Indonesia
NovelToon NovelToon

Identitas Tersembunyi Gadis Gunung

Qaisara Aulia Syahrizky

Di sebuah hutan, tepatnya sebuah gunung yang begitu asri. Jauh dari keramaian kota, polusi dan banyak nya manusia. Hanya ada pepohonan, tumbuhan herbal, hewan buas dan jinak, juga yang paling di takuti manusia. DEMIT!!!

Gunung pribadi milik seorang pria tua, yang terkenal raja bisnis pada masa mudanya. Di hutan yang terlihat menyeramkan, bagi sebagian orang. Namun... jauh di dalam sana, ada dua buah rumah cukup besar. Rumah panggung, yang keseluruhannya di bangun dari kayu pohon jati. Rumah utama dan rumah para pegawai.

Di depan maupun di belakang rumah, yang tak besar itu. Terdapat halaman yang sangat luas, yang mana terbagi beberapa lahan. Lahan-lahan tersebut, ada yang di tanami tanaman herbal. Ada yang di tanami sayuran, buah-buahan dan juga bumbu dapur. Di luar gerbang tinggi, terbentang luas sawah. Dunia kecil, yang hanya di tempati oleh dua pemeran utama. Seorang kakek dan cucu perempuannya, dan pemeran figuran nya adalah para pekerja.

"AULIAAAAAAA" terdengar suara teriakan, dari seorang pria tua. Pria yang sudah menginjak 80 tahun, namun masih terlihat begitu sehat. Bahkan wajahnya, terlihat awet muda. Masih terlihat tampan, karena pola hidup sehat. Juga lingkungan hidup, yang sangat bersih.

Para pekerja sudah biasa, melihat tuan besar mereka berteriak seperti itu.

"Apa lagi yang di lakukan nona Aulia, tuan? Sampai membuat tuan sekesal ini?" tanya pak Omair Fauzi, sang kepala pelayan. Pria berusia 75 tahun itu, memberikan air minum pada sang tuan.

"Anak itu menolak ke kota, aku menyuruhnya sekolah normal seperti anak-anak seusianya. Dan sekarang, entah kemana lagi anak itu?" jawab sang tuan

Tuan Pamir Shafwan Syahrizky, kakek tua berusia 80 tahun. Raja bisnis, yang memiliki kekayaan tak terhingga. Membesarkan seorang cucu perempuan, yang bernama Qaisara Aulia Syahrizky. Aulia merupakan anak dari putranya, yang bernama Nadhif Munawwir Syahrizky. Dan menantu perempuannya, bernama Almira Aluna.

Keduanya sudah meninggal dunia, di saat Aulia berusia 3 tahun. Kecelakaan beruntun, pada saat mereka pulang dari luar kota.

"Nona Aulia sudah terbiasa dan nyaman tinggal di sini, apalagi.... nona Aulia enggan meninggalkan tuan." balas Fauzi

"Tapi dunianya hanya ada aku, kalian, para hewan dan para sosok tak kasat mata itu. Aku ingin dia berteman, dengan anak-anak remaja seusianya. Aulia memang jenius, bahkan ia sudah memiliki gelar master di usia menjelang 15 tahun. Tapi dari SD, SMP, SMA dan kuliahnya hanya melalui media digital. Tak ada pergaulan antar sesama, apa aku akan mendapatkan cucu menantu kelak? Jangan-jangan cucu menantuku, nanti malah AI" pak Fauzi tertawa

Majikan sekaligus sahabat dan kakak nya itu, selalu merasa khawatir dengan masa depan sang cucu.

"Pelan-pelan saja tuan, nona Aulia pasti akan mengerti dengan kekhawatiran anda." ucap pak Fauzi

"Kamu benar, sebenarnya aku pun bingung. Apa lagi yang harus dia pelajari, lihat semua tanaman di sekitar kita. Semua bisa tumbuh dengan baik, karena hasil dari penelitiannya sejak usia 10 tahun. Bahkan kita pun, tak membutuhkan orang luar untuk pasokan. Karena semuanya, sudah terjamin dengan baik. Salah ku memasang listrik dan internet, sehingga membuat Aulia merasa cukup melihat dunia luar dari benda kotak di kamarnya." balas kakek Pamir, seraya menghela nafas.

"Sudahlah, kita main catur saja" lanjut kakek Pamir, keduanya pun masuk kembali ke dalam rumah.

.

.

'Apa kakek tidak akan marah, kamu pergi tanpa meminta ijin pada beliau?' tanya hantu perempuan, bernama Kia

"Habisnya kakek menyebalkan, terus saja menyuruhku pergi dari sini. Apa kakek tidak sayang lagi padaku?" jawab Aulia

'Mana mungkin kakek mu tidak sayang padamu, justru kakek sangat sayang. Karena itu, beliau menginginkan kamu berteman dengan makhluk sejenis mu.' balas Bilal, hantu lelaki

"Sudah ada kakek kesayangan, kakek Fauzi, ibu Ulfa dan para pekerja di sini. Bukankah mereka semua manusia? Apa jangan-jangan... selama ini, mereka adalah hantu yang tak sadar bila dirinya hantu." ucap Aulia, dengan membulatkan kedua mata nya.

'NGACO!!!' ucap Bilal dan Kia bersamaan, Aulia tertawa

Mereka sedang duduk, di salah satu pohon besar di tengah hutan. Di tangan Aulia, ada satu kotak makanan besar. Yang isinya penuh dengan makanan favoritnya, di buat oleh ibu Ulfa Khairunnisa. Pengasuh nya sejak ia berusia 4 tahun, sosok yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.

Dia juga tak lupa membawa tas ranselnya, yang berisi banyak perlengkapan.

'Kamu membawa barang-barang ini, ceritanya kamu kabur?' tanya Kia

'Alaaahhh.... sejam lagi juga pulang, dia takkan sanggup bila makanannya habis.' jawab Bilal, membuat Aulia mencebik

SYUUUUUTTTT

BRUGH

"APAAN TUH?!" teriak Aulia, ia segera menyimpan kotak makanan nya. Dan dengan mudahnya turun, dari ketinggian 94 meter. Pohon Meranti Kuning, pohon yang berasal dari Kalimantan.

'Ada manusia jatuh, Li. Dia menggunakan parasut, sepertinya dia jatuh dari pesawat.' ucap Bilal, ia melihat ke atas.

Percuma, karena langit tertutup oleh rimbunnya dedaunan dari setiap pohon. Namun masih ada cahaya masuk, dari celah-celah dedaunan tersebut. Sehingga tidak membuat gelap di sekitarnya, masih bisa melihat jelas maksudnya.

'Apa dia sudah mati? Lumayan ganteng, bisa jadi pacar aku arwahnya nanti.' tanya Kia, yang langsung mendapat sentilan dari Bilal

Aulia mendekatkan diri, ia memeriksa orang yang jatuh tersebut. Saat Aulia hendak memeriksa denyut nadi pria tersebut, gerakan cepat mencekik lehernya.

"AKH"

"S-siapa kamu?" tanya pria itu lemah

"Ck" Aulia menepis tangan pria tersebut dengan mudah, pria itu merasakan nyeri di lengannya. Tenaga perempuan di depannya, sungguh besar.

"Diam lah, aku hanya ingin memeriksa mu saja. Apa kamu masih hidup, atau sudah mati?" ucap Aulia, membuat Bilal dan Kia menatap malas padanya. Aulia memegang pergelangan tangan pria itu, ia memeriksa nadi dengan memejamkan kedua matanya.

'Dia sok keren ya' ucap Kia, membuat Bilal mengangkat salah satu alisnya.

'Kenapa?' tanya Bilal

'Mukanya pake di tutup topeng separo, kaya yang ganteng aja.' jawab Kia

'Tadi kamu bilang lumayan ganteng, sekarang di bilang sok keren. Plin plan banget..' ucap Bilal

'Ya di liat dari separo mukanya emang ganteng, tapi karena tadi udah kasar sama Aulia. Jadinya sok keren, cuih.' balas Kia tak suka

"Bisa diem ga kalian?" ucap Aulia, tanpa membuka mata. Kedua arwah itu langsung menutup mulut mereka, memberikan Aulia ketenangan. Pria yang di tolongnya mengerutkan dahi, bicara pada siapa perempuan di depannya?

"Masih idup ternyata" ucap Aulia

Demi apa? Bilal, Kia dan pria itu sendiri ingin sekali memukul kepala Aulia.

"Bil, tolong turunin tas aku dong." pinta Aulia, tanpa banyak bicara Bilal melayang ke atas dan mengambil tas tersebut. Karena terlalu lama tinggal bersama Aulia, juga tempat tinggal yang begitu bersih dan murni. Membuat kedua arwah itu, bisa memegang benda di sekitarnya.

GLEK

...****************...

Bismillah...

Assalamu'alaikum my family

Ga nyangka banget, tetiba muncul ide buat judul baru. Semoga kalian suka ya...

Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....

Menolong om-om dan Keputusan Aulia

GLEK

Melihat tas melayang, tentu saja membuat pria yang sedang bersandar di salah satu pohon. Merasa ketakutan, apa... tidak... jangan-jangan perempuan di depannya adalah hantu. Lagipula, mana mungkin ada manusia yang tinggal di hutan lebat seperti ini.

"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku manusia tulen." ucap Aulia, yang seolah tau. Apa yang ada dalam pikiran pria, yang akan dia tolong.

"M-maaf, tapi... itu..." ucap pria itu dengan tergagap

"Dia setan" jawab Aulia singkat padat dan jelas

Bilal yang mendengar jawaban Aulia, merasa tersinggung padahal iya.

'Tapi kenapa rasanya kesal sekali mendengarnya' gumam Bilal, Kia menepuk bahunya

'Sabar' ucapnya dengan sok bijak, Bilal hanya melirik sebal.

"Aku panggil apa ya? Om?" tanya Aulia, nampak berpikir

"Ck, apa aku terlihat setua itu? Usiaku baru 28 tahun, Aaarrgghhhtt." tanya pria itu lemah, ia merasakan nyeri pada perutnya.

"Hei... sudah benar aku memanggilmu om, usia kita selisih 12 tahun. Apa mau aku panggil kakek??" ucap Aulia, ia membuka sabuk parasut yang ada di perut pria itu. Ada luka tembak, Aulia menekan sedikit di sekitar luka.

"AARRGGHHTT" teriak pria itu

"Rongga perut atau abdomen dibatasi oleh diafragma di bagian atas dan panggul di bagian bawah. Di dalamnya terdapat sistem pencernaan, sistem kemih, dan sebagian sistem endokrin." gumam Aulia

"Beruntung peluru tidak sampai mengenai organ vital, ada 2 senti lagi sampai ke lambung. Meskipun posisinya agak ke tengah, sebagian besar massa lambung berada di sisi kiri atas." lanjut Aulia, ia mengambil kotak yang berisi jarum akupuntur.

Aulia menusuk di beberapa bagian tubuh pria itu, terutama di sekitar luka. Dengan tujuan menghentikan aliran darah dan bius lokal di sekitar luka, ia akan mengambil peluru yang bersarang di dalam tubuh pria tersebut.

"A-apa yang akan kamu lakukan?" tanya pria itu kaget

"Bila ingin tetap hidup, diam lah." jawab Aulia, ia menyiram pisau kecil dan pinset dengan alkohol. Beruntung ia membawa tas P3K miliknya, sehingga bisa langsung melakukan pertolongan.

'Kamu yakin akan melakukan hal itu di tempat ini?' tanya Kia ngeri

'Diam' ucap Bilal, Kia langsung merengut kesal.

Sreett

Aulia sedikit menyayat kulit perut pria tersebut, dengan konsentrasi tinggi Aulia mengambil peluru tersebut. Lanjut ia menjahit bekas sayatan, yang ia buat. Pria yang sejak tadi diam, fokus melihat wajah cantik Aulia. Setelah selesai menjahit, Aulia mencabut jarum akupuntur satu per satu. Aulia menutup luka, menggunakan perban. Ia lilitkan perban itu, sehingga membuat Aulia seolah hendak memeluk pria tersebut.

"Huft... selesai" ucap Aulia, seraya membereskan semua alatnya.

'Lia, apa kamu ga penasaran sama wajahnya?' tanya Kia, membaut Aulia sempat terdiam. Ia pun hendak membuka topeng, sedikit lagi tangannya sampai ke topeng...

"TUAN MUDAAAAA" terdengar teriakan seseorang, membuat Aulia mengurungkan niatnya.

"Sudahlah, lagipula kita tak kan bertemu lagi. Aku pamit ya om, lekas sembuh. Ohh... hampir lupa" Aulia mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya, lalu ia berikan pada pria itu.

"Tubuhmu terkena racun, minum satu setiap kali merasakan sakit. Obat ini hanya membantumu menekan racun, good luck!!" ucap Aulia, seraya menggendong tasnya. Lalu ia pergi meninggalkan pria itu, dengan ilmu meringankan tubuh.

"TUNGGU... AARRHHHTT... siapa dia? Dia pasti bukan gadis biasa, ilmu beladiri nya sangat tinggi." ucap pria itu, seraya memegang perutnya yang terasa nyeri.

"Tuan muda, anda terluka." ucap seorang pria, yang merupakan tangan kanan pria yang terluka.

"Aku... aku baik-baik saja, beruntung ada orang yang menolong ku." ucap pria tersebut

"Apa luka tuan muda..

"Berhenti memanggilku tuan muda, Dzak" tegur si pria

"Ok ok... lu ga papa kan Fis? Luka lo... udah di balut?" pria yang di panggil Fis mengangguk

"Penolong gue benar-benar hebat, sudahlah bantu gue bangun. Kita pulang sekarang, apa lu udah cari tau siapa pelakunya?" tanya si tuan muda

"Ya, sekarang dia sudah ada di markas." jawab Dzaki

Mereka pun pergi dari hutan tersebut, sudah ada helikopter tak jauh dari mereka. Hanya saja tak bisa turun, karena terhalang pepohonan. Sehingga hanya bisa terbang, dengan menurunkan tangga tali.

Dengan bantuan anak buah lainnya, mereka pun naik dengan selamat.

Tuan muda yang bernama Gaishan Hafis Raffasya, seorang CEO berusia 28 tahun. Yang sukses membangun sebuah perusahaan, dalam waktu 5 tahun. Bersifat dingin, tegas dan di kenal kejam oleh pesaing bisnis nya. Namun begitu menyayangi nenek dan ibunya, memiliki ibu tiri dan adik tiri perempuan. Karena sang ayah, yang menikah lagi. Sejak itulah, Hafis mengajak nenek dan ibunya untuk tinggal bersamanya.

Tangan kanan sekaligus sahabat nya bernama Dzaki Mahir, pria cerdas, serba bisa dan cekatan. Sudah ikut Hafis, sejak pria itu memulai untuk membangun perusahaan.

'Semoga kita bertemu lagi' ucap Hafis dalam hati

.

.

"Ingat pulang kamu" tegur kakek Pamir, sang cucu memanyunkan bibirnya.

"Kakek udah ga menginginkan Aulia, kakek udah ga sayang Aulia. Makanya kakek usir Aulia kan?" balas Aulia

"Haishh... Mana mungkin kakek tidak menginginkan mu, tidak mungkin kakek tidak menyayangimu. Kakek hanya ingin kamu tumbuh, seperti anak remaja pada umum nya. Mengenal dunia luar, mendapatkan teman yang benar-benar setia padamu. Mendapatkan pengalaman baru, yang bisa membuatmu tertawa dan menangis bersama teman-teman mu. Apa permintaan kakek terlalu berlebihan?" ucap kakek Pamir, membuat Aulia menunduk diam.

Kalo di pikir-pikir, benar juga. Tak ada salahnya, dia menuruti keinginan kakeknya.

"Tapi kalo Aulia lama di kita, tidak akan ada acara kencan buta. Seperti orang-orang kaya lain kan, seandainya Aulia lebih nyaman sendiri." ucap Aulia, kakek Pamir terdiam

'Untuk sementara iyakan saja, yang penting anak ini mau ke kota.' ucap kakek Pamir dalm hati

"Ya, yang penting kamu mau ke kota. Sekolah seperti anak-anak normal pada umumnya, bisa?" Aulia memutar malas bola matanya

"Baiklah kakang prabu, cucunda ini akan menuruti kemauan kakang prabu." jawab Aulia

"YESSS!!! Jangan berubah pikiran, TIDAK BOLEH!!!" ucap kakek Pamir penuh penekanan, wajahnya terlihat raut bahagia.

"Iya iya" balas Aulia

"Dua minggu lagi sudah ajaran baru, kakek akan mendaftarkan mu ke SMA milik kakek. Terserah mau menyembunyikan identitas, atau mau terang-terangan menunjukkan identitas kamu." ucap kakek Pamir

"Sembunyikan" ucap Aulia cepat

"Bukannya kakek bilang, supaya Lia dapet temen yang setia kawan. Berarti harus nerima Aulia, saat Aulia tak punya kekayaan melimpah bukan?" lanjut Aulia, membuat kakek Pamir mengangguk setuju

"Kamu benar, kalau begitu biar kakek Fauzi yang mengurusnya. Kamu bersiaplah, bawa juga teman tak kasat matamu." jawab kakek Pamir

Aulia melihat ke arah Bilal dan Kai, Bilal terlihat menghela nafas. Meski sudah tak bernafas, wkwkwk.

'Aku akan di sini, menjaga kakek mu dan yang lain. Kamu pergilah dengan Kia, kalo ada apa-apa, aku akan mengabari mu.' ucap Bilal, Aulia mengangguk setuju. Bilal memang bisa di andalkan, dia sudah seperti kakak lelaki bagi Aulia.

...****************...

Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....

Hari Keberangkatan

Seminggu sebelum Aulia masuk sekolah, ia kini tengah berada di kebun tanaman herbal nya. Aulia terlihat lesu, ia malas-malasan menyiram tanaman miliknya itu.

'Kamu terlihat tidak bersemangat' ucap Kia

"Menurutmu?" tanya Aulia malas

'Masih berat meninggalkan kakek?' tanya Bilal, Aulia mengangguk

"Bagiku... kakek adalah segalanya, hartaku yang paling berharga setelah kedua orang tua ku. Ini kali pertama aku harus jauh dari kakek, rasanya seperti ada batu besar di hati." jawab Aulia, ia mendudukkan diri di atas tanah. Tak peduli kotor, tak peduli basah.

"Kalian tau bukan, kalo kakek sudah mengurusku sejak usia ku 3 tahun. Aku yang saat itu melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana kecelakaan itu terjadi, aku yang di peluk erat oleh ibuku. Agar nyawaku, tetap berada di dalam ragaku. Membuat mereka tiada, sedangkan aku koma selama 3 bulan. Kejadian itu, takkan pernah aku lupakan." Aulia menghembuskan nafas panjang

"Meski pelaku sudah di adili dan mendapatkan hukuman mati, tapi rasa trauma itu takkan pernah benar-benar hilang. Tapi... kasih sayang yang kakek berikan padaku, sudah cukup menggantikan orang tuaku. Kakek akan melakukan apa pun untukku, kakek akan selalu ada di garda paling depan, saat aku membutuhkannya. Jadi... kalian paham kan maksud ku?" Bilal dan Kia mengangguk

'Dari koma mu, kamu bisa melihat kami berdua. Dan juga... melihat mereka' ucap Kia, Aulia mengangguk

"Mata batin ku terbuka, aku juga tau. Kalo sebenarnya, kalian bukan hanya sekedar arwah. Tapi... kalian adalah penjaga keluarga ku, secara turun temurun. Hanya saja, saat ayah ku.... kalian tidak ada di dekat nya. Bukan... tapi, semuanya sudah takdir." balas Aulia, membuat Bilal dan Kia terkejut

'Sejak kapan kamu tau?' tanya Bilal

"Mmm... sejaaaakkk... usiaku 5 tahun? Aku melihat kalian pergi dari kamar, kamu... berubah menjadi seekor singa." jawab Aulia, seraya menunjuk Bilal

"Dan kamu... seekor serigala putih." tunjuk Aulia pada Kia

Kedua sosok itu, tak bisa mengelak lagi. Karena apa yang di katakan Aulia, adalah sebuah kebenaran.

'Baguslah kalo kamu sudah tau' ucap Kia

'Sebaiknya... kamu segera pergi ke kota, urusan di sini ada aku yang mengurus nya.' ucap Bilal

"Ck... kamu mengusirku" ucap Aulia, ia menyipitkan kedua matanya

'YA' Aulia bangun, ia pergi dengan menghentakkan kaki. Ia pergi meninggalkan taman, melalui jalan samping rumah.

'Kamu ini..' tegur Kia, seraya menggelengkan kepalanya

'Dia memang harus sedikit di kerasi, kalo tidak akan semakin sulit.' balas Bilal

'Kamu sangat menginginkan Aulia pergi?' tanya Kia, Bilal mengangguk

'Ya, benar apa kata Pamir. Anak itu harus melihat dunia luar, agar tak terkurung di dalam dunia kecil ini.' jawab Bilal, seraya menapakkan kaki ke tanah. Lalu ia melangkahkan kakinya, menuju ke dalam rumah. Saat di palang pintu, ia menepuk pelan pundak kakek Pamir.

"Terima kasih" ucap kakek Pamir

'Sudahlah, aku hanya membantumu sedikit. Karena aku tak tau, kapan kamu akan mati.' balas Bilal, seraya berlalu pergi meninggalkan kakek Pamir.

Selama ini, kakek Pamir bisa melihat Bilal dan Kia. Hanya saja, di depan Aulia... dia berpura-pura tak melihat keduanya.

'Benar, waktu ku tak banyak. Sebelum aku pergi, aku ingin Aulia mendapatkan seseorang yang bisa ia percaya. Yang bisa menjaga dan menyayanginya, entah itu teman atau calon pendamping. Yang pasti Aulia tak sendiri, saat aku pergi nanti.' ucap kakek Pamir dalam hati.

.

.

Hari keberangkatan pun tiba, 3 hari sebelum masuk ajaran baru. Kini Aulia sedang memeluk erat sang kakek, ia menangis sesenggukan.

"Kakek yakin, kakek tidak apa-apa Aulia tinggal?" tanya Aulia, kakek Pamir mengusap sayang kepala cucunya.

"Ada kakek Fauzi, ada para pegawai juga. Kakek tidak sendiri di sini sayang, kamu harus bisa jaga diri. Karena di sana hanya bertiga, dengan ibu Ulfa dan suaminya." jawab kakek Pamir, Aulia melerai pelukannya

"Kakek harus janji, sering-sering hubungi Aulia. Kalo kakek absen, Aulia akan langsung kembali ke sini." ancam Aulia, kakek tersenyum dan menggelengkan kepalanya

"Kalo kakek lupa bagaimana? Kamu tau kan, usia kakek sudah tak muda lagi." balas kakek Pamir

"Aulia yang akan menghubungi kakek" ucap Aulia, membuat kakek Pamir tertawa

"Kalo kakek tidak bisa menghubungimu karena sibuk, kakek akan menghubungi ibu Ulfa dan pak Amir. Jangan khawatirkan kakek, kakek banyak yang menemani di sini." kakek Pamir terus meyakinkan Aulia

"Sebenarnya untuk apa Aulia kembali ke SMA, semua pelajaran sudah Aulia kuasai. Untuk apa ijazah Sarjana dan master, kalo akhirnya harus kembali ke tingkat SMA?" keluh Aulia

"Untuk membangun sosialisasi mu, dengan orang lain. Sudah sana berangkat, helikopter sudah menunggu sejak tadi. Nanti akan mendarat di atas rooftop perusahaan, kamu memakai masker bila ingin menyembunyikan identitas." kakek Pamir mendorong Aulia

"Ya sudah, Aulia berangkat. Assalamu'alaikum" Aulia mencium punggung tangan kakek Pamir dan kakek Fauzi, lanjut bu Ulfa dan pak Amir. Mereka pun berpamitan, juga meminta kakek Pamir agar menjaga diri.

Kakek Pamir menatap punggung sang cucu, yang terlihat semakin jauh. Ia menghembuskan nafas panjang, akhirnya sang cucu mau turun gunung.

"Sudah sudah, ayo masuk. Cucumu sudah menurut, giliran tuan yang harus menurut." ucap pak Fauzi

"Cerewet kamu, ku kira telinga ini akan sedikit tenang. Setelah kepergian Aulia, ternyata ada penggantinya." gerutu kakek Pamir, pak Fauzi tertawa

Sedangkan di pintu, masih ada Bilal yang menatap sendu gadis kecil nya. Kia melambaikan tangan, Bilal tersenyum.

'Semoga kamu mendapatkan orang-orang, yang tulus berteman denganmu.' ucap Bilal, lalu ia pun menghilang

.

.

"Non Lia mau makan?" tanya ibu Ulfa, Aulia menggelengkan kepalanya

"Ibu, sekarang ibu dan bapak berperan sebagai orang tua Aulia. Masa masih manggil non sih, lagian Aulia kan ga suka ibu dan bapak manggil nona." jawab Aulia, sepasang suami istri itu saling tatap.

"Kalo ibu sama bapak ga nurut, pulang sana. Ga usah ikut Aulia, biarin Aulia sendirian." ucap Aulia

"Tidak tidak nona, ahh... m-maksudnya Lia. Jangan pulangkan ibu dan bapak, kami sudah berjanji akan menjaga Lia." ucap bu Ulfa, Aulia tersenyum

"Nah... gitu kan enak dengernya, Aulia mau tidur ya bu. Kalo udah sampe, bangunin aja Lia." ibu Ulfa mengangguk

Aulia menyandarkan punggungnya, pada sandaran kursi helikopter. Ia memejamkan kedua matanya, terbuai ke alam mimpi. Mungkin karena terlalu banyak menangis, saking tak mau berpisah dengan sang kakek. Sehingga kelopak matanya, terasa begitu berat.

Bu Ulfa mengambil selimut, dari dalan tas yang ia bawa. Lalu ia tutupi tubuh Aulia, ia merapihkan rambut Aulia dan tersenyum.

"Kita harus menjaga noan Aulia, bu. Tuan besar dan nona Aulia, sudah banyak membantu keluarga kita. Terutama kedua putra kita, yang kini kuliah dengan full beasiswa daru tuan besar." ucap pak Amir

"Tentu saja pak, meski nyawa taruhannya. Ibu akan menjaga non Lia, dengan sangat baik." balas ibu Ulfa

...****************...

Seperti biasa ya, untuk awal 3 bab. Tapi buat selanjutnya 1 bab per hari, karena aku ga ada tabungan. Tadinya ga akan rilis dulu, tapi gemasssss😆

Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!