Laluna dengan masker yang menutupi wajahnya dan satu kantong makanan di tangannya, ia melangkah menuju apartemen dimana sang kekasih berada, Kevin Mahesa.
Hubungan mereka sudah terjalin selama 5 tahun. Walau mereka saling sibuk karena pekerjaan masing-masing, mereka tetap berusaha mempertahankan hubungan itu. Kevin adalah satu-satunya pria yang selalu membuat Laluna percaya bahwa cinta mereka akan bertahan selamanya.
Hari ini, Laluna sengaja datang tanpa memberi tahu Kevin. Ia ingin memberikan kejutan kecil setelah beberapa minggu mereka jarang bertemu karena jadwal mereka yang begitu padat.
Dengan senyum kecil di wajahnya, Laluna menekan bel apartemen Kevin. Tidak ada jawaban. Laluna yang tahu bahwa apartemen kekasihnya itu jarang sekali dikunci segera membukanya. Benar saja, pintu tersebut dengan sangat mudah terbuka.
Laluna segera melangkah masuk kedalam apartemen itu. Namun, langkahnya terhenti saat terdengar suara desahan dari arah kamar tidur. Laluna yang mendengar itu mengernyit.
'Suara apa itu? Siapa yang ada disini, kenapa aku mendengar desahan seorang wanita,' batinnya.
Laluna yang penasaran segera melangkah menuju ke dekat kamar itu mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia salah mendengar. Namun, semakin Laluna mendekat. Suara desahan itu semakin terdengar menusuk ke telinganya. Saat ia sampai di depan pintu itu, pintu itu terbuka sedikit yang bisa membuat Laluna melihat siapa orang yang ada di dalam sana.
"Ah... Ah, lebih cepat, sayang," suara wanita terdengar mendesah.
Laluna yang mendengar itu memicingkan pandangannya mencoba melihat jelas siapa orang yang tengah melakukan adegan dewasa di kamar kekasihnya itu. Saat terdengar lagi suara pria yang tak asing bagi Laluna, ia membulatkan matanya.
"Enak kan sayang? Aku cinta sama kamu," suara pria itu terdengar manja dan dari balik pintu terdengar pria itu tengah memeluk wanita yang telanjang bulat.
'Kevin? Kenapa dia berani menyelingkuhiku?' batin Laluna, tangannya mulai mengepal.
Saat melihat wanita yang berada di pelukan sang kekasih adalah asistennya,Selena Aveline. Amarah dari Laluna mulai membuncah, ia segera menendang pintu itu dengan kasar yang membuat Kevin dan Selena terkejut. Selena yang melihat bosnya datang segera mengambil pakaiannya dan memakainya dengan cepat. Sedangkan Kevin, yang kepergok selingkuh segera meraih celana yang tak jauh dari arahnya dan memakainya.
Laluna dengan nafas yang tersengal sengal, akibat amarah yang sudah lagi tidak bisa ia bendung segera menampar Kevin dengan kencang yang membuat pria itu meringis kesakitan.
"Dasar pasangan mesum! Berani sekali kalian mengkhianati ku!" teriak Laluna.
Kevin terdiam membeku. Tidak pernah sedikit pun ia membayangkan Laluna akan datang dan melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
"Lu... Luna, dengarkan aku dulu," ucap Kevin terbata-bata sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparan itu.
Namun, tatapan Laluna yang biasanya penuh kasih kini berubah menjadi tatapan penuh kekecewaan dan kemarahan.
"Mendengarkan apa?" bentak Laluna. "Alasanmu? Atau kebohongan lain yang akan kamu buat supaya aku percaya padamu?"
Kevin membuka mulutnya, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki alasan untuk membela diri. Selena yang sudah mengenakan pakaiannya perlahan mendekati Kevin. Wanita itu tidak terlihat takut sedikit pun, bahkan ada senyum tipis yang tersungging di wajahnya.
"Luna, jangan salah paham..." kata Selena dengan nada tenang yang justru membuat Laluna semakin muak.
"Salah paham?" Laluna tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar pahit. "Aku melihat kalian berdua di tempat tidur. Aku mendengar semuanya dengan telingaku sendiri. Lalu kamu bilang aku salah paham?Enak sekali kau berkata seperti itu, kamu kira aku bodoh?"
Selena terdiam sesaat, lalu menyilangkan tangannya di depan dada.
"Kevin dan aku memang sudah lama dekat."
Mata Laluna langsung menatap Selena tajam. "Apa maksudmu?"
Selena melirik Kevin sebentar sebelum kembali menatap Laluna.
"Aku dan Kevin sudah bersama bahkan dari kamu dan Kevin berpacaran," ujarnya, santai.
Jantung Laluna seakan berhenti berdetak. Pengkhianatan yang sudah terjadi begitu lama membuat Laluna semakin merasa terkhianati. Sikap Kevin yang selalu peduli dan menerima semua kesibukannya ternyata hanya sebuah kepalsuan yang diperlihatkan pria itu.
"Apa benar yang dikatakan wanita itu?" suara Laluna bergetar. "Kevin?"
Kevin menundukkan kepalanya. Sikap diamnya justru menjadi jawaban paling menyakitkan bagi Laluna. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tetapi ia menahannya mati-matian. Ia tidak ingin menangis di depan dua orang yang sudah menghancurkan harga dirinya.
"Selama lima tahun..." bisiknya. "Lima tahun aku percaya sama kamu, tapi ini balasanmu. Kevin Mahesa!!!"
Laluna dengan amarah yang menggebu gebu menarik tangan Kevin dengan cepat. Kevin terkejut saat Laluna tiba-tiba menarik lengannya dengan kasar. Tidak ada lagi kelembutan yang biasanya ia lihat dari wanita yang telah menemaninya selama lima tahun.
"Luna! Lepaskan aku!" teriak Kevin panik.
Namun, Laluna tidak mendengarkan. Amarah, rasa kecewa, dan sakit hati yang selama ini ia tahan akhirnya meledak.
"Keluar!" bentaknya.
Selena yang berjalan di belakang mereka juga mulai kehilangan ketenangannya. Ia tidak menyangka Laluna yang selama ini dikenal sebagai wanita tenang bisa berubah seperti ini.
"Luna, jangan berlebihan!" ucap Selena kesal.
Mendengar itu, Laluna langsung berhenti berjalan. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang membuat Selena terdiam.
"Berlebihan?"
Laluna tertawa kecil, tetapi air matanya mulai jatuh tanpa ia sadari. "Aku memergoki kekasihku sendiri tidur dengan wanita lain di apartemen yang sudah aku beli. Dan siapnya, wanita itu adalah asistenku yang setiap hari bekerja bersamaku. Dan kamu masih bilang aku berlebihan?"
Selena mengeraskan rahangnya. "Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Yang aku tahu adalah kalian mengkhianatiku."
Laluna kembali menarik Kevin hingga pria itu terdorong keluar dari pintu apartemen.
"Pergi dari sini!Ini apartemen milikku!"
Kevin menatap Laluna dengan wajah penuh rasa bersalah. "Luna, tolong dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa?" teriak Laluna. "Bahwa kamu tidak sengaja mencintai wanita lain? Bahwa selama lima tahun aku hanya menjadi seseorang yang kamu pertahankan karena karirmu?"
Kevin terdiam. Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan apa pun. Selena yang berada di samping Kevin tiba-tiba tertawa kecil.
"Sudahlah, Kevin. Tidak perlu menjelaskan. Toh dia sudah tahu."
Tatapan Laluna langsung berpindah kepadanya. "Kamu puas?Jalang!"
Selena mengangkat alis. "Apa?"
"Kamu berhasil menghancurkan hubungan kami. Kamu berhasil mengambil seseorang yang aku percaya."
Selena tersenyum tipis. "Jangan menyalahkanku, Luna. Kalau Kevin benar-benar mencintaimu, dia tidak akan memilihku."
Ucapan itu membuat dada Laluna terasa sesak. Ia mengangkat tangannya dan menampar wanita itu di depan semua orang. Yang membuat Selena meringis kesakitan.
"Dasar pengkhianat! Pergi dari apartemenku! Dan jangan sampai aku melihat kalian di hadapanku lagi!"
Selena hanya tersenyum tipis melihat amarah dari Laluna, ia segera membantu Kevin bangkit untuk pergi dari Laluna. Namun, sebelum melangkah lebih jauh. Selena menoleh ke arah Laluna yang masih menatap benci ke arah mereka.
"Luna, nantikan kehancuranmu!" Senyum sinis terukir di wajah Selena.
Dering telepon terus menggema membuat Laluna yang baru saja terbangun kesal. Ia segera mengangkat telepon itu dengan pandangan yang terkantuk kantuk.
"Halo, ada apa sih pagi pagi buta nelpon?" Laluna dengan mata yang terpejam mengomel orang di balik telepon.
"Laluna! Kamu sudah lihat berita pagi ini?" suara panik terdengar dari seberang telepon.
Laluna yang masih setengah sadar mengernyitkan dahi. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar, memastikan siapa yang meneleponnya sepagi ini.
"Almira?" gumamnya pelan, mencoba memastikan apakah itu suara sahabatnya atau bukan.
"Ckk...Cepat buka ponselmu dan lihat media sosial."
Laluna menghela napas panjang. Ia masih terlalu mengantuk untuk memahami apa yang sedang terjadi.
"Kenapa sih? Baru jam segini sudah bikin panik. Aku bahkan baru tertidur 2 jam."
"Laluna, ini serius." Nada suara Almira membuat Althea akhirnya membuka matanya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa suaranya begitu panik."
"Kamu sedang menjadi berita utama. Cepat lihat, sebelum karirmu benar benar hancur."
Kalimat itu membuat kantuk Laluna langsung menghilang. Laluna segera duduk di atas tempat tidurnya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena bingung, ia membuka ponselnya. Puluhan notifikasi langsung memenuhi layar.
Pesan masuk. Panggilan tidak terjawab. Bahkan beberapa akun tidak dikenal mulai mengirimkan pesan kepadanya. Laluna mengerutkan kening saat membuka salah satu notifikasi dari media sosial.
Namun, begitu video itu muncul, wajah Laluna langsung berubah. Di layar ponselnya terlihat sebuah video yang memperlihatkan seorang wanita sedang menampar gadis lain di sebuah apartemen. Suara teriakan terdengar jelas dan yang membuatnya membulatkan matanya saat ia melihat wajah dirinya sendiri terlihat jelas sedang memukul asistennya.
Judul berita di atas video itu membuat Laluna benar benar membeku.
"Aktris Laluna Roselyn Terlibat Skandal, Diduga Menyerang Asistennya Karena Kesalahan Sepele."
Laluna menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Dadanya terasa sesak melihat namanya terpampang di berbagai akun gosip. Jumlah komentar terus bertambah setiap detiknya, sebagian besar menghujatnya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Aktris sok suci ternyata begitu keji dengan asistennya sendiri."
"Kasihan asistennya, bagaimana bisa dia mendapatkan bos seperti itu."
"Kariernya tamat. Industri hiburan tidak akan menerima orang seperti dia."
Jari Laluna gemetar saat menggulir layar. Setiap komentar terasa seperti pukulan yang menghantam dirinya berkali-kali.
"Tidak... ini bukan seperti itu," bisiknya pelan.
Almira yang masih terhubung melalui telepon segera bertanya dengan suara cemas.
"Laluna, kamu sudah lihat?Tenang Luna, jangan terlalu dipikirin. "
Laluna tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada video tersebut. Video itu hanya memperlihatkan dirinya yang berteriak, menangis, lalu memukul wanita bernama Clara yang merupakan asistennya. Tidak ada bagian saat ia menemukan Selena bersama kekasihnya di kamar. Tidak ada bagian saat ia melihat pesan mesra mereka. Tidak ada bagian saat hatinya hancur mengetahui dua orang yang paling ia percaya mengkhianatinya. Semuanya dipotong.
"Mereka mengedit videonya..." suara Laluna bergetar.
"Aku tahu. Aku yakin ada yang sengaja menyebarkannya," jawab Almira cepat. "Tapi masalahnya, video itu sudah viral. Agensi kamu juga pasti sedang panik."
Laluna menutup matanya, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.
"Aku tidak peduli soal komentar mereka, Mir. Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?"
Sebagai seorang aktris, nama adalah segalanya. Satu skandal bisa menghancurkan bertahun-tahun usaha yang ia bangun. Dan itu lah membuat dunia Laluna benar benar runtuh, karir yang sudah ia bangun bertahun tahun akhirnya benar benar tamat hanya karena skandal.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah kamar apartemennya.
"Laluna!" Suara manajernya membuat Laluna tersentak.
"Bu Rania?" gumamnya.
Ia segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Wanita berusia empat puluh tahun itu berdiri di depan kamar dengan wajah serius, ditemani beberapa staf agensi.
"Kita harus bicara sekarang," ujar Rania tanpa basa-basi.
Laluna menatap mereka dengan bingung. "Apakah agensi juga percaya kalau aku melakukan semua itu?"
Rania terdiam beberapa detik. Tatapannya menunjukkan kekhawatiran, bukan kemarahan.
"Aku tidak peduli dengan rumor. Aku sudah bekerja denganmu bertahun-tahun, aku tahu seperti apa dirimu."
Laluna sedikit lega mendengarnya.. "Tapi publik tidak mengenalmu seperti aku mengenalmu," lanjut Rania. "Dan saat ini mereka hanya melihat satu hal... seorang aktris terkenal yang menyerang asistennya karena masalah sepele."
Laluna menunduk. Pikirannya kalut, ia tidak bisa memikirkan jalan keluar dari fitnahan yang dilontarkan kepadanya. Manajernya itu segera menyodorkan tabletnya ke arah Laluna.
" Selena sudah membuat klarifikasi, sepertinya netizen sudah berpihak kepada mereka. Mau tidak mau kita harus mundur dan menunggu konflik ini reda."
Laluna masih menatap layar tablet di tangannya. Di sana terpampang wajah Selena yang terlihat menangis di depan kamera, mengenakan pakaian sederhana seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah korban.
"Saya tidak pernah menyangka kejadian seperti ini akan terjadi. Saya hanya menjalankan pekerjaan saya sebagai asisten Laluna. Saya tidak tahu kenapa dia begitu marah kepada saya."
Suara Selena terdengar bergetar dalam video klarifikasi itu. Namun, yang paling membuat Laluna semakin muak adalah komentar di bawahnya. Para netizen kembali membelanya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Selena sabar banget menghadapi Laluna."
"Laluna harus minta maaf!"
"Kasihan Kevin, pasti tertekan punya pacar seperti Laluna."
Laluna tertawa kecil tanpa rasa bahagia. Tawanya terdengar getir.
"Mereka benar-benar pintar memainkan peran, dasar dua orang sialan, " gumamnya.
Rania yang berdiri di depannya menghela napas panjang. "Laluna, aku tahu kamu sedang marah. Tapi saat ini kita tidak boleh bertindak gegabah. Jangan membuat pernyataan apapun sebelum kita memiliki bukti yang kuat."
"Bukti?" Laluna menatap Rania dengan mata berkaca-kaca. "Bu Rania, aku melihat mereka dengan mataku sendiri. Aku melihat mereka sedang beradegan intim di hadapanku sendiri!"
"Aku percaya padamu," jawab Rania cepat. "Tapi hukum dan publik tidak bekerja berdasarkan apa yang kita percaya. Mereka butuh sesuatu yang bisa membungkam semua orang."
Kata-kata itu membuat Laluna terdiam. Dia tahu Rania benar. Tapi tetap saja rasanya menyakitkan. Orang yang selama ini ia cintai justru menjadi orang yang menghancurkan hidupnya. Kevin, pria yang selama lima tahun selalu ia bela, ternyata diam-diam menjalin hubungan dengan Selena di belakangnya.
Sedangkan Selena...
Wanita yang selalu ia anggap seperti adik sendiri. Laluna masih ingat bagaimana ia membantu Selena ketika pertama kali menjadi asistennya. Ia memberinya kesempatan saat tidak ada agensi lain yang mau menerimanya. Ia bahkan memperkenalkan Selena kepada orang-orang industri hiburan agar kariernya bisa berkembang.
Namun sekarang, wanita itu justru menusuknya dari belakang. Ponsel Laluna kembali bergetar. Sata melihat notif dari sang ibu muncul, Laluna benar benar merasa bahwa karir yang sudah ia bangun harus hancur begitu saja.
"Sudah mama katakan jangan ke dunia entertainment seperti itu! Cepat pulang atau kamu akan malu selamanya!"
Laluna menatap ke arah pintu besar di hadapannya, ia menarik napasnya sebelum membuka pintu itu. Setelah 6 tahun ia meninggalkan keluarga dan rumahnya, di saat hidupnya tersandung skandal ia kembali melangkah ke rumahnya.
"Pulang juga kamu." Suara seorang wanita paruh baya terdengar saat Laluna sudah benar benar masuk ke dalam rumah itu.
Laluna memejamkan matanya sejenak, mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi omelan yang akan dilontarkan ibunya.
"Hehehe... Mama, aku kangen sekali denganmu." Senyum sumringah terpancar di wajah cantik Laluna.
Sang ibu, Ratna Roselyn segera memutar bola matanya sata melihat Laluna tiba tiba memeluknya.
"Lihat, kecerobohan apa lagi yang kamu buat! Sudah mama katakan lebih baik kamu urus perusahaan dari pada harus terjun ke dunia seperti ini yang dimana kamu berbuat salah sedikit saja nama kamu akan tercoreng."
Laluna yang masih memeluk ibunya hanya bisa tersenyum kaku mendengar omelan tersebut. Ia tahu masalah yang telah ia sebabkan kali ini lebih besar dari masalah masalah kecil yang selalu ia lakukan. Ia perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wanita di depannya.
"Aku baru masuk rumah, Ma. Belum sempat duduk, tapi Mama sudah memarahiku."
Ratna mendengus pelan, lalu berjalan menuju ruang tengah.
"Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kamu selalu menganggap semua masalah itu masalah sepele. Dan sekarang? Kamu sudah di fitnah seperti ini bagaimana?"
Laluna mengikuti langkah ibunya dengan senyum kecil yang mulai menghilang.
Ia tahu alasan sebenarnya ia datang ke rumah ini. Bukan hanya karena ingin menghindari wartawan yang mulai mengejar apartemennya. Bukan juga hanya karena membutuhkan tempat untuk bersembunyi dari sorotan publik.
Tetapi karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia membutuhkan keluarganya. Setelah pengkhianatan dan fitnah yang menimpanya, ia benar benar merasa tidak ada orang yang peduli dengannya kecuali keluarganya sendiri terutama sang mama.
"Skandal itu sudah besar sekali," lanjut Ratna sambil mengambil koran yang terletak di meja. "Bahkan nama keluarga kita ikut terseret."
Laluna terdiam. Tatapan ibunya yang biasanya tegas kini terlihat lebih lelah daripada marah.
"Mama tidak bisa menyelesaikan masalah ini, masalah ini begitu besar dan tidak akan mudah menutup berita berita itu. Kau ini dasar ceroboh sekali, bagaimana bisa kamu tidak sadar sedang direkam."
Laluna segera mendekat ke arah ibunya, ia menatap ibunya dengan wajah cemberut.
" Aku sudah kepalang kesal ma, bagaimana bisa aku diam saja saat melihat orang yang aku percaya malah mengkhianatiku. Aku memukul Selena karena dia begitu nekat merebut Kevin dariku!" Laluna mulai membela dirinya.
Sang ibu segera duduk di sofa yang tak jauh dari arahnya, ia memijat pelipisnya yang terasa begitu pusing untuk menghadapi masalah putri tunggalnya itu.
"Lebih baik, kamu keluar saja dari industri itu. Mama sudah tidak sanggup untuk Back up semua masalah yang selalu kamu buat," ujar sang ibu, akhirnya.
Laluna terdiam mendengar perkataan ibunya. Senyum kecil yang tadi masih tersisa di wajahnya perlahan menghilang. Keluar dari industri hiburan? Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Laluna itu seperti meminta dirinya menyerahkan separuh hidupnya.
"Ma..." panggilnya pelan.
Ratna masih memijat pelipisnya, tidak berani menatap mata putrinya.
"Mama tahu kamu mencintai dunia itu. Mama tahu kamu sudah bekerja keras selama bertahun-tahun. Tapi lihat keadaanmu sekarang."
Ratna menunjuk koran yang masih berada di atas meja. "Orang-orang yang tidak mengenalmu berhak menghancurkan namamu hanya karena satu video. Setiap langkahmu diawasi. Setiap kesalahanmu dibesar-besarkan."
Laluna mengepalkan tangannya. "Tapi aku tidak salah. Semua masalah itu hanyalah fitnah!"
"Aku tahu." Jawaban cepat Ratna membuat Laluna terdiam.
Wanita itu akhirnya menatap putrinya. "Mama tahu kamu tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan. Tapi dunia tidak peduli dengan alasanmu, Lala."
Mendengar panggilan kecil itu, mata Laluna sedikit berkaca-kaca.. Sudah lama ibunya tidak memanggilnya seperti itu.
"Mama hanya takut melihat kamu terus terluka karena sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan."
Laluna menunduk. Selama ini ia selalu berpikir keluarganya tidak pernah mendukung keputusannya menjadi aktris. Ia berpikir mereka hanya kecewa karena dirinya menolak meneruskan perusahaan keluarga.
Namun sekarang, ia baru menyadari. Mungkin mereka bukan tidak mendukungnya.. Mereka hanya takut kehilangan dirinya karena dunia entertainment cukup kejam.
"Aku tidak bisa berhenti, Ma." Suara Laluna terdengar pelan, tetapi penuh keyakinan.
Ratna menghela napas.. "Laluna..."
"Aku tahu ini sulit. Aku tahu semua orang membenciku sekarang. Aku tahu mungkin karierku akan hancur." Ia menarik napas dalam-dalam. "Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja."
Ratna menatap putrinya. Ia tahu tekat akan putrinya untuk berhasil di dunia akting begitu besar. Laluna menatap foto dirinya saat memenangkan penghargaan yang terpajang di sudut ruangan. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, saat ia pertama kali membuktikan bahwa dirinya bisa sukses tanpa bantuan keluarga.
"Aku membangun semua karirku dari nol, Ma." Suaranya mulai bergetar. "Aku meninggalkan rumah ini bukan karena aku tidak mencintai kalian. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri dengan namaku sendiri."
Ratna terdiam.
"Aku tidak mau semua yang aku perjuangkan selama enam tahun hilang karena dua orang yang mengkhianatiku. Aku tidak bisa membiarkan dua pengkhianat itu menang."
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah itu, tatapan Laluna terlihat penuh tekad.
"Aku akan membersihkan namaku."
Ratna memperhatikan putrinya lama. Kemudian ia menghela napas panjang.
"Dasar keras kepala. "
Laluna tersenyum kecil. "Bukankah mama juga keras kepala," godanya.
Ratna hampir tersenyum, tetapi ia segera mengalihkan wajahnya. "Jangan pikir karena Mama mengizinkan kamu tetap menjadi aktris, Mama akan membantu menutupi semua masalahmu."
Laluna yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya, sejujurnya ia sendiri tidak tahu harus bagaimana menyelesaikan skandal itu. Bahkan bukti pun ia tidak punya. Laluna menghela napasnya lalu menyenderkan punggungnya dipinggir sofa. Tatapannya menatap langit langit rumah mewah itu.
"Kalau mama tidak mau menyelesaikan masalahku aku harus bagaimana," gumamnya.
Sang ibu yang masih bisa mendengar gumaman dari putrinya itu segera menoleh.
"Bukankah kamu tadi sudah yakin, akan berhasil membersihkan namamu. Kenapa sekarang wajahmu terlihat lesu."
Laluna segera menatap ibunya lekat lekat, dengan sifatnya yang manja ia segera mendekat dan merangkul tangan ibunya. Ia terus menggoyang goyangkan tangan ibunya. Wajahnya dibuat begitu menyedihkan.
" Ayo lah ma, bantu Lala sekali lagi, " ujarnya, memelas.
Ratna menatap tangan putrinya yang terus menggoyang lengannya. Tingkah Laluna yang sejak kecil tidak pernah berubah itu membuatnya hampir kehilangan ketegasan. Namun, ia segera menarik tangannya perlahan dan berusaha memasang wajah serius.
"Laluna, kamu pikir masalah ini bisa selesai hanya dengan meminta bantuan Mama?" tanyanya.
Laluna langsung menggeleng cepat. "Tidak, Ma. Aku tahu Mama tidak bisa menghapus masalah ini begitu saja." Ia menunduk sebentar. "Tapi setidaknya aku butuh seseorang yang percaya padaku."
Ucapan itu membuat Ratna terdiam. Selama beberapa hari terakhir, Laluna pasti sudah mendengar banyak hinaan dari orang-orang. Publik yang dulu memujanya kini berbalik menyerangnya. Teman-teman di dunia hiburan mungkin mulai menjauh, dan semua orang menunggu kehancurannya.
Sebagai seorang ibu, Ratna tahu putrinya sedang berusaha terlihat kuat. Padahal sebenarnya ia sedang sedih dan ketakutan
"Kamu benar-benar tidak mau menyerah?" tanya Ratna pelan.
Laluna menggeleng tanpa ragu. "Tidak.Aku tidak akan menyerah begitu saja. "
"Meski semua orang membencimu?"
"Aku akan tetap membuktikan kebenarannya."
"Meski kariermu tidak akan kembali seperti dulu?"
Laluna terdiam beberapa detik. Kemudian ia tersenyum kecil. "Kalau memang aku harus memulai dari nol lagi, aku akan melakukannya."
Tatapan Ratna berubah lembut. Anaknya memang keras kepala atau mungkin sangat keras kepala. Tetapi justru sifat itulah yang membuat Laluna bisa bertahan selama ini di dunia yang penuh persaingan.
Ratna menghela napas panjang. "Baik."
Mata Laluna langsung membesar. "Mama akan membantuku?"
"Jangan terlalu senang dulu." Ratna menunjuk wajah putrinya. "Mama akan membantu, tapi dengan satu syarat."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!