Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Vanessa Diadopsi

Bab 1

Rumah keluarga Maheswari selalu terasa hangat dan penuh tawa setiap harinya terutama saat aku ada di tengah-tengah mereka. Namaku Maya Anindya Pratama dan aku adalah anak bungsu sekaligus satu satunya anak perempuan di rumah ini. Ayahku Bima Pratama adalah orang yang dihormati banyak orang dan di matanya aku selalu menjadi harta paling berharga yang pernah dimilikinya. Ibuku Ratna selalu memelukku dengan lembut dan tidak pernah melepaskan tanganku terlalu jauh darinya. Di depanku ada tiga kakak laki laki yang selalu melindungiku dari apa pun Kakak Dika yang paling tua selalu menjadi pelindung yang tegas Kakak Rizky yang kedua selalu ada untuk mendengarkan ceritaku dan Kakak Arka yang paling muda di antara ketiganya adalah sahabat sekaligus kakak yang paling sering tertawa bersamaku. Tidak ada satu hal pun yang kurang dalam hidupku setiap keinginan selalu dipenuhi setiap langkah selalu dijaga dan setiap senyum selalu disambut dengan senyum yang sama tulusnya. Aku tumbuh dengan percaya bahwa semua orang pada dasarnya baik dan kasih sayang itu adalah hal yang tidak akan pernah berubah.

Hingga suatu hari yang mengubah segalanya Ayah dan Ibu pulang membawa seseorang yang baru ke dalam rumah kami. Saat itu sore hari langit berwarna jingga keemasan dan cahaya matahari masuk lewat jendela besar di ruang tamu menyinari sosok gadis kecil yang berdiri di samping Ibu dengan wajah yang tampak malu malu namun tersenyum manis. Namanya Vanessa katanya dia seumuran denganku dan mulai hari ini dia akan tinggal bersama kami sebagai anak yang diadopsi oleh Ayah dan Ibu. Aku berdiri terpaku di tempatku berdiri menatap gadis asing itu dengan perasaan bingung yang tiba tiba muncul di hatiku. Tidak ada yang memberitahuku sebelumnya tidak ada yang bertanya apakah aku setuju atau tidak semuanya sudah diputuskan dan disampaikan kepadaku sebagai sesuatu yang sudah pasti terjadi.

Ayah meletakkan tangannya di atas bahu Vanessa dengan senyum yang hangat persis seperti senyum yang dulu sering ia berikan kepadaku dan berkata kepada kami semua bahwa mulai hari ini Vanessa adalah bagian dari keluarga kami dan harus diperlakukan seperti saudara kandung sendiri. Ibu langsung menggenggam tangan Vanessa dan membawanya berkeliling mengenalkan setiap sudut rumah yang selama ini menjadi tempatku bermain dan tumbuh besar. Ketiga kakakku menyambutnya dengan sopan karena itu yang diharapkan dari mereka dan karena mereka percaya pada keputusan Ayah dan Ibu. Hanya saja aku melihat sesuatu di balik senyum manis Vanessa saat ia menoleh ke arahku sejenak tatapannya terasa tajam dan penuh perhitungan meski seketika itu juga berubah kembali menjadi tatapan yang lemah dan polos seolah olah aku hanya membayangkannya saja.

Hari hari pertama kehadirannya berjalan dengan baik atau setidaknya terlihat seperti itu. Vanessa selalu bersikap sangat sopan kepada semua orang ia selalu menundukkan kepala saat berbicara ia selalu menawarkan bantuan kepada siapa pun dan ia selalu tahu hal apa yang harus dikatakan agar orang lain merasa nyaman di dekatnya. Ayah memujinya sebagai gadis yang sangat baik hati dan penuh perhatian Ibu sering membandingkan sifatnya yang tenang dengan sifatku yang kadang terlalu ceria dan berisik. Ketiga kakakku pun perlahan mulai merasa nyaman dengannya karena Vanessa selalu bisa mendengarkan dengan sabar dan memberikan pujian di setiap hal kecil yang mereka lakukan. Aku berusaha menjadi saudara yang baik aku mengajaknya bermain aku mengajaknya berkeliling dan aku berusaha berbagi segala hal yang aku miliki. Namun setiap kali aku mendekat aku selalu merasakan ada jarak yang tidak terlihat yang menjaga dirinya tetap terpisah dariku seolah olah aku bukanlah saudaraku melainkan sesuatu yang harus disingkirkan perlahan lahan.

Semakin lama aku mulai menyadari bahwa segala sesuatu yang dilakukan Vanessa selalu memiliki tujuan tersendiri. Ia selalu membantu Ibu di dapur tepat pada saat Ayah pulang bekerja sehingga Ayah selalu melihatnya sedang berbuat baik. Ia selalu membawakan minuman kesukaan Kakak Dika tepat saat ia sedang lelah sehingga Kakak Dika selalu memujinya sebagai gadis yang sangat perhatian. Ia selalu bertanya kepada Kakak Rizky tentang hal hal yang ia ketahui Kakak Rizky sukai sehingga Kakak Rizky merasa bahwa Vanessa adalah orang yang sangat memahaminya. Dan kepada Kakak Arka ia selalu tertawa pada setiap lelucon yang diucapkannya bahkan saat lelucon itu tidak lucu sama sekali sehingga Kakak Arka merasa bahwa tidak ada orang yang bisa mengerti dan menghargainya sebaik Vanessa. Sementara aku yang tumbuh bersama mereka sejak kecil perlahan lahan terasa tersisih di sudut ruangan yang sama yang dulu selalu penuh dengan kehadiranku.

Suatu sore aku sedang duduk sendirian di beranda belakang menatap ke arah taman yang luas tempat aku sering bermain sejak kecil. Tiba tiba aku mendengar suara percakapan dari balik dinding dekat gudang tua yang jarang dikunjungi siapa pun. Itu suara Vanessa dan ia sepertinya sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon suaranya terdengar berbeda dari biasanya tidak lembut tidak sopan melainkan tegas dan penuh ketegasan yang dingin. Ia berkata bahwa semuanya berjalan sesuai rencana dan bahwa mereka semua sudah mulai tertipu oleh sikap baik yang ia pura pura tunjukkan. Ia juga berkata bahwa aku adalah satu satunya penghalang yang tersisa dan aku harus dibuat terlihat buruk di mata mereka semua sebelum aku sempat menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Jantungku berdegup kencang sekali saat mendengar kata kata itu dan bulu kudukku berdiri seketika. Ternyata dugaan yang selama ini aku simpan sendirian di dalam hatiku bukanlah ketakutan yang berlebihan Vanessa memang tidak datang ke sini untuk menjadi saudara kami ia datang untuk mengambil sesuatu yang milikku.

Aku berusaha memberanikan diri dan berniat menceritakan hal ini kepada Ayah dan Ibu saat makan malam nanti. Namun sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun Vanessa tiba tiba menangis tersedu sedu di hadapan mereka semua sambil menunjukkan luka kecil di pergelangan tangannya yang katanya didapat karena aku mendorongnya saat kami sedang bermain di halaman belakang. Aku terkejut sekali dan segera membela diri dengan mengatakan bahwa aku tidak pernah menyentuhnya sedikit pun dan bahwa aku melihatnya berbicara sendirian di dekat gudang dengan wajah yang tidak pernah ia tunjukkan kepada kami. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mendengarkan penjelasanku. Ayah justru menatapku dengan wajah yang kecewa dan berkata bahwa seharusnya aku yang menjadi kakak yang baik dan bukan sebaliknya. Ibu langsung memeluk Vanessa dengan lembut dan menegurku agar tidak pernah menyakiti adik baruku lagi. Ketiga kakakku pun menatapku dengan tatapan yang tidak setuju seolah olah aku adalah orang yang telah melakukan kesalahan yang sangat besar.

Saat itu aku menyadari sesuatu yang sangat menyakitkan kebenaran saja tidak cukup untuk dipercaya kalau tidak ada satu orang pun yang mau mendengarkannya. Vanessa sudah membangun benteng kepercayaan yang begitu kuat di antara mereka sehingga setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu dianggap benar sementara setiap kata yang keluar dari mulutku mulai dianggap sebagai kebohongan belaka. Malam itu aku kembali ke kamarku dengan perasaan yang hancur dan kesepian meskipun aku tinggal di rumah yang penuh dengan orang orang yang dulu sangat menyayangiku. Aku duduk di tepi tempat tidurku dan memandang ke arah jendela yang menampilkan langit malam yang penuh bintang. Di luar sana terasa sunyi namun di dalam hatiku terasa jauh lebih sunyi dari itu semua. Sejak hari pertama Vanessa datang ia sudah mulai menyusun rencananya satu per satu langkahnya begitu halus dan begitu terencana sehingga tidak ada satu orang pun yang menyadari bahwa mereka sedang dimainkan oleh seorang gadis yang berwajah malaikat namun berhati lain.

Aku tahu bahwa pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai dan aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat dukungan dari siapa pun di dalam rumah ini. Namun aku juga tahu satu hal yang belum diketahui oleh Vanessa aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan tetap memperhatikan setiap gerak geriknya aku akan mengingat setiap kata yang keluar dari mulutnya dan aku akan mencatat setiap hal yang tidak beres yang terjadi di hadapanku. Karena aku yakin bahwa kebohongan tidak akan pernah bisa bertahan selamanya dan semakin lama kebohongan itu disimpan semakin besar kemungkinannya untuk terungkap dengan sendirinya. Mungkin hari ini mereka semua membelanya mungkin hari ini mereka semua memalingkan wajah dariku tapi aku akan tetap bertahan sampai hari di mana kebenaran akhirnya terungkap di hadapan mata mereka sendiri.

Malam semakin larut dan rumah perlahan menjadi sunyi. Dari balik pintu kamarku yang tertutup rapat aku masih bisa mendengar suara tawa yang sayup sayup terdengar dari ruang tengah di lantai bawah. Itu suara tawa Ayah Ibu ketiga kakakku dan di antara suara suara itu terdengar suara tawa Vanessa yang paling nyaring dan paling terdengar bahagia. Mereka tertawa bersama seolah olah tidak ada yang hilang dari kumpulan mereka padahal sebenarnya ada satu kursi yang kosong di meja makan dan ada satu tempat di hati mereka yang perlahan lahan mulai ditinggalkan. Aku menarik selimut hingga menutupi sebagian pipiku yang terasa dingin karena air mata yang jatuh tanpa terasa. Aku berjanji di dalam hatiku sendiri bahwa aku akan menjadi saksi bisu dari segala sesuatu yang sedang terjadi dan suatu hari nanti saat semua kebohongan itu runtuh aku akan berdiri tegak di hadapan mereka semua tanpa perlu mengucapkan satu kata pun karena kenyataan sendiri yang akan berbicara jauh lebih keras daripada teriakan apa pun.

Besok pagi akan datang dan Vanessa pasti akan kembali tersenyum seolah tidak ada apa apa yang terjadi. Ia akan kembali bersikap lembut kembali memberikan pujian kembali menangis setiap kali ia membutuhkan simpati. Dan aku akan kembali berdiri di tempatku mengamati mencatat dan bertahan. Karena aku adalah Maya Anindya Pratama dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil tempatku di keluargaku sendiri tanpa memberikan perlawanan yang seharusnya aku berikan.

 

Bersambung...

Fitnah Pertama Mulai Menyebar

Bab 2

Hari-hari berlalu dengan perubahan yang semakin terasa setiap harinya. Kehadiran Vanessa perlahan lahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga ini. Di mana pun aku melihat wajahnya selalu ada di sana tersenyum manis berbicara dengan suara lembut yang selalu membuat orang lain merasa nyaman mendengarkannya. Semua orang semakin terbiasa dengan keberadaannya seolah olah dia memang anak kandung yang lahir di rumah ini sejak dulu sementara aku yang sebenarnya anak kandung perlahan lahan mulai terasa seperti tamu yang tidak diundang.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjadi diriku sendiri dan berharap bahwa lama kelamaan mereka semua akan menyadari siapa yang sebenarnya tulus dan siapa yang hanya berpura pura. Namun setiap kali aku mencoba mendekat atau berbicara hal hal yang tidak disukai Vanessa seketika berubah menjadi sesuatu yang salah yang datang dari diriku saja. Ia memiliki cara yang sangat halus untuk memutarbalikkan keadaan sehingga seolah olah setiap kesalahan yang terjadi selalu bermula dari aku dan setiap kebaikan yang terjadi selalu datang dari dirinya.

Suatu pagi Ibu pergi ke pasar membeli beberapa barang kebutuhan dan berpesan kepada kami berdua untuk menjaga rumah dengan baik dan tidak bertengkar satu sama lain. Sebelum berangkat Ibu juga menaruh sebuah kalung emas yang sangat berharga di atas meja rias kamar utama karena kalung itu sempat lepas dari lehernya saat ia berganti pakaian. Kalung itu adalah pemberian pertama yang pernah diberikan Ayah kepada Ibu saat mereka baru saja menikah dan nilainya tidak tergantikan oleh apa pun di dunia ini. Ibu berpesan agar salah satu dari kami menyimpannya kembali ke dalam kotak perhiasan sebelum ia pulang dan Vanessa dengan sigap langsung menjawab dengan suara yang penuh kesetiaan bahwa ia yang akan melakukannya dengan sangat hati hati.

Beberapa jam kemudian saat Ibu pulang ke rumah hal yang tidak terduga terjadi. Kalung emas itu tidak ada di dalam kotak perhiasan di mana Vanessa berjanji akan menyimpannya. Ibu mencarinya ke mana mana dengan wajah yang mulai tampak cemas dan bingung sementara Vanessa berdiri di sudut ruangan dengan mata yang berkaca kaca seolah olah ia sedang menahan rasa sedih yang luar biasa. Saat ditanya di mana kalung itu Vanessa langsung menunduk dalam dan berkata dengan suara yang bergetar bahwa ia melihat aku masuk ke kamar utama pagi tadi dan tinggal sendirian di sana cukup lama sebelum keluar dengan tergesa gesa seolah olah takut ketahuan.

Aku terkejut setengah mati mendengar tuduhan itu dan segera membela diri dengan sekuat tenaga. Aku berkata bahwa memang benar aku sempat masuk ke kamar utama hanya untuk mengambil buku yang tertinggal di sana dan aku tidak menyentuh satu benda pun di atas meja rias itu. Aku juga berkata bahwa justru aku melihat Vanessa sendiri yang masuk ke kamar itu setelah aku pergi dan menutup pintu dengan sangat rapat seolah olah ia tidak ingin ada orang yang melihat apa yang sedang dilakukannya di dalam sana. Namun kata kataku seketika itu juga dianggap sebagai alasan yang dibuat buat untuk menutupi kesalahanku sendiri.

Ayah yang baru saja pulang bekerja ikut datang ke kamar utama dan setelah mendengar penjelasan Vanessa yang penuh air mata serta penjelasanku yang tergesa gesa ia langsung menatapku dengan wajah yang sangat serius dan kecewa. Ia berkata bahwa Vanessa tidak memiliki alasan apa pun untuk berbohong karena semua hal yang ada di rumah ini juga sudah menjadi miliknya dan ia tidak perlu mengambil apa pun secara diam diam. Sebaliknya Ayah berkata bahwa mungkin saja aku merasa cemburu dan ingin memiliki sesuatu yang sangat berharga yang selama ini hanya milik Ibu. Mendengar kata kata itu hatiku terasa seperti ditusuk ribuan jarum yang tajam bagaimana mungkin Ayah bisa berpikir bahwa aku yang selama ini diberi segalanya tiba tiba menjadi orang yang mengambil barang milik ibuku sendiri?

Aku berusaha menjelaskan lebih lanjut namun setiap kali aku berbicara Vanessa akan mengeluarkan suara isak tangis yang semakin keras seolah olah ia merasa sangat bersalah karena telah memberitahu kebenaran dan seolah olah aku sedang memarahinya karena ia berani jujur. Hal itu membuat Ayah dan Ibu semakin merasa kasihan kepadanya dan semakin merasa bahwa aku adalah anak yang tidak tahu berterima kasih dan tidak bisa menerima kehadiran saudara baruku dengan baik. Mereka tidak membiarkanku membuktikan apa pun tidak membiarkanku mencari kebenaran lebih lanjut dan bahkan tidak mau mendengarkan sampai kalimat terakhir dari setiap kata yang keluar dari mulutku.

Siang itu juga kalung itu ternyata ditemukan di dalam laci meja belajar di kamarku sendiri. Vanessa yang dengan sengaja menawarkan diri untuk membantu mencari barang itu yang menemukannya di sana dengan wajah yang seolah olah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia bahkan berkata mungkin saja kalung itu terjatuh dan terbawa ke kamarku tanpa sengaja supaya aku tidak terlalu dimarahi oleh Ayah dan Ibu. Kata kata itu justru membuatnya terlihat semakin baik dan mulia sementara aku terlihat semakin bersalah seolah olah ia sedang berusaha menutupi kejahatanku dengan kebaikannya yang besar.

Tidak ada yang bertanya bagaimana kalung itu bisa sampai ke dalam laciku tidak ada yang bertanya siapa yang terakhir berada di kamar itu tidak ada yang bertanya mengapa aku harus menyembunyikan sesuatu yang bisa aku minta dengan baik hati jika memang aku menginginkannya. Semua pertanyaan yang seharusnya mereka tanyakan pada diri sendiri tidak pernah muncul karena hati mereka sudah tertutup oleh rasa percaya yang buta kepada gadis yang baru saja mereka kenal beberapa bulan ini sementara rasa percaya kepada anak kandung yang telah mereka besarkan selama bertahun tahun perlahan lahan mulai hilang seolah olah tidak pernah ada sama sekali.

Malam itu saat semua orang sedang duduk bersama di ruang makan menikmati hidangan yang disiapkan untuk makan malam aku tidak dipanggil untuk ikut makan bersama mereka. Tidak ada yang datang memanggilku tidak ada yang menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Aku duduk sendirian di tepi tempat tidurku dengan perasaan yang hancur berkeping kepingan sambil memegang buku catatan kecil yang baru saja aku beli dari uang sakuku. Aku menyadari bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan mereka selama hati mereka sudah tertutup rapat oleh pengaruh kebohongan Vanessa. Aku harus menyimpan setiap kejadian setiap kata setiap waktu di mana hal hal buruk itu terjadi supaya suatu hari nanti saat waktunya tiba aku bisa menunjukkan semuanya sekaligus tanpa perlu diperdebatkan lagi.

Aku mulai menulis di halaman pertama buku catatan itu dengan tangan yang sedikit gemetar namun tekad yang semakin kuat dari sebelumnya. Aku menuliskan tanggal kejadian itu waktu di mana Ibu berangkat ke pasar pesan yang disampaikan kalung emas yang ditinggalkan siapa yang berjanji menyimpannya siapa yang terakhir berada di kamar utama sebelum kalung itu hilang dan di mana kalung itu akhirnya ditemukan serta siapa yang menemukannya. Aku menuliskan setiap hal sekecil apa pun yang terasa aneh atau tidak wajar karena aku tahu bahwa hal hal kecil yang sering diabaikan itulah yang nantinya akan menjadi bukti terbesar dari segala sesuatu yang sedang direncanakan secara tersembunyi.

Beberapa hari setelah kejadian itu suasana di rumah berubah sepenuhnya. Setiap kali ada sesuatu yang hilang atau rusak di dalam rumah semua mata langsung tertuju kepadaku seolah olah aku adalah orang yang pasti melakukannya tanpa perlu diselidiki lebih dulu. Jika ada piring yang pecah di dapur maka aku yang diduga melakukannya. Jika ada bunga yang dipatahkan di taman maka aku yang diduga melakukannya. Jika ada pesan yang tertulis di dinding yang menyinggung perasaan seseorang maka aku yang diduga melakukannya. Dan setiap kali tuduhan itu datang Vanessa selalu ada di sana dengan wajah yang lembut berkata mungkin saja Maya tidak bermaksud begitu mungkin saja dia hanya tidak sengaja seolah olah dia adalah satu satunya orang yang membelaku padahal justru kata kata itulah yang semakin memperkuat keyakinan mereka bahwa aku memang orang yang bersalah dan Vanessa adalah orang yang baik hati yang selalu memaafkan kesalahanku.

Aku menyadari bahwa ini adalah pola yang terus berulang dengan cara yang sama persis setiap waktunya. Vanessa melakukan sesuatu yang buruk lalu ia membuat seolah olah aku yang melakukannya lalu ia tampil sebagai orang yang baik yang memaafkan sehingga ia terlihat semakin mulia sementara aku terlihat semakin buruk di mata mereka semua. Ia tidak pernah berteriak tidak pernah memarahi tidak pernah menuduh secara langsung namun setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam dan jauh lebih menyakitkan daripada sebuah pukulan yang keras.

Suatu sore Kakak Arka yang dulunya adalah kakak yang paling dekat denganku datang menghampiriku saat aku sedang duduk sendirian di beranda belakang. Ia berdiri agak jauh dariku seolah olah takut terkena sesuatu yang buruk jika berdiri terlalu dekat. Ia berkata dengan suara yang terdengar berat dan penuh kekecewaan mengapa kau selalu saja membuat masalah Maya? Vanessa sudah begitu baik kepadamu ia selalu membelamu di depan Ayah dan Ibu setiap kali kau dituduh namun kau tidak pernah berhenti menyakitinya. Ia tidak memiliki siapa pun di dunia ini selain kami mengapa kau tidak bisa membiarkannya hidup tenang bersama kami?

Kata kata Kakak Arka terasa lebih menyakitkan daripada semua tuduhan yang pernah diucapkan oleh siapa pun lainnya. Aku menatap matanya yang dulunya penuh tawa dan kehangatan kini penuh dengan kekecewaan yang ditujukan kepadaku. Aku ingin berteriak aku ingin berkata bahwa Vanessa lah yang terus menciptakan masalah itu semua bukan aku aku yang tidak pernah berhenti menyakiti dia tapi dia yang tidak pernah berhenti menyakitiku. Namun aku menahan kata kata itu di dalam tenggorokanku karena aku tahu bahwa Kakak Arka belum siap mendengarkan kebenaran itu. Hati nya sudah diisi oleh kata kata manis Vanessa sehingga tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk mendengarkan penjelasanku. Aku hanya menatapnya dengan mata yang menahan air mata dan berkata pelan Kakak Arka percayalah suatu hari nanti kau akan tahu siapa yang sebenarnya menyakiti siapa.

Kakak Arka menghela napas panjang seolah olah ia sudah lelah berdebat denganku lalu berbalik dan pergi meninggalkanku sendirian di tempat yang sama persis seperti yang selalu terjadi setiap saat. Saat ia pergi aku segera mengeluarkan buku catatanku dan menuliskan percakapan itu serta tatapan yang diberikan kakakku sendiri kepadaku. Setiap hal yang terjadi semakin memperkuat tekadku untuk tidak menyerah. Semakin banyak mereka menjauh semakin rajin aku mencatat semakin banyak mereka membenci semakin sabar aku menunggu. Karena aku tahu bahwa semakin lama ia berpura pura semakin banyak kesalahan yang akan ia buat pada akhirnya dan tidak ada satu pun kebohongan yang bisa tersembunyi selamanya di bawah sinar matahari.

Vanessa pasti menyadari bahwa ia semakin mendekati tujuannya namun ia belum menyadari bahwa ia juga semakin mendekati hari di mana semua topeng yang ia pakai akan jatuh ke tanah dengan sendirinya. Hari itu belum tiba tapi hari itu pasti akan datang dan saat hari itu tiba aku akan berdiri di hadapan mereka semua dengan buku catatan ini di tanganku dan tidak ada satu kebohongan pun yang bisa bertahan di hadapan kebenaran yang telah tertulis satu per satu dengan darah dan air mata kesabaran ini.

 

Bersambung...

Keluarga Mulai Kehilangan Kepercayaan

Bab 3

Setiap hari yang berlalu terasa semakin berat bagiku namun semakin ringan bagi Vanessa. Ia seolah olah memiliki cara khusus untuk mengambil sepotong demi sepotong kepercayaan yang dulu sepenuhnya milikku. Tidak ada pertengkaran besar tidak ada teriakan yang terdengar sampai ke telinga tetangga semuanya terjadi secara halus dan pelan seolah olah air yang perlahan lahan mengikis batu yang keras sampai akhirnya batu itu hancur menjadi pasir yang tidak berharga lagi. Itulah yang sedang dilakukannya kepada kepercayaan yang dulu dimiliki olehku di dalam keluargaku sendiri.

Suatu hari Ayah pulang dengan wajah yang tampak sangat lelah dan cemas. Ada masalah besar dalam urusan pekerjaannya dan ia membutuhkan dokumen penting yang tersimpan di dalam lemari besi ruang kerjanya. Saat ia membuka lemari itu dokumen yang dicarinya tidak ada di tempatnya. Ayah menjadi sangat khawatir karena dokumen itu berisi hal hal yang sangat berharga dan rahasia yang jika jatuh ke tangan orang yang salah bisa merugikan banyak orang serta membahayakan nama baik keluarga kami. Seluruh rumah menjadi sibuk mencari ke mana perginya dokumen itu semua orang memeriksa setiap sudut ruangan setiap laci setiap tumpukan kertas yang ada di rumah.

Tiba tiba Vanessa datang dengan wajah yang tampak takut dan ragu ragu seolah olah ia tidak berani mengucapkan apa yang ada di pikirannya. Ia berkata dengan suara yang pelan dan gemetar bahwa kemarin sore ia melihat aku keluar dari ruang kerja Ayah dengan wajah yang tampak gelisah dan menyembunyikan sesuatu di balik punggungku. Ia berkata bahwa ia tidak berani bertanya saat itu karena ia takut aku akan marah kepadanya namun melihat Ayah begitu cemas ia merasa tidak bisa lagi diam saja. Seketika itu juga semua mata tertuju kepadaku tatapan yang penuh harapan sebelumnya kini berubah menjadi tatapan yang penuh kecurigaan dan kekecewaan yang dalam.

Aku langsung menjelaskan dengan jujur bahwa memang benar aku sempat masuk ke ruang kerja Ayah untuk mengambil buku yang tertinggal di meja namun aku tidak menyentuh satu lembar kertas pun di dalam lemari besi itu. Aku bahkan tidak tahu cara membukanya karena hanya Ayah yang memegang kunci dan kode rahasianya. Namun kata kataku seolah olah hilang begitu saja di udara tanpa didengar oleh siapa pun. Vanessa dengan cerdiknya langsung menambahkan perkataan yang seolah olah membela aku namun justru semakin memperkuat tuduhan itu. Ia berkata mungkin saja Maya tidak bermaksud mengambilnya mungkin saja ia tidak sengaja membawanya bersama buku yang diambilnya dan mungkin saja dokumen itu jatuh di suatu tempat tanpa ia sadari. Kata kata itu terdengar seperti pembelaan yang baik hati namun sebenarnya menanamkan pemikiran di dalam kepala mereka bahwa aku memang orang yang terakhir berada di ruangan itu dan kemungkinan besar akulah penyebab hilangnya dokumen tersebut.

Kakak Dika yang paling tua dan paling tegas datang menghampiriku dengan langkah yang cepat dan berat. Ia menatapku tajam dan berkata dengan suara yang keras dan penuh amarah mengapa kau selalu saja membuat masalah di mana pun kau berada Maya? Apa yang sebenarnya kau inginkan dari keluarga ini? Ayah sedang mengalami kesulitan besar dan kau justru menambah beban di pundaknya. Jika kau melakukan hal ini karena cemburu maka kau sudah melampaui batas kesabaran kami semua. Aku menatapnya dengan mata yang berkaca kaca dan berkata Kakak Dika percayalah aku tidak melakukannya. Aku tidak pernah menyentuh dokumen itu sama sekali. Tapi Kakak Dika memalingkan wajahnya seolah olah melihatku saja sudah membuatnya merasa kecewa. Ia tidak mau mendengar penjelasanku lebih lanjut dan berjalan pergi meninggalkanku yang berdiri sendirian di tengah ruangan yang penuh dengan orang orang yang tidak lagi percaya padaku.

Kakak Rizky yang selalu pendiam dan bijaksana juga ikut berbicara untuk pertama kalinya dengan nada yang dingin dan jauh berbeda dari biasanya. Ia berkata Maya aku selalu berusaha memahamimu dan selalu berusaha mencari alasan untuk setiap hal yang kau lakukan. Tapi kali ini aku tidak bisa lagi membela dirimu. Vanessa tidak memiliki alasan apa pun untuk berbohong. Ia baru berada di sini sebentar saja dan ia tidak tahu apa apa tentang urusan pekerjaan Ayah. Sementara kau kau sudah berada di sini sejak kecil kau tahu betapa pentingnya segala sesuatu bagi Ayah. Mengapa kau harus melakukan hal yang menyakitkan ini kepada kami semua? Mendengar kata kata dari Kakak Rizky yang selalu menjadi tempatku mencari nasihat hatiku terasa seperti dihantam batu yang besar. Jika bahkan Kakak Rizky yang paling sabar dan paling bijaksana sudah tidak lagi percaya padaku lalu kepada siapa lagi aku bisa berharap untuk didengarkan?

Sore itu juga dokumen itu ditemukan di dalam tas sekolahku sendiri. Vanessa yang menawarkan diri untuk memeriksa barang barangku dengan alasan ingin membantu mencari barang yang hilang itulah yang menemukannya terselip di bagian paling bawah tas yang tertutup rapat oleh buku buku dan alat tulis. Saat dokumen itu dikeluarkan dari tas dan diletakkan di atas meja di hadapan mereka semua tidak ada satu orang pun yang ragu lagi bahwa akulah yang melakukannya. Wajah Ayah terlihat sangat sedih dan lelah seolah olah ada sesuatu yang berat yang menekan dadanya. Ia tidak memarahiku tidak berteriak tidak mengucapkan kata kata kasar. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang penuh kekecewaan yang begitu dalam sehingga jauh lebih menyakitkan daripada pukulan apa pun. Ia berkata Maya aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan sampai melakukan hal seperti ini. Aku selalu mempercayaimu sepenuh hati dan kau membalasnya dengan cara ini. Mulai sekarang jangan kau masuk lagi ke ruang kerjaku tanpa izin dariku. Dan tolong jangan buat masalah lagi biarkan kami tenang mengurus hal hal yang penting.

Ibu juga tidak memelukku atau menanyakan kebenaran kepadaku. Ia hanya menghela napas panjang dan berkata dengan suara yang terdengar lelah dan putus asa Maya kenapa kau tidak bisa seperti Vanessa? Ia selalu sopan selalu membantu selalu memikirkan perasaan orang lain. Mengapa kau harus selalu menyusahkan kami? Kata kata itu terasa seperti pisau yang tajam yang mengiris bagian terdalam hatiku. Selama bertahun tahun aku berusaha menjadi anak yang baik menjadi adik yang menyenangkan menjadi putri yang membanggakan. Namun semua itu seolah olah tidak pernah ada sama sekali. Semua kebaikan yang pernah kulakukan hilang begitu saja digantikan oleh satu tuduhan yang dibuat oleh gadis yang baru saja kami kenal beberapa bulan.

Malam itu aku duduk di lantai dekat pintu kamarku sambil memeluk lututku erat erat. Di luar pintu aku mendengar suara percakapan mereka yang sedang makan malam bersama tanpa memanggilku. Aku mendengar suara Ayah yang berkata mungkin saja kita terlalu memanjakan Maya sejak kecil sehingga ia tidak pernah menghargai apa pun yang kami berikan kepadanya. Aku mendengar suara Ibu yang menjawab mungkin saja kita harus lebih tegas kepadanya mulai sekarang supaya ia belajar menghargai orang lain. Dan aku mendengar suara ketiga kakakku yang menyetujui kata kata mereka satu per satu seolah olah semua hal yang terjadi adalah salahku sepenuhnya. Tidak ada satu orang pun yang bertanya bagaimana dokumen itu bisa masuk ke dalam tas sekolahku yang selalu aku bawa ke mana mana dan tidak pernah aku tinggalkan sembarangan. Tidak ada satu orang pun yang bertanya mengapa aku harus menyembunyikan sesuatu yang sebesar itu di tempat yang paling mudah ditemukan jika memang aku berniat membawanya pergi. Tidak ada satu orang pun yang bertanya siapa yang memiliki kesempatan untuk memasukkan dokumen itu ke dalam tas sekolahku saat aku sedang bermain di halaman belakang sendirian.

Aku segera mengeluarkan buku catatanku yang tersembunyi di bawah bantal tempat tidurku. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena menahan rasa sakit di hatiku aku menuliskan setiap hal yang terjadi mulai dari saat dokumen itu dicari kata kata yang diucapkan Vanessa cara ia menyusun kalimat yang seolah olah membela aku namun sebenarnya memperkuat tuduhan tempat di mana dokumen itu ditemukan dan kata kata yang diucapkan oleh setiap anggota keluargaku satu per satu. Aku menuliskan semuanya dengan jujur dan lengkap tanpa menambahkan satu kata pun yang berlebihan karena aku tahu bahwa kebenaran itu sendiri sudah cukup kuat untuk berbicara pada waktunya nanti.

Hari hari setelah kejadian itu berubah menjadi masa masa yang penuh kesunyian dan kesepian bagiku. Setiap kali ada sesuatu yang hilang atau rusak di rumah nama aku selalu menjadi nama pertama yang disebut oleh siapa pun yang menemukannya. Setiap kali ada kesalahan yang terjadi aku selalu menjadi orang pertama yang disalahkan tanpa perlu diselidiki lebih dulu. Vanessa semakin hari semakin menjadi kesayangan mereka semua ia selalu ada di sisi Ayah saat ia pulang bekerja ia selalu membantu Ibu di dapur ia selalu mendengarkan cerita ketiga kakakku dengan penuh perhatian dan memberikan pujian yang tepat pada setiap hal yang mereka lakukan. Sementara aku semakin hari semakin tersisih semakin jauh dari mereka semakin diam dan semakin sendirian.

Aku sering duduk sendirian di beranda belakang menatap ke arah taman yang dulu penuh dengan tawa dan permainan kami berempat. Sekarang tempat itu sering dikunjungi oleh Vanessa dan ketiga kakakku yang sedang tertawa dan bercanda bersama tanpa mengundang aku ikut bergabung. Kadang kadang Vanessa akan menoleh ke arahku seolah olah ia menyadari keberadaanku lalu tersenyum tipis yang hanya bisa dimengerti oleh aku saja sebuah senyum kemenangan yang halus yang mengatakan lihatlah mereka semua sekarang milikku dan kau tidak memiliki siapa pun lagi.

Namun senyum itu juga memberiku kekuatan karena ia menunjukkan bahwa Vanessa mulai merasa nyaman dan mulai merasa bahwa ia sudah menang. Semakin ia merasa aman semakin lengah ia akan menjaga rahasianya dan semakin besar kemungkinannya untuk melakukan kesalahan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Aku tidak akan menyerah aku tidak akan pergi dan aku tidak akan diam saja. Setiap kata yang keluar dari mulutnya setiap langkah yang diambilnya setiap kebohongan yang diucapkannya semuanya akan tertulis di dalam buku catatan ini satu per satu sampai tumpukan kebenaran itu menjadi begitu besar sehingga tidak ada satu orang pun yang bisa lagi mengabaikannya atau memalingkan wajah darinya.

Malam itu saat seluruh rumah sudah tertidur lelap aku masih duduk di dekat jendela kamarku menatap ke arah langit yang penuh bintang. Aku berjanji kepada diriku sendiri dan kepada langit yang melihat semuanya bahwa aku akan tetap bertahan meskipun tidak ada satu orang pun yang berdiri di sisiku. Aku akan tetap berdiri tegak meskipun tanah di bawah kakiku terasa semakin sempit dan semakin licin karena kebohongan yang disebarkan di sekelilingku. Karena aku tahu bahwa di ujung jalan yang panjang dan gelap ini ada cahaya kebenaran yang sedang menunggu untuk bersinar terang dan saat hari itu tiba tidak ada satu kebohongan pun yang mampu bertahan di hadapannya.

 

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!