Suara gemericik air hujan yang menetes dari bocoran atap seng menjadi satu-satunya irama yang menemani malam-malam Kyra. Di balik bilik bambu yang lembap dan berbau tanah basah, gadis itu meringkuk di sudut kamar sempitnya.
Tangan Kyra yang kasar memeluk erat kedua lutut, menahan gigilan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tidak ada selimut tebal atau tempat tidur empuk di tempat ini, hanya ada selembar tikar pandan tua yang sudah robek di sana-sini.
Sejak mata indahnya pertama kali terbuka menatap dunia, dunia tidak pernah menyambut Kyra dengan kehangatan. Kampung tempat ia dibesarkan terletak jauh di pedalaman, terisolasi dari peradaban kota yang riuh. Di rumah panggung sederhana milik Paman Dion dan Bibi Lista inilah Kyra menghabiskan seluruh ingatannya tentang kehidupan.
Bagi anak-anak lain di desa, masa kecil adalah tentang berlarian di pematang sawah, tertawa bersama teman sebaya dan pulang ke rumah untuk menyantap masakan hangat seorang Ibu. Namun bagi Kyra, masa kecilnya adalah lembaran trauma yang tak bertepi, sejak kecil, tugas-tugas berat sudah dibebankan ke pundaknya, seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci bahkan bekerja.
"Kyra! Bangun, anak malas!" teriakan lengking Bibi Lista memecah kesunyian subuh yang masih pekat.
Belum sempat Kyra mengumpulkan kesadarannya, pintu kamar terbuka dengan keras. Bibi Lista berdiri di ambang pintu dengan wajah berkerut penuh amarah, menggenggam sebilah sapu lidi dan tanpa ragu, ujung sapu itu mendarat di betis Kyra yang kurus dan meninggalkan rasa panas yang menyengat.
"Ambil air di sumur! Kayu bakar di dapur sudah habis! Kalau sebelum matahari terbit pekerjaanmu belum selesai, tidak usah bermimpi bisa menyentuh makanan hari ini!" bentak wanita itu tanpa belas kasihan.
Kyra meringis, menahan rasa perih yang teramat sangat. Dengan tubuh gemetar, ia segera bangkit dan mengangguk pelan. "Iya, Bi...," jawabnya lirih, hampir tak terdengar.
Kyra melangkah keluar menuju belakang rumah dengan ember seng yang berat, udara pagi yang menusuk kulit tak dihiraukannya. Menimba air dari sumur tua setinggi puluhan meter bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang anak perempuan, namun ketakutan akan hukuman jauh lebih memotivasi fisiknya yang rapuh untuk terus bergerak.
Setiap kali Kyra bertanya dalam hati mengapa perlakuan yang diterimanya begitu berbeda dengan orang lain, ia selalu teringat pada satu alasan yang kerap diucapkan Paman Dion dan Bibi Lista. Orang tua Kyra sangat sibuk bekerja di kota besar, mereka menyerahkan Kyra kepada pasangan suami istri tersebut, yang tak lain adalah orang kepercayaan keluarga agar Kyra bisa tumbuh dengan baik.
Namun, harapan polos seorang anak selalu dipatahkan oleh kenyataan. Bertahun-tahun berlalu, tak pernah sekalipun orang tua kandungnya datang berkunjung. Tidak ada kabar, tidak ada surat, bahkan sekadar foto wajah ayah dan ibunya pun Kyra tidak pernah tahu. Yang ia tahu hanyalah bayangan samar bahwa mereka adalah orang terpandang, berpendidikan dan bergelimang harta di luar sana.
Setiap kali malam tiba dan siksaan fisik maupun verbal reda sejenak, Kyra sering menatap langit-langit kamarnya yang kelam. Di dalam benaknya, ia terus bertanya dengan nada keputusasaan yang membendung rasa sakit yaitu tentang siapa Ayah dan Ibunya, lalu alasan mereka membiarkan Kyra hidup di tempat bak neraka dan tidak pernah datang untuk melihat Kyra.
Seiring berjalannya waktu, dan bertambahnya usia Kyra tidak membawa perubahan nasib bagi gadis itu. Dimana, beban hidupnya justru bertambah berkali-kali lipat, Paman Dion yang merupakan kepala rumah tangga seharusnya menjadi penopang keluarga, tetapi ia justru mengundurkan diri dari segala bentuk tanggung jawab.
Paman Dion adalah seorang pengangguran yang menghabiskan waktunya di lapak judi tepi desa, tabiat buruknya membuat perekonomian keluarga hancur berantakan. Jika uang simpanan habis, Paman Dion tidak ragu untuk melampiaskan kekesalannya pada Kyra.
"Mana uang hasil jualanmu hari ini?" bentak Paman Dion pada suatu sore, pria itu berdiri di depan pintu dapur dengan mata merah dan bau alkohol yang menyengat.
Kyra yang baru saja pulang dari pasar desa menyerahkan beberapa lembar uang yang sudah kusam dengan tangan gemetar, "Cuma dapat segini, Paman. Hari ini dagangan sayur sedang sepi," jawabnya.
Paman Dion menyambar uang itu, menghitungnya sejenak, lalu mendengus kasar. "Hanya segini? Kamu mau membuat Paman mati kelaparan, Hah!" Tanpa peringatan, satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Kyra, membuatnya tersungkur menghantam meja kayu.
Bibi Lista yang menyaksikan kejadian itu dari ambang pintu sama sekali tidak melerai, ia justru bersedekah kata-kata makian dan menyalahkan Kyra yang dianggap kurang gigih mencari uang untuk menopang kebutuhan dapur mereka. Bagi kedua orang tua angkatnya itu, Kyra tidak lebih dari pekerja paksa yang membiayai hidup mereka.
Penyiksaan yang datang bertubi-tubi dari hari ke hari perlahan menghancurkan kesehatan mental Kyra. Bekas luka memar di kulitnya mungkin bisa sembuh dalam hitungan minggu, tetapi rasa sakit di jiwanya mengendap menjadi trauma yang teramat dalam.
Pernah di suatu malam yang pekat, saat dingin kembali merasuk ke dalam tulang dan rasa sakit akibat pukulan Paman Dion belum reda, Kyra berjalan pelan menuju sungai di batas desa. Langkah kakinya berat, dipenuhi kehampaan yang tak bertepi.
Kyra berdiri di tepi jurang dangkal yang mengalirkan air sungai deras di bawahnya. Kyra memejamkan mata, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang kusam.
"Jika aku melompat, apakah rasa sakit ini akan berakhir?" gumam Kyra.
Keinginan untuk mengakhiri hidup bukan lagi sekadar terlintas, melainkan menjadi bayangan hangat yang terus menggoda benaknya setiap kali rasa putus asa memuncak.
Namun, ketakutan akan ketidakpastian dan sepercik harapan kecil bahwa suatu hari nanti ia bisa bertemu dengan orang tua kandungnya membuat jemari Kyra kembali mencengkeram rumput liar di tepi sungai. Ia mengurungkan niatnya, kembali melangkah pulang ke rumah panggung yang menyerupai neraka itu dengan air mata yang mengering di pipi.
Saat usia Kyra genap 18 tahun, sebuah kebenaran pahit terungkap dan meremukkan sisa-sisa harapan yang selama ini ia genggam. Pagi itu, sebuah piring pecah di dapur karena ketidaksengajaan Kyra yang kelelahan setelah bekerja semalaman.
Bibi Lista murka besar, wanita itu mendekati Kyra dan menjambak rambut panjangnya yang kusam hingga kepala Kyra terdongak ke atas.
"Dasar anak pembawa sial! Tidak ada satupun pekerjaan yang bisa kamu lakukan dengan benar!" jerit Bibi Lista meluapkan amarahnya.
"Maaf, Bibi... Aku tidak sengaja...," tangis Kyra memohon ampunan.
"Maaf? Kamu pikir maafmu bisa mengganti piring ini? Dari dulu sampai sekarang kamu memang hanya membuat sial!" Bibi Lista mendengus penuh kebencian, lalu melepaskan jambakannya dengan kasar hingga Kyra terjerembap.
"Kamu mau tahu kenapa orang tuamu tidak pernah datang ke tempat ini?" lanjut Bibi Lista dengan senyum sinis yang menggidikkan.
"Mereka tidak sibuk! Mereka membuangmu karena kau itu pembawa sial!" bentak Bibi Lista.
.
.
.
Bersambung.....
Perkataan Bibi Lista bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di dada Kyra. Gadis itu mendongak, menatap Bibi Lista dengan mata membelalak penuh ketakutan sekaligus penasaran.
"Apa maksud Bibi...?" tanya Kyra.
Bibi Lista bersedekap, menatap Kyra dengan pandangan hina. "Asal kamu tahu, waktu kamu lahir ke dunia ini, keluarga ibumu langsung kena musibah besar! Rumah mereka terbakar habis sampai menewaskan seluruh keluarga besar ibumu! Tidak cuma itu, Kakek dari Ayahmu juga mengalami kecelakaan tragis sampai merenggut nyawanya, sampai Nenekmu terpuruk dan sakit!"
Bibi Lista maju satu langkah, menunjuk wajah Kyra yang sudah pucat pasi. "Orang tuamu sudah meminta orang pintar untuk meramal dan kau tahu apa yang mereka dapatkan? Orang pintar itu bilang kalau kau itu pembawa sial! Itu alasannya orang tuamu menyerahkanmu ke kami. Mereka tidak mau ketiban sial gara-gara memelihara anak seperti kamu! Kamu itu dibuang, Kyra! Dibuang!" bentaknya.
"Aku dan suamiku terpaksa menerimamu karena saat bekerja, aku dan suamiku ketahuan mencuri di rumah keluargamu. Daripada aku dan suamiku di penjara, mereka menyuruhku untuk merawatmu," lanjut Bibi Lista.
Dunia Kyra seolah runtuh seketika, selama 18 tahun ia bertahan hidup dengan keyakinan bahwa orang tuanya terpaksa meninggalkannya karena pekerjaan. Namun kenyataannya, ia ditumbalkan dan dibuang seperti sampah hanya karena sebuah ramalan dan deretan musibah yang dikaitkan dengan kelahirannya.
Kebenaran itu memicu guncangan jiwa yang amat dahsyat bagi Kyra, hari-hari berikutnya dihabiskan Kyra dalam kebisingan pikirannya sendiri. Kyra ingin marah, ia ingin berteriak meluapkan rasa ketidakadilan yang menimpanya, namun ia tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa.
Kyra tidak pernah melihat wajah Ayah dan Ibunya. Ia tidak tahu di kota mana mereka tinggal atau bagaimana rupa kehidupan bergelimang harta yang mereka nikmati sementara dirinya membusuk di desa terpencil. Kebencian yang mendalam mulai tumbuh dan mengakar kuat di dalam dada Kyra, menggantikan sisa-sisa rasa kasih sayang yang dulu sempat ia harapkan dari orang tua kandungnya.
Meski begitu, penderitaan fisiknya tidak berhenti. Paman Dion semakin menjadi-jadi dalam kebiasaan berjudi, harta benda di rumah panggung itu habis terjual satu per satu dan Kyra terus dipaksa bekerja lebih keras memeras keringat demi memberi makan dua orang yang telah menyiksanya selama puluhan tahun.
.
Sepuluh tahun berlalu sejak rahasia kelam itu terungkap, kini usia Kyra telah mencapai 28 tahun. Waktu telah membentuknya menjadi begitu lemah dan kurus akibat kurang gizi dan siksaan yang tak pernah berhenti, namun keinginannya untuk hidup semakin kuat.
Malam ini, hujan deras mengguyur desa dengan lebatnya. Suara gemuruh petir menyambar-nyambar di langit, diiringi angin kencang yang menggoyangkan dinding rumah panggung tempat mereka tinggal. Di dalam rumah sederhana yang remang-remang, Paman Dion, Bibi Lista dan Kyra tengah menyantap makan malam sederhana mereka.
Kyra duduk menyendiri di pojokan ruangan, menikmati bagian nasi keringnya dengan tenang. Tiba-tiba, Paman Dion membanting piring kalengnya ke atas meja kayu, menciptakan suara nyaring yang mengejutkan.
"Mana uangmu? Kasih aku uang! Aku butuh modal untuk main malam ini!" tuntut Paman Dion seraya menatap Bibi Lista dengan tatapan gila.
Bibi Lista membelalakkan mata, "Uang dari mana? Aku nggak ada uang lagi! Semua uang hasil jualan Kyra sudah habis kau pakai main judi kemarin!" sahutnya.
Karena tidak mendapat uang, amarah Paman Dion pun meledak. Dengan wajah merah padam akibat pengaruh alkohol, pria itu berdiri dan menyambar kerah baju Bibi Lista.
"Jangan bohong kau, wanita tua! Pasti kau menyimpan uang di balik bajumu, kan!" teriak Paman Dion.
"Tidak ada, Pak! Lepasin aku!" jerit Bibi Lista berusaha memberontak.
Paman Dion mendorong tubuh Bibi Lista dengan kasar hingga wanita tua itu jatuh tersungkur ke lantai kayu. Tidak berhenti di situ, Paman Dion menendang kursi di dekatnya sambil memaki.
"Wanita tidak berguna! Sudah tua, keriput, tidak ada harganya lagi! Kalau kamu masih muda, sudah jual kau!" bentak Paman Dion.
Bibi Lista mengaduh kesakitan memegang pinggangnya, rasa sakit dan hinaan dari suaminya membakar amarah wanita itu. Matanya yang penuh amarah tiba-tiba bergulir ke sudut ruangan, menatap Kyra yang gemetar dengan lutut tertekuk dan senyum jahat terbit di bibir Bibi Lista yang pucat. Dengan gerakan cepat, Bibi Lista bangkit dan menyambar lengan Kyra, lalu menyeret gadis itu ke hadapan suaminya.
"Jual dia! Jual anak pembawa sial ini! Dia masih muda, wajahnya tidak jelek! Dia bisa menghasilkan banyak uang untukmu!" jerit Bibi Lista histeris.
"Tidak! Bibi, tolong! Jangan!" Kyra berteriak, matanya membelalak ketakutan.
Kyra berusaha melepaskan cengkeraman Bibi Lista, namun tarikan kasar dari Paman Dion langsung mengunci kedua tangannya.
Paman Dion tersenyum puas, matanya yang merah menatap Kyra bagai serigala melihat mangsa. "Benar juga, kenapa dari dulu aku tidak berpikiran begini? Anak ini pasti laku keras kalai dijual!" sahutnya.
Paman Dion menyeret Kyra keluar dari rumah, mengabaikan teriakan dan jeritan histeris gadis itu. Hujan deras langsung membasahi tubuh Kyra yang tipis, petir menyambar membelah kegelapan malam, teriakan Kyra tertelan gemuruh angin. Di desa terpencil ini, tidak ada yang akan mendengar tangisan dan teriakannya.
Rasa takut yang memuncak berubah menjadi dorongan nekat untuk bertahan hidup. Saat Paman Dion menyeretnya melewati semak-semak, Kyra menyentakkan tubuhnya ke bawah dengan seluruh tenaga yang tersisa, Paman Dion yang tidak siap kehilangan keseimbangan dan terjatuh telentang.
Di tanah lumpur yang licin, jemari Kyra menyentuh sebongkah kayu berujung runcing bekas patok pagar. Tanpa berpikir panjang, dengan napas memburu dan mata terpejam, Kyra menghujamkan kayu tersebut tepat ke dada Paman Dion.
Jleb!
Paman Dion mengerang keras, matanya melotot menatap dadanya yang tertancap kayu, dar*h segar merembes bercampur air hujan, Bibi Lista yang berlari keluar rumah menjerit melihat suaminya.
"Pak!" teriak Bibi Lista hendak menerjang Kyra, namun sebuah batu mendadak melayang dari kegelapan dan menghantam pelipis Bibi Lista dengan telak.
Brak!
Benturan batu besar itu membuat Bibi Lista menjerit pendek sebelum akhirnya tubuh keriputnya ambruk ke tanah lumpur, tidak sadarkan diri dengan dar*h mengalir deras dari pelipisnya.
Kyra terduduk gemetar di atas lumpur, napasnya memburu. Kayu berdarah masih tergenggam di tangannya, ia menatap Bibi Lista yang tergeletak tak bergerak, lalu perlahan menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok yang telah melemparkan batu tersebut.
Dari balik kegelapan lorong pepohonan, seorang perempuan berjalan mendekat dengan tenang. Hujan deras basah kuyup menyirami pakaian mewahnya yang kontras dengan lingkungan desa tersebut, wanita itu menatap Kyra dengan tatapan dingin dan sulit diartikan.
.
.
.
Bersambung.....
Gadis yang berdiri di hadapan Kyra mengenakan mantel hitam tebal, wajahnya tegas dengan tatapan mata yang tajam namun penuh misteri. Air hujan mengalir di celah-celah garis wajahnya, tidak melunturkan ketenangan luar biasa yang ia pancarkan.
"Si... siapa kamu?" bisik Kyra dengan suara tercekat di tenggorokan, kedua tangannya yang berlumuran darah dan lumpur gemetar hebat.
"Yolla," jawab perempuan bernama Yolla itu singkat.
Yolla tidak menunggu reaksi Kyra lebih lanjut. Dengan langkah tenang namun pasti, ia melangkah mendekati Paman Dion yang masih mengerang kesakitan di atas tanah lumpur dan menahan kayu yang menancap di dadanya, Yolla merogoh balik mantelnya dan menarik sebilah pisau berburu berpendar perak.
Jleb!
Tanpa ragu sedikit pun, Yolla menghujamkan pisau itu tepat ke leher Paman Dion. Suara erangan pria itu mendadak terputus, matanya mendelik lalu perlahan meredup. Tak berhenti di situ, Yolla berbalik menuju Bibi Lista yang tergeletak pingsan, lalu melakukan hal yang sama pada leher wanita tua itu.
"TIDAK! Apa yang kau lakukan?" jerit Kyra histeris, ia menutupi mulutnya dan berusaha mundur dengan merangkak di atas tanah licin.
Yolla mengusap sisa darah pada bilah pisaunya dengan kain pelapis mantel, lalu menatap Kyra. "Aku hanya merapikan pekerjaanmu. Lagipula, aku paling benci melihat pria yang kasar pada wanita," jawabnya santai.
"Kamu... kamu membunuh mereka! Aku tidak pernah berniat membunuh mereka! Aku hanya ingin kabur!" tangis Kyra memecah gemuruh hujan.
Yolla berlutut di tumpukan lumpur dan mensejajarkan posisinya dengan Kyra, tangannya yang dingin menyentuh pipi Kyra yang pucat.
"Dengar. Kalau mereka hidup, kau yang akan mati dan aku hanya membantumu agar kau tidak mati," balas Yolla.
"Tapi polisi akan menangkapku! Aku yang menancapkan kayu itu lebih dulu!" Kyra panik luar biasa.
"Tenanglah, kau harus bersandiwara. Katakan pada polisi ada pria asing tak dikenal yang mendobrak rumahmu, lalu menyerangmu sampai kau terluka. Mengerti?" bisik Yolla pelan namun penuh penekanan.
"Bagaimana bisa? Aku baik-baik saja," tanya Kyra.
Yolla menatap pisau di tangannya, lalu menatap perut Kyra. "Maka dari itu, kita harus membuatnya masuk akal," ucapnya.
Sebelum Kyra sempat memproses kata-kata Yolla, sebuah rasa sakit yang membakar tiba-tiba menghujam bagian samping perutnya. Yolla telah menusukkan pisaunya ke tubuh Kyra, cukup dalam untuk mengucurkan dar*h, namun menghindari organ vital.
"Aaargh!" Kyra menjerit memegangi perutnya, dar*h merah menyembur membasahi bajunya yang lusuh.
"Bertahanlah, aku sudah menelpon polisi dan ambulan dari ponselku sebelum mendekat kemari, aku akan menunggumu di rumah sakit," ucap Yolla sambil menepuk bahu Kyra pelan.
Yolla bangkit dan menghilang di telan kegelapan malam serta lebatnya hujan hutan desa. Kyra terkapar di tanah, pandangannya perlahan kabur seiring rasa dingin dan sakit yang menggerogoti kesadarannya.
Suara sirine meraung-raung di tengah pekatnya malam yang diguyur hujan deras. Cahaya lampu merah dan biru memantul di genangan air lumpur, menerangi tubuh Paman Dion dan Bibi Lista yang sudah tak bernyawa serta Kyra yang terkulai lemas di tanah.
Para petugas medis bergerak cepat, tubuh Kyra yang dingin dan bersimbah darah diangkat ke atas tandu dengan sangat hati-hati. "Detak nadinya melemah! Cepat siapkan tabung oksigen dan balut luka tusuk di perutnya!" teriak salah satu petugas medis kepada rekannya di dalam mobil ambulans.
Di dalam ambulans yang melaju kencang membelah jalanan desa yang berlubang, pandangan Kyra samar-samar. Rasa sakit yang luar biasa melilit perutnya, namun hawa dingin di hatinya terasa jauh lebih menyiksa dan kesadarannya pun perlahan menghilang seiring suara detak mesin pemantau jantung yang melemah di telinganya.
Beberapa jam kemudian, Kyra tersentak bangun. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidungnya, ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang serba putih dengan selang infus menancap di punggung tangannya dan perban tebal melilit erat perut bagian kirinya.
Pintu kamar rawat perlahan terbuka, seorang dokter bersama dua orang polisi berseragam masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya salah satu polisi.
Kyra menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. Mengingat perkataan Yolla di tengah hujan malam itu, Kyra mulai memainkan perannya. Dengan mata berkaca-kaca dan tubuh yang sengaja dibuat gemetar ketakutan, ia menangis lirih.
"Ta-tadi a-da pria tinggi besar masuk ke rumah... Dia memukul Paman dan Bibi... Lalu saat saya mencoba lari, dia menusuk perut saya...," tangis Kyra histeris, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang kurus.
"Apa kau melihat wajahnya?" tanya polisi.
"Ti-tidak... pria itu menggunakan penutup wajah, dia sangat menakutkan dan dia membawa uang tabungan Paman hiks hiks...," jawab Kyra.
Polisi mengangguk-angguk sambil mencatat keterangan Kyra. Bukti luka tusuk di tubuh Kyra, luka parah pada Paman Dion dan Bibi Lista, serta kondisi rumah yang berantakan membuat polisi meyakini bahwa mereka bertiga adalah korban dari tindak kejahatan pencurian.
Setelah Dokter dan petugas polisi melangkah keluar dari ruang rawat, suasana tiba-tiba berubah mencekam. Kyra masih menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan napasnya memburu halus, sementara jarinya mencengkeram sprei rumah sakit yang kaku. Rasa sakit di perutnya masih menjalar, namun penderitaan di dalam dadanya jauh lebih menyiksa.
Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Sosok Yolla melangkah masuk dengan anggun, mengenakan pakaian bersih yang jauh berbeda dari mantel basahnya malam itu, wajahnya tenang tanpa riak emosi sedikit pun saat ia mengunci pintu di belakangnya.
"Akting yang lumayan," ujar Yolla dengan suara rendah seraya berjalan mendekati ranjang Kyra. Ia menarik sebuah kursi besi dan duduk di samping Kyra, menatap wajah kusam gadis itu yang dipenuhi lebam lama dan baru.
Kyra menatap Yolla dengan bauran rasa takut dan bingung, "Kenapa... kenapa kamu menolongku? Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya.
Yolla menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke mata Kyra. "Aku sudah bilang, aku tidak suka melihat wanita disiksa oleh pria bajingan. Hari itu aku ada urusan di desamu dan aku nggak sengaja lihat kejadian di rumahmu. Kau harusnya bersyukur, karena tanpa pisauku dan luka ganti rugi di perutmu itu, polisi akan dengan mudah menjebloskanmu ke penjara atas tuduhan pembunuhan," ucapnya.
"Tapi... tapi tetap saja mereka mati!" bisik Kyra, suaranya gemetar.
"Mereka mati karena perbuatan mereka sendiri! Aku yakin pasti selama ini kau selalu dipukul, luka di tubuhmu cukup banyak dan akan sangat susah hilang. Terus, apa kau mau terus menangisi dua iblis yang hampir menjualmu ke pria hidung belang?" ucap Yolla.
Perkataan Yolla membungkam Kyra. Bayangan siksaan Paman Dion, makian Bibi Lista, serta fakta pahit bahwa dirinya dibuang oleh orang tua kandungnya sendiri kembali berputar hebat di kepala Kyra. Perlahan, jemari Kyra memutih karena mengepal erat dan kebencian yang sempat teredam ketakutan kini kembali membara.
.
.
.
Bersambung.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!