Indonesia
NovelToon NovelToon

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

malam itu semua mendengarkannya

Bunyi itu yang paling diingat Kirana.

Ting. Ting. Ting.

Sendok diketuk ke gelas kristal. Suara kecil, tapi semua obrolan di ruang makan keluarga Wijaya langsung mati.

Rangga berdiri. Satu tangan pegang gelas anggur, tangan satunya lagi — Kirana lihat jelas — menggenggam jari-jari Vania.

"Aku ada pengumuman," kata Rangga.

Kirana pelan-pelan meletakkan sendok. Dua minggu ini firasatnya memang sudah tidak enak. Pulang selalu lewat tengah malam. Ditanya sudah makan belum saja jawabnya singkat.

"Aku mau cerai dari Kirana," kata Rangga. Datar. Seperti lagi bacain jadwal rapat kantor. "Dan setelah itu aku akan nikah sama Vania."

Hening.

Lalu ibu mertuanya malah senyum. Senyum kecil yang ditahan-tahan.

"Akhirnya," desis wanita itu. Keras, sengaja biar satu ruangan dengar. "Lima tahun nikah gak ngasih cucu. Bisnis keluarga juga gak pernah dibantu. Dari awal memang kamu bukan jodoh anak saya, Kirana."

Kirana menatap Rangga. Dicari-cari, barangkali masih ada sisa rasa bersalah di muka itu. Gak ada.

Rangga malah balik menatapnya, menunggu. Menunggu Kirana nangis, ngamuk, bikin drama yang nanti bisa dia pakai buat cerita ke orang-orang, lihat kan, makanya aku tinggalin dia.

Kirana gak ngasih dia kepuasan itu.

"Baik," katanya. Suaranya sendiri terdengar aneh di kupingnya, terlalu tenang. "Surat apa aja nanti aku tanda tangan."

Vania yang dari tadi diam sambil senyum-senyum tipis akhirnya buka mulut.

"Jangan tersinggung ya, Kir," katanya. "Tapi ya memang kita gak selevel dari awal. Kamu tuh terlalu... sederhana. Buat keluarga kayak kita."

Kalimat itu. Kalau beberapa tahun lalu, dada Kirana pasti sudah sesak, pasti sudah lari ke kamar mandi buat nangis diam-diam. Malam ini rasanya beda. Dingin. Bukan sedih lagi, tapi kayak mati rasa setelah kelamaan sakit.

"Makasih lho udah jujur," jawab Kirana. "Jadi aku gak perlu nebak-nebak lagi."

Ibu mertuanya berdiri, matanya menyapu Kirana dari atas ke bawah. Seperti lagi menilai barang retur.

"Kemas barang kamu malam ini juga ya. Bawa barang pribadi kamu aja. Sisanya tinggal. Itu semua kan punya keluarga Wijaya."

Punya keluarga Wijaya. Bahkan koper cokelat yang Kirana beli pakai uang tabungan sebelum nikah pun sekarang jadi punya mereka.

Kirana naik ke kamar. Kamar yang lima tahun dia tiduri tapi gak pernah benar-benar jadi miliknya.

Dia ngemas seadanya. Beberapa baju, buku-buku yang sudah menguning, dan satu kotak kayu kecil di paling dasar lemari.

Kotak peninggalan Ayah.

Ayahnya meninggal tujuh tahun lalu, pas sebelum dia nikah sama Rangga. Perusahaannya bangkrut, lalu sakit. Di rumah sakit, napasnya sudah putus-putus, dia masih sempat bilang,

"Kotak ini jangan dibuka, Nak, sampai kamu bener-bener butuh. Nanti kamu tau sendiri harus ngapain."

Selama ini gak pernah Kirana buka. Sibuk jadi istri baik. Sibuk pengen dianggap pantas sama keluarga Wijaya. Yang malam ini baru dia sadari, semuanya sia-sia dari awal.

Kotak itu dia selipkan ke tas kecil.

Waktu turun, satu koper di tangan kanan, tas kecil didekap di dada, seluruh keluarga besar ternyata sudah nunggu di ruang tamu. Nontonin dia pergi beneran apa enggak.

Rangga berdiri dekat pintu, tangan masuk saku.

"Kirana," bisiknya, pelan biar cuma dia yang dengar. "Maaf ya soal ini. Tapi ini yang terbaik buat kita berdua."

Kirana berhenti di depannya.

"Buat kamu," potongnya. "Yang terbaik buat kamu, Rangga. Jangan bawa-bawa aku."

Untuk pertama kalinya malam itu, topeng Rangga retak. Sekilas doang. Ada kaget, ada ragu. Habis itu datar lagi.

"Supir biar antar kamu. Mau ke mana aja."

"Gak usah," jawab Kirana. "Aku bisa jalan sendiri."

Dia buka pintu. Udara malam Jakarta langsung nampar kulitnya, dingin.

Pintu di belakangnya ketutup pelan. Rumah yang lima tahun dia sebut rumah.

Dia berdiri di pinggir jalan, nunggu taksi. Koper di samping kaki, tas kecil masih dia peluk.

Ponselnya getar.

Nomor tak dikenal.

Kudengar kamu baru aja diusir dari keluarga Wijaya. Kasihan ya. Semoga hidupmu baik-baik setelah ini :)

Kirana natap pesan itu lama. Siapa? Sepupu jauh yang seneng lihat dia jatuh? Atau mulut siapa yang sudah bocor secepat ini?

Gak dibalas.

Taksi berhenti. Kirana masuk, koper ditaruh di sebelahnya.

Baru di dalam taksi itu, untuk pertama kalinya malam ini, tangannya gemetar buka resleting tas kecil.

Kotak kayu itu di sana. Nunggu.

"Kalau saatnya tiba, kamu akan tahu harus apa."

Suara Ayah kedengaran lagi, jelas banget.

Kalung di lehernya — ada kunci kecil yang tujuh tahun ini cuma jadi kalung — dia lepas.

Tangannya masukin kunci itu ke lubang kotak.

Klik.

Tutupnya kebuka.

isi kotak yang kosong

Isi kotak itu tidak seperti yang Kirana bayangkan.

Tidak ada perhiasan,tidak ada uang tunai berlembar-lembar seperti di sinetron yang dulu sering ia tonton bersama ibunya. Yang ada hanya tumpukan kertas yang sudah menguning di pinggirnya, sebuah buku catatan kulit cokelat yang sampulnya mulai retak, dan satu amplop putih dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.

Untuk Kirana, kalau saatnya tiba.

Tangan Kirana gemetar saat membuka amplop itu. Taksi masih melaju, melewati lampu-lampu jalan yang berkelebat di kaca jendela, tapi dunia Kirana saat itu menyempit hanya pada selembar kertas di tangannya.

Kirana sayang,

Kalau kamu sedang membaca ini, itu berarti hidupmu sedang berada di titik yang berat. Ayah tidak tahu bentuk kesulitanmu—mungkin soal uang, mungkin soal orang yang seharusnya melindungimu tapi justru menyakitimu. Tapi Ayah tahu satu hal: kamu jauh lebih kuat dari yang kamu kira.

Perusahaan yang Ayah rintis dulu memang bangkrut di atas kertas. Tapi tidak semuanya hilang. Ada 30% saham yang masih atas nama Ayah di PT Cahaya Abadi Investama—perusahaan yang dulu Ayah bangun bersama sahabat Ayah, Pak Hadi. Perusahaan itu sekarang kecil, hampir tidak terdengar namanya, tapi fondasinya masih ada.

Di buku catatan ini, Ayah tulis semua yang Ayah pelajari selama 20 tahun di dunia investasi—termasuk kesalahan-kesalahan yang membuat Ayah jatuh. Jangan ulangi kesalahan itu, Nak.

Ayah tahu kamu selalu merasa tidak cukup pintar, tidak cukup berharga. Itu bohong. Kamu mewarisi otak Ayah untuk melihat peluang, dan hati Ibumu untuk tetap baik di tengah dunia yang keras. Gunakan keduanya.

Ayah menyayangimu, selalu.

—Ayah

Kirana membaca surat itu tiga kali sebelum ia sadar pipinya basah.

Tujuh tahun ia menyimpan kotak ini tanpa berani membukanya—karena membukanya berarti mengakui bahwa ayahnya benar-benar sudah pergi, dan karena selama itu pula ia sibuk menjadi "istri yang baik" di keluarga Wijaya, sampai lupa punya identitas sendiri di luar status itu.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah kos sederhana di pinggiran kota—satu-satunya tempat yang masih Kirana ingat sebagai miliknya sendiri, peninggalan dari ibunya yang sudah lama disewakan tapi belum pernah dijual. Malam itu juga ia memutuskan pindah ke sana, mengusir penyewa lama dengan kompensasi yang wajar, dan menempati kembali kamar kecil yang dulu jadi tempatnya tumbuh sebelum menikah.

Ia duduk di lantai, koper belum dibuka, tapi buku catatan ayahnya sudah terbentang di pangkuan.

Halaman demi halaman berisi tulisan tangan rapi—analisis pasar, catatan tentang perusahaan-perusahaan kecil yang berpotensi, dan yang paling menarik perhatian Kirana: sebuah halaman bertuliskan besar-besar, digarisbawahi dua kali.

"PT Cahaya Abadi Investama—jangan lepas sahamnya apa pun yang terjadi. Suatu hari perusahaan ini akan dibutuhkan lagi."

Kirana membuka laptop tuanya, mengetik nama perusahaan itu di mesin pencari. Hasilnya sedikit—hanya sebuah situs sederhana yang terakhir diperbarui bertahun-tahun lalu, dan alamat kantor di sebuah ruko kecil yang sepertinya sudah lama tidak terpakai.

Tapi ada satu nama yang terus muncul di catatan ayahnya: Hadi Santoso.

Keesokan paginya, dengan pakaian paling rapi yang ia punya—bukan lagi baju-baju mahal pemberian keluarga Wijaya, tapi kemeja sederhana miliknya sendiri—Kirana mendatangi alamat ruko itu.

Pintu kaca yang berdebu terbuka dengan bunyi lonceng kecil. Di dalam, seorang pria berusia sekitar enam puluhan sedang duduk di balik meja penuh berkas, kacamata bacanya melorot di ujung hidung.

"Cari siapa, Mbak?" tanyanya, tanpa mendongak sepenuhnya.

"Saya cari Pak Hadi Santoso," jawab Kirana. "Saya... anak dari Pak Broto."

Nama itu membuat pria itu mendongak cepat, kacamatanya hampir jatuh.

"Broto? Broto yang dulu...?" Ia berdiri, menatap Kirana lekat-lekat, seolah mencari kemiripan wajah. "Astaga. Kamu Kirana?"

Kirana mengangguk, sedikit terkejut karena masih diingat.

"Ayahmu sering cerita tentangmu," kata Pak Hadi, suaranya bergetar antara haru dan kaget. "Terakhir kali kita bicara, dia bilang kamu akan menikah dengan orang kaya. Katanya kamu akan hidup senang."

Kirana tersenyum tipis, pahit. "Itu ceritanya sudah selesai, Pak. Saya baru saja bercerai."

Wajah Pak Hadi berubah, dari terkejut menjadi prihatin. "Duduk dulu, Nak. Duduk."

Kirana duduk di kursi tua di depan meja itu, meletakkan buku catatan ayahnya di atas meja.

"Saya menemukan ini," katanya. "Dan saya baru tahu kalau ayah saya masih punya 30% saham di perusahaan ini."

Pak Hadi terdiam lama, menatap buku itu seperti melihat hantu masa lalu. "Perusahaan ini... sudah lama tidak berjalan seperti dulu, Kirana. Sejak ayahmu sakit dan mundur, saya jalankan sendirian. Kami kehilangan klien besar, kehilangan kepercayaan pasar. Sekarang cuma tinggal nama dan izin usaha yang masih berlaku."

"Tapi izinnya masih aktif?" tanya Kirana cepat.

Pak Hadi mengangguk pelan. "Masih. Saya pertahankan, entah kenapa. Mungkin karena berharap suatu hari ada yang mau melanjutkan."

Kirana menatap buku catatan ayahnya, lalu menatap Pak Hadi.

"Kalau begitu," katanya, suaranya lebih mantap dari yang ia kira sendiri, "bagaimana kalau kita mulai lagi, Pak? Dari nol, kalau perlu."

Pak Hadi tertawa kecil, campuran antara terharu dan ragu. "Kamu tahu apa soal bisnis investasi, Nak? Setahu saya kamu dulu kuliah desain."

"Saya memang tidak tahu banyak," jawab Kirana jujur. "Tapi saya punya ini." Ia menunjuk buku catatan di meja. "Dua puluh tahun pengalaman ayah saya, tertulis rapi di sini. Dan saya punya waktu—karena sekarang, saya tidak punya apa-apa lagi untuk dikejar selain ini."

Ada keheningan sesaat. Debu berjatuhan pelan dari langit-langit ruko, disinari cahaya matahari pagi yang menerobos kaca berdebu.

"Baiklah," kata Pak Hadi akhirnya, mengulurkan tangan. "Tapi saya ingatkan, ini bukan jalan yang gampang. Kita akan mulai dari bawah, benar-benar dari bawah."

Kirana menjabat tangan itu. "Saya sudah terbiasa dianggap tidak ada apa-apanya, Pak. Sekarang saatnya saya buktikan sebaliknya—diam-diam, sampai tidak ada yang bisa menyangkalnya lagi."

Di luar, dunia yang sama sekali belum tahu apa yang akan terjadi terus berjalan seperti biasa. Rangga sedang menandatangani surat cerai dengan tenang di kantor pengacaranya. Vania sedang memilih gaun pertunangan di sebuah butik mahal.

Dan di ruko kecil berdebu itu, sebuah kerajaan bisnis baru saja mulai ditanam benihnya—diam-diam, tanpa seorang pun tahu bahwa nama yang akan mereka sesali suatu hari nanti baru saja duduk di kursi tua yang berderit.

nama baru,langkah pertama

Minggu pertama di ruko kecil PT Cahaya Abadi Investama tidak seindah yang Kirana bayangkan.

Ruangan itu penuh debu, sebagian arsip sudah dimakan rayap, dan komputer satu-satunya yang masih menyala harus di-restart tiga kali sebelum benar-benar bisa dipakai. Tapi Kirana tidak mengeluh. Setiap pagi, jam tujuh, ia sudah duduk di kursi tua yang sama, membuka buku catatan ayahnya halaman demi halaman, mencocokkan istilah-istilah yang belum ia pahami dengan artikel-artikel di internet.

"Kamu serius belajar sampai malam begini?" tanya Pak Hadi suatu sore, mendapati Kirana masih di ruko pukul delapan malam, dikelilingi kertas catatan yang mulai menumpuk.

"Saya nggak punya pilihan lain, Pak," jawab Kirana, tanpa mendongak dari layar laptop. "Kalau saya berhenti belajar sekarang, saya akan kembali jadi orang yang dulu—yang dianggap nggak berguna cuma karena diam."

Pak Hadi menatapnya lama, lalu duduk di kursi seberang. "Ayahmu dulu begitu juga. Keras kepala, nggak mau berhenti sebelum paham betul."

"Berarti saya memang anaknya," kata Kirana, tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak malam perceraian itu.

Hari kesepuluh, Kirana mengambil keputusan penting: ia tidak akan memakai nama Kirana Wijaya lagi—nama yang melekat status "istri yang diceraikan", nama yang di mata orang-orang tertentu masih berarti "gagal". Ia kembali memakai nama lahirnya.

Kirana Kusuma Broto.

"Kita daftarkan semua dokumen atas nama ini," katanya pada Pak Hadi, menunjuk KTP lamanya sebelum menikah, yang masih ia simpan di kotak yang sama dengan warisan ayahnya. "Biar tidak ada yang mengaitkan saya dengan keluarga Wijaya."

Pak Hadi mengangguk setuju. "Langkah bagus. Di dunia bisnis, nama baik itu penting—tapi nama yang bersih dari gosip, kadang lebih penting lagi di awal."

Mereka mulai dari yang kecil: menghidupkan kembali dua klien lama Pak Hadi yang masih percaya, memperbarui izin usaha yang sempat mati suri, dan yang paling penting—mencari satu peluang investasi kecil yang bisa jadi bukti bahwa PT Cahaya Abadi Investama masih layak dipercaya.

Kirana menemukannya di halaman terakhir buku catatan ayahnya, sebuah catatan singkat yang ditulis bertahun-tahun lalu:

"Bisnis kecil yang jujur dan konsisten selalu punya nilai lebih dari yang orang kira. Cari yang fondasinya kuat, bukan yang kelihatannya besar."

Petunjuk itu membawa Kirana ke sebuah usaha kecil bernama Roti Bu Darmi, sebuah toko roti rumahan di pinggiran kota yang sudah berjalan dua puluh tahun tapi tidak pernah berkembang karena kekurangan modal untuk memperluas produksi. Kirana menemukannya lewat cerita seorang tetangga kos, dan setelah mengecek langsung, ia melihat sesuatu yang orang lain lewatkan: pelanggan setia yang terus datang meski tokonya kecil dan sederhana, resep yang konsisten selama dua dekade, dan seorang pemilik yang jujur soal keuangan—hanya kurang modal dan strategi.

"Ini terlalu kecil, Kirana," kata Pak Hadi ragu, saat Kirana mengusulkan investasi pertama mereka ke toko roti itu. "Investor besar pasti akan tertawa kalau lihat laporan kita mulai dari toko roti rumahan."

"Biar saja mereka tertawa," jawab Kirana tenang. "Ayah bilang, cari yang fondasinya kuat. Bu Darmi punya itu. Yang dia butuh cuma modal dan orang yang percaya."

Mereka menyuntikkan modal kecil—hasil dari menjual satu-satunya perhiasan peninggalan ibu Kirana yang selama ini tersimpan di brankas bank—untuk membeli mesin pengolahan baru dan menyewa satu ruko kecil kedua sebagai cabang pertama Roti Bu Darmi.

Dalam waktu tiga minggu, omzet toko itu naik dua kali lipat.

Kabar kecil itu, meski tidak besar, mulai menarik perhatian di lingkungan pengusaha kecil-menengah setempat. Seorang jurnalis lokal menulis artikel pendek berjudul "Kebangkitan UMKM Lewat Investor Baru yang Jarang Tampil"—tanpa menyebut nama Kirana secara langsung, karena Kirana sengaja meminta agar wajahnya tidak difoto dan namanya cukup disebut sebagai "K. Broto, perwakilan PT Cahaya Abadi Investama".

"Kenapa kamu nggak mau namamu muncul besar-besar?" tanya Pak Hadi, sedikit heran. "Ini bisa jadi promosi bagus buat kita."

Kirana menggeleng. "Belum waktunya, Pak. Saya masih terlalu dekat dengan nama Wijaya di mata orang-orang tertentu. Kalau muncul sekarang, yang akan dibicarakan bukan bisnis kita, tapi gosip perceraian saya."

Ia menatap keluar jendela ruko, ke jalanan yang mulai ramai sore itu. "Saya mau mereka mengenal saya dulu lewat hasil kerja saya, baru nanti tahu siapa saya sebenarnya. Bukan sebaliknya."

Pak Hadi tersenyum, mengangguk pelan. "Ayahmu pasti bangga lihat kamu sekarang."

Kirana tidak menjawab, tapi matanya berkaca-kaca sesaat sebelum ia kembali menunduk ke laporan keuangan di depannya.

Malam itu, sepulang dari ruko, ponsel Kirana bergetar. Sebuah notifikasi dari akun media sosial lamanya—akun yang sudah lama tidak ia buka sejak menikah, karena Rangga dulu tidak suka istrinya "terlalu aktif di media sosial".

Ada satu unggahan baru dari akun Vania, difoto di sebuah restoran mahal bersama Rangga, dengan keterangan:

"Awal yang baru, bersama orang yang tepat 💍✨"

Kirana menatap layar itu lama. Dulu, foto seperti ini pasti akan membuatnya menangis semalaman. Sekarang, ia hanya merasa... jauh. Seperti melihat kehidupan orang lain yang kebetulan pernah bersinggungan dengannya.

Ia mengunci ponselnya, meletakkannya di meja, dan kembali membuka laporan keuangan Roti Bu Darmi—angka-angka yang jauh lebih berarti baginya malam ini daripada foto pernikahan siapa pun.

Tapi jauh di kepalanya, satu pertanyaan kecil mulai tumbuh: berapa lama lagi sebelum dunia Rangga dan dunia barunya ini—yang sedang ia bangun diam-diam dari sebuah ruko berdebu—akhirnya bertabrakan?

Ia belum tahu jawabannya. Yang ia tahu, saat hari itu tiba, ia tidak akan lagi jadi Kirana yang sama seperti dulu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!