## Bab 1: Notifikasi Aneh Jam 3 Pagi
Doni Setiawan terbangun bukan karena alarm, bukan juga karena azan subuh. Dia terbangun karena kepalanya berdenging, seolah ada notifikasi WhatsApp yang nyasar masuk ke otak.
*Ting.*
"Man, lo denger nggak?"
Doni menoleh ke arah kasur sebelah, tempat Herman teman sekamar kos yang tidurnya kalau udah merem bisa dibom pun nggak bangun mendengkur damai, mulut ternganga, sesekali ngomong ngelantur soal dosen killer di alam mimpinya.
Nggak ada yang denger. Karena suara itu memang cuma ada di kepalanya.
Doni mengucek mata, mikir mungkin dia kebanyakan begadang ngerjain tugas Statistik Ekonomi sampai lupa makan seharian. Tapi begitu dia merem lagi, sesuatu muncul bukan suara, lebih kayak 'teks' yang melayang di balik kelopak matanya, mirip subtitle film bajakan yang suka nongol tiba-tiba di tengah adegan penting.
> **[SISTEM INFORMASI MINGGUAN AKTIF]**
> Info Minggu Ini: Toko thrift "Gudang Rongsok" di Jalan Kenanga, rak paling belakang, ada jaket kulit vintage merek Schott bertuliskan tag "USA" yang salah harga—dijual Rp75.000. Harga pasar aslinya: Rp2.800.000.
Doni langsung duduk. "Anjir."
Herman menggeliat, setengah sadar. "Njir kenapa lo, jam tiga pagi teriak-teriak. Kesambet?"
"Nggak, gapapa. Lanjut tidur aja, Man."
"Oke... tapi kalo lo kesurupan, jangan ganggu gue. Gue capek." Herman langsung ngorok lagi, seolah kalimat barusan bukti dia masih setengah tidur.
Doni sendiri malah nggak bisa tidur lagi. Otaknya muter kencang ini mimpi, halusinasi karena begadang dan telat makan, atau dia beneran kena sesuatu yang aneh. Yang jelas, informasi tadi detail banget sampai nama toko, lokasi rak, bahkan merek jaketnya lengkap sama tulisan tag-nya. Nggak kayak mimpi biasa yang isinya lari-larian dikejar dosen pembimbing sambil bawa proposal skripsi yang belum di-ACC-in.
Dia sempat mikir buat cerita ke Herman, tapi keburu sadar kalau bilang "gue abis dapet notifikasi dari sistem gaib soal jaket bekas," reaksi Herman paling cuma dua ngetawain, atau nganterin dia ke Puskesmas terdekat buat cek kejiwaan.
Paginya, Doni cuma punya modal Rp83.000 di dompet sisa buat jatah makan tiga hari kalau dihemat-hemat. Nasi bungkus warteg, teh manis anget, kadang sisa buat rokok temen sekamar yang doyan minta jatah tanpa beli sendiri.
Dia mikir, mau percaya separuh mati atau nggak sama sekali, toh nggak ada ruginya cek toko itu. Paling banter dianggap orang aneh yang ngubek-ngubek rak belakang thrift shop kayak lagi nyari harta karun.
"Lo mau kemana pagi-pagi bawa muka horor gitu?" tanya Sinta, temen sekelas yang kebetulan lagi nongkrong di depan kos, nunggu jemputan ojol buat kuliah bareng, sambil ngunyah roti bakar setengah gosong.
"Cari jaket," jawab Doni singkat, jalan agak buru-buru.
"Jaket? Duit dari mana lo. Kemarin ngutang Indomie ke gue aja belum lunas, sekarang mau belanja jaket?"
"Nanti gue balikin dobel," kata Doni sambil ngeloyor pergi, ninggalin Sinta yang mengernyit curiga sambil masih ngunyah rotinya.
"Dobel apaan, jangan-jangan lo abis menang judi online"
"BUKAN!" teriak Doni dari kejauhan, bikin dua ekor kucing kampung di teras kos kaget dan lari.
Gudang Rongsok ternyata toko thrift kecil, sesak, baunya campuran mothball sama parfum murah nan menyengat. Rak-raknya berdesakan, penuh baju bekas impor yang belum disortir rapi. Doni langsung nyelonong ke rak paling belakang persis kayak di "notifikasi" semalam sambil sok-sok cuek biar nggak dicurigai penjaga toko yang lagi asyik nonton drakor di HP-nya.
Dan di situ, terselip di antara jaket-jaket denim luntur dan sweater rusak bau apek, ada jaket kulit cokelat tua dengan tag jahitan kecil bertuliskan "Schott Made in USA." Doni mengecek label kertas yang ditempel penjaganya, tulisan tangan spidol yang udah pudar: Rp75.000.
Jantungnya deg-degan kayak lagi nembak gebetan sendirian di tempat parkiran. Dia bawa jaket itu ke kasir, pura-pura santai padahal telapak tangannya udah keringetan dan napasnya sedikit tersendat.
"Cuma ini, Mas?" tanya ibu penjaga toko sambil masukin jaket ke plastik kresek item, matanya masih nempel ke layar HP.
"I-iya, Bu, cuma ini."
"Tujuh puluh lima ribu."
Doni bayar pakai uang pas sengaja disiapin dari kemarin malam biar nggak ribet lalu buru-buru keluar toko sebelum ibu itu berubah pikiran atau tiba-tiba nyadar salah harga. Begitu udah jauh dari toko, sampai belokan gang sepi, dia langsung lari kecil sambil ketawa sendiri kayak orang kesurupan kegirangan.
Dua orang tukang ojek pangkalan yang lagi mangkal ngelirik aneh, sempat mikir mau nawarin tumpangan ke rumah sakit jiwa.
Malamnya, di kamar kos yang sempit dan berantakan, Doni foto jaket itu dari berbagai angle pakai pencahayaan seadanya dari lampu belajar, lalu upload ke grup jual-beli barang preloved dengan caption penuh drama: "Jaket kulit vintage ORIGINAL Schott USA, kondisi mulus, langka, cocok buat kolektor. Nego tipis, buruan sebelum kehabisan!" Harga dipasang Rp2.500.000.
Dalam dua jam, ada tiga orang serius nanya detail, saling rebutan di kolom komentar.
Salah satunya kolektor jaket vintage dari kota sebelah, yang profilnya penuh koleksi jaket-jaket mahal transfer DP setengah harga malam itu juga dan janji ambil barang besok siang.
Doni menatap layar HP-nya lama-lama, notifikasi transfer masuk yang bikin dia ngecek ulang tiga kali biar yakin bukan salah lihat. Angka di rekening yang biasanya cuma numpang lewat sebelum abis buat bayar kos dan makan, sekarang nambah drastis buat ukuran dompet mahasiswa kos-kosan.
"Sistem apaan sih ini," gumamnya sendirian di kamar.
sementara Herman masih setia ngorok di sebelah, sesekali menggumam nama dosen dalam tidurnya seperti sedang kesurupan arwah penasaran. "Gue nggak salah minum air keran kan tadi pagi?"
Dari balik kelopak matanya yang setengah merem, teks itu muncul lagi, seolah menjawab pertanyaan yang barusan dia lontarkan ke udara kosong.
> **[Info berikutnya akan tersedia dalam 6 hari 22 jam 41 menit]**
Doni menghela napas panjang, separuh lega separuh takut. Satu hal yang dia tahu pasti: apapun ini, dia nggak akan cerita ke siapa-siapa dulu, minimal sampai dia yakin ini bukan halusinasi atau jebakan orang iseng. Belum siap juga sih ngejelasin ke Sinta kalau tiba-tiba dia punya "indra keenam belanja thrift" yang entah datang dari mana.
Masalahnya, minggu depan, informasinya nggak akan sesimpel jaket bekas lagi.
Enam hari kemudian, dompet Doni udah jauh lebih tebal dari biasanya. Uang hasil jaket vintage itu dia pakai buat nyicil UKT semester ini lunas separuh, sisanya dia simpen rapi di rekening, nggak berani dihambur-hamburin.
Herman sempat curiga waktu ngeliat Doni jajan indomie double telur di warung deket kos, padahal biasanya Doni cuma pesen indomie kuah polos tanpa telur demi ngirit dua ribu perak.
"Lo abis dapet kiriman dari kampung ya?" tanya Herman, mulutnya penuh kerupuk.
"Iya," jawab Doni cepat, nggak mau jelasin lebih jauh.
"Bokap lo ternyata sultan diem-diem ya. Kirain petani biasa."
"Diem lo, makan aja." saut Doni
Malam ketujuh, pas jam yang sama jam tiga pagi, persis kayak minggu lalu kepala Doni kembali berdenging. Kali ini dia udah nggak kaget lagi, malah langsung merem sambil senyum-senyum sendiri, siap nunggu "notifikasi" datang kayak nunggu paket COD.
[SISTEM INFORMASI MINGGUAN AKTIF]
Info Minggu Ini: Saham PT Maju Bersama Tbk (kode: MJBR) akan mengalami kenaikan signifikan dalam 5 hari ke depan, dipicu pengumuman akuisisi yang belum dirilis ke publik. Perkiraan kenaikan: 40–55%.
Doni langsung melek, jantungnya deg-degan tapi kali ini beda rasanya bukan cuma excited, tapi juga panik. Jaket kemarin gampang modal receh, untung gede, resiko kecil.
Sekarang urusannya saham. Dia sama sekali buta soal dunia pasar modal, apalagi soal buka rekening sekuritas segala macam.
"Anjir," gumamnya di kegelapan kamar. "Ini mah bukan level jaket bekas lagi."
Paginya, Doni buru-buru cari info soal cara beli saham lewat HP, download aplikasi sekuritas yang katanya "buat pemula," lalu bingung sendiri pas diminta upload KTP, isi data NPWP, sampai pertanyaan soal "profil risiko investor" yang bikin dia mikir keras milih jawaban biar keliatan bukan investor abal-abal.
Masalah utamanya cuma satu yaitu modal. Sisa uang dari jaket vintage cuma sekitar delapan ratus ribu setelah dipotong buat UKT dan jajan sebulan.
Kalau semua modal itu dimasukin ke saham dan naik 40%, untungnya lumayan, tapi Doni ngerasa itu masih terlalu kecil buat mengubah nasib secara berarti. Dia butuh modal lebih besar, tapi dari mana?
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini rajin banget buka aplikasi investasi?" Sinta nyeletuk waktu mereka lagi nunggu dosen di kelas Mikroekonomi yang telat setengah jam lebih.
"Biasanya lo paling anti sama hal-hal begituan, katanya 'duit kuliah aja belum lunas ngapain mikirin saham.'"
Doni buru-buru nutup layar HP-nya. "Nggak, iseng doang. Lagi belajar buat tugas."
"Tugas apaan pake buka rekening sekuritas segala? Gue liat tadi lo ngisi data KTP."
Doni menghela napas, mikir cepat. "Ini... proyek UAS. Dosen minta kita simulasi investasi."
"Dosen mana yang segitu niatnya nyuruh anak-anak buka rekening beneran? Biasanya kan cukup pake aplikasi simulasi doang."
"Dosen gue emang aneh, Sin. Udahlah." jawab Doni berusah memutus pembicaraan
Sinta cuma mengangkat bahu, nggak sepenuhnya percaya tapi juga males ngurusin lebih jauh. Doni diam-diam menghela napas lega. Untung Sinta gampang teralihkan kalau udah keinget deadline tugas sendiri.
Selama tiga hari berikutnya, Doni sibuk muter otak nyari modal tambahan. Dia coba nawarin jasa joki tugas ke adik kelas, dapat lumayan tapi nggak seberapa.
Dia juga nekat jual sepatu kets kesayangannya yang jarang dipakai hingga Herman sampai protes keras.
"Lo jual sepatu ori itu? Gila lo, itu kan hadiah waktu menang lomba futsal antar fakultas!"
"Butuh duit, Man. Nanti gue beliin yang baru kalau udah ada rezeki."
"Rezeki dari mana? Lo kerjaannya cuma joki tugas sama beli barang thrift doang belakangan ini."
Doni cuma senyum-senyum nggak jelas, nggak mau jawab lebih jauh. Herman makin curiga tapi keburu sibuk sendiri ngurusin laporan praktikum yang deadline-nya besok pagi.
Akhirnya, dengan gabungan sisa uang jaket, hasil jual sepatu, dan tabungan darurat yang sebenarnya dia simpen buat jaga-jaga kalau sakit, Doni berhasil ngumpulin modal sekitar satu juta lima ratus ribu. Nggak besar-besar amat, tapi cukup buat nyoba peruntungan pertama di dunia saham.
Malam sebelum hari "H", Doni duduk di depan laptop pinjeman Herman, jari gemetar di atas tombol beli. Dia baca ulang info dari sistem berkali-kali, mikir jangan-jangan ini cuma kebetulan, atau lebih parah lagi, jebakan buat bikin dia bangkrut total.
"Bismillah aja deh," gumamnya, sambil mengetuk tombol beli saham MJBR sebanyak yang modalnya cukup beli.
Empat hari kemudian, layar aplikasi menunjukkan angka hijau yang bikin Doni hampir jatuh dari kasur saking kagetnya.
Saham MJBR naik 47% persis kayak yang diprediksi sistem, dipicu berita akuisisi besar yang baru dirilis paginya dan langsung jadi trending di berita ekonomi.
Doni langsung jual semua sahamnya sebelum harganya turun lagi, dan begitu dana cair ke rekening, dia cuma bisa melongo ngeliat angka yang jauh lebih besar dari yang pernah dia pegang seumur hidup.
"Woy, Man," panggilnya ke Herman yang lagi rebahan main HP. "Gue mau traktir lo makan sate kambing."
Herman langsung bangun, curiga tapi lapar. "Lo kesambet setan duit kayaknya. Kemarin jual sepatu demi hemat, sekarang tiba-tiba traktir sate kambing?"
"Rezeki nomplok, Man. Udah, jangan tanya-tanya, ayo makan."
Sambil jalan ke warung sate langganan, Doni diam-diam mikir 'kalau minggu depan info dari sistem makin gede lagi, dia harus mulai mikirin cara nyimpen rahasia ini lebih rapi soalnya kalau ketauan tetangga kos yang doyan gosip, bisa runyam urusannya'.
Dari balik kepalanya, seolah menjawab pikiran itu, muncul lagi teks yang udah dia hafal formatnya.
[Info berikutnya akan tersedia dalam 6 hari 23 jam 12 menit]
Doni cuma bisa senyum-senyum sendiri sambil ngelirik langit malam yang cerah, sama sekali nggak nyangka minggu depan bakal ada masalah baru yang jauh lebih runyam dari sekadar nyari modal.
Seminggu setelah drama saham MJBR, hidup Doni kelihatan normal dari luar. Dia tetap masuk kelas Mikroekonomi, tetap ngantre di kantin sambil ngobrol receh sama Herman, tetap pura-pura pusing tiap kali dosen nanya soal kurva permintaan.
Bedanya cuma satu, sekarang dia punya tabungan yang bikin dia tidur lebih nyenyak, dan kebiasaan baru diam-diam ngecek rekening tiap pagi kayak orang ngecek notifikasi media sosial.
Herman masih curiga, tapi udah nyerah nanya-nanya. "Terserah lo lah, Don. Yang penting lo masih mau traktir gue sate tiap ada rezeki nomplok."
"Siap, Bos," jawab Doni sambil ketawa.
Jam tiga pagi di hari ketujuh, dengingan khas itu muncul lagi. Doni udah nggak kaget, malah udah nyiapin diri kayak orang nunggu live streaming drop barang limited edition. Dia merem, dan teks itu muncul, kali ini dengan detail yang bikin dia mengernyit.
[SISTEM INFORMASI MINGGUAN AKTIF]
Info Minggu Ini: Sebuah garage sale di Perumahan Kenanga Indah akan menjual satu unit turntable/pemutar piringan hitam merek Technics SL-1200 MK2 dalam kondisi asli, dijual seharga Rp350.000 karena dianggap "barang lama nggak kepake." Harga pasar unit serupa untuk kolektor: Rp9.000.000–Rp12.000.000.
Doni langsung bangun, ngitung untung di kepala sambil senyum lebar. Tapi begitu dia baca ulang alamatnya Perumahan Kenanga Indah dia ngerasa familiar. Dan pas dia coba inget-inget kenapa familiar, dia baru sadar itu perumahan tempat Sinta tinggal sama neneknya.
"Anjir," gumamnya. "Kenapa harus di situ."
Paginya, Doni coba nyari cara aman buat dateng ke garage sale itu tanpa ketauan Sinta. Tapi rencananya buyar total begitu dia sampai di lokasi dan yang pertama nyapa dia justru Sinta sendiri, lagi bantu neneknya nyusun barang-barang di atas meja lipat di halaman rumah.
"Lah, Don? Ngapain lo di sini?" Sinta melongo, sepertinya lebih kaget dari Doni sendiri.
"Eh... lagi jalan-jalan doang," jawab Doni gugup, mikir alasan secepat kilat. "Kebetulan lewat, liat ada garage sale."
"Ini kompleks perumahan gue, Don. Nggak ada 'kebetulan lewat' buat orang kos yang tinggalnya di seberang kota."
Doni cengar-cengir nggak jelas, nggak nemu alasan yang lebih masuk akal. Untungnya nenek Sinta, seorang ibu tua ramah dengan kacamata besar, keburu manggil dari belakang meja.
"Temennya Sinta ya? Sini, sini, banyak barang bagus loh, semua murah, mumpung Nenek mau beres-beres rumah."
Doni jalan pelan-pelan ke arah meja, matanya langsung nemuin turntable itu, teronggok di sudut meja di antara piring-piring keramik dan setrika arang jadul. Persis kayak deskripsi sistem: Technics SL-1200 MK2, kelihatan masih mulus meski berdebu.
"Ini berapaan, Nek?" tanya Doni, berusaha kedengeran santai padahal jantungnya udah deg-degan kayak lagi ujian lisan.
"Oh itu punya almarhum kakeknya Sinta. Udah lama nggak kepake, sayang kalo dibuang. Tiga ratus lima puluh ribu aja deh, buat siapa aja yang mau rawat."
Sinta, yang berdiri di samping Doni, tiba-tiba nyeletuk. "Nek, itu kan barang kesayangan Kakek dulu. Yakin mau dijual segitu doang?"
"Udah nggak kepake, Sin. Rumah kita mau dirapiin, banyak barang numpuk. Lagian siapa lagi yang mau beli barang jadul begituan selain kolektor aneh." Jawab neneknya
Doni buru-buru ngeluarin duit sebelum ada yang berubah pikiran, termasuk dirinya sendiri yang ngerasa dikit bersalah. "Saya beli, Nek."
Sinta menatap Doni dengan tatapan curiga bercampur heran. "Lo suka piringan hitam? Nggak pernah denger lo ngomongin musik vinyl sekalipun."
"Baru-baru ini suka," jawab Doni asal, sambil buru-buru bungkus turntable itu pakai kain yang dikasih nenek Sinta.
Dalam perjalanan pulang, Doni ngerasa campur aduk. Di satu sisi dia excited banget karena tahu barang itu bakal laku mahal ke kolektor. Di sisi lain, ada rasa nggak enak karena itu barang kenangan keluarga Sinta, bukan sekadar rongsokan di gudang orang asing kayak jaket kemarin.
Sesampainya di kos, dia langsung riset harga pasaran, foto barangnya baik-baik, dan upload ke forum kolektor audio vintage.
Tawaran pertama masuk kurang dari satu jam, dari seorang bapak-bapak yang ternyata memang spesialis kolektor turntable jadul, siap bayar sembilan juta tunai, ambil langsung ke kos.
Doni menatap layar HP, separuh senang separuh mikir. Akhirnya dia ketik pesan ke Sinta.
"Sin, gue jual lagi turntable-nya, laku sembilan juta. Gue mau kasih setengahnya ke lo sama nenek lo, itu kan barang kenangan keluarga lo, nggak enak kalo gue untung sendirian."
Balasan Sinta datang beberapa menit kemudian, penuh tanda seru dan emoji kaget.
"HAH SEMBILAN JUTA?? Serius lo? Itu barang jadul doang! Tapi... makasih ya Don, lo baik banget. Btw ini makin curiga, lo tau dari mana harga barang-barang bisa segila ini? Ini bukan yang pertama kan, gue tau lo jual jaket ke grup preloved juga kemarin."
Doni mendadak keringetan lagi, mikir keras cara jawab tanpa buka rahasia soal sistem aneh yang muncul tiap minggu di kepalanya jam tiga pagi.
"Feeling doang, Sin. Gue emang lagi hoki belakangan ini," balasnya, walau dia sendiri tau alasan itu bakal makin susah dipercaya kalau kejadian kayak gini terus berulang tiap minggu.
Malam itu, sambil ngitung-ngitung uang yang harus dia transfer ke Sinta, Doni mikir keras. Modal makin gede, keuntungan makin fantastis, tapi resiko ketauan juga makin gede apalagi kalau yang curiga adalah orang-orang deket kayak Sinta dan Herman, bukan orang asing yang gampang dilupain.
Dari balik kepalanya, muncul lagi teks yang udah dia hafal.
[Info berikutnya akan tersedia dalam 6 hari 21 jam 55 menit]
Doni menatap langit-langit kamar, sambil mikir gimana caranya minggu depan dia bisa lebih hati-hati soalnya kalau Sinta aja udah mulai curiga, cuma tinggal waktu sebelum orang lain juga mulai nanya-nanya yang sama.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!