Indonesia
NovelToon NovelToon

Tawanan Mantan Suami

Bab 1: Pertemuan yang Tak Terduga

Helena menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar hotel berbintang lima yang megah. Lampu kristal di atasnya berkilau, memantulkan cahaya hangat yang seharusnya menenangkan. Tapi kenyataannya, dadanya justru terasa sesak. Jakarta. Kota yang selama lima belas tahun terakhir dia usahakan untuk dihindari.

Bukan karena kotanya yang buruk. Tapi karena kota ini menyimpan terlalu banyak ingatan. Tawa, air mata, dan sebuah nama yang mengunci hatinya rapat-rapat: Arthur Fernando.

"Hel, kamu yakin nggak mau ikut turun ke lobby dulu? Minum kopi dulu sebelum meeting?" suara Dinda, sahabat sekaligus rekan kerjanya, memecah lamunan.

Helena menoleh, tersenyum tipis. "Nggak usah, Din. Aku mau rapikan dokumen dulu. Kalian duluan aja."

"Oke, jangan telat ya. Bos besar perusahaan calon klien kita katanya tipe orang yang sangat disiplin waktu," sahut Rangga, manajer keuangan timnya.

Helena mengangguk. Dia dan tiga temannya—Dinda, Rangga, dan Andi—sedang berada di Jakarta untuk sebuah negosiasi besar. Perusahaan milik keluarganya di Bandung, yang bergerak di bidang properti, tengah berusaha menjalin kerja sama dengan salah satu pengembang raksasa di ibu kota. Ini adalah kesempatan emas, proyek yang sudah mereka perjuangkan selama enam bulan terakhir.

Helena kembali menatap layar laptopnya, tapi matanya tak benar-benar fokus pada angka-angka di laporan keuangan. Di kepalanya, hanya ada satu kekhawatiran besar.

Jakarta bukan hanya rumah masa lalunya. Jakarta adalah markas besar Fernando Group. Dan Arthur Fernando, mantan suaminya, adalah putra mahkota di perusahaan itu.

"Konspirasi. Musuh. Sialan..." Helena bergumam pelan, mengingat kembali masa lalu. Lima belas tahun lalu, perceraian mereka tidak terjadi begitu saja. Ada tangan-tangan kotor yang sengaja mengadu domba, memfitnahnya agar keluarga Fernando mengusirnya. Saat itu Helena hanyalah gadis biasa, tidak punya daya untuk melawan keluarga konglomerat tersebut. Dia memilih pergi, membawa luka dan rahasia yang sangat dalam.

Rahasia yang bahkan Arthur sendiri tidak tahu. Dan rahasia itulah yang paling dia takuti jika suatu hari nanti terungkap.

Pukul 10.00 pagi, tim Helena memasuki ruang meeting di lantai 27 gedung pencakar langit di kawasan SCBD. Ruangan itu luas, berbalut kayu jati dan kaca, memancarkan aura kemewahan yang mencekik. Helena mengenakan blazer krem yang dipadu dengan rok pensil hitam. Riasannya tipis tapi tegas. Profesionalisme adalah tameng terbaiknya hari ini.

Di ujung ruangan, kursi utama masih kosong. Tapi di sepanjang meja, sudah duduk beberapa eksekutif muda dari pihak lawan. Helana dan timnya duduk di sisi berseberangan. Andi dan Rangga mulai mengeluarkan proposal-proposal, sementara Dinda menyiapkan slide presentasi.

"Mohon tunggu sebentar, Pak Dirut akan segera datang," ujar sekretaris yang mengantar mereka masuk.

Helena mengangguk. Jari-jarinya sedikit gemetar di bawah meja, tapi dia berusaha keras memasang wajah tenang. Dia menyibukkan diri membuka buku catatan, menyusun poin-poin negosiasi.

Pintu ruangan terbuka.

Bunyi sepatu kulit pria menghantam lantai marmer dengan langkah kaki yang tegap. Helena mengangkat wajahnya, siap menyambut calon kliennya dengan senyuman paling ramah.

Senyuman itu langsung membeku di wajahnya.

Sosok yang melangkah masuk adalah pria dengan tinggi di atas rata-rata, jas hitam rapi yang membalut bahu lebar, dan rahang tegas yang belum berubah sedikit pun. Rambut hitamnya disisihkan rapi ke samping, masih menyisakan beberapa helai uban di pelipis yang membuatnya tampak semakin dewasa dan berwibawa. Matanya yang tajam—sepasang mata hitam pekat yang dulu sering menatapnya dengan penuh cinta—sekarang menatap lurus ke arahnya.

Arthur Fernando.

Dunia Helena serasa berhenti. Suara bising AC ruangan seolah lenyap. Yang dia dengar hanya degup jantungnya sendiri yang berdebar kencang, membentur tulang rusuknya seolah ingin keluar.

Arthur berhenti tepat di kursi kepalanya. Matanya menatap Helena, sesaat. Lalu dia tersenyum. Sebuah senyuman tipis yang sangat sulit dibaca. Bisa jadi itu senyuman profesional, atau mungkin senyuman penuh arti yang hanya mereka berdua yang paham.

"Selamat pagi, semuanya," suara baritonnya memecah keheningan, membuat seluruh ruangan kembali berdenyut. Arthur duduk, membuka map di depannya, dan menatap tim Helena. "Maaf saya terlambat beberapa menit, ada panggilan darurat dari cabang luar negeri."

Helena menelan ludah. Beruntungnya, Dinda menyodok lengannya dari bawah meja, mengingatkannya untuk tidak membeku. Helena mengambil napas panjang, lalu menguatkan hatinya.

"Selamat pagi, Pak Arthur. Saya Helena, mewakili tim dari Griya Lestari Group," ucap Helena, suaranya berhasil terdengar datar dan profesional, seolah dia baru pertama kali bertemu dengan pria di depannya. "Terima kasih atas waktu dan kesempatannya."

Arthur mengangguk, matanya masih tertuju padanya sejenak sebelum beralih ke layar proyektor. "Baik, silakan langsung masuk ke inti presentasi. Kami sudah membaca sekilas proposal tim Anda, cukup menarik. Saya ingin mendengar konsep green living yang Anda tawarkan."

Ruang meeting pun bergulir. Helena dan timnya memaparkan rencana pengembangan kawasan hunian ramah lingkungan. Helena berbicara lantang, menguasai data, dan sesekali memberi kode pada Andi untuk mengganti slide. Dia menjaga gestur tubuhnya tetap terbuka dan penuh percaya diri.

Namun, di setiap selanya, Helena bisa merasakan tatapan Arthur membidiknya. Bukan tatapan sinis, tapi tatapan seorang pria yang sedang mengamati dengan sangat, sangat serius.

Di sesi tanya jawab, Arthur beberapa kali melontarkan pertanyaan tajam. Helana menjawabnya dengan cerdas dan cepat, membuat Rangga di sebelahnya mengacungkan jempol kecil tanpa sepengetahuan Arthur.

Setelah satu setengah jam, pertemuan selesai. Pihak Arthur terlihat cukup puas. "Tim yang sangat kompeten, Ibu Helena. Kami akan mengkaji ulang angkanya dalam satu minggu ke depan," kata Arthur mengakhiri meeting.

Tim Helena mengemas barang, saling berjabat tangan dengan tim lawan. Helena pun berjabat tangan dengan beberapa staf eksekutif. Nafasnya lega—dia berhasil melewati badai pertama.

Sampai Arthur berjalan mendekatinya.

"Helena."

Hanya namanya. Dipanggil tanpa gelar, tanpa embel-embel Ibu, tanpa formalitas. Suara itu membuat bulu kuduknya merinding. Dia menengadah, menatap Arthur yang sudah berada tepat di depannya. Jarak mereka tidak lebih dari setengah meter.

"Saya pikir kita sudah selesai untuk hari ini, Pak Arthur," kata Helena, mencoba menjaga jarak dengan menjaga formalitas.

Arthur tidak peduli. Dia menunduk, nada suaranya rendah dan hanya terdengar oleh Helena. "Kamu masih secantik dulu, Hel. Cuma tatapan matamu yang sekarang jauh lebih tajam."

Helena mengepalkan tangannya di balik blazer. Dia menolak untuk terpengaruh. "Kita sama-sama sudah dewasa, Pak Arthur. Luka lama lebih baik dibiarkan mengering. Saya di sini hanya untuk pekerjaan."

"Pekerjaan?" Arthur tertawa kecil, dan tawa itu terasa menggelitik saraf Helena. "Baik. Untuk urusan pekerjaan, saya akui timmu hebat." Dia berhenti, matanya seolah menelanjangi Helena. "Tapi untuk urusan pribadi? Tunggu saja."

Helena membelalak. Sebelum dia sempat membalas, Arthur sudah melenggang pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan aroma parfum mahal yang masih menguar di sekeliling Helena.

Helena akhirnya menghembuskan napas panjang saat pintu meeting tertutup. Dinda langsung menarik lengannya.

"Hel, ngomong-ngomong, pak Direktur itu... kenapa tatapannya kayak mau mencabut nyawa lo? Dan kenapa dia manggil lo 'Hel'?" bisik Dinda, matanya berbinar-binar penuh tanda tanya.

Helena tersenyum pahit. Dia menatap bayangannya sendiri di permukaan meja kaca yang mengkilap.

Kekhawatirannya yang paling besar kini mulai menjadi kenyataan. Arthur tahu dia ada di sini. Dan dari tatapan Arthur tadi, Helena tahu mantan suaminya itu tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja.

Helena mengangkat wajah, berusaha menenangkan diri. "Nggak ada apa-apa, Din. Mungkin dia cuma mode bossy aja."

Tapi dalam hati, Helena berteriak. Dia takut. Bukan hanya karena hati kecilnya yang masih bergetar melihat wajah Arthur, tapi juga karena rahasia yang dia sembunyikan selama lima belas tahun—rahasia tentang alasan sebenarnya dia pergi—kini terancam terbongkar. Dan jika Arthur tahu, cinta lama itu bisa berubah menjadi kebencian yang menghancurkan.

Bab 2: Bayang-Bayang dan Penyelidikan

Suasana restoran di lantai dasar hotel itu terasa hangat, penuh dengan aroma kopi panggang dan hidangan Italia yang menggoda. Helena, Dinda, Rangga, dan Andi sudah memesan meja di pojok dekat jendela besar. Cahaya matahari siang menerpa wajah mereka, tapi Helena rasanya masih belum bisa benar-benar menikmati kehangatan itu.

"Rasanya tadi negosiasinya lancar banget, ya?" Rangga membuka obrolan sambil menyendok sup krim jamurnya. "Aku lihat Pak Arthur itu tipikal orang yang susah ditebak, tapi tadi dia beberapa kali mengangguk. Itu pertanda bagus."

Andi mengangguk setuju. "Iya, bagian green concept kita sangat mereka apresiasi. Aku yakin kita bisa dapat deal ini."

Dinda memotong steak-nya dengan penuh semangat, tapi sesaat kemudian dia menatap Helena dengan tatapan menyelidik. "Eh, tapi balik lagi soal Pak Arthur itu. Dari tadi kamu diem aja, Hel. Kamu yakin nggak kenal dia? Karena gue lihat tatapan dia ke lo itu... aneh. Bukan tatapan klien ke rekan bisnis biasa."

Helena menyesap minuman jeruknya pelan. Dia tahu pertanyaan ini pasti akan muncul. Teman-temannya memang jeli. "Aku... nggak pernah bilang nggak kenal," jawabnya pelan. "Dia mantan suamiku."

Keheningan langsung menyelimuti meja makan. Dinda tercekat, hampir tersedak. Rangga meletakkan sendoknya dengan pelan, sementara Andi membelalakkan mata.

"Apa?!" Dinda berbisik, nyaris berteriak tapi tertahan oleh kesopanan restoran. "Mantan suami? Hel, kamu dulu pernah menikah sama raja properti itu? Kenapa nggak pernah cerita?!"

Helena menghela napas panjang, matanya menatap tumpukan pasta di depannya tanpa berselera. "Karena itu cerita yang sangat rumit, Din. Lima belas tahun lalu, kami menikah. Tapi perceraiannya terjadi dalam waktu kurang dari setahun. Banyak hal yang terjadi, salah paham, dan... aku memilih pergi dan menghilang."

"Tapi di mata dia tadi, Hel... dia masih kayak nggak rela gitu loh," Rangga menambahkan hati-hati. "Aku nggak mau menakut-nakuti, tapi tatapan dia ke kamu tadi tajam banget. Kayak ada urusan yang belum selesai."

Helena mengigit bibir bawahnya. Ketakutan yang dia rasakan di ruang meeting tadi kian membesar. "Aku tahu. Makanya aku sedikit khawatir. Aku sudah berusaha keras menghindari Jakarta dan semua yang berhubungan dengan Arthur, tapi pekerjaan ini... ini terlalu besar untuk ditolak."

"Anda yakin kerja sama ini bisa berjalan aman?" Andi bertanya, ragu. "Kalau ada konflik pribadi, bisa-bisa bisnis kita yang jadi korban."

Helena meremas serbet di pangkuannya. "Kita tetap jalankan profesional saja. Aku tidak akan membiarkan masa lalu mengganggu masa depan perusahaan. Kalian tenang aja, aku bisa mengendalikan diri."

Dinda mengulurkan tangan dan meraih jari Helena. "Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ya. Kami ada di sini. Tapi Hel... jangan dipikirin sendiri. Cerita sama kami dong. Emang kenapa sampe pergi? Bukannya kita udah sahabat dari jaman kuliah?"

Helena menggeleng pelan. "Maaf, Din. Belum waktunya aku cerita. Aku nggak mau kalian ikut terbebani dengan rahasia ini. Untuk sekarang, mari kita fokus bersenang-senang dulu sambil makan. Kita berhasil melewati meeting pertama dengan baik, kan?"

Helena memaksakan senyum lebar. Dinda melihat tatapan kawannya itu, tahu bahwa di balik senyuman itu, Helena menyembunyikan badai yang sangat besar. Tapi Dinda memutuskan untuk tidak memaksa. Dia hanya mengangguk dan kembali menyantap makanannya, meski pikirannya tetap dipenuhi tanda tanya.

---

Di sisi lain kota, di dalam ruang kerja eksekutif di lantai 27, Arthur Fernando belum juga bergerak dari kursinya. Dia menatap layar komputernya, tapi matanya kosong. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu mahoni, menciptakan irama yang tak beraturan.

Sejak Helena meninggalkan ruang meeting, seluruh pikirannya hanya tertuju pada satu hal: wanita itu. Lima belas tahun. Lima belas tahun dia mencari, menelusuri jejak Helena, tapi seolah-olah wanita itu menghilang dari muka bumi. Tidak ada rekaman KTP baru, tidak ada riwayat perjalanan, tidak ada jejak di media sosial. Seolah-olah dia sengaja menutupi semua keberadaannya.

Dan sekarang, tiba-tiba dia muncul. Di hadapannya. Membawa proposal bisnis, dengan senyuman profesional yang menyakitkan hati Arthur.

Kenapa kamu menghilang sekian lama, Hel? batin Arthur, perasaannya berkecamuk antara amarah dan kerinduan yang bertahun-tahun tertahan.

Arthur mengangkat gagang telepon di mejanya. Menekan tombol speed dial ke nomor asisten pribadinya. "Aldi, ke ruanganku sekarang."

Tidak sampai tiga menit, Aldi—seorang pria muda berwajah tegas, dengan kacamata hitam tipis, dan selalu mengenakan jas rapi—masuk ke ruangan. Aldi adalah tangan kanan Arthur. Seorang mantan penyidik swasta yang diambil Arthur bekerja beberapa tahun lalu karena kemampuannya menggali informasi.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak Arthur?" tanya Aldi, berdiri tegak di depan meja.

Arthur menatap Aldi dengan tatapan serius. "Aldi, tolong aku. Aku butuh data lengkap tentang seorang wanita. Namanya Helena. Helena Virgina. Mantan istriku."

Aldi sedikit terkejut, dia jarang melihat bosnya meminta data tentang seseorang dengan raut wajah yang begitu kompleks. "Apakah wanita ini ada kaitannya dengan proyek baru dari Bandung, Pak?"

Arthur mengangguk. "Dia baru saja keluar dari ruang meeting ini. Aku ingin tahu semua yang terjadi dalam hidupnya selama lima belas tahun terakhir. Mulai dari tanggal dia meninggalkan Jakarta, sampai dengan detik ini. Tempat tinggal, pekerjaan, apakah dia menikah lagi, apakah dia punya anak, siapa saja orang terdekatnya, dan... yang paling penting, kenapa dia bisa menghilang tanpa jejak selama itu."

Aldi menyimak dengan cermat. "Dimengerti, Pak. Untuk selengkap itu, butuh waktu beberapa hari. Tapi karena saya sudah punya akses ke beberapa database, mungkin saya bisa mendapatkan gambaran besar dalam waktu 24 jam. Apakah Bapak mau saya prioritaskan?"

"Prioritaskan. Berapapun biayanya, tidak masalah." Arthur berdiri, berjalan ke jendela kaca besar, menatap lanskap Jakarta yang luas di bawahnya. "Aku merasa ada yang tidak beres, Aldi. Aku tidak percaya dia hanya pergi begitu saja. Lima belas tahun lalu, ada banyak hal yang tidak masuk akal. Ada yang menutupi keberadaannya. Ada yang sengaja membuat dia pergi. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku tahu semuanya."

Aldi mengangguk, mencatat beberapa hal di tablet-nya. "Saya akan langsung bergerak, Pak. Kemungkinan malam ini, saya akan punya laporan awal. Tapi Pak Arthur..." Aldi menundukkan suaranya. "Apa kau yakin ingin membongkar semua ini? Terkadang masa lalu yang kita gali kembali bisa menyakitkan."

Arthur berbalik, menatap Aldi dengan mata yang penuh tekad. "Sudah lima belas tahun aku hidup dalam sakit, Aldi. Tidak tahu kenapa dia pergi, tidak tahu apakah dia masih hidup, atau apakah dia membenciku. Aku ingin jawaban. Apapun jawabannya, aku siap menerimanya."

Aldi mengangguk hormat. "Baik, Pak. Saya akan berikan hasilnya malam ini juga. Kalau memang ada yang sengaja menutupi jejak Helena selama ini, saya akan temukan celahnya. Titik terang akan segera terlihat."

"Terima kasih, Aldi." Arthur kembali menatap jendela. Di kejauhan, dia membayangkan wajah Helena. Wajah yang masih sama, tapi mata yang menyimpan luka yang tidak pernah dia ketahui.

Helena, aku tidak tahu apa yang terjadi lima belas tahun lalu, tapi aku bersumpah, kali ini aku tidak akan membiarkanmu lari dariku lagi. Jika aku harus membuatmu jadi tawanan dalam hidupku untuk mendapatkan jawaban, aku akan melakukannya.

Arthur mengepalkan tangannya di sisi tubuh, napasnya bergetar. Di dalam ruangan itu, dia memutuskan bahwa masa lalu yang mengantuk tidak akan dibiarkan tertidur lagi. Dia akan membangunkannya, membongkar rahasia itu, dan memenangkan kembali satu-satunya wanita yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati.

Malam nanti, saat Aldi membawa datanya, semua akan dimulai. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

Bab 3: Data di Malam Hari

Malam telah menyelimuti Jakarta. Cahaya lampu-lampu kota berkelap-kelip di balik jendela kaca mansion megah milik Arthur Fernando. Rumah itu luas, bergaya arsitektur klasik Eropa, dengan lorong-lorong panjang dan perabotan antik yang mahal. Namun, di balik kemewahannya, rumah ini terasa sunyi. Sangat sunyi. Sudah lima belas tahun Arthur tinggal di sini sendirian, ditemani hanya oleh para asisten rumah tangga yang bekerja diam-diam di balik pintu.

Arthur masih duduk di ruang kerja pribadinya di lantai dua. Hanya lampu meja yang menyala, menerangi wajah tegasnya yang dipenuhi rasa penasaran yang tak kunjung padam. Di atas mejanya, segelas wiski sudah hampir habis. Matanya menatap layar laptop, menunggu.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki di tangga. Aldi muncul di ambang pintu, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu. Di tangannya, dia membawa sebuah map tebal berwarna cokelat.

"Pak Arthur, saya sudah mendapatkan datanya," ucap Aldi, suaranya datar namun penuh makna. Dia berjalan mendekat dan meletakkan map itu di atas meja kayu ek di hadapan Arthur.

Arthur menegakkan tubuhnya. Dadanya berdegup kencang, tapi dia berusaha terlihat tenang. "Langsung saja, Aldi. Apa yang kamu temukan? Jangan ada yang ditutupi."

Aldi menghela napas sejenak, lalu membuka map tersebut. Dia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan foto. "Pertama, tentang keberadaannya. Selama lima belas tahun terakhir, Helena Virgina tidak pernah menggunakan identitas aslinya secara mencolok. Dia benar-benar tahu cara menghilang. Tidak ada jejak di media sosial, tidak ada akun bank atas namanya di Jakarta, dan semua tagihan listrik, telepon, serta kendaraan atas nama perusahaan tempat dia bekerja."

Arthur menyipitkan mata, tangannya meraih foto-foto yang ada di atas meja. Foto-foto itu menunjukkan Helena di berbagai tempat. Ada foto dirinya sedang berjalan di trotoar Surabaya dengan mengenakan blus putih, ada foto dirinya sedang berada di sebuah kafe sederhana, dan ada foto saat dia sedang tersenyum bersama beberapa orang di sebuah kantor.

"Tapi saya berhasil melacak alamat domisilinya," lanjut Aldi. "Selama lima belas tahun ini, Helena tinggal di Surabaya. Dia tidak pernah pindah ke kota lain. Dia menetap di sebuah kompleks perumahan menengah di daerah Gubeng, Surabaya. Rumahnya terbilang sederhana, bukan apartemen mewah seperti yang biasa dia tinggali saat masih menjadi istri Anda."

Arthur memandangi foto rumah yang diperlihatkan Aldi. Sebuah rumah dua lantai dengan pagar besi rendah, cat temboknya sudah agak pudar, tetapi halamannya terlihat rapi dengan beberapa pot bunga. Jauh dari kemewahan mansion tempat Arthur tinggal sekarang.

"Lalu pekerjaannya?" tanya Arthur, suaranya bergetar halus.

"Dia bekerja di sebuah perusahaan konstruksi skala menengah bernama Jaya Bangun Persada. Posisinya sebagai kepala bagian keuangan dan administrasi. Gajinya cukup untuk hidup layak, tidak lebih. Selama lima belas tahun, dia tidak pernah berganti pekerjaan. Dia benar-benar membangun hidupnya dari nol, Pak. Seolah-olah dia sengaja memilih hidup yang jauh dari sorotan."

Arthur menelan ludah. Perasaannya campur aduk. Ada rasa sakit, marah, tapi juga kagum. Helena yang dulu dia kenal adalah wanita yang gemar berpesta, suka memakai perhiasan mahal, dan selalu menjadi pusat perhatian. Kini, wanita itu memilih hidup tenang di Surabaya, bekerja di kantor yang biasa-biasa saja, tanpa riwayat hidup yang mencolok.

"Apakah dia menikah lagi, Aldi?" tanya Arthur, suaranya terdengar lebih rendah, seolah dia takut mendengar jawabannya.

Aldi menggeleng. "Tidak, Pak. Selama lima belas tahun, statusnya tetap lajang. Tidak ada catatan pernikahan, tidak ada catatan perceraian kedua, dan tidak ada nama pria lain yang tercatat dalam dokumen kependudukannya. Dia hidup sendirian. Tapi..." Aldi menjeda, ragu.

"Tapi apa?" desak Arthur.

"Saya menemukan satu hal yang janggal, Pak. Data yang saya gali menunjukkan bahwa ada pihak lain yang sengaja menghapus jejak Helena selama bertahun-tahun. Ada anomali di sistem kependudukan. Sepertinya ada seseorang dengan akses tinggi yang dengan sengaja menutupi keberadaannya, membuatnya seperti 'hilang' dari radar publik. Saya baru bisa melacaknya karena saya menggunakan jalur khusus."

Arthur berhenti sejenak, kepalanya berdenyut. "Ada pihak lain? Kamu yakin? Siapa?"

"Saya belum bisa memastikan identitasnya, Pak. Tapi polanya sangat terstruktur. Seolah-olah ada 'tangan bayangan' yang melindungi Helena dari pencarian. Mungkin keluarganya? Atau mungkin..." Aldi menatap Arthur. "...orang dari masa lalu Anda yang tidak ingin Helena ditemukan."

Arthur mengepalkan tangannya. Dulu, saat perceraian mereka terjadi, banyak pihak yang mengatakan hal buruk tentang Helena. Keluarganya sendiri, orang tua Arthur, bahkan beberapa sahabat dekat Arthur saat itu. Mereka mengatakan Helena adalah wanita mata duitan yang menikahi Arthur demi harta, lalu kabur saat semua uang sudah dia dapatkan. Tapi Arthur tidak pernah percaya sepenuhnya. Karena dia mengenal Helena. Wanita itu tidak pernah meminta uang sepeser pun dari dia.

"Ada yang sengaja menutupi jejaknya?" Arthur bergumam, matanya menyala. "Kemungkinan besar, itu adalah orang yang juga membuat Helena pergi. Dan yang paling aku sesali selama lima belas tahun ini adalah aku tidak pernah bertanya langsung padanya. Aku hanya percaya pada kata-kata orang lain."

Aldi memandang bosnya dengan tatapan simpati. "Pak, data ini baru permulaan. Saya bisa menggali lebih dalam. Siapa saja yang berinteraksi dengan Helena, riwayat keuangan, dan jejak komunikasi. Tapi maaf, untuk saat ini, informasi yang saya dapatkan sebatas ini."

Arthur mengambil salah satu foto Helena yang paling jelas—foto dia di depan kantornya, sedang tersenyum tipis. Arthur mengusap wajah Helena di foto itu dengan ujung jarinya, dadanya terasa sesak.

"Cukup, Aldi. Ini sudah lebih dari cukup. Kamu sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa." Arthur menatap Aldi, lalu meletakkan foto itu di atas meja. "Untuk langkah selanjutnya, aku ingin kamu tetap diam. Jangan bilang siapa pun tentang data ini. Aku sendiri yang akan menghadapi Helena."

Aldi mengangguk. "Apakah Anda ingin saya menyiapkan transportasi ke Surabaya, Pak?"

Arthur tersenyum kecil, senyuman yang menyimpan tekad. "Siapkan pesawat pribadiku. Besok pagi, aku akan terbang ke Surabaya. Bukan untuk urusan bisnis, Aldi. Ini urusan hidup dan mati."

Aldi sedikit terkejut, tapi dia mengangguk. "Baik, Pak. Semua akan saya siapkan."

Aldi pamit pergi, meninggalkan Arthur sendiri di dalam ruangan yang semakin sunyi. Arthur kembali menatap foto di depannya. Ditemani gelas wiski yang sudah kosong, dia mengingat kembali momen-momen di mana Helena tersenyum, tertawa, dan memeluknya.

"Helena, kamu pikir kamu bisa lari dari aku selamanya?" bisik Arthur pelan, angin malam yang masuk dari celah jendela membawanya pada kegelapan. "Kamu salah besar. Dulu, aku terlalu bodoh dan lemah. Aku terlalu cepat mempercayai fitnah. Tapi sekarang, aku sudah tahu siapa musuhku. Dan aku akan mencari jawabannya. Di mana pun kamu sembunyi, aku akan menemukanmu."

Matanya menatap foto itu untuk terakhir kalinya sebelum dia memasukkannya ke dalam saku jasnya. Besok, Surabaya.

Besok, dia tidak hanya akan bertemu dengan calon klien bisnis. Besok, Arthur akan bertemu dengan mantan istrinya. Dan dia tidak akan pulang sebelum semua rahasia tentang kepergian Helena terungkap.

Malam itu, Arthur tidak bisa tidur. Di mansion besar itu, hanya ada suara detak jam dinding yang mengiringi langkah kakinya yang mondar-mandir di lantai marmer. Hatinya berdegup kencang, siap menantang badai di masa depan. Tidak peduli seberapa besar rahasia yang Helena simpan, Arthur bersumpah, dia akan membongkarnya satu per satu.

Dan kali ini, dia tidak akan membiarkan Helena pergi lagi. Bahkan jika harus menjadikannya tawanan dalam lingkaran cintanya yang belum pernah padam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!