Indonesia
NovelToon NovelToon

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Episode 1

Bab 1 — Tikus dan Insinyur

Gigi kuning itu sudah menempel di pipinya ketika Tri membuka mata.

Bau bangkai menghantam lebih dulu. Lalu bulu kasar, napas panas, dan sepasang mata merah yang hanya berjarak satu telapak tangan dari wajahnya.

Seekor tikus sebesar kucing berjongkok di atas dadanya.

Tri tidak berteriak.

Bukan karena berani. Tubuh kecil yang ditempatinya bahkan tidak punya tenaga untuk itu. Tenggorokannya kering seperti diisi pasir. Demam masih membakar di balik kulit, sementara beban tikus di dadanya membuat setiap tarikan napas terasa seperti ditusuk kawat.

Tikus itu mengendus lagi. Ujung hidungnya menyentuh kulit Tri.

Mencari bagian yang paling lunak.

Tri menahan napas.

Jangan bergerak sembarangan.

Matanya menyapu ruangan tanpa mengubah posisi kepala.

Langit-langit retak. Dinding logam tipis penuh lubang. Selembar kain kumal menutupi separuh tubuhnya. Di sebelah tangan kanan ada kaleng kosong, dua potong kabel, serpihan besi, dan sebuah jam beker tua dengan satu kaki patah.

Tidak ada pisau. Tidak ada tongkat. Tidak ada tenaga untuk meninju.

Bagus sekali, pikirnya. Baru bangun, gue sudah masuk daftar makanan.

Pikiran itu bukan milik anak tujuh tahun.

Begitu pula gambar-gambar yang berdesakan di kepalanya: meja rancangan, lengan mekanis, rangka mesin setinggi gedung, ribuan bagian yang berputar dalam simulasi, lalu cahaya putih yang menelan segalanya.

Ingatan lain datang bersamaan, lebih kecil dan lebih kotor.

Planet 3212.

Planet tanpa nama yang hanya dikenal lewat nomor. Tempat kapal-kapal dari dunia makmur membuang apa pun yang tak lagi mereka inginkan.

Termasuk manusia.

Anak pemilik tubuh ini tidak punya nama keluarga. Orang tua kandungnya tidak diketahui. Seorang lelaki tua bisu menemukannya di antara peti logam dan memanggilnya Tri karena ia anak ketiga yang ditemukan hidup-hidup pada musim sampah tahun itu.

Dua anak sebelumnya tidak bertahan.

Lelaki tua itu meninggal sebulan lalu.

Demam menyusul tiga hari kemudian.

Anak itu berhenti bernapas beberapa jam sebelum fajar. Lalu kesadaran lain jatuh ke tubuhnya dan membuka mata tepat ketika seekor tikus hendak memakan wajahnya.

Semua informasi itu berkelebat dalam waktu kurang dari dua detik.

Tikus di dadanya mengangkat kaki depan.

Tri menggeser ujung jari kanannya satu sentimeter.

Sendinya langsung bergetar. Otot lengan kecil itu nyaris tak merespons. Ia mungkin masih mampu melakukan satu gerakan cepat. Dua kalau beruntung.

Kalau gagal, tikus itu akan menggigit lehernya.

Ia menatap jam beker di samping tangan.

Penutup belakangnya sudah hilang. Pegas utama berkarat, tetapi roda gigi alarm masih tertahan. Satu kaki patah membuat bodinya miring. Di bawahnya terselip serpihan besi tipis dengan sisi bergerigi.

Barang rusak.

Namun kerusakan selalu punya arah.

Tri menggerakkan jari lagi. Kukunya menyentuh kabel.

Tikus itu berhenti mengendus.

Telinganya menegak.

Tri membeku.

Mata merah itu mengarah lurus kepadanya. Rahangnya terbuka, memperlihatkan dua gigi depan sepanjang ruas jari anak-anak. Ada darah kering di salah satunya.

Mungkin darah pemilik tubuh ini.

Tikus itu merendahkan kepala.

Tri menarik kabel.

Kaleng kosong di sudut ruangan terseret dan menggesek lantai.

Krrrkk.

Kepala tikus menoleh mengikuti bunyi.

Itu satu-satunya kesempatan.

Tri menyentakkan tangan kanan ke jam beker, menekan bodinya ke lantai, lalu mendorong sisi yang kehilangan kaki. Benda itu miring tepat seperti yang ia perkirakan. Pegas alarm yang tertahan lepas. Roda gigi berputar liar dan menghantam serpihan besi di bawahnya.

TRANG!

Serpihan itu terpental.

Pelat itu memantul dari kaki jam yang masih utuh, berubah arah, lalu menghunjam ke bawah rahang tikus.

Hewan itu menjerit.

Tubuh beratnya melonjak di atas dada Tri. Cakar depannya mengoyak kain dan meninggalkan tiga garis panas di bahunya.

Tri tidak punya tenaga untuk menahan.

Ia memiringkan tubuh.

Tikus jatuh ke samping, tetapi belum mati. Darah hitam menetes dari rahangnya. Ia berputar liar, menabrak dinding, lalu kembali menerjang dengan serpihan besi masih tertancap.

Terlalu dangkal.

Tri meraih jam beker.

Lengannya seperti disiram api. Pandangannya menggelap di tepi. Ia tetap menggenggam benda itu dengan kedua tangan, mengangkatnya hanya setinggi dada, lalu menunggu.

Tikus melompat.

Sekarang.

Tri tidak mengayun. Tubuh ini terlalu lemah untuk menghasilkan daya pukul.

Ia hanya memutar jam sembilan puluh derajat dan menempatkan lubang kaki yang patah tepat di jalur serpihan besi.

Berat tikus melakukan sisanya.

KRAK!

Serpihan itu terdorong lebih dalam.

Jeritan terputus. Tubuh tikus menimpa lengannya, berkedut dua kali, lalu diam.

Tri tetap tidak bergerak selama beberapa detik.

Ia mendengarkan.

Tidak ada napas. Tidak ada gesekan kuku.

Baru setelah itu ia mendorong bangkai tersebut sedikit demi sedikit. Pekerjaan sederhana itu menghabiskan hampir seluruh tenaganya. Ketika dadanya akhirnya bebas, ia terbatuk sampai air matanya keluar.

Tidak ada darah di telapak tangan, hanya keringat dingin.

Tri menatap jam beker yang kini penyok.

Satu kaki tersisa. Kaca pecah. Pegas alarm keluar seperti usus logam.

Masih bisa diperbaiki.

Pikiran itu muncul begitu alami hingga Tri tertawa kecil. Suaranya lebih mirip embusan serak.

“Badan gue hampir mati, tapi yang gue pikirkan malah servis jam.”

Tikus di lantai tidak menanggapi.

“Bagus. Berarti kepala gue masih normal.”

Ia mencabut serpihan besi dari bangkai, membersihkannya pada kain, lalu menyimpannya di bawah jam. Tangannya bergerak lambat, tetapi urutannya pasti. Alat tajam di kanan. Kabel di kiri. Kaleng sebagai penahan. Tidak boleh ada benda berguna yang dibiarkan tanpa tempat.

Kebiasaan lama menyelamatkan rasa paniknya.

Ingatan anak itu terus muncul dalam potongan pendek.

Lelaki tua bisu yang mengangkat tiga jari ketika memberi nama Tri.

Tangan keriput yang membagi setengah botol cairan keruh.

Gerakan telunjuk yang selalu menunjuk ke pintu saat malam turun: jangan keluar, tikus berburu setelah gelap.

Tri menoleh ke sudut dekat pintu.

Di sana tergeletak tongkat milik lelaki tua itu. Tidak ada pemilik yang akan mengambilnya lagi.

Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, dada Tri terasa sesak karena sesuatu yang bukan cakar atau demam.

Ia tidak mengenal lelaki itu.

Namun tubuh ini mengenalnya.

Tri mengangkat dua jari ke arah tongkat, meniru salam sederhana yang tersisa di ingatan anak tersebut.

“Terima kasih sudah menjaga tubuh ini sampai sejauh ini,” gumamnya. “Sisanya biar gue urus.”

Perutnya menjawab dengan bunyi panjang.

Janji yang bagus. Masalah pertama bahkan belum selesai.

Ia meraba perut yang cekung. Berdasarkan sisa ingatan, makanan terakhirnya hanya beberapa teguk cairan gizi hampir sebulan lalu. Setelah lelaki tua itu meninggal, tak ada orang yang mau berbagi dengan anak tanpa keluarga. Demam menghabiskan cadangan terakhir tubuh ini.

Tanpa makanan, ia mungkin mati sebelum matahari terbit.

Tri memaksa duduk.

Ruangan langsung berputar. Ia menahan tubuh pada dinding sampai mual mereda. Di balik lubang besar bekas jendela, lautan sampah membentang dalam kegelapan: bukit logam, kerangka kendaraan, pipa patah, dan lampu-lampu kecil para pemulung yang tinggal jauh di sisi timur.

Tak ada yang menyala sekarang.

Jam kerja mereka dimulai setelah sirene pagi. Keluar saat gelap hanya berarti menyerahkan diri kepada tikus dan Bestia kecil yang berkeliaran di bawah timbunan.

Tri menyeret diri ke jendela.

Setiap setengah meter ia harus berhenti. Lututnya tidak kuat menahan berat badan. Ia memakai tongkat lelaki tua itu sebagai tuas, bukan penopang: ujungnya dikunci ke celah lantai, kedua tangan menarik, lalu pinggul bergeser maju.

Cara yang buruk untuk bergerak.

Tetapi bergerak buruk masih lebih baik daripada mati rapi di kasur.

Ia akhirnya mencapai ambang jendela dan menyandarkan kepala pada logam dingin.

Langit Planet 3212 berwarna kelabu pekat. Tak ada bintang yang terlihat di balik debu industri. Jauh di atas bukit sampah, jalur kendaraan angkut membentuk garis hitam menuju zona pembuangan.

Sepi.

Seharusnya semua truk terbang sudah selesai membuang muatan pukul dua.

Tri menutup mata sejenak, mencoba menyusun pilihan. Bangkai tikus bisa dimakan kalau ia sanggup menyalakan pemanas. Kabel di ruangan cukup untuk membuat pemantik sederhana. Dagingnya mungkin membawa racun, tetapi racun yang datang besok masih lebih baik daripada kelaparan yang membunuh pagi ini.

Sebuah getaran tipis menjalar melalui dinding.

Tri membuka mata.

Bukan gempa. Irama getarannya teratur, disertai dengung mesin berat dari langit.

Satu sumber.

Lalu dua.

Tiga, empat, lima.

Jam beker rusak di belakangnya tiba-tiba melepaskan sisa tenaga pegas.

Kring!

Jarumnya berhenti tepat di angka empat.

Tri mendongak.

Lima truk terbang pengangkut sampah muncul dari balik awan debu, terbang terlalu rendah dan terlalu rapat. Lampu sorot putih mereka menyapu bukit sampah, lalu menabrak jendela tempat Tri berbaring.

Kendaraan yang seharusnya sudah pergi dua jam lalu itu kini turun bersamaan, tepat di atas kepalanya.

Episode 2

Bab 2 — Lelang Tengah Malam

Kendaraan pertama membuka palka bawah sebelum benar-benar berhenti.

Ratusan kotak jatuh dari udara.

BRAK! BRAK! BRAK!

Bukit sampah bergetar. Potongan logam meluncur, pipa-pipa tua berguling, dan debu hitam membubung seperti ombak. Empat truk lain menyebar membentuk setengah lingkaran, lalu membuang muatan di titik berbeda.

Tri menyipit di balik cahaya lampu sorot.

Mereka tidak sedang mengangkut sampah biasa.

Semua kotak berukuran sama. Segelnya masih utuh. Tak ada lengan sortir yang memeriksa bahan berbahaya, tak ada sirene pembuangan, bahkan lambang perusahaan di badan truk ditutup lembaran hitam.

Di atas truk kelima, sebuah pesawat kecil seukuran koper terbang berputar pelan.

Cahaya putih berkedip dari bagian depannya.

Sekali.

Dua kali.

Seperti kamera yang sedang merekam.

“Buang barang sambil bawa saksi gambar?” Tri bergumam. “Kalian takut dituduh tidak bekerja, atau takut barangnya ditemukan orang?”

Tak ada yang menjawab. Mesin-mesin itu meraung lebih keras.

Tri memaksa berdiri dengan bantuan tongkat. Kedua lututnya langsung melipat. Ia menahan tubuh pada bingkai jendela, menunggu pandangan yang berkunang-kunang kembali jernih.

Kotak terdekat jatuh sekitar delapan puluh meter dari bangunan.

Terlalu jauh untuk tubuh ini.

Lalu satu kotak menghantam ujung rangka kendaraan, pecah, dan memuntahkan puluhan tabung transparan ke lereng. Beberapa menggelinding sampai ke kaki tembok.

Tri melihat cairan merah muda di dalamnya.

Tubuh kecilnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.

Air liur memenuhi mulut. Perutnya berkontraksi begitu keras hingga ia harus membungkuk. Ingatan anak itu mengenali bentuk tabung, warna cairan, dan tutup sekali putar.

Cairan Gizi.

Satu tabung bisa menggantikan makan sehari bagi anak-anak. Yang bagus mahal. Yang mendekati tanggal kedaluwarsa biasa diperebutkan para pemulung sampai ada tulang yang patah.

Ini bukan satu tabung.

Ini ribuan kotak.

Tri tidak langsung keluar.

Ia menghitung.

Jarak ke tumpukan terdekat delapan puluh meter. Pemukiman pemulung berada di sisi timur, sekitar empat ratus meter. Mesin pembuangan pasti membangunkan mereka. Orang dewasa yang sehat akan tiba dalam tiga sampai lima menit.

Tubuh Tri bahkan tidak sanggup berjalan delapan puluh meter dalam waktu itu.

Ia memandang dinding kiri yang setengah runtuh.

Di baliknya ada rangka sepeda roda tiga tua milik ayah angkatnya. Dua roda belakang masih terpasang. Rantai putus, pedal bengkok, dan bak angkutnya berlubang. Lelaki tua itu biasa mendorongnya pulang sambil membawa logam kecil.

Tidak bisa dikayuh.

Masih bisa menggelinding.

Tri turun dari ambang jendela, mengaitkan tongkat ke rangka, lalu menariknya keluar. Roda kanan menjerit karena lama tidak berputar.

“Kalau lo masih mau hidup,” bisiknya kepada sepeda itu, “jangan berisik.”

Ia menyambar kabel dari lantai, melilitnya pada poros roda, lalu menyelipkan potongan kaleng sebagai penahan cincin. Bukan perbaikan. Hanya cara kasar agar poros tidak bergeser dan menggesek badan rangka.

Tri mendorong sekali.

Roda bergerak lebih lurus.

Cukup.

Ia membawa sepeda roda tiga itu keluar melalui celah tembok. Udara dini hari menggigit kulit. Setiap napas memasukkan debu ke paru-parunya, tetapi aroma manis samar dari tabung-tabung pecah menarik tubuhnya maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Di langkah kelima, ia hampir jatuh. Tri menaruh dada di setang dan memakai berat tubuh untuk mendorong. Sepeda tua itu menjadi penyangga sekaligus alat angkut.

Truk-truk di atas mulai menutup palka.

Pesawat kecil itu berkedip lagi, mengambil gambar tumpukan kotak dari beberapa sudut. Setelah itu ia naik lebih dulu, diikuti kelima truk tanpa menyalakan lampu penanda.

Mereka pergi secepat maling meninggalkan rumah orang.

Tri mencapai tabung pertama setelah kendaraan terakhir menghilang di balik debu.

Tangannya gemetar saat memungutnya.

Label utama telah dicoret tinta hitam, tetapi tulisan kecil pada pangkal tabung masih terlihat: VITALIS. Di bawahnya tercetak kode f-1376 dan stempel merah DITARIK.

Ditarik dari peredaran.

Bukan kedaluwarsa.

Tri memutar tabung. Cairannya tidak menggumpal. Tak ada perubahan warna. Tutup pengaman utuh. Ia menekan setetes ke ujung jari, mencium, lalu menyentuhkannya ke lidah.

Manis. Sedikit asam. Ada rasa stroberi buatan yang tipis.

Tidak ada sensasi terbakar.

Tubuh ini akan mati pagi ini tanpa asupan. Risiko keracunan besok bukan alasan untuk menolak makanan sekarang.

Tri membuka tutup dan meneguk setengah tabung.

Cairan dingin melewati kerongkongan.

Perutnya sempat mengejang. Sesaat kemudian, kehangatan menyebar dari lambung ke dada, lalu turun ke tangan dan kaki. Jari-jarinya berhenti bergetar. Kabut di kepalanya menipis sedikit demi sedikit.

Ia menutup mata.

Satu teguk.

Hanya satu teguk, dan dunia yang tadi terasa jauh kini kembali memiliki jarak, ukuran, dan sudut.

Tri menyimpan setengah tabung di balik kain bajunya.

“Sekarang kita kerja.”

Teriakan pertama terdengar dari timur.

“Ada barang baru!”

Disusul bunyi pintu logam dibanting, mesin kecil dinyalakan, dan langkah puluhan orang menuruni bukit. Cahaya senter bermunculan seperti kawanan mata.

Tri tidak berlari ke tumpukan terbesar.

Semua orang pasti menuju ke sana.

Ia memilih jalur selatan, tempat tiga kotak terpental ke balik rangka kapal tua. Dengan tenaga yang baru kembali sebagian, ia mengangkat satu sudut kotak ke bak sepeda, lalu memiringkan rangka agar gravitasi menggulingkannya masuk.

Kotak pertama.

Kotak kedua.

Kotak ketiga terlalu berat karena tertindih panel. Tri menyelipkan tongkat di bawah panel, memakai batu sebagai titik tumpu, dan mengangkatnya cukup tinggi untuk menarik kotak keluar dengan kaki.

Tak ada gerakan yang mengandalkan kekuatan.

Semua mengandalkan sudut.

Ketika para pemulung pertama tiba di tumpukan utama, Tri sudah mendorong tiga kotak ke rumpun semak logam di barat daya. Tempat itu bukan rumahnya. Ia sengaja membuat titik simpan antara agar jejak roda tidak langsung menuju bangunan.

Ia menutup kotak dengan lembaran insulasi, memutar sepeda, lalu kembali.

Di belakangnya, dini hari berubah menjadi pasar tanpa aturan.

“Gue pegang duluan!”

“Lepas, bangsat!”

Seseorang menjerit ketika kepalanya dipukul botol. Dua perempuan menyeret satu kotak dari arah berlawanan. Seorang lelaki bertubuh besar berdiri di atas tumpukan dan menendang siapa pun yang mencoba naik.

Mereka melihat barang.

Tri melihat arus.

Jalur utama padat dalam satu menit. Jalur utara terhalang pipa. Sisi barat memiliki turunan tajam yang bisa mempercepat sepeda, tetapi harus ditahan sebelum tikungan. Ada enam kotak kecil tercecer di bawah bayangan truk rongsok, jauh dari pusat keributan.

Tri mengambilnya satu per satu.

Seorang pemulung tua melihatnya saat kotak keempat masuk ke bak.

“Hei, bocah! Itu punya siapa?”

Tri menunjuk ke arah tumpukan utama. “Yang besar di sana baru dibuka. Isinya dua kali lebih banyak.”

Lelaki itu menoleh.

Tri sudah mendorong sepeda pergi sebelum ia melihat kembali.

Perjalanan kedua menghasilkan enam kotak. Saat mencapai titik simpan, lengan Tri seperti lepas dari bahu. Napasnya berbunyi kasar. Ia minum dua teguk lagi, tidak lebih.

Rasa hangat kembali menekan nyeri perut.

Sembilan kotak.

Cukup untuk bertahan lama.

Kalau ia berhenti sekarang, tak ada yang akan menyadari anak kurus mengambil bagian lebih dulu.

Tri memandang kode pada tabung di tangannya.

f-1376.

Truk tanpa lambang. Pembuangan pukul empat. Pesawat perekam.

Barang ini bukan sekadar sisa produksi. Seseorang sedang membuang bukti, lalu merekam pembuangan untuk membuktikan pekerjaan selesai.

Itu berarti dua hal.

Isinya mungkin berbahaya.

Dan sebagian kotak mungkin bernilai lebih mahal daripada makanan di dalamnya.

Tri menyeringai tipis.

“Satu perjalanan lagi.”

Ia tidak kembali ke pusat keributan. Ia memilih sisi selatan, mengambil dua kotak yang tadi sengaja dibiarkan sebagai cadangan, lalu menyusuri jalur sempit di antara dua bukit rongsok.

Sekarang sepedanya lebih ringan daripada perjalanan kedua, tetapi tubuh Tri sudah mencapai batas. Telapak kakinya mati rasa. Goresan di bahunya terbuka lagi. Setiap dorongan membuat jantungnya menghantam tulang rusuk.

Titik simpan tinggal sekitar tiga puluh meter.

Sebuah bayangan keluar dari balik dinding mesin dan menutup jalur.

Tri berhenti.

Lelaki di depannya membawa batang besi. Dua orang lain berdiri beberapa langkah di belakang, mengapit jalan mundur. Wajah pemimpin mereka Tri kenali dari sisa ingatan tubuh ini: pemulung yang pernah merampas jatah lelaki tua bisu saat masih hidup.

Tatapan lelaki itu turun ke dua kotak di bak, lalu ke tabung Cairan Gizi yang masih digenggam Tri.

Ia memperlihatkan gigi yang menghitam.

“Bocah tanpa bapak-ibu kayak lo,” katanya, “merasa berhak ikut rebutan?”

Episode 3

Bab 3 — Bocah Tak Bermarga

Tri tidak menjawab.

Matanya turun ke batang besi di tangan lelaki itu, lalu ke dua orang yang menutup jalan belakang.

Pemimpin mereka dipanggil Parman dalam ingatan tubuh ini. Tubuh besar, tangan kanan lebih kuat, lutut kiri pernah cedera. Dua pengikutnya lebih muda. Yang kurus membawa kait pemilah, sedangkan yang berkepala plontos tidak memegang senjata.

Tiga orang dewasa.

Satu anak tujuh tahun yang nyaris roboh karena mendorong sepeda.

Kalau ini pertarungan, hasilnya sudah selesai sebelum dimulai.

Berarti jangan bertarung.

“Gue tanya sekali lagi.” Parman mengetukkan batang besi ke rangka sepeda. “Dapat berapa kotak?”

Bunyi nyaring itu membuat dua pengikutnya menyeringai.

Tri menatap roda belakang yang bergeser setengah jari akibat benturan. Kawat penahannya masih kuat. Jalan di bawah roda miring ke kiri. Tiga meter dari posisi Parman, permukaan sampah berubah warna dari hitam kusam menjadi cokelat basah.

Di bawah lapisan itu ada rongga.

Tri tahu karena roda sepedanya sempat ambles di tepi sana saat perjalanan pertama. Ia sudah memindahkan jalur pulang ke atas dua balok rangka yang tertimbun. Balok itu aman menahan tubuh kecil dan sepeda ringan.

Belum tentu aman menahan tiga orang dewasa yang bergerak bersamaan.

“Dua,” kata Tri.

Parman menyambar kerah bajunya.

Tubuh Tri terangkat sampai ujung kaki hanya menyentuh tanah. Goresan di bahunya tertarik. Nyeri menyambar ke leher, tetapi wajahnya tetap datar.

“Jangan bikin gue marah.” Napas Parman berbau cairan fermentasi murah. “Jejak roda lo bolak-balik tiga kali.”

Jadi dia mengamati dari awal.

Bagus. Orang serakah yang merasa pintar lebih mudah diarahkan.

Tri melirik ke kanan, seolah takut seseorang melihat. “Kalau gue kasih tahu, bagian gue tetap ada?”

Parman tertawa.

“Bagian lo?”

Ia melempar Tri ke tanah. Punggung anak itu menghantam roda depan. Udara keluar dari paru-parunya.

Dua pengikut Parman ikut tertawa.

“Anak ini belum ngerti aturan,” kata si plontos.

“Biar gue ajari.” Pengikut kurus mengangkat kaitnya. “Yang kuat ambil semuanya. Yang lemah bersyukur masih boleh pulang.”

Tri batuk dua kali. Ia memakai setang untuk berdiri, sengaja membiarkan lututnya gemetar lebih parah daripada yang sebenarnya.

“Sembilan kotak,” katanya pelan.

Tawa mereka berhenti.

Parman menyipit. “Di mana?”

Tri memandang ke ujung jalur sempit, menuju lereng barat daya. “Dekat rangka kapal. Gue tutup pakai lembaran insulasi.”

“Bawa kami.”

“Bagian gue?”

Batang besi menghantam bak sepeda.

Penyokannya dalam. Salah satu kotak di atasnya miring, memperlihatkan deretan tabung merah muda.

“Itu bagian lo,” kata Parman. “Sepeda jelek ini masih gue sisakan.”

Tri menundukkan kepala.

Di balik rambut kusut, sudut bibirnya bergerak tipis.

Salah.

Sepeda ini bukan sisa yang mereka berikan.

Sepeda ini kuncinya.

Tri mulai mendorong. Parman berjalan tepat di belakang, cukup dekat untuk memukul kalau ia mencoba kabur. Dua pengikut menyusul sambil terus melihat kotak di bak.

Jalur menurun setelah tikungan pertama.

Di sisi kanan, bukit rongsok menjulang tiga meter. Potongan kain, plastik, pipa, dan serbuk logam bercampur menjadi dinding yang tampak padat. Padahal hujan limbah dua hari lalu menggerus bagian bawahnya dan meninggalkan kantong udara besar.

Tri menempatkan roda di atas garis balok yang tersembunyi.

Langkahnya kecil dan lambat.

“Cepat!” bentak Parman.

Batang besi menyentuh punggungnya.

Tri tersandung dengan sengaja. Satu kotak jatuh dari bak, meluncur di lereng, lalu berhenti di atas lapisan cokelat basah.

Tutupnya terbuka.

Puluhan tabung Cairan Gizi tumpah dan berkilau di bawah cahaya jauh.

“Bodoh!”

Si plontos melewati Tri lebih dulu. Ia melangkah ke lereng untuk memunguti tabung.

Kakinya turun sampai mata kaki.

“Tanahnya lunak,” katanya.

Namun ia tidak mundur. Ia membungkuk dan memasukkan tiga tabung ke balik bajunya.

Pengikut kurus ikut maju.

Tri menoleh kepada Parman. “Sembilan kotak gue ada di bawah sana. Kalau mereka ambil duluan—”

“Kalian berdua, minggir!” Parman mendorongnya ke samping lalu melangkah ke lereng. “Semua kotak itu punya gue!”

Begitu berat tubuh ketiga orang itu berada di atas lapisan lunak, Tri melepaskan setang.

Sepeda roda tiga mulai menggelinding.

“Hei!” Parman menoleh.

Tri menarik kabel yang sejak tadi melilit pergelangan tangannya.

Kabel itu tersambung ke potongan kaleng penahan poros yang dipasangnya di depan bangunan. Potongan kaleng terlepas. Roda kanan bergeser keluar, membuat sepeda oleng, lalu rebah melintang di jalur sempit.

Dua kotak di bak jatuh ke depan.

Parman secara naluriah mengejarnya.

Ia mengambil satu langkah lebar.

Lapisan sampah di bawahnya mengeluarkan bunyi basah.

Krrrkk.

Tri langsung meloncat ke atas balok kiri dan memeluk rangka besi yang menonjol.

“Jangan bergerak!” teriaknya.

Terlambat.

Parman mengangkat kaki yang terbenam. Pengikut kurus mencoba mundur, tetapi sepeda yang rebah menutup jalur. Si plontos menarik lengannya.

Berat mereka berpindah ke satu titik.

Seluruh lereng runtuh.

WHUUM!

Sampah cokelat amblas seperti mulut yang dibuka. Ketiga lelaki itu jatuh bersama tabung-tabung Cairan Gizi. Pipa kecil, kain busuk, dan kepingan plastik menelan kaki mereka, lalu pinggang, lalu dada.

Parman meraung dan mengayunkan batang besi. Gerakan itu hanya membuat tubuhnya tenggelam lebih dalam.

“Tarik gue!”

Si plontos mencoba meraih bahunya, tetapi dirinya sendiri terjebak sampai pinggang. Pengikut kurus lebih beruntung; tubuhnya tertahan panel lebar sehingga hanya kaki kiri yang terjepit.

Tri tetap bergantung pada rangka sampai permukaan berhenti bergerak.

Debu turun perlahan.

Ia menguji balok dengan ujung kaki, lalu merangkak ke jalur aman. Sepeda roda tiga terbaring di belakangnya. Roda kanan lepas, tetapi tidak hilang. Kedua kotak tersangkut di pipa, juga masih utuh.

Rencana berjalan lebih baik daripada perkiraannya.

Parman tidak setuju.

“Bajingan kecil!” Wajahnya merah. Sampah menekan sampai bawah ketiak. “Tarik gue keluar! Cepat!”

Tri mengambil batang besi yang terlempar dekat balok.

Ia tidak mengangkatnya untuk memukul. Ia hanya melemparkannya ke luar jangkauan Parman.

“Tadi katanya yang kuat ambil semuanya.”

Parman membeku.

“Lo menjebak gue?”

Tri menatap lereng runtuh, lalu memasang wajah polos yang tidak cocok dengan matanya.

“Saya sudah bilang jangan bergerak.”

Pergantian ke saya membuat kalimat itu terdengar seperti peringatan anak penurut. Pengikut kurus menatapnya dengan curiga, tetapi dari posisi mereka, semua memang tampak seperti kecelakaan: kotak jatuh, orang-orang berebut, tanah lunak runtuh.

Tidak ada yang melihat kabel tipis di pergelangan Tri.

Tri melepaskannya dan menyelipkannya ke saku.

“Tarik kami,” kata si plontos. Nada suaranya tak lagi mengejek. “Kami enggak akan ambil barang lo.”

“Gue enggak percaya.”

“Sumpah!”

“Sumpah orang lapar harganya lebih murah daripada sampah.”

Tri memeriksa sisi rongga. Timbunan masih bisa bergeser. Kalau ia mencoba menarik satu orang dengan tubuh kecil ini, ia akan ikut masuk. Kalau ia pergi begitu saja, Parman mungkin tertimbun ketika para pemulung lain mengguncang bukit.

Ia tidak berutang nyawa kepada mereka.

Namun membiarkan orang mati setelah menang bukan keuntungan. Itu hanya menciptakan mayat, penyelidikan, dan musuh yang punya keluarga.

Tri mengambil selang ventilasi kusam dari sisi rangka kapal. Ia memeriksa kedua ujungnya, membersihkan sumbatan dengan tongkat, lalu mendorong satu ujung ke dekat wajah Parman.

“Gigit kalau sampahnya naik. Ujung sana tetap di udara.”

Lalu ia menunjukkan panel yang menahan pengikut kurus.

“Kaki lo tidak tertindih balok. Jangan tarik ke atas. Gali ke samping, bebaskan orang plontos dulu, baru kalian gali Parman dari kanan. Kalau kalian bertiga meronta bersamaan, lapisan atas turun lagi.”

Pengikut kurus menelan ludah. “Lo... tahu dari mana?”

Tri mengangkat bahu, lalu meringis karena luka cakarnya tertarik.

“Beruntung.”

Ia merakit kembali roda kanan dengan potongan kabel cadangan. Perbaikannya lebih buruk daripada sebelumnya, tetapi sepeda bisa didorong. Satu demi satu, ia mengambil tabung yang tersebar dan memasukkannya ke dua kotak.

Parman hanya bisa menonton.

Tatapannya berubah dari marah menjadi tidak percaya ketika anak kurus itu mengambil kembali semua barang tanpa kehilangan satu kotak pun.

“Gue bakal cari lo,” desisnya.

Tri berhenti di samping kepala Parman.

“Waktu lo keluar nanti, ingat dua hal.”

Ia mengangkat dua jari.

“Pertama, saya meninggalkan selang supaya lo tetap bernapas. Kedua, saya hafal lutut kiri lo lemah. Lain kali, saya enggak perlu pakai lereng.”

Wajah Parman kehilangan warna.

Tri mendorong sepeda pergi.

Ia tidak menoleh lagi.

Matahari belum muncul ketika sebelas kotak terakhir akhirnya tersusun di balik lembaran insulasi. Tri memindahkannya dari titik simpan ke ruang kecil di bawah lantai bangunan, tempat ayah angkatnya dulu menyembunyikan logam bernilai.

Pintu ruang itu ditutup pelat rongsok.

Untuk pertama kalinya, Tri memiliki persediaan makanan.

Tidak enak. Tidak pasti aman. Namun cukup untuk membuatnya melihat hari berikutnya.

Ia duduk di depan bangunan dengan punggung menempel pada roda sepeda yang miring. Di timur, garis cahaya pucat muncul di balik lautan sampah. Lebih jauh lagi, di belakang kabut debu, kota Planet 3212 menyala dengan menara-menara neon.

Di sana ada sekolah.

Ada bengkel.

Ada orang yang membayar untuk sesuatu yang bisa bekerja.

Tri memandang tangannya yang kurus, lalu sepeda roda tiga yang baru saja menyelamatkan sebelas kotak makanan.

Hidup sudah diamankan untuk sementara.

Berikutnya, ia butuh uang.

Tri mengetuk rangka sepeda yang penyok.

“Kita mulai dari lo,” katanya. “Gue akan ubah lo jadi barang yang pantas dibayar.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!