Indonesia
NovelToon NovelToon

Kelas Abadi

Bab 1

“Qin Shang, giliranmu!”

“Cepat naik dan uji akar spiritualmu!”

Wali kelas mereka, Mo Yuan, memanggil nama Qin Shang.

Qin Shang menatap Mo Yuan yang rambutnya telah memutih, berdiri di samping seorang wanita cantik berbalut pakaian kuno. Aura wanita itu begitu anggun, dingin, dan seolah tak tersentuh.

Pandangannya kemudian beralih ke seekor piton bersayap emas raksasa dengan jengger emas di kepalanya yang melingkar di belakang wanita tersebut. Hingga saat ini, semua yang terjadi masih terasa begitu sulit dipercaya.

Dulu, Qin Shang adalah murid SMA No. 3 Beicheng. Namun, ia sudah putus sekolah sejak kelas satu.

Kali ini, kelas lamanya mengadakan acara perpisahan kelulusan kelas tiga SMA dan mengundangnya sebagai mantan teman sekelas. Malam itu semua orang minum cukup banyak.

Siapa sangka, setelah sadar dari mabuk, mereka justru mendapati diri berada di puncak Gunung Tianyuan. Di sanalah Mo Yuan menyuruh mereka menjalani sesuatu yang disebut sebagai tes akar spiritual.

Menurut Mo Yuan, nilai akademis mereka terlalu buruk. Jika tetap hidup di dunia biasa, masa depan mereka hanya akan menjadi budak dunia kerja. Karena itu, lebih baik ikut dengannya ke Dunia Xuanwu untuk menempuh jalan kultivasi menjadi seorang abadi.

Awalnya, tak seorang pun mempercayainya. Mereka mengira semua ini hanya sebuah lelucon.

Namun, ketika seekor piton bersayap emas sepanjang hampir dua puluh meter terbang dari kaki gunung hingga ke puncak, seluruh pemahaman mereka tentang dunia langsung runtuh.

Ini benar-benar dunia kultivasi!

“Tubuhku di Bumi sudah lama mengidap penyakit lapar aneh itu. Kalau ini memang dunia Kuktivasi, mungkin misteri tubuhku akhirnya bisa terungkap.”

Qin Shang bergumam dalam hati.

“Qin Shang, cepat! Jadi dites atau tidak? Kalau nggak, biar aku dulu!”

Ye Han, pemuda berambut pirang yang terkenal di kelas, berteriak dari barisan paling belakang.

Qin Shang menepis segala pikiran yang berkecamuk di benaknya, lalu melangkah maju dan meletakkan telapak tangannya di atas alas berbentuk segi lima yang berada di hadapan wanita berpakaian kuno itu.

Seketika, salah satu sudut alas segi lima tersebut memancarkan cahaya hijau redup.

“Bagus! Berikutnya!”

seru Mo Yuan.

Qin Shang menyingkir ke samping. Lu Chen, sahabat sekaligus teman masa kecilnya yang telah lebih dulu menjalani tes, segera menghampirinya.

“Qin Shang, punyamu juga menyala! Berarti kamu juga punya akar spiritual! Kita bisa jadi kultivator! Hahaha! Keren banget! Siapa sangka si Mo Pengulit itu benar-benar membawa kita ke Dunia Xuanwu buat berkultivasi. Gila, rasanya masih kayak mimpi! Coba cubit aku. Aku pengin tahu ini mimpi atau bukan!”

Lengan Lu Chen bahkan sudah dicubit hingga memar, tetapi ia tetap sulit mempercayai kenyataan di hadapannya.

Qin Shang tersenyum tipis. “Aku yakin ini bukan mimpi. Soalnya kalau benar cuma mimpi, aku nggak mungkin ada di tempat seperti ini.”

Seperti biasa, ia mengusap liontin batu giok berwarna ambar yang tergantung di lehernya. Di dalam liontin itu terdapat sebuah kepompong ulat sutra.

Di dalam kepompong tersebut bersemayam seekor serangga yang menjadi sumber seluruh keanehan pada tubuh Qin Shang.

Dua puluh siswa yang dibawa Mo Yuan menyelesaikan tes akar spiritual satu per satu.

Tak seorang pun menjadi pengecualian. Alas penguji milik mereka semua memancarkan cahaya redup, hanya saja masing-masing memiliki warna yang berbeda.

Saat giliran Su Yao, sekretaris akademik kelas, suasana mendadak berubah. Salah satu sudut alat uji segi lima itu memancarkan cahaya biru yang jauh lebih terang daripada yang lain.

“Bagus! Su Yao, sangat bagus!”

Mo Yuan berseru penuh pujian.

Mendengar itu, para siswa yang telah menyelesaikan tes langsung merasa cemas.

“Pak Mo, kalau kami bagaimana? Apa kami juga dianggap punya akar spiritual?”

Gu Yang, sang ketua kelas, akhirnya tak kuasa menahan diri dan bertanya.

Mo Yuan menjawab datar, “Kenapa terburu-buru? Tunggu sampai semuanya selesai dites. Setelah itu baru akan kuberitahukan hasilnya.”

Mendengar jawaban itu, semua orang semakin gelisah.

Tak lama kemudian, tibalah giliran siswa terakhir, Ye Han, yang memiliki nilai akademis paling buruk di kelas.

Begitu telapak tangannya menyentuh alat uji, salah satu sudut alas segi lima itu memancarkan cahaya merah terang.

“Hahaha! Menyala! Terang banget! Sudah kubilang aku pasti punya masa depan! Gila, sekarang aku benar-benar luar biasa!”

Ye Han bersorak kegirangan.

Mo Yuan pun tampak terkejut. Sesaat kemudian, wajahnya dipenuhi kegembiraan.

Kini seluruh dua puluh siswa telah menyelesaikan tes.

Mo Yuan memberi hormat kepada guru perempuan itu sambil mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa yang sama sekali tidak dipahami Qin Shang maupun yang lainnya.

Dengan penuh harap, ia memandang wanita tersebut.

Wanita itu mengeluarkan dua botol pil, lalu melemparkannya kepada Mo Yuan.

Mo Yuan kembali mengucapkan beberapa patah kata kepadanya. Wanita itu mengangguk pelan.

Setelah itu, Mo Yuan melangkah ke hadapan dua puluh siswa tersebut.

Seluruh pasang mata langsung tertuju kepadanya.

“Pak Mo, sebenarnya bagaimana hasilnya? Apa kami punya akar spiritual atau tidak?”

Gu Yang kembali bertanya.

“Kalian memang memiliki akar spiritual,” jawab Mo Yuan. “Namun, selain Su Yao dan Ye Han, delapan belas orang lainnya hanya memiliki akar spiritual lemah. Dengan bakat seperti itu, kalian tetap bisa berkultivasi, tetapi kemajuannya akan sangat lambat.”

“Pak Mo, kalau hanya sulit berarti masih ada harapan, kan? Bisakah mereka memberi kami kesempatan? Siapa tahu kami berhasil.”

Gu Yang buru-buru memohon.

Ye Han yang berambut pirang menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

“Ketua kelas, kata sulit itu cuma cara Pak Mo menghibur kalian. Namanya juga akar spiritual lemah. Sama saja seperti menyuruh orang bodoh belajar. Memangnya kamu masih berharap dia bisa dapat nilai bagus? Jangan terlalu banyak bermimpi.”

“Ye Han! Dasar bajingan!”

Gu Yang langsung naik pitam.

Tanpa pikir panjang, ia menerjang maju dan melayangkan tamparan keras ke wajah Ye Han.

Ye Han terpaku sesaat.

“Gu Yang! Beraninya kamu menamparku!”

“Memang sengaja kutampar!”

Begitu Gu Yang berteriak, beberapa teman sekelasnya langsung ikut menyerbu Ye Han.

Selama ini, Gu Yang adalah ketua kelas. Ditambah lagi keluarganya cukup berada, ia memiliki cukup banyak teman yang berpihak kepadanya.

Sebaliknya, Ye Han memang kerap menjadi sasaran ejekan dan perundungan.

Kini, setelah ucapannya memancing amarah semua orang, sedikitnya lima siswa laki-laki bergegas menghampiri untuk menghajarnya.

“Gu Yang! Apa yang sedang kalian lakukan?”

Bum!

Tiba-tiba Mo Yuan berdiri menghadang mereka.

Ia hanya mengangkat satu tangan dengan santai. Telapak tangannya bahkan belum menyentuh Gu Yang maupun lima siswa lainnya, tetapi keenam orang itu sudah terpental jauh ke belakang.

Qin Shang diam-diam tercengang.

Kemampuan Mo Yuan benar-benar berada di luar nalar.

Gu Yang sendiri juga tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Setelah susah payah bangkit, ia segera memohon kepada Mo Yuan.

“Pak Mo, apa kami benar-benar tidak bisa berkultivasi? Kalau begitu... bisakah Bapak mengirim kami pulang?”

“Iya, Pak Mo! Aku mau pulang main game. Aku baru beli komputer baru, bahkan belum sempat merakitnya.”

“Aku juga. Ibuku pasti sudah nyuruh aku pulang makan.”

Mo Yuan menatap mereka dengan dingin.

“Pulang? Bukankah sebelum ini, saat kita masih di meja makan, aku sudah menjelaskan semuanya dengan sangat jelas? Aku bilang akan membawa kalian ke sebuah dunia yang dihuni manusia, iblis, siluman, dan para dewa. Perjalanan ini juga tidak memiliki jalan kembali. Bahkan aku meminta kalian mengangkat tangan untuk memilih sendiri apakah ingin ikut atau tidak. Dan kalian berdua puluh semuanya mengangkat tangan.”

Xu Wen, perwakilan kelas untuk mata pelajaran bahasa, nyaris menangis.

“Pak Mo, kami kira itu cuma kiasan! Kami pikir maksud Bapak, masyarakat itu seperti tempat berkumpulnya berbagai macam orang, ada yang seperti iblis, siluman, dan sebagainya. Kami mengira Bapak sedang mengibaratkan kalau kami akan memasuki dunia kerja dan menghadapi kerasnya kehidupan. Mana mungkin kami menyangka Bapak benar-benar membawa kami ke Dunia Xuanwu?”

“Kiasan? Metafora?” Mo Yuan mendengus. “Biasanya pelajaran bahasa saja kalian tidak pernah belajar sungguh-sungguh, sekarang malah dipakai untuk mencari alasan?”

Suaranya berubah berat.

“Hidup itu seperti permainan catur. Sekali bidak dijalankan, tak ada jalan untuk menariknya kembali. Terus terang saja, bahkan aku sendiri sudah tidak bisa kembali.”

“Lagipula, bukan berarti kalian sama sekali tidak bisa berkultivasi. Kalian masih bisa menempuh jalan yang dulu pernah kulalui untuk memasuki dunia kultivasi.”

Mendengar nada bicaranya berubah, mata Gu Yang kembali berbinar.

“Pak Mo, masih ada cara lain? Tolong cepat beri tahu kami!”

Mo Yuan mengangguk pelan.

“Kalian semua memang memiliki akar spiritual lemah. Namun, akar spiritual lemah bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk menapaki jalan menuju keabadian. Kalian masih bisa memasuki Dao melalui seni bela diri, kemudian memperkuat akar spiritual kalian.”

“Memasuki Dao melalui seni bela diri? Pak Mo, apa maksudnya?”

Semua orang menatap Mo Yuan dengan penuh harap.

Tanpa menjawab, Mo Yuan mengangkat satu tangan lalu menghantam ke arah sebuah batu besar yang berada lebih dari sepuluh meter di belakang mereka.

Bum!

Batu besar setinggi lebih dari satu meter itu seketika memperlihatkan bekas telapak tangan yang tercetak jelas tepat di bagian tengahnya.

“Lihat itu?”

“Itulah... Jalan Bela Diri.”

Bab 2

“Luar biasa! Gila! Aku... aku mau belajar bela diri!”

“Pak Mo, aku juga mau belajar!”

Semua orang terkejut, terutama para siswa laki-laki. Mata mereka langsung berbinar penuh semangat.

Mo Yuan melanjutkan, “Ketika seni bela diri mencapai tingkat tertentu, seseorang dapat melahirkan sedikit energi bawaan. Dengan energi bawaan tersebut, akar spiritual dapat diperkuat dan diperluas, sehingga kalian masih memiliki kesempatan untuk menapaki jalan kultivasi.”

Setelah berhenti sejenak, Mo Yuan kembali berkata, “Di Dunia Xuanwu, akar spiritual lemah masih tergolong langka. Kalian semua memiliki akar spiritual lemah, jadi bukan berarti jalan menuju keabadian kalian benar-benar tertutup.”

“Kalau begitu, Pak Mo, ajari kami bela diri!”

Gu Yang segera berkata.

Mo Yuan hanya menggelengkan kepala.

“Aku akan pergi menempuh jalan kultivasi untuk menjadi abadi. Jika kalian ingin belajar bela diri, pergilah belajar di kaki gunung!”

“Kaki gunung?”

Semua orang menoleh ke arah bawah gunung.

Namun, mereka saat ini berada di puncak Gunung Tianyuan. Di bawah sana hanya terlihat lautan awan tebal yang menutupi pandangan, sehingga mereka sama sekali tidak bisa melihat seperti apa keadaan di bawah.

“Tempat kalian berdiri sekarang disebut Area Tambang Gunung Tianyuan. Ini adalah salah satu area pertambangan di bawah kekuasaan Sekte Yunlan, sebuah sekte kultivasi. Di area tambang ini terdapat banyak praktisi bela diri. Jalan yang mereka tempuh adalah memasuki Dao melalui seni bela diri.”

“Di satu sisi, Sekte Yunlan menyediakan mereka kitab teknik bela diri. Di sisi lain, sekte tersebut juga menyediakan makanan obat untuk membantu mereka meningkatkan tingkat bela diri dengan cepat.”

“Sekarang, kalian memiliki dua pilihan.”

“Pilihan pertama, bergabung dengan area tambang ini dan menambang untuk Sekte Yunlan. Dengan begitu, kalian bisa mendapatkan kitab teknik bela diri serta makanan obat secara gratis. Bahkan jika pada akhirnya kalian gagal melangkah lebih jauh, setelah meninggalkan area tambang ini, kalian tetap akan menjadi ahli bela diri di dunia manusia biasa.”

“Pilihan kedua, aku akan membawa kalian keluar dari Gunung Tianyuan sekarang juga. Setelah itu, kalian bisa menjelajahi Dunia Xuanwu sendiri. Hidup atau mati, itu bukan lagi urusanku.”

“Ini... bahkan bahasa di tempat ini saja kami tidak mengerti. Aku tetap memilih bergabung dengan Gunung Tianyuan!”

“Aku... aku juga memilih bergabung dengan Gunung Tianyuan!”

“Aku bersedia menambang!”

Banyak siswa segera menyatakan pilihan mereka.

Lu Chen segera mendekati Qin Shang dan berbisik,

“Qin Shang, kenapa aku merasa ada yang tidak beres? Rasanya seperti Pak Mo sudah menjual kita semua! Bahkan menjual kita ke area tambang.”

Qin Shang mengernyitkan dahi.

Dia juga memiliki pemikiran yang sama.

Sejak Mo Yuan membawa mereka ke tempat ini dan meminta mereka membayar untuk menjalani tes akar spiritual, Qin Shang sudah merasa ada sesuatu yang mencurigakan.

Namun sekarang, apakah mereka masih memiliki pilihan lain?

Di tempat asing seperti ini, mereka tidak mengenal siapa pun dan bahkan tidak memahami bahasanya. Meninggalkan area tambang ini belum tentu menjadi pilihan yang lebih baik.

Setidaknya, untuk saat ini, nyawa mereka seharusnya tidak berada dalam bahaya.

“Untuk sementara, kita menambang saja dulu. Soal lainnya nanti kita pikirkan.”

Qin Shang dan Lu Chen pun menyatakan setuju untuk tetap tinggal di Gunung Tianyuan dan bekerja di area tambang.

“Baiklah, kalau tidak ada masalah, ikut aku turun gunung.”

Mo Yuan berbalik, lalu berkata kepada Ye Han dan Su Yao,

“Su Yao, Ye Han, kalian berdua tetap tinggal di sini. Guru abadi itu akan mengatur kalian dengan baik.”

Setelah itu, Mo Yuan membawa delapan belas orang lainnya turun gunung.

Jalan gunung tersebut lurus menurun, menyerupai tangga batu yang ada di kebanyakan gunung hanya saja jauh lebih curam. Untungnya, kali ini mereka sedang turun, bukan mendaki.

Semua orang mengikuti Mo Yuan menuruni jalan gunung.

Tak lama kemudian, mereka menemukan bahwa di kedua sisi jalan terdapat tebing batu dengan banyak gua tersebar di permukaannya.

Dari dalam gua-gua tersebut, sesekali muncul orang-orang dengan pakaian aneh yang tidak biasa mereka lihat. Sekilas saja sudah terlihat bahwa mereka bukan berasal dari Bumi. Namun, pakaian mereka memiliki sedikit kemiripan dengan pakaian orang-orang zaman kuno.

“Pak Mo, apakah nantinya kami hanya bisa tinggal di gua-gua batu di kedua sisi ini? Kalau begitu, bukankah kami harus naik turun tangga batu ini setiap hari?”

Salah satu siswa bertanya kepada Mo Yuan.

Mo Yuan baru saja mendapatkan dua botol pil dari guru perempuan itu, sehingga suasana hatinya sedang sangat baik. Ia tersenyum lalu menjawab,

“Tidak mudah untuk bisa tinggal di gua-gua batu ini. Semua orang yang diperbolehkan tinggal di dalamnya adalah ahli bela diri.”

“Selain itu, puncak gunung merupakan wilayah tempat para guru abadi berada. Setelah kalian berada di Gunung Tianyuan, jangan pernah naik ke atas sebelum mencapai puncak seni bela diri. Kalau tidak, kalian hanya akan mencari kematian!”

Semua orang langsung memahami maksudnya.

Lu Chen bertanya,

“Pak Mo, sebenarnya ada berapa banyak guru abadi di atas sana?”

Mo Yuan menggelengkan kepala.

“Aku juga tidak tahu. Namun, jumlah mereka lebih dari satu. Mereka memang ditempatkan secara khusus untuk menjaga area tambang ini.”

Tak lama kemudian, Mo Yuan membawa mereka tiba di kaki Gunung Tianyuan.

Seratus meter di sebelah kanan kaki gunung terdapat sebuah benteng batu yang tampak seperti sebuah perkampungan.

Bagian dalam benteng itu memiliki area tanah yang luas dan rata. Di sana terdapat sebuah lapangan besar, sementara di kedua sisinya terdapat dua gua raksasa.

Di tengah lapangan tersebut, berdiri lebih dari seribu tiang kayu yang tertancap kokoh di tanah.

Saat ini, lebih dari tiga puluh pemuda dan pemudi sedang berlatih di atas tiang-tiang kayu itu. Mereka melakukan gerakan-gerakan aneh dengan penuh kesungguhan.

Di hadapan mereka, seorang pria paruh baya berjubah hitam duduk di kursi kayu sambil menyilangkan kaki. Di tangannya terdapat sebuah buku yang sedang ia baca.

Ketika Mo Yuan membawa delapan belas siswa masuk, pria paruh baya berjubah hitam itu langsung menoleh.

Ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan menyambut kedatangan Mo Yuan.

“Pak Mo, bagaimana hasilnya?”

Pria berjubah hitam itu ternyata berbicara bahasa Bumi dengan sangat lancar. Hal itu membuat semua orang terkejut.

“Qin Shang, bagaimana orang ini bisa berbicara bahasa kita?”

Lu Chen bertanya dengan wajah penuh keheranan.

Qin Shang menebak,

“Sepertinya dia juga dibawa ke sini oleh Pak Mo dari Bumi. Sepertinya kita bukan kelompok pertama.”

Mendengar itu, Lu Chen terdiam sejenak. Namun, setelah dipikir-pikir, hanya kemungkinan itu yang masuk akal.

Tetapi... bagaimana sebenarnya cara Mo Yuan membawa mereka ke tempat ini?

Mo Yuan tersenyum kepada pria berjubah hitam itu.

“Keberuntunganku cukup baik. Kali ini aku memenangkan taruhan. Aku berhasil menemukan dua bibit abadi.”

Mendengar itu, pria berjubah hitam tersebut langsung tampak gembira. Ia segera memberi hormat dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dada.

“Kalau begitu, sepertinya Pak Mo mendapatkan dua Pil Pengumpul Qi? Selamat, Pak Mo! Jalan keabadian Pak Mo akhirnya memiliki harapan!”

Mo Yuan melambaikan tangannya.

“Aku sudah berusia lebih dari enam puluh tahun. Baru sekarang aku berhasil mengambil langkah pertama. Waktu yang tersisa untukku tidak banyak. Masa depan tetap bergantung pada kalian para generasi muda.”

“Oh ya, delapan belas orang ini sama seperti dirimu. Mereka semua sudah memutuskan untuk tinggal di Gunung Tianyuan.”

“Ajari mereka bahasa di sini. Jika nantinya mereka gagal dalam peningkatan darah, setidaknya mereka masih bisa bertahan hidup di Dunia Xuanwu ini.”

Pria berjubah hitam itu segera mengangguk menyetujui.

Mo Yuan kemudian berbalik dan berkata kepada Gu Yang serta yang lainnya,

“Namanya Lin Yan. Dia adalah murid angkatanku saat aku mengajar di SMA No.3 Beicheng angkatan 2008, sekaligus salah satu pelatih di tempat ini. Tugasnya adalah mengajarkan kalian teknik bela diri.”

“Kalian ikutilah Senior Lin Yan dengan baik. Seberapa banyak kemampuan yang bisa kalian pelajari, semuanya bergantung pada keberuntungan kalian sendiri.”

“Pak Mo, bagaimana dengan Anda? Anda akan pergi ke mana?”

Salah satu siswa menyadari maksud tersembunyi dalam perkataan Mo Yuan dan segera bertanya.

“Aku?”

Mo Yuan menatap ke arah luar gunung, lalu menghela napas panjang. Tatapan matanya dipenuhi berbagai perasaan.

“Sudah tiga puluh tahun sejak aku memasuki Dunia Xuanwu ini. Tiga puluh tahun itu berlalu tanpa hasil. Baru hari ini aku akhirnya memiliki kualifikasi untuk melihat sedikit gambaran dari jalan keabadian.”

“Di usia lebih dari enam puluh tahun, aku baru memulai perjalanan kultivasi. Aku tidak tahu... sejauh apa lagi aku bisa melangkah di jalan ini.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Mo Yuan berjalan keluar dari benteng dengan langkah tegap.

“Pak Mo!”

Lin Yan berteriak memanggilnya.

Langkah Mo Yuan berhenti. Ia menoleh dan menatap Lin Yan.

“Pak Mo, apakah kita masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi?”

tanya Lin Yan dengan penuh harapan.

Mo Yuan tertawa terbahak-bahak.

“Sepuluh tahun. Sepuluh tahun lagi, jika aku masih hidup, tidak peduli apakah aku berhasil mencapai tahap itu atau tidak, aku pasti akan kembali dan berkumpul bersama kalian untuk terakhir kalinya.”

Setelah berkata demikian, Mo Yuan tidak menoleh lagi. Sosoknya perlahan menghilang di luar benteng.

Bab 3

Lin Yan menatap punggung Mo Yuan yang semakin menjauh. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbalik dan melihat kembali ke arah delapan belas orang yang masih berdiri dengan wajah kebingungan.

Lin Yan menunjuk dua gua di belakangnya.

“Laki-laki masuk ke gua sebelah kiri, perempuan masuk ke gua sebelah kanan. Cari sendiri tempat kosong untuk menyimpan barang kalian. Sepuluh menit lagi keluar dan berkumpul di sini.”

Setelah itu, semua orang berpencar memasuki gua masing-masing.

Dua belas siswa laki-laki memasuki gua dan menemukan sebuah batu bercahaya aneh yang tergantung di langit-langit. Cahaya dari batu itu membuat bagian dalam gua tidak sepenuhnya gelap.

Bagian dalam gua tersebut sangat luas. Sesekali terlihat pilar-pilar batu yang menjulang dari tanah, membuat tempat itu benar-benar tampak seperti gua karst alami.

Di sepanjang lantainya terdapat banyak ranjang kayu sederhana. Namun, begitu mereka mendekat, bau tidak sedap langsung menyeruak.

“Ini... tempat tinggal kita? Bukankah ini terlalu buruk?”

“Iya! Baunya menyengat sekali! Kenapa aku mencium bau pesing? Jangan-jangan mereka juga buang air di dalam gua ini?”

Banyak siswa langsung mengeluh.

Qin Shang melihat sekeliling dan menemukan sebuah sudut kosong yang masih cukup bersih. Ia kemudian meletakkan tas selempang yang dibawanya di lantai.

Berbeda dengan dirinya, Lu Chen memiliki kebiasaan menjaga kebersihan yang cukup berlebihan. Ia masih terus mencari tempat yang menurutnya lebih layak.

Namun, sebelum Lu Chen menemukan tempat yang cocok, ketua kelas Gu Yang sudah mulai memanggil semua orang untuk keluar. Lagi pula, barang bawaan Lu Chen juga tidak banyak.

Akhirnya, sekelompok orang berkumpul kembali di tanah lapang di depan pintu gua.

Lin Yan berdiri di hadapan mereka dengan kedua tangan berada di belakang punggung.

“Senior Lin, bagian dalam gua terlalu kotor. Apakah kami boleh mencari tempat tinggal sendiri?”

Salah satu siswa mulai mengeluh.

“Iya! Sepanjang perjalanan ke sini, tempat apa pun yang kami temukan sepertinya jauh lebih baik daripada gua itu!”

Melihat seseorang berani membuka suara, Lu Chen segera ikut menyampaikan pendapatnya.

Lin Yan menjawab dengan tenang,

“Tidak perlu repot. Satu bulan lagi kalian akan meninggalkan gua itu.”

Gu Yang langsung bertanya,

“Senior Lin, apa maksudnya?”

Lin Yan melanjutkan,

“Kalian hanya memiliki waktu satu bulan untuk berlatih Teknik Tiang Yuyang. Setelah satu bulan, berhasil atau gagal, kalian semua harus meninggalkan tempat ini. Perbedaannya hanya terletak pada pekerjaan yang akan kalian dapatkan.”

“Orang yang berhasil menguasai Teknik Tiang Yuyang akan mendapatkan posisi yang lebih baik. Sementara mereka yang gagal hanya bisa melakukan pekerjaan seperti bagian logistik.”

“Bagian logistik? Aku tidak mau bekerja di sana. Kalau kami gagal menguasai Teknik Tiang Yuyang, apakah kami bisa meninggalkan Gunung Tianyuan?”

Salah satu siswa segera bertanya.

Lin Yan menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kalau begitu, bukankah orang yang gagal menguasai Teknik Tiang Yuyang harus bekerja di area tambang ini sampai mati?”

Lu Chen kembali bertanya.

Lin Yan mengangguk.

“Dalam arti tertentu, memang begitu. Bahkan sepertiku, ingin meninggalkan Gunung Tianyuan bukanlah hal yang mudah.”

Mendengar itu, wajah semua orang langsung berubah.

Beberapa siswa bahkan mulai mengumpat Mo Yuan dengan suara pelan.

“Sudahlah.”

Lin Yan berkata,

“Aku harus memberitahu kalian satu hal. Di luar sana, banyak ahli bela diri yang bermimpi bisa masuk ke Gunung Tianyuan untuk menambang. Sebab di dunia luar, kesempatan untuk bertemu seorang abadi jauh lebih sulit daripada mencapai langit.”

“Kalian bisa dikatakan sangat beruntung. Pertama, Pak Mo menggunakan uangnya sendiri untuk menguji akar spiritual kalian. Sekarang, dia juga sudah mengatur agar kalian datang ke sini untuk berlatih Teknik Tiang Yuyang.”

Lin Yan menunjuk lebih dari tiga puluh pemuda dan pemudi yang sedang berlatih pukulan dengan susah payah tidak jauh dari sana.

“Mereka semua membayar kekayaan dalam jumlah besar hanya untuk mendapatkan kesempatan berlatih selama satu bulan. Dibandingkan mereka, titik awal kalian sudah jauh lebih tinggi.”

“Kalau begitu menurut perkataan Senior Lin, ternyata Pak Mo benar-benar mengeluarkan banyak biaya untuk kita!”

Lu Chen berbisik kepada Qin Shang.

Qin Shang sudah tidak sabar lagi. Ia segera membuka mulut dan bertanya,

“Senior Lin, jelaskan kepada kami apa itu ilmu bela diri.”

Lin Yan mengangguk.

“Ilmu bela diri adalah cara untuk memperkuat tubuh. Dengan memanfaatkan usaha yang diperoleh setelah lahir untuk menutupi kekurangan bawaan, seseorang dapat memperluas akar spiritualnya hingga mencapai tingkat yang memungkinkan dirinya menempuh jalan kultivasi.”

“Secara umum, ilmu bela diri terbagi menjadi tiga alam besar: Pembangkitan Darah, Pemurnian Tulang, dan Pembukaan Nadi.”

“Setelah mencapai tahap Pembukaan Nadi, seseorang dapat membuka jalur energi bawaan di dalam lima organ utama. Dengan bantuan lima organ dan enam jeroan, tubuh akan mampu menghasilkan energi bawaan. Ketika kelima nadi berhasil menyatu dan menghantam akar spiritual lemah, ada kemungkinan akar spiritual tersebut dapat berkembang. Setelah itu, seseorang bisa mempelajari teknik rahasia dari sekte abadi dan benar-benar memasuki jajaran kultivator.”

Saat menjelaskan hal itu, wajah Lin Yan dipenuhi kerinduan.

Kemudian ia melanjutkan, “Pak Mo adalah seorang grandmaster bela diri yang telah mencapai batas tertinggi tahap Pembukaan Nadi, yaitu berhasil membuka lima nadi.”

“Pak Mo benar-benar hebat!”

“Jadi maksudnya, Pak Mo sudah bisa mulai berkultivasi menjadi seorang abadi?”

Baru saat itulah semua orang menyadari betapa luar biasanya Mo Yuan.

“Kalau begitu, Senior Lin sendiri? Saat ini berada di alam apa?”

Qin Shang bertanya.

Lin Yan menjawab, “Aku? Sekarang aku berada di tahap Pembangkitan Darah. Tahap ini terbagi menjadi Pembangkitan Darah pertama, kedua, dan ketiga. Aku berada di tingkat ketiga.”

“Berapa lama kamu berlatih di Gunung Tianyuan hingga mencapai Pembangkitan Darah ketiga?”

Qin Shang kembali bertanya.

“Delapan tahun. Tujuh tahun setelahnya hampir tidak mengalami perkembangan apa pun.”

jawab Lin Yan.

Mendengar itu, semua orang langsung terkejut.

“Delapan tahun hanya untuk mencapai Pembangkitan Darah? Kalau dihitung semuanya, sudah lima belas tahun, tapi masih terjebak di tahap ini. Ini... apakah latihan bela diri memang sesulit itu?”

Lu Chen kembali bertanya,

“Senior Lin, kamu juga berasal dari Bumi. Kalau dipikir-pikir, bukankah kamu juga memiliki akar spiritual lemah seperti kami? Apakah orang dengan akar spiritual lemah yang berlatih bela diri tidak memiliki keuntungan khusus?”

Lin Yan menjawab,

“Memiliki akar spiritual atau tidak sama sekali tidak memberikan keuntungan tambahan dalam latihan bela diri. Jangan hanya akar spiritual lemah, bahkan akar spiritual sejati pun tidak akan membantu seseorang dalam menempuh jalan bela diri.”

“Selain itu, jangan menganggapku hebat hanya karena aku membutuhkan delapan tahun untuk mencapai Pembangkitan Darah. Di Gunung Tianyuan ini, hampir tujuh puluh hingga delapan puluh persen orang berhenti di tahap Pembangkitan Darah. Bahkan banyak yang seumur hidup tidak pernah mampu melangkah lebih jauh.”

Mendengar tingkat keberhasilan yang begitu rendah, hati semua orang mulai dipenuhi rasa gentar.

“Baiklah, sekarang aku akan mengajarkan kalian Teknik Tiang Yuyang. Aku akan memperagakannya sekali terlebih dahulu. Perhatikan baik-baik!”

Lin Yan menekan ujung kakinya dengan ringan, lalu tubuhnya langsung melesat ke atas sebuah tiang kayu setinggi lebih dari dua meter.

“Teknik Tiang Yuyang, tubuh bagaikan giok, meminjam kekuatan matahari yang terik untuk menyempurnakan darah manusia!”

“Namun, setiap postur yang berbeda akan merangsang titik akupuntur yang berbeda pula. Gerakan kalian harus dilakukan dengan tepat agar dapat membuka jalur akupuntur.”

Sambil berbicara, Lin Yan mulai memperagakan gerakan Teknik Tiang Yuyang.

Semua orang memperhatikannya dengan penuh konsentrasi.

Namun, gerakan Lin Yan terlihat sangat aneh. Sesaat ia berdiri dengan satu kaki seperti ayam emas yang berdiri sendiri, sesaat ia berubah seperti harimau yang menerkam turun dari gunung, dan sesaat kemudian ia menyerupai seseorang yang menusukkan tombak untuk melakukan serangan balik.

Akan tetapi, tidak peduli bagaimana ia mengubah posisi tubuhnya, setiap langkahnya selalu mendarat tepat di atas tiang kayu.

Kedua kakinya seolah menyatu dengan tiang tersebut. Tubuhnya berdiri kokoh tanpa sedikit pun goyah.

Setelah menyelesaikan sembilan gerakan, Lin Yan melompat turun.

“Teknik Tiang Yuyang adalah ilmu bela diri tingkat tinggi yang diwariskan oleh Sekte Yunlan. Secara keseluruhan terdapat tiga puluh enam postur. Untuk beberapa hari ke depan, pelajari sembilan postur pertama ini terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan mengajarkan postur berikutnya.”

“Kalian memiliki waktu satu jam. Berlatihlah terlebih dahulu di tanah. Setelah satu jam, naiklah ke atas tiang!”

Semua orang segera mulai berlatih.

Banyak dari mereka tidak mampu mengingat seluruh gerakan dengan jelas, sehingga mereka mulai bertanya kepada Lin Yan.

Lin Yan menjawab setiap pertanyaan mereka.

Ia sama sekali tidak merasa terganggu. Dengan sabar, ia terus membimbing mereka secara langsung berulang kali.

Qin Shang juga mencari sebuah tempat kosong. Ia memejamkan mata dan mengingat kembali gerakan pertama yang diajarkan Lin Yan dengan saksama.

Setelah memahami gerakan itu sepenuhnya, ia mulai memperagakan postur pertama.

Gerakan ini terlihat mirip dengan pose yoga. Salah satu kakinya menopang tubuh di tanah, sementara kedua tangan dan kaki kanannya terangkat di udara.

Sebagian besar siswa lainnya tidak mampu melakukan gerakan itu dengan benar. Bahkan beberapa dari mereka tampak terus bergoyang saat berusaha mempertahankan posisi tersebut.

Namun, kondisi fisik Qin Shang jauh lebih kuat dibandingkan orang biasa.

Saat melakukan gerakan itu, tubuhnya tetap berdiri kokoh dan stabil.

Lin Yan yang berada di sampingnya melihat pemandangan tersebut. Matanya langsung berbinar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!