Indonesia
NovelToon NovelToon

Kaisar Bela Diri Legendaris

Bab 1 : Darah di Gunung Kematian

Matahari di Gunung Darah tidak pernah kuning. Selalu merah pekat, seperti langitnya memang sedang berdarah.

Udaranya panas tidak wajar, dan tidak ada satu pun pohon atau sungai di sini—hanya batu obsidian tajam dan suara logam yang menghantam batu tanpa henti.

Trang! Trang! Trang!

Ini Tambang Kematian, tempat paling terisolir di pinggiran Kerajaan Surga Tiran. Ribuan manusia dirantai kakinya dengan belenggu sepuluh kilo, dipaksa menggali Batu Roh, mineral yang jadi bahan bakar kemewahan para keturunan dewa.

Di antara budak-budak kurus kering itu, ada seorang pemuda enam belas tahun yang ayunannya berbeda—presisi, berat, dan stabil, seolah setiap pukulan sudah dihitung, bukan sekadar dipaksakan.

Namanya Ye Cangtian.

Tubuh atasnya telanjang, basah oleh keringat yang bercampur lumpur hitam. Otot lengan dan punggungnya padat, hasil sepuluh tahun menghantam batu setiap hari, dan tangannya penuh kapalan yang sudah lama mati rasa. Rambut hitamnya diikat asal dengan kain sobek.

Krak!

Dinding obsidian pecah. Dari retakannya, muncul Batu Roh seukuran ibu jari yang bercahaya biru redup. Cangtian mengusap dahinya, memasukkan batu itu ke keranjang bambu di punggungnya, lalu menatap langit merah di atasnya.

Sampai kapan? Sampai kapan aku hidup seperti babi yang menunggu disembelih?

Di zaman ini, nasib ditentukan sebelum lahir. Lahir dengan darah dewa, kau bisa terbang dan tinggal di istana emas. Lahir sebagai manusia fana dengan meridian tertutup, nyawamu lebih murah dari kerikil di kawah ini.

"Air... sedikit saja... air..."

Cangtian menoleh. Paman Lu, budak tua di sebelahnya, ambruk seketika—alatnya terlepas, bibirnya pecah-pecah, tangannya gemetar meraih kantong air kulit yang sudah lama kosong.

Cangtian meletakkan alatnya dan melangkah mendekat.

Belum sempat menyentuh, cambuk berduri keemasan membelah udara.

"Aargh!"

Punggung Paman Lu robek. Darah menyembur ke batu hitam.

Seorang pria tinggi besar mendekat, zirah peraknya mengkilap ditimpa cahaya matahari merah. Kulitnya kebiruan, dan di punggungnya ada lipatan sayap kelelawar kecil yang menandai garis keturunannya.

Dia Zhuo, pengawas dari klan dewa rendahan—di mata kerajaan, dia cuma prajurit buangan, tapi di sini, dia dewa kematian.

"Siapa suruh kau istirahat, tua bangka?" desis Zhuo, matanya kuning dan penuh jijik.

"Keranjangmu masih setengah. Kalau tidak penuh hari ini, punggungmu kujadikan meja."

Ia mengangkat cambuknya. Hawa panas menyelimuti duri-durinya—Qi dari darah dewa membuat cambuk itu sanggup membakar sampai ke tulang.

Zhuo mengayunkannya ke leher Paman Lu.

Paman Lu memejamkan mata. Tapi rasa sakit itu tak kunjung datang.

Grep.

Cambuk berhenti beberapa inci dari lehernya. Sebuah tangan penuh debu mencengkeram ujungnya dengan keras.

Darah menetes dari jari Ye Cangtian. Duri menembus dagingnya sampai tulang, Qi panasnya membakar kulit hingga bau daging gosong menyebar di udara.

Tapi ia tidak melepaskan cambuk itu—urat di leher dan lengannya menegang, dan matanya yang hitam menatap lurus ke mata kuning Zhuo, dingin dan penuh kebencian.

"Jangan ganggu dia," suaranya serak, rendah.

Satu kawah langsung sunyi. Ribuan budak menahan napas. Tak ada yang pernah berani menyentuh senjata tuan mereka.

Wajah biru Zhuo memerah.

"Berani-beraninya kau kotori senjataku dengan darah kotormu?!"

Ia menghentakkan kaki. Gelombang Qi biru meledak dari tubuhnya, menghantam dada Cangtian.

Bum!

Cangtian terlempar sepuluh meter, menghantam tebing obsidian. Darah menyembur dari mulutnya, tulang rusuknya berderak dan pandangannya mulai berkunang-kunang.

Begitulah hukum dunia ini. Seberat apa pun manusia melatih tubuhnya, ia tak akan pernah tahan satu pukulan Qi keturunan dewa. Jurang itu tak bisa ditutup dengan keberanian saja.

"Seekor semut berani melawan naga." Zhuo memutar cambuknya lagi.

Paman Lu merangkak, memeluk kaki Zhuo. "Tuan, ampuni dia! Dia cuma anak bodoh! Hukum aku saja!"

Zhuo menendangnya hingga tersungkur, lalu menatap Cangtian yang masih mencoba bangkit sambil berpegangan pada batu. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya, tapi sorot matanya masih menyala—dan sorot itulah yang membuat Zhuo tidak nyaman.

Membunuh pekerja sekuat Cangtian akan membuat pengawas kepala marah. Tapi kalau perlawanan ini dibiarkan begitu saja, wibawanya sendiri yang akan hancur.

Senyum kejam muncul di bibirnya.

"Mau jadi pahlawan, bocah? Bagus. Aku tidak akan bunuh kau dengan tanganku sendiri." Ia menoleh ke pengawalnya. "Seret dia ke Lorong Hitam!"

Nama itu membuat semua budak bergidik, dan Paman Lu menangis histeris mendengarnya.

Lorong Hitam adalah poros terdalam Gunung Darah—gas sulfat mematikan, suhu yang membakar kulit, longsor yang bisa terjadi kapan saja. Siapa pun yang dilempar ke sana tak pernah kembali.

Dua pengawal menyeret tubuh Cangtian yang setengah lumpuh. Ia tidak meronta. Ia hanya membiarkan dirinya ditarik ke dalam gelapnya lorong, diiringi tangis Paman Lu yang lama-lama menghilang di kejauhan.

Tiga jam kemudian.

Lorong itu gelap, pengap, dan panas seperti berada di dalam tungku. Cangtian sudah berada di kedalaman yang mungkin tak pernah tersentuh matahari sekalipun.

Ia masih mengayunkan alat tambangnya dengan sisa tenaga yang tersisa. Tangan hangusnya yang diperban berdarah, gagangnya licin di genggaman, dan setiap ayunan membuat tulang rusuknya yang retak terus berdenyut.

Tapi ia menolak mati di sini.

Dewa, surga, takdir. Omong kosong semua, pikirnya. Kenapa garis keturunan harus menentukan segalanya? Kalau mereka punya kekuatan, akan kuambil. Kalau langit tidak mau memberi, akan kukorek sendiri dari perut bumi.

Amarah itu menutupi rasa sakitnya. Ia menghantam dinding buntu di ujung lorong lebih keras dari sebelumnya.

Kraak! Teng!

Dinding runtuh. Debu tebal beterbangan.

Cangtian terbatuk-batuk, mengibaskan debu di depan wajahnya. Begitu pandangannya jelas, napasnya tertahan.

Di depannya bukan urat Batu Roh. Ada sebuah rongga kecil, dan di tengahnya tergeletak batu aneh seukuran kepalan tangan.

Permukaannya seperti meteorit, berpori dan tajam, tapi batu itu berdenyut seperti jantung yang hidup. Urat cahaya hijau dan emas saling melilit di dalamnya, dan aura kunonya begitu kuat hingga menyapu bersih gas beracun di sekitarnya.

Insting Cangtian menyuruhnya lari. Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang menolak—justru mendorong kakinya untuk maju.

Dengan tangan kanan yang masih berdarah dan gemetar, ia menyentuhnya.

Saat ujung jarinya menempel...

Deg!

Dunia di sekitarnya lenyap. Tak ada suara, tak ada cahaya. Hanya rasa sakit.

Batu itu tidak membakar. Inti hijau-emas di dalamnya justru meledak, merambat naik lewat telapak tangannya, menembus pori-pori kulitnya, menyuntikkan energi langsung ke pembuluh darahnya.

Cangtian terlempar, jatuh terhempas ke tanah. Mulutnya terbuka, ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar.

Selama ribuan tahun meridian manusia tertutup rapat—itu sebabnya mereka tak pernah bisa berkultivasi. Malam ini, energi kuno itu merobek semuanya dengan paksa.

Kretaaak!

Ia mendengar meridiannya sendiri retak dan pecah satu demi satu. Darah hitam kental merembes dari hidung, telinga, dan pori-porinya. Sakitnya jutaan kali lipat dari cambuk Zhuo—ini rasa sakit saat fondasi hidupnya dibentuk ulang dari nol.

Cangtian kejang-kejang di atas batu, kesadarannya hampir padam. Tepat sebelum semuanya gelap, kilatan hijau itu berkumpul di perutnya, di Dantian, lalu berputar pelan membentuk pusaran kecil yang stabil.

Setelah itu, ia pingsan.

Ia tak tahu bahwa pusaran itu mulai berputar dengan sendirinya, menyerap energi alam dan menyembuhkan luka-lukanya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Malam itu, di kedalaman lorong tanpa cahaya, fondasi kultivasi manusia pertama di dunia lahir di dalam tubuh seorang budak.

Dan takdir miliaran manusia fana di benua itu akan berubah selamanya.

Bab 2 : Mata yang Terbangun di Kegelapan

Tik... tik...

Air keruh menetes dari langit-langit gua, jatuh ke genangan batu dengan irama pelan.

Keheningan total menguasai Lorong Hitam. Di kedalaman yang jadi kuburan para budak, tubuh yang tadi tergeletak tiba-tiba tersentak.

"Hah!"

Ye Cangtian membuka mata, menarik napas panjang seperti baru ditarik dari dasar laut. Udara beracun itu masuk ke paru-parunya, tapi anehnya tidak membakar—ada sesuatu di dadanya yang menyaringnya lebih dulu sebelum menyebar.

Ia duduk perlahan, rambutnya masih berantakan. Ingatan terakhirnya hanya rasa sakit yang merobek jiwanya.

"Aku... belum mati?" suaranya parau.

Ia menatap telapak tangannya. Penglihatannya jauh lebih tajam sekarang—dengan cahaya tipis dari lumut fosfor saja, ia bisa melihat jelas tekstur kasar batu di sekitarnya.

Ia meraba kulitnya. Luka bakar dari cambuk Zhuo, yang seharusnya membuatnya cacat seumur hidup, hilang tanpa bekas. Yang tersisa hanya kulit baru yang halus tapi keras. Dadanya utuh, tulang rusuk yang tadinya retak terasa sempurna lagi.

Tapi bukan itu yang membuat Cangtian merinding.

Begitu ia memejamkan mata, ia merasakannya—sungai hangat mengalir di bawah kulitnya, bermuara di perut bawah, di Dantian, lalu mengalir lewat jalur-jalur yang sebelumnya tidak pernah ada.

Sumbatan yang selama ini mengunci meridian manusia fana sudah terputus.

"Bau apa ini?" Ia mengendus lengannya. Bau busuk menyengat seperti bangkai. Kulitnya dilapisi cairan hitam kental, campuran kotoran dan sisa racun yang dipaksa keluar saat ia pingsan. Ini cikal bakal dari apa yang nanti disebut orang-orang sebagai proses Pembersihan Sumsum dan Tulang.

Ia berdiri. Tubuhnya terasa ringan sekali, seperti rantai tak terlihat yang selama ini mengikatnya seketika terlepas.

Alat tambangnya tergeletak di tanah—gagang kayu satu meter dengan mata besi berkarat lima belas kilo, yang biasanya butuh dua tangan untuk diayun. Sekarang terasa seperti memegang ranting. Ia coba menggenggamnya erat-erat.

Krak!

Gagang kayu itu hancur berkeping-keping di dalam genggamannya.

Napas Cangtian tertahan. Ia menoleh ke dinding obsidian di sampingnya—batu paling keras di Gunung Darah, yang biasanya butuh ratusan ayunan hanya untuk retak sedikit.

Ia kepalkan tangan kanannya, tarik napas, lalu menghantam dengan satu pukulan.

Bamm!

Dinding itu meledak ke dalam, serpihan tajam berhamburan. Saat ia tarik tangannya, bekas kepalan sedalam tiga inci masih terlihat jelas di batu. Buku jarinya tidak berdarah, bahkan tidak lecet sedikit pun.

"Inikah..." suaranya bergetar menatap tinjunya sendiri, "...yang dirasakan para dewa itu?"

Rasa senangnya hampir meledak. Kekuatan murni yang selama ini ia inginkan—cukup untuk menghancurkan kepala Zhuo, membebaskan Paman Lu, meruntuhkan tambang neraka ini.

Tapi tiga detik kemudian, wajahnya kembali beku.

Jiwanya yang diasah sepuluh tahun bertahan hidup sebagai budak langsung memadamkan niat gegabah itu.

Bodoh, umpatnya dalam hati. Bunuh Zhuo sekarang? Zhuo cuma anjing penjaga paling bawah. Pengawas Kepala puluhan kali lebih kuat, dan pengawal di kawah ini ada ratusan. Mereka akan memanahku, membakar mayatku, lalu membantai semua budak sebagai hukuman. Kekuatan ini belum cukup.

Ia sadar posisinya. Sekarang memang sudah menembus batas fana, tapi baru menginjak satu kaki—tidak tahu teknik, tidak tahu cara memakai sungai hangat di tubuhnya dengan benar.

Menunjukkannya sekarang sama saja bunuh diri.

Dewa-dewa itu arogan karena lahir dengan kekuatan. Aku? Aku semut yang merangkak dari dasar kawah. Tapi aku punya yang tidak mereka punya. Kesabaran.

Ia menoleh ke meteorit di sudut lorong. Cahayanya sudah meredup, kini terlihat seperti obsidian kusam dengan urat emas tipis yang masih berdenyut pelan. Tapi ia masih merasakan tarikan antara Dantiannya dan batu itu.

Batu itu tidak bisa ditinggal di sini. Aku harus mengambilnya.

Ia berjongkok, merobek bagian bawah celananya, membungkus meteorit itu hati-hati, lalu mengikatkannya di pinggang.

Sekarang masalah terbesarnya: bagaimana kembali ke permukaan tanpa dicurigai.

Kalau budak yang dibuang ke Lorong Hitam pulang dengan kulit bersih dan tenaga lebih segar, Zhuo pasti curiga. Ia harus tetap terlihat seperti mayat hidup.

Tanpa ragu, ia meraup lumpur sulfat, mencampurnya dengan darah hitam kotorannya sendiri, lalu melumuri wajah, lengan, dan dadanya sampai kulit barunya tertutup rapat.

Belum cukup. Ia menatap batu tajam di dinding, mengertakkan gigi, lalu menghantamkan dahinya sendiri ke sana.

Trak!

Darah segar menetes dari dahi, mengalir lewat mata kiri ke pipi—luka yang terlihat mengerikan tapi tidak berbahaya. Ia juga merobek bahu jubahnya biar terlihat makin berantakan.

"Sempurna," bisiknya sinis.

Predator itu sudah selesai menyembunyikan taringnya di balik kulit yang berdarah.

Dengan punggung bungkuk dan langkah diseret, Cangtian mulai merangkak naik lewat terowongan curam menuju permukaan.

Matahari merah sudah condong ke barat saat suara langkah terseret terdengar dari mulut Lorong Hitam.

Di kawah utama, para budak berbaris menyetor hasil galian. Paman Lu berdiri paling belakang, bahunya dibalut perban kotor, matanya menatap kosong ke arah mulut lorong, meratapi pemuda yang mengorbankan diri untuknya.

Matanya terbelalak saat bayangan merangkak keluar dari kegelapan.

"C-Cangtian?!"

Satu seruan itu menghentikan semua aktivitas. Ribuan budak serentak menoleh. Para pengawal berzirah perak menyipitkan matanya.

Ye Cangtian keluar dalam kondisi mengenaskan—tubuh penuh lumpur hitam berbau busuk, darah segar mengalir dari dahi menutupi separuh wajahnya, napas tersengal, kaki diseret seperti tak bertulang. Seperti iblis kelaparan yang baru merangkak keluar dari bawah tanah.

"Tidak mungkin..." gumam seorang pengawal. "Manusia fana paling kuat pun mati dalam dua jam di Lorong Hitam. Bagaimana bocah ini bisa tahan seharian?"

Zhuo, yang sedang duduk di kursi tandu sambil minum anggur, menyipitkan mata kuningnya. Ia meletakkan cawan itu dan berdiri. Kehadiran budak yang menolak mati itu merusak selera minumnya.

"Minggir," perintahnya, mendorong Paman Lu sampai jatuh.

Ia melangkah angkuh mendekati Cangtian yang merangkak di atas batu, menutup hidung karena bau busuk.

"Semut yang gigih." Ia menendang bahu Cangtian hingga pemuda itu jatuh telentang. "Gas sulfat di bawah sana tidak cukup untuk membakar paru-parumu, bocah?"

Cangtian terbaring di tanah, napasnya dibuat seperti orang sekarat. Setiap otot di tubuh barunya menjerit ingin bangkit, mencengkeram leher Zhuo, meremukkan rahang biru itu sampai hancur.

Ia tahu satu pukulan penuh sekarang cukup untuk melepas kepala Zhuo dari lehernya.

Tapi ia menahan diri. Ia telan amarah itu jauh ke dasar jiwanya, membiarkan tubuhnya bergetar ketakutan.

"T-Tolong... Tuan..." rintihnya dengan suara serak yang dibuat-buat. "Saya... akan bekerja..."

Melihat wajah putus asa dan postur ketakutan dari pemuda yang tadi pagi berani melawannya, ego Zhuo puas total. Mematahkan semangat manusia memang selalu jadi hiburan terbaik para dewa tiran.

"Hahaha!" Zhuo tertawa keras hingga menggema seisi kawah. "Dengar kalian semua?! Begini akibatnya kalau berani membangkang! Bahkan kalau selamat dari Lorong Hitam, kalian akan kembali sebagai bangkai hidup yang merangkak minta belas kasihan!"

Ia mendengus jijik menatap Cangtian. "Bersihkan dirimu yang bau itu, kembali kerja besok. Kalau kuotamu tidak penuh, aku sendiri yang akan penggal kepalamu."

Zhuo berbalik ke tandunya. Para pengawal ikut tertawa merendahkan, lalu bubar.

Paman Lu segera merangkak mendekat, menangis sambil memapah tubuh Cangtian yang terlihat lemah. "Syukurlah, Nak... Syukurlah para dewa masih melindungimu..."

Cangtian tidak menjawab. Saat dipapah, ia menundukkan wajah, membiarkan rambut lepeknya menutupi ekspresinya.

Dewa melindunginya? Omong kosong.

Di balik rambut kotor itu, tidak ada rasa takut sama sekali. Mata hitamnya menatap tajam punggung Zhuo yang menjauh, dengan kilatan predator yang dingin dan mematikan.

Jari-jarinya yang kini sekeras baja diam-diam mencengkeram meteorit di balik jubahnya.

Tertawalah, Pengawas Zhuo, bisiknya dalam hati, senyum tipis iblis melengkung di balik debu dan darah di wajahnya. Kasih aku lima hari. Lima hari untuk mencerna batu ini di bawah hidungmu—dan aku sendiri yang akan mencabut jantungmu dari dadamu yang sombong itu.

Bab 3 : Lima Malam Penempaan

Barak budak di Tambang Kematian bukan tempat tinggal. Cuma gua dingin beralas jerami busuk, dipenuhi bau keringat ribuan orang yang tidur berdesakan.

Angin malam menusuk sampai ke tulang. Dengkuran, rintihan, dan batuk darah jadi pengantar tidur di sini.

Di sudut paling gelap, Ye Cangtian duduk bersila. Matanya terpejam rapat, sebatang kayu keras digigit di antara giginya sampai hampir hancur, dan keringat dingin mengalir deras dari dahinya, membasahi lumpur dan darah kering yang sengaja tidak ia bersihkan.

Ini malam kelima sejak ia keluar dari Lorong Hitam.

Lima malam berturut-turut, saat semua budak terlelap karena kelelahan, Cangtian menahan kantuk dan menggenggam inti batu meteorit yang ia sembunyikan di balik jubahnya.

Ia melakukan hal yang belum pernah dilakukan manusia fana mana pun—menarik energi murni dari alam dan memaksanya masuk ke tubuh. Tidak ada buku, tidak ada guru, cuma insting bertahan hidup.

Qi kuno dari meteorit itu mengalir seperti lava cair di pembuluh darahnya. Setiap kali Qi lewat di meridian yang sempit, rasanya seperti belati panas merobek daging dari dalam. Ototnya berkedut hebat, tulangnya berderak pelan, urat di bawah kulitnya menonjol hijau kehitaman.

Kalau ia hilang fokus sedetik, Qi itu bisa meledakkan jantungnya. Kalau ia sampai berteriak, penjaga di luar akan mendengar dan langsung memenggal kepalanya. Ia harus menahan semuanya dalam diam.

Ini bukan meditasi. Ini penempaan.

Menjelang fajar di malam kelima, akhirnya terjadi.

Wuss..

Rasa sakit yang merobek tubuhnya tiba-tiba reda. Hawa panas yang membakar berubah jadi hangat yang menenangkan. Qi dari meteorit itu akhirnya tunduk, mengalir masuk ke Dantian dan menetap, membentuk danau energi kecil yang stabil.

Cangtian membuka matanya. Di dalam gelap, sekilas mata hitamnya berkilat hijau redup sebelum kembali normal.

Kayu keras yang ia gigit sudah jadi serbuk. Inti meteorit di tangannya kehilangan cahaya, berubah jadi batu kusam, lalu hancur menjadi debu yang tertiup angin.

"Ahli Persilatan..." bisiknya pelan.

Ia tidak tahu sebutan resminya, tapi jelas tubuh fananya sudah naik satu tingkat. Otot, tulang, dan organ dalamnya kini terlapis energi tipis. Ia bisa memanggil Qi kapan saja, menyalurkannya ke kepalan tangan, dan menghasilkan daya hancur sepuluh kali lipat manusia normal.

Fajar menyingsing saat terompet ditiup dari luar. Waktu istirahat selesai.

Para budak bangun dengan enggan, menyeret kaki ke mulut tambang di bawah cambukan pengawal. Cangtian ikut berdiri, sengaja membungkuk untuk menyembunyikan punggungnya yang kini sekeras baja.

Hari ini hari kelima—waktu yang ia janjikan pada dirinya sendiri.

Kawah utama terasa lebih panas dari biasanya.

Pengawas Zhuo berdiri di atas batu besar, mengumumkan aturan baru. Kerajaan butuh lebih banyak Batu Roh untuk istana perjamuan yang baru, jadi kuota harian tiap budak dinaikkan dua kali lipat.

"Siapa yang gagal memenuhi kuota sampai matahari terbenam, tidak akan mendapat jatah makan tiga hari dan menerima dua puluh cambukan!" raung Zhuo, diiringi tawa para pengawal bersayap kelelawar.

Kuota normal saja sudah membunuh puluhan orang tiap hari. Dilipatgandakan, itu sama saja membunuh mereka secara perlahan. Tapi tak ada yang berani melawan. Suara alat tambang kembali terdengar, lebih cepat dan lebih putus asa.

Cangtian memegang alat tambangnya. Dengan kekuatan barunya, menghancurkan obsidian jadi sangat mudah—setengah hari saja keranjangnya sudah penuh. Tapi ia tidak menyetorkannya.

Ia hanya duduk diam di sudut tebing yang sepi, memejamkan mata, menstabilkan aliran Qi di Dantiannya sambil menunggu waktu yang tepat.

Matahari merah turun ke ufuk barat. Banyak budak jatuh pingsan dengan mulut berbusa. Salah satunya Paman Lu.

Luka di punggungnya dari lima hari lalu sudah membusuk. Ia memaksakan diri sejak pagi buta, tapi tubuh fana tetap ada batasnya. Menjelang senja, keranjangnya baru seperempat. Alat tambangnya terlepas, tubuh rentanya ambruk menabrak gerobak.

Keributan itu menarik perhatian Zhuo.

Sang pengawas melangkah dengan wajah masam, menatap keranjang yang hampir kosong dan tubuh tua yang tergeletak lemah.

"Orang tua tak berguna." Ia meludah. "Kau membuang-buang waktu terlalu lama. Dagingmu bahkan terlalu keras untuk pakan anjing. Lebih baik kuakhiri saja."

Zhuo menarik cambuk emas berdurinya.

"Tidak... tolong, Tuan... beri saya satu jam lagi..."

Paman Lu merangkak mundur sambil terisak, tapi seorang pengawal menginjak kakinya hingga ia menjerit.

"Satu jam? Napasmu saja bikin udara di sini kotor," ejek Zhuo.

Ia memutar cambuknya di udara sampai hawa panas menyelimutinya dan bersinar menyilaukan. Dengan satu ayunan kejam, ia sabetkan lurus ke tengkorak Paman Lu—serangan berlapis Qi yang cukup untuk membelah kepala jadi dua.

Paman Lu memejamkan mata, pasrah. Budak-budak lain membuang muka, tak tega melihatnya.

Grepp!

Suara benturan yang sama seperti lima hari lalu. Tapi kali ini tidak ada bau daging terbakar, tidak ada darah menetes.

Zhuo membelalak.

Tepat di depan wajah Paman Lu, berdiri sosok pemuda berlumur lumpur, memegang ujung cambuk emas itu dengan satu tangan kosong.

"Kau?!" Zhuo tersentak menatap tangan yang mencengkeram cambuknya. Duri tajam yang menyala itu bahkan tidak mampu menggores kulitnya. "Bagaimana mungkin..."

Cangtian mengangkat wajahnya perlahan.

Ia tak lagi bungkuk. Punggungnya tegap, lumpur di dahinya mengelupas, memperlihatkan mata hitam pekat yang tak lagi menyembunyikan niat membunuh.

"Kau berisik sekali, anjing biru." Suaranya memecah kesunyian kawah.

Keheningan mutlak menyelimuti tempat itu. Bahkan para pengawal mematung. Seekor budak baru saja memaki keturunan dewa.

Wajah Zhuo berubah menjadi ungu.

"Mati kau, semut rendahan!"

Ia melepaskan semua Qi bawaannya, mengalirkan energi biru keemasan ke cambuk, berusaha meledakkan tangan Cangtian.

Tapi sekuat apa pun ia menarik, cambuk itu tak bergerak seinci pun. Tangan Cangtian seperti inti gunung dari baja.

"Inikah kekuatan yang kau banggakan sejak lahir?" tanya Cangtian, nadanya bosan. "Lemah sekali."

Sebelum Zhuo sempat mencerna kata-katanya, Cangtian bergerak.

Energi Ahli Persilatan Tingkat 1 meledak dari Dantiannya, memompa ke otot lengan kanannya. Satu sentakan brutal dan cepat—ia menarik cambuk emas itu ke arahnya.

Kekuatan tarikannya gila. Zhuo yang tubuhnya jauh lebih besar terbang dari tanah seperti boneka.

"A-Apa?!"

Tubuhnya terseret paksa menembus udara, lurus menuju pemuda fana itu.

Di ujung, tangan kiri Cangtian sudah mengepal sempurna, diselimuti aura tipis yang tak kasat mata. Ia menatap wajah biru yang panik itu, lalu melepaskan tinjunya.

Bummm!

Tinju itu menghantam ulu hati Zhuo dengan suara seperti meriam meledak.

Zhuo memuntahkan darah segar bercampur serpihan organ dalam. Zirah peraknya penyok ke dalam, membentuk cetakan kepalan yang mengerikan.

Tubuhnya terhempas dua puluh meter, menghancurkan gerobak batu dan berguling-guling di tanah berdebu, lalu berhenti dalam posisi tertekuk yang tidak wajar.

Mata kuningnya melotot kosong menatap langit. Mati seketika, di tangan budak yang bahkan tak pernah ia anggap manusia.

Kawah utama jatuh ke dalam sunyi yang mematikan. Puluhan ribu pasang mata menatap dengan ngeri dan tidak percaya.

Seorang dewa baru saja dibunuh oleh manusia.

Cangtian membuang cambuk emas itu ke tanah, mencabut alat tambang berkarat di sebelahnya, lalu menatap dingin ke arah puluhan pengawal berzirah perak yang mulai gemetar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!