"Bu! Tolong jangan paksa aku buat nikah sama laki-laki brengsek itu. Aku tidak mau!"
Ayuna, mengepalkan tangan menolak mentah-mentah perintah orang tua angkatnya yang memaksanya untuk menikah dengan pria yang disiapkan untuknya. Seorang pria tua yang memiliki dua orang istri dan lima orang anak itu ngebet ingin menikahinya karena terobsesi dengan kecantikannya.
"Hei Ayuna! Jangan sok suci kamu," seru wanita tua bernama Lastri yang tidak lain adalah ibu angkat Ayuna. "Kamu sudah memiliki dua anak haram. Masih untung pak Mario mau menikah denganmu. Memangnya laki-laki mana yang sudi menikah dengan wanita murahan sepertimu!"
Kata-kata 'haram' membuat telinga Aruna memanas, hatinya mendidih bak air rebus. Bukan hanya sekali dua kali saja kata-kata kotor itu keluar dari mulut wanita yang selama ini menjadi bagian dari keluarganya. Selama ini ia sudah cukup diam tak ingin memperkeruh keadaan, tapi caciannya sangat menyayat hati.
"Cukup Bu!" Ayuna berseru. "Mereka anak-anakku! Mereka bukan anak haram!"
Lastri mengangkat ujung bibirnya. "Bukan anak haram? Lalu di mana ayahnya? Apakah kau sudah menikah? Kau bahkan tidak pernah menikah, Ayuna! Kau itu hanya wanita murahan yang tidak ada harganya!"
Ayuna menegang, hatinya berkecamuk, ingin menjerit sekencang mungkin namun lidahnya kelu. Memang benar apa yang dikatakan Lastri, dirinya belum pernah menikah, namun sudah memiliki dua anak. Jika saja malam itu ia tidak berurusan dengan pria asing mungkin hidupnya tak akan seburuk ini, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan siapapun.
"Sudah-sudah! Kalian ini selalu saja bertengkar," cerocos Aryo yang tak lain ayah angkat Ayuna. "Kita tidak bisa memaksa Ayuna untuk menikah dengan pak Mario Bu, Ayuna memiliki kehidupan sendiri. Kita nggak berhak buat mengekangnya."
Meskipun bukan anak kandungnya sendiri, Aryo sangat menyayangi Ayuna sama seperti menyayangi anak kandungnya sendiri. Dia tidak pernah membeda-bedakan dalam mengurus anak, hanya saja ia tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya.
"Pak! Sudah berapa tahun dia numpang hidup sama kita," desis Lastri. "Sejak Bapak membawanya ke sini hidup kita sial, pak! Dia itu pembawa sial! Jangan buat kita semakin sial dengan keberadaannya di rumah ini, apalagi dia sudah punya dua anak haram. Mau jadi apa keluarga ini kalau sampai kita tetap mengizinkannya tinggal. Untung-untungan pak Mario mau menikahinya, memangnya masih ada laki-laki yang mau menikahi wanita murahan seperti ini?"
Aryo meraup wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar geram dengan ocehan istrinya yang selalu ingin menjatuhkan harga diri Ayuna. Sebagai kepala keluarga ia merasa gagal tidak bisa mendidik istri dan anaknya dengan baik hingga membuat mereka tak bisa bersikap sopan terhadap orang lain.
"Ayuna memang pernah melakukan kesalahan yang fatal, tapi aku yakin semua itu terjadi bukan karena keinginannya. Aku percaya dia anak baik, dan dia~~
"Anak baik apanya," tukas Lastri menyahut. "Anak baik tidak akan menyerahkan harga dirinya secara cuma-cuma. Bahkan sampai sekarang tidak ada laki-laki yang datang untuk mencarinya. Sudah berhenti pak, jangan kau bela terus! Dia itu hanya benalu di rumah kita! Kalau dia tidak mau menikah dengan pak Mario lebih baik enyah saja!"
Lastri mengibaskan tangan dan langsung melenggang pergi dengan menggerutu. Kini tinggal Aryo yang tersisa. Pria tua itu berusaha untuk menguatkan hatinya.
"Jangan masukkan hati atas apa yang dikatakan oleh ibumu barusan. Dia sedang emosi."
Ayuna mengusap air matanya yang tak berhenti menetes. Rasanya terlalu perih jika harus bertahan hidup dengan orang yang tidak bisa menghargai pengorbanannya.
"Pak, aku cukup sadar diri keberadaanku di rumah ini hanyalah numpang hidup pada kalian. Sudah sewajarnya ibu marah, tapi ~~ Ayuna menunduk dengan meremas jemarinya.
"Tapi apa Ayuna?" tanya Aryo dengan mengerutkan keningnya.
"Tapi aku masih punya harga diri. Harga diriku hancur karena kesalahan yang tidak sepenuhnya aku perbuat, ditambah lagi dengan ibu yang mengatai anakku sebagai anak haram itu cukup menyakitkanku." Tangis Ayuna semakin pilu. Sudah kehilangan keluarga, diperlakukan begitu buruk oleh orang yang dianggap sebagai keluarganya. Kini ia hanya seorang diri, hidup dalam kemelut yang tak bercelah. "Sepertinya aku tidak bisa tinggal di sini lagi pak," ungkapnya dengan isakan kecil.
Aryo menatapnya dalam-dalam. Pikirannya mulai tak tenang, takut kehilangannya. "Memangnya kamu mau ke mana Ayuna?!"
Ayuna menelan salvianya dengan mengulas tipis senyumnya. "Ke mana saja, asal anak-anakku nyaman," cicitnya. "Aku tidak ingin anakku sedih karena perkataan ibu yang selalu memandang rendah mereka."
Aryo menghela nafas. Sebagai orang tua ia tidak bisa memberinya kehidupan yang layak. Istrinya melarang keras untuk tidak terlalu mengasihi anak-anak Ayuna yang dianggapnya 'haram'
"Tapi kehidupan di luar cukup menyeramkan Ayuna! Jangan terlalu gegabah! Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan."
"Tapi aku~~
Suara jeritan anak kecil membuyarkan obrolan mereka. Ayuna maupun Aryo mendengar jelas suara si kembar menangis di halaman rumahnya.
"Ampun nenek! Ampun...!"
"Jangan panggil aku nenek! Aku bukan nenek kalian! Dasar anak pembawa sial!"
Ayuna dan Aryo berlari keluar untuk memastikan apa yang sudah terjadi pada si kembar.
"Ada apa ini," sungut Aryo menghampiri istrinya yang membawa ranting digunakan untuk memukul bocah kembar berusia lima tahunan. Sedangkan Ayuna langsung merangkul dua anaknya yang terisak ketakutan.
"Mereka sudah membuat kegaduhan," celetuk Lastri. "Bisa-bisanya merebut mainan anak orang lain."
Ayuna berjongkok dan menanyainya dengan tatapan yang dingin, meskipun dalam hatinya tak begitu percaya anaknya berani merebut barang yang bukan miliknya.
"Apa benar yang dikatakan oleh nenek? Memangnya kalian merebut mainan siapa?"
Dua bocah itu menggeleng. "Kami tidak merebut mam, kami cuma gabung buat main."
Satu alis Ayuna terangkat. "Benarkah?"
Dua bocah itu mengangguk. Ditelisiknya sorot mata polos itu tidak menunjukkan tanda-tanda kebohongan.
"Kami nggak bohong mam, kami cuma duduk di sana, nggak rebut mainan kok!"
"Tapi kenapa nenek bilang kalian sudah merebut mainan anak orang?"
"Terus! Bela terus anak harammu itu," sungut Lastri.
Ayuna refleks menoleh. "Bu, aku tidak ada niatan untuk membela mereka, aku hanya sedang bertanya, apa benar tuduhan ibu itu, dan mereka bilang apa yang ibu katakan itu tidaklah benar. Di sini aku tidak berpihak pada siapapun, tapi kalau anak sekecil ini dijadikan bahan untuk mengadu domba, aku tidak segan-segan akan membuat perhitungan!"
"Kau menyinggungku, Ayuna?!"
"Aku tidak menyinggungmu," bantah Ayuna. "Tapi kalau ibu merasa tersinggung berarti benar, ibu memang biang masalah!"
Lastri melotot dengan tangan berkacak pinggang. Hatinya tercubit secara terang-terangan ia ditantang oleh Ayuna.
"Kurang ajar! Rupanya kau ingin menantangku, Ayuna?! Bagus sekali kau! Sudah berapa tahun kau numpang hidup di rumahku! Sudah berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk biaya hidupmu?! Sekarang kau berani melawanku! Hati-hati dengan ucapanmu itu, karena sekali kau mengusikku, hidupmu bakalan hancur!"
Halo ..., teman-teman... Author kembali dengan cerita baru 💞 jangan lupa mampir dan kasih jejak buat semangatin ya..., thankyou 🫰💓
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini. Kalian jadi anak yang baik ya, nurut sama mami!"
Ayuna memutuskan pergi dari rumah orang tua angkatnya dan mengontrak di sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja. Ia tidak tahu seperti apa kedepannya, tapi ia yakin dengan semangat yang dimilikinya ia mampu melewati setiap ujian dikehidupannya.
"Mami, kami janji akan menjadi anak yang baik. Kami juga janji tidak akan nakal," cicit Kenzie si bungsu yang memiliki sifat cenderung pendiam.
"Terkecuali kalau kami diganggu," sungut Kenzo si bungsu yang terkesan dingin tak tersentuh.
Ayuna menarik napas dan berjongkok di depan kedua anaknya. Mereka masih cukup kecil untuk diajari bersikap dewasa, bahkan diusia mereka yang masih dini harus diajari hidup mandiri, rasanya cukup menyedihkan, tapi apa yang bisa dilakukannya? Hidup bersama orang lain tak seperti hidup bersama keluarga sendiri, mereka menganggap keberadaannya sebagai beban, bahkan tak segan mereka menganggap anak-anaknya sebagai anak haram pembawa sial.
"Sayang, kita di sini nggak punya siapa-siapa. Mami harap kalian harus bisa menjaga diri dengan baik, jangan sampai mengusik ketenangan orang lain, apalagi sampai membuat masalah. Mami nggak selalu ada buat kalian, jadi kalian harus jaga diri dengan baik ya? Ingat pesan mami, jangan nakal."
Dua bocah itu mengangguk. "Kami mengerti mam!"
Ayuna menarik bibirnya memaksa tersenyum. Tangannya mengusap surai kedua putranya dengan mata berkaca-kaca. "Anak pintar."
Cuaca pagi itu tidaklah mendukung. Gerimis datang tiba-tiba dan membuatnya agak susah untuk sampai ke kantor. Sedangkan anak-anaknya masih belum beradaptasi dengan lingkungan sekitar, ditambah lagi mereka masih harus pindah sekolah di tempat yang baru.
"Mami yakin mau pergi?" tanya Kenzie yang terlihat murung didik di teras depan sembari memandangi air hujan yang berjatuhan dari langit.
"Iya sayang, kalau mami nggak kerja bisa-bisa mami bakalan dipecat. Kalau sampai dipecat memangnya mami mau cari kerja di mana lagi," bantah Ayuna.
"Tapi kan hujan mam," cicitnya. " Nanti mami bisa sakit loh!"
"Heh, Kenzie!" Kenzo berdecih dengan tatapan tajamnya. "Mami itu kerjanya di kantor, kalau nggak kerja professional mami bakalan dipecat. Kalau sampai mami dipecat memangnya kita masih bisa bertahan hidup? Kita mau makan apa coba?"
Kenzie mengerucutkan bibirnya. "Abang kok gitu sih, desisnya. "Memangnya Abang nggak kasihan sama mami? Ini kondisinya lagi hujan bang! Kalau mami sakit gimana coba? Jika saja aku sudah besar, aku tidak akan mengizinkan mami bekerja! Biar aku saja yang cari uang! Mami di rumah saja."
Ayuna terkekeh dengan mencemol pipinya gemas. "Anak baik," cicitnya. "Terimakasih sayang, kalian sangat peduli sama mami. Tapi untuk menunggu kalian dewasa itu masih terlalu lama. Kalian aja masih duduk di bangku sekolah TK, masih terlalu jauh menunggu kalian dewasa. Sudahlah, nggak usah terlalu memikirkan mami, mami baik-baik saja kok!"
Ayuna beranjak untuk menyiapkan sarapan. Pagi itu ia sengaja bangun lebih awal. Niatnya ingin mendaftarkan kembali anak-anaknya ke sekolah baru sebelum pergi ke kantor.
"Ayo kalian sarapan dulu sayang!"
Ayuna menggelar karpet di lantai dan menaruh dua piring berisi nasi goreng.
"Loh, kok cuma dua? Punya mami mana? Mami nggak makan?" tanya Kenzie yang hanya mendapati dua piring nasi goreng.
"Mami belum lapar sayang, ini buat kalian aja. Mami buru-buru mau ke sekolah baru kalian buat mengurus pemindahan kalian, setelah itu langsung pergi ke kantor. Kalian di rumah saja ya?"
Dengan mengaduk-aduk makanannya Kenzo memprotes. "Jadi kita nggak ikutan mam?"
"Enggak sayang, cukup mami aja. Mungkin besok atau lusa kalian sudah bisa belajar di sekolah baru."
Ayuna meraih tas kerjanya dengan memberinya nasehat. "Ingat pesan mami, kalau sudah pindah di sekolah baru jangan sampai membuat ulah. Jadilah murid yang baik, jangan buat mami malu!"
"Hm..., siap mam," jawab mereka dengan serempak.
"Yaudah, sekarang mami pergi dulu ya," cicitnya dengan mengecup kening mereka bergantian. "Jangan keluar rumah, biarpun ada yang mengetuk pintu jangan dibuka. Kalian diam saja di dalam, tunggu sampai mami pulang!"
Seandainya saja masih memiliki keluarga yang lengkap mungkin kehidupannya tak serapuh ini. Bahkan ia harus meninggalkan anak-anaknya pergi bekerja seharian penuh tanpa adanya pengawasan. Sungguh, ini bukanlah pilihan yang tepat. Andai saja ia tidak terlibat skandal dengan pria asing mungkin anak-anaknya tidak menjadi korban.
****
Satu jam telah berlalu. Ayuna sudah menyelesaikan urusannya dengan guru di sekolah baru anaknya, kini dia menuju kantor dengan kondisi hujan-hujanan. Semua pegawai kantor sudah berkumpul, hanya sisa waktu tiga menit jam kerja sudah dimulai.
"Ayuna! Apa-apaan kau ini?! Niat kerja nggak sih?"
Pak Iwan, selaku line manager menatapnya dingin dengan mengomelinya. Diantara timnya hanya Ayuna yang selalu datang terlambat. Baginya waktu lebih penting dibandingkan alasan apapun.
"M—maaf pak, saya tadi~~
"Saya tidak butuh alasanmu," bantahnya. " Saya butuh karyawan yang bisa menghargai waktu! Kalau kamu tidak bisa menghargai waktu, maka jangan salahkan saya jika harus bertindak tegas!"
Bola mata Ayuna membulat. "M—maksud Bapak?"
"Ya kamu dipecat!"
Ayuna menggeleng. "A—apa? Saya dipecat?" Tubuh Ayuna membeku bagaikan patung kayu. "Pak, tolong jangan pecat saya, pak! Saya butuh pekerjaan ini. Lagipula saya nggak terlambat, hanya sisa waktu tiga menit."
Iwan menarik ujung bibirnya. "Mungkin sekarang kurang tiga menit, tapi besok? Bisa jadi besok terlambat lima menit atau bahkan satu jam! Kau itu sering terlambat, Ayuna! Apa kau pikir ini perusahaan nenek moyangmu?"
Ayuna mencebikkan bibirnya dengan menggumam lirih. 'kalau ini perusahaan nenek moyangku kamulah yang pertama kupecat, pak Iwan! Jadi manager aja belagunya minta ampun!'
Pria itu meliriknya jengkel. "Ngapain masih berdiri di situ! Ayo cepat masuk!"
"B—baik pak!"
Ayuna langsung bergegas menuju kubikelnya. Di sana dia bergabung bersama teman-teman satu timnya.
"Ayuna, kamu dimarahi lagi sama pak Iwan?" tanya Mila, teman yang cukup dekat dengannya.
"Hm..., pria itu cukup menjengkelkan," cicit Ayuna. "Padahal aku nggak terlambat, tapi mau pecat aja!"
"Tapi nggak sampai di pecat kan?" Mila terkekeh menanggapinya.
"Enggak! Tapi dia gunakan ancaman buat pecat aku!"
Tawa Mila terdengar cukup keras meledek. "Dia itu sebenarnya naksir sama kamu Yun, asalkan kamu mau jadi istrinya hidupmu bakalan aman!"
Refleks Ayuna menonyor pelipisnya gemas. "Kau pikir aku mau dijadikan istri atau simpanannya? Sekalipun aku bukan wanita berkelas aku tak sudi punya suami cerewet macam dia!"
Brak!!
Suara cukup keras terpelanting di mejanya. Seorang wanita dengan tatapan sinis melemparkan map tebal dengan mengomel.
"Ini jam kerja! Kalau masih ngobrol lebih baik keluar!"
Semua orang menunduk, termasuk Ayuna.
"Sebentar lagi pimpinan baru kita berkunjung kemari. Beri sambutan hangat untuknya, jangan pernah menyinggungnya, atau hidup kalian tak tenang!"
Semua karyawan berbaris di lobi menunggu kedatangan pimpinan baru. Mereka masih belum begitu paham siapa pimpinan baru mereka karena sampai detik ini tak jua menunjukkan batang hidungnya.
"Memangnya perusahaan ini pindah tangan ke siapa sih?" tanya Ayuna.
Teman-teman Ayuna mengedikkan bahunya. "Mana tahu, selama pemindahan pak Elio digantikan oleh pimpinan baru tak seorangpun tahu siapa yang menjadi penggantinya. Katanya sih pengusaha besar dari kalangan elit, Pak Erlangga atau siapa gitu."
Ayuna mengerutkan keningnya sembari menggumam. "Erlangga?" Ayuna merasa nama itu cukup familiar didengar, namun ia tak banyak tahu tentang pebisnis, baginya lebih fokus bekerja untuk mengais pundi-pundi rupiah.
"Mudah-mudahan pimpinan kita nggak kejam seperti di novel-novel ya.., aku kok jadi nervous gini. Jujur aku takut banget," cicit Mila.
Ayuna mengibaskan tangannya. "Sudahlah, tujuan kita di sini cari duwit, selama kita nggak buat ulah kita bakalan aman, kecuali ada yang usilin. Aku sih nggak peduli siapa pimpinan baru kita, bagiku bisa mendesign dengan baik pasti bakalan dapat bonus. Iya nggak sih?"
"Hm..., benar juga." Mereka menarik napas membuang pikiran konyol yang menghantui pikirannya.
Sebuah mobil Mercedes Benz C-Class masuk ke halaman kantor berhenti tepat di depan lobi. Dua orang berperawakan tinggi kekar keluar dari dalam mobil tersebut dan membuka pintunya. Tak lama dari itu keluarlah seorang pria muda berperawakan tinggi putih dengan sorot mata dinginnya. Semua karyawan berjajar rapi di dalam lobi menunduk hormat menyambut kedatangannya.
"Beri hormat untuk pimpinan baru kita!"
"Selamat datang pak!" Semua karyawan berseru menyambut kedatangannya.
Dua orang yang tak lain bodyguard pria itu langsung memberikan celah agar bosnya bisa bertatap muka langsung dengan pegawainya.
"Selamat pagi," ucapnya dingin netranya menatap satu persatu orang yang berdiri mengelilinginya.
"Selamat pagi pak," jawab mereka serempak.
Semua orang mendongak, menatapnya dengan jelas.
Deg,,
Ayuna melotot terkejut bukan main. Dia langsung teringat oleh sosok pria yang kini berdiri di depannya.
"D—dia?"
Wajahnya kian memucat. Ketenangannya kini benar-benar terusik oleh perasaan was-was.
"Terimakasih banyak untuk sambutannya yang antusias," cicit pria itu dengan tegas penuh wibawa. "Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Erlangga Kusuma, saya menggantikan posisi Bapak Elio selaku CEO sebelumnya."
Tatapan Erlangga membidik pada satu arah di mana seorang wanita tengah menunduk gelisah, padahal di situ karyawan yang lain terlihat begitu tenang.
"Kamu!"
Semua orang menoleh pada Erlangga dengan mengerutkan keningnya.
"Maksud Bapak saya?" Mila yang berdiri di sebelah Ayuna mengira dirinyalah yang terpanggil oleh CEO.
"Bukan, tapi sebelah kamu."
Mila menoleh pada Ayuna. "Oh..., maaf pak, ini namanya Ayuna." Tukas Mila menyenggol Ayuna. "Yuna! Ngapain nunduk? Tuh, kamu dipanggil pak Erlangga."
"Hah? A—aku?"
Ayuna refleks menoleh pada Erlangga. Dan begitu terkejutnya pria itu ketika mata mereka saling bertemu.
"Ba—bapak memanggil saya?"
Tak menjawab, Erlangga seperti patung bernyawa. 'Luna?' Dia menggumam.
"M—maaf pak? Apa Bapak memanggil saya?" Ayuna mengulanginya lagi.
Erlangga terlihat gelisah. Dia segera menghapus kegundahannya dengan mengatur posisinya.
"Hm..., iya. Dari tadi saya lihat kamu menunduk, seolah-olah kamu nggak menghargai kehadiran saya di sini. Kenapa? Kamu nggak suka saya memimpin di perusahaan ini?"
Ayuna menggeleng. "Oh..., tentu saja itu tidak benar, Pak! Mana mungkin saya tidak menghormati anda. Saya hanya~~
"Setelah ini datanglah ke ruangan saya!"
Ayuna menarik nafas. 'mati aku' belum genap sehari bertemu dengan pimpinan baru sudah terlibat permasalahan kecil dengannya. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu, tapi ia berharap pria itu tidak mengingatnya.
"Saya rasa perkenalan kita cukup sekian. Kalian bisa kembali ke tempat kerja masing-masing!"
"Baik pak," semua serempak menjawab.
Bubarlah mereka menuju tempat kerjanya masing-masing, sedangkan Erlangga langsung bergegas menuju ruangannya yang ada di lantai tiga.
"Ayuna, apa yang kau pikirkan," cicit Mila. "Kau benar-benar membuatnya marah."
Ayuna kembali menarik nafasnya. "Memangnya apa yang tengah kulakukan padanya? Aku tidak merasa membuat masalah dengannya. Aku juga tidak menyinggungnya, dia saja yang kebaperan. Masa iya orang nunduk aja dianggap tak menghargainya!"
Mila berdecak. "Ya iyalah," gerutunya. "Orang dia lagi memperkenalkan diri kamu malah nunduk. Jelas saja dia tersinggung, seolah-olah kamu nggak menghargai kedatangannya."
Ayuna diam dengan mengerjabkan matanya. Ia masih bingung, harus bagaimana menghadapinya.
"Ingat Ayuna, dia itu pimpinan kita. Mungkin karakternya sama pak Elio berbeda. Semoga saja kamu tidak ditegur atau dihukum. Kalau sampai kamu dipecat itu bukan hal yang baik. Cari kerjaan itu susah."
Manager mendekat dengan menatapnya tajam. "Kau benar-benar keterlaluan Ayuna," serunya. "Sudah datang selalu terlambat, nyinggung pak Erlangga lagi! Apa kau sudah bosan kerja di sini?"
Ayuna diam. Menurutnya ini persoalan yang sepele, tapi kenapa harus dibesar-besarkan? Mereka tidak tahu apa yang dialaminya, seolah-olah mereka menganggapnya orang yang paling bersalah.
"Ya sudah, cepat minta maaf kepada pak Erlangga! Jangan membantah atau membuatnya marah."
Ayuna mengangguk. "Baik pak, kalau begitu saya akan menemuinya."
Di dalam ruangannya Erlangga tak bisa duduk dengan tenang. Ia begitu yakin seseorang yang dilihatnya adalah Luna Wijaya, tunangannya yang hilang. Sudah lebih dari sepuluh tahun Luna Wijaya menghilang, bahkan semua orang sudah menganggapnya mati, tapi dengan mata kepalanya sendiri ia melihatnya begitu jelas berdiri di depan matanya. Ia yakin wanita itu benar-benar kekasihnya di masa lalu.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi pak, apa saya boleh masuk?"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinganya. Erlangga langsung duduk di kursi kerjanya dengan memasang wajah dingin tanpa ekspresi.
"Masuklah!"
Kriet,, suara pintu berdecit, wanita itu masuk dengan meremas jemarinya, wajahnya kian menunduk.
"M—maaf pak, tadi Bapak meminta saya buat datang ke sini. Kalau boleh tahu ap~~
"Duduklah."
Ayuna mengangguk dengan wajah menunduk. Dia mengambil tempat duduk tepat di depan meja kerja Erlangga.
"Nona...
"Ayuna, nama saya Ayuna pak?"
Erlangga menautkan alisnya. "Ayuna? Bukankah kamu Luna?"
Ayuna mendongak. "Bu—bukan Pak, nama saya Ayuna, bukan Luna," bantahnya.
'ini tidak mungkin! Dia pasti berbohong! Tapi untuk apa?'
Nafasnya terasa sesak saat wanita itu tidak mengenalinya sebagai tunangan. Bagaimana mungkin seorang Luna Wijaya berubah menjadi Ayuna. Dia sengaja membuat hidupnya kacau balau. Selama ini menghilang dan ternyata untuk menghindarinya.
"Apa maksudnya mengganti namamu, Luna? Kau ingin menghindariku? Kau ingin menghukumku? Memangnya apa salahku?"
Ayuna kebingungan. Rupanya pria itu sudah salah paham terhadapnya. "M—maaf pak, saya tidak mengerti apa maksud bapak! Saya tidak pernah mengganti nama saya. Saya ini Ayuna, bukan Luna. Anda salah orang pak!"
Erlangga bangkit dan melangkahkan kakinya mendekat padanya. Tangannya mencengkram diatas meja dengan mencondongkan kepalanya nyaris tak berjarak. Ayuna was-was, ia mulai diselimuti oleh rasa ketakutan.
"B—bapak mau apa? Bapak jangan coba-coba mendekati saya atau saya akan berteriak!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!