dalam keheningan yang panjang. Tidak ada isak tangis, tidak ada rengekan, tidak ada drama memeluk kakinya memohon uang seperti biasanya. Yang ada hanya tatapan kesal yang begitu nyata.

​"Baiklah," ucap Douglas akhirnya dengan suara rendah yang mengintimidasi, memutuskan untuk tidak meladeni kegilaan wanita itu pagi ini karena waktu kerjanya sudah mendesak.

"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan dengan omonganmu itu, Cecilia."

​Tanpa membuang waktu lagi, Douglas membalikkan badan dan berjalan keluar dari apartemen, meninggalkan suara bantingan pintu tertutup rapat di belakangnya.

​Di dalam ruangan yang kembali sunyi, Cecilia langsung merosot lemas terduduk di lantai, menghembuskan napas panjang penuh kelegaan sekaligus kecemasan.

​"Fiuh... syukurlah dia pergi. Tapi tunggu... kalau aku sudah putus darinya, bagaimana aku bisa bertahan hidup di dunia ini tanpa uangnya?! Sial, aku lupa memikirkan bagian itu!" gerutu Cecilia sambil merutuki nasib malangnya di atas lantai apartemen mewah milik sang mantan sugar daddy.

Bersambung...

Yang mau jadi sugar baby silahkan acungkan jari kalian. 😁

Resign Jadi Simpanan

Cecilia masih duduk termenung di atas sofa empuk ruang tamu, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Pikirannya berkecamuk memikirkan cara bertahan hidup di dunia novel ini.

​Jika dipikir-pikir lagi, hidupnya benar-benar di ambang kemiskinan yang nyata. Di kehidupan lamanya sebelum mengalami transmigrasi, Cecilia hanyalah seorang gadis biasa yang harus membanting tulang menjadi kasir di dua tempat kerja berbeda demi menyambung hidup. Dia terbiasa hidup mandiri, lelah, dan berdarah-darah mencari uang. Sementara itu, pemilik tubuh asli yang dihuninya sekarang adalah seorang parasit ulung yang kerjanya hanya ongkang-ongkang kaki, menghamburkan uang, dan memuaskan hasrat seorang sugar daddy dingin bernama Douglas Michael Essen.

​"Kalau aku tidak punya uang, mau makan apa aku nanti? Bekerja jadi kasir lagi? Memangnya di dunia aneh seperti ini ada lowongan kasir minimarket?" gumam Cecilia frustrasi, menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.

​Tok! Tok! Tok!

​Lamunan panjang Cecilia mendadak buyar saat suara ketukan pintu utama berbunyi cukup nyaring.

​Cecilia terperanjat kaget, menegakkan duduknya dengan waspada. Dahi cantiknya mengernyit bingung. Siapa lagi yang datang ke apartemen ini? Apakah Douglas tertinggal sesuatu? Ataukah tunangannya Adara sudah melacak tempat ini dan datang membawa air keras?.

​Dengan perasaan ragu-ragu dan jantung yang berdebar kencang, Cecilia melangkah pelan menuju pintu. Ia menarik handle pintu dan membukanya perlahan.

​Begitu pintu terbuka lebar, sesosok pria tampan berbalut setelan jas rapi langsung menyapa pandangannya. Pria itu berdiri dengan postur tegap, raut wajahnya datar, dingin, dan nyaris tanpa ekspresi. Aura intimidatif langsung menguar dari tubuhnya.

​"Selamat pagi, Nona Cecilia," sapa pria itu dengan nada suara yang berat dan kaku.

"Saya Logan, asisten pribadi Tuan Douglas."

​Cecilia mengerjap pelan. "Ah, Logan! Asisten yang sebelas duabelas mirip kulkas dua pintu seperti bosnya," batin Cecilia mengenali nama itu dari ingatan sang pemilik tubuh.

​Sebelum Cecilia sempat membalas sapaan tersebut, Logan melangkah masuk begitu saja tanpa menunggu persetujuan. Saat melewati Cecilia, pria itu sempat melirik ke arahnya dengan tatapan sekilas yang sarat akan ketidaksukaan dan penghinaan yang kentara.

​Cecilia kontan mendelik tajam, kedua matanya membelalak sebal. "Apa-apaan tatapan mata itu?! Dia seolah jijik padaku! Sialan, baru jadi asisten saja sudah berani sombong!" maki Cecilia dalam hati, menutup pintu apartemen dengan sedikit hentakan keras.

​"Silakan duduk," kata Cecilia ketus, mencoba mengatur nada bicaranya agar tidak meledak-ledak.

​Logan berjalan ke ruang tamu dan duduk dengan anggun di sofa seberang, lalu meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja kaca. Tanpa basa-basi, Logan mendorong map tersebut tepat ke hadapan Cecilia.

​"Baca ini," ucap Logan singkat, dingin, dan otoriter.

​Dengan perasaan dongkol, Cecilia membuka map tersebut dan mulai membaca lembaran kertas di dalamnya. Detik berikutnya, mata cokelat Cecilia membelalak lebar, nyaris copot dari soketnya. Wajahnya yang tadinya memerah karena kesal mendadak berubah pucat pasi.

​Isi berkas perjanjian tersebut sangat kejam dan telak. Tertulis dengan jelas bahwa jika Cecilia memutuskan untuk mengakhiri hubungan gelapnya dengan Douglas, maka seluruh fasilitas mewah yang melekat padanya harus dicabut seketika. Cecilia diwajibkan segera keluar dari apartemen mewah itu, meninggalkan mobil sport pemberian Douglas, serta seluruh kartu kredit hitam yang selama ini dipakainya.

​"Apa-apaan ini?!" seru Cecilia histeris, tidak percaya dengan apa yang dibacanya.

"Kenapa jadi aku yang dirugikan separah ini?! Pemilik tubuh ini memang benar-benar manusia yang menyebalkan dan menjijikkan!"

​Logan menatap raut wajah pucat Cecilia dari seberang meja. Alis asisten berwajah dingin itu terangkat sebelah, disusul oleh sebuah senyuman sinis yang terukir tipis di sudut bibirnya. Tatapan mata Logan menyiratkan sebuah ejekan telak, seolah-olah ia sedang menertawakan kebodohan Cecilia dan sudah sangat yakin bahwa wanita di depannya ini sebentar lagi akan berlutut, menangis histeris, dan memohon-mohon ampun kepada tuannya agar diizinkan tetap tinggal.

​Bagi Logan, wanita seperti Cecilia tidak lebih dari parasit matre yang hanya mencintai harta dan kekayaan Douglas semata. Logan sangat tahu alasan di balik keputusan tuannya memelihara Cecilia selama ini. Douglas sama sekali tidak memiliki perasaan cinta, bosnya itu hanya membutuhkan pelampiasan biologis. Douglas sengaja mencari wanita simpanan seperti Cecilia agar hasratnya tersalurkan tanpa harus merusak atau menyentuh tunangannya tercinta, Adara. Bagi Douglas, Adara adalah wanita suci yang paling dijaga, disayangi, dan disucikan. Sebelum hari pernikahan mereka tiba, Douglas tidak akan pernah menodai Adara.

​Logan berdehem kecil, memecah keheningan dengan nada meremehkan.

"Bagaimana, Nona Cecilia? Apakah isi perjanjian itu cukup jelas bagi Anda? Anda bisa mulai mengemasi barang-barang murah Anda sekarang."

​Cecilia menarik napas panjang, menahan gemuruh amarah di dadanya. Harga dirinya mendadak berontak hebat, tetapi kenyataan dompetnya yang kosong melompong membuatnya harus berpikir realistis.

​Dengan tangan sedikit gemetar, Cecilia mendongak menatap Logan. "Uhm... Tuan Logan, apakah aku harus meninggalkan apartemen ini hari ini juga? Apa tidak bisa diberi waktu beberapa hari lagi? Tolonglah..." rintih Cecilia memohon dengan suara yang sedikit melunak, mencoba bernegosiasi.

​Jujur saja, di lubuk hatinya yang paling dalam, Cecilia benar-benar panik. Dia sama sekali belum tahu apa-apa tentang peta kehidupan di dunia ini, tidak punya tempat tinggal lain, dan tidak punya bekal uang sepeser pun.

​Logan menyipitkan matanya. Alisnya menaut tajam, menatap Cecilia dengan tatapan penuh selidik dan kebingungan. Reaksi wanita di depannya terasa sangat di luar perkiraan. Biasanya, jika Cecilia disinggung soal pengusiran, wanita itu akan mengamuk, melempar barang, atau menangis meraung-raung histeris sambil memeluk kaki bosnya. Kenapa sekarang wanita ini justru memohon dengan cara yang begitu tenang? Apakah Cecilia sedang merencanakan trik busuk yang lain?.

​Melihat Logan hanya terdiam seribu bahasa tanpa memberikan secercah harapan pun, Cecilia menghela napas panjang dengan kasar. Keheningan yang ditunjukkan Logan sudah menjadi jawaban mutlak yang mewakili penolakan telak.

​"Baiklah kalau begitu," ujar Cecilia akhirnya dengan suara pasrah namun tegas.

​Tanpa ragu-ragu sedikit pun, Cecilia meraih pulpen yang berada di atas meja, lalu membubuhkan tanda tangannya di lembar paling bawah berkas tersebut.

​Logan tertegun seketika. Bola matanya melebar untuk sesaat.

"​Dia menandatanganinya begitu saja?" batin Logan terkejut luar biasa. Tidak ada drama menangis? Tidak ada adegan memohon-mohon atau mencakar lantai seperti biasanya? Apa mungkin wanita licik ini sedang merencanakan permainan baru untuk menarik perhatian Tuan Douglas?.

​Logan mengamati gerak-gerik Cecilia dengan saksama. Namun, ia tidak menemukan secercah pun kepalsuan di sana, ekspresi wajah Cecilia terlihat sangat serius, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun. Keraguan mendadak menyelimuti benak Logan.

​"Aku akan membereskan barang-barangku yang tidak seberapa ini dan meninggalkan tempat ini hari ini juga," sambung Cecilia dengan nada bicara yang santai namun formal, sama sekali tidak menunjukkan rasa frustrasi yang mendalam.

​Logan segera menarik kembali map berkas tersebut ke pangkuannya dengan gerakan kaku. Rasa penasarannya tertahan rapat di balik wajah datarnya.

​"Baiklah jika itu keputusan Anda, Nona Cecilia," ucap Logan sambil bangkit berdiri dari sofa merapikan jasnya.

"Saya akan pastikan kunci akses apartemen ini diblokir sore ini. Dan satu hal lagi... saya harap Anda menepati janji untuk tidak pernah lagi mengganggu Tuan Douglas ataupun mendekati lingkaran hidup beliau."

​Cecilia ikut berdiri, melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum tipis penuh kemenangan semu.

​"Tenang saja, Tuan Logan. Anda tidak perlu khawatir berlebihan begitu," balas Cecilia dengan nada ramah yang dibuat-buat.

"Asal Anda tahu, jangankan mendekati bosmu yang arogan itu, bahkan sedetik pun aku sama sekali tidak berminat pada pria yang hobi berselingkuh dan mendua!"

​Logan terperanjat mendengar jawaban menohok yang terluncur begitu bebas dari bibir Cecilia. Belum sempat asisten bermata tajam itu membalas ucapannya, Cecilia sudah berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamar tidur.

​Logan terdiam kaku di tempatnya berdiri, merasa bahwa wanita di depannya hari ini benar-benar telah berubah menjadi sosok yang sangat asing dan tidak bisa ditebak. Dengan perasaan penuh tanda tanya, Logan akhirnya memutuskan membalikkan badan dan melangkah keluar dari apartemen mewah itu, membiarkan Cecilia bergulat seorang diri dengan takdir barunya di dunia transmigrasi yang kejam ini.

Bersambung...

Meninggalkan Kemewahan Haram!

Waktu terus berputar, dan bagi Cecilia, tidak ada waktu banyak untuk sekadar duduk termenung meratapi nasib. Untuk berpikir berlama-lama saja rasanya tidak ada kesempatan. Setelah asisten menyebalkan bernama Logan itu pergi meninggalkan unit apartemen, Cecilia langsung melesat menuju kamar tidur utama bak kesetanan.

​Di dalam kamar, ia membuka pintu lemari pakaian walk-in closet yang luar biasa besar. Matanya membelalak melihat deretan pakaian bermerek yang harganya mungkin bisa untuk membeli sebuah ginjal.

​"Ya ampun, baju macam apa ini semua? Kenapa kebanyakan kurang bahan begini?!" omel Cecilia pada dirinya sendiri sambil menyingkirkan beberapa gaun malam berpotongan dada rendah dan lingerie berbahan renda transparan yang membuatnya bergidik ngeri.

"Tidak sudi aku memakai baju-baju kurang bahan ini lagi! Ingat, Cecilia, kau sekarang akan kembali ke jalan yang benar!"

​Cecilia dengan cekatan mengambil sebuah koper besar dari sudut ruangan. Ia hanya memilah dan memasukkan baju-baju yang menurutnya tertutup, sopan, dan layak pakai untuk keseharian seorang wanita biasa. Kaus berlengan panjang, beberapa celana kain panjang, kemeja sederhana, dan beberapa potong gaun rumahan. Semua pakaian terbuka dan gaun pesta malam yang menjijikkan itu ia biarkan menggantung tak tersentuh di dalam lemari.

​Setelah urusan pakaian selesai, Cecilia berjongkok dan menggeledah laci lemari paling bawah. Tangannya meraba-raba ke bagian terdalam hingga ia menemukan sebuah map plastik. Matanya berbinar lega saat melihat isinya.

​"Bagus! kartu identitas, paspor, ijazah, dan akta kelahiran. Untung saja pemilik tubuh ini tidak sebodoh yang aku kira sampai menghilangkan identitas aslinya," gumamnya lega, langsung memasukkan map berisi berkas pribadi itu ke dalam tas tangannya.

​Untuk alas kaki, dari sekian banyak deretan sepatu hak tinggi bermerek Louboutin atau Jimmy Choo yang berjajar rapi, Cecilia hanya mengambil dua pasang flatshoes yang terlihat nyaman. Untuk saat ini, ia hanya mengenakan sepasang sandal jepit biasa yang terasa jauh lebih membumi. Ia juga memasukkan ponsel pintarnya dan beberapa lembar uang cash yang ia temukan di dalam dompet. Ia menghitungnya sejenak, jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk bertahan hidup selama beberapa minggu ke depan jika ia sangat berhemat.

​Di atas meja rias, Cecilia meletakkan kunci mobil sport mewah, deretan kartu kredit black card pemberian Douglas, dan beberapa perhiasan berlian yang menurutnya sama sekali tidak layak ia bawa. Barang-barang itu dibeli dari uang hasil menjadi wanita simpanan, dan Cecilia sama sekali tidak sudi memanfaatkannya.

​Setelah merasa semuanya cukup, barulah Cecilia mengganti jubah mandinya dengan sebuah dress panjang berwarna biru pastel yang sangat sopan dan tertutup hingga ke mata kaki. Lengan dress itu panjang, menutupi bahu dan lengannya dengan sempurna. Rambut cokelat panjangnya ia ikat kuda dengan rapi.

​Cecilia menatap pantulan dirinya di cermin. Kini, ia tidak lagi terlihat seperti sugar baby murahan, melainkan seperti wanita baik-baik pada umumnya.

​"Mulai hari ini, detik ini juga, aku akan menjalani kehidupanku sebagai wanita biasa. Bekerja banting tulang memeras keringat sendiri jauh lebih baik, lebih terhormat, dan lebih mulia daripada harus bekerja berkeringat di atas tubuh Tuan Douglas!" deklamasi Cecilia dengan berapi-api di depan cermin, mengangkat tangannya membentuk kepalan semangat.

"Aku ini anti pelakor! Aku tidak sudi menjadi benalu dalam hubungan orang lain!"

​Dengan langkah mantap, Cecilia menyeret kopernya keluar dari kamar, melewati ruang tamu, dan akhirnya keluar dari apartemen mewah itu tanpa menoleh ke belakang lagi.

​Langkah kaki Cecilia menggema di lobi apartemen yang sepi. Saat ia melewati meja resepsionis, beberapa petugas keamanan menatapnya dengan pandangan sedikit heran. Mereka terbiasa melihat Nona Cecilia mengenakan pakaian ketat, make-up tebal, dan kacamata hitam besar, bukan dress panjang sederhana dengan rambut diikat seadanya sambil menyeret koper.

​"Selamat pagi, Nona Cecilia. Mau ke mana bawa koper besar begini?" sapa salah satu satpam dengan sopan.

​Cecilia berhenti sejenak, lalu memamerkan senyumnya yang paling ramah dan cerah, senyum khas seorang mantan kasir minimarket yang terbiasa melayani pelanggan.

​"Pagi, Pak! Saya mau pindah, Pak. Mulai hari ini saya tidak tinggal di sini lagi. Terima kasih ya Pak atas kerja kerasnya menjaga keamanan gedung ini selama ini. Mari, Pak, saya pamit dulu!" jawab Cecilia cerewet dan penuh semangat.

​Satpam itu hanya bisa melongo kebingungan saat Cecilia melambaikan tangannya dan melangkah keluar dari pintu kaca lobi utama.

​Begitu udara luar menerpa wajahnya, Cecilia menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya sejenak, melirik ke arah gedung apartemen pencakar langit yang menjulang tinggi di belakangnya. Apartemen itu adalah simbol kemewahan, dosa, sekaligus sangkar emas yang membelenggu pemilik tubuh sebelumnya.

​Kini, langkahnya terasa jauh lebih ringan. Ada beban tak kasat mata yang terangkat dari pundaknya saat menyadari bahwa ia akhirnya bisa lepas dari jeratan kelam menjadi seorang selingkuhan.

​Di kepalanya, ingatan tentang Douglas dan tunangannya kembali berputar. Cecilia mendecakkan lidahnya, menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

​"Ckckck... Tuan Douglas itu benar-benar pria yang tidak tahu diuntung. Kasihan sekali tunangannya itu," gumam Cecilia berbicara sendiri.

"Menurut gosip dan ingatan ini, Adara itu wanita yang luar biasa. Cantik, elegan, dari keluarga terpandang. Ya... walaupun kudengar dia itu manja, sangat angkuh tapi tetap saja dia tunangan sahnya! Harusnya Douglas bersyukur memiliki tunangan selevel Adara yang rela melakukan apa saja untuknya, bukan malah memelihara jalang murahan seperti pemilik tubuhku ini untuk pelampiasan! Dasar pria kulkas tidak tahu diri!"

​Sambil terus mengomel tentang moralitas Tuan Douglas, Cecilia menyeret kopernya menuju sebuah halte bus yang terletak tidak jauh dari gedung apartemen. ​Mencari tempat Berlindung

​Cuaca pagi itu cukup terik. Cecilia duduk di bangku halte yang terbuat dari besi, mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya sendiri. Ia membuka ponsel pintarnya, bersyukur benda itu tidak ikut disita oleh Logan karena terdaftar atas nama pribadinya.

​Jari-jemarinya dengan lincah mengetikkan kata kunci di mesin pencari internet, 'Kos-kosan murah, aman, fasilitas standar, khusus wanita'.

​Matanya menelusuri layar ponsel dengan teliti, menggeser iklan-iklan apartemen mahal yang langsung ia abaikan.

"Ayo dong, masa di kota sebesar ini tidak ada kos-kosan yang sesuai dengan budget?" gerutunya.

​Hingga akhirnya, ibu jarinya berhenti pada sebuah listing penyewaan kamar kos bernama 'Kos Lavender'. Kamarnya terlihat bersih, ukurannya pas untuk satu orang, ada kamar mandi dalam, dan yang paling penting, harganya sangat masuk akal dengan sisa uang tunai yang ia bawa.

​Tanpa berpikir dua kali, Cecilia menekan nomor yang tertera di sana. Nada sambung berbunyi beberapa kali sebelum sebuah suara keibuan menyapanya dari seberang telepon.

​"Halo? Dengan siapa ini?"

​"Halo, selamat pagi, Ibu! Ini dengan Kos Lavender, benar?" sapa Cecilia dengan nada suaranya yang riang dan cerewet.

​"Iya, benar. Ada yang bisa dibantu?"

​"Begini, Bu. Saya Cecilia, saya baru saja lihat iklan kos-kosan Ibu di internet. Saya kebetulan lagi butuh tempat tinggal urgent hari ini juga. Kira-kira kamar yang di lantai dua itu masih kosong tidak ya, Bu?" tanya Cecilia penuh harap, meremas ujung dress-nya.

​"Wah, kebetulan sekali Cecilia! Kamar nomor empat baru saja kosong kemarin sore karena penghuninya pulang kampung. Rencananya siang ini mau dibersihkan."

​Mata Cecilia langsung berbinar terang. Ia nyaris melompat dari tempat duduknya di halte.

​"Ya ampun! Itu namanya kamar itu memang berjodoh dengan saya, Bu! Tolong jangan disewakan ke orang lain ya, Bu. Saya ambil kamar itu! Siang ini juga saya langsung meluncur ke sana. Saya bawa koper dan langsung bayar cash untuk bulan pertama, bagaimana?" cerocos Cecilia tanpa jeda, antusiasmenya meluap-luap.

​Terdengar kekehan renyah dari seberang sana. "Boleh. Ibu suka yang gercep begini. Nanti alamat lengkapnya Ibu kirimkan lewat pesan ya. Hati-hati di jalan,"

​"Siap! Terima kasih banyak ya, Bu. Sampai ketemu nanti siang!"

​Cecilia menutup sambungan telepon dengan perasaan lega yang tak terkira. Sambil tersenyum lebar, ia membaca pesan masuk yang berisi alamat lengkap kos tersebut. Ternyata lokasinya tidak terlalu jauh, hanya berbeda distrik dari kawasan elit tempatnya berada sekarang.

​Mengingat ia membawa koper yang cukup besar dan tidak tahu rute angkutan umum di dunia ini, Cecilia memutuskan untuk menyisihkan sedikit uangnya demi memanggil taksi yang kebetulan melintas di depan halte. Ia melambaikan tangannya tinggi-tinggi.

​Sebuah taksi berwarna biru berhenti tepat di depannya. Sang sopir yang ramah segera turun dan membantu memasukkan koper besar Cecilia ke dalam bagasi.

​"Silakan masuk, Nona. Mau ke mana kita hari ini?" sapa sopir taksi itu dengan ramah saat Cecilia sudah duduk manis di kursi belakang.

​"Ke alamat ini ya, Pak," ucap Cecilia sambil menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan alamat Kos Lavender.

"Bapak tahu kan daerah situ? Tolong lewat jalan yang tidak terlalu macet ya, Pak. Saya tidak sabar ingin cepat-cepat sampai."

​Sopir itu mengangguk paham sambil tersenyum melihat tingkah penumpangnya yang terlihat sangat bersemangat.

"Siap, Nona! Daerah situ mah saya hafal di luar kepala. Tenang saja, jam segini biasanya jalan tembusannya lancar jaya."

​Taksi pun mulai melaju membelah padatnya jalan raya kota metropolitan. Cecilia menyandarkan punggungnya di jok mobil. Ia menoleh ke arah jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang berlalu dengan cepat.

​Kehidupannya benar-benar berputar seratus delapan puluh derajat hanya dalam kurun waktu beberapa jam. Pagi tadi ia terbangun sebagai wanita simpanan dengan skandal menjijikkan, dan siang ini ia dalam perjalanan menuju kehidupan barunya yang sederhana namun bebas.

​Di dalam keheningan kabin taksi yang hanya diisi oleh alunan musik radio bervolume rendah, Cecilia memejamkan kedua matanya. Ia menautkan kedua tangannya di atas pangkuan, berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya.

​"Tuhan Yang Maha Baik... tolong lancarkanlah hariku hari ini, dan hari-hari ke depannya di dunia yang aneh ini. Aku berjanji akan menjadi manusia yang rajin bekerja, bayar pajak, dan tidak mengeluh saat mencari uang. Tapi kumohon dengan sangat, jauhkanlah hamba dari pria kulkas mengerikan bernama Douglas Michael Essen itu. Jauhkan juga hamba dari asistennya yang sombong, dan tunangannya yang menakutkan itu. Biarkan mereka berdua hidup bahagia di dunia mereka yang rumit, dan biarkan aku hidup tenang di duniaku yang damai ini. Amin."

​Cecilia membuka matanya, menghembuskan napas pelan. Perasaannya kini benar-benar mantap. Apapun rintangan yang akan ia hadapi sebagai wanita mandiri ke depannya, ia siap menghadapinya, asalkan predikat pelakor dan wanita simpanan itu sirna selama-lamanya dari riwayat hidupnya.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!