Indonesia
NovelToon NovelToon

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Episode 1

Bab 1: Diusir dan Bangkit

Map plastik bening itu jatuh di atas meja kaca dengan suara tajam.

Di dalamnya ada surat perceraian.

Hendry Pratama memandang kertas itu tanpa bergerak. Di ruang tamu rumah keluarga Mahendra, pendingin ruangan menyala dingin, tetapi telapak tangannya terasa panas.

Di seberang meja, Mama Ayu berdiri dengan dagu terangkat. Bagi perempuan itu, surat tersebut sudah seperti vonis yang lama ia tunggu.

"Tanda tangan," kata Mama Ayu. "Hari ini juga."

Gunawan Mahendra duduk di ujung sofa. Tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah tidak mengepul. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di rumah ini, suara paling keras selalu milik istrinya.

Jessica Mahendra berdiri dekat tangga. Kemeja kerjanya rapi, wajahnya cantik tetapi lelah. Matanya hanya menatap surat itu sebentar, lalu beralih ke Hendry. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak juga pembelaan.

Justru itu yang membuat dada Hendry lebih sesak.

"Ma," suara Jessica pelan, "aku harus ke kantor. Ada klien dari PT Surya Abadi yang mau lihat sampel desain."

"Kamu tetap di sini." Mama Ayu menunjuk Hendry. "Urusan kantor bisa menunggu. Urusan laki-laki tidak berguna ini harus selesai dulu."

Hendry mengangkat wajah. "Mama Ayu, saya bisa cari kerja lagi. Saya juga bisa bantu Jessica--"

"Bantu?" Mama Ayu tertawa pendek. "Tiga tahun kamu tinggal di rumah ini, makan dari dapur keluarga Mahendra, tidur di kamar kami. Apa yang sudah kamu bantu?"

Hendry bisa membantah. Selama tiga tahun ia mengantar Daun ke TK, menjaga Jessica pulang malam, mengurus rumah ketika Gunawan sakit. Di mata Mama Ayu, semua itu tetap tidak bernilai karena tidak membawa uang.

"Kamu laki-laki, tapi tidak punya harga diri." Mama Ayu mengambil map itu lagi dan mendorongnya sampai menyentuh ujung jari Hendry. "Jessica masih muda. Cantik. Punya perusahaan sendiri. Tanpa kakeknya dulu keras kepala menjodohkan kalian, mana mungkin anakku menikah dengan orang sepertimu?"

Jessica menegang. "Ma, jangan bawa-bawa Opa."

"Kenapa? Itu kenyataan." Mama Ayu melirik putrinya. "Opa sudah tidak ada. Janji lama tidak perlu mengikat hidupmu sampai busuk."

Hendry menatap tanda tangan yang sudah disiapkan di bagian bawah surat. Namanya dicetak rapi: Hendry Pratama. Di sebelahnya ada ruang kosong untuk tanda tangan Jessica.

Perceraian, jika ia menandatangani, akan selesai dengan satu goresan.

Tetapi wajah Daun muncul di kepalanya.

Seolah dipanggil oleh pikirannya, suara kecil terdengar dari lorong.

"Papa?"

Seorang gadis kecil berlari keluar dengan boneka kelinci di tangan. Rambutnya berantakan, pipinya merah karena baru bangun tidur. Daun tidak mengerti surat itu. Ia hanya tahu sesuatu buruk sedang terjadi.

Hendry segera berdiri. "Daun, kenapa keluar? Nanti masuk angin."

Daun tidak menjawab. Ia berlari ke arahnya, memeluk kaki Hendry, lalu mendongak dengan mata basah.

"Papa jangan pergi."

Ruang tamu mendadak sunyi.

Hendry berjongkok, mengusap rambut putrinya. "Papa cuma keluar sebentar."

"Bohong." Bibir Daun bergetar. "Nenek marah. Papa mau diusir."

Mama Ayu mengerutkan kening. "Daun, masuk kamar. Ini urusan orang dewasa."

"Tidak!" Daun bersembunyi di balik bahu Hendry. "Daun mau sama Papa."

Jessica memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya lagi, ia menatap Hendry dengan rasa bersalah yang tidak selesai menjadi pembelaan.

Hendry menarik napas. Ia menatap Mama Ayu.

"Saya tidak akan tanda tangan hari ini."

Wajah Mama Ayu mengeras. "Kamu berani melawan?"

"Saya tidak melawan. Saya hanya tidak akan meninggalkan Jessica dan Daun seperti ini."

"Jangan sok jadi suami baik!" Mama Ayu menampar meja. "Suami baik itu memberi nafkah. Suami baik itu membuat istrinya bangga, bukan jadi bahan tertawaan arisan keluarga. Orang-orang bertanya, anakku menikah dengan siapa? Aku harus jawab apa? Sopir? Pengangguran? Penjaga anak?"

Hendry menahan napas.

Dulu ia juga pernah punya nama yang membuat orang menunduk. Setelah ibunya, Wulan Pratiwi, meninggal, ia meninggalkan keluarga Pratama, menolak uang, nama, dan warisan.

Kakek Jessica yang menemukannya saat ia hampir jatuh. Orang tua itu memberinya pekerjaan kecil, lalu sebelum meninggal, meminta Jessica menikah dengannya. Hendry menerimanya karena utang budi. Keinginan menumpang hidup tidak pernah ada.

Tiga tahun berlalu. Utang budi itu berubah menjadi Daun, menjadi alasan untuk tetap bertahan.

"Mama Ayu," kata Hendry pelan, "saya tahu saya belum membuat keluarga ini bangga. Tapi saya tidak pernah mengkhianati Jessica."

"Kesetiaan tanpa uang itu cuma alasan orang miskin." Mama Ayu menunjuk pintu. "Kalau tidak mau tanda tangan, keluar dari rumah ini. Mulai hari ini, jangan tidur di sini."

"Ma!" Jessica akhirnya bersuara lebih keras.

Mama Ayu menoleh. "Kamu diam. Kalau dia benar laki-laki, biar dia buktikan bisa hidup tanpa makan dari rumah kita."

Hendry melihat Jessica. Ia berharap istrinya berkata satu kalimat saja.

Namun Jessica hanya menggigit bibir.

Ia berdiri, melepas pelan tangan Daun dari kakinya. Daun langsung menangis.

"Papa..."

Hendry mencium keningnya. "Jaga Mama, ya. Papa akan kembali."

"Kapan?"

"Secepatnya."

Ia tidak membawa koper. Tidak ada barang berharga yang benar-benar miliknya di rumah itu.

Ketika ia melangkah ke pintu, Mama Ayu berkata dari belakang, "Ingat, Hendry. Di luar sana tidak ada keluarga Mahendra yang bisa kamu tumpangi. Jangan merangkak balik kalau lapar."

Hendry berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Saya akan kembali," katanya. "Dengan kaki saya sendiri."

Pintu tertutup di belakangnya.

Kota Biru siang itu panas. Hendry berjalan tanpa tujuan melewati pos satpam dan mobil-mobil berkaca gelap.

Di balik pagar tinggi, ia mendengar tangis Daun masih seperti gema di telinganya.

Ponselnya bergetar.

Nomor asing.

Hendry menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat. "Halo?"

Suara laki-laki tua terdengar tenang, berat, dan terlalu sopan untuk panggilan biasa. "Apakah saya berbicara dengan Pak Hendry Pratama?"

Langkah Hendry berhenti.

Sudah lama tidak ada yang memanggilnya seperti itu.

"Anda salah nomor."

"Saya Budiman Suryadi."

Nama itu membuat mata Hendry menyipit. Di Kota Biru, semua orang tahu Budiman Suryadi. Orang menyebutnya orang terkaya di kota ini.

"Kalau ini lelucon, Anda memilih waktu yang buruk," kata Hendry.

"Saya tidak pernah bercanda soal keluarga Pratama, Pak Hendry."

Udara seperti berhenti.

Hendry berjalan ke sisi jalan yang lebih sepi. "Apa maumu?"

"Menjemput Anda. Atas perintah Tuan Hartanto."

Nama ayahnya jatuh seperti batu ke dasar dada.

Wajah Hendry langsung dingin. "Katakan padanya, Hendry Pratama sudah mati untuk keluarga Pratama."

"Saya mengerti Anda membenci beliau," ujar Budiman. "Tetapi ada hal yang harus Anda tahu. Selama ini, Tuan Hartanto tidak pernah benar-benar melepas Anda. Semua aset yang disiapkan atas nama Anda sudah aktif secara hukum."

Hendry tertawa tanpa suara. "Aset?"

"Saham pengendali di beberapa perusahaan, termasuk bagian penting dari PT Garuda Perkasa Group. Nilai totalnya, jika dihitung konservatif, beberapa triliun rupiah."

Jari Hendry mengeras di ponsel.

Di dalam rumah tadi, ia baru disebut menantu yang makan dari dapur orang. Sekarang, pria terkaya Kota Biru berkata bahwa namanya berdiri di atas aset bernilai triliunan.

"Saya tidak butuh uang Hartanto."

"Itu bukan lagi uang beliau, Pak Hendry. Secara legal, itu milik Anda. Saya hanya wali pelaksana sampai Anda bersedia mengambil kendali."

"Kenapa sekarang?"

"Karena Anda sudah diusir dari rumah Mahendra pagi ini."

Mata Hendry tajam. "Kau mengawasiku?"

"Saya menjaga Anda," jawab Budiman. "Perintahnya jelas. Jangan ganggu hidup Anda selama Anda masih ingin hidup biasa. Tapi jika keluarga Mahendra membuang Anda sampai tidak punya tempat, saya harus muncul."

Hendry ingin marah. Jadi Hartanto tahu ia dihina, tetapi tetap bersembunyi di balik orang lain.

"Aku tidak akan pulang ke keluarga Pratama."

"Saya tidak meminta Anda pulang."

"Lalu?"

"Gunakan identitas sederhana. Di mata orang luar, Anda bisa menjadi sopir pribadi saya. Keluarga Mahendra tidak akan curiga, dan Anda bisa bergerak tanpa menarik perhatian."

Sopir.

Hendry hampir tertawa. Mama Ayu baru saja menghinanya sebagai sopir. Budiman menawarkan hinaan yang sama sebagai topeng, dengan jaringan bisnis Kota Biru di baliknya.

"Kalau aku menolak?"

"Saya tetap akan menyiapkan tempat tinggal untuk Anda. Saya juga akan memastikan Nyonya Jessica dan Nona Daun aman dari jauh."

Mendengar nama Daun, wajah Hendry berubah.

"Jangan libatkan anakku."

"Justru karena itulah saya menghubungi Anda, Pak Hendry. Orang yang tidak punya kekuatan hanya bisa memohon agar keluarganya tidak disentuh. Orang yang punya kekuatan bisa memastikan siapa pun yang menyentuh mereka menyesal."

Kalimat itu diam di antara mereka.

Hendry menutup mata. Daun, surat perceraian, dan wajah lelah Jessica muncul bergantian.

Selama ini ia mengira menahan diri berarti menjaga mereka. Mungkin ia salah.

"Kirim alamat," kata Hendry.

"Mobil sudah menuju posisi Anda."

"Aku belum bilang setuju."

"Anda sudah tidak menutup telepon."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Hendry bergerak tipis. "Budiman Suryadi, kau cukup berani."

"Saya sudah menunggu hari ini selama tiga tahun, Pak Hendry."

Dua puluh menit kemudian, sebuah MPV hitam berhenti di tepi jalan. Pengemudinya turun dan membuka pintu belakang dengan sikap hormat.

Hendry masuk tanpa banyak bicara.

Mobil membawanya ke townhouse kecil di kawasan tenang Kota Biru. Tempatnya cukup rendah hati untuk seorang sopir, tetapi terlalu rapi untuk orang yang baru diusir tanpa uang.

Di ruang makan, Budiman Suryadi sudah menunggu. Ia berdiri saat Hendry masuk. Kemeja batiknya sederhana, tetapi tidak murah.

"Pak Hendry."

Hendry menatapnya lama. "Jangan panggil aku begitu di depan orang luar."

"Baik. Di luar, Anda Hendry, sopir saya."

"Di dalam?"

"Anda tetap pewaris yang seharusnya saya layani."

Sebelum Hendry menjawab, pintu belakang terbuka. Seorang pria bertubuh besar masuk sambil membawa dua kantong makanan. Wajahnya polos, tetapi langkahnya mantap.

Budiman memperkenalkan, "Bagus Prasetyo. Mulai hari ini, dia pengawal pribadi Anda."

Pria besar itu langsung menunduk. "Pak Hendry."

Hendry mengamati tangan Bagus. Buku-buku jarinya tebal. Ini bukan satpam biasa.

"Kau tahu kenapa dikirim ke sini?"

"Menjaga Pak Hendry," jawab Bagus.

"Kalau aku menyuruhmu pergi?"

Bagus berpikir sebentar, lalu menjawab jujur, "Saya pergi lima meter. Kalau ada bahaya, saya balik lagi."

Budiman batuk kecil, menahan senyum.

Hendry akhirnya duduk. "Kau membawa apa?"

"Nasi bungkus, Pak Hendry. Lima porsi."

"Untuk kita bertiga?"

Bagus tampak malu. "Untuk saya dulu. Kalau Pak Hendry mau, saya beli lagi."

Keheningan turun sesaat, lalu Hendry tertawa pelan. Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit longgar.

Budiman menggeser sebuah amplop tipis ke depannya. "Ini nomor kontak penting. Belum ada dokumen aset. Saya tidak akan memaksa Anda menandatangani apa pun malam ini."

"Besok," kata Budiman, "jika Anda siap, saya akan jelaskan struktur PT Garuda Perkasa Group dan aset lain yang sudah berada di bawah nama Anda."

Hendry menatap amplop itu. "Aku belum memaafkan Hartanto."

"Saya tidak meminta itu."

"Aku juga tidak akan membiarkan keluarga Mahendra tahu sekarang."

"Itu pilihan paling bijak."

Aroma ayam bakar dan sambal memenuhi ruangan. Perut Hendry baru sadar bahwa sejak pagi ia belum makan.

Bagus mendorong satu bungkus ke arahnya dengan hati-hati. "Pak Hendry makan dulu. Orang lapar gampang marah."

Hendry mengambilnya. "Kau sendiri sudah lima porsi."

"Kalau ada perang, saya perlu tenaga."

"Belum ada perang."

Bagus mengangkat kepala. Matanya yang biasanya polos tiba-tiba tajam. "Kalau Pak Hendry sudah diusir dari rumah sendiri, itu sudah perang."

Hendry berhenti membuka bungkus nasi.

Kalimat itu sederhana, tetapi benar.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Nama Jessica muncul di layar.

Hendry langsung mengangkat. "Jessica?"

Di ujung sana terdengar napas tersengal. Suara Jessica pecah, lemah, dan menahan sakit.

"Hendry... tolong... perutku sakit sekali..."

Episode 2

Bab 2: Rumah Sakit Milik Siapa?

"Hendry... tolong... perutku sakit sekali..."

Suara Jessica hampir putus di ujung telepon.

Hendry sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai. Bungkus nasi di tangannya jatuh kembali ke meja. Wajahnya, yang baru saja sedikit longgar, berubah dingin dan tajam.

"Kamu di mana?" tanyanya cepat.

"Rumah... kamar..." Napas Jessica tersendat. "Aku tidak kuat..."

"Jangan bergerak. Aku datang sekarang."

Ia menutup telepon dan menatap Budiman. Orang tua itu tidak perlu diberi penjelasan panjang. Ia langsung mengangkat ponselnya.

"Mobil siap di depan," kata Budiman. "Bagus ikut."

Bagus sudah berdiri. Nasi lima porsinya ditinggalkan begitu saja. Tubuh besarnya bergerak cepat menuju pintu, tidak ada lagi keluguan di wajahnya.

Hendry berlari ke mobil.

Malam Kota Biru basah oleh gerimis tipis. Lampu jalan memantul di aspal, memanjang seperti garis-garis pisau. Mobil hitam itu melesat tanpa suara berlebihan, tetapi kecepatannya membuat setiap belokan terasa seperti ditarik paksa.

Di kursi belakang, Hendry menggenggam ponsel. Nama Jessica masih terasa panas di layar.

Satu jam lalu ia diusir dari rumah itu.

Sekarang ia kembali.

Ia datang tanpa niat meminta tempat tidur atau membuktikan apa pun kepada Mama Ayu. Wanita yang selama tiga tahun ia panggil istri sedang kesakitan.

Ketika mobil berhenti di depan rumah keluarga Mahendra, pintu utama sudah terbuka. Mama Ayu berdiri di ruang tamu dengan wajah panik, rambutnya berantakan, jauh dari sikap angkuh pagi tadi.

"Hendry!" Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak penuh hinaan. "Jessica di atas! Dia sakit sekali!"

Hendry tidak menjawab. Ia naik tangga dua langkah sekaligus.

Jessica meringkuk di tempat tidur, satu tangan menekan perut kanan bawah. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Bibirnya gemetar, tetapi ketika melihat Hendry, matanya sedikit terbuka.

"Aku... tidak mau merepotkan..." bisiknya.

"Diam dulu." Suara Hendry rendah, tegas. "Kita ke rumah sakit."

Ia membungkuk dan mengangkat Jessica tanpa ragu. Tubuh Jessica ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang biasanya berdiri tegak memimpin rapat dan menahan semua masalah sendirian.

Mama Ayu mengikuti dari belakang. "Hati-hati! Jangan asal angkat! Kalau terjadi apa-apa, kamu--"

Hendry menoleh. Tatapannya membuat kalimat itu berhenti di tenggorokan Mama Ayu.

"Kalau Mama masih ingin Jessica selamat, jangan menghalangi."

Mama Ayu membeku.

Bagus membuka pintu mobil. Mama Ayu naik dengan wajah kusut, memegang tas Jessica dan kartu identitasnya. Mobil langsung meluncur ke RS Sejahtera, rumah sakit swasta terbaik di Kota Biru.

Di perjalanan, Jessica beberapa kali menggenggam baju Hendry karena nyeri. Hendry membiarkan tangannya dicengkeram sampai kainnya kusut.

"Bertahan," katanya. "Sebentar lagi sampai."

"Daun..." Jessica berbisik.

"Dia aman di rumah. Sekarang pikirkan dirimu."

Jessica menatapnya samar. Dalam sakitnya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun gelombang nyeri datang lagi, membuat tubuhnya menegang.

Begitu mereka tiba di IGD RS Sejahtera, perawat langsung membawa brankar. Dokter jaga memeriksa cepat, wajahnya serius.

"Kemungkinan apendisitis akut. Harus observasi dan siap operasi. Keluarga, urus administrasi sekarang."

Hendry mengangguk. "Siapkan yang terbaik."

Mama Ayu sudah kembali menemukan suaranya. "Tentu harus yang terbaik! Kami mau ruang VIP. Anak saya bukan pasien kelas biasa."

Petugas administrasi mengetik beberapa saat, lalu wajahnya berubah canggung. "Maaf, Bu. Ruang VIP penuh malam ini. Yang tersedia hanya kamar kelas satu."

"Penuh?" Mama Ayu membentak. "Ini RS Sejahtera. Rumah sakit sebesar ini masa satu ruang VIP pun tidak ada?"

"Sistem menunjukkan penuh, Bu."

Hendry berdiri di samping meja, masih menatap pintu IGD tempat Jessica dibawa masuk. "Coba cek lagi."

Petugas itu tampak ragu. Sebelum ia menjawab, seorang pria berkemeja putih dengan jas dokter datang dari koridor. Usianya sekitar empat puluhan, wajahnya licin, kartu jabatannya bertuliskan Wakil Kepala Bagian Rawat Inap.

"Ada masalah apa?" tanyanya.

Petugas administrasi cepat berdiri. "Pak, keluarga pasien Jessica Mahendra meminta ruang VIP."

Pria itu melihat Hendry dari kepala sampai kaki. Pakaian Hendry sederhana, tidak ada jam mahal, tidak ada pengawal yang tampak seperti pengusaha. Bagus berdiri beberapa meter di belakang dengan diam, tetapi pria itu bahkan tidak memperhatikannya.

"VIP sudah penuh," katanya datar. "Kalau mau kelas satu, silakan. Kalau tidak, tunggu."

Mama Ayu langsung menunjuk Hendry. "Lihat? Semua gara-gara kamu! Kalau kamu punya relasi sedikit saja, masa istrimu sakit harus menunggu kamar?"

Hendry tidak membalas.

Saat itu, suara laki-laki lain terdengar dari pintu masuk.

"Aduh, Tante Ayu? Jessica sakit?"

Yanto Mulyadi masuk dengan langkah santai, memakai polo mahal dan jam tangan mengilap. Di tangannya ada buket bunga yang jelas bukan dibeli untuk pasien darurat. Ia berhenti ketika melihat Hendry, lalu senyumnya melebar.

"Oh. Menantunya juga ada."

Mama Ayu seperti melihat penyelamat. "Yanto, kamu kenal orang rumah sakit ini, kan? Jessica butuh ruang VIP, tapi mereka bilang penuh."

Yanto melirik Hendry. "VIP? Itu gampang kalau tahu siapa yang harus ditelepon."

Ia berjalan ke meja administrasi, lalu menepuk bahu Wakil Kepala Bagian Rawat Inap seolah mereka teman lama.

"Pak, keluarga saya butuh satu kamar VIP."

Pria itu tersenyum lebih ramah dari tadi. "Pak Yanto, sebenarnya penuh, tapi saya coba cek lagi."

Kata-kata itu membuat mata Mama Ayu menyala. Ia langsung menatap Hendry dengan jijik lama yang kembali utuh.

"Kamu lihat? Inilah yang namanya kemampuan. Menggendong orang sakit saja tidak cukup."

Yanto tertawa pelan. "Tante, jangan terlalu keras. Pak Hendry mungkin memang tidak punya koneksi. Setiap orang punya nasib masing-masing."

Hendry mengeluarkan ponselnya.

Yanto melihat gerakan itu dan mencibir. "Mau telepon siapa? Teman ojek? Atau satpam kompleks?"

Mama Ayu tidak menahan diri. "Sudah, jangan pura-pura sibuk. Kalau tidak bisa bantu, minggir."

Hendry berjalan beberapa langkah menjauh dari meja administrasi. Ia menekan nomor Budiman.

Panggilan tersambung dalam satu nada.

"Pak Hendry?"

"RS Sejahtera," kata Hendry pendek. "Jessica butuh operasi dan ruang VIP. Mereka bilang penuh."

Di ujung sana, suara Budiman langsung berubah dingin. "Siapa yang mengatakan itu?"

"Wakil Kepala Bagian Rawat Inap."

"Tunggu tiga menit."

Hendry menutup telepon.

Tiga menit.

Yanto masih sibuk berbicara di depan meja, suaranya cukup keras agar semua orang mendengar.

"Saya kenal beberapa orang di yayasan rumah sakit ini. Kalau saya bicara, biasanya mereka paham."

Wakil Kepala Bagian itu mengangguk cepat. "Benar, Pak Yanto. Kami akan usahakan."

"Usahakan?" Hendry kembali berdiri di dekat mereka.

Yanto menoleh. "Kenapa? Tidak sabar? Orang tanpa koneksi memang biasanya cuma bisa marah."

Hendry menatapnya tenang. "Aku hanya ingin tahu. Kalau ruang VIP penuh, apa yang sedang kau usahakan?"

Wajah Wakil Kepala Bagian berubah sedikit.

Yanto menyipit. "Nada bicaramu cukup besar untuk seorang menantu yang baru diusir dari rumah."

Mama Ayu terkejut. "Yanto, kamu tahu?"

"Tante, Kota Biru kecil. Berita keluarga Mahendra cepat sekali menyebar." Yanto tersenyum tipis. "Saya hanya kasihan pada Jessica. Wanita sehebat dia harus bergantung pada laki-laki seperti ini."

Sebelum Mama Ayu menjawab, koridor mendadak ramai.

Beberapa dokter senior dan staf manajemen berjalan cepat dari lift. Di depan mereka, seorang pria berusia lima puluhan dengan jas dokter putih panjang melangkah paling cepat. Wajahnya tegang, dahinya berkeringat.

Wakil Kepala Bagian Rawat Inap langsung pucat.

"Direktur..."

Direktur RS Sejahtera tidak menatapnya. Ia berjalan melewati Yanto, melewati Mama Ayu, lalu berhenti tepat di depan Hendry.

Di bawah tatapan semua orang, ia membungkuk dalam.

"Pak Hendry, maafkan kelalaian kami."

Koridor seketika sunyi.

Yanto membeku.

Mama Ayu membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Hendry menatap Direktur itu. "Istri saya sedang menunggu tindakan medis."

"Operasi sudah kami siapkan. Dokter bedah terbaik sedang menuju ruang tindakan. Ruang VIP utama di lantai delapan kosong dan akan dibersihkan dalam lima menit."

Wakil Kepala Bagian Rawat Inap gemetar. "Tapi... tapi sistem tadi--"

Direktur berbalik. Tatapannya tajam seperti pisau.

"Sistem menunjukkan tiga ruang VIP kosong sejak pukul tujuh malam. Kenapa kau bilang penuh?"

Wajah pria itu langsung kehilangan warna. "Saya... saya hanya mengikuti prioritas pasien..."

"Prioritas atau pesanan pribadi?" suara Direktur turun menjadi dingin. "Mulai malam ini, kau dibebastugaskan. Besok pagi serahkan laporan tertulis ke komite etik rumah sakit."

"Direktur, saya--"

"Diam."

Satu kata itu memotong semua pembelaan.

Hendry tidak menikmati kepanikan pria itu. Matanya tetap tertuju ke pintu IGD.

"Pastikan operasi Jessica aman."

Direktur kembali membungkuk. "Kami akan bertanggung jawab penuh, Pak Hendry."

Yanto akhirnya menemukan suaranya. "Direktur, apa maksud Anda memanggil dia Pak Hendry? Dia hanya--"

Direktur menoleh, dingin dan sopan. "Pak Yanto, ini urusan internal RS Sejahtera. Mohon jangan mengganggu keluarga pasien."

Keluarga pasien.

Dua kata itu seperti tamparan di wajah Yanto.

Mama Ayu menatap Hendry seolah baru pertama kali melihatnya. "Hendry... kamu... kamu kenal Direktur?"

Hendry tidak menjelaskan. Ia hanya berkata, "Kenal beberapa orang."

Jawaban itu ringan, tetapi justru membuat koridor terasa lebih berat.

Beberapa menit kemudian, Jessica didorong menuju ruang operasi. Saat brankar melewati Hendry, Jessica membuka mata dengan susah payah.

"Hendry..."

Hendry menggenggam tangannya sebentar. "Aku di sini."

Jessica menatap wajahnya, masih pucat, tetapi genggamannya sedikit menguat sebelum perawat membawanya masuk.

Lampu ruang operasi menyala.

Waktu berjalan lambat. Mama Ayu duduk di kursi tunggu, masih gelisah, sesekali melirik Hendry. Yanto berdiri tidak jauh, wajahnya kaku. Ia ingin pergi, tetapi gengsinya menahannya.

Bagus berdiri di dekat pintu koridor seperti tembok hidup. Tidak ada yang berani mendekat sembarangan.

Satu jam kemudian, Direktur keluar bersama dokter bedah.

"Operasi berhasil," kata dokter bedah. "Apendiksnya hampir pecah. Untung cepat dibawa. Pasien akan dipindahkan ke ruang VIP untuk observasi."

Hendry menghela napas pelan. Baru kali itu bahunya turun.

Mama Ayu menutup wajah, hampir menangis. "Syukurlah..."

Yanto memaksakan senyum. "Baguslah. Kalau begitu saya--"

"Pak Yanto," kata Direktur tiba-tiba.

Yanto berhenti.

"Untuk kunjungan pasien Jessica Mahendra, harap mengikuti jam besuk resmi. Malam ini keluarga inti saja."

Wajah Yanto merah.

Kali ini, Hendry bahkan tidak perlu mengatakan apa-apa.

Setelah Jessica dipindahkan ke ruang VIP, koridor menjadi lebih tenang. Ruangan itu luas, bersih, dengan sofa pendamping dan kaca besar menghadap lampu kota. Mama Ayu berdiri di ambang pintu, matanya masih tidak percaya.

Ia baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Hendry yang tadi pagi ia usir, cukup menelepon satu kali untuk membuat Direktur RS Sejahtera berlari.

Menjelang subuh, pintu lift terbuka.

Michelle Mahendra berlari keluar dengan seragam sekolah yang belum rapi, napasnya terengah-engah. "Mbak Jessica gimana?"

"Sudah selesai operasi," jawab Hendry. "Aman. Masih tidur."

Michelle menatapnya. Matanya masih merah karena panik, tetapi di dalamnya ada kilatan yang berbeda.

Ia berjalan mendekat, menarik pelan lengan baju Hendry, lalu berbisik,

"Mas Hendry, tadi kamu keren banget. Kamu sebenarnya siapa sih?"

Episode 3

Bab 3: Menyelamatkan Perusahaan

"Mas Hendry, tadi kamu keren banget. Kamu sebenarnya siapa sih?"

Pertanyaan Michelle menggantung di koridor VIP RS Sejahtera.

Hendry menatap gadis itu. Michelle masih memakai seragam sekolah yang kusut, rambutnya diikat asal, matanya merah karena semalaman panik. Ia masih muda, tetapi rasa ingin tahunya tajam. Terlalu tajam untuk dibiarkan menyentuh rahasia yang belum waktunya terbuka.

"Aku suami Mbak Jessica," jawab Hendry tenang.

Michelle memutar mata. "Itu sih aku juga tahu."

"Kalau begitu cukup."

"Tidak cukup." Michelle mendekat setengah langkah, menurunkan suara. "Direktur rumah sakit membungkuk padamu. Mama sampai tidak bisa ngomong. Yanto juga seperti habis ditampar. Mas, orang biasa tidak bisa begitu."

Hendry tidak menjawab langsung. Dari balik kaca ruang VIP, Jessica tertidur dengan wajah pucat. Selang infus menetes pelan. Napasnya sudah stabil, tetapi tubuhnya masih lemah setelah operasi.

"Michelle," kata Hendry akhirnya, "kalau kamu ingin membantu kakakmu, jangan tanyakan hal yang belum bisa kujawab."

Michelle terdiam.

Nada Hendry tidak keras, tetapi ada sesuatu di baliknya. Bukan ancaman. Bukan kebohongan panik. Lebih seperti pintu besi yang ditutup dengan tenang.

"Baiklah," gumam Michelle. "Tapi aku akan cari tahu."

"Belajar dulu."

"Ih, Mas Hendry."

Ia cemberut, tetapi ketegangan di koridor sedikit mencair. Setelah Mama Ayu memaksanya pulang untuk sekolah, Michelle pergi dengan beberapa kali menoleh ke belakang.

Pagi berubah siang. Kota Biru bergerak seperti biasa di balik kaca ruang VIP, tetapi bagi Jessica, dunia seperti tertahan di satu titik: layar ponselnya.

Ketika ia bangun, hal pertama yang ia cari adalah ponsel. Air dan makanan baru menyusul setelah itu.

"Jangan dulu," kata Hendry, mengambil ponsel itu dari nakas.

Jessica menahan nyeri saat mencoba duduk. "Aku harus cek kantor."

"Dokter bilang kamu harus istirahat."

"Hendry." Suaranya serak, tetapi matanya sudah kembali menjadi mata seorang pemilik perusahaan. "PT Daun Kreasi punya deadline. Sampel untuk PT Surya Abadi harus selesai besok sore. Kalau gagal, kontrak itu bisa batal. Kalau kontrak batal, gaji bulan ini..."

Kalimatnya terputus oleh rasa sakit. Ia menekan perutnya, wajahnya kembali pucat.

Hendry menuangkan air dan membantu ia minum. "Siapa yang memegang desain?"

"Tina Larasati. Tapi dia..." Jessica menarik napas. "Dia mungkin tidak akan datang lagi. Ada masalah kontrak dengan perusahaan lamanya. Dia perlu uang Rp 50 Juta untuk menyelesaikan penalti. Aku belum bisa bayar."

"Bagian produksi?"

"Gilang Nugraha. Dia paling paham setting warna untuk bahan kemasan. Tapi sejak kemarin nomornya tidak aktif." Jessica menatap Hendry, rasa malu dan panik bercampur di matanya. "Aku tidak mau merepotkanmu, tapi perusahaan ini... aku membangunnya dari nol."

Hendry meletakkan gelas.

"Serahkan padaku."

Jessica menatapnya seolah ia baru mendengar bahasa asing.

"Kamu?" katanya pelan.

"Aku."

"Hendry, ini bukan urusan rumah. Ini kontrak bisnis. Ada vendor, invoice, desain, produksi, pengiriman--"

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu."

Ucapan itu keluar terlalu cepat. Setelah mengatakannya, Jessica tampak menyesal. Ia memalingkan wajah. "Maaf. Aku hanya..."

"Takut kehilangan semuanya," sambung Hendry.

Jessica diam.

Hendry mengambil kartu akses dan nomor kontak dari saku. "Aku tidak akan bertanya lebih banyak. Istirahat. Sore ini aku kembali dengan kabar."

"Jangan bikin masalah."

Hendry berhenti di pintu. Ia menoleh.

"Aku sudah terlalu lama tidak membuat masalah untuk orang yang pantas menerimanya."

Sebelum Jessica sempat memahami kalimat itu, Hendry sudah keluar. Bagus berdiri di koridor, punggungnya tegak.

"Pak Hendry?"

"Kita ke PT Daun Kreasi."

Bagus mengangguk. "Makan dulu?"

"Nanti."

Bagus tampak sedih selama tiga detik, lalu mengikuti.

Kantor PT Daun Kreasi menempati dua lantai ruko modern di kawasan bisnis kecil Kota Biru. Logo daun hijau di depan pintu terlihat bersih, tetapi suasana di dalamnya kacau. Beberapa staf duduk dengan wajah tegang, printer besar berhenti, dan meja desain penuh sampel yang belum selesai.

Begitu Hendry masuk, bisik-bisik muncul.

"Itu suami Bu Jessica..."

"Bukannya dia tidak kerja?"

"Kenapa dia datang?"

Hendry mendengar semuanya. Ia mengabaikannya.

Seorang staf perempuan mendekat dengan ragu. "Pak Hendry, Bu Jessica bagaimana?"

"Operasinya berhasil. Dia sedang pemulihan." Hendry menatap seluruh ruangan. "Saya perlu tahu status order PT Surya Abadi."

Staf itu bingung. "Pak?"

"File desain terakhir, daftar vendor, jadwal produksi, dan kontak Tina Larasati serta Gilang Nugraha. Bawa ke ruang meeting."

Nada itu tidak tinggi. Tetapi anehnya, orang-orang bergerak.

Mungkin karena mereka terlalu panik dan butuh seseorang mengambil komando. Mungkin karena mata Hendry tidak lagi seperti menantu yang bisa diabaikan. Dalam sepuluh menit, folder dan laptop sudah terbuka di ruang meeting.

Masalahnya jelas.

Desain utama belum final karena Tina membawa file working terakhir. Produksi tidak bisa jalan tanpa koreksi warna dari Golianto. Jika dua orang itu tidak kembali hari ini, sampel untuk PT Surya Abadi akan terlambat.

Terlambat berarti penalti.

Penalti berarti PT Daun Kreasi bisa jatuh.

Hendry menghubungi Tina dari nomor kantor. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua juga. Pada panggilan ketiga, suara perempuan terdengar dingin.

"Saya sudah bilang ke Bu Jessica, saya tidak bisa kembali."

"Ini Hendry Pratama."

Ada jeda. "Pak Hendry?"

"Kita bertemu sekarang. Di mana?"

"Tidak ada gunanya. Saya harus bayar penalti ke kantor lama. Kalau tidak, mereka akan sanksi saya. Saya tidak mau menyeret PT Daun Kreasi."

"Berapa?"

"Rp 50 Juta."

"Bawa salinan kontrak dan nomor rekening mereka. Saya tunggu di kantor."

"Pak, saya tidak minta--"

"Saya tidak sedang memberi bantuan pribadi. Saya menyelamatkan order perusahaan istri saya."

Satu jam kemudian, Tina Larasati datang dengan mata lelah dan map cokelat di tangan. Ia perempuan muda berwajah cerdas, rambutnya pendek, cara jalannya cepat seperti orang yang terbiasa dikejar deadline.

"Pak Hendry, saya sungguh minta maaf," katanya begitu duduk. "Saya pikir kalau saya pergi diam-diam, Bu Jessica tidak perlu ikut menanggung masalah saya."

Hendry membaca kontrak itu dengan teliti. Ada klausul penalti. Tidak ideal, tetapi sah. Ia lalu meminta staf keuangan membuat bukti transfer.

Tina melihat layar. Matanya melebar.

"Pak... ini benar-benar ditransfer?"

"Kirim ke perusahaan lama. Minta tanda terima tertulis dan surat pelepasan kewajiban hari ini."

"Tapi uang sebesar ini..."

"Kamu punya desain yang bisa menyelamatkan kontrak?"

"Punya."

"Kalau begitu bayarannya sudah murah."

Tina menggigit bibir. Matanya memerah, tetapi ia segera membuka laptop. "Saya akan selesaikan final artwork dalam dua jam."

Di luar ruang meeting, staf yang mendengar kabar itu mulai saling pandang. Rp 50 Juta. Bagi perusahaan kecil yang sedang sesak, itu seperti udara segar di ruang tertutup. Bagi Hendry, uang itu keluar tanpa suara, tanpa pamer, tanpa meminta ucapan terima kasih.

Tetapi masalah belum selesai.

Nomor Golianto masih tidak aktif.

Seorang operator produksi akhirnya bicara dengan suara pelan. "Pak Hendry... saya dengar Mas Golianto punya utang ke rentenir gelap. Ibunya masuk rumah sakit bulan lalu. Dia pinjam uang. Kemarin ada orang datang ke kontrakannya. Setelah itu dia tidak masuk."

Udara di ruang meeting berubah berat.

"Di mana tempatnya?" tanya Hendry.

Operator itu ragu. "Daerah gudang lama dekat pelabuhan kecil. Orang-orang bilang jangan ke sana. Mereka punya beking."

Bagus, yang sejak tadi diam di pojok, mengangkat kepala. "Berapa orang?"

Operator menelan ludah. "Saya tidak tahu, Mas. Tapi biasanya ada yang jaga. Badannya besar-besar."

Bagus tampak sedikit lebih cerah. "Oh."

Hendry menatapnya. "Kenapa terdengar senang?"

"Tidak, Pak Hendry. Saya hanya lapar."

Tina yang sedang mengetik berhenti sebentar, bingung. Staf lain tidak tahu harus tertawa atau takut.

Hendry berdiri. "Tina, selesaikan desain. Kirim final artwork ke produksi begitu Golianto kembali."

"Pak Hendry..." Tina berdiri. "Anda benar-benar akan ke sana?"

"Kalau Golianto dibutuhkan perusahaan, kita jemput."

"Tapi itu rentenir."

"Lebih baik. Mereka pasti mengerti hitungan untung rugi."

Hendry mengambil kunci mobil. Bagus mengikuti di belakangnya, kali ini tanpa bertanya soal makan.

Daerah gudang lama berada di sisi kota yang jarang disentuh keluarga Mahendra. Jalanan lebih sempit, lampu lebih jarang, dan aroma solar bercampur air laut menggantung di udara. Di antara bangunan tua, ada satu ruko lebar dengan pintu besi setengah tertutup. Di depannya, dua pria bertato merokok sambil menatap setiap kendaraan yang lewat.

Mobil Hendry berhenti di seberang jalan.

Dari dalam ruko terdengar suara laki-laki mengerang.

Hendry keluar.

Salah satu pria bertato membuang rokoknya. "Cari siapa?"

"Gilang Nugraha."

Pria itu tertawa. "Kalau mau ambil orang, bayar dulu."

Bagus berjalan satu langkah ke depan, masih dengan wajah polos. "Berapa?"

"Bos yang tentukan."

Pintu besi didorong dari dalam. Empat pria lain keluar, masing-masing memegang pipa besi. Di belakang mereka, samar terlihat Golianto terikat di kursi, wajahnya lebam.

Salah satu pria memutar pipa di tangannya. "Kalian berdua salah tempat."

Bagus menoleh pada Hendry.

"Pak Hendry," katanya sambil menggulung lengan baju, "yang ini boleh sebelum makan, kan?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!