Bau apak darah dan daging terbakar memenuhi udara, menyengat paru-paru siapa saja yang masih bernapas. Di atas sana, langit terbelah menjadi dua. Dari balik celah dimensi yang robek, mata-mata raksasa menatap daratan yang hancur dengan penuh cemooh.
Mereka adalah para Dewa Luar. Entitas kosmik yang menjadikan penderitaan umat manusia sebagai hiburan semata.
Di tengah reruntuhan ibu kota yang terbakar, Han Do-Yoon terbatuk hebat. Darah hitam pekat tumpah dari mulutnya, menodai kemeja lusuhnya yang compang-camping. Lengan kirinya sudah putus sejak tiga hari yang lalu. Sebagai seorang Pemburu Tingkat-F—kasta terendah yang hanya pantas menjadi kuli panggul di dalam Labirin—bertahan hidup sampai hari terakhir peradaban adalah sebuah keajaiban mutlak.
Atau mungkin, sebuah kutukan.
Di tangan kanannya yang gemetar, Do-Yoon menggenggam erat sebuah batu hitam pekat yang berdenyut pelan layaknya jantung. Batu Kehampaan. Itu adalah artefak kuno yang ia temukan secara tidak sengaja di dasar Labirin terdalam, tepat setelah seluruh anggota serikatnya dibantai.
"Apakah... ini akhirnya?" batin Do-Yoon pedih.
Ia menatap tumpukan mayat rekan-rekannya sesama Pemburu. Jika saja ia memiliki kekuatan. Jika saja ia tidak terlahir sebagai manusia cacat mana yang tidak bisa menggunakan keahlian sihir apa pun. Jika saja ia bisa memutar kembali waktu.
[Peringatan Mutlak! Tatanan dunia telah runtuh!]
[Para Rasi Bintang telah meninggalkan saluran Bumi.]
Suara mekanis dari Sistem bergema di dalam kepalanya untuk terakhir kalinya. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan.
Do-Yoon menutup matanya saat kilatan cahaya merah raksasa turun dari langit, menyapu habis seluruh daratan. Namun, sepersekian detik sebelum cahaya itu memusnahkan tubuhnya, batu hitam di genggamannya bersinar menyilaukan.
[Artefak Tingkat Mitos: Jantung Kehampaan bereaksi terhadap keputusasaan yang melampaui batas.]
[Syarat rahasia telah terpenuhi.]
[Memulai proses pembalikan waktu...]
Lalu, kegelapan menelannya.
"Han Do-Yoon! Jika kau hanya ingin tidur di kelasku, silakan keluar sekarang juga!"
Do-Yoon tersentak. Napasnya memburu hebat seolah ia baru saja ditarik dari dasar lautan. Keringat dingin membasahi punggungnya. Secara refleks, tangan kanannya meraba bahu kirinya.
Utuh. Lengannya masih ada.
Ia menatap tangannya yang bersih. Tidak ada darah hitam. Tidak ada bau daging terbakar. Hidungnya justru menangkap aroma pewangi ruangan dan debu kapur tulis.
Di depannya, seorang dosen tua berkacamata tebal sedang memelototinya sambil mengetuk papan tulis. Puluhan pasang mata mahasiswa lain menatapnya, beberapa menahan tawa, sementara yang lain berbisik-bisik.
Ruang kuliah Universitas Hanguk.
Do-Yoon terdiam membatu. Tangannya gemetar saat ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Layar itu menyala, menampilkan angka yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya.
6 Agustus 2016. Pukul 14:28.
Ia kembali. Tepat sepuluh tahun yang lalu.
Napas Do-Yoon mulai teratur. Keterkejutan di matanya perlahan digantikan oleh kedinginan yang mencekam. Ini adalah hari di mana semuanya dimulai. Hari di mana neraka turun ke Bumi.
Pukul 14:30. Itu adalah waktu pastinya.
Do-Yoon bangkit berdiri, mengabaikan dosen yang kembali mengomelinya. Tatapannya setajam pisau saat ia berjalan menuju jendela kaca besar di lantai empat ruang kelas itu. Ia menatap ke arah langit Seoul yang biru cerah.
"Tinggal satu menit," gumam Do-Yoon pelan.
"Hei, Do-Yoon! Kau mau ke mana? Dosen sedang bicara padamu!" seru salah satu teman sekelasnya.
Do-Yoon tidak menjawab. Tepat pada detik ke-enam puluh, langit biru di luar sana tiba-tiba bergetar keras. Suara retakan yang memekakkan telinga bergema di seluruh penjuru kota, layaknya lapisan kaca raksasa yang dihantam oleh palu godam. Retakan-retakan merah darah mulai menjalar di udara.
Jeritan kebingungan mulai terdengar dari jalan raya di bawah sana. Sirine mobil berbunyi bersahutan.
"A-apa itu?! Langitnya retak?!" teriak seorang mahasiswi di dalam kelas, menunjuk ke luar jendela dengan wajah pucat pasi.
Dosen yang tadi memarahi Do-Yoon menjatuhkan kapur tulisnya. Seluruh isi kelas membeku dalam ketakutan yang tak beralasan.
Lalu, tepat pukul 14:30, sebuah layar biru bercahaya yang tembus pandang muncul tepat di depan mata setiap manusia di bumi secara serentak.
[Sistem Bumi telah berhasil disinkronisasi.]
[Para Rasi Bintang mulai menatap dunia Anda dengan penuh ketertarikan.]
[Tahap Percobaan akan segera dimulai.]
PRANG!
Kaca jendela ruang kelas pecah berantakan. Dari celah langit yang merah, makhluk-makhluk kerdil berkulit hijau kotor yang membawa gada berkarat—Goblin—mulai berjatuhan menembus atap dan kaca gedung.
Jeritan histeris meledak.
Dosen yang malang itu adalah korban pertama. Seekor Goblin melompat dan menghantamkan gadanya tepat ke kepala sang dosen hingga hancur. Darah segar memercik ke papan tulis. Mahasiswa-mahasiswa yang panik berlarian ke arah pintu keluar, namun mereka berteriak putus asa saat menyadari pintu itu terkunci rapat oleh lapisan perisai tak kasat mata.
[Misi Utama: Bertahan Hidup!]
Tingkat Kesulitan: F
Keterangan: Ruang kelas ini telah disegel. Bunuh makhluk monster di sekitarmu, atau bertahanlah hidup selama 30 menit tanpa terbunuh.
Hadiah: Pembangkitan Kelas, 10 Koin Emas.
Hukuman Kegagalan: Kematian.
Di tengah kekacauan, tangisan, dan darah yang mulai menggenang di lantai, hanya satu orang yang tidak berlari.
Han Do-Yoon.
Alih-alih meringkuk ketakutan seperti yang ia lakukan sepuluh tahun lalu, pria itu justru melangkah tenang. Ia menendang salah satu kursi kayu hingga kaki kursinya patah, lalu memungut patahan kayu runcing tersebut sebagai senjata darurat.
Tatapan matanya gelap, sekelam malam tanpa bintang. Ia menatap dua ekor Goblin yang kini beralih menatapnya sambil menyeringai memamerkan gigi kuning mereka.
Di kehidupan sebelumnya, ia bersembunyi di bawah meja, menangis tersedu-sedu sambil melihat teman-temannya dibantai satu per satu. Ia menjadi manusia rendahan yang hanya tahu cara melarikan diri.
Tetapi di kehidupan ini, semuanya akan berbeda.
Do-Yoon tersenyum tipis. Sebuah senyum mematikan dari sang predator yang baru saja menemukan mangsanya.
"Mari kita mulai pembantaiannya," bisik Do-Yoon. Ia lalu menerjang maju.
WUSSH!
Gada berkarat itu mengayun membelah udara, nyaris menghantam wajah Do-Yoon. Namun, alih-alih menghindar jauh ke belakang, Do-Yoon justru melangkah maju. Sepuluh tahun bertahan hidup di dalam Labirin tingkat tinggi sebagai kuli panggul telah mengukir insting tempur ke dalam sumsum tulang dan otot-ototnya.
Ia mungkin belum memiliki atribut kekuatan dari Sistem, tetapi gerakannya murni berasal dari pengalaman hidup dan mati.
Dengan gerakan luwes, Do-Yoon menunduk, membiarkan gada itu lewat di atas kepalanya. Di saat yang sama, tangan kanannya yang memegang patahan kaki kursi menusuk tajam ke atas.
Jleb!
Kayu bergerigi itu menembus tepat ke bola mata sang Goblin, menembus langsung hingga ke otaknya. Makhluk hijau itu tidak sempat berteriak. Tubuhnya mengejang sejenak sebelum ambruk ke lantai, memercikkan darah gelap yang berbau busuk.
Goblin kedua yang melihat rekannya tewas langsung meraung marah. Ia melompat ke arah Do-Yoon dengan cakar dan gigi kuning yang siap merobek leher.
Do-Yoon tetap tenang. Ia menarik kayu runcingnya dari mata mayat Goblin pertama, lalu menggunakan momentum tarikan itu untuk berputar. Tumit kirinya menghantam keras ulu hati Goblin yang sedang melayang di udara.
Brak!
Goblin kedua terpental dan menabrak deretan meja kelas. Sebelum makhluk itu bisa bangkit, Do-Yoon sudah melompat ke atasnya. Tanpa ragu sedetik pun, ia menghujamkan patahan kayunya bertubi-tubi ke tenggorokan sang monster.
Darah menyembur mengotori kemejanya, namun wajah Do-Yoon datar tanpa ekspresi. Dingin dan mematikan.
Di sudut ruangan, puluhan mahasiswa yang meringkuk ketakutan menatap adegan itu dengan mata terbelalak. Han Do-Yoon yang mereka kenal adalah mahasiswa pendiam yang jarang bergaul. Bagaimana mungkin ia membantai monster dengan begitu brutal dan efisien tanpa berkedip sedikit pun?
Ting!
Suara lonceng mekanis bergema di dalam kepala Do-Yoon.
[Anda telah membunuh Goblin (Tingkat Terendah).]
[Pencapaian Hebat! Anda adalah manusia pertama di Bumi yang berhasil membunuh monster dengan tangan kosong.]
[Anda mendapatkan Gelar: 'Pemburu Pertama'.]
[Gelar 'Pemburu Pertama' memberikan peningkatan seluruh atribut dasar sebesar +5.]
Otot-otot Do-Yoon seketika terasa hangat. Rasa lelah yang sempat menghinggapi tubuh biasa miliknya lenyap seketika, digantikan oleh kekuatan yang mengalir deras di pembuluh darahnya.
[Misi Utama: Bertahan Hidup telah diselesaikan dengan syarat tersembunyi (Pemusnahan).]
[Menghitung hadiah berdasarkan kontribusi...]
[Kontribusi Anda: 100%.]
[Mempersiapkan proses Pembangkitan Kelas...]
Do-Yoon menutup matanya. Ini adalah momen yang paling menentukan. Di kehidupan sebelumnya, ia bersembunyi hingga waktu misi habis, hanya mendapatkan kelas 'Pengangkut Barang' yang tidak memiliki keahlian bertarung.
Cahaya keemasan mulai menyelimuti tubuhnya. Namun, tepat ketika Sistem hendak memberikan kelas tempur standar, sebuah anomali terjadi.
Jantung Do-Yoon berdegup sangat kencang. Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menyerang dadanya, seolah ada sesuatu yang mencoba merobek jiwanya dari dalam. Bayangan di bawah kakinya mulai bergerak liar, bergejolak bagaikan air mendidih.
[Peringatan! Terjadi kesalahan yang tidak diketahui!]
[Entitas atau energi asing menolak Pembangkitan Kelas standar.]
[Sisa-sisa energi dari 'Jantung Kehampaan' merasuki jiwa Anda.]
[Sistem Pusat mencoba memblokir anomali...]
[Gagal. Anomali memiliki otoritas yang melampaui Sistem Pengelola Bumi.]
Cahaya keemasan yang menyelimuti tubuh Do-Yoon hancur berkeping-keping, digantikan oleh aura hitam pekat yang begitu gelap hingga menyerap cahaya di sekitarnya.
[Pembangkitan Kelas selesai.]
[Anda membangkitkan Kelas Tersembunyi (Tingkat Mitos): Pewaris Ketiadaan.]
Seketika itu juga, rentetan pemberitahuan yang membingungkan bermunculan di layar biru miliknya.
[Beberapa Rasi Bintang terkejut melihat aura yang menyelimuti Anda.]
[Rasi Bintang 'Penimbang Keadilan Bersayap' menyipitkan mata ke arah Anda.]
[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' menjilat bibirnya melihat kebrutalan Anda.]
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' menawarkan diri untuk menjadi sponsor Anda!]
Sponsor Rasi Bintang. Mereka adalah entitas kuat dari dimensi lain yang mencari hiburan dengan mengawasi manusia, memberikan sebagian kekuatan mereka kepada Pemburu yang mereka sukai. Di masa lalu, mendapatkan sponsor dari Rasi Bintang adalah sebuah kebanggaan mutlak.
Namun, senyum sinis mengembang di bibir Do-Yoon.
Di kehidupan sebelumnya, ia tahu betul siapa mereka. Para Rasi Bintang ini bukanlah dewa penyelamat. Mereka hanyalah parasit yang memandang manusia tak lebih dari sekadar mainan catur.
"Tolak semuanya," ucap Do-Yoon dingin.
[Anda telah menolak semua tawaran sponsor dari Rasi Bintang.]
[Beberapa Rasi Bintang merasa terhina oleh kesombongan Anda.]
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' memandang Anda dengan kebencian!]
Do-Yoon mengabaikan kemarahan para penonton dari atas langit sana. Ia mengucapkan satu perintah sederhana.
"Buka Jendela Status."
Sebuah layar tembus pandang baru muncul di hadapannya.
[Informasi Pemain]
Nama: Han Do-Yoon
Tingkat: 1
Kelas: Pewaris Ketiadaan (Mitos)
Gelar: Pemburu Pertama
[Atribut]
Kekuatan: 15
Kelincahan: 16
Ketahanan: 12
Energi Sihir (Mana): 20
Kecerdasan: 10
[Keahlian Unik]
Mata Kehampaan (Pasif) - Tingkat 1
Dapat melihat kelemahan musuh, aliran energi sihir, dan informasi tersembunyi. Imun terhadap segala jenis sihir ilusi dan pengendalian pikiran tingkat rendah.
2. Penyerapan Bayangan (Aktif) - Tingkat 1
Mampu menyerap bayangan makhluk yang baru saja dibunuh untuk memulihkan energi fisik dan sihir. Jika makhluk tersebut cukup kuat, Anda berpeluang mencuri satu keahlian milik mereka.
Do-Yoon mengepalkan tangannya. Kekuatan ini jauh melebihi Pemburu Tingkat-A mana pun di awal masa kiamat. Kelas tingkat Mitos benar-benar menentang hukum keseimbangan Sistem.
Tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari arah pintu kelas. Perisai tak kasat mata yang menyegel ruangan itu akhirnya pecah berkeping-keping. Sesi bertahan hidup pertama telah berakhir.
Namun, dari lorong luar kelas, terdengar suara langkah kaki yang berat. Sangat berat hingga membuat lantai bergetar. Hawa pembunuh yang kental merembes masuk melalui celah pintu yang terbuka.
Mahasiswa yang baru saja bernapas lega kembali menahan napas. Mereka saling berpelukan, gemetar dalam keputusasaan.
Do-Yoon tidak repot-repot menoleh ke arah teman-teman sekelasnya. Ia membungkuk, memungut belati berkarat dari mayat Goblin di dekat kakinya, lalu menendang pintu kelas hingga terbuka lebar.
Di ujung lorong yang temaram, seekor monster setinggi dua meter dengan otot-otot kekar berwarna merah gelap berdiri menghalangi jalan turun. Ia membawa kapak raksasa yang berlumuran darah segar manusia.
Pemimpin monster di kawasan Universitas Hanguk. Goblin Pejuang.
"Sempurna," bisik Do-Yoon sambil menjilat darah yang mengering di sudut bibirnya. "Aku butuh banyak poin pengalaman untuk naik tingkat."
Makhluk setinggi dua meter itu mendengus kasar. Udara panas dan bau busuk keluar dari lubang hidungnya. Kulit merah gelapnya dipenuhi otot yang menonjol, dihiasi bekas luka yang menunjukkan bahwa ia bukan sekadar makhluk liar biasa, melainkan seorang petarung.
[Peringatan! Pemimpin Monster kawasan ini telah menyadari kehadiran Anda!]
[Monster Tingkat E: Goblin Pejuang siap menyerang.]
Di belakang Do-Yoon, terdengar isak tangis tertahan dari beberapa mahasiswa yang mengintip dari balik celah pintu. Tubuh besar Goblin Pejuang dan kapak raksasanya yang berlumuran darah sudah cukup untuk menghancurkan kewarasan manusia modern mana pun.
Namun, Do-Yoon hanya menatap makhluk itu dengan tatapan datar. Ia memutar belati berkarat di tangan kanannya, menguji keseimbangan senjata rampasan tersebut.
"Hanya Tingkat E," gumamnya pelan. "Di masa lalu, aku bahkan harus membawakan tas berisi ratusan inti sihir milik makhluk seperti ini setiap harinya."
GRAAAAAUR!
Goblin Pejuang itu meraung memekakkan telinga. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, membuat ubin koridor retak, lalu melesat maju bagaikan kereta api yang lepas kendali. Kapak raksasanya diayunkan mendatar, berniat menebas tubuh Do-Yoon menjadi dua bagian.
"Aktifkan keahlian: Mata Kehampaan," perintah Do-Yoon di dalam hatinya.
Seketika, pupil mata Do-Yoon melebar dan berubah menjadi hitam seutuhnya. Dunia di sekelilingnya kehilangan warna, berubah menjadi abu-abu pudar. Di saat yang sama, garis-garis merah bercahaya muncul di sekujur tubuh Goblin Pejuang, menunjukkan aliran energi sihir, letak otot, serta titik-titik kelemahannya.
Garis merah paling terang berada di persendian lutut dan celah leher makhluk tersebut.
WUSSH!
Kapak raksasa itu menyapu udara kosong. Tepat sebelum bilah besi itu menyentuh perutnya, Do-Yoon menjatuhkan diri dan meluncur di atas lantai yang licin oleh genangan darah. Kelincahannya yang telah meningkat berkat gelar 'Pemburu Pertama' memungkinkannya bergerak di luar batas manusia normal.
Saat ia meluncur melewati kedua kaki raksasa sang Goblin Pejuang, Do-Yoon mengayunkan belatinya ke belakang dengan kekuatan penuh, menebas urat keting di pergelangan kaki kiri makhluk itu.
Crat!
Goblin Pejuang itu melolong kesakitan. Kehilangan keseimbangan secara mendadak, makhluk raksasa itu terhuyung dan jatuh berlutut hingga menghancurkan lantai koridor.
Do-Yoon tidak membuang waktu. Ia menggunakan telapak tangannya untuk menolak tubuhnya dari lantai, melenting ke udara dengan gerakan akrobatik yang mematikan. Ia mendarat tepat di punggung lebar sang Goblin.
Sebelum monster itu bisa mengayunkan lengannya untuk menepisnya, Do-Yoon telah menancapkan belati berkaratnya dalam-dalam ke celah tengkuk makhluk itu, tepat di mana saraf tulang belakang terhubung.
Krek!
Bunyi tulang patah yang mengerikan bergema di lorong yang sunyi itu.
Mata Goblin Pejuang terbelalak lebar sebelum akhirnya kehilangan cahayanya. Tubuh raksasa itu ambruk ke lantai dengan bunyi dentuman keras, tidak lagi bernyawa. Pertarungan itu berlangsung kurang dari sepuluh detik. Efisien, kejam, dan tanpa gerakan yang terbuang sia-sia.
[Anda telah mengalahkan Monster Pemimpin: Goblin Pejuang.]
[Anda mendapatkan 150 Poin Pengalaman.]
[Tingkat Anda telah naik!]
[Tingkat Anda telah naik!]
Kekuatan hangat kembali mengalir membasuh tubuh Do-Yoon, menyembuhkan otot-ototnya yang sempat menegang. Ia berdiri di atas mayat raksasa itu dan mencabut belatinya.
"Gunakan keahlian: Penyerapan Bayangan."
Bayangan pekat milik Goblin Pejuang yang tercetak di lantai tiba-tiba hidup. Bayangan itu merayap naik dan menyusup ke dalam ujung sepatu Do-Yoon. Hawa dingin yang menyegarkan menyebar ke seluruh aliran darahnya.
[Penyerapan Bayangan berhasil.]
[Kekuatan fisik Anda pulih sepenuhnya.]
[Anda berhasil mencuri keahlian pasif dari target: 'Kulit Tembaga' (Tingkat Terendah).]
[Kulit Anda kini menjadi lebih keras, mengurangi dampak serangan fisik sebesar 10%.]
Do-Yoon tersenyum puas. Mencuri keahlian monster adalah sesuatu yang di kehidupan lalunya hanya bisa dilakukan oleh Pemburu Tingkat S dengan senjata pusaka berharga miliaran won. Kini, ia bisa melakukannya hanya dengan memungut sisa bayangan musuh.
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' terpukau oleh efisiensi membunuh Anda.]
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' memberikan sumbangan 100 Koin Bintang kepada Anda.]
Melihat pesan tersebut, Do-Yoon hanya mendengus sinis. "Menonton dari kursi empuk kalian sambil melempar uang receh, ya? Nikmatilah pertunjukannya selagi bisa."
Ia melangkah turun dari mayat itu dan memungut kapak raksasa yang terjatuh di lantai. Senjata itu terlalu berat untuk manusia biasa, tapi dengan kekuatan fisiknya saat ini, ia bisa mengangkatnya dengan satu tangan.
"Do... Do-Yoon?"
Sebuah suara gemetar memanggilnya dari arah pintu kelas. Ketua kelasnya, seorang pemuda bertubuh tambun, berdiri di sana dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya, sisa mahasiswa menatap Do-Yoon seolah ia adalah dewa penyelamat, namun sekaligus monster yang menakutkan.
"Kau... kau luar biasa! Kau membunuh monster itu sendirian!" seru ketua kelas dengan mata berbinar penuh harapan. "A-ayo kita pergi dari sini bersama-sama! Dengan kekuatanmu, kau bisa melindungi kami semua sampai militer datang untuk menyelamatkan kita, kan?"
Langkah Do-Yoon terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap sekelompok pemuda-pemudi yang gemetar di ambang pintu itu. Mata hitamnya menyorot tanpa empati.
"Militer tidak akan datang," ucap Do-Yoon dingin, menghancurkan secercah harapan di wajah mereka seketika. "Pemerintah telah runtuh. Mulai hari ini, dunia yang kalian kenal sudah mati. Hukum rimba yang baru telah dimulai."
"T-tapi kau sekuat itu! Kau harusnya melindungi yang lemah! Bukankah kita teman sekelas?" protes seorang mahasiswi sambil menangis.
"Sistem tidak peduli dengan ikatan pertemanan. Kalian pikir dewa-dewa di atas sana sedang bermain rumah-rumahan?" Do-Yoon menunjuk mayat Goblin di dekat kakinya dengan ujung kapak. "Jika kalian tidak mengambil senjata dan bertarung sekarang, kalian hanya akan berakhir menjadi tumpukan daging di perut monster esok hari. Aku tidak akan menjadi pengasuh bayi untuk orang-orang yang hanya bisa menangis."
Tanpa menoleh lagi, Do-Yoon berbalik dan melangkah menyusuri lorong yang gelap, meninggalkan teman-teman sekelasnya yang terdiam membeku.
Ia tidak punya waktu untuk berdebat tentang moralitas. Di kehidupan lalunya, kebaikan hati yang naif adalah alasan utama mengapa orang-orang berharga di sekitarnya mati secara tragis.
Target Do-Yoon sekarang hanya satu. Ia harus menuju ke Distrik Gangnam sebelum malam tiba. Di sanalah anomali berikutnya akan muncul. Dan di sana jugalah, ia akan menemukan orang yang paling ia butuhkan untuk mewujudkan rencana balas dendamnya.
Permaisuri Pedang masa depan, Yoo Ji-Ah.
"Bertahanlah, Ji-Ah. Aku sedang menuju ke tempatmu," batin Do-Yoon seraya mempercepat langkahnya menuruni tangga kampus, membelah lautan darah dan kekacauan yang baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!