Bab 001: Tanda Tangan Sebelum Kiamat
"Tanda tangani."
Suara Om Rusli Wijaya terdengar lembut, tetapi map hitam yang ia dorong ke depan Hendra seperti pisau di atas meja rapat.
Di dalam map itu ada dokumen pengalihan wewenang operasional PT Wijaya Sentosa.
Satu tanda tangan, dan Hendra akan berubah dari ahli waris menjadi pajangan.
Tiga bulan lagi, orang-orang di ruangan ini akan mengais makanan basi dengan tangan gemetar.
Pagi ini, mereka masih merasa sedang menang.
Hendra menatap pulpen perak di atas kertas.
Ujung pulpen itu menunjuk ke garis kosong di bawah namanya.
Hendra Wijaya.
Nama yang dulu ia tulis dengan tangan bergetar.
Di kehidupan lalu, ia marah. Ia membanting meja. Ia berteriak bahwa Om Rusli mencuri kuasa keluarga, bahwa Handoko bukan penyelamat perusahaan, bahwa kecelakaan ayah dan ibunya terlalu bersih untuk disebut musibah.
Hasilnya?
Ruang rapat menertawakannya.
Dokter perusahaan menyebutnya stres.
Media menyebutnya ahli waris muda yang tidak stabil.
Lalu satu per satu, saham, vila, rekening, dan nama keluarganya jatuh ke tangan orang lain.
Setelah itu dunia runtuh.
Panas ekstrem membakar Jakarta. Hujan besar menelan jalan-jalan pesisir. Lalu badai putih datang, menutup langit, membekukan kota, gudang, mayat, dan hati manusia.
Empat tahun Hendra bertahan.
Empat tahun ia menimbun makanan, merebut obat, menjaga api kecil di bunker, dan tidur dengan pisau di dekat tangan.
Ia tidak mati karena dingin.
Ia mati karena percaya.
Di lantai beton suaka penyintas, racun membakar tenggorokannya. Orang-orang yang ia selamatkan membongkar gudangnya, mengambil stok terakhirnya, lalu menutup pintu dari luar.
Sebelum napasnya putus, ia mendengar seseorang berkata, "Maaf, Bang. Dunia sudah berubah."
Lalu Hendra membuka mata di ruang rapat ini.
Tiga bulan sebelum kiamat.
Sebelum semua pengkhianat punya alasan untuk membuka taring.
Sebelum setiap rupiah di dunia lama berubah menjadi kertas sampah.
"Pak Hendra?" Sekretaris rapat menunduk canggung. "Dokumennya sudah ditandai. Bapak tinggal tanda tangan di tiga halaman."
Beberapa komisaris saling pandang.
Salah satu pria berjas abu-abu mendengus. "Kalau keputusan sekecil ini saja lama, bagaimana mau memegang perusahaan sebesar Wijaya Sentosa?"
Tawa kecil menyebar.
Handoko duduk di samping Om Rusli. Jasnya rapi, cangkir kopinya belum tersentuh, senyumnya sabar seperti orang tua yang sedang menghadapi anak keras kepala.
"Hendra," kata Handoko, "ini bukan perebutan. Ini perlindungan. Ayahmu pasti ingin perusahaan tetap stabil."
Nama ayahnya keluar dari mulut Handoko.
Ruang rapat terasa lebih dingin.
Jari Hendra berhenti di atas pulpen.
Kalau ini kehidupan lalu, ia sudah berdiri dan menghantam wajah pria itu.
Tapi kali ini, ia hanya mengangkat mata.
"Perlindungan?" tanya Hendra.
Om Rusli segera tersenyum. "Ya. Sementara saja. Om tetap keluargamu. Kau masih muda. Biarkan orang yang berpengalaman mengurus bagian beratnya."
"Bagian berat," ulang Hendra pelan.
Ia melihat tangan Om Rusli.
Tangan itu pernah menepuk bahunya di pemakaman.
Tangan itu pernah memeluknya di depan kamera.
Tangan itu juga yang, di kehidupan lalu, menyerahkan dokumen palsu ke notaris dan membuatnya terusir dari perusahaan ayahnya sendiri.
Kebencian naik dari dada Hendra.
Tebal. Panas. Hampir membuat napasnya berat.
Namun tepat saat amarah itu menyentuh tenggorokan, cincin tembaga di jari manis kanannya terasa dingin.
Hendra menunduk sedikit.
Cincin pusaka keluarga Wijaya.
Kusam. Tua. Tidak berharga di mata orang lain.
Tapi dalam kehidupan lalu, benda inilah yang membuatnya bertahan lebih lama daripada manusia biasa.
Ruang Penyimpanan.
Ruang gelap tanpa waktu. Makanan tetap panas. Obat tidak rusak. BBM tidak menguap. Selama benda itu mati, ia bisa disimpan di sana.
Di akhir kehidupan lalu, ruang itu sudah cukup besar untuk menelan truk dan kontainer.
Kalau cincin ini ikut kembali...
Mata Hendra perlahan menjadi tenang.
Om Rusli salah membaca ketenangan itu sebagai menyerah.
"Bagus," katanya cepat. "Tanda tangani sekarang. Setelah itu kita lanjutkan proses notaris dan RUPS."
Hendra mengambil pulpen.
Semua orang menunggu.
Ujung pulpen menyentuh kertas.
Lalu berhenti.
"Saya ke toilet sebentar."
Wajah Om Rusli membeku sekejap. "Sekarang?"
"Sekarang."
Handoko menatapnya lebih tajam. "Jangan terlalu lama, Pak Hendra. Semua orang punya jadwal."
Hendra meletakkan pulpen kembali di atas dokumen.
"Kalau hanya menunggu tanda tangan saya," katanya, "Anda semua pasti sanggup menunggu beberapa menit."
Suaranya pelan, namun ruang rapat mendadak sunyi.
Hendra berdiri dan berjalan keluar.
Di belakangnya, seseorang berbisik, "Anak itu mulai berlagak."
Hendra hampir tersenyum.
Berlagak?
Tidak.
Ia baru saja berhenti menjadi mangsa.
Toilet eksekutif kosong.
Begitu pintu terkunci, Hendra membuka keran, lalu menatap wajahnya di cermin.
Wajah itu masih muda. Belum ada bekas luka di pelipis. Belum ada mata merah karena kurang tidur berbulan-bulan. Belum ada bau asap, darah, dan salju busuk yang menempel di kulit.
Tapi mata itu sudah pernah melihat manusia memakan harapannya sendiri.
"Kali ini," bisik Hendra, "aku yang memilih siapa yang hidup nyaman."
Ia masuk ke bilik paling ujung.
Pintu terkunci.
Hendra mengangkat tangan kanan.
Cincin tembaga itu tetap diam.
Ia menggigit ujung telunjuk.
Rasa sakit menusuk. Darah keluar.
Setetes darah jatuh ke cincin.
Satu detik.
Dua detik.
Ukiran tua di permukaan cincin menyala seperti garis emas yang baru bangun dari tidur panjang.
Napas Hendra berhenti.
Kesadarannya jatuh ke dalam gelap.
Kosong.
Luas.
Sunyi.
Ruang Penyimpanan.
Belum besar. Jauh lebih kecil daripada yang ia miliki sebelum mati.
Tapi cukup.
Lebih dari cukup.
Hendra menatap tempat sampah logam kecil di sudut bilik.
Dalam satu niat, benda itu lenyap.
Di dalam kesadarannya, tempat sampah itu berdiri diam di ruang gelap, utuh seperti saat lenyap.
Hendra mengeluarkannya lagi.
Tempat sampah muncul di lantai dengan bunyi pelan.
Terakhir, ia menekan telapak tangan ke dada sendiri dan memerintahkan tubuhnya masuk.
Tidak ada reaksi.
Aturan lama tetap sama.
Makhluk hidup tidak bisa masuk.
Hendra menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia tertawa pelan, seperti orang yang baru menemukan kunci gudang senjata saat musuh masih sibuk menghitung uang receh.
Tiga bulan.
Dalam tiga bulan, ia bisa mencairkan aset, menjual saham, membeli pangan, obat, bahan bakar, generator, baja, kendaraan, senjata, dan membangun bunker yang tidak akan terbuka hanya karena seseorang menangis di depan pintunya.
Dalam tiga bulan, ia bisa membuat Om Rusli dan Handoko membantunya tanpa sadar.
Dokumen di ruang rapat itu memang ingin mengambil kuasanya.
Tapi kuasa dunia lama tidak ada artinya saat langit berubah putih.
Yang ia butuhkan sekarang bukan jabatan.
Ia butuh uang cepat.
Ia butuh mereka percaya bahwa ia kalah.
Semakin mereka serakah, semakin cepat mereka membuka jalan baginya.
Hendra membasuh darah di jarinya. Air mengalir merah tipis, lalu hilang ke saluran.
Di cermin, cincin itu kembali kusam.
Seperti benda tua biasa.
Seperti Hendra yang akan kembali ke ruang rapat sebagai pemuda yang tampak tunduk.
Ia mengeringkan tangan.
Lalu ponselnya bergetar.
Notifikasi berita muncul di layar.
Gelombang panas ekstrem diprediksi melanda beberapa kota besar dalam beberapa pekan ke depan, kata judul itu.
Hendra menatap kalimat tersebut.
Di kehidupan lalu, berita kecil seperti ini lewat begitu saja. Orang-orang mengeluh, membeli minuman dingin, lalu lupa.
Kali ini, bagi Hendra, itu bukan berita.
Itu hitungan mundur.
Ia memasukkan ponsel ke saku, membuka pintu toilet, dan berjalan kembali menuju ruang rapat.
Map hitam masih di sana.
Om Rusli masih menunggu.
Handoko masih tersenyum.
Mereka mengira tanda tangan Hendra akan mengakhiri perlawanan.
Hendra mengambil pulpen.
Kali ini tangannya tidak gemetar.
Setiap goresan namanya akan menjadi umpan.
Setiap rupiah yang mereka dorong keluar dari tangannya akan berubah menjadi persediaan.
Dan ketika badai putih turun, orang-orang yang hari ini menyuruhnya menyerah akan berdiri di luar pintu bunkernya.
Hendra menunduk ke dokumen, lalu berkata dengan suara tenang, "Baik. Saya tanda tangan."
Mereka tidak tahu, tanda tangan yang mereka tunggu adalah langkah pertama Hendra untuk membeli masa depan sebelum dunia sadar bahwa masa depan itu sudah dijual.
Bab 002: Dendam yang Diam
Hendra kembali ke ruang rapat lima menit kemudian.
Tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi di toilet eksekutif. Bagi mereka, Hendra hanya tampak lebih pucat daripada sebelumnya. Tangannya sudah bersih, jasnya rapi, dan cincin tembaga di jari manisnya terlihat kusam seperti benda tua biasa.
Om Rusli menyandarkan punggung ke kursi.
"Sudah lebih tenang?"
Hendra mengangguk kecil. "Sudah, Om."
Jawaban itu membuat beberapa komisaris saling pandang. Mungkin mereka mengira ia akhirnya patah. Bagus. Hendra membiarkan mereka berpikir begitu.
Pulpen masih berada di atas map hitam.
Hendra mengambilnya.
Saat ujung pulpen menyentuh kertas, ingatan kehidupan lalu melintas singkat. Dulu, tanda tangan ini terasa seperti pisau yang memotong urat nadinya sendiri. Sekarang, ia melihatnya dengan cara berbeda.
Ini bukan penyerahan.
Ini umpan.
Ia menulis namanya dengan tenang.
Hendra Wijaya.
Ruang rapat hening selama satu tarikan napas. Lalu Om Rusli tersenyum.
"Keputusan yang bijak."
"Saya hanya tidak ingin mempermalukan keluarga di depan dewan," jawab Hendra.
Kalimat itu terdengar rendah hati. Bahkan sedikit kalah.
Om Rusli tampak puas.
Handoko, di sisi lain, menatap Hendra sedikit lebih lama. Senyum pria itu tidak hilang, tetapi matanya menyipit.
"Kadang, anak muda baru terlihat matang saat berani melepas sesuatu," kata Handoko.
Hendra menutup map itu dan mendorongnya kembali. "Mungkin benar, Pak Handoko."
"Mungkin?"
"Saya masih belajar."
Om Rusli tertawa pelan. "Nah, itu baru sikap yang benar."
Hendra ikut tersenyum tipis.
Di dalam dadanya, rasa dingin itu diam.
Belajarlah tertawa dulu, Om.
Tiga bulan lagi, kau akan belajar mengetuk pintu.
Rapat selesai tidak lama setelah itu. Para komisaris pergi satu per satu, membawa dokumen, membawa rasa aman palsu, membawa keyakinan bahwa ahli waris muda keluarga Wijaya akhirnya bisa diatur.
Di koridor luar ruang rapat, Om Rusli menepuk bahu Hendra.
Sentuhan itu hampir membuat Hendra mual.
"Om tahu kamu kecewa," ujar Om Rusli. "Tapi nanti kamu akan paham. Semua ini demi menyelamatkan apa yang ditinggalkan ayahmu."
Hendra menatap tangan di bahunya.
Tangan yang sama pernah menabur bunga di makam ayahnya.
Tangan yang sama, jika semua fakta hidup lalu benar, juga ikut menutup jalan hidup ayahnya.
"Saya paham," kata Hendra.
Om Rusli tersenyum lebih lega. "Pulanglah. Istirahat. Jangan banyak berpikir. Besok kita bicarakan langkah berikutnya."
"Baik, Om."
Handoko berjalan melewati mereka. Sebelum masuk lift pribadi, pria itu berhenti sebentar.
"Pak Hendra."
Hendra menoleh.
"Anda lebih tenang dari yang saya duga." Handoko tersenyum ramah. "Itu bagus. Orang yang bisa menahan diri biasanya masih bisa dipakai."
Kalimat itu halus, tetapi maknanya jelas.
Masih bisa dipakai.
Di mata mereka, nilai Hendra berhenti di sana.
Hendra menunduk sedikit. "Terima kasih atas nasihatnya, Pak Handoko."
Pintu lift menutup.
Begitu angka lantai di atas lift bergerak turun, senyum di wajah Hendra menghilang.
Di dalam pantulan kaca koridor, ia melihat wajahnya sendiri. Tenang. Terlalu tenang.
Bagus.
Mulai sekarang, topeng ini harus dipakai sampai waktunya tiba.
Apartemen Hendra berada tidak jauh dari pusat kota. Bukan penthouse mewah seperti yang dibayangkan orang terhadap ahli waris Wijaya, hanya unit dua kamar di lantai tinggi. Setelah orang tuanya meninggal, banyak aset atas nama keluarga mulai "diurus" Om Rusli. Hendra dulu bahkan merasa bersyukur masih diberi tempat tinggal.
Sekarang, ia tahu itu bukan kebaikan.
Itu kandang yang nyaman.
Malam turun saat Hendra masuk ke apartemen. Ia mengunci pintu, menutup gorden, lalu mematikan sebagian lampu. Setelah memastikan tidak ada orang di luar koridor, ia melepas jas dan berdiri di tengah ruang tamu.
Di meja kecil ada gelas kaca, buku tebal, remote TV, dan vas keramik kecil.
Hendra mengangkat tangan kanan.
"Masuk."
Cahaya emas muncul singkat.
Gelas kaca lenyap.
Hendra memejamkan mata. Di dalam Ruang Penyimpanan, gelas itu diam, menggantung dalam kekosongan, utuh seperti saat masuk.
"Keluar."
Gelas kembali ke telapak tangannya.
Ia mencoba buku tebal.
Masuk.
Keluar.
Vas keramik.
Masuk.
Keluar.
Koper kosong di kamar.
Masuk.
Keluar.
Hendra mulai menguji ukuran. Kotak penyimpanan plastik bisa masuk. Kursi makan bisa masuk, meski memakan ruang lebih banyak. Meja lipat kecil juga bisa masuk, tetapi saat ia mencoba sofa ruang tamu, ruang itu terasa menolak. Kapasitas awalnya belum cukup longgar untuk benda terlalu besar.
Hendra tidak kecewa.
Justru ia lega.
Kapasitas awalnya memang terbatas, tetapi cukup untuk barang kecil dan menengah. Makanan, obat, emas, uang tunai, dokumen, senjata, amunisi, komponen mesin. Untuk tahap awal, itu lebih dari cukup.
Kapal tanker belum mungkin.
Tapi kapal tanker memang bukan pekerjaan hari ini.
Ia mengambil sebotol air mineral dari kulkas, membuka tutupnya, lalu menyimpannya ke Ruang Penyimpanan selama beberapa menit. Ketika dikeluarkan kembali, embun dingin di botol masih sama. Suhu tidak berubah.
Waktu benar-benar berhenti.
Hendra menatap botol itu lama.
Di kehidupan lalu, ia pernah membunuh dua orang demi setengah botol air hangat.
Sekarang, ia berdiri tiga bulan sebelum kiamat dengan ruang yang bisa menjaga jutaan botol tetap utuh.
Inilah bedanya.
Inilah alasan ia tidak boleh terburu-buru membalas dendam.
Dendam yang baik bukan hanya membuat musuh mati.
Dendam yang baik membuat musuh sadar bahwa sejak awal mereka tidak pernah memegang kendali.
Hendra masuk ke kamar kerja kecil. Di sana ada meja kayu sederhana, laptop lama, dan beberapa berkas pribadi yang dulu tidak pernah ia pedulikan.
Ia mengambil buku catatan kosong.
Di halaman pertama, ia menulis tanggal hari ini.
Lalu tiga baris besar.
Pertama: rebut hak saham.
Kedua: cairkan semua jadi uang.
Ketiga: timbun sebelum dunia runtuh.
Hendra berhenti sejenak, lalu menambahkan satu garis di bawahnya.
Om Rusli: pelaku.
Handoko: dalang.
Pengkhianat suaka: ditunda.
Baris terakhir itu membuat tangannya berhenti lebih lama. Wajah orang yang menyodorkan gelas beracun belum perlu ditulis hari ini. Orang itu masih jauh di masa depan, masih belum memakai gelar besar, masih belum membangun pasukan sendiri.
Tapi Hendra tidak akan lupa.
Satu wajah pun tidak.
Ia membuka laptop dan mulai membuat daftar kebutuhan.
Beras.
Mi instan.
Daging beku.
Air mineral.
Obat demam, antibiotik, vitamin, perban, antiseptik.
Genset diesel.
BBM.
Baterai litium.
Panel surya.
Pakaian termal.
Plat baja.
Beton.
Kamera CCTV.
Pencitra termal.
Kendaraan.
Senjata, kalau jalurnya sudah ditemukan.
Daftar itu panjang.
Sangat panjang.
Tapi untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di ruang rapat, Hendra merasa napasnya teratur.
Ia bukan lagi korban yang diseret arus.
Ia punya waktu.
Ia punya cincin.
Ia punya ingatan tentang semua bencana yang akan datang.
Dan ia tahu musuh-musuhnya.
Hendra menulis satu kalimat terakhir di bagian bawah halaman.
Jangan jelaskan. Jangan marah. Ambil semuanya.
Ia menatap kalimat itu, lalu menutup buku catatan.
Di luar jendela, Jakarta masih menyala. Lampu kendaraan mengalir di jalan raya. Orang-orang makan malam, belanja, tertawa, mengeluh soal macet, dan hidup seolah besok akan sama seperti hari ini.
Hendra berdiri di depan jendela, cincin tembaga dingin di jarinya.
Besok, ia akan mulai dari notaris.
Om Rusli mengira ia sudah menundukkan kepala.
Handoko mengira ia baru saja kehilangan langkah pertama.
Mereka salah.
Hari ini Hendra memang diam.
Tapi dendam yang diam biasanya bertahan paling lama.
Bab 003: Klaim Sang Ahli Waris
Dua hari kemudian, stempel notaris jatuh di atas nama Hendra Wijaya.
TOK.
Suara itu pendek.
Tapi bagi Hendra, bunyinya seperti pintu besi yang terkunci dari dalam.
Di atas meja kayu gelap, tiga berkas sudah tersusun rapi. Akta waris. Sertifikat saham lama. Salinan anggaran dasar PT Wijaya Sentosa yang memuat nama ayahnya sebagai pendiri dan pemegang saham utama sebelum kecelakaan itu terjadi.
Di sampingnya, kartu nama tua bertuliskan Dirut PT Wijaya Sentosa ikut diletakkan dalam plastik bening. Kertas itu sudah sedikit menguning, tapi hurufnya masih jelas. Nama ayah Hendra masih ada di sana.
Dulu, Om Rusli menyimpan semua benda itu seperti menyimpan mayat di lemari, tersembunyi sampai Hendra tumbuh menjadi orang yang dianggap tidak tahu apa-apa.
Sayangnya, Hendra sekarang bukan pemuda bodoh yang mereka tinggalkan di ruang rapat.
Notaris berambut putih di hadapannya membaca ulang halaman terakhir dengan kacamata turun di batang hidung.
"Secara dokumen, rantai warisnya kuat, Pak Hendra," katanya pelan. "Akta waris ini sah. Sertifikat saham juga bukan fotokopi kosong. Ada nomor, cap lama, dan dasar pencatatan. Namun pihak perusahaan mungkin akan mempermasalahkan administrasi internal."
"Saya tahu," jawab Hendra.
"Mereka bisa bilang daftar pemegang saham sudah berubah."
"Biarkan mereka bilang."
Notaris itu menatapnya sebentar.
Banyak klien datang dengan wajah panas, suara tinggi, dan tangan gemetar. Mereka bicara soal hak, darah, keluarga, pengkhianatan, lalu memaksa semua orang percaya hanya karena mereka merasa terluka.
Hendra berbeda.
Pemuda itu duduk tegak, jaket gelapnya rapi, wajahnya tenang, dan matanya sama sekali tidak meminta belas kasihan.
Ia tidak sedang memohon.
Ia sedang mengunci satu per satu baut di mesin yang akan menggiling lawannya.
"Saya akan buatkan waarmerking dan legalisasi salinan dokumen yang Bapak perlukan," ujar notaris. "Untuk sengketa saham, sebaiknya Bapak masuk lewat pengacara korporat. Somasi resmi, permintaan pencatatan hak, lalu jika perlu permintaan RUPS atau gugatan."
"Saya sudah siapkan."
Hendra mengeluarkan satu map tipis lagi dari tasnya.
Di dalamnya ada daftar pertanyaan, kronologi singkat kematian orang tuanya, perubahan posisi Om Rusli setelah kecelakaan, serta beberapa catatan rapat yang sempat ia salin diam-diam dari arsip perusahaan dua tahun lalu.
Di kehidupan lalu, catatan-catatan itu tidak pernah ia pakai. Ia terlalu takut. Terlalu ingin diterima. Terlalu percaya bahwa keluarga masih menyisakan sedikit hati.
Hasilnya?
Ia mati di tengah badai salju, dengan racun merobek perutnya dan suara orang-orang yang ia tolong berubah menjadi tawa.
Kali ini, Hendra tidak lagi menunggu hati siapa pun.
Ia hanya membutuhkan tanda tangan, cap, dan celah hukum yang cukup untuk menyeret serigala keluar dari balik meja.
TOK.
Stempel kedua jatuh.
TOK.
Stempel ketiga menyusul.
Notaris mendorong berkas itu ke hadapan Hendra. "Simpan baik-baik, Pak Hendra. Mulai hari ini, dokumen ini bisa menjadi dasar tuntutan formal."
Hendra menyentuh tepi map.
Cincin tembaga di jarinya dingin.
Sesaat, ia hampir ingin memasukkan semua berkas itu ke Ruang Penyimpanan. Di sana, kertas tidak akan kusut, tidak akan terbakar, tidak akan basah, tidak akan hilang.
Tapi ia menahan diri.
Belum.
Benda ini harus terlihat di dunia luar dulu. Om Rusli harus melihatnya. Handoko harus mendengar namanya. Mereka harus paham bahwa anak muda yang mereka tekan di ruang rapat mulai bergerak dengan cara yang tidak bisa ditertawakan.
"Terima kasih," kata Hendra.
Ia berdiri, membawa map itu dengan dua tangan, lalu keluar dari kantor notaris tanpa menoleh.
Satu jam kemudian, Hendra sudah duduk di kantor pengacara korporat di lantai dua puluh sebuah gedung kaca di Jakarta.
Ruangan itu dingin. Bau kopi hitam dan kertas baru memenuhi udara.
Pengacara di hadapannya tidak banyak bicara. Pria itu membaca dokumen satu per satu, mencocokkan nomor sertifikat, menandai beberapa pasal, lalu mengetuk ujung pulpen ke meja.
"Bapak ingin apa dari Wijaya Group?" tanyanya.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tapi di baliknya ada banyak kemungkinan.
Kompensasi.
Posisi direksi.
Pengakuan nama.
Kursi komisaris.
Balas dendam keluarga.
Hendra menatap map di atas meja. Dalam tiga bulan, semua kursi itu tidak akan berarti. Gedung kaca akan retak. Ruang direksi akan mati listrik. Uang di rekening akan menjadi angka yang tidak bisa dimakan.
Tapi sebelum dunia lama runtuh, dunia lama masih punya satu fungsi.
Menjadi bahan bakar.
"Saya ingin mereka mengakui hak saham warisan saya secara resmi," kata Hendra. "Saya ingin akses ke dokumen pemegang saham. Saya ingin mereka tahu bahwa semua komunikasi setelah ini harus melalui kuasa hukum."
Pengacara itu mengangkat alis. "Bapak tidak meminta jabatan?"
"Tidak hari ini."
"Tidak meminta damai keluarga?"
"Keluarga yang menyembunyikan hak saya selama bertahun-tahun tidak perlu diberi panggung kata damai."
Ruangan itu hening sejenak.
Lalu pengacara itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Senyum profesional yang mulai memahami bahwa klien di depannya bukan korban yang datang menangis.
"Baik," katanya. "Kita kirim somasi hari ini. Tuntut pengakuan status ahli waris dan pemegang saham. Minta mereka membuka buku daftar pemegang saham, risalah RUPS, dan seluruh perubahan kepemilikan sejak kecelakaan orang tua Bapak. Saya juga akan cantumkan tenggat waktu."
"Berapa lama?"
"Tujuh hari kerja cukup keras."
"Tiga hari."
Pengacara itu berhenti menulis.
Hendra menatapnya tenang. "Mereka sudah menahan hak saya bertahun-tahun. Saya tidak berkewajiban memberi mereka waktu untuk merapikan kebohongan."
Ujung pulpen itu kembali bergerak.
"Tiga hari," kata pengacara.
Pukul tiga sore, surat resmi pertama dikirim ke kantor pusat Wijaya Group.
Pukul empat lewat dua puluh, seorang staf legal di Menara Wijaya Group berlari kecil menuju lantai direksi dengan wajah pucat.
Pukul empat lewat tiga puluh, Om Rusli membaca surat itu di ruang kerjanya.
Mula-mula, ia tertawa.
"Anak itu menyewa pengacara?"
Sekretaris di depannya menunduk. "Iya, Pak. Suratnya ditujukan resmi ke direksi dan komisaris. Mereka meminta pengakuan hak saham warisan serta akses dokumen RUPS."
Tawa Om Rusli berhenti.
Ia membaca halaman kedua.
Lalu halaman ketiga.
Wajahnya perlahan mengeras.
Ada salinan akta waris.
Ada nomor sertifikat saham.
Ada legalisasi notaris.
Ada tenggat tiga hari.
Anak itu tidak datang membawa tangis.
Anak itu datang membawa pisau yang dibungkus bahasa hukum.
"Panggil orangnya," kata Om Rusli dingin. "Suruh dia datang malam ini. Katakan Om ingin bicara baik-baik."
Sekretaris keluar.
Lima menit kemudian, telepon Hendra bergetar.
Saat itu Hendra sedang berdiri di lobi gedung pengacara. Di luar kaca, langit Jakarta mulai berubah oranye. Kendaraan merayap seperti biasa. Orang-orang melewati pintu putar dengan mata sibuk dan langkah tergesa, tidak satu pun tahu bahwa musim terakhir hidup mereka sedang mendekat.
Hendra melihat nama penelepon yang tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
"Pak Hendra?" suara perempuan terdengar hati-hati. "Saya dari kantor Pak Rusli. Pak Rusli meminta Bapak datang ke Menara Wijaya malam ini. Beliau ingin membicarakan masalah keluarga secara baik-baik."
Masalah keluarga.
Kalimat itu hampir membuat Hendra tersenyum.
Saat ingin merampas, mereka menyebutnya keputusan bisnis.
Saat mulai terancam, mereka menyebutnya keluarga.
"Sampaikan kepada Om Rusli," kata Hendra, "mulai hari ini semua komunikasi hukum melalui kuasa saya."
"Tapi Pak Rusli bilang--"
"Saya sudah menjawab."
Hendra menutup telepon.
Satu pintu tertutup rapi di depan wajah Om Rusli.
Beberapa kilometer dari sana, di ruang pribadi sebuah klub bisnis, Handoko menerima pesan dari Om Rusli. Ia membaca lampiran surat itu, lalu menyipitkan mata.
"Menarik," gumamnya.
Di layar ponsel, nama Hendra Wijaya tertera jelas di baris pertama.
Anak muda yang kemarin masih terlihat bisa ditekan kini memakai notaris, pengacara, dan tenggat waktu.
Itu bukan gaya orang kalah.
Itu gaya orang yang sedang memancing.
Handoko mengetuk meja dengan kuku jarinya.
"Cari tahu," katanya kepada asisten di sampingnya. "Dia sebenarnya mengincar apa."
Sementara itu, Hendra keluar dari gedung dengan map hitam di tangan.
Angin sore menyentuh wajahnya. Untuk orang lain, map itu hanya kertas. Untuk Om Rusli, map itu ancaman. Untuk Handoko, map itu tanda tanya.
Bagi Hendra, map itu adalah kail.
Dan ikan terbesar baru saja mencium bau darah.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!