***
Jalanan ibu kota sore itu diselimuti hujan gerimis yang menyebalkan. Intan melangkah gontai menyusuri trotoar yang basah, menggenggam erat sebuah kardus cokelat berisi barang-barang pribadinya. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan hatinya hancur berkeping-keping.
"Baru tiga minggu..." gumam Intan lirih pada dirinya sendiri. "Belum juga sebulan gue kerja di BUMC, belum sempat ngerasain gaji pertama secara utuh, malah kena efisiensi. PHK massal. Ya Tuhan, dosa apa gue di kehidupan sebelumnya?"
Ia menghela napas panjang, merapatkan mantelnya yang mulai basah kuyup. Bayangan tentang tagihan kosan, cicilan, dan bagaimana cara menjelaskan situasi ini kepada orang tuanya terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Ketika Intan hendak menyeberang di lampu merah, sebuah suara klakson berdaung nyaring dan membingitkan telinga memecah suara gemericik hujan.
HOOONKKK!
Intan menoleh. Lampu sorot raksasa dari sebuah truk tronton yang mengalami rem blong meluncur deras ke arahnya. Cahaya menyilaukan itu adalah hal terakhir yang dilihatnya sebelum tubuhnya terhempas keras, disusul rasa sakit luar biasa yang menghantam seluruh kesadarannya, lalu... kegelapan total.
Rasa sakit yang menghancurkan tulang-tulangnya perlahan menghilang, berganti dengan sensasi aneh yang begitu lembut. Intan merasa seolah-olah dirinya tenggelam di atas tumpukan awan. Ada aroma harum yang lembut—perpaduan antara bunga lavender dan kayu murni—menusuk hidungnya.
Intan mengerjap-kerjapkan matanya yang terasa sangat berat.
"Aduh... kepala gue," desisnya sambil mencoba duduk.
Namun, begitu penglihatannya kembali jernih, napas Intan tertahan di tenggorokan. Ia tidak berada di ruang UGD rumah sakit yang berbau karbol dan penuh raungan sirine.
Ia berada di sebuah kamar yang sangat luas—bahkan jauh lebih luas dari rumah keluarganya di kampung. Langit-langit kamar itu dihiasi lukisan mural bergaya renaisans dengan ukiran emas yang megah. Tempat tidur yang ia tiduri berukuran sangat besar, dilapisi sprei sutra tebal berwarna krem dengan kelambu transparan yang terikat di tiang-tiang ukir. Di sudut ruangan, berdiri sebuah perapian batu alam yang memancarkan kehangatan, serta jendela-jendela kaca patri raksasa khas kastil Eropa abad pertengahan.
"Gue... di mana? Ini rumah sakit mana yang desainnya begini?" Intan bergumam panik, meraba-raba kasur empuk di bawahnya. "Jangan-jangan gue udah mati dan masuk surga? Tapi kok furniturnya klasik banget?"
Belum sempat Intan mencerna situasinya, pintu kayu jati ganda yang tinggi di ujung kamar terbuka secara tiba-tiba. Seorang gadis muda berpakaian unik—gaun hitam berkerah tinggi dengan celemek putih bersih ala pelayan kerajaan zaman dahulu—melangkah masuk membawa nampan berisi wadah air dan kain.
Gadis itu mendongak, dan seketika nampan tembaga di tangannya terlepas, jatuh ke lantai marmer dengan suara nyaring yang menggema.
PRANG!
"Yang Mulia!" jerit gadis itu dengan mata terbelalak lebar. Air matanya seketika menetes. Dengan tergesa-gesa, ia berlari mendekati ranjang dan berlutut di samping Intan. "Terima kasih, Dewa! Anda sudah siuman! Anda akhirnya bangun, Yang Mulia!"
Intan mundur beberapa sentimeter secara refleks, merasa asing dan terintimidasi oleh reaksi berlebihan gadis di depannya.
"A-apa? Apa yang kamu bilang tadi?" tanya Intan dengan nada bingung dan terbata-bata. "Kamu siapa? Terus... Yang Mulia siapa?"
Gadis muda itu menatap Intan dengan raut wajah penuh kekhawatiran, menyapu air mata di pipinya. "Yang Mulia, apakah Anda merasa pusing? Apakah ingatan Anda terganggu? Ini saya, Lisa! Pelayan Anda! Dan Anda adalah Yang Mulia Grand Duchess Iris... istri dari Grand Duke Darian von Ravengard!"
DEG.
Kata-kata itu menghantam benak Intan seperti hantaman truk tronton untuk kedua kalinya di siang bolong.
"G-Grand Duchess... Iris? Darian von... Ravengard?" Intan mengulang nama-nama itu dengan mulut ternganga.
Nama-nama itu tidak asing. Sama sekali tidak asing! Itu adalah nama-nama karakter utama dari novel fantasi dark romance favorit yang selalu ia baca saat senggang di kantor!
'Tunggu, tunggu, tunggu!' pikir Intan, panik setengah mati. 'Iris von Draewyn?! Putri berambut perak dari Utara yang menikah karena aliansi politik dengan Panglima Tertinggi berdarah dingin, Darian von Ravengard?! Jadi... gue mati ditabrak tronton terus malah masuk ke dalam tubuh tokoh fiksi ini?!'
Intan memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa berputar. Ia mengingat dengan jelas jalan cerita novel tersebut. Iris adalah karakter yang sangat tragis—seorang istri yang diabaikan oleh suaminya yang kejam, hidup dalam kesepian di Kastil Ravengard, dan berakhir tewas secara misterius di umur yang muda.
"Nggak, nggak mungkin... Ini mimpi, kan?" bisik Intan pada dirinya sendiri. Ia lalu menatap gadis pelayan yang menatapnya cemas. "Tolong... bisakah ambilkan saya cermin? Sekarang!"
"B-baik, Yang Mulia! Mohon tunggu sebentar!"
Lisa dengan cekatan berlari ke arah meja rias berukir emas di sudut kamar, mengambil sebuah cermin genggam berlapis perak yang indah, lalu menyerahkannya kepada Intan dengan tangan gemetar.
Dengan jantung yang berdegup kencang bak drum perang, Intan mengangkat cermin tersebut ke depan wajahnya.
Mata Intan membelalak.
Pantulan di dalam cermin itu sama sekali bukan wajah 'Intan'—gadis kantoran yang lelah dengan kantung mata hitam dan kulit kusam akibat sering begadang. Di dalam cermin itu, terpantul sosok wanita yang sangat cantik luar biasa. Kulitnya halus bagai porselen, putih bersih dengan rona merah muda alami di pipinya. Matanya berwarna violet jernih bagai batu permata. Dan yang paling menakjubkan adalah rambutnya—rambut panjang berwarna perak berkilau yang terurai indah di atas bahunya bagai benang-benang sutra perak.
"Gila..." gumam Intan tanpa sadar, menyentuh pipinya yang halus. "Ini benar-benar Iris... Cantik banget, gila. Wajah gue dulu kalah jauh!"
Di tengah kekagumannya pada paras baru yang tidak masuk akal itu, Lisa kembali mendekat dengan raut wajah yang sedikit lebih tenang namun masih tersirat kecemasan mendalam.
"Saya sangat lega Anda sudah siuman, Yang Mulia. Tiga hari Anda tidak sadarkan diri setelah pingsan di taman," kata Lisa lembut. tangannya terlipat di depan dada. "Tabib istana mengatakan kondisi Anda sangat lemah saat itu. Kami semua sangat mengkhawatirkan Anda... terutama tentang kondisi bayi yang ada di dalam kandungan Anda."
Langkah jantung Intan seketika terhenti.
"B-bayi?" Intan menunduk kaku, menatap perut ratanya yang terbalut gaun tidur sutra berwarna merah muda pucat. "Bayi... apa?"
"Apakah Anda tidak ingat, Yang Mulia?" Lisa menatapnya heran. "Anda sedang hamil muda. Di dalam rahim Anda, sedang tumbuh calon pewaris dari Duchy of Ravengard."
Intan menelan ludah dengan susah payah. Sensasi dingin merayapi punggungnya. Memory tentang alur cerita novel itu mendadak menghantam otaknya secara beruntun.
'Kandungan... hamil muda...'
Intan ingat sekarang! Dalam novel, Iris memang sempat hamil. Namun karena hubungan yang sangat dingin dengan suaminya, Darian—sang Panglima Tertinggi yang tidak pernah menunjukkan kasih sayang dan selalu sibuk di medan perang—Iris menjalani masa kehamilannya dalam kesendirian, tekanan mental, dan keputusasaan hingga akhirnya kehilangan nyawanya secara tragis.
Iris von Draewyn adalah wanita yang diabaikan. Dan kini, Intan berada di dalam tubuh wanita itu, mengandung anak dari seorang pria kejam yang dijuluki The Iron Blood Reaper.
Intan perlahan meletakkan tangannya di atas perutnya. Di bawah telapak tangannya yang hangat, ada sebuah nyawa kecil yang kini menggantungkan hidup padanya.
'Gue baru aja di-PHK, mati ditabrak tronton, dan sekarang terbangun jadi istri dari panglima perang paling kejam di dunia ini... dalam keadaan hamil muda?' Intan menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar megahnya. 'Tuhan, skenario macam apa lagi ini?!'
Bersambung
****
Malam semakin larut. Kastil Ravengard yang megah merayap masuk ke dalam keheningan yang mencekam. Angin malam bertiup kencang di luar, menyiulkan nada-nada dingin yang menggetarkan kaca-kaca jendela tinggi.
Di dalam kamar utama yang amat luas, Intan—yang kini secara resmi mendiami tubuh Iris von Draewyn—sedang duduk anggun di depan meja rias berukir emas. Tangannya yang halus dan jemari lentiknya memegang sebuah sisir kayu bermotif rumit, membelai pelan tiap helai rambut panjang peraknya yang jatuh indah melampaui pinggang.
Lilin-lilin beraroma terapi memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantulkan bayangan wajahnya di cermin perak.
"Gila..." gumam Iris—ia memutuskan untuk menyebut dirinya Iris mulai sekarang—sambil menggeleng-gelengkan kepala. Matanya tak henti mengagumi pantulan diri di cermin. "Coba lu bayangin, wanita secantik ini, dengan kulit porselen bening glowing alami dan rambut perak berkilau bagai perhiasan berjalan begini... bisa-bisanya disia-siain sama suaminya? Apalagi gue yang dulu? Muka kusam akibat sering kena asap knalpot dan begadang ngerjain spreadsheet BUMC, makin degil nggak ada obat!"
Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi berlapis bludru. Tangannya berganti meraba perutnya yang masih terasa datar.
"Mana nasib gue ngenes banget lagi," gerutusnya pelan. "Di dunia nyata jomblo akut dari lahir, boro-boro pacaran, ditembak cowok aja cuma pas masa orientasi siswa buat bahan taruhan. Baru juga keterima kerja, belum sebulan kena efisiensi PHK massal. Mati ditabrak tronton, eh... bangun-bangun malah nyasar jadi istri orang! Hamil muda pula!"
Iris menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pipinya mendadak terasa panas bagai dibakar api.
"Aduh... pegangan tangan sama cowok aja nggak pernah secara romantis, ini malah udah mau jadi ibu. Masa gue langsung lewatin tahapan pacaran? Mana suaminya modelan pembantai berdarah dingin begini lagi!" pekiknya dalam bisikan yang tertahan, rasa malu dan absurd bercampur aduk di dalam dadanya.
Kruuukkk...
Suara nyaring dari perutnya memecah kesunyian malam. Iris menghentikan gerakannya, memegang perutnya yang mendadak terasa perih dan kosong.
"Duh, lapar lagi..." bisiknya. Ia melirik jam dinding kuno berukir yang menunjukkan pukul satu malam. "Tapi kok... tiba-tiba gue pengin banget makan puding mangga, ya? Manis, dingin, kenyal... aduh, bayanginnya aja ludah gue mau menetes."
Iris menoleh ke sudut ruangan. Di atas sofa panjang, Lisa—pelayanan setianya—tertidur lelap dengan selimut tipis membungkus tubuhnya. Gadis muda itu pasti sangat kelelahan setelah tiga hari berturut-turut menjaganya tanpa istirahat.
"Kasian Lisa kalau dibangunin cuma gara-gara gue ngidam jam satu malam," gumam Iris lirih. Ia bangkit berdiri dari kursi rias. "Apa gue cari sendiri aja ke dapur, ya? Harusnya dapur kastil sebesar ini punya persediaan buah atau makanan manis, kan?"
Dengan memantapkan hati, Iris berjalan pelan menuju pintu. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih bersih dengan potongan melayang yang menyapu lantai marmer dingin. Rambut peraknya dibiarkan tergerai bebas, terurai indah di sepanjang punggungnya bagai jubah cahaya.
Ia mendorong pintu kayu ganda yang berat itu perlahan agar tidak menimbulkan suara decitan, lalu melangkah keluar.
Lorong kastil di malam hari terasa luar biasa megah sekaligus agak mengerikan. Dinding-dinding batu obsidian yang tinggi dihiasi oleh obor-obor dinding yang menyala remang-remang, menciptakan tarian bayangan yang panjang di sepanjang jalan.
Iris berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan langkah hati-hati. Gaun tidurnya meliuk-liuk mengikut langkahnya. Meskipun dinginnya malam menembus kain sutranya, rasa penasaran dan decak kagum Iris terhadap bangunan klasik ini sedikit mengalihkan rasa takutnya.
"Gila, ini kastil beneran have-have banget yang punya," bisik Iris terkagum-kagum sembari memperhatikan setiap deretan zirah besi dekoratif yang berdiri gagah di sisi koridor. "Kalo ini dijual di dunia nyata, harganya bisa buat beli satu kabupaten kali, ya? Darian von Ravengard ini tajir melintir tapi sayang hatinya sekeras batu bata."
Langkahnya terhenti tepat di ujung lorong utama, di mana koridor bercabang dua. Matanya tertuju pada sebuah lukisan minyak raksasa berbingkai emas tebal yang terpajang megah di dinding utama.
Iris melangkah mendekat, mendongakkan kepala untuk mengamati lukisan itu lebih jelas.
Di dalam lukisan tersebut, digambarkan seorang pria gagah berbalut seragam militer hitam keemasan. Jubah panjang berwarna merah gelap melingkupi bahunya yang tegap. Pria itu memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung yang sempurna, serta mata berwarna kelabu tajam bagai mata pisau yang siap mengoyak siapa saja yang menatapnya. Ketampanannya sangat tidak masuk akal, namun aura dingin yang dipancarkan dari lukisan itu sanggup membuat bulu kuduk berdiri.
"Ck, ck, ck..." Iris menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ganteng sih ganteng, tapi raut mukanya datar banget kayak papan gilas. Kelihatan galak dan nggak punya perasaan. Tampan-tampan begini kelakuannya mirip banget sama atasan gue di BUMC dulu—muka rata, nggak pernah senyum, hobinya bikin orang kena mental."
Iris menghela napas, hendak berbalik mencari tangga menuju dapur. "Nggak heran si Iris asli stres hidup sama kanebo kering kayak gini—"
"Apa yang sedang kau rencanakan lagi malam ini, Iris?"
Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan teramat dingin tiba-tiba berbisik dari arah belakang tubuhnya, sangat dekat dengan telinganya.
Iris melonjak kaget, hampir saja melompat dari pijakannya. Jantungnya serasa mau copot dan melompat keluar dari dada. Dengan napas memburu, ia berbalik secara mendadak hingga gaun putihnya terkibar tajam.
Di depannya, berdiri sesosok pria tinggi besar yang seolah-olah baru saja melangkah keluar dari lukisan raksasa di dinding itu.
Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengan yang keras dan kuat. Bahunya lebar, mendominasi pandangan Iris yang harus mendongak cukup tinggi untuk menatap wajahnya. Mata berwarna kelabu tajam itu kini menatapnya lurus-lurus tanpa emosi—persis seperti mata serigala yang sedang mengawasi mangsanya di tengah malam.
Darian von Ravengard. Sang Grand Duke sekaligus Panglima Tertinggi Kekaisaran.
Aura keberadaan pria di depannya ini begitu menekan, jauh lebih intimidatif daripada yang ia bayangkan dari sekadar tulisan di novel.
Darian melangkah maju satu tapak. Sepatu boots kulitnya menghantam lantai marmer, menimbulkan suara benturan kaku yang menggema di lorong sepi.
"Kau baru saja bangun dari pingsanmu selama tiga hari," ucap Darian dengan suara bernada rendah, tak ada sedikit pun kehangatan di dalamnya. "Dan bukannya beristirahat di kamar, kau malah berkeliaran di lorong kastil dengan gaun tidur tipis di tengah malam... sambil bergumam sendiri di depan lukisanku?"
Mata kelabu Darian menyapu penampilan Iris dari atas ke bawah. Tatapannya tertahan sejenak pada rambut perak yang terurai bebas dan gaun putih tipis yang mencetak siluet tubuh wanita itu, sebelum akhirnya kembali menatap manik mata violet Iris yang bergetar panik.
"Katakan padaku," lanjut Darian dingin, memiringkan kepalanya sedikit. "Rencana kekanakan apa lagi yang sedang kau susun untuk menarik perhatianku kali ini, Grand Duchess?"
Alis Darian bertaut tipis. Ada kilatan terkejut yang sangat tipis di matanya saat mendengar nada bicara Iris yang tidak seperti biasanya—tidak ada getaran ketakutan, tidak ada nada merajuk yang menyebalkan.
****
Bersambung....
***
Darian melangkah maju perlahan, setiap pijakan sepatu boots kulitnya menghasilkan gema kaku di lorong batu yang dingin. Posturnya yang tinggi tegap serta wibawa alami seorang Panglima Tertinggi menciptakan tekanan udara yang berat di sekitar mereka. Nyali Intan yang berada di dalam tubuh Iris benar-benar menciut. Logika gadis modern itu mendadak menguap, tergantikan oleh rasa terintimidasi yang begitu nyata dari sosok pria di depannya.
Darian berhenti tepat dua langkah di hadapan Iris. Ia menunduk sedikit, menatap wajah istrinya yang terbingkai rambut perak berkilau.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan di tengah malam begini, Grand Duchess?" tanya Darian kembali, suaranya seperti bilah es yang menggores permukaan danau membeku.
Iris menelan ludah dengan susah payah. Ada sensasi aneh yang tiba-tiba bergejolak di dalam dadanya—sebuah dorongan emosional yang amat asing, seolah-olah hormon tubuh Iris yang sedang hamil ini mulai mengambil alih kesadaran Intan.
"S-saya... lapar," sahut Iris, suaranya mencicit pelan.
"Lapar?" Darian mengulang kata itu dengan alis terangkat tipis, menatap Iris dengan raut wajah yang penuh ketidakpercayaan. Pria itu menghela napas pendek, menganggap situasi ini tak lebih dari sekadar kerumitan sepele. "Baiklah. Kalau hanya itu, kau bisa memanggil Lisa dan memerintahkan koki istana untuk memasak untukmu. Kau tidak perlu berkeliaran di lorong seperti ini."
"TIDAK!" sahut Iris lantang secara refleks.
Darian mengerutkan keningnya dalam-dalam. Kilatan jengkel yang sangat tipis berdesir di mata kelabunya. "Tidak?"
Iris refleks menutup mulutnya sendiri, terkejut dengan nada bicaranya yang mendadak meledak-ledak. Namun, dorongan dari dalam dirinya makin tidak terkendali.
"S-saya... saya cuma ingin makan puding mangga!" sahut Iris lagi, kali ini dengan nada yang hampir mirip gumaman merajuk sambil jemari lentiknya mengelus pelan perutnya yang masih rata. "Puding mangga yang manis, dingin... yang lembut..."
Darian menatap pergerakan tangan Iris di atas perut wanita itu, lalu kembali menatap manik mata violet istrinya yang kini mulai berkaca-kaca. Senyum miring yang kaku dan penuh ironi terukir di bibir sang Grand Duke.
"Ck. Jangan terlalu kekanak-kanakan, Iris," ucap Darian dingin, nadanya lugas tanpa basa-basi. "Ingat posisimu sebagai Grand Duchess dari Ravengard. Jangan membuat keributan konyol hanya karena hal yang tidak masuk akal di jam satu malam."
Kalimat itu sebenarnya hanyalah teguran datar yang biasa Darian ucapkan. Namun, bagi Iris saat ini, kata-kata itu menghantam dadanya seperti pukulan telak. Tiba-tiba saja, gelombang rasa sedih, sebal, lelah, dan rasa tidak dihargai menyeruak hebat dari dalam dadanya.
Darian tidak menunggu jawaban. Pria berdarah dingin itu langsung membalikkan tubuhnya, berniat kembali ke ruang kerjanya dan mengabaikan drama malam ini.
Namun, baru dua langkah Darian menjauh, sebuah suara tangisan pecah di belakangnya.
“Huk... hiks... hh-hawaaa...”
Iris berdiri terpaku di tengah lorong, kedua tangannya menutup wajah, dan air mata deras mengalir membasahi pipi mulusnya. Ia menangis tersedu-sedu bagaikan anak kecil yang tidak dituruti kemauannya saat berada di toko mainan.
Di dalam kepalanya, Intan menangis batin panik setengah mati. 'Gila! Kenapa gue menangis begini?! Woi, Intan! Lu kan cewek independen mantan anak BUMC, kenapa cuma gara-gara dimarahin kanebo kering ini lu malah mewek kayak bocah TK?! Ini hormon ibu hamil jenis apa lagi, Tuhan?!'
Namun, tubuh Iris tidak bisa dikompromi. Isakannya semakin keras dan badannya gemetaran hebat. Rasa pusing yang mencengkram kepalanya secara mendadak membuat pandangannya mulai berbayang-bayang.
Darian terhenti di tempatnya. Ia memejamkan mata sejenak, mengepalkan jemarinya di sisi tubuh. Pria itu merasa sangat jengah. Drama apa lagi yang sedang dimainkan oleh wanita ini? Apakah dia berpura-pura menangis agar aku menaruh simpati? pikir Darian sinis.
Ketika Darian hendak berbalik untuk menegurnya kembali, sebuah jeritan melengking memecah keheningan lorong dari arah belakang Iris.
"Yang Mulia Grand Duchess!"
Lisa, yang rupanya terbangun karena mendengar kegaduhan dan menyusuri lorong, berlari terengah-engah dengan wajah pucat pasi. Gadis pelayan itu melihat nyonyanya menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang sudah oleng dan hampir jatuh menghantam lantai marmer yang keras dan dingin.
"Yang Mulia!" jerit Lisa lagi saat melihat lutut Iris terkulai.
Suara panik pelayan itu membuat Darian berbalik secara instan. Mata kelabunya membelalak saat melihat tubuh rapuh bergaun putih itu mulai kehilangan kesadaran dan ambruk ke belakang.
Srett!
Tanpa berpikir panjang, refleks militer Darian bertindak lebih cepat dari pikirannya. Dalam satu gerak cepat, Darian melangkah lebar dan menangkap tubuh Iris tepat sebelum kepalanya membentur lantai.
Tubuh ringan beraroma harum bunga lavender itu kini berada penuh di dalam dekapan dadanya yang bidang. Wajah Iris pucat pasi, matanya terpejam rapat, dengan sisa-sisa air mata yang masih basah di sudut matanya.
"Iris!" panggil Darian, suaranya yang biasa datar kini menyiratkan ketegangan yang nyata. Ia menepuk pelan pipi dingin istrinya, namun Iris sama sekali tidak bergeming.
Darian menoleh tajam ke arah Lisa yang sudah berlutut gemetaran di sampingnya.
"Cepat panggil tabib sekarang juga!" perintah Darian dengan suara menggelegar yang penuh otoritas militer. "Suruh dia datang ke kamarku detik ini juga!"
"B-baik, Yang Mulia! Baik!" Lisa menyapu air matanya dan segera berlari secepat angin menyusuri tangga.
Darian tidak membuang waktu. Tanpa ragu, ia menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Iris dan tangan lainnya di punggung wanita itu, lalu mengangkat tubuh istrinya dalam gendongan bridal carry. Kain gaun tidur sutra putih milik Iris terkibar pelan, dan rambut peraknya yang panjang terurai jatuh menjuntai di atas lengan berotot Darian.
Dengan langkah-langkah lebar dan tergesa-gesa, Darian membawa Iris menuju kamar pribadinya yang terletak paling dekat dari lorong tersebut.
Pintu kamar sang Grand Duke terbuka lebar. Berbeda jauh dengan kamar utama Iris yang sangat luas, megah, dan penuh dengan ukiran emas yang hangat, kamar pribadi Darian jauh lebih sederhana dan terkesan dingin.
Ukuran ruangannya tidak terlalu besar. Di dalamnya hanya terdapat sebuah ranjang kayu berukir tegas tanpa kelambu mewah, sebuah kursi santai dari kulit hitam yang sudah agak aus, serta meja kerja besar yang penuh dengan tumpukan peta taktik perang, dokumen wilayah, dan lilin yang hampir padam. Suasana ruangan itu terasa sangat suram dan minim ornamen—mencerminkan pemiliknya yang hanya menggunakan kamar ini sebagai tempat melepas lelah sejenak dari urusan negara.
Darian melangkah mendekati ranjang tunggalnya. Dengan sangat hati-hati—sebuah gerakan lembut yang bertolak belakang dengan reputasinya sebagai jagal berdarah dingin—ia membaringkan tubuh halus Iris di atas kasurnya.
Ia menarik selimut tebal berwarna abu-abu tua hingga menutupi dada Iris, memastikan udara malam yang dingin tidak menusuk kulit porselen wanita itu.
Darian bergeming di samping ranjang. Ia menunduk, menatap wajah istrinya yang terbaring kaku. Warna di bibir mungil Iris telah memudar, berganti menjadi pucat pasi. Napas wanita itu terdengar halus namun teratur.
Darian perlahan merapatkan jemarinya. Di dalam benaknya, bayangan Iris yang menangis tersedu-sedu hanya karena menginginkan puding mangga kembali berputar. Mengapa wanita yang biasanya penuh dengan kepalsuan dan ambisi ini mendadak menjadi begitu rapuh dan kekanak-kanakan?
Atau... apakah ini adalah dampak dari nyawa kecil yang kini tengah tumbuh di dalam rahim wanita itu?
Darian menghela napas berat, tangannya yang kasar merapikan sehelai rambut perak Iris yang menutupi dahinya. Tatapan matanya yang biasa dingin kini menyimpan keputusasaan dan kebingungan yang tak terucapkan.
"Sebenarnya... apa yang harus aku lakukan padamu, Iris?" bisik Darian pelan, suaranya tenggelam di dalam keheningan kamar suram itu.
Bersambung.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!