Kapak di tangan Zhao Gou menghantam belahan kayu bakar untuk kesekian kalinya dengan bunyi dug yang berat. Serpihan kayu mahoni berhamburan ke tanah basah, membawa aroma getah segar bercampur sisa embun pagi yang belum sepenuhnya lenyap dari pekarangan rumah panggung.
Di usianya yang menginjak delapan belas tahun, telapak tangan seorang pemuda semestinya mulus, terbiasa menggenggam gulungan teknik kultivasi tingkat tinggi atau memegang gagang pedang giok milik seorang pewaris sekte terpandang. Namun, realitas memiliki selera humor yang jauh lebih kelam dari jurang maut. Garis takdirnya tidak diukir di aula megah, melainkan di atas tungku tanah liat dapur sebuah desa terpencil yang nyaris tidak tersentuh oleh aliran energi spiritual dunia persilatan.
Desa Hutan Kabut terletak di perbatasan barat Kekaisaran Langit, sebuah wilayah buangan di mana Qi alam begitu tipis hingga para kultivator angkuh memandangnya sebagai tanah mandul. Bagi orang biasa, tempat ini adalah suaka kedamaian—jauh dari perebutan kekuasaan, bebas dari intrik darah, dan aman dari tebasan pedang para pembunuh bayaran. Tapi bagi Zhao Gou, tempat ini adalah sangkar emas tempat harga diri keluarganya dikubur hidup-hidup tanpa batu nisan.
"Gou-er, jangan terlalu memforsir tenagamu. Tumpukan kayu bakar untuk musim dingin sudah lebih dari cukup," sebuah suara serak memecah keheningan pagi.
Zhao Gou menghentikan ayunannya dan menoleh. Di ambang pintu rumah panggung kayu yang sudah mulai reyot, ayahnya—Zhao Tianhe—duduk di atas kursi rotan usang. Wajah pria paruh baya itu pucat pasi, nyaris transparan seperti kertas tua. Sisa-sisa luka dalam dari pertempuran tiga tahun lalu masih menggerogoti meridian tubuhnya tanpa ampun. Meskipun Tianhe selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit di balik senyuman lelah, Zhao Gou tahu betul bahwa setiap kali ayahnya menarik napas, paru-parunya terasa seperti disayat oleh ribuan jarum es yang tak kasat mata.
Tiga tahun lalu, nama Zhao Tianhe adalah salah satu pilar yang paling disegani di cabang utama Klan Zhao di Kota Megah. Sebagai seorang tetua yang memegang kendali atas separuh aset dagang klan di wilayah selatan, ia adalah sosok yang dihormati kawan maupun lawan. Namun, dunia persilatan tidak pernah mengenal kata belas kasihan ketika kekuasaan menjadi taruhannya. Faksi cabang lain yang berkolusi dengan para tetua busuk melakukan kudeta berdarah di malam yang gelap, berniat membersihkan seluruh garis keturunan Tianhe sampai ke akar-akarnya agar kursi kekuasaan tidak jatuh ke tangan yang berhak.
Alih-alih melawan dan menyeret keluarganya ke dalam pertumpahan darah total yang pasti berujung pada pemusnahan massal, Tianhe memilih jalan yang paling dihinakan oleh para pendekar dunia persilatan: ia memilih mengalah, menyerahkan seluruh aset kekayaan, dan secara sukarela melucuti kultivasi meridian utamanya di hadapan para pengkhianat demi menyelamatkan nyawa istri dan anak tunggalnya.
"Aku tidak lelah, Ayah," jawab Zhao Gou singkat. Suaranya terdengar datar, namun menyembunyikan getaran emosi yang begitu pekat di dasarnya. Ia kembali mengangkat kapak di tangannya, mengayunkannya dengan presisi sempurna. Setiap hantaman bukan sekadar cara membelah kayu, melainkan satu-satunya cara menyalurkan rasa sesak yang hampir meremukkan dadanya setiap kali ia melihat kondisi sang ayah.
Nama "Zhao Gou" bukanlah nama asli yang diberikan oleh kakeknya saat ia lahir. Itu adalah nama ejekan yang sengaja disematkan sang ayah ketika mereka tiba di desa buangan ini. Gou berarti anjing. Sebuah nama rendah, hina, dan tidak berharga, yang sengaja dipilih agar para musuh di pusat klan kehilangan minat untuk melacak keberadaan mereka. Buat apa memburu seorang pemuda bernama Anjing yang hidup membusuk di sudut desa terpencil? Begitulah cara mereka bersembunyi di balik bayang-bayang dunia persilatan.
Namun, bagi Zhao Gou, nama itu adalah sebuah duri beracun yang terus menusuk harga dirinya setiap detik sepanjang hari.
Di dalam tubuhnya, darah dari garis keturunan murni Klan Zhao masih mengalir deras. Bakat kultivasinya tidak pernah tumpul walau sedikit pun. Sejak usia dini, ia mampu menyerap energi Qi tiga kali lebih cepat dari anak-anak berbakat di kota besar. Pada umur lima belas tahun, tepat sebelum tragedi kelam itu merenggut segalanya, ia telah berhasil menembus puncak tingkat Qi Refining tahap kesembilan, berdiri selangkah lagi di ambang pintu Foundation Establishment. Masa depannya seharusnya bersinar terang di jajaran para jenius muda kekaisaran.
Sekarang? Ia tidak lebih dari seorang pemuda desa yang menghabiskan hari-harinya membelah kayu bakar dan menimba air keruh dari sumur tua, terpaksa menyembunyikan kultivasinya yang terhenti di balik topeng kepatuhan yang memuakkan.
"Ibu sedang merebus ubi di dapur. Masuklah sebentar, udara pagi ini terasa menusuk tulang," lanjut Tianhe, disusul oleh batuk kecil yang tertahan di tenggorokan.
Zhao Gou meletakkan kapak berat itu ke atas tanah, mengangguk pelan kepada ayahnya, lalu melangkah mendekati teras kayu. Di sana, ia melihat ibunya, Lin Su, keluar dari dapur kecil sambil membawa kendi air dari tanah liat. Wanita paruh baya itu mengenakan pakaian kain kasar yang sudah ditambal di beberapa sudut. Tangannya yang di masa lalu terbiasa mengenakan gelang giok mahal kini tampak kasar, dipenuhi lepuh merah akibat pekerjaan kasar yang tidak pernah ia sentuh seumur hidupnya sebelum mereka diusir dari kota.
Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang meremukkan hati Zhao Gou dari dalam rongga dadanya. Orang tuanya telah merelakan segalanya—martabat, kedudukan, kekayaan, dan kekuatan—hanya agar ia bisa terus bernapas di tempat terpencil ini. Mereka memilih menelan ludah dan darah, rela diinjak-injak oleh siapa saja, semata-mata demi melihat putra tunggal mereka tetap hidup di dunia yang kejam ini.
Apakah hidup seperti ini yang kalian sebut keselamatan, Ayah? batin Zhao Gou menjerit pilu, menatap punggung ayahnya yang kini semakin membungkuk. Mereka merampas segalanya dari kita, memaksa kita merangkak di dalam lumpur, dan memperlakukan kita tidak lebih dari seekor anjing kurap yang tidak layak diberi ampun.
Ketundukan tidak pernah mendatangkan perdamaian. Ketundukan hanya membuat para serigala semakin haus darah dan semakin bernafsu untuk menginjak kepala yang sudah bersujud. Zhao Gou memahami kebenaran pahit itu dengan sangat baik. Di dunia kultivasi, kelemahan adalah kejahatan terbesar, dan belas kasihan hanyalah dongeng pengantar tidur bagi orang-orang lemah.
Saat Zhao Gou hendak melangkah masuk untuk membantu ibunya, sebuah suara gemuruh yang tidak wajar tiba-tiba mengguncang tanah di bawah kaki mereka dengan keras.
Bum Bum Bum
Suara itu bukan berasal dari guntur di langit mendung, melainkan hantaman tapak kaki bertonase besar yang menghentak tanah berlumpur di ujung jalan desa, disusul oleh derit roda kayu yang bergesekan kencang dan dengusan berat dari makhluk buas bersisik. Hutan di sekeliling desa mendadak sunyi seketika, burung-burung liar beterbangan meninggalkan sarang mereka karena dilanda teror naluriah.
Zhao Tianhe yang tadinya duduk dengan tenang di kursi rotan mendadak menegakkan tubuhnya kaku. Wajahnya yang sudah pucat pasi berubah semakin kelabu dalam sekejap mata. Matanya melebar, menatap tajam ke arah jalan setapak utama yang langsung mengarah ke halaman rumah mereka.
"Ayah?" Zhao Gou mengerutkan keningnya dalam-dalam, merasakan hawa membunuh yang begitu dingin menusuk pori-porinya terbawa oleh angin pagi.
"Masuk ke dalam rumah sekarang juga, Gou-er. Cepat!" suara Tianhe bergetar hebat, untuk pertama kalinya memperlihatkan kepanikan mendalam yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat di balik ketenangannya.
Lin Su yang membawa kendi air di tangannya terkejut bukan kepalang hingga barang bawaannya terlepas dan pecah berkeping-keping di atas tanah. Air tumpah membasahi debu halaman. Wanita paruh baya itu kehilangan seluruh warna di wajahnya, tangannya langsung menutup mulutnya yang ternganga saat dua ekor makhluk raksasa muncul dari balik tikungan jalan.
Dua ekor Kuda Darah Spiritual tingkat dua, dengan bulu hitam legam mengkilap dan mata yang menyala merah darah, menerobos masuk ke pekarangan sempit mereka tanpa ragu. Kuku-kuku mereka yang besar mengibaskan debu dan kotoran ke arah teras rumah Zhao.
Di belakang kedua kuda itu, sebuah kereta kencana mewah berlapis emas murni dan ukiran giok putih salju berhenti tepat di depan pagar bambu yang reyot. Ukiran lambang bergambar burung phoenix yang sedang membentangkan sayap terpampang jelas di sisi badan kereta, membuat darah di tubuh Zhao Gou mendadak mendidih seketika hingga telinganya berdenging keras.
Lambang kebesaran dari Klan Xie dari Kota Awan Biru.
Pintu kereta perlahan bergeser terbuka dari dalam. Seorang pria paruh baya berjubah sutra ungu dengan bordiran benang perak melangkah turun lebih dulu, memegang kipas lipat dari batu giok dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan kesombongan yang tidak berniat ia sembunyikan. Di belakang pria itu, seorang wanita muda melangkah turun dengan anggun, mengenakan gaun panjang berwarna putih bersih tanpa noda debu sedikit pun, seolah-olah jalanan desa yang kotor ini tidak pantas untuk diinjak oleh kakinya.
Wajah wanita itu sangat memukau, bagaikan karya seni terindah dari para dewa. Alisnya berbentuk bagai sayap burung phoenix, tatapan matanya jernih, dingin, dan acuh tak acuh seperti es abadi di puncak gunung tertinggi. Kecantikan yang luar biasa itu memancarkan aura kebangsawanan yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa kecil dan tidak berdaya.
Xie Yanfeng.
Mantan tunangan Zhao Gou.
Gadis yang tiga tahun lalu diikat sumpah pertunangannya dengan Zhao Gou ketika kedua klan masih berdiri di tingkat yang setara. Dan sekarang, ia berdiri di hadapan mereka, menatap rumah panggung yang reot itu dengan sorot mata penuh penghinaan dingin yang setajam belati.
Zhao Gou mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya menancap begitu dalam ke telapak tangan, merobek kulit dan membiarkan darah segar menetes ke tanah. Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak berarti jika dibandingkan dengan api kebencian yang kini membakar habis seluruh sisa kewarasannya.
Utusan keluarga Xie telah datang. Dan mereka datang bukan untuk membawa kedamaian.
Kedatangan kereta kencana berlapis emas dan giok itu bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke dalam kolam tenang Desa Hutan Kabut. Debu jalanan melayang-layang di udara, menempel pada dinding kayu rumah panggung Zhao yang sudah kusam. Pria paruh baya berjubah sutra ungu—Tetua Xie Ba, wakil dari klan utama keluarga Xie—melangkah maju dua tindak, mengibaskan kipas gioknya seolah udara di pekarangan itu dipenuhi kuman penyakit yang memuakkan.
Di sampingnya, Xie Yanfeng berdiri tegak. Gaun putih saljunya berkibar lembut tertiup angin pagi. Matanya yang bening seperti kristal menatap sekeliling dengan pandangan asing—bukan kebencian yang berkobar, melainkan jenis pandangan acuh tak acuh dari seorang bangsawan yang terpaksa melangkah ke dalam kandang ternak.
Zhao Tianhe berusaha berdiri dari kursi rotannya, tubuhnya bergetar hebat saat menyatukan kedua telapak tangan untuk memberi hormat. "Tetua Xie... Kepindahan kami ke perbatasan ini sangat terburu-buru. Maafkan kami jika sambutan keluarga Zhao begitu buruk."
Suara Tianhe terdengar begitu rendah hati, penuh usaha untuk menjaga situasi tetap terkendali. Namun, Tetua Xie bahkan tidak membalas penghormatan itu. Ia hanya tertawa kecil, suara kekehan yang sarat dengan nada celaan.
"Tianhe, tidak perlu berpura-pura bersikap sopan," ujar Tetua Xie dingin. Tangannya yang dipenuhi cincin batu permata merogoh balik jubahnya, menarik keluar sebuah gulungan kain sutra merah berlapis benang emas. "Aku datang bukan untuk bertamu atau minum teh di tempat kumuh ini. Ketua Klan Xie telah mengutusku untuk menyelesaikan urusan masa lalu yang belum usai."
Lin Su yang berada di dekat tangga teras gemetar ketakutan, menggenggam erat gaun kain kasarnya. Sementara itu, Zhao Gou tetap berdiri kaku di samping tumpukan kayu bakar. Matanya yang tajam terkunci pada wajah Xie Yanfeng.
Gadis itu sempat meliriknya sekilas. Ada kilatan ingatan di mata Yanfeng—ingatan tentang seorang pemuda jenius yang dulu bertarung anggun di panggung turnamen Kota Megah, pemuda yang pernah membuatnya sedikit kagum saat perjanjian pertunangan itu diikat tiga tahun lalu. Namun, kerutan tipis di dahi Yanfeng saat melihat pakaian tambalan dan kapak berkarat di tangan Zhao Gou menghancurkan sisa-sisa kenangan itu. Bagi Yanfeng, pemuda di depannya kini hanyalah kenangan masa lalu yang cacat dan berdebu.
"Maksud Tetua Xie..." suara Tianhe tercekat di tenggorokan.
"Perjanjian pertunangan antara keponakanku, Yanfeng, dan putramu," potong Tetua Xie tanpa ragu. Ia membuka gulungan sutra merah itu di udara, lalu tanpa belas kasihan mencabiknya menjadi dua bagian di hadapan mata seluruh keluarga Zhao.
Srettt
Suara robekan kain itu menggema bagaikan tebasan pedang di telinga Zhao Gou.
"Dulu, saat klan kalian masih menguasai jalur perdagangan selatan, pertunangan ini adalah hal yang setara," kata Tetua Xie, melangkah maju hingga ujung sepatunya yang terbuat dari kulit monster tingkat tinggi menyenggol kendi air yang pecah di tanah. "Namun sekarang? Klan Zhao cabang kalian sudah sirna, kekuatanmu hancur, dan kalian hidup seperti tikus tanah di tempat terpencil ini. Yanfeng adalah feniks yang akan terbang ke sekte utama, sedangkan putramu... tidak lebih dari seekor anjing yang sibuk mencari sisa makanan."
"Tetua Xie!" Lin Su akhirnya tidak sanggup menahan tangisnya. Tangannya yang bergetar terangkat . "Kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Kenapa kalian masih harus datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mempermalukan kami?"
"Mempermalukan?" Tetua Xie terkekeh sinis. Ia melemparkan potongan kain sutra yang telah robek itu tepat ke kaki Zhao Tianhe. Kain merah itu jatuh berdebu di atas tanah basah. "Kami hanya merapikan takdir. Garis keturunan Xie tidak boleh tercemar oleh sampah."
Ia kemudian merogoh kantong spasial di pinggangnya dan melemparkan sebuah kantong kulit kecil yang mendarat dengan bunyi klunting tumpul di atas meja kayu usang teras.
"Di dalamnya ada lima puluh batu spirit kualitas rendah. Anggap saja ini sebagai ganti rugi dan sedikit sedekah agar kalian tidak mati kelaparan di musim dingin mendatang," tambah Tetua Xie dengan wajah penuh kepuasan sadis.
Zhao Tianhe menundukkan kepalanya sangat dalam. Bahunya berguncang. Di masa lalu, lima puluh batu spirit kualitas rendah bahkan tidak cukup untuk membeli sepiring hidangan di restoran klan mereka. Namun kini, benda itu dilemparkan ke wajahnya sebagai ganti rugi atas harga diri putranya. Demi keselamatan istri dan anaknya, demi menjaga agar Klan Xie tidak mengirim pembunuh untuk menghabisi mereka jika mereka menolak, Tianhe perlahan menekuk lututnya, berniat menerima hinaan itu.
"Ayah, jangan!"
Sebuah suara dingin, tajam, dan sarat akan niat membunuh memotong pergerakan Tianhe.
Zhao Gou melangkah maju. Setiap pijakan kakinya di atas tanah pekarangan menimbulkan getaran halus yang tak disadari orang lain. Kapak kayu di tangannya dilemparkan ke tanah, menancap dalam. Matanya merah membara, memancarkan aura buas yang membuat dua ekor Kuda Darah Spiritual di belakang kereta mendadak meringkik gelisah dan mundur beberapa langkah.
Tetua Xie mengerutkan kening, sedikit terkejut oleh tekanan tak kasat mata yang terpancar dari tubuh pemuda yang ia anggap sampah itu. Namun, ia dengan cepat menguasai diri dan tersenyum ejek. "Oh? Sampah kecil ini punya emosi rupanya?"
Zhao Gou mengabaikan Tetua Xie. Pandangannya lurus mengarah pada Xie Yanfeng, yang sejak tadi hanya diam membisu seperti patung giok.
"Xie Yanfeng," suara Zhao Gou begitu rendah, namun bergetar oleh kemarahan yang ditahan setinggi gunung. "Apakah ini keinginanmu sendiri? Atau kau hanya mengekor di belakang orang tuamu bagaikan boneka tanpa jiwa?"
Xie Yanfeng menatap Zhao Gou. Tatapannya tetap dingin, tidak tersentuh oleh amarah atau rasa bersalah. Baginya, dunia kultivasi adalah dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah. Hukum alam tidak pernah memiliki ruang untuk rasa kasihan.
"Zhao Gou, berpikirlah secara realistis," ucap Yanfeng, suaranya merdu namun terasa seperti es yang membekukan darah. "Dunia persilatan itu luas dan kejam. Aku telah diterima di Sekte Awan Langit sebagai murid inti, sementara kau... kau terikat di tanah ini, membelah kayu bakar sepanjang hidupmu. Kita hidup di dua dunia yang berbeda sekarang. Menerima pembatalan ini dan mengambil batu spirit itu adalah keputusan terbaik untuk keluargamu."
"Keputusan terbaik?" Zhao Gou tertawa. Suara tawa yang terdengar menyeramkan, penuh penderitaan dan kegilaan yang membakar dari dalam dada. "Kau bilang ini terbaik untuk keluargaku, sambil berdiri anggun menyaksikan orang tuaku diinjak-injak di hadapanmu?!"
Zhao Gou melangkah menghampiri meja kayu. Tanpa ragu, ia meraih kantong kulit berisi batu spirit itu dan melemparkannya kembali secara dihantamkan tepat ke dada Tetua Xie.
Brak
Tetua Xie mundur dua langkah, terkejut bukan main. Kantong kulit itu pecah, membuat lima puluh batu spirit berhamburan liar di tanah kotor.
"Bocah kurang ajar! Kau cari mati?!" bentak Tetua Xie, aura kultivasi tahap Foundation Establishment mendadak meledak dari tubuhnya, menekan udara di sekitar hingga terasa berat bagaikan timah.
Namun Zhao Gou tidak mundur semili pun. Ia berdiri tegak di depan ayahnya, menahan tekanan aura itu walau sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar akibat tekanan kultivasi yang berbeda jauh.
"Simpan batu spirit kotor kalian!" teriak Zhao Gou, suaranya menggema menembus Hutan Kabut. "Hari ini, Klan Xie datang membatalkan pertunangan karena keluarga Zhao jatuh miskin! Ingat kata-kataku hari ini, Xie Yanfeng!"
Zhao Gou menunjuk lurus ke arah wajah cantik gadis itu.
"Hari ini kau memandangku sebagai anjing yang merangkak di dalam lumpur! Tapi dalam tiga tahun... aku sendiri yang akan melangkah ke pintu Sekte Awan Langit milikmu! Aku akan merobek kesombonganmu, meratakan Klan Xie, dan membuat kalian semua berlutut memohon ampun atas hinaan hari ini!"
Xie Yanfeng sedikit mengerutkan alisnya. Untuk pertama kalinya, ada kilatan ketidaknyamanan di matanya melihat kegilaan dan tekad membara di mata Zhao Gou. Namun, ia segera menutupi rasa terkejutnya dengan tatapan meremehkan. "Sumpah orang lemah hanyalah angin lalu."
"Cukup!" Tetua Xie mengangkat tangannya, wajahnya merah padam karena marah. "Hamba tak berguna! Jika bukan karena fakta bahwa membunuhmu di sini akan mengotori tangan kami, aku sudah meremukkan tulang-tulangmu!"
Tetua Xie membalikkan badan, mengibaskan jubahnya dengan kasar. "Yanfeng, ayo pergi! Biarkan keluarga pengemis ini membusuk di sudut dunia!"
Xie Yanfeng tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia membalikkan tubuh anggunnya, melangkah naik ke atas kereta kencana tanpa pernah menoleh kembali. Kereta mewah itu memutar balik, memancarkan debu dan lumpur yang mengotori pakaian Zhao Gou sebelum akhirnya melaju kencang meninggalkan desa.
Pekarangan rumah panggung itu kembali sunyi. Hanya tersisa robekan kain sutra merah yang kotor di tanah dan suara isolasi tangis ibunya.
Zhao Tianhe terduduk lemas di tanah, memeluk lututnya dengan penyesalan mendalam. "Maafkan Ayah, Gou-er... Ayah terlalu tidak berguna untuk melindungimu..."
Zhao Gou menunduk, menatap darah yang menetes dari telapak tangannya sendiri. Ia tidak menjawab. Di dalam hatinya, sebuah keputusan yang sangat gila telah lahir. Menunduk dan bersembunyi tidak akan pernah membebaskan mereka dari rasa hina ini.
Malam itu, saat seluruh desa tertidur lelap dan orang tuanya terbuai dalam penderitaan, Zhao Gou berdiri di kamar kecilnya. Ia meletakkan sebuah surat pendek di atas meja kayu, mengemas pedang besi tua peninggalan kakeknya, dan melangkah keluar dari jendela.
Matanya menatap jauh ke arah utara desa—ke arah Lembah Keputusasaan, wilayah terlarang paling berbahaya di Kekaisaran Langit yang dihuni oleh monster buas dan warisan terlarang yang belum pernah ditaklukkan oleh siapa pun.
"Jika dunia ini dikuasai yang kuat..." bisik Zhao Gou pada kegelapan malam, "maka aku akan menjadi yang terkuat, atau mati berusaha."
Ia melangkah masuk ke dalam kabut hitam area terlarang, menghilang dari dunia fana.
Kabut di perbatasan Lembah Keputusasaan tidak seperti kabut biasa. Warnanya kehitaman, lengket, dan beraroma racun membusuk. Udara di tempat ini begitu tebal hingga setiap kali Zhao Gou menarik napas, dadanya terasa seperti terbakar oleh cairan asam.
Langkah kakinya yang beralaskan sepatu kain tipis menginjak ranting-ranting kering yang patah dengan bunyi krek yang tajam. Di sekelilingnya, pepohonan purba menjulang tinggi dengan dahan-dahan melengkung menyeramkan, bagaikan jemari raksasa yang siap mencengkeram siapa saja yang berani melangkah terlalu jauh.
Zhao Gou meraba dada bajunya. Di balik kain kasarnya, tersembunyi sebuah peta tua berdebu yang dulu secara sembunyi-sembunyi ia curi dari perpustakaan klan sebelum kudeta terjadi. Peta itu mencatat wilayah terlarang yang dihindari oleh para kultivator biasa—tempat yang dikenal sebagai makam bagi puluhan ahli tingkat Foundation Establishment yang tidak pernah kembali.
"Ayah, Ibu... maafkan anakmu yang tidak berbakti ini," bisik Zhao Gou pelan, suaranya tersapu angin malam yang melengking dingin.
Ia tahu, meninggalkan surat pamit di meja dapur akan membuat ibunya menangis histeris dan ayahnya merasa gagal. Namun, Zhao Gou tidak punya pilihan lain. Tinggal di Desa Hutan Kabut hanya akan menjadikannya seorang pemuda penakut yang membusuk bersama waktu, sementara musuh-musuhnya di Kota Megah dan Klan Xie terus bertambah kuat.
Dunia kultivasi tidak pernah memberi ruang bagi mereka yang meratapi nasib. Jika ingin merobek kesombongan orang lain, ia harus siap merobek daging dan tulangnya sendiri terlebih dahulu.
Srrsk
Gerakan mendadak di semak-semak sebelah kirinya membuat Zhao Gou menghentikan langkah seketika. Tangan kanannya dengan cepat menggenggam gagang pedang besi tua yang terikat di pinggangnya. Logam dingin itu berkarat di beberapa bagian, namun bagi Zhao Gou, ini adalah satu-satunya senjata yang ia miliki.
Dua titik cahaya merah menyala dari balik kegelapan kabut. Bau amis darah yang menyengat mendadak menyeruak kuat.
Sebuah bayangan hitam melompat keluar dengan kecepatan luar biasa!
Brak
Zhao Gou berguling ke samping tepat waktu. Tanah tempat ia berdiri sejurus lalu hancur dihantam cakar raksasa. Seekor Serigala Qi Kelabu tingkat satu tahap akhir berdiri gagah dengan taring-taring panjang yang meneteskan ludah beracun. Ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari serigala biasa, dengan bulu keras bagaikan jarum-jarum besi.
"Monster tingkat satu..." gumam Zhao Gou, matanya menyempit.
Di masa lalu, ketika basis kultivasinya masih berada di puncak Qi Refining tahap kesembilan dan dikawal oleh para pengawal klan, monster seperti ini bukan ancaman berarti. Namun sekarang, kultivasinya telah mandek selama tiga tahun akibat minimnya batu spirit dan energi alam. Ia hanya seorang pemuda dengan fisik terlatih dan sisa-sisa Qi yang sangat tipis di dalam Dantian-nya.
Serigala itu meraung keras, mengibaskan ekornya yang panjang hingga menebas batang pohon di dekatnya sampai tumbang. Tanpa memberi kesempatan bagi Zhao Gou untuk bernapas, makhluk buas itu kembali menerjang, memamerkan taringnya yang siap merobek leher Zhao Gou.
Zhao Gou tidak mundur. Rasa takut yang biasanya membelenggu manusia biasa justru menguap, digantikan oleh sensasi dingin yang menajamkan seluruh indranya. Hinaan Tetua Xie, wajah dingin Xie Yanfeng, dan air mata ibunya berputar bagaikan badai di dalam kepalanya.
Jika aku mati di tangan binatang ini, maka aku memang tidak lebih dari seekor anjing buangan!
alih-alih menghindar, Zhao Gou melangkah maju menerjang bahaya!
Ia memiringkan tubuhnya di detik-detik terakhir. Cakar tajam serigala itu menyapu bahunya, merobek baju kainnya dan meninggalkan luka goresan dalam yang mengucurkan darah segar. Namun, Zhao Gou memanfaatkan momentum jatuh itu untuk memutar tubuhnya dan menusukkan pedang besi tuanya tepat ke celah bawah rahang serigala tersebut!
Cles
Bilah pedang yang tumpul itu menembus tenggorokan sang monster dengan paksa. Darah hitam beracun menyembur keluar, membasahi wajah dan dada Zhao Gou. Serigala itu melolong kesakitan, menghempaskan tubuhnya secara liar sebelum akhirnya ambruk kaku di atas tanah berlumpur.
Zhao Gou berlutut sambil menopang tubuhnya dengan pedang. Napasnya memburu, dadanya kempas-kempis, dan bahu kirinya terasa terbakar oleh bisa serigala. Rasa sakit yang luar biasa menjalar hingga ke tulang-tulangnya.
"Haha... harafiah hanya monster tingkat satu saja sudah hampir merenggut nyawaku..." Zhao Gou menyeka darah hitam di wajahnya dengan menyeringai liar. Matanya tidak menunjukkan keputusasaan, melainkan kebuasan yang kian membara.
Ia tahu, darah segar yang mengalir dari tubuhnya dan bangkai serigala ini akan segera mengundang monster-monster lain yang jauh lebih mengerikan di dalam Lembah Keputusasaan. Ia harus bergerak cepat.
Dengan sisa tenaganya, Zhao Gou menggunakan pedangnya untuk membelah kepala serigala tersebut, mengambil sebuah batu kristal kecil berukuran ibu jari yang memancarkan cahaya redup—Inti Monster tingkat satu. Tanpa ragu, ia menyimpannya ke dalam saku.
Zhao Gou melanjutkan langkahnya, menusuk lebih dalam ke jantung area terlarang. Kabut hitam semakin tebal, menghalangi pandangan hingga ia hanya bisa melihat sejauh tiga langkah ke depan. Suara raungan binatang buas dari kejauhan saling bersahut-sahutan, menciptakan simfoni kematian yang merindingkan bulu kuduk.
Semakin dalam ia melangkah, medan semakin terjal. Jalan setapak berubah menjadi jurang-jurang terjal yang dipenuhi tengkorak manusia dan tulang-belulang monster raksasa yang sudah membatu. Tempat ini benar-benar kuburan terbuka.
Setelah berjalan selama hampir dua jam dengan tubuh penuh luka dan menahan racun serigala yang kian menjalar, pandangan Zhao Gou mulai mengabur. Kakinya terasa seberat timah, dan dadanya sesak luar biasa.
Apakah ini batas kemampuanku? Apakah aku akan mati secara konyol di sini tanpa sempat membalas dendam?
Tepat saat kesadarannya berada di ambang keruntuhan, tanah di bawah kaki Zhao Gou mendadak ambles!
Brakkk
Pijakan batu rapuh yang diinjaknya runtuh total, membawanya jatuh bebas ke dalam kegelapan jurang yang tak berdasar. Zhao Gou mencoba menggapai tebing di sekelilingnya, namun jarinya hanya mencengkeram udara kosong. Ranting-ranting tajam menyabet tubuhnya saat ia meluncur deras ke bawah, merobek kulit dan mematahkan beberapa tulang rusuknya.
Bum
Tubuhnya dihantamkan dengan keras ke atas permukaan batu datar di dasar jurang. Rasa sakit yang tiada tara menjalar ke seluruh sarafnya, membuat Zhao Gou memuntahkan seteguk darah segar sebelum akhirnya terbaring tak berdaya.
Pandangannya redup. Seluruh tubuhnya remuk, tidak ada satu pun bagian yang tidak mengalirkan darah. Dalam kegelapan yang kian pekat itu, Zhao Gou bisa merasakan nyawanya perlahan-lahan menguap dari tubuhnya.
Namun, di tengah kesadaran yang hampir padam tersebut, Zhao Gou merasakan sesuatu yang aneh.
Darah segar yang mengalir dari leher dan dadanya tidak meresap ke dalam tanah berlumpur, melainkan mengalir membentuk garis-garis teratur di atas permukaan batu tempat ia terbaring. Batu itu bukan sekadar batu biasa—itu adalah sebuah pola Formasi Sihir Kuno yang telah terlelap selama ribuan tahun!
Darah dari garis keturunan murni Klan Zhao yang tergenang di atas formasi tersebut tiba-tiba bereaksi. Ukiran-ukiran rumit di atas permukaan batu mendadak menyala dengan cahaya merah darah yang sangat pekat, menerangi seluruh dasar goa gelap tersebut.
Tanah bergetar hebat. Hawa dingin yang mematikan mendadak menyapu seluruh goa, membekukan darah dan tetesan air yang menetes dari stalaktit.
Dari dasar goa yang paling dalam, di balik tumpukan tulang-belulang raksasa, sebuah aura yang begitu megah, kuno, dan menakutkan perlahan-lahan terbangun dari tidurnya. Aura itu begitu kuat hingga membuat kabut racun di sekitarnya hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.
Zhao Gou berusaha membuka matanya yang berat. Di dalam cahaya merah yang menyilaukan itu, ia melihat sebuah struktur raksasa yang tenggelam di balik dinding goa—sebuah Kerangka Naga Kuno sepanjang ratusan meter, dengan dua bola mata kosong yang kini menyala oleh api jiwa berwarna ungu membara.
Sebuah suara kuno yang menggelegar bagaikan guntur di dasar bumi bergema langsung di dalam otak Zhao Gou, membuat Dantian-nya yang hancur bergetar hebat.
"Darah yang dipenuhi kebencian... Jiwa yang menolak untuk tunduk... Bocah, apakah kau yang membangunkanku dari tidur abadi ini?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!