Bab 1: Diusir dari Rumah Mertua
Foto-foto itu jatuh ke meja kaca dengan suara tajam.
PRAK.
Arya Suryanegara tidak langsung menunduk untuk melihatnya. Ia masih berdiri di sisi ruang keluarga Rumah Besar Keluarga Permata, dengan kemeja putih yang sudah pudar di bagian kerah dan tas kain tua di dekat kakinya. Di hadapannya, lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya dingin ke lantai marmer. Semuanya bersih, mahal, dan asing, seolah rumah itu tidak pernah mengizinkannya menjadi bagian dari apa pun.
Maryam menunjuk wajahnya.
"Masih mau pura-pura tidak tahu?" suara perempuan itu melengking, memecah udara malam. "Lihat baik-baik, Arya. Lihat kelakuanmu sendiri!"
Baru setelah itu Arya menurunkan pandangan.
Foto pertama memperlihatkan dirinya keluar dari sebuah kamar hotel. Foto kedua memperlihatkan Wulan, sahabat Sinta, berdiri tidak jauh darinya dengan rambut berantakan dan bahu sengaja dibuka. Foto ketiga lebih kasar lagi: sudutnya dipotong, cahayanya dibuat remang, seolah mereka baru saja melakukan sesuatu yang memalukan.
Arya hampir tertawa.
Hotel itu adalah tempat ia mengantar dokumen proyek dua minggu lalu. Wulan saat itu muncul di lobi, sengaja menabraknya, lalu menjatuhkan tas kecil. Arya bahkan tidak menyentuh tangannya. Kamera di sudut lobi pasti merekam semuanya dengan jelas.
Tetapi tentu saja, yang ada di meja malam ini bukan rekaman asli.
aang ada hanyalah foto-foto murah, dipotong untuk membunuh harga diri seorang laki-laki.
"Kenapa diam?" Maryam maju satu langkah. Gelang emas di pergelangan tangannya berdenting. "Laki-laki macam apa kamu? Sudah tiga tahun makan nasi dari rumah ini, masih berani main perempuan di luar?"
Di sofa panjang, Sinta Permata duduk dengan punggung tegak. Wajahnya cantik, dingin, dan lelah. Gaun krem yang ia kenakan tampak terlalu rapi untuk seseorang yang katanya baru saja dikhianati suaminya.
Arya menatapnya. "Kamu percaya foto itu?"
Bibir Sinta bergerak sedikit.
Untuk satu detik, Arya melihat sesuatu di matanya. Bukan keyakinan. Bukan marah. aang tersisa justru ragu yang cepat-cepat ia kubur di balik wajah beku.
"Buktinya ada di depan mata," jawab Sinta.
Wulan yang duduk di sampingnya segera menunduk, memainkan ujung rambut. Suaranya dibuat gemetar, tetapi sudut bibirnya terlalu tenang.
"Aku juga tidak mau masalah ini jadi besar, Sin. Tapi waktu itu aku benar-benar takut. Mas Arya... dia memintaku jangan cerita ke siapa-siapa."
Seorang ART yang berdiri dekat pintu dapur menahan napas. Dua pelayan lain saling melirik, lalu cepat-cepat menunduk. Di rumah ini, bahkan orang yang biasa Arya bantu membawakan galon pun tahu kapan harus ikut membisu.
Arya mengangkat satu foto dari meja.
Kertasnya licin. Cetakannya baru. Ujungnya belum benar-benar kering.
"Wulan," katanya pelan, "berapa mereka membayarmu?"
Wulan tersentak. "Apa maksudmu?"
"Aku bertanya baik-baik."
"Kamu menuduhku?" Wulan langsung berdiri. Air matanya keluar terlalu cepat. "Sin, lihat! Sudah ketahuan masih berani memutar balikkan keadaan!"
Maryam menghantam meja dengan telapak tangan.
"Cukup!" teriaknya. "Dasar benalu! Dari awal aku sudah bilang, laki-laki seperti dia tidak pantas masuk keluarga kita. Tidak punya pekerjaan jelas, tidak punya mobil, tidak punya rumah, tidak punya malu. Tiap hari cuma menumpang nama Permata!"
Arya diam.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun ia mencuci piring setelah makan keluarga. Mengantar Maryam ke salon saat sopir mereka cuti. Menunggu Sinta pulang dari kantor sampai lewat tengah malam. Memperbaiki pipa bocor di gudang. Menelan tawa sepupu-sepupu Permata setiap kali mereka menyebutnya si miskin.
Tiga tahun ia bisa membalas.
Satu telepon saja cukup untuk membuat rekening Keluarga Permata membeku. Satu perintah saja cukup untuk memutus kontrak mereka dengan PT Takdir Nusantara Group. Satu tanda tangan saja cukup untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya memberi makan rumah besar ini dari balik layar.
Tetapi ia tidak melakukannya.
Karena dulu, ia pernah berpikir Sinta berbeda.
Sekarang perempuan itu duduk di depannya, membiarkan ibunya melempar kotoran ke wajahnya, dan memilih percaya pada foto palsu yang bahkan tidak disusun dengan cerdas.
Ada sesuatu di dalam dada Arya yang akhirnya berhenti bergerak.
"Baik," katanya.
Ruang keluarga mendadak hening.
Maryam menyipitkan mata. "Apa?"
"Kalau kalian ingin aku pergi, aku pergi."
Sinta menoleh cepat. "Arya..."
Maryam tertawa sinis. "Dengar itu, Sinta? Akhirnya dia sadar diri."
Ia mengambil sebuah map cokelat dari meja samping dan melemparkannya ke hadapan Arya. Isinya sudah disiapkan: surat pernyataan kesediaan bercerai, pernyataan pelepasan klaim atas harta gono-gini, dan beberapa lembar tambahan yang disusun oleh pengacara keluarga. Tanda tangan Sinta sudah ada di bagian bawah.
Arya membaca sekilas.
Tidak ada kejutan.
Rumah ini bahkan tidak ingin menunggu proses hukum berjalan. Mereka ingin gambar malam ini terlihat sempurna: suami miskin ketahuan selingkuh, menunduk, tanda tangan, lalu keluar tanpa membawa apa pun.
"Tanda tangan," kata Maryam. "Kamu pergi tanpa membawa apa-apa. Baju, uang, perhiasan, kendaraan, semua yang ada di rumah ini milik keluarga kami. Jangan harap bisa menuntut satu rupiah pun."
Arya memandang pena di atas map.
Sinta menggenggam ujung sofa. "Arya, ini bukan berarti aku ingin mempermalukanmu. Tapi setelah semua yang terjadi, kita memang tidak bisa lanjut."
"Setelah semua yang terjadi?" Arya mengulang.
Sinta menelan ludah.
Arya menatapnya beberapa detik lebih lama. "Kamu pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi?"
Sinta membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Maryam memotong dengan kasar, "Untuk apa bertanya? Foto sudah cukup. Jangan pakai drama orang miskin yang sok terluka. Kamu pikir air mata bisa membuat kami iba?"
Arya mengambil pena.
Ia menandatangani lembar pertama.
Lalu lembar kedua.
Lalu lembar ketiga.
Goresan penanya tenang. Tidak gemetar. Tidak ragu. Justru karena terlalu tenang, Wulan yang tadi pura-pura menangis mulai berhenti mengusap mata. Maryam juga menatapnya dengan sedikit bingung, seolah kemenangan yang terlalu mudah justru terasa tidak wajar.
Sinta menatap tanda tangan itu. Wajahnya memucat sedikit.
"Mulai malam ini," kata Arya sambil menutup map, "urusan kita selesai."
Maryam menyambar map itu, memeriksa tanda tangan seperti takut Arya menipu mereka. Setelah yakin semuanya lengkap, ia tersenyum puas.
"Bagus. Sekarang keluar."
Arya membungkuk mengambil tas kainnya.
Tas itu ringan. Di dalamnya hanya ada dua potong pakaian, charger ponsel lama, dan sebuah kotak kecil berisi foto usang ibunya. Selama tiga tahun tinggal di rumah besar ini, barang miliknya memang tidak pernah lebih banyak dari itu.
Ketika ia berjalan menuju pintu, seorang pelayan tua secara refleks ingin membantunya membawa tas. Maryam langsung membentak.
"Biarkan! Dia bukan tamu. Dia juga bukan keluarga."
Tangan pelayan itu berhenti di udara.
Arya menoleh sedikit pada pelayan itu. "Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih."
Kalimat sederhana itu membuat mata pelayan tua tersebut memerah. Selama tiga tahun, hanya Arya yang pernah memanggilnya Bu, lebih dari sekadar pembantu.
Maryam mendengus. "Masih sempat cari simpati."
Di ambang pintu, Sinta akhirnya berdiri.
"Arya."
Langkah Arya berhenti.
"Kalau nanti kamu kesulitan..." Suara Sinta mengecil. "Aku bisa minta orang kantor mencarikan pekerjaan untukmu. Setidaknya bagian administrasi atau keamanan."
Ruang itu kembali diam.
Wulan menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Maryam tertawa pendek. "Dia? Administrasi? Jangankan mengurus dokumen, mengurus hidup sendiri saja tidak bisa."
Arya tidak marah.
Anehnya, ia benar-benar tidak marah lagi.
Ia hanya menatap Sinta seperti menatap seseorang yang berdiri di sisi lain kaca. Dekat, tetapi tidak mungkin disentuh.
"Simpan tawaran itu," katanya. "Keluarga Permata akan lebih membutuhkannya daripada aku."
Alis Sinta berkerut. "Apa maksudmu?"
Arya tidak menjawab.
Maryam menunjuk pintu utama dengan dagu terangkat. "Pergi sana, pengemis! Jangan pernah kembali ke rumah ini. Kalau besok aku masih melihatmu di sekitar gerbang, aku lapor satpam komplek!"
Di luar, hujan mulai turun tipis. Air memukul halaman batu, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja dari taman depan. Arya melangkah melewati pintu besar yang dulu ia pel setiap pagi saat sopir keluarga belum bangun.
Tidak ada yang mengantar.
Tidak ada yang menahan.
Pintu di belakangnya ditutup keras oleh Maryam.
BRAK.
Suara itu seharusnya terasa seperti akhir.
Tetapi bagi Arya, suara itu justru seperti kunci yang akhirnya terbuka.
Ia berjalan menuruni tangga marmer, melewati air mancur kecil yang lampunya berkedip. Sandal lamanya menyentuh genangan. Kemejanya mulai basah oleh hujan, tetapi punggungnya tetap tegak.
Di dalam rumah, suara Maryam masih terdengar samar.
"Akhirnya rumah ini bersih dari pembawa sial."
Arya berhenti sejenak di depan gerbang besi.
Ia tidak menoleh.
Sudut bibirnya naik sangat tipis.
Tiga tahun.
Cukup.
Ponsel lamanya bergetar di saku.
Nomor yang muncul tidak memiliki nama, tetapi Arya mengenalnya lebih baik daripada siapa pun. Ia mengangkat panggilan itu, menempelkan ponsel ke telinga, dan memandang jalanan Kota Awan yang basah oleh hujan.
"Pak Satria," katanya pelan, "aku sudah keluar."
Di seberang sana, napas seorang pria tua terdengar bergetar.
"Tuan Muda..." Suara Pak Satria serak, seolah menahan sesuatu selama bertahun-tahun. "Akhirnya."
Arya memejamkan mata sebentar. Semua hinaan di ruang keluarga tadi menguap bersama dingin hujan.
"Tiga tahun sudah cukup," katanya.
"Benar, Tuan Muda." Kali ini suara Pak Satria menjadi lebih mantap. "Semua sudah siap, Tuan Muda."
Bab 2: Identitas Tersembunyi
Arya tidak langsung menjawab.
Hujan tipis menempel di rambut dan bahunya. Di balik gerbang Rumah Besar Keluarga Permata, lampu-lampu hangat masih menyala, suara orang tertawa samar kembali terdengar, seolah tidak ada yang baru saja diusir dari sana.
"Mobil sudah saya siapkan di ujung jalan," kata Pak Satria dari telepon. "Bukan mobil mencolok. Toyota Alphard hitam, pelat biasa. Jika Tuan Muda ingin langsung ke Gedung Takdir, saya bisa minta Eko membuka lift privat."
Arya melihat ke arah jalan yang basah. Sebuah motor ojek online lewat pelan, jas hujannya berkibar tertiup angin malam. Di kejauhan, klakson mobil terdengar pendek, tertahan macet Kota Awan yang tidak pernah benar-benar tidur.
"Tidak perlu," kata Arya.
Pak Satria terdiam. "Tuan Muda?"
"Aku ingin jalan sebentar."
"Hujan."
"Aku tahu."
Suara pria tua itu melembut. "Baik. Saya akan mengikuti dari jauh."
Arya tersenyum tipis. "Pak Satria, jangan perlakukan aku seperti anak kecil."
"Di mata saya, Anda tetap anak dari Tuan Bagaskara."
Nama itu membuat langkah Arya tertahan sejenak.
Bagaskara Suryanegara.
Ayahnya.
Nama yang selama tiga tahun terakhir lebih sering ia simpan di dasar ingatan daripada ia ucapkan. Nama yang dulu membuat pintu-pintu ruang direksi terbuka, kepala cabang keluarga menunduk, dan para konglomerat tua berhitung ulang sebelum berbicara. Nama yang kemudian dikubur bersama kabar kecelakaan yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan.
Arya memejamkan mata sebentar.
"Aku akan menghubungimu nanti," katanya.
"Saya menunggu perintah."
Panggilan terputus.
Arya memasukkan ponsel ke saku, lalu mulai berjalan. Sandal lamanya menyipratkan air dari trotoar. Kemeja putihnya semakin basah. Jika ada orang yang melihatnya saat itu, mereka hanya akan melihat mantan menantu miskin yang baru diusir dari rumah mertua, membawa tas kain seperti seseorang yang tidak punya tujuan.
Tidak ada yang akan menyangka bahwa pria itu adalah pemilik sebenarnya dari perusahaan terbesar di Kota Awan.
Tidak ada yang akan menyangka bahwa gedung tertinggi di kawasan bisnis, yang puncaknya menyala seperti pisau perak di tengah hujan, dibangun dari keputusan-keputusan dingin yang ia buat selama tiga tahun terakhir.
PT Takdir Nusantara Group.
Orang-orang di Kota Awan menyebutnya raksasa. Anak perusahaannya memegang kontrak hotel, infrastruktur, media, logistik, restoran, dan proyek properti bernilai puluhan triliun rupiah. Para pengusaha kecil ingin dekat dengannya. Bank-bank besar ingin meminjamkan uang kepadanya. Pejabat daerah tersenyum lebih lebar setiap kali namanya disebut dalam rapat investasi.
Dan Keluarga Permata?
Delapan puluh persen napas bisnis mereka tersambung ke jaringan Takdir.
Ironis.
Maryam mengusirnya dengan menyebutnya pengemis, padahal setiap pesta keluarga yang ia banggakan dibayar oleh arus uang yang diam-diam Arya biarkan mengalir.
Arya berhenti di bawah halte kosong. Sebuah layar iklan besar di seberang jalan menampilkan wajah seorang selebritas perempuan yang sedang tersenyum sambil memegang botol parfum. Di bagian bawah layar, ada logo sponsor: Takdir Entertainment Group.
Ia menatap logo itu beberapa detik.
Tiga tahun lalu, ketika ia datang ke Kota Awan, PT Takdir Nusantara Group hampir mati.
Direksinya terpecah. Utang proyek menumpuk. Vendor menolak mengirim barang. Anak-anak perusahaan saling menyalahkan. Dewan Komisaris diam-diam mencari pembeli murah untuk menjual aset terbaik perusahaan.
Lalu Arya masuk.
Tidak sebagai pewaris.
Tidak sebagai bos.
Ia masuk sebagai menantu miskin Keluarga Permata, lelaki yang datang ke kantor hanya sesekali, mengenakan kemeja sederhana, bicara sedikit, dan sering dikira kurir dokumen oleh resepsionis baru.
Tetapi pada malam hari, setelah Sinta tidur di kamar terpisah dan Maryam selesai memaki-maki tentang tagihan listrik, Arya bekerja.
Ia membongkar laporan keuangan palsu. Mengganti manajer proyek yang korup. Memindahkan utang jangka pendek menjadi obligasi korporasi yang lebih sehat. Menutup tiga lini usaha yang hanya membakar uang. Membeli saham pemasok kunci melalui perusahaan cangkang. Menekan vendor yang bermain dua kaki. Mengundang investor Singapura lewat Prima Investment Corp., tanpa pernah membiarkan nama Suryanegara muncul di dokumen publik.
Dalam enam bulan, Takdir berhenti berdarah.
Dalam satu tahun, Takdir kembali untung.
Dalam tiga tahun, Takdir menjadi kerajaan bisnis.
Dan di rumah besar Permata, Maryam masih menyuruhnya memperbaiki dispenser.
Arya tertawa pelan.
Tawanya tidak hangat, tetapi juga tidak pahit. Lebih seperti seseorang yang akhirnya melihat sebuah sandiwara terlalu panjang sampai kehilangan rasa lucunya.
Sebuah mobil patroli satpam komplek melintas. Pengemudinya melambat saat melihat Arya, lalu mengenalinya.
"Pak Arya?" Satpam itu membuka kaca jendela. Namanya Rahim, pria paruh baya yang sering bertugas malam. "Hujan begini jalan kaki? Mau saya antar ke gerbang utama?"
Arya menggeleng. "Tidak usah, Pak Rahim. Terima kasih."
Rahim melirik tas kain di tangan Arya, lalu ke arah rumah besar Permata di belakang. Wajahnya berubah canggung. Ia mungkin sudah mendengar sesuatu dari radio internal satpam. Di komplek elit, kabar keluarga kaya lebih cepat bergerak daripada mobil ambulans.
"Kalau butuh tempat berteduh, pos saya kosong," kata Rahim pelan. "Tidak enak kalau Bapak basah begini."
Bapak.
Di dalam rumah itu, Arya disebut benalu. Di pos satpam, seorang pria bergaji biasa masih punya cukup hormat untuk memanggilnya Bapak.
Arya menepuk bahu Rahim ringan. "Jaga kesehatan. Anakmu masih kelas berapa?"
Rahim terkejut. "Kelas dua SMP, Pak. Bapak masih ingat?"
"Dia pernah sakit demam waktu kamu pinjam uang ke bagian administrasi komplek."
Mata Rahim melebar. Ia tidak pernah tahu siapa yang diam-diam melunasi pinjaman kecil itu. Saat ia ingin bertanya, Arya sudah melangkah lagi.
Malam Kota Awan membuka dirinya di depan Arya.
Lampu jalan memantul di aspal. Aroma sate dari gerobak kaki lima bercampur dengan bau hujan dan bensin. Di satu sisi jalan, pekerja kantor pulang dengan wajah lelah. Di sisi lain, mobil mewah berbaris menuju restoran mahal. Kota ini selalu seperti itu: sebagian orang menghitung receh, sebagian lain membakar uang untuk satu botol parfum.
Arya pernah hidup di kedua sisi.
Ia lahir sebagai putra sah garis utama Keluarga Suryanegara, keluarga konglomerat yang namanya cukup untuk membuat pengusaha senior menurunkan suara. Ia tumbuh di rumah yang dijaga pengawal bersenjata, belajar membaca laporan keuangan sebelum remaja, dan melihat perang kekuasaan keluarga lebih cepat daripada anak lain belajar bersepeda.
Tetapi ayahnya tidak membesarkannya sebagai tuan muda manja.
Bagaskara mengirimnya ke jalur paling keras.
Pelatihan militer.
Kopassus.
Di sana, tidak ada yang peduli marga Suryanegara. Lumpur tetap lumpur. Darah tetap darah. Jika ia lambat, ia tertinggal. Jika ia sombong, ia dipatahkan. Jika ia lemah, ia membahayakan tim.
Arya belajar menembak dalam hujan, bernapas dalam air keruh, membaca jejak di tanah gelap, dan mematahkan serangan lawan sebelum lawan sempat menyelesaikan niatnya. Ia belajar bahwa kekuasaan sejati bukan suara keras, tetapi kemampuan membuat keputusan tepat saat semua orang panik.
Kemampuan itu yang ia bawa ke dunia bisnis.
Orang seperti Revan Hadinata mengira kekuasaan adalah membawa lima pengawal dan menghina orang di restoran. Maryam mengira kekuasaan adalah rumah besar, gelang emas, dan mulut yang tidak pernah berhenti merendahkan orang lain.
Mereka tidak tahu apa-apa.
Kekuasaan adalah jaringan kontrak yang bisa diputus dalam satu malam.
Kekuasaan adalah nama yang tidak muncul di dokumen, tetapi ditakuti oleh semua orang yang membaca dokumen itu.
Kekuasaan adalah membuat musuh tertawa hari ini, lalu membuat mereka memohon besok tanpa mengerti kapan pisau itu masuk.
Arya tiba di sebuah jembatan penyeberangan. Dari sana, Gedung Takdir terlihat jelas di kejauhan. Menara kaca itu menjulang di tengah kawasan bisnis, logo emasnya menyala di antara kabut hujan.
Ia berdiri di pagar jembatan, menatap gedung itu.
Tiga tahun sebagai menantu miskin telah selesai.
Pertanyaannya sekarang bukan apakah Keluarga Permata akan hancur.
Pertanyaannya adalah seberapa cepat mereka akan menyadari siapa yang baru saja mereka usir.
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini nomor yang muncul tidak tersimpan.
Arya mengangkatnya.
Sebelum ia sempat bicara, suara perempuan terdengar dari seberang. Jernih, cepat, dan membawa kegembiraan yang tidak disembunyikan.
"Mas Arya! Akhirnya kamu bebas juga!"
Arya mengerutkan kening sedikit. "Tiara?"
Perempuan itu tertawa kecil. "Jangan terdengar begitu dingin. Aku sudah menunggu hari ini tiga tahun, tahu? Sinta benar-benar perempuan bodoh. Kalau dia tahu siapa yang baru saja dia buang, dia bisa menyesal sampai tua."
Di bawah jembatan, lampu sebuah mobil hitam menyapu wajah Arya sebentar sebelum menghilang ke tikungan.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Arya.
Tiara menurunkan suara, tetapi nadanya masih tajam. "Aku tahu lebih banyak dari yang kamu kira, Mas. Dan malam ini lebih dari sekadar tentang perceraianmu."
Arya menatap logo Gedung Takdir yang berkilau di tengah hujan.
"Lanjutkan."
Tiara menarik napas.
"Revan Hadinata ada di balik foto-foto itu."
Bab 3: Telepon dari Tiara
"Revan Hadinata ada di balik foto-foto itu."
Suara Tiara tidak lagi bercanda.
Arya berdiri di atas jembatan penyeberangan, membiarkan hujan menetes dari ujung rambutnya. Di bawah sana, kendaraan merayap perlahan. Kota Awan tampak seperti sungai lampu yang tersumbat, penuh orang yang ingin cepat pulang tetapi terjebak oleh malam.
"Buktinya?" tanya Arya.
"Aku punya rekaman panggilan Wulan dengan seseorang dari pihak Revan. Belum sempurna, tapi cukup untuk menunjukkan arah." Tiara berhenti sebentar. "Dan ada transfer ke rekening adik Wulan, dua kali, masing-masing lima puluh juta. Pengirimnya bukan Revan langsung. Tapi orang yang biasa mengurus urusan kotornya."
Arya menatap arus mobil di bawah.
Lima puluh juta.
Harga untuk menjual martabat orang lain di ruang keluarga.
"Kirim ke Pak Satria," katanya.
"Sudah. Aku tidak mungkin meneleponmu tanpa menyiapkan itu dulu."
Arya akhirnya tersenyum sedikit. "Kamu masih sama."
"Cantik, pintar, dan selalu lebih cepat dari orang yang meremehkanku?"
"Aku ingin bilang cerewet."
Tiara tertawa, kali ini lebih lepas. Suara itu pernah sering Arya dengar dari televisi, iklan parfum, panggung musik, dan layar besar mall. Bagi warga Kota Awan, Tiara adalah wajah yang selalu tersenyum di poster. Artis muda yang bersinar, sepupu Sinta yang lebih berani, lebih bebas, dan jauh lebih sulit ditebak.
Tetapi bagi Arya, Tiara adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah melihat topengnya retak.
Tiga tahun lalu, di sebuah acara amal Keluarga Permata, Tiara melihatnya berdiri sendirian di koridor belakang. Saat semua orang mengira ia hanya menantu miskin yang tidak pantas masuk ruang utama, Tiara melihat seorang pensiunan jenderal tua berhenti di depannya, menundukkan kepala sedikit, lalu memanggilnya dengan suara pelan, "Tuan Muda."
Sejak malam itu, Tiara tahu.
Dan selama tiga tahun, ia menutup mulut.
"Kenapa baru bicara sekarang?" tanya Arya.
Di seberang sana, Tiara menghela napas. "Karena selama ini kamu memilih diam. Aku tidak mau merusak permainanmu. Tapi malam ini mereka sudah melewati batas."
"Mereka?"
"Sinta tidak sebersih yang kamu harapkan, Mas." Suara Tiara melembut, tetapi kata-katanya tetap tajam. "Dia mungkin tidak mengatur semuanya dari awal, tapi dia tahu foto itu tidak kuat. Dia tahu ada yang janggal. Dia tetap memilih membiarkan ibunya mengusirmu."
Arya tidak menjawab.
Fakta itu tidak baru.
Yang membuatnya sakit bukan karena Sinta tertipu. Yang membuatnya selesai adalah karena Sinta tidak ingin tahu apakah ia tertipu.
"Revan mendekati Sinta sejak dua bulan lalu," lanjut Tiara. "Awalnya lewat proyek iklan PT Suara Kreatif. Lalu makan siang. Lalu rapat malam. Kamu tahu gaya Revan. Dia tidak pernah mendekati perempuan tanpa menghitung keuntungan."
"PT Takdir."
"Ya." Tiara menurunkan suara. "Dia mengira, selama Sinta masih menjadi istrimu, Keluarga Permata punya celah untuk menekan Takdir lewat hubungan keluarga. Tapi kalau kamu diusir sebagai pihak yang bersalah, semua narasi berubah. Sinta menjadi korban. Permata bisa menjaga muka. Revan bisa muncul sebagai penyelamat."
Arya menatap logo Gedung Takdir yang jauh di depan.
Revan Hadinata.
Anak konglomerat kelas dua yang terlalu sering difoto di restoran mahal, klub privat, dan acara balap mobil. Lelaki yang mengira dunia bisa dibeli dengan uang ayahnya dan diselesaikan dengan pengawal.
Arya pernah melihat namanya di beberapa proposal mencurigakan. Keluarga Hadinata ingin masuk ke jaringan kontraktor Takdir Infrastruktur, tetapi kualitas perusahaan mereka buruk, arus kasnya kotor, dan beberapa dokumen tendernya berbau suap. Arya menolak proposal itu tanpa pernah muncul langsung.
Mungkin sejak saat itu Revan mulai mencari jalan lain.
"Dia mengira aku pintu belakang," kata Arya.
"Dia mengira kamu gagang pintu yang sudah berkarat," balas Tiara. "Itu masalahnya."
Kali ini Arya benar-benar tertawa pendek.
"Mas Arya," kata Tiara, tiba-tiba serius lagi, "kamu mau apa?"
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi di baliknya ada pintu yang sangat besar.
Selama tiga tahun, Arya membiarkan dirinya menjadi bayangan. Ia menahan tangan saat dihina. Ia menundukkan kepala saat dipanggil benalu. Ia duduk di ujung meja keluarga seperti orang yang meminta sisa tempat.
Malam ini, meja itu sudah ditinggalkan.
"Untuk sekarang," kata Arya, "aku ingin mereka merasa menang."
Tiara terdiam sebentar. "Kamu mau membiarkan mereka tidur nyenyak?"
"Tidak." Mata Arya menjadi dingin. "Aku mau mereka tidur sambil memeluk bom yang belum mereka tahu sudah menyala."
Di ujung telepon, Tiara menarik napas pelan.
"Astaga," bisiknya. "Aku hampir lupa kenapa orang-orang tua itu takut padamu."
Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari kaki jembatan. Arya meliriknya. Kaca belakang turun sedikit. Di dalamnya, ia melihat wajah Pak Satria yang sudah memutih karena usia, tetapi matanya tetap tajam seperti pisau lama yang dirawat baik.
Arya menuruni tangga jembatan.
"Aku tutup dulu," katanya.
"Tunggu." Tiara cepat-cepat bicara. "Satu hal lagi. Jangan percaya semua orang dari pihak Suryanegara yang datang padamu. Aku mendengar kabar dari manajerku di Jakarta, nama Prabu Suryanegara mulai disebut lagi di lingkaran bisnis. Kalau dia sudah bergerak, ini lebih dari sekadar soal Sinta dan Revan."
Langkah Arya melambat.
Prabu.
Nama itu turun seperti batu ke dalam air gelap.
"Dari mana manajermu mendengar nama itu?"
"Acara tertutup. Beberapa investor tua. Aku belum dapat detail. Tapi mereka bicara seolah-olah kamu akan segera dipanggil pulang."
Arya menatap mobil Pak Satria.
"Baik. Kirim semua yang kamu punya."
"Mas Arya."
"Ya?"
Suara Tiara berubah lebih pelan. Tidak main-main, tidak menggoda. "Aku senang kamu akhirnya keluar dari rumah itu."
Arya diam beberapa detik.
"Terima kasih, Tiara."
"Jangan cuma terima kasih. Nanti traktir aku makan."
"Kalau jadwalku kosong."
"Jadwal pewaris konglomerat pasti bisa dikosongkan untuk artis tercantik Kota Awan."
Sambungan terputus sebelum Arya sempat membalas.
Ia memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menuju mobil hitam. Pak Satria sudah turun lebih dulu, berdiri di bawah payung besar. Pria tua itu mengenakan setelan gelap sederhana, tetapi cara ia berdiri membuat satpam komplek mana pun langsung tahu bahwa ia bukan sopir biasa.
"Tuan Muda," katanya sambil menunduk.
"Jangan menunduk di tempat umum."
Pak Satria mengangkat kepala, tetapi matanya merah. "Maaf. Saya menunggu hari ini terlalu lama."
Arya menerima payung darinya. "Dokumen dari Tiara?"
"Sudah masuk. Rekaman panggilan, bukti transfer, dan satu foto Revan Hadinata bertemu Wulan di restoran privat dua hari lalu." Pak Satria membuka pintu mobil. "Cukup untuk menghancurkan narasi mereka, tapi belum cukup untuk menjatuhkan Revan sepenuhnya."
"Aku tidak ingin menjatuhkannya terlalu cepat."
Pak Satria tersenyum tipis. "Saya paham. Kalau tikus langsung mati, kita tidak tahu lubang mana yang dia pakai."
Arya masuk ke mobil. Di dalam, udara hangat dan aroma kulit baru menyambutnya. Sebuah handuk putih sudah disiapkan di kursi. Di konsol tengah, ada folder tablet berisi laporan singkat: Keluarga Permata, PT Suara Kreatif, Revan Hadinata, Keluarga Hadinata.
Semua rapi.
Semua menunggu satu perintah.
Pak Satria duduk di depan. "Ke mana, Tuan Muda? Gedung Takdir? Apartemen privat? Atau rumah aman?"
Arya membuka tablet. Di layar, foto Revan muncul: setelan mahal, senyum tipis, tangan memegang gelas jus di sebuah restoran privat. Di sampingnya, Wulan menunduk dengan wajah dibuat manis.
"Kontrakan lama dulu," kata Arya. "Biarkan semua orang mengira aku benar-benar tidak punya tempat."
Pak Satria tidak membantah. "Baik."
Mobil melaju meninggalkan komplek elite itu.
Sepanjang perjalanan, Arya membaca laporan tanpa bicara. Setiap halaman membuat gambarnya semakin jelas. Revan lebih dari sekadar ingin Sinta. Ia mengincar akses ke daftar vendor Takdir, jalur kontrak infrastruktur, dan kemungkinan menekan Keluarga Permata untuk menjadi pintu masuk.
Anak itu serakah.
Serakah biasanya mudah dikendalikan.
Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan kontrakan sederhana di gang yang tidak terlalu lebar. Dindingnya kusam, lampu terasnya redup, dan beberapa motor terparkir berdesakan. Tempat itu adalah salah satu lokasi yang Arya pakai selama tiga tahun untuk bekerja diam-diam tanpa diketahui Keluarga Permata.
Ia baru saja turun ketika suara dari langit membuat beberapa warga membuka pintu.
DHUM. DHUM. DHUM.
Angin kencang menyapu ujung gang. Daun-daun basah beterbangan. Lampu teras bergoyang.
Pak Satria mendongak. Wajahnya berubah waspada.
Di atas deretan atap rumah, sebuah helikopter hitam bergerak rendah, lampu navigasinya berkedip merah di tengah hujan tipis. Bukan helikopter polisi. Bukan ambulans udara. Terlalu bersih, terlalu mahal, terlalu berani untuk turun di kawasan sempit seperti ini.
Ponsel Arya bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor yang sudah tiga tahun tidak ia hubungi.
Adikku, aku datang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!