Indonesia
NovelToon NovelToon

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Episode 1

Bab 001

Suara di Frekuensi Badai

“Nusantara 4521, deviasi ke kiri tidak dapat disetujui karena ada pesawat lain. Belok kanan ke heading 310 sekarang, atau beri tahu jika memilih pola tunggu.”

Kilatan merah dan ungu menutupi hampir separuh layar radar. Di luar gedung Jakarta Approach, hujan menghantam kaca seperti ribuan butir kerikil. Di dalam ruang kendali, suara Laras justru terdengar lembut, nyaris terlalu manis untuk perintah setegas itu.

Kapten Nusantara 4521 tidak segera membaca ulang.

“Jakarta Approach, apa cuma bisa dari kanan? Sel badai di depan kami makin menutup.”

Jari Laras berhenti di atas strip elektronik penerbangan itu. Di sisi kiri pesawat ada dua lalu lintas yang sedang turun, masing-masing membawa ratusan nyawa. Citra cuaca di layar mereka terlambat beberapa menit. Yang bisa melihat celah awan secara langsung hanyalah radar cuaca di kokpit.

Ia menekan tombol transmisi.

“Nusantara 4521, sisi kiri tidak tersedia. Ada pesawat yang mendekat dari arah pukul sepuluh, jarak dua belas mil. Belok kanan ke heading 310. Jika sudah memungkinkan, lanjutkan langsung ke rute dan laporkan setelah keluar dari area cuaca buruk.”

Kali ini jawaban datang tanpa bantahan.

“Belok kanan heading 310, akan melapor setelah keluar dari area cuaca buruk, Nusantara 4521.”

Laras baru melepaskan tombol ketika Rosa, yang duduk di posisi planner di sebelahnya, mendorong segelas air ke dekat sikunya.

“Tiga pesawat holding, dua minta deviasi, satu mulai hitung bahan bakar,” bisik Rosa. “Aku sudah koordinasi. Kalau angin geser muncul lagi, Tower mungkin tutup sementara 25L.”

Laras mengangguk tanpa mengalihkan mata dari layar. “Siapkan Halim dan Kertajati untuk opsi pengalihan. Yang bahan bakarnya paling ketat taruh di urutan pertama setelah celah terbuka.”

“Siap.”

Frekuensi kembali dipenuhi suara berlapis. Permintaan turun, laporan turbulensi, bunyi peringatan, dan desis statis saling mengejar. Di layar, label-label kecil bergerak menuju Soekarno-Hatta dari berbagai arah, sementara badai memaksa semuanya berebut jalur sempit yang sama.

Laras merapikan jarak satu penerbangan, menahan penerbangan lain di ketinggian delapan ribu kaki, lalu memindahkan pesawat yang bahan bakarnya menipis ke depan antrean. Bahunya kaku. Bantalan headset menekan pelipisnya, tetapi suaranya tak berubah sedikit pun.

“Jakarta Approach, Nusantara 8966, sedang turun melewati FL100, informasi Kilo, meminta pendekatan ILS runway 25L.”

Tangan Laras membeku sepersekian detik.

Suara itu rendah dan dingin. Tidak tergesa meski awan badai memenuhi jalur kedatangan. Setiap katanya jatuh bersih, tanpa satu suku kata berlebih.

Aneh. Ia merasa pernah mendengarnya.

“Nusantara 8966, Jakarta Approach, kontak radar. Turun ke ketinggian 6.000 kaki, QNH 1008. Karena cuaca, bersiap menerima panduan radar.”

“Turun ke 6.000 kaki, QNH 1008, Nusantara 8966.”

Pesawat itu muncul di tepi sel cuaca. Jalur yang beberapa menit lalu terbuka kini menyempit pada layar Laras. Ia tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan warna yang mungkin sudah terlambat dua atau tiga menit.

“Nusantara 8966, konfirmasi mampu mempertahankan heading saat ini. Sel cuaca di arah pukul dua belas, jarak lima belas mil.”

Hanya ada satu detik desis statis sebelum suara berat itu kembali.

“Mampu. Celah terlihat aman pada radar kami. Kami dapat melanjutkan.”

Tidak ada keluhan. Tidak ada usaha memaksakan prioritas.

Ia memberi Laras informasi yang dibutuhkan, lalu menunggu keputusan.

Entah mengapa, detak jantung Laras ikut menyesuaikan irama suara itu.

“Nusantara 8966, pertahankan heading saat ini. Turun ke ketinggian 5.000 kaki, kurangi kecepatan menjadi 210 knot.”

“Pertahankan heading, turun ke 5.000 kaki, kecepatan 210 knot, Nusantara 8966.”

Mereka bergerak seolah telah berkali-kali melakukan ini bersama. Laras menutup jarak di belakang pesawat pertama, menggeser satu lalu lintas ke kanan, lalu memasukkan Nusantara 8966 tepat ketika celah di antara dua sel hujan terbuka.

Garis lintasannya bersih.

“Nusantara 8966, belok kiri heading 250, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25L. Hubungi Tower di 118.75.”

Suara itu terdengar sekali lagi di telinganya.

“Belok kiri heading 250, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25L. Tower 118.75. Terima kasih, Nusantara 8966.”

Terima kasih.

Dua kata sederhana itu terasa terlalu lama tertinggal setelah label penerbangannya berpindah dari frekuensi Laras.

Beberapa menit kemudian, peringatan angin geser kembali muncul. Tower menahan kedatangan berikutnya. Satu penerbangan memilih berputar, dua lainnya mulai membahas pengalihan.

Rosa melirik layar koordinasi, lalu menyentuh lengan Laras singkat.

“Delapan sembilan enam enam sudah mendarat. Dia satu-satunya yang berhasil masuk sebelum 25L ditahan.”

Laras menelan ludah. “Bagus.”

Hanya itu jawabannya. Ia kembali mengatur langit, tetapi suara kapten tadi terus berputar di kepalanya sampai akhir giliran kerja.

Saat Laras keluar dari gedung JATSC lewat tengah malam, hujan telah berubah menjadi gerimis. Udara Tangerang berbau aspal basah. Ia masuk ke mobil daring, menyandarkan kepala, lalu memejamkan mata.

Suara rendah itu datang lagi di sela deru ban.

Pertahankan heading.

Terima kasih.

Lalu, tanpa diundang, satu nama lama naik dari tempat paling dalam di ingatannya.

Arkananta.

Laras membuka mata begitu cepat sampai pengemudi di depan sempat menatapnya lewat kaca spion.

“Mbak nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Pak. Maaf.”

Ia memalingkan wajah ke jendela. Konyol. Sudah lebih dari sepuluh tahun, dan satu suara asing saja masih bisa menyeretnya kembali kepada laki-laki itu.

Sesampainya di rumah, Laras tidur tanpa sempat mengganti kaus. Namun, tidurnya dangkal. Ia bermimpi berdiri di bawah langit hitam, memanggil sebuah pesawat yang tak pernah menjawab. Ketika terbangun menjelang siang, dadanya masih sesak oleh nama yang sama.

Ponselnya menampilkan enam pesan dari Mama.

Mama:

Bangun belum?

Mama:

Jangan lupa jam dua.

Mama:

Mama sudah bilang kamu datang.

Mama:

Sekali ini aja, Nak. Kalau nggak cocok, Mama nggak paksa.

Laras mengusap wajah. Seminggu terakhir, Wulan membicarakan pertemuan itu seolah anaknya akan menghadapi wawancara kerja, bukan sekadar dikenalkan dengan putra seorang kenalan.

Ia menelepon balik sambil berjalan menuju dapur.

“Ma, Laras baru selesai shift malam.”

“Makanya Mama pilih jam dua, bukan jam sembilan pagi.” Suara Wulan terdengar bersama bunyi mesin penggiling kopi dari Kopi Wulan. “Datang, ngobrol baik-baik, minum kopi. Habis itu kalau kamu nggak suka, pulang.”

“Memangnya dia mau datang?”

“Mau. Mamanya sendiri yang bilang.”

“Itu bisa berarti dia juga dipaksa.”

Wulan tertawa kecil. “Berarti kalian sudah punya satu kesamaan.”

Laras tak bisa menahan senyum tipis. “Iya, iya. Laras datang.”

“Pakai yang rapi.”

“Laras cuma minum kopi, Ma.”

“Minum kopi juga jangan pakai kaus bekas tidur.”

Sambungan berakhir sebelum Laras sempat membantah.

Ia kembali ke kamar. Saat menarik laci untuk mencari jam tangan, ujung jarinya menyentuh sebuah buku bersampul biru tua di bagian paling belakang.

Gerakannya terhenti.

Karet pengikat buku itu sudah longgar. Sudut sampulnya aus, tetapi Laras tahu persis apa yang tersimpan di setiap halaman. Nama yang tadi muncul di mobil memenuhi terlalu banyak lembar di dalamnya.

Ia menarik buku harian itu setengah keluar. Ibu jarinya menekan tepi halaman, nyaris membukanya.

Tidak.

Laras mendorongnya kembali, menutup laci, lalu memutar kunci kecil yang selalu dibiarkan tergantung di sana.

Pukul setengah dua, ia baru memesan mobil menuju sebuah kafe di Jakarta Selatan. Ia tidak memakai riasan selain tabir surya dan lip balm. Blus putih sederhana dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambutnya hanya diikat rendah.

Ia benar-benar berniat datang, menyelesaikan kewajiban, lalu pulang dan tidur lagi.

Kafe itu ramai oleh percakapan pelan dan aroma biji kopi yang baru dipanggang. Laras memeriksa pesan dari Wulan sekali lagi.

Meja dekat bar. Kemeja hitam.

Ia melangkah masuk sambil mencari sosok yang dimaksud.

Pandangan Laras berhenti pada seorang pria yang duduk santai di kursi tinggi dekat bar. Kemeja hitamnya digulung sampai siku. Sebelah tangannya memegang cangkir, sementara wajahnya menoleh sedikit ke arah jendela.

Garis rahang itu.

Mata tenang yang dulu hanya berani ia pandangi dari ujung koridor sekolah.

Laras berhenti bernapas.

Suara di frekuensi semalam. Nama yang memenuhi buku hariannya. Laki-laki yang membuatnya memilih jalan menuju langit meski ia sendiri takut pada ketinggian.

Arkan.

Ternyata dia.

Episode 2

Bab 002

Kamu Nggak Ingat Aku, ya?

“Laras Anjani?”

Suara itu menghantamnya untuk kedua kali.

Tanpa desis radio, tanpa derak hujan, suara Arkan terdengar sedikit lebih dalam. Tetap tenang. Tetap membuat jantung Laras lupa cara berdetak dengan wajar.

Arkan turun dari kursi tinggi dan menatapnya selama dua detik. Tidak ada tanda pengenalan di matanya. Ia hanya memeriksa wajah Laras, lalu mencocokkannya dengan sesuatu di layar ponsel.

“Aku Arkan.”

Seolah Laras mungkin tidak tahu.

Seolah nama lengkap laki-laki itu tidak pernah memenuhi satu buku harian yang ia kunci di dasar laci.

“Iya.” Laras memaksa bibirnya bergerak. “Aku Laras.”

Arkan mengangguk ke kursi di seberangnya. “Duduk?”

Baru saat itulah Laras sadar ia masih berdiri di tengah jalan pelayan. Ia menarik kursi terlalu cepat. Kaki kursi bergesek dengan lantai dan menghasilkan bunyi nyaring yang membuat dua orang di meja sebelah menoleh.

Panas merambat sampai ke telinganya.

Arkan tidak tertawa. Ia menahan sisi meja agar tidak ikut bergeser, lalu menunggu sampai Laras benar-benar duduk.

“Mama kasih fotomu,” katanya. “Tapi fotonya agak lama.”

Laras melirik foto profil WhatsApp yang terbuka di ponsel Arkan. Foto itu diambil Wulan hampir tiga tahun lalu, saat Laras sedang membantu di Kopi Wulan.

“Pantas kamu harus memastikan.”

“Bukan begitu.” Tatapan Arkan kembali ke wajahnya. “Kamu kelihatan lebih muda dari fotonya.”

Laras tak tahu harus menjawab apa. Sepuluh tahun lalu, satu kalimat darinya bisa membuat Laras tersenyum diam-diam selama berhari-hari. Rupanya tubuhnya belum belajar menjadi lebih bijak. Telapak tangannya mulai basah di bawah meja.

Seorang pelayan datang membawa menu.

“Mau pesan apa, Kak?”

“Es latte, tanpa gula,” jawab Laras cepat.

Pelayan itu mengulang pesanannya, lalu menunjuk cangkir di depan Arkan. “Untuk Kakak, tambah americano lagi?”

“Nggak usah. Tolong air mineral satu.” Arkan melirik Laras. “Buat dia.”

“Aku nggak pesan air.”

“Kamu kelihatan butuh.”

Laras menutup mulut. Pelayan itu tersenyum kecil sebelum pergi, membuat panas di telinganya naik satu tingkat.

Arkan menyandarkan punggung. Kemeja hitam yang ia kenakan polos, tetapi jam di pergelangan tangannya dan cara ia duduk membuat tempat itu mendadak terasa terlalu sempit.

“Mama bilang kamu dua puluh delapan.”

“Iya.”

Alis Arkan terangkat tipis. “Kamu udah dua puluh delapan?”

Laras hampir tertawa karena gugup. “Kenapa? Kelihatannya masih anak kuliahan?”

“Aku kira Mama salah kasih umur.”

“Mama jarang salah kalau urusan biodata calon menantu.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Arkan bergerak. Bukan senyum penuh, hanya garis tipis yang mengubah wajah dinginnya selama sesaat.

“Berarti kamu juga dipaksa datang?”

“Dibujuk,” koreksi Laras. “Dengan enam pesan dan satu telepon.”

“Aku dapat sembilan pesan.”

“Kamu menang.”

“Bukan kemenangan yang ingin kubanggakan.”

Percakapan kecil itu meredakan sesak di dada Laras. Ia memberanikan diri mengangkat wajah lebih lama. Waktu memang mengubah Arkan. Bahunya lebih lebar, sorot matanya lebih tenang, dan ada ketegasan orang yang terbiasa membuat keputusan tanpa ruang untuk ragu.

Namun, bekas luka tipis dekat alis kirinya masih ada.

Laras mengenali luka itu.

Arkan tidak mengenalinya.

Pertanyaan yang sedari tadi tertahan akhirnya lolos sebelum ia sempat menimbang harga dirinya.

“Kamu nggak ingat aku, ya?”

Arkan berhenti menyentuh cangkir.

“Kita pernah ketemu?”

Ada sesuatu yang jatuh pelan di dalam dada Laras. Ia sudah menduga, tetapi mendengar pertanyaan itu langsung tetap terasa berbeda.

“Kita satu SMA,” katanya. “Satu angkatan.”

Tatapan Arkan menyapu wajahnya sekali lagi. Kali ini lebih lama. Laras melihat ia berusaha menarik suatu ingatan, lalu gagal menemukannya.

“Maaf.”

Hanya satu kata. Jujur dan sopan.

Tetap saja, jari Laras mengerat di pangkuan.

“Nggak apa-apa. Kita memang nggak dekat.”

Ia tidak mengatakan bahwa Arkan pernah berdiri di antara dirinya dan sekelompok orang yang mempermalukannya. Tidak mengatakan bahwa beberapa menit keberanian Arkan hari itu telah menjadi alasan Laras bertahan melewati sisa masa sekolah.

Pelayan datang membawa latte dan air mineral. Laras segera meraih gelas dingin itu, bersyukur punya alasan untuk memutus tatapan.

“Sekarang kerja di mana?” tanya Arkan.

“AirNav Indonesia.”

“Bagian?”

“Jakarta Approach. Aku controller.”

Ada ketertarikan tipis di mata Arkan, kali ini nyata.

“Pantas.”

“Pantas apa?”

“Cara kamu jawab pendek-pendek.”

Laras hampir tersedak air.

Arkan mengambil tisu dari kotak dan menggesernya ke seberang meja. “Aku pilot di Angkasa Nusantara. Kapten A330.”

Aku tahu.

Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi Laras menggigit bagian dalam pipinya.

Ia tahu Arkan masuk sekolah penerbangan di luar negeri. Ia tahu kapan laki-laki itu kembali ke Indonesia. Ia tahu foto pertamanya dengan empat garis di pundak seragam pernah beredar di grup angkatan. Bahkan tanpa sengaja, ia baru mengetahui penerbangan Arkan semalam, setelah suara di frekuensi dan sosok di depannya menyatu menjadi satu orang.

Namun, Laras hanya berkata, “Berarti pekerjaan kita kadang bersinggungan.”

“Mungkin kita pernah bicara di frekuensi.”

Jari Laras tergelincir di permukaan gelas yang berembun.

Semalam.

Aku yang memasukkanmu ke celah badai semalam.

Aku memilih pekerjaan ini karena dulu aku terlalu takut terbang, tetapi masih ingin berada di langit yang sama denganmu.

Tiga pengakuan itu berdesakan di belakang giginya. Tak satu pun keluar.

“Mungkin,” jawabnya akhirnya.

Arkan tidak mengejar. Ia bertanya tentang jam kerja, dan Laras menjelaskan singkat tentang sistem shift. Sebagai gantinya, Arkan bercerita bahwa jadwal terbang membuatnya lebih sering melihat matahari terbit dari kokpit daripada dari rumah. Mereka bicara hampir setengah jam, cukup sopan untuk disebut berhasil, terlalu berjarak untuk disebut dekat.

Namun, beberapa kali Laras menangkap Arkan menatapnya seperti sedang mencari potongan ingatan yang hilang.

Ketika kopi Laras tinggal separuh, Arkan melihat jam.

“Aku harus pergi.”

“Oh. Iya.”

Ia berdiri, tetapi tidak langsung mengambil kunci mobil. “Boleh minta WhatsApp kamu?”

Laras menatapnya. “Mama kita belum saling memberikan nomor?”

“Sudah.” Arkan mengangkat ponsel. “Tapi kalau aku langsung chat dari nomor yang dikasih Mama, rasanya aneh.”

“Sekarang nggak aneh?”

Sudut bibirnya bergerak lagi. “Sekarang aku minta sendiri.”

Laras menyebutkan nomornya. Notifikasi masuk beberapa detik kemudian.

Arkan:

Arkan.

Hanya itu. Bahkan pesan pertamanya sehemat cara ia bicara.

“Instagram?” tanyanya.

Laras memberikan akun miliknya, lalu menerima permintaan mengikuti dari akun yang dipenuhi foto langit, kokpit, dan seragam putih dengan empat garis di pundak.

“Biar kalau Mama tanya, kita punya bukti sudah berusaha,” kata Arkan.

Kalimat itu seharusnya membuat semuanya kembali biasa. Sebuah pertemuan karena dua ibu memaksa. Satu kontak baru yang mungkin tak akan pernah dipakai.

Laras tersenyum setipis mungkin. “Tentu.”

Arkan pergi setelah membayar kedua pesanan. Laras menatap punggungnya melewati pintu kaca sampai sosok itu hilang di antara kendaraan.

Baru sesudahnya ia mengembuskan napas panjang.

Sepuluh tahun, dan Arkan bahkan tidak ingat mereka pernah berada di sekolah yang sama.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Bukan pesan dari Arkan.

Seratus tiga puluh tujuh notifikasi muncul dari grup WhatsApp angkatan yang sudah berbulan-bulan ia bisukan.

REUNI SABTU!

Yang ganteng-ganteng wajib dateng 😏

Pesan berikutnya dipenuhi tag.

@Tiara

@Sherly

@Vina

Tiga nama itu menyala di layar seperti pintu lama yang baru saja ditendang terbuka.

Jari Laras mendadak dingin.

Lalu panas.

Episode 3

Bab 003

Story dan Undangan Reuni

Pagi berikutnya, wajah Tiara muncul di layar ponsel Laras bahkan sebelum alarmnya berhenti berbunyi.

Perempuan itu mengunggah Instagram Story dari kabin pesawat. Seragam Angkasa Nusantara melekat sempurna di tubuhnya, senyumnya cerah, dan tulisan kecil di bawah foto sengaja dibuat mencolok.

Flying with the best crew today. Semoga kaptennya juga best.

Story berikutnya milik Sherly. Sebuah tas bermerek diletakkan di meja restoran dengan tulisan, Reuni nanti jangan salah dress code, ya.

Laras menutup Instagram. Belum sampai satu menit, grup angkatan kembali bergerak.

Tiara:

Katanya Arkan juga diundang.

Tiara:

Kalau dia datang, nanti aku ajak duduk bareng. Kami sama-sama di Angkasa, kok.

Beberapa emoji mata dan hati langsung bermunculan. Sherly membalas dengan stiker tertawa. Nama Vina tetap berada di daftar pembaca tanpa satu pesan pun.

Laras mematikan layar, tetapi dadanya sudah terlanjur berat.

Panggilan video dari Nindya masuk saat ia sedang menuang air panas. Laras mengangkatnya dan menyandarkan ponsel di dekat wadah gula.

“Wajahmu kayak habis kena turbulence,” kata Nindya tanpa salam panjang. “Gimana acara kemarin?”

Laras menatap uap yang naik dari cangkir. “Aku kenal orangnya.”

“Mantan?”

“Aku bahkan nggak pernah punya mantan.”

“Terus?”

Laras mengusap tepi cangkir dengan ibu jari. Mengucapkannya keras-keras terasa lebih memalukan daripada menyimpannya di buku harian.

“Dia cowok yang aku suka sejak SMA.”

Nindya membeku di layar. “Yang itu?”

Laras mengangguk kecil.

“Ya ampun.” Nindya mendekatkan wajah ke kamera. “Terus dia gimana? Ingat kamu?”

“Nggak.”

“Sama sekali?”

“Dia minta maaf karena nggak ingat kami pernah satu sekolah.”

Nindya diam selama beberapa detik. Candaan di wajahnya menghilang.

“Ras, kamu mau aku bilang ini takdir atau mau aku maki dia dulu?”

Tawa Laras lolos sebelum sempat ditahan. Pendek, tetapi cukup untuk melonggarkan dadanya.

“Dia nggak salah. Dulu aku memang bukan siapa-siapa.”

“Jangan mulai.” Suara Nindya tegas. “Dia boleh lupa. Kamu nggak boleh ikut-ikutan menghapus dirimu sendiri.”

Laras terdiam.

“Kamu jadi datang ke reuni?” lanjut Nindya.

“Belum tahu.”

“Datang.”

“Buat apa?”

“Buat menunjukkan kalau kamu nggak takut lagi. Bukan buat cowok itu, bukan juga buat tiga perempuan kurang kerjaan di grup. Buat dirimu sendiri.”

Laras melirik layar ponsel kedua kalinya ketika pesan baru masuk. Tiara sedang menjawab pertanyaan teman seangkatan tentang Arkan.

Kapten A330 termuda di Angkasa. Orangnya susah didekati, tapi kalau udah kenal sebenarnya baik banget.

Seolah Tiara mengenalnya lebih dekat daripada siapa pun.

“Nin,” kata Laras pelan, “kalau aku datang, aku nggak mau sembunyi di sudut lagi.”

“Bagus. Pakai baju paling cantik yang kamu punya.”

“Itu saran yang sangat dangkal.”

“Kadang penyembuhan memang butuh sepatu bagus.”

Kali ini Laras tertawa lebih lepas.

Belum lama panggilan berakhir, ketua panitia reuni menandai namanya di grup.

Laras, jadi hadir? Kami butuh jumlah final untuk reservasi.

Sherly langsung menyelipkan balasan.

Kasih alamat lengkapnya, dong. Takut ada yang belum pernah ke tempat seperti itu.

Tiara menambahkan emoji tertawa, lalu menulis, Kalau bingung dress code, tanya aja. Jangan sampai ada yang salah kostum.

Dulu Laras akan membisukan grup dan berharap namanya segera tenggelam di antara pesan lain. Kali ini ia mengetik sebelum rasa takut sempat mengambil alih.

Laras:

Aku hadir. Pembayaran sudah kutransfer. Sampai ketemu Sabtu.

Tanda dibaca bermunculan. Tak ada satu pun dari mereka yang membalas.

Dua hari berikutnya lewat di antara jadwal kerja dan notifikasi yang sengaja tidak ia buka. Pada satu shift pagi, Laras kembali duduk di depan layar Jakarta Approach. Cuaca lebih bersih daripada malam badai, lalu lintas mengalir tanpa banyak deviasi.

“Nusantara 7310, belok kiri heading 240, turun ke ketinggian 4.000 kaki.”

“Belok kiri heading 240, turun ke 4.000 kaki, Nusantara 7310.”

Suara kaptennya bukan Arkan.

Laras tahu hanya dari satu jawaban. Ia kesal pada dirinya sendiri karena sempat menunggu nada rendah yang lain.

“Nusantara 7310, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25R. Hubungi Tower di 118.75.”

Setelah pesawat itu berpindah frekuensi, Rosa menoleh singkat. “Kamu nunggu callsign tertentu?”

“Aku nunggu kamu berhenti mengawasi wajahku.”

Rosa terkekeh, lalu kembali ke layar koordinasi. Laras pun fokus pada penerbangan berikutnya. Di ruangan itu, perasaannya tak boleh mengambil satu sentimeter pun ruang dari keselamatan.

Sabtu sore, Wulan menemukan tiga gaun terhampar di tempat tidur Laras.

“Katanya cuma reuni,” godanya.

“Memangnya reuni nggak boleh pakai baju bagus?”

Wulan mengangkat gaun hitam, lalu menggeleng. Ia memilih gaun hijau gelap dengan potongan sederhana yang mengikuti tubuh tanpa terlihat berlebihan.

“Yang ini.”

“Kenapa?”

“Karena kamu selalu pilih warna gelap kalau ingin menghilang.” Wulan menaruh gaun hitam kembali ke kasur. “Malam ini jangan.”

Kalimat itu membuat Laras berhenti menyentuh antingnya.

Ia mengenakan gaun pilihan Wulan. Rambutnya dibiarkan tergerai, riasannya tegas di bagian mata, dan sepatu hak berwarna nude membuat langkahnya lebih tinggi. Bukan penyamaran. Bukan pula usaha menjadi orang lain.

Hanya Laras yang tak lagi membungkuk agar orang lain merasa lebih besar.

Menjelang malam, mobil yang membawanya berhenti di depan Restoran Kayu Manis. Dari balik pintu kaca, Laras bisa melihat beberapa wajah lama dan kilatan kamera ponsel.

Pesan Nindya masuk.

Nindya:

Masuk. Jangan kasih mereka kesempatan bikin kamu ragu.

Laras menyimpan ponsel. Ujung hak sepatunya menyentuh lantai batu saat ia berdiri di depan pintu.

Ia menarik napas, lalu mendorongnya terbuka.

Tawa di dalam ruangan terputus.

Semua mata berbalik ke arahnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!