Indonesia
NovelToon NovelToon

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Episode 1

Bab 1: Sarjana Pengangguran

"Maaf, Saudara Rian. Untuk posisi ini, kami membutuhkan kandidat dengan pengalaman minimal dua tahun."

Kalimat itu terdengar sopan.

Terlalu sopan sampai rasanya seperti pintu lift yang menutup tepat di depan wajah.

Rian Prasetyo duduk di kursi plastik ruang wawancara, punggung kemejanya basah oleh keringat. Di luar kaca gedung, matahari Jakarta memantul di badan mobil-mobil yang merayap pelan. Di dalam ruangan ber-AC, dua orang pewawancara menatapnya dengan senyum tipis yang sudah ia hafal.

Senyum untuk orang yang akan ditolak.

"Saya mengerti, Pak," kata Rian, masih berusaha terdengar tenang. "Terima kasih atas waktunya."

Pria berkemeja biru di depannya mengangguk. "CV Anda cukup baik. Hanya saja, perusahaan kami sedang mencari orang yang bisa langsung bekerja tanpa banyak pelatihan."

Langsung bekerja.

Tanpa pelatihan.

Rian hampir tertawa.

Kalau semua perusahaan mencari orang berpengalaman, lalu sarjana baru seperti dia harus mendapatkan pengalaman dari mana? Dari mimpi? Dari video motivasi? Dari komentar orang tua tetangga yang bilang, "Yang penting rajin, nanti rezeki datang sendiri"?

Tapi ia tidak mengatakan semua itu.

Ia hanya berdiri, membungkuk sedikit, lalu keluar dari ruangan dengan map CV yang ujungnya sudah melengkung.

Di depan lift, ia membuka ponsel.

Satu pesan baru masuk.

Subjek: Hasil Interview.

Isinya pendek.

Terima kasih atas ketertarikan Anda. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, kami memutuskan untuk melanjutkan proses dengan kandidat lain.

Rian menatap layar itu beberapa detik.

Lalu ia membuka catatan kecil di ponselnya.

Interview ke-53: gagal.

Angka itu seperti batu kecil yang dilempar ke kepalanya. Tidak besar, tapi kalau dilempar lima puluh tiga kali, tetap saja sakit.

Pintu lift terbuka. Beberapa karyawan masuk sambil tertawa kecil membicarakan makan siang. Rian ikut masuk, berdiri di pojok, memeluk map CV di dada seperti memeluk satu-satunya bukti bahwa ia pernah punya harapan.

Di lantai dasar, satpam gedung menatapnya sebentar.

"Sudah selesai, Mas?"

"Sudah, Pak."

"Semoga diterima."

Rian tersenyum tipis. "Amin."

Jawaban itu keluar otomatis. Mulutnya masih bisa sopan, meski hatinya sudah duduk bersila di pinggir jalan sambil mengibarkan bendera putih.

Begitu keluar dari gedung, udara panas menampar wajahnya. Klakson motor, suara penjual minuman, dan deru bus kota bercampur jadi satu. Jakarta tetap bergerak, tidak peduli ada satu sarjana pengangguran yang baru saja ditolak untuk kali ke-53.

Rian berjalan tanpa tujuan.

Saldo di rekeningnya tinggal 152 ribu Rupiah.

Kos belum dibayar.

Pulsa hampir habis.

Sepatu hitam yang ia pakai untuk wawancara sudah mulai mengelupas di bagian depan.

Ibunya tadi pagi masih mengirim pesan: Kalau belum dapat kerja, jangan lupa makan. Bapak bilang kamu jangan terlalu memaksa diri.

Jangan memaksa diri?

Rian menelan ludah.

Kalau ia tidak memaksa diri, siapa yang akan membayar hidupnya?

Ia berhenti di depan warung kecil, membeli es teh manis paling murah. Ibu penjual warung menyodorkan plastik minuman dengan senyum lelah.

"Kelihatan capek, Mas. Habis kerja?"

Rian menerima minuman itu.

"Habis cari kerja, Bu."

"Oh." Senyum ibu itu melunak. "Semoga cepat dapat, ya. Anak saya juga baru lulus. Susah sekarang."

Rian mengangguk.

Susah sekarang.

Dua kata itu lebih jujur daripada semua brosur kampus yang dulu menjanjikan masa depan cerah.

Ia berjalan lagi sambil menggigit sedotan. Teh manis itu terlalu encer, tapi setidaknya dingin. Untuk beberapa detik, kepalanya tidak terasa seperti mesin yang dipaksa menyala tanpa bensin.

Lalu dunia di depannya tiba-tiba membeku.

Bukan benar-benar membeku.

Orang-orang masih berjalan. Motor masih melintas. Matahari masih panas.

Tapi di depan mata Rian, sebuah panel biru setengah transparan muncul begitu saja.

Panel itu mengambang kira-kira setengah meter dari wajahnya, bersih, terang, dan mustahil.

[Sistem Rugi berhasil diaktifkan.]

[Host terikat: Rian Prasetyo.]

Rian berhenti mendadak.

Seorang pengendara motor hampir menyenggol bahunya.

"Woi, jalan yang bener!"

Rian tidak menjawab. Matanya menempel pada panel biru itu.

Tulisan baru muncul.

[Dana Sistem: Rp 50.000.000.000]

Lima puluh miliar Rupiah.

Rian membaca angka itu sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Otaknya tidak langsung menerima.

Lima puluh miliar bukan angka yang biasa muncul dalam hidupnya. Angka terbesar yang pernah ia lihat secara langsung adalah tagihan semester, dan itu saja sudah membuat lututnya lemas. Lima puluh miliar terasa seperti jumlah yang dipakai konglomerat untuk membeli gedung, bukan untuk muncul di depan mata sarjana pengangguran dengan saldo 152 ribu.

"Gue... halusinasi?"

Ia mengangkat tangan, mencoba menyentuh panel itu.

Jarinya menembus cahaya biru seperti menembus kabut dingin.

[Panduan dasar:]

[1. Dana Sistem hanya dapat digunakan untuk investasi bisnis legal.]

[2. Dana Sistem tidak dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi host.]

[3. Pada akhir Siklus, kerugian bisnis yang sah akan dikonversi menjadi Dana Pribadi host dengan nilai setara.]

[4. Jika bisnis menghasilkan keuntungan, Dana Pribadi host tidak bertambah dari keuntungan tersebut.]

[5. Siklus Pertama: 90 hari.]

Rian berdiri kaku di pinggir trotoar.

Ia membaca aturan itu pelan-pelan.

Lalu membaca lagi.

Kerugian bisnis dikonversi menjadi Dana Pribadi.

Kalau rugi, ia dapat uang pribadi.

Kalau untung, ia tidak dapat apa-apa.

Rian menutup mata.

Mungkin ini akibat kurang makan.

Mungkin gula dari es teh murahan tadi tidak cocok dengan otaknya.

Mungkin setelah ditolak 53 kali, harga diri manusia memang bisa memunculkan layar biru.

Ia membuka mata.

Panel itu masih ada.

"Kalau ini bener..." bisiknya, "berarti gue harus bisnis, terus bikin bisnis itu rugi?"

[Pemahaman host: benar.]

Rian mundur satu langkah.

"Bisa jawab juga?"

Tidak ada respons.

Panel itu hanya berkilau tenang, seperti mesin ATM dari masa depan yang tidak peduli perasaan manusia.

Rian menarik napas, lalu mencoba berpikir seperti orang waras. Kalau ada uang 50 miliar, tes pertama paling sederhana adalah mengambilnya.

"Transfer satu juta ke rekening pribadi gue."

[Ditolak.]

[Dana Sistem tidak dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi host.]

"Seratus ribu?"

[Ditolak.]

"Buat beli makan? Gue lapar."

[Ditolak.]

Rian menggertakkan gigi.

"Kejam juga lu."

Panel biru tidak tersinggung.

Rian mencoba lagi. "Kalau buat sewa tempat usaha?"

[Diizinkan, selama transaksi bisnis legal dan wajar.]

"Beli barang dagangan?"

[Diizinkan.]

"Gaji karyawan?"

[Diizinkan, selama sesuai evaluasi nilai kerja.]

"Kalau bisnisnya rugi?"

[Kerugian sah akan dikonversi menjadi Dana Pribadi pada akhir Siklus.]

Jantung Rian mulai berdetak lebih cepat.

Ini bukan uang gratis.

Ini lebih aneh dari uang gratis.

Ia tidak boleh menikmatinya langsung. Ia harus memutarnya dalam bisnis, membuat bisnis itu rugi secara legal, lalu kerugian itu menjadi uang pribadinya.

Dengan kata lain, untuk pertama kalinya dalam hidup, kegagalan bisa dibayar tunai.

Rian tiba-tiba ingin tertawa.

Selama empat tahun kuliah, ia diajari cara membuat proposal bisnis, cara menghitung laba, cara mencari pasar, cara meningkatkan efisiensi.

Sekarang ada sistem misterius yang datang dan berkata: silakan rugi, nanti kamu dibayar.

Kalau dosennya tahu, mungkin seluruh fakultas ekonomi bisa masuk angin berjamaah.

Tapi setelah tawa pertama hampir keluar, ketakutan ikut naik.

Bagaimana kalau ini jebakan?

Bagaimana kalau ia melanggar hukum?

Bagaimana kalau uang itu bukan uang sungguhan?

Seolah membaca pikirannya, panel biru memunculkan baris baru.

[Semua transaksi Dana Sistem akan melalui jalur legal. Host dilarang melakukan tindakan melanggar hukum, manipulasi fiktif, transaksi palsu, atau pemborosan pribadi berkedok bisnis.]

Rian mengangguk pelan.

Jadi tidak bisa pura-pura beli perusahaan milik teman sendiri, lalu uangnya dibagi dua.

Tidak bisa sengaja membakar toko.

Tidak bisa membeli mobil mewah atas nama bisnis lalu dipakai pribadi.

Harus bisnis sungguhan.

Harus rugi sungguhan.

Rian menatap jalan raya yang padat. Untuk pertama kalinya sejak pagi, dunia tidak terlihat seperti tembok buntu. Masih berantakan, masih panas, masih penuh suara klakson, tapi ada celah kecil di depannya.

Celah itu berbentuk angka 50 miliar.

"Bisnis apa yang paling gampang rugi?" gumamnya.

Restoran?

Terlalu ribet.

Startup?

Ia tidak punya tim.

Toko online?

Bisa saja, tapi perlu strategi digital.

Rian memijat kening. Ia bahkan gagal mendapat pekerjaan admin. Bagaimana caranya ia menjalankan bisnis besar?

Lalu matanya menangkap sesuatu di seberang jalan.

Sebuah ruko tua di deretan bangunan yang catnya mulai pudar.

Di atasnya tergantung papan nama supermarket kecil. Huruf-hurufnya sudah kusam, salah satu sudut papan miring seperti hampir jatuh. Di pintu kaca tertempel kertas putih besar dengan tulisan spidol merah:

DIJUAL CEPAT.

CUCI GUDANG.

SEMUA HARUS HABIS.

Rian menyeberang setelah lampu merah menyala. Dari dekat, tempat itu terlihat lebih parah.

Debu menempel di kaca.

Rak-rak di dalam hampir kosong.

Beberapa kardus bekas ditumpuk sembarangan di dekat kasir.

Kulkas minuman di pojok mati, pintunya sedikit terbuka, menyisakan bau plastik lama dan udara lembap.

Lantai keramiknya kusam. Sarang laba-laba menggantung di sudut plafon. Pintu rolling door setengah turun, seperti toko itu sendiri sudah malas hidup.

Sempurna.

Terlalu sempurna.

Rian berdiri di depan kaca, menatap bayangannya sendiri yang tercampur dengan rak kosong di dalam toko.

Sejam lalu, ia adalah sarjana pengangguran yang ditolak perusahaan karena tidak punya pengalaman.

Sekarang, ia sedang menilai bangkai supermarket sebagai calon mesin pencetak kerugian.

Hidup memang aneh.

Kadang bukan pintu rezeki yang terbuka.

Kadang yang terbuka adalah pintu toko bangkrut.

Panel biru muncul lagi, kali ini lebih kecil.

[Peluang investasi bisnis terdeteksi.]

[Jenis aset: ritel kebutuhan harian.]

[Status lokasi: operasional menurun, aset berisiko tinggi.]

Rian membaca frasa aset berisiko tinggi.

Matanya langsung menyala.

Berisiko tinggi.

Artinya gampang rugi.

Ia hampir ingin memeluk papan "DIJUAL CEPAT" itu.

"Oke," bisiknya. "Kalau tujuan gue rugi, tempat kayak gini justru harta karun."

Orang normal mungkin melihat toko ini sebagai kuburan modal.

Rian melihatnya sebagai jalan pulang dari kemiskinan.

Selama bisnis ini rugi, pada akhir tiga bulan ia bisa mendapat uang pribadi. Ia tidak perlu menjadi jenius bisnis. Ia justru perlu menjadi pebisnis paling gagal di Kota Tanjung Emas.

Dan untuk gagal, toko ini sudah memberinya start yang luar biasa.

Rian mengeluarkan ponsel, memotret nomor kontak yang tertempel di kaca. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi bukan lagi karena putus asa. Kali ini karena sesuatu yang lebih berbahaya.

Harapan.

Ia menatap angka di panel biru.

50 miliar Rupiah.

Uang sebesar itu tidak bisa ia makan, tidak bisa ia pakai membayar kos, tidak bisa ia kirim ke orang tua.

Belum.

Tapi kalau ia berhasil membuat bisnis ini berdarah-darah selama tiga bulan, hidupnya bisa berubah.

Rian menarik napas panjang.

"Baiklah," katanya pelan, seolah sedang membuat perjanjian dengan dirinya sendiri. "Kalau dunia kerja nggak mau nerima gue, gue bikin bisnis sendiri. Bisnis yang tugasnya cuma satu."

Ia menatap toko bangkrut itu.

"Rugi."

Di depan Rian, panel biru itu berkedip pelan, seperti sedang tersenyum dingin: "Siklus Pertama: 89 hari 23 jam tersisa."

Episode 2

Bab 2: Toko Bangkrut

Pagi berikutnya, Rian kembali berdiri di depan ruko tua itu.

Cat temboknya kusam. Papan nama supermarket lama menggantung miring. Dari kaca yang buram, rak-rak kosong tampak seperti tulang rusuk bangunan yang kelaparan.

Rian menatapnya dengan mata berbinar.

Tempat ini bukan toko.

Ini mesin rugi.

Ia menekan nomor yang kemarin ia foto dari kaca pintu.

Telepon tersambung setelah nada keempat.

"Halo?"

"Oh, ruko bekas supermarket itu? Bisa, bisa. Saya pemiliknya. Nama saya Slamet."

"Saya Rian, Pak. Saya ingin lihat tempatnya hari ini."

"Hari ini juga?" Pak Slamet berhenti sejenak. "Mas serius mau usaha di sana?"

"Serius, Pak."

Ada tawa kecil di ujung telepon.

"Baik. Saya datang satu jam lagi."

Satu jam kemudian, Avanza hitam berhenti di depan ruko. Pak Slamet turun dengan batik lengan pendek, jam tangan emas, dan mata yang langsung menilai Rian.

Pak Slamet tersenyum.

"Mas Rian, ya?"

"Betul, Pak."

"Saya terus terang saja. Ruko ini strategis. Dekat jalan utama, parkir lumayan, dulu supermarket ini ramai sekali."

Rian melirik ke dalam. Lantai berdebu, kulkas mati, rak bengkok, bau lembap. Kalau ini ramai, kuburan pun bisa disebut pusat hiburan.

Ia tetap mengangguk. "Saya percaya, Pak."

Pak Slamet membuka rolling door. Besi tua itu menjerit panjang ketika ditarik ke atas. Debu langsung terbang, membuat Rian batuk sekali.

Bagus. Suasananya makin meyakinkan.

Mereka masuk. Lantai lengket. Di pojok, satu kulkas minuman mengeluarkan aroma plastik panas dan jamur.

"Kondisinya tinggal dibersihkan sedikit. Rak masih banyak. Lokasi sudah dikenal warga."

Rian menahan senyum. Tinggal dibersihkan sedikit? Kalau kecoa di sini bisa bicara, mungkin dia sudah jadi kepala gudang.

"Untuk sewanya bagaimana, Pak?" tanya Rian.

Mata Pak Slamet langsung menyala.

"Normalnya ruko sebesar ini saya sewakan 250 juta per bulan. Tapi karena lokasinya bekas usaha, saya kasih harga khusus. Tiga bulan pertama 1,2 miliar, dibayar di muka. Deposit 300 juta. Jadi total 1,5 miliar."

Harga itu jelas terlalu tinggi untuk ruko tua yang baru saja ditinggalkan penyewanya.

Namun Rian hanya berkedip.

1,5 miliar untuk tiga bulan.

Mahal sekali. Indah sekali.

"Saya ambil, Pak."

Senyum Pak Slamet membeku setengah detik.

"Langsung ambil?"

"Iya. Kalau bisa, kontrak hari ini."

Pak Slamet menatapnya seperti baru menemukan dompet jatuh di tengah jalan.

"Mas tidak mau cek dulu? Atau tanya keluarga?"

"Tidak perlu, Pak. Saya sudah cocok."

Cocok untuk hancur, maksudnya.

Pak Slamet cepat-cepat mengeluarkan map dari mobil.

Mereka duduk di meja kasir lama. Pak Slamet menulis data ruko, masa sewa tiga bulan, jumlah pembayaran, deposit, dan beberapa pasal standar. Rian membaca perlahan, memastikan tidak ada hal ilegal atau biaya aneh.

Panel biru muncul.

[Kontrak sewa terdeteksi. Status: legal. Penggunaan Dana Sistem: diizinkan.]

Rian hampir menghela napas lega.

"Pembayaran transfer ke rekening atas nama Bapak?" tanyanya.

"Betul, Mas. Ini rekening saya."

Rian membuka aplikasi perbankan yang terhubung dengan rekening bisnis sistem. Angka 50 miliar di sana masih terasa tidak nyata. Ia memasukkan nominal 1,5 miliar, menekan konfirmasi, lalu melihat saldo Dana Sistem berkurang.

Untuk pertama kalinya, uang sistem benar-benar keluar. Rian merasakan sensasi hangat di dada.

Pak Slamet menerima notifikasi. Matanya melebar.

"Sudah masuk," katanya, suaranya lebih halus dari sebelumnya. "Mas Rian ini gercep juga, ya."

"Saya hanya ingin semuanya cepat selesai, Pak."

Pak Slamet tertawa kecil. Mungkin ia sedang menghitung untung dari ruko yang seharusnya susah disewakan. Rian juga merasa menang.

Mereka menandatangani kontrak. Satu lembar untuk Pak Slamet, satu lembar untuk Rian.

Setelah itu, Pak Slamet memberikan satu set kunci.

"Pemilik usaha lama namanya Surya Atmaja. Orangnya masih di sekitar sini. Kalau Mas mau beli rak dan mesin kasir, hubungi saja. Dia sudah capek urus barang-barang itu."

"Boleh minta nomornya, Pak?"

"Boleh."

Pak Slamet mengirim kontak itu lewat WhatsApp. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Rian.

"Semoga usahanya lancar, Mas Rian."

"Terima kasih, Pak."

Dalam hati, Rian menjawab: Jangan lancar-lancar amat, Pak. Nanti saya repot.

Pak Slamet pergi dengan wajah puas.

Rian berdiri sendirian di tengah toko kosong. Satu setengah miliar sudah keluar. Masih jauh dari 50 miliar, tapi setidaknya kerugian pertamanya mulai berbentuk.

Ia segera menghubungi nomor Pak Surya Atmaja.

Pria itu datang menjelang siang dengan motor bebek tua dan helm yang warnanya sudah pudar. Pak Surya berusia sekitar lima puluhan, tubuhnya kurus, dan matanya punya lelah orang yang pernah menjaga toko bertahun-tahun sampai akhirnya menyerah.

Begitu melihat Rian, ia tampak terkejut.

"Mas yang sewa ruko ini?"

"Iya, Pak. Rian."

"Masih muda sekali." Pak Surya menghela napas. "Saya dulu buka di sini delapan tahun. Biaya naik, pelanggan pindah, supplier makin ketat. Lama-lama saya tidak sanggup."

Rian bersikap hormat. "Saya dengar Bapak masih punya peralatan. Saya ingin beli semuanya."

"Semuanya?"

"Rak, kulkas, freezer, mesin kasir, troli, CCTV kalau masih ada. Saya ambil satu paket."

"Mas sudah cek kondisinya?"

"Sudah lihat sekilas."

"Banyak yang tua. Kulkas dua unit harus servis, mesin kasir kadang macet. Kalau Mas punya modal, lebih baik beli baru."

Rian nyaris menggeleng terlalu cepat. Beli baru? Tidak, Pak. Itu jalan menuju toko bagus.

"Saya justru ingin memakai yang ada dulu," kata Rian dengan wajah serius. "Biar cepat buka."

Pak Surya diam sebentar.

"Saya dulu mau lepas semua 500 juta. Tapi kalau Mas merasa kemahalan, kita bisa bicara."

"500 juta saya ambil."

Untuk kedua kalinya hari itu, seorang pria dewasa kehilangan ekspresi karena Rian terlalu cepat setuju.

"Mas, saya tidak mau menipu. Barang-barang ini memang banyak, tapi sudah bekas."

"Saya paham, Pak."

"Kalau nanti rusak, biaya perbaikan bisa lumayan."

Semakin bagus.

"Tidak apa-apa. Saya tanggung."

"Baiklah. Kalau begitu, saya buat daftar barangnya."

Mereka berjalan ke gudang belakang. Bau kardus lembap dan plastik lama langsung menyambut. Pak Surya menunjuk rak besi, timbangan digital, freezer, komputer kasir, CCTV, dan troli kecil. Rian tidak terlalu mengerti mana yang bagus. Yang penting semuanya terlihat cukup tua untuk membuat masa depan bisnis ini kelihatan suram.

Setelah transfer 500 juta selesai, Pak Surya duduk di kursi plastik dekat gudang.

"Delapan tahun, Mas," katanya pelan. "Ternyata usaha ritel tidak semudah yang orang lihat."

"Terima kasih sudah menjaga tempat ini sampai sekarang, Pak."

Pak Surya tersenyum pahit. "Kalau Mas benar-benar mau buka lagi, saya sarankan cari orang operasional yang patuh dan teliti. Dulu saya punya manajer, namanya Darmawan. Orangnya jujur, rajin, tapi..." Ia berhenti, mencari kata. "Terlalu nurut. Apa pun yang saya bilang, dia kerjakan. Jarang kasih pendapat sendiri."

Terlalu nurut. Apa pun yang disuruh, dikerjakan. Tidak banyak pendapat. Bukankah itu bahan baku sempurna untuk proyek rugi?

"Apa beliau masih bisa dihubungi?"

"Bisa. Sejak toko tutup, dia kerja serabutan. Kalau Mas butuh, saya panggilkan."

"Tolong, Pak."

Pak Surya mengangkat alis. "Sekarang?"

"Kalau bisa sekarang."

Tidak sampai satu jam kemudian, Darmawan datang. Pria pertengahan tiga puluhan itu berdiri rapi di depan Rian, seperti terbiasa menerima perintah sebelum orang lain selesai bicara.

"Selamat siang, Pak. Saya Darmawan."

Rian merasa senang sejak kalimat pertama. Aura orang yang kalau disuruh memindahkan gunung mungkin akan bertanya gunung mana dulu, bukan kenapa.

"Mas Dar, saya Rian. Mulai hari ini saya menyewa tempat ini dan membeli semua peralatannya. Saya ingin membuka supermarket lagi."

Darmawan menatap toko kosong itu. Wajahnya tidak mengejek, hanya kaget yang ia tekan kuat-kuat.

"Baik, Pak."

"Pak Surya bilang Mas Dar pernah menjadi manajer di sini."

"Iya, Pak. Delapan tahun saya ikut Pak Surya. Saya paham supplier lama, stok, kasir, jadwal karyawan, dan pelanggan sekitar."

Bagus. Terlalu bagus.

Rian mengangguk puas.

"Saya butuh orang yang bisa menjalankan operasional harian. Saya tidak akan terlalu banyak ikut teknis."

Darmawan langsung menegakkan punggung.

"Kalau Bapak percaya, saya akan jalankan sebaik mungkin."

"Gaji awal 15 juta per bulan. Kalau toko mulai berjalan, kita evaluasi naik."

Mata Darmawan melebar. Pak Surya yang duduk di samping juga menoleh cepat. Untuk manajer toko bekas yang bahkan belum buka, angka itu bukan kecil.

Darmawan menelan ludah. "Pak... itu terlalu besar."

Rian hampir tersenyum.

Terlalu besar adalah arah yang benar.

"Saya butuh komitmen penuh," katanya. "Dan saya tidak suka orang kerja setengah hati."

Darmawan langsung membungkuk. "Siap, Pak Bos."

Pak Bos. Panggilan itu agak aneh di telinga, tapi tidak buruk.

Ia membuka tas kecil, mengeluarkan kartu debit hitam polos yang baru saja muncul setelah sistem menyetujui alokasi dana operasional.

[Kartu Operasional Garuda Mart. Saldo alokasi: 2 miliar Rupiah.]

Rian menyerahkan kartu itu kepada Darmawan.

"Ini, Pak?"

"Kartu operasional. Isinya 2 miliar. Untuk bersih-bersih, servis alat, beli stok awal, bayar vendor, dan pembukaan."

Tangan Darmawan benar-benar bergetar ketika menerima kartu itu. Pak Surya sampai berdiri.

"Mas Rian, 2 miliar untuk toko sekecil ini?"

"Kurang?"

"Bukan kurang. Ini..." Pak Surya tampak kehabisan kata. "Ini sangat besar."

Rian menatap Darmawan.

"Mas Dar, mulai besok, semua operasional toko ini saya serahkan ke Mas. Saya cuma punya satu permintaan."

Darmawan menggenggam kartu itu dengan kedua tangan.

"Apa itu, Pak Bos?"

Rian tersenyum tipis.

"Jangan terlalu hemat."

Ruangan kosong itu mendadak sunyi. Di luar, suara motor lewat terdengar jauh.

Darmawan menunduk, menatap kartu 2 miliar di tangannya, lalu menatap Rian lagi.

"Siap, Pak Bos," katanya pelan, suaranya masih bergetar. "Saya akan menjalankan amanah ini sebaik-baiknya."

Rian mengangguk puas.

Di matanya, toko bangkrut ini akhirnya punya manajer, alat tua, kontrak mahal, dan dana operasional yang siap dibakar.

Di mata Darmawan, seorang bos muda baru saja mempercayakan masa depan toko kepadanya tanpa ragu.

Mereka berdiri di tempat yang sama.

Melihat mimpi berbeda.

Episode 3

Bab 3: Kebalikannya

Dua hari setelah Darmawan menerima kartu operasional, toko bangkrut itu mulai terdengar hidup.

Bukan hidup yang ramai.

Lebih tepatnya hidup yang batuk-batuk.

Di pagi hari, dua tukang servis membuka panel kulkas yang berdebu. Di dekat kasir, Darmawan mencatat daftar perbaikan dengan wajah serius. Bau cairan pembersih bercampur dengan bau kardus lama. Beberapa rak sudah digeser ke tengah ruangan, meninggalkan garis debu panjang di lantai.

Rian berdiri di samping meja kasir lama, merasa puas.

Belum buka saja sudah keluar uang untuk servis, bersih-bersih, dan ongkos angkut.

Awal yang sehat.

Maksudnya, sehat untuk kerugian.

Menjelang siang, Pak Surya Atmaja datang lagi. Ia membawa buku tulis tipis, pulpen, dan ekspresi orang tua yang tidak tega melihat anak muda menabrak tembok tanpa helm.

"Mas Rian," katanya, "saya tahu toko ini sudah saya jual. Tapi kalau Mas tidak keberatan, saya ingin memberi sedikit masukan. Ritel itu margin-nya tipis. Salah langkah sedikit, uang habis."

Rian langsung mengambil kursi plastik.

"Silakan, Pak. Saya justru butuh pengalaman Bapak."

Itu kalimat tulus.

Pak Surya punya delapan tahun pengalaman membuka supermarket.

Artinya, Pak Surya tahu cara bertahan.

Dan kalau Rian tahu cara bertahan, ia tinggal memilih kebalikannya.

Pak Surya membuka buku tulis. Darmawan berdiri di samping, ikut mendengarkan dengan sikap seperti murid teladan.

"Pertama," kata Pak Surya, "karyawan jangan terlalu banyak. Untuk toko sebesar ini, cukup 80 sampai 100 orang dengan sistem shift. Kalau terlalu banyak, gaji makan margin."

Rian menulis: karyawan sedikit.

Pak Surya melanjutkan, "Kedua, harga jangan terlalu rendah. Boleh promo beberapa barang, tapi kebutuhan harian harus punya margin. Kalau semua ditekan murah, toko ramai tapi kas kosong."

Rian menulis: harga jangan rendah.

"Ketiga, tampilan toko harus rapi. Tidak perlu mewah, tapi bersih, terang, dan nyaman. Pelanggan menengah suka tempat yang kelihatan aman. Kalau kesannya murahan, mereka pindah ke minimarket lain."

Rian menulis: toko harus bagus.

Tiga kalimat.

Tiga jalan menuju sukses.

Rian menatap catatannya dengan mata berbinar.

Terima kasih, Pak. Ini peta jalan menuju kehancuran.

Pak Surya melihat wajah serius Rian dan tampak sedikit lega.

"Kalau Mas ikuti tiga hal ini, minimal toko bisa bertahan. Jangan terburu-buru ekspansi. Jangan bakar uang. Ritel bukan tempat main-main."

"Saya mengerti, Pak."

Rian benar-benar mengerti.

Karena itu ia berdiri, mengambil kertas kosong, lalu menulis judul besar:

Rencana Operasional Garuda Mart.

Darmawan langsung mendekat.

"Pak Bos mau saya siapkan formatnya?"

"Tidak perlu. Saya ucapkan, Mas Dar catat."

"Siap, Pak Bos."

Rian melihat catatan Pak Surya sekali lagi.

Karyawan sedikit.

Harga jangan rendah.

Toko harus bagus.

Ia tersenyum.

"Pertama, kita rekrut 400 karyawan."

Pulpen Darmawan berhenti di udara.

Pak Surya mengangkat kepala.

"Empat ratus?"

"Iya. Kasir, pramuniaga, gudang, kebersihan, keamanan, pelayanan pelanggan. Saya ingin setiap lorong ada orang yang siap membantu."

Pak Surya menatapnya beberapa detik. "Mas Rian, toko sebesar ini biasanya tidak butuh sebanyak itu."

"Justru karena tidak biasa, kita coba."

Dalam hati, Rian menambahkan:

Kalau 100 orang bisa bertahan, 400 orang harusnya bisa tenggelam.

"Kedua," lanjut Rian, "jam kerja enam jam sehari, lima hari seminggu. Tidak boleh lebih."

Darmawan menulis cepat, tapi dahinya mulai berkerut.

"Berarti jadwal shift harus banyak, Pak Bos."

"Bagus. Semakin banyak shift, semakin banyak orang yang bisa kita rekrut."

Pak Surya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Ketiga, gaji pokok 5 juta per bulan untuk karyawan biasa. Supervisor 8 juta. Manajer tetap 15 juta seperti kesepakatan kita."

Pulpen Darmawan hampir jatuh.

"Pak Bos... UMR di sini sekitar 3,5 juta."

"Maka 5 juta cukup layak."

"Tapi untuk 400 orang..."

"Catat saja."

"Siap, Pak Bos."

Suara Darmawan tetap patuh, tetapi wajahnya sudah tidak bisa menyembunyikan hitungan yang berlarian di kepala.

Rian belum selesai.

"Tambahan: makan siang gratis. Seragam gratis. BPJS lengkap. Cuti sakit tetap dibayar. Kalau ada lembur darurat, bayar dua kali lipat."

Pak Surya akhirnya tidak tahan.

"Tadi Mas bilang jam kerja tidak boleh lebih."

"Betul. Jadi lembur sebisa mungkin dilarang. Tapi kalau benar-benar terjadi, kita bayar mahal."

"Mas Rian..."

Pak Surya menatap kertas itu seperti menatap resep untuk menenggelamkan kapal.

"Kamu sedang bercanda?"

Rian tersenyum sopan.

"Tidak, Pak. Bapak bilang karyawan jangan terlalu banyak. Saya ingat. Tapi saya memilih kebalikannya."

Ruangan itu hening.

Di belakang mereka, suara obeng tukang servis jatuh ke lantai terdengar terlalu keras.

Pak Surya memijat pangkal hidung.

"Mas juga mau harga barang bagaimana?"

Inilah bagian favorit Rian.

"Harga harus serendah mungkin. Tapi tetap tidak boleh di bawah harga pokok. Kita ambil margin paling tipis yang diizinkan. Kalau bisa, cukup untuk terlihat tidak rugi per barang."

Darmawan menelan ludah.

"Berarti keuntungan per item sangat kecil, Pak Bos."

"Benar."

"Dengan gaji dan jumlah karyawan seperti ini..."

"Akan berat?"

"Sangat berat."

Rian mengangguk puas. "Bagus."

Pak Surya menatapnya kosong.

"Bagus?"

"Maksud saya, bagus karena kita berani berbeda."

Darmawan kembali menulis. Jari-jarinya lebih lambat sekarang. Ia mulai membuat kolom kasar di pinggir kertas: 400 orang x 5 juta, supervisor, makan siang, seragam, BPJS, servis alat, stok awal, promosi pembukaan. Angka-angka itu naik seperti air banjir.

Dalam tiga bulan, beban manusia dan pembukaan toko bisa menembus belasan miliar.

Dan toko ini bahkan belum menjual seikat kangkung pun.

Wajah Darmawan memucat.

Tapi ia tidak membantah.

Pak Surya berdiri dari kursinya. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia terlihat benar-benar menyerah.

"Mas Rian, saya sudah bicara sebagai orang yang pernah gagal. Kalau Mas tetap mau begini, saya tidak bisa melarang."

Rian ikut berdiri.

"Saya menghargai semua nasihat Bapak."

"Kalau begitu kenapa semuanya dibalik?"

Rian diam setengah detik.

Karena saya butuh rugi, Pak.

Tentu saja kalimat itu tidak boleh keluar.

Jadi ia memilih wajah paling tenang.

"Karena kalau mengikuti cara lama menghasilkan hasil lama, mungkin Garuda Mart perlu cara baru."

Darmawan menatapnya.

Pak Surya juga menatapnya.

Kalimat itu terdengar seperti strategi.

Padahal Rian baru saja menyusun jebakan untuk uangnya sendiri.

Pak Surya menghela napas panjang. "Tiga bulan lagi, toko ini bisa tutup lagi."

Rian hampir bersorak.

"Saya siap menanggung risikonya, Pak."

Pak Surya menggeleng pelan, lalu berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh pada Darmawan.

"Dar, kamu jaga baik-baik. Kalau memang harus tenggelam, setidaknya tenggelam dengan catatan rapi."

Darmawan membungkuk. "Baik, Pak Surya."

Setelah Pak Surya pergi, Rian menyerahkan kertas kebijakan itu kepada Darmawan.

"Mulai hari ini, buka rekrutmen. Prioritaskan orang yang butuh kerja, mau belajar, dan tidak takut melayani pelanggan."

"Siap, Pak Bos."

"Jangan hemat untuk hal yang membuat karyawan nyaman."

"Siap."

Rian menatap angka perkiraan biaya di pinggir kertas. Semuanya gemuk, berat, dan indah.

"Kalau ritme ini jalan," gumamnya, "tiga bulan menghabiskan 50 miliar bukan mimpi."

Darmawan berdiri di tengah toko kosong, menggenggam Rencana Operasional Garuda Mart seperti memegang surat perang.

Ia belum tahu, 400 karyawan bergaji tinggi itu kelak bukan menjadi lubang kebocoran.

Mereka akan menjadi alasan pertama orang-orang rela antre di depan Garuda Mart.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!