Langit malam Kota Metropolitan tidak pernah benar-benar tidur. Kilau lampu dari gedung-gedung pencakar langit berpendar menembus kaca jendela penthouse mewah milik keluarga Wirya Negara di lantai 30. Dari ketinggian ini, kota tampak seperti hamparan permata yang tenang. Namun, ketenangan di luar itu sangat berbanding terbalik dengan badai kehancuran yang sedang melanda bagian dalam ruangan tersebut.
Rafa Sasmita berdiri mematung di dekat pintu masuk. Napasnya tercekat, seolah oksigen di ruangan seluas lapangan tenis itu tiba-tiba menguap. Sepasang sepatu hak tinggi wanita yang bukan miliknya tergeletak begitu saja di lantai foyer—sebuah pemandangan ganjil yang menyambutnya sepulangnya dari perjalanan bisnis singkat selama tiga hari di luar kota.
Hatinya sempat mencemaskan Evan, suaminya. Ia mengira suaminya kelelahan mengurus proyek besar Negara Group, perusahaan raksasa yang telah ia bantu bangun dari titik nol selama empat tahun terakhir. Selama pernikahan itu, Rafa dengan sukarela menanggalkan kariernya sebagai arsitek penuh waktu menjanjikan demi mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengurus rumah tangga, merawat Evan, dan menjaga nama baik keluarga konglomerat tersebut.
Langkah kaki Rafa yang gemetar membawanya mendekati ruang keluarga yang terhubung langsung dengan bar mini pribadi. Suara tawa renyah bercampur desahan manja terdengar samar, semakin mendekat, semakin menghujam ulu hatinya.
"Kamu ini ada-ada saja, Ev. Kalau istri kamu tiba-tiba tahu bagaimana?" suara perempuan melengking manja terdengar menyayat kesunyian.
"Dia tidak akan tahu. Jadwal penerbangan pulangku besok pagi. Lagipula, biarpun dia tahu, apa yang bisa dia lakukan? Tanpa aku, dia bukan apa-apa," jawab suara bariton yang sangat dikenal Rafa—suara suaminya sendiri, Evan Wirya Negara.
Rafa merasakan dunia di sekelilingnya berputar hebat. Pegangan pada tali tas tangannya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Dengan sisa keberanian yang ada, ia mendorong pintu kaca geser yang sedikit terbuka.
Deg.
Pemandangan di hadapannya meremukkan sisa-sisa kewarasannya dalam satu detik.
Evan, pria yang sangat dicintainya, berdiri tanpa sehelai benang pun di tubuh bagian atas, tengah memeluk erat seorang wanita yang duduk di atas meja bar marmer hitam. Wanita itu adalah Zaskia Mulandari, sosialita muda yang dikenal kerap menghiasi halaman majalah gosip berkat gaya hidup bebasnya. Malam itu, Zaskia mengenakan dress mini transparan berwarna merah menyala yang hampir tidak menyisakan ruang untuk imajinasi. Pakaian itu begitu minim, mengekspos lekuk tubuhnya secara vulgar tanpa secercah rasa risih.
****
Yang membuat lambung Rafa terasa diaduk-aduk bukan hanya fakta perselingkuhan itu sendiri, melainkan cara Zaskia menatapnya. Alih-alih terkejut atau ketakutan karena kepergok basah, Zaskia justru melingkarkan kedua tangannya semakin erat di leher Evan. Senyum penuh kemenangan terukir di bibir merah merekahnya. Dengan sengaja, Zaskia menempelkan dadanya ke dada Evan seraya menjulurkan lidah mengejek ke arah Rafa, menampilkan kemesraan menjijikkan itu tanpa secuil pun rasa malu.
"Oh, lihat siapa yang datang lebih cepat dari jadwal," bisik Zaskia dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah, matanya menatap Rafa penuh meremehkan.
Evan menoleh perlahan. Raut wajah suaminya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Tidak ada kepanikan, tidak ada penyesalan. Yang ada hanyalah tatapan dingin, datar, dan penuh kejenuhan—tatapan yang menyiratkan bahwa kehadiran Rafa di sana adalah sebuah gangguan kecil yang menyebalkan.
"Rafa," ucap Evan datar, seraya merapikan jubah mandinya sekadarnya tanpa benar-benar turun dari posisinya yang mendekap Zaskia. "Kamu rupanya datang kecepatan."
Rafa merasa tenggorokannya kering. Air mata yang mendesak keluar tertahan oleh rasa syok yang teramat sangat. Suaranya tercekat di kerongkongan. "Evan... apa-apaan ini? Zaskia... di rumah kita? Di atas meja kita...?"
Zaskia terkekeh kecil, suara tawa yang terdengar sangat merendahkan martabat seorang istri. "Ayolah, Mbak Rafa. Jangan naif begitu. Di zaman sekarang, pria sukses seperti Evan butuh variasi, bukan cuma istri kaku yang kerjanya cuma bisa diam di rumah dan menghabiskan uang suami."
****
"Tutup mulutmu, Zaskia!" bentak Rafa akhirnya, suara serak penuh amarah meluncur dari bibirnya yang bergetar. Ia menatap tajam ke arah wanita jalang itu. "Ini rumahku! Rumah tangga kami!"
"Rumah tangga?" Evan tiba-tiba menyela dengan nada suara dingin yang mengiris hati Rafa lebih tajam daripada pisau bermata dua. Pria itu melangkah maju, berdiri di hadapan Rafa dengan tatapan penuh kebencian. "Rumah tangga macam apa yang kamu bicarakan, Rafa? Selama empat tahun ini, apa yang sudah kamu berikan selain kehampaan?"
Rafa terpaku. "Aku memberikan segalanya untukmu, Evan! Aku mengorbankan karierku, masa mudaku, seluruh hidupku untuk mengurusmu dan keluarga ini!"
"Pengorbanan?" Evan tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang membuat darah Rafa mendidih sekaligus membeku. "Pengorbanan apa? Yang kamu maksud pengorbanan itu adalah ketidakmampuanmu memberikan keturunan? Empat tahun, Rafa! Empat tahun aku dan keluargaku bersabar menunggu rahimmu membuahkan hasil. Tapi apa hasilnya? Nol besar! Kamu mandul! Kamu wanita mandul yang tidak berguna!"
****
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang pernah berjanji di hadapan altar suci untuk mencintainya dalam suka dan duka. Setiap suku kata dari kalimat itu menghujam jantung Rafa, meremukkan harga dirinya berkeping-keping.
Sebelum Rafa sempat membalas hantaman mental tersebut, suara derap langkah kaki berhak tinggi terdengar menggema dari arah lift pribadi penthouse. Pintu lift terbuka dengan bunyi ding yang nyaring, memunculkan sesosok wanita paruh baya berkalung berlian besar dengan ekspresi wajah penuh amarah membara.
Nena Apriandini, ibu kandung Evan sekaligus ibu mertua Rafa.
Wanita paruh baya itu melangkah masuk dengan angkuh, matanya tajam menatap kekacauan di ruang keluarga sebelum akhirnya mendarat penuh jijik pada sosok Rafa yang tengah gemetar.
"Ada apa ini, teriak-teriak tidak tahu malu?!" bentak Nena dengan suara melengking tinggi, suaranya terdengar melengking bak petasan banting yang meledak secara membabi buta di ruang tamu yang luas itu.
Zaskia langsung memasang wajah melas buatan, bergelayut manja di lengan Evan. "Tante... lihat istri Evan. Dia mendatangi kami dan berteriak-teriak marah, padahal dia sendiri yang tidak bisa becus melayani suami."
Nena mendengus kasar. Ia melotot tajam ke arah Rafa, rahangnya mengeras penuh kebencian yang mendalam. Selama empat tahun pernikahan ini, Nena memang tidak pernah menyukai Rafa. Di mata sang mertua, latar belakang keluarga Rafa yang biasa saja sudah menjadi dosa besar, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Rafa belum juga memberikan cucu laki-laki penerus tahta Negara Group.
"Kamu ini ya, perempuan tidak tahu diuntung!" seru Nena sambil melangkah mendekat dengan langkah berat penuh amarah. "Sudah menumpang hidup di keluarga kaya raya, tidak bisa memberikan keturunan, sekarang malah berani membuat keributan di hadapan anakku dan calon menantuku yang terhormat?!"
"Ibu... Tanyakan pada anak kesayangan Ibu apa yang dia perbuat di belakangku!" balas Rafa dengan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia menunjuk ke arah Zaskia yang berdiri menyunggingkan senyum kemenangan di samping Evan.
Plak!
Sebuah tamparan keras yang datang begitu cepat mendarat telak di pipi kiri Rafa.
Kekuatan tamparan dari tangan Nena yang mengenakan cincin berlian besar itu membuat kepala Rafa terpelanting ke samping. Seketika itu juga, rasa panas menjalar di pipinya, disusul rasa amis darah yang langsung mengecap di sudut bibirnya. Tubuh Rafa yang sudah lemas kehilangan keseimbangan; kakinya terlipat dan ia jatuh tersungkur ke lantai marmer yang dingin.
"Dasar perempuan mandul, tidak tahu diri, dan tidak berguna!" jerit Nena melengking meluapkan kebenciannya yang memuncak, berdiri di atas kepala Rafa dengan tatapan penuh hinaan.
"Berani-an kamu menunjuk-nunjuk calon menantu kesayanganku dan menyalahkan anakku?! Evan selingkuh itu karena kamu tidak becus melayani dia! Kamu mandul! Kamu tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Wirya Negara! Kamu itu cuma parasit yang numpang hidup di rumah ini!"
Zaskia tersenyum puas dari balik punggung Nena, menikmati pemandangan menyedihkan di mana seorang istri sah diinjak-injak harga dirinya di rumahnya sendiri.
Evan hanya berdiri diam mematung. Pria itu tidak berkata sepatah kata pun untuk membela istrinya. Tidak ada uluran tangan untuk membantu Rafa bangkit. Ia malah memasukkan kedua tangannya ke saku jubah mandi, menatap remeh ke arah wanita yang telah menemaninya berjuang dari bawah sebelum ia menduduki singgasana tertinggi di Negara Group.
Rafa mencengkeram lantai marmer dengan jemarinya yang bergetar hebat. Rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit yang mengoyak rongga dadanya. Di titik terendah dalam hidupnya malam itu, di hadapan suami yang dikasihinya dan ibu mertua yang kejam, sebuah kesadaran dingin merasuki benaknya.
Empat tahun pengabdiannya dibayar dengan pengkhianatan menjijikkan, caci maki, dan kekerasan fisik. Cinta yang ia bangun dengan tulus ternyata tidak lebih berharga dari kotoran di bawah sepatu mereka.
Air mata kemarahan berangsur-angsur mengering, digantikan oleh sorot mata tajam yang menyimpan bara api pembalasan. Rafa perlahan menegakkan tubuhnya yang gemetar, menatap satu per satu wajah-wajah penuh kepongahan di sekitarnya—Evan, Zaskia, dan Nena.
Malam ini, Rafa Sasmita yang lemah dan penurut telah mati. Yang tersisa di lantai dingin itu adalah seorang wanita yang siap mengubah seluruh dunia mereka menjadi neraka.
****
Lantai marmer dingin di bawah telapak tangan Rafa terasa membekukan tulang, namun sensasi dingin itu justru membakar habis sisa-sisa kerapuhan di dalam hatinya. Ia perlahan bangkit dari jatuhnya, berdiri dengan postur tegap meski lututnya masih sedikit bergetar. Tangannya yang bebas terulur untuk menghapus jejak darah di sudut bibirnya dengan gerakan pelan, namun sarat akan ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Sepasang matanya yang tadinya basah oleh air mata kini berubah menjadi sorotan dingin setajam belati. Ia menatap lurus ke arah tiga orang manusia yang berdiri di hadapannya—Evan, sang suami yang telah menjadi pengkhianat; Nena, ibu mertua yang keji dan kejam; serta Zaskia, wanita jalang perusak rumah tangga yang berdiri dengan senyum penuh kemenangan di atas penderitaannya.
"Kalian bertiga," suara Rafa bergetar pelan, namun berhasil menghentikan keheningan yang mencengkeram penthouse mewah itu. "Ingat baik-baik malam ini. Karma tidak pernah salah alamat. Apa yang kalian perbuat padaku malam ini, air mata dan penghinaan ini, akan berbalik menghantam hidup kalian berlipat-lipat ganda. Tuhan tidak pernah tidur."
Kalimat itu meluncur tajam, membawa beban sumpah yang membuat suhu ruangan mendadak terasa pengap.
Namun, alih-alih merinding atau menunjukkan secuil rasa bersakit hati karena nurani mereka terpukul, reaksi yang keluar dari ketiganya justru di luar dugaan. Suasana yang tadinya tegang tiba-tiba dipecahkan oleh ledakan suara tawa yang memuakkan.
Zaskia adalah orang pertama yang terkekeh, menutup mulutnya dengan sebelah tangan yang dihiasi kuku lentik berwarna merah, seolah-olah apa yang baru saja diucapkan Rafa adalah sebuah lelucon paling konyol di abad ini.
"Dengar itu, Ev? Dia ngomongin karma!" Zaskia mendengus mengejek, menatap Evan dengan tatapan menggoda. "Kasian ya, sudah diusir secara tidak langsung, masih saja sempat-sempatnya jadi dukun ramal dadakan."
****
Tawa Zaskia yang melengking disambut oleh tawa yang jauh lebih keras dan menggelegar dari Nena Apriandini. Wanita paruh baya itu bahkan mendadak membungkuk sedikit sambil memegangi perutnya yang berbalut gaun tidur mewah bermerek internasional. Ia tertawa begitu hebat, bahunya bergoncang-goncang hebat, menertawakan keputusasaan Rafa dengan nada yang begitu merendahkan derajat kemanusiaan.
"Ha-ha-ha! Ya Tuhan, Rafa! Karma kamu bilang?!" Nena tertawa terbahak-bahak hingga air matanya sendiri keluar akibat terlalu geli. Ia menegakkan kembali tubuhnya, menunjuk-nunjuk wajah Rafa dengan jari telunjuknya yang bergetar hebat—bukan karena rasa takut atau iba, melainkan karena gelombang kebencian yang teramat sangat tanpa dasar.
Nena melangkah maju mendekati Rafa, matanya melotot tajam dengan urat-urat leher yang menegang. Jari yang bergetar itu nyaris menyentuh ujung hidung Rafa, menunjukkan betapa besar rasa jijik sang mertua terhadap menantunya sendiri.
"Kamu dengar ya, perempuan sialan!" teriak Nena di hadapan muka Rafa, suaranya melengking memekakkan telinga. "Jangan berani-an kamu membawa-bawa nama karma atau Tuhan di hadapan keluarga besar Wirya Negara! Kamu itu siapa, hah?! Di dunia ini, hukum itu tunduk pada kekuasaan dan uang, bukan pada sumpah serapah wanita miskin sepertimu!"
****
Nena mendengus kasar, napasnya memburu karena emosi yang meluap-luap. "Kamu sadar diri sedikit! Kamu itu wanita mandul! Wanita miskin yang datang dari keluarga entah berantah, yang kalau bukan karena belas kasihan anakku, kamu tidak akan pernah menginjakkan kaki di lantai marmer mewah ini! Keberadaanmu di keluarga kami selama empat tahun ini saja sudah menjadi sebuah aib besar yang memalukan!"
Jari Nena masih terus menunjuk-nunjuk dengan liar, gemetar menahan amarah yang membara. "Wanita mandul sepertimu tidak punya hak untuk menuntut apa pun! Kamu tidak sebanding dengan keluarga Wirya Negara yang terhormat ini! Darah kotor dan rahim mandulmu itu cuma jadi benalu yang menghambat kemajuan keluarga kami!"
"Makanya," lanjut Nena dengan nada suara yang merendahkan, menarik tangannya kembali dan melipatnya di dada dengan angkuh. "Daripada kamu di sini memasang muka melas dan sok teraniaya, lebih baik kamu sadar diri. Tidak ada gunanya kamu bertahan di rumah ini lebih lama lagi. Tanda tangani saja surat cerai sekarang juga!"
Nena menoleh ke arah Evan, memberikan gestur mata agar anaknya segera mengambil tindakan nyata.
****
Rafa menatap tajam ke arah Evan, pria yang pernah bersumpah di hadapannya. Tanpa gentar sedikit pun, sudut bibir Rafa terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin—sebuah senyuman yang justru membuat Evan sedikit mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu yang janggal dari ekspresi istrinya itu.
"Surat cerai?" ucap Rafa dengan suara yang tenang, kontras dengan situasi panas di sekelilingnya. Ia melirik sekilas ke arah meja kerja di sudut ruangan tempat beberapa berkas penting biasanya diletakkan. "Tanpa perlu kamu suruh teriak-teriak seperti orang kesurupan, Nyonya Nena... Asal kamu tahu, aku pun sedetik pun tidak akan pernah mau sudi bertahan dengan laki-laki menjijikkan yang sudah berkhianat seperti anakmu ini."
Ucapan telak itu membuat rahang Evan mengeras seketika. Harga diri seorang CEO Negara Group yang terbiasa diagung-agungkan, dipuja, dan ditakuti oleh para bawahannya, mendadak runtuh seketika di hadapan istri yang selama ini dianggapnya paling lemah dan penurut.
"Rafa!" bentak Evan dengan suara bariton yang berat, geram karena harga dirinya diinjak-injak di depan wanita selingkuhannya. "Jaga mulutmu! Jangan merasa paling tersakiti di sini!"
Sebelum Evan sempat melangkah lebih dekat, Zaskia Mulandari menyela dengan tawa kecil yang terdengar sangat menyebalkan. Wanita itu sengaja melangkah maju, merapatkan posisinya di sisi Evan, lalu menatap Rafa dari atas ke samping dengan pandangan mengejek dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ih, Ev, lihat deh gayanya. Masih saja sok jual mahal padahal sudah diusir secara tidak hormat," cibir Zaskia dengan nada manja yang dibuat-buat, sengaja menaikkan volume suaranya agar terdengar menyakitkan. "Sudah tahu mandul, tidak bisa memberikan keturunan, kuno lagi! Model kayak kamu ini, Rafa, di luar sana sudah tidak laku! Makanya, maklum saja kalau dia ngotot mau bertahan, karena kalau bukan karena uang pesangon perceraian dari Evan, kamu pasti bakal mati kelaparan di kolong jembatan!"
Zaskia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tertawa kecil penuh kemenangan. "Wanita mandul dan kuno sepertimu itu cuma cocok jadi babu, bukan jadi istri CEO kaya raya!"
Provokasi murahan yang dilontarkan Zaskia itu berhasil mencapai tujuannya. Nena Apriandini yang mendengar kalimat tersebut langsung mendongakkan kepalanya, lalu melepaskan tawa membahana yang memenuhi seluruh sudut ruangan penthouse.
Ha-ha-ha-ha-ha!
Tawa Nena terdengar begitu memuakkan, melengking tinggi tanpa jeda, merayakan kehancuran martabat Rafa dengan cara yang paling biadab. Nena merasa di atas angin, merasa bahwa kemenangan mutlak berada di pihak mereka malam itu. Di mata Nena dan Zaskia, Rafa hanyalah seekor semut kecil yang bisa diinjak kapan saja tanpa ada perlawanan berarti.
****
Namun, di balik diamnya Rafa, badai besar sedang berputar. Rafa sama sekali tidak menangis lagi. Air matanya telah habis, berganti dengan ketenangan yang mengerikan. Ia tahu persis siapa Zaskia Mulandari. Ia juga tahu persis rahasia-rahasia busuk di balik gemerlapnya kekayaan Negara Group yang selama ini ia bantu tutupi dengan tangannya sendiri.
Empat tahun lamanya Rafa menjadi bayang-bayang di balik kesuksesan Evan. Selama itu pula, ia menyimpan seluruh dokumen penting, laporan keuangan, hingga catatan transaksi rahasia perusahaan yang tidak diketahui oleh siapa pun—bahkan oleh Nena maupun Evan sendiri.
"Kalian boleh tertawa sepuas hati kalian sekarang," ucap Rafa dengan suara pelan namun terdengar sangat jelas di tengah bisingnya tawa merendahkan mereka. "Karena tawa itu tidak akan bertahan lama. Nikmati sisa-sisa malam kemewahan ini, karena apa yang kalian miliki hari ini... akan segera menjadi abu."
Nena menghentikan tawanya sejenak, menatap Rafa dengan tatapan jijik yang teramat sangat. "Banyak bicara! Cepat ambil barang-barang rongsokanmu dan enyah dari pandanganku sekarang juga! Jangan sampai aku panggilkan petugas keamanan gedung untuk menyeretmu keluar seperti anjing kudisan!"
Evan melipat tangannya di dada, menatap dingin ke arah pintu keluar, mengisyaratkan bahwa ia sependapat dengan ibunya. Tidak ada kata maaf, tidak ada sisa cinta, yang tersisa hanyalah kebencian mutlak dan pengusiran yang keji.
****
Rafa membalikkan tubuhnya perlahan. Langkah kakinya terasa begitu ringan, sama sekali tidak menunjukkan keputusasaan seperti yang mereka harapkan. Ia berjalan menuju kamar tidur utama untuk mengambil beberapa barang pribadinya, meninggalkan ketiga orang itu yang kembali terbahak-bahak merayakan kemenangan semu mereka.
Di dalam kamar yang dulu ia urus setiap hari dengan penuh cinta kasih, Rafa membuka koper kecilnya. Ia tidak mengambil pakaian mewah atau perhiasan mahal pemberian keluarga Wirya Negara. Ia hanya mengambil sebuah flashdisk hitam kecil yang tersimpan rapat di dalam brankas dinding rahasia—sebuah benda kecil yang berisi seluruh bukti aliran dana ilegal, penggelapan pajak, dan dokumen rahasia korupsi tingkat tinggi yang dilakukan oleh Evan Wirya Negara demi memperkaya Negara Group secara curang.
Rafa menggenggam flashdisk itu erat-erat di dalam genggaman tangannya. Senyum tipis terukir di bibirnya, dingin dan mematikan.
"Kalian mengusir wanita mandul dan miskin ini tanpa apa-apa," bisik Rafa pelan pada dinding kamar yang sunyi. "Tapi kalian lupa... bahwa wanita inilah yang memegang kunci kehancuran kerajaan bisnis kalian."
Dengan langkah pasti, Rafa menyeret koper kecilnya keluar kamar, meninggalkan penthouse megah itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Malam itu, babak baru dalam hidup Rafa Sasmita resmi dimulai—bukan lagi sebagai istri yang mengabdi pada suami yang salah, tetapi sebagai algojo yang siap meruntuhkan imperium Negara Group hingga ke akar-akarnya.
****
Taksi online yang ditumpangi Rafa berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau pudar di sebuah gang perumahan padat penduduk di kawasan pinggiran kota. Lampu teras rumah itu sudah padam, menunjukkan bahwa waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam lewat.
Rafa membuka pintu mobil, menarik koper kecilnya keluar, dan mengucapkan terima kasih kepada sang pengemudi sebelum mobil itu melaju pergi meninggalkan debu tipis di bawah lampu jalan yang temaram.
Ia berdiri sejenak di depan pintu pagar besi yang catnya sudah mulai mengelupas. Rumah ini adalah tempat ia dibesarkan sebelum memutuskan untuk melepas seluruh mimpi masa mudanya demi menikah dengan Evan Wirya Negara—seorang pria yang ia sanjung sebagai pangeran, namun ternyata berwujud iblis berdarah dingin.
Rafa menarik napas dalam-dalam, mencoba menata napas dan ekspresi wajahnya agar tidak terlalu terlihat hancur. Ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya terkejut atau jantungan di tengah malam seperti ini. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengetuk pintu kayu rumah tersebut pelan.
Tok... tok... tok...
"Sebentar..." suara serak seorang wanita paruh baya terdengar dari balik pintu, disusul suara gesekan sandal jepit di lantai keramik.
****
Pintu terbuka perlahan. Sosok Bu Armayani, wanita berusia akhir enam puluhan dengan rambut yang mulai memutih di bagian atas muncul di balik celah pintu. Ia mengenakan daster batik lusuh kesayangannya dan kacamata baca yang masih menggantung di tali lehernya. Bu Arma adalah seorang pensiunan guru SMA negeri yang dikenal tegas, disiplin, namun memiliki kelembutan hati yang luar biasa bagi anak-anak didiknya.
Kening Bu Arma langsung berkerut dalam, garis-garis keriput di wajahnya menampakkan keheranan yang amat sangat saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya tengah malam begini.
"Rafa?" gumam Bu Arma, matanya mengerjap beberapa kali seolah tidak percaya. Pandangannya turun ke bawah, mendapati sebuah koper besar berdiri di samping kaki putrinya. "Ya Allah, Nak... Kenapa malam-malam begini kamu ke sini? Sendirian pula? Mana Evan? Kenapa tidak diantar?"
Sebelum Rafa sempat membuka mulut untuk menjawab, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah ruang tengah. Pak Pamuji, ayah Rafa yang mengenakan kaos oblong putih dan celana piyama kain, muncul dengan wajah cemas. Pria paruh baya bertubuh kurus namun tegap itu langsung menghampiri pintu depan.
"Ada apa ini? Siapa yang datang malam-malam, Bu?" tanya Pak Pamuji dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas. Begitu melihat sosok putrinya berdiri mematung dengan mata sembab dan sudut bibir yang sedikit membiru, Pak Pamuji langsung tertegun. "Rafa? Astaga, Nak! Ada apa dengan wajahmu? Kenapa pipimu lebam begitu?!"
Suara panik sang ayah langsung memecah pertahanan terakhir di dalam diri Rafa. Genangan air mata yang sedari tadi ditahannya mati-matian akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Namun, kali ini bukan tangisan lemah, melainkan air mata kelegaan karena ia kini berada di pelukan orang-orang yang tulus mencintainya tanpa syarat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!