Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Tirai yang Terangkat

“Ini... ini...”

Aku berdiri terpaku di tengah lorong yang riuh.

Suara langkah kaki berderap dari segala penjuru. Para pemain, penata panggung, pekerja, dan para penari berlalu-lalang di hadapanku dengan tergesa-gesa. Kain-kain kostum bergesekan, suara perintah bersahutan, sementara dari kejauhan terdengar alunan musik orkestra yang perlahan mulai memenuhi gedung.

Aku mengerjapkan mata berkali-kali.

Apa yang sedang terjadi?

“Christine!”

Sebuah suara perempuan memanggil namaku dari kejauhan.

Aku menoleh tanpa sadar.

Seorang gadis berambut pirang berlari kecil ke arahku. Wajahnya tampak begitu akrab, seolah-olah aku telah mengenalnya selama bertahun-tahun.

“Christine! Mengapa kau berdiri di sini?”

Ia berhenti di hadapanku sambil mengatur napas.

“Semua orang sudah siap. Pertunjukan akan segera dimulai.”

Christine?

Mengapa dia memanggilku seperti itu? Dan... mengapa wajahnya begitu familiar? Aku menatapnya dalam kebingungan.

Lalu, tiba-tiba...

Kepalaku terasa berdenyut.

Sebuah rentetan gambar yang bukan milikku mengalir deras ke dalam pikiranku.

Sebuah kamar kecil.

Seorang gadis muda yang sedang berlatih menyanyi.

Panggung yang megah.

Kostum-kostum indah.

Gedung opera.

Dan seorang pria berwajah tampan yang tersenyum kepadaku.

Kemudian semuanya berhenti.

Aku terdiam.

Ingatan itu bukan milikku.Namun aku mengenal semuanya.

“...Christine Daaé.”

Nama itu lolos begitu saja dari bibirku.

Dan pada saat itulah aku mengerti.Aku telah masuk ke dalam sebuah cerita.Mataku perlahan menyapu sekeliling.

Langit-langit tinggi yang dihiasi ornamen keemasan. Pilar-pilar megah. Lorong-lorong panjang yang dipenuhi lukisan dan patung. Para pemain yang mengenakan kostum panggung dari masa lampau.

Tidak mungkin aku salah.

Ini adalah Palais Garnier. Gedung Opera Paris yang termasyhur.

Bangunan megah yang dirancang oleh Charles Garnier dan selesai pada tahun 1875 itu tampak jauh lebih menakjubkan daripada gambaran apa pun yang pernah kulihat di buku.

Namun kekagumanku segera tergantikan oleh kepanikan. Aku tahu tempat ini. Aku tahu cerita ini. Dan yang lebih buruk adalah...

Aku tahu siapa aku sekarang.

Christine Daaé.

Tokoh perempuan utama dalam kisah yang selama ini hanya kukenal sebagai cerita.

“Christine?”

Suara Meg menarikku kembali ke kenyataan.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.”

Aku segera tersenyum. “Jangan khawatir, Meg. Aku hanya sedikit gugup.”

Aku berusaha terdengar tenang. “Bagaimanapun, ini adalah hari yang besar.”

Meg mengangguk. “Hari ini pemutaran perdana Polyeucte. Semua orang di gedung opera menantikannya.”

Polyeucte.

Aku menelan ludah. Tentu saja. Ini adalah hari ketika semuanya dimulai. Hari ketika nama Christine Daaé perlahan mulai dikenal.

Hari ketika takdir yang selama ini hanya kubaca dalam sebuah cerita akan kembali berjalan di hadapanku.

Aku memandang panggung di kejauhan. Aku hanyalah pendatang baru. Bahkan tidak lebih dari seorang penyanyi latar yang mendapatkan kesempatan kecil untuk tampil di atas panggung. Impian menjadi pemeran utama masih terasa begitu jauh.

Namun setidaknya...

Ini adalah permulaan.

“Orkestra sudah mulai bermain.” Meg tersenyum kepadaku.

“Christine, aku mengharapkan yang terbaik darimu.”

“Terima kasih, Meg.”

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Aku akan segera pergi.”

...----------------...

Begitu kakiku menginjak panggung, suara orkestra seolah berubah menjadi gelombang besar yang menghantam tubuhku.

Cahaya lampu menyilaukan mataku.

Di hadapanku terbentang ribuan penonton.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, sebanyak itu pasang mata tertuju ke arah panggung tempat aku berdiri.

Jantungku berdegup begitu keras.

Telapak tanganku berkeringat.

Bahkan suaraku sedikit bergetar ketika bait pertama keluar dari bibirku.

Aku hampir lupa bernapas.

Namun aku segera memejamkan mata.

Bernyanyilah.

Aku membiarkan musik membawaku.

Satu bait.

Dua bait.

Perlahan, kegugupanku mulai mereda.

Aku membuka mata dan memandang ke arah penonton. Lalu aku menyadari sesuatu. Mereka tidak benar-benar memperhatikanku.

Tentu saja. Bagaimana mungkin mereka memperhatikanku? Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak pemain yang berdiri di atas panggung.

Perhatian seluruh aula tertuju kepada satu orang.

Carlotta.

Pemeran utama wanita itu berdiri di bawah cahaya lampu dengan keanggunan yang nyaris sempurna. Suaranya memenuhi gedung opera.

Jernih. Kuat. Tanpa cela.

“Ya Tuhan... suara Carlotta sungguh seperti suguhan surgawi.”

“Menurutku, dia adalah penyanyi sopran terbaik di seluruh Paris.”

“Dan lihat aktingnya. Sempurna!”

Pujian terdengar dari berbagai penjuru.

Aku tidak bisa menyangkalnya. Carlotta memang luar biasa. Setiap nada tingginya terdengar sempurna. Setiap gerak tubuhnya seolah telah diperhitungkan. Ia tahu persis bagaimana membuat ribuan orang di hadapannya terpaku.

Aku menunduk sedikit.

Dibandingkan dengannya, aku benar-benar biasa saja.

Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Padahal ini pertama kalinya aku berdiri di atas panggung sebesar ini. Bukankah seharusnya aku bahagia? Aku menghela napas pelan.

(Tenanglah, Sofia.)

(Atau... haruskah aku mulai membiasakan diri dipanggil Christine?)

Aku hampir tertawa getir. Aku kembali memusatkan perhatian pada peranku. Aku tidak perlu menjadi Carlotta. Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri bukan?

Atau setidaknya... Menjadi Christine.

Aku membiarkan musik memenuhi pikiranku dan berusaha menghidupkan setiap emosi yang seharusnya dimiliki tokoh yang kumainkan.

Untuk beberapa saat, aku lupa bahwa aku bukan berasal dari dunia ini.

...----------------...

Pertunjukan akhirnya berakhir.

Tirai perlahan turun, disusul gemuruh tepuk tangan yang memenuhi seluruh gedung opera.

Aku menarik napas lega.

Berhasil.

Aku berhasil melewati penampilan pertamaku. Para pemain mulai meninggalkan panggung.

Di balik tirai, suasana kembali dipenuhi kesibukan. Orang-orang berbicara, mengganti kostum, membawa perlengkapan, dan membereskan berbagai benda yang berserakan.

Aku baru saja hendak mengikuti Meg ketika suara seorang perempuan terdengar tajam.

“Menyingkir!”

Aku menoleh. Carlotta berdiri di lorong. Wajahnya masih dihiasi riasan panggung, tetapi senyum anggun yang tadi ia tunjukkan kepada penonton telah lenyap sama sekali.

“Jangan menghalangi koridor! Mengapa para aktris di sini begitu tidak disiplin?”

Seorang pekerja buru-buru menyingkir.

“Ah, maaf, Nona. Kami baru saja turun dari panggung.”

Carlotta bahkan tidak repot-repot mendengarkan penjelasannya. Ia berjalan melewati kami dengan dagu terangkat tinggi. Aku memperhatikannya hingga sosoknya menghilang di ujung lorong.

(Penampilannya memang sempurna.)

Aku menghela napas.

(Sayangnya, emosinya tidak seindah suaranya.)

Aku hendak berbalik ketika sesuatu menarik perhatianku.

Bunga.

Setangkai buket bunga yang indah tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku mengangkat kepala. Seorang pemuda berdiri di sana. Wajahnya tampan dan rapi. Tatapannya lembut, dengan binar ramah yang membuatku sedikit terkejut.

“Untukmu.”

Aku menerima buket itu dengan ragu.

“Oh...”

Harumnya memenuhi udara.

“Terima kasih.”

Pemuda itu tersenyum.

“Maafkan aku karena terlalu jujur, Nona Christine, tetapi penampilanmu malam ini benar-benar tak terlupakan.”

Aku terdiam sesaat. Pujian setelah penampilan pertamaku? Sungguh perasaan yang aneh.

Hangat. Menyenangkan.

Namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merasa seolah-olah ia telah mengenalku jauh lebih lama daripada yang seharusnya.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

Ia tidak langsung menjawab.

Aku menggenggam buket itu sedikit lebih erat.

“Aku hanyalah karakter pendukung. Bahkan aku tidak memiliki bagian solo.”

“Aku ingat suaramu, Christine.” Suaranya terdengar lembut. “Nyanyianmu seindah yang kuingat.”

Aku mengerutkan kening.

Seindah yang dia ingat?

Apa maksudnya?

“Terima kasih, Tuan...”

Aku menatapnya dengan penuh kebingungan.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Untuk sesaat, senyum di wajahnya memudar.

“Aku rasa kau tidak mengingatku.”

Tatapan pemuda itu berubah. Ada sesuatu yang menyerupai kekecewaan di sana.

“Maaf, Tuan...”

Aku berusaha keras menggali ingatan Christine. Namun tidak ada apa-apa. Sebelum aku sempat mengatakan lebih banyak, suara Meg terdengar dari kejauhan.

“Christine!”

Aku menoleh.

“Sudah waktunya berganti kostum!”

Aku kembali memandang pemuda di hadapanku.

“Maaf, aku harus pergi.”

Ia tersenyum tipis.

“Aku tidak akan menahanmu lagi.” Kemudian ia sedikit membungkuk.

“Kita akan bertemu lagi.”

Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan kalimat itu yang membuat bulu kudukku meremang. Seolah-olah ia tidak sedang mengucapkan sebuah harapan. Melainkan sebuah kepastian. Aku memperhatikannya sesaat sebelum akhirnya berbalik.

“Baiklah... aku harus segera mengganti kostum.”

Aku berjalan menyusul Meg. Tanpa mengetahui bahwa malam itu bukan sekadar malam pertunjukan pertamaku. Malam itu adalah malam ketika roda takdir mulai bergerak.

Dan jauh di suatu tempat di balik kegelapan gedung opera—

Seseorang sedang mendengarkan.

Seseorang yang telah lama menungguku.

Seseorang yang kelak akan menjadi malaikat...

atau justru hantu dalam hidupku.

Suara dari Balik Cermin

Aku masih memikirkan pemuda asing itu ketika berganti pakaian. Ada sesuatu tentang dirinya yang terus mengusik pikiranku.

Sikapnya terasa begitu akrab. Cara ia memandangku, cara ia menyebut namaku, bahkan caranya berbicara seolah-olah kami telah mengenal satu sama lain sejak lama.

Namun, sekeras apa pun aku berusaha mengingat, tidak ada satu pun kenangan tentang dirinya yang muncul dalam pikiranku.

Mungkin ingatan Christine belum sepenuhnya kembali.

Atau mungkin... Memang ada sesuatu yang belum kuketahui.

“Christine, bagaimana penampilanmu hari ini?”

Sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar di dalam ruangan.

Aku tidak terkejut.

Sudah lama aku mengenal suara itu. Suara yang selalu datang ketika aku membutuhkannya. Suara yang selama ini kusebut sebagai Malaikat Musik.

Aku tersenyum kecil.

“Lumayan, Guru.”

Aku duduk di depan cermin sambil melepaskan hiasan rambutku.

“Aku ingin menceritakan banyak hal kepadamu. Kau bilang aku tidak boleh gugup, bukan? Tapi sebelum naik ke panggung, rasanya jantungku hampir melompat keluar.”

Aku mulai menceritakan semuanya. Tentang pertunjukan malam ini. Tentang betapa gugupnya aku ketika pertama kali berdiri di atas panggung. Tentang Carlotta yang berhasil membuat seluruh penonton terpukau. Dan, tentu saja, tentang pemuda asing yang memberiku bunga.

Suara tawa ringan terdengar di udara.

Malaikat Musik tidak pernah menertawakanku dengan maksud mengejek. Tawanya selalu terdengar lembut, seolah-olah ia benar-benar menikmati setiap cerita kecil yang kubagikan.

Ia mendengarkanku dengan sabar. Memberiku nasihat. Meyakinkanku ketika aku mulai meragukan diri sendiri.

Entah sejak kapan, aku tidak lagi merasa aneh berbicara kepada seseorang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya.

Aku bahkan tidak dapat mengingat bagaimana rasanya menjalani hari-hari yang sunyi tanpa persahabatannya.

...----------------...

Ingatan Christine 2 bulan lalu, malam semakin larut.

Gedung opera perlahan menjadi sunyi.

Satu demi satu lampu dipadamkan. Para pekerja telah meninggalkan ruangan, dan suara langkah kaki yang sejak tadi memenuhi lorong kini berubah menjadi gema yang sesekali terdengar dari kejauhan.

Aku masih berada di salah satu ruang latihan.

Aku tidak ingin membiarkan keberanian yang kuraih malam ini menghilang begitu saja.

Maka aku kembali berlatih. Nada demi nada keluar dari bibirku. Aku mencoba mencapai nada tinggi yang selama ini sulit kukendalikan.

Namun ketika aku hendak mengulanginya...

Aku berhenti.

Sebuah suara nyanyian terdengar dari kejauhan.

Aku menahan napas. Suara itu begitu indah. Begitu jernih.

Ia mengalir melalui lorong-lorong gedung opera yang kosong seperti alunan musik yang datang dari dunia lain.

Aku menurunkan tanganku perlahan.

“Indah sekali...” Aku bahkan lupa bernapas.

“Seperti malaikat yang sedang bernyanyi.”

Nada tinggi itu begitu sempurna hingga membuatku merinding.

“Kurasa tidak mungkin ada manusia yang memiliki jangkauan suara setinggi itu.” Gumamku.

“Kau bisa melatih jangkauan vokalmu.” Suara itu menjawab.

Aku membeku.

“Namun tidak semua orang mengetahui caranya.” Aku menatap kosong ke depan.

Suara itu... Apakah baru saja menjawabku?

Aku segera bangkit dan bergegas keluar dari ruangan.

Aku menyusuri lorong dengan langkah cepat, mencari sumber suara tersebut. Namun tidak ada siapa pun. Tidak seorang pun.

Aku berhenti di persimpangan koridor.

Hanya kesunyian yang menyambutku.

(Aku satu-satunya orang yang masih berada di bagian gedung ini.)

Aku menelan ludah.

(Lalu siapa yang berbicara kepadaku?)

Perlahan, aku mulai merasa tidak nyaman.

Lorong-lorong gedung opera tampak berbeda ketika malam telah sepenuhnya menguasainya. Bayangan tiang-tiang menjulur panjang di lantai. Patung-patung yang pada siang hari tampak indah kini terlihat menyeramkan. Aku berjalan mondar-mandir, mencoba menemukan sumber suara tadi.

Tanpa sadar, aku mulai bertanya-tanya...

Apakah ada sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan?

“Christine.”

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini lebih dekat.

“Tolong jangan takut.”

Aku berhenti.

“Aku tidak akan menyakitimu.”

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.

“Suaramu...”

Aku menelan ludah.

“Dari mana asalnya?”

Aku mengikuti suara itu hingga tiba di sebuah ruangan dengan sebuah cermin besar berdiri di salah satu sisinya.

Suara itu seolah-olah datang dari balik cermin.

Aku mendekat.

Namun yang kulihat hanyalah bayanganku sendiri.

Wajah pucat. Rambut sedikit berantakan. Mata yang dipenuhi kebingungan. Tidak ada seorang pun di belakangku.

“Siapa kau?”

Hening.

Kemudian terdengar helaan napas.

Begitu lembut hingga menyerupai hembusan angin di atas permukaan danau.

Aku menahan napas.

“Aku...”

Suara itu terdengar ragu.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menakutimu.”

Ada kesedihan yang begitu dalam dalam suaranya.

“Aku hanya... takut tidak bisa bertemu denganmu secara langsung.”

Entah mengapa, rasa takutku perlahan menghilang.

Aku justru ingin mendengar lebih banyak.

“Kenapa?”

“Aku hanya ingin membantumu.”

Suara itu terdengar lebih lembut.

“Kau memiliki bakat menyanyi yang jauh lebih besar daripada yang kau sadari. Aku tidak ingin melihat bakat itu terkubur begitu saja.”

Aku terdiam.

Kata-katanya mengingatkanku pada sebuah legenda yang pernah diceritakan ayah.

Sebuah cerita yang dahulu sering kudengar ketika masih kecil.

Tentang Malaikat Musik.

Konon, ketika musik seseorang mampu menyentuh hati seorang malaikat, sang malaikat akan datang kepadanya. Ia akan melindungi, membimbing, dan mengajarkan jalan yang harus ditempuh oleh orang itu.

Aku masih mengingat malam terakhir bersama ayah. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat. Tubuhnya telah begitu lemah, tetapi senyumnya masih sama seperti dahulu. Ia berjanji akan berdoa agar suatu hari Malaikat Musik datang kepadaku.

Saat itu aku mengira semuanya hanyalah dongeng. Sebuah cerita untuk menenangkan seorang anak yang ketakutan menghadapi kehilangan.

Namun sekarang...

Aku berdiri di depan sebuah cermin, mendengar suara misterius yang memanggil namaku.

“Apakah...”

Suaraku bergetar.

“Apakah kau seorang Malaikat Musik?”

Tidak ada jawaban.

Aku menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Mungkin ia tidak mendengarku.

“Malaikat Musik?”

Aku memanggilnya sekali lagi.

Kemudian suara itu akhirnya menjawab.

“Ya.” Hanya satu kata.

Namun kata itu membuat dadaku sesak.

“Aku seorang malaikat.” Suaranya terdengar begitu tenang.

“Dan aku di sini untuk membimbingmu.”

Air mataku jatuh tanpa kusadari. Aku menutup mulut dengan tangan. Entah mengapa, kebahagiaan memenuhi dadaku.

Untuk pertama kalinya sejak aku kehilangan ayah...

Aku merasa seolah-olah tidak benar-benar sendirian. Mungkin inilah cara ayah menepati janjinya. Mungkin doanya benar-benar sampai kepadaku. Malaikat Musik mengatakan bahwa ia akan membantuku berlatih. Ia akan mengajariku cara menggunakan suaraku.

Ia bahkan akan mengatur latihan dan pelajaranku agar aku dapat berkembang tanpa menyia-nyiakan bakat yang kumiliki.

Sejak malam itu, hubungan kami semakin dekat. Hari demi hari berlalu. Aku mulai menceritakan hampir segala sesuatu kepadanya.

Kekhawatiranku.

Harapanku.

Mimpi-mimpiku.

Bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak berarti bagi orang lain.

Dan ia selalu mendengarkan.

...----------------...

“Christine.”

Suara itu kembali terdengar.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Aku tersenyum kecil.

“Aku baru ingat pertama kali kita berbicara.” Aku menatap bayanganku di cermin.

“Waktu itu aku berpikir tidak mungkin bagiku untuk berdiri di atas panggung.”

“Namun sekarang kau telah merasakan daya pikat panggung.”

Aku tertawa pelan.

“Ya, Malaikatku.”

Aku menghela napas.

“Tetapi kurasa aku belum benar-benar mengalami panggung.”

“Mengapa?”

“Karena aku belum pernah berdiri di tengah panggung.” Lanjutnya.

Hening sesaat.

Kemudian suara itu terdengar.

“Christine.” Nada suaranya berubah menjadi lebih serius.

“Aku tahu kau khawatir. Tapi kau seharusnya tidak demikian. Percayalah pada dirimu sendiri.”

Aku menggenggam ujung gaunku.

“Bakatmu jauh melampaui Carlotta.”

Aku terdiam.

“Suatu hari nanti, suaramu akan membuat seluruh Paris bertepuk tangan.”

Aku tersenyum malu. “Terima kasih sudah meyakinkanku.”

“Aku tidak sedang berusaha menghiburmu.” Nada suaranya terdengar begitu yakin.

“Suatu hari nanti kau akan mengetahui bahwa aku tidak pernah mengatakan sesuatu hanya untuk membuatmu merasa lebih baik.”

Aku tersenyum.

Namun sebelum aku sempat menjawab, ia berkata,

“Christine, sudah larut. Pulanglah. Aku bangga dengan penampilanmu hari ini.” Suaranya menjadi lembut kembali.

“Ingatlah kegembiraan yang kau rasakan malam ini. Biarkan perasaan itu menemanimu ketika kau tertidur.”

Kata-katanya menghangatkan hatiku. Aku berdiri diam di depan cermin. Memandangi bayanganku sendiri. Untuk sesaat, aku tersenyum.

“Selamat malam, Malaikat Musik.”

Tidak ada jawaban.

Aku hendak berbalik ketika...

Aaaargghhhhhhh

“Apa?!” Pikirku

Sebuah teriakan tiba-tiba memecah kesunyian. Aku tersentak. Suara keras menyusul sesaat kemudian.

BRAK!

Gema suara itu menjalar ke seluruh gedung opera. Tubuhku menegang. Aku segera meraba-raba dalam kegelapan.

Tanganku menyentuh sesuatu. Cermin. Permukaannya dingin. Dingin seperti es.

Aku menarik tanganku dengan cepat.

“Apa yang terjadi...?” Jantungku berdegup kencang.

Kemudian...

Sebuah cahaya melintas di permukaan cermin.

Aku memejamkan mata secara refleks.

Ketika kubuka kembali, tidak ada apa-apa.

Hanya kegelapan.

Aku menatap pintu di ujung ruangan.

Aku bisa saja berlari keluar.

Namun sesuatu menahanku.

Bagaimana jika suara tadi berasal dari luar?

Bagaimana jika seseorang sedang menungguku di koridor?

Aku berdiri terpaku.

Waktu terasa berjalan begitu lambat.

Detik demi detik berlalu.

Ketakutan mulai merayap ke seluruh tubuhku.

(Apa yang harus kulakukan?)

Aku menggenggam erat ujung gaunku.

Buku yang Membuka Takdir

Sebelum aku membuka mata di gedung opera itu...

Sebelum aku mengenal nama Christine Daaé.

Sebelum suara misterius yang kusebut sebagai Malaikat Musik mulai memenuhi kesunyian malamku...

Aku hanyalah seorang perempuan biasa.

Namaku Sofia. Setidaknya, itulah nama yang selama dua puluh empat tahun hidupku selalu kukenal. Aku bukan bangsawan. Bukan pula seorang penyanyi terkenal, penulis, ataupun perempuan dengan kehidupan yang luar biasa.

Aku hanya seorang karyawan biasa yang bekerja di sebuah perusahaan di Paris.

Setiap pagi aku bangun karena suara alarm yang menyebalkan, terburu-buru mengejar kereta, membeli kopi yang rasanya kadang terlalu pahit, kemudian menghabiskan sebagian besar waktuku di depan komputer.

Pekerjaanku tidak buruk. Gajinya cukup. Rekan-rekanku juga tidak terlalu menyebalkan. Namun, hidupku terasa... Biasa.

Terlalu biasa.

Aku sering kali merasa bahwa hidupku berjalan dalam lingkaran yang sama.

Bangun. Bekerja. Pulang. Makan malam. Membaca. Tidur.

Kemudian mengulanginya lagi keesokan hari.

Satu-satunya hal yang membuatku sedikit berbeda dari orang-orang di sekitarku mungkin adalah kegemaranku terhadap cerita klasik.

Aku menyukai kisah-kisah lama. Terutama kisah yang memiliki aroma misteri, sejarah, romansa, dan tragedi. Mungkin karena itu pula aku tidak pernah merasa bosan berjalan-jalan di tempat-tempat tua di Paris.

Bagiku, Paris bukan hanya kota. Paris adalah sebuah buku yang belum selesai ditulis.

Setiap jalan kecil, bangunan tua, gereja, teater, bahkan batu-batu di sepanjang trotoarnya seperti menyimpan kisah dari masa yang berbeda.

Aku sering membayangkan bagaimana kehidupan orang-orang yang pernah berjalan di tempat yang sama ratusan tahun lalu.

Siapa yang mereka cintai?

Apa yang mereka takutkan?

Apa yang mereka impikan?

Dan bagaimana rasanya hidup pada zaman ketika dunia belum mengenal teknologi seperti yang kami miliki sekarang?

Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti aku akan mendapatkan kesempatan untuk mengetahuinya. Dengan cara yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.

Hari itu adalah hari Sabtu.

Aku masih mengingatnya dengan jelas.

Langit Paris mendung, dan hujan turun tipis sejak pagi. Karena tidak memiliki rencana apa pun, aku memutuskan untuk mengunjungi sebuah perpustakaan tua yang pernah kudengar dari salah seorang teman.

Perpustakaan itu terletak di sebuah jalan yang agak tersembunyi. Tidak besar. Tidak pula memiliki papan nama yang mencolok. Namun begitu aku mendorong pintunya, aroma kertas tua dan kayu memenuhi udara.

Aku langsung menyukainya.

Rak-rak tinggi memenuhi hampir seluruh ruangan. Buku-buku tua tersusun hingga mencapai langit-langit. Beberapa sampul telah kusam dimakan waktu, sementara yang lainnya masih tampak begitu indah meskipun usianya mungkin telah puluhan atau bahkan ratusan tahun.

Seorang lelaki tua duduk di balik meja dekat jendela. Ia mengenakan kacamata bundar dan sedang membaca buku dengan sampul kulit berwarna cokelat tua.

“Silakan melihat-lihat." Ia tidak mengangkat kepalanya ketika berbicara.

Aku tersenyum. “Terima kasih.”

Aku berjalan menyusuri rak demi rak. Entah berapa lama aku berada di sana.

Aku menemukan beberapa buku sejarah Paris, kumpulan puisi, novel-novel klasik, bahkan beberapa buku tua yang tidak lagi mudah ditemukan di toko buku modern.

Aku mengambil beberapa di antaranya.

Namun ketika aku hendak berbalik, mataku menangkap sesuatu di sudut rak.

Sebuah kotak kayu.

Aku mengerutkan kening. Kotak itu berbeda dari benda-benda lain di sekitarnya. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi pengerjaannya sangat indah.

Kayunya berwarna cokelat tua dengan ukiran bunga-bunga kecil di bagian tutupnya. Pada keempat sudutnya terdapat hiasan logam berwarna keemasan yang telah sedikit menghitam karena usia.

Anehnya, meskipun terlihat tua, kotak itu sama sekali tidak tampak usang. Justru sebaliknya.

Ia terlihat mewah. Elegan. Dan entah mengapa...

Aku merasa seperti sedang dipanggil.

Aku menoleh ke arah pemilik perpustakaan.

Ia masih membaca.

“Permisi.”

Ia mengangkat wajah.

“Ya?”

“Apa kotak ini juga dijual?”

Tatapannya langsung berubah. Ia memandang kotak itu, kemudian memandangku. Untuk beberapa saat, ia tidak menjawab.

“Di mana kau menemukannya?”

Aku menunjuk rak di belakangku. “Di sana.”

Lelaki tua itu terdiam. Kemudian ia berdiri dan berjalan mendekat. Ia mengusap permukaan kotak dengan ujung jarinya.

“Aneh.”

“Apa?”

“Seingatku, aku tidak pernah meletakkan benda ini di sana.”

Aku tertawa kecil. “Mungkin Bapak lupa.”

Mungkin ucapanku terdengar terlalu santai.

Namun lelaki tua itu tidak ikut tertawa.

Ia hanya menatap kotak tersebut.

“Jangan terlalu lama menyimpannya.”

Aku mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Entahlah.” Ia menarik napas.

“Kadang-kadang benda tua menyimpan lebih banyak daripada yang terlihat.”

Aku mengira itu hanya ucapan seorang lelaki tua yang terlalu menyukai cerita misteri.

Aku tersenyum. “Kalau begitu, bolehkah aku membukanya?”

Ia tidak menjawab. Namun akhirnya ia mengangguk. Aku mengangkat tutup kotak tersebut.

Klik.

Tidak ada suara aneh.

Tidak ada cahaya misterius.

Tidak ada sesuatu yang menyeramkan.

Namun aku langsung terpaku. Di dalamnya terdapat sebuah buku. Buku itu begitu indah hingga aku hampir lupa bernapas.

Sampulnya terbuat dari kulit berwarna biru tua yang hampir menyerupai hitam. Di tengahnya terdapat ukiran emas berbentuk bunga mawar yang dikelilingi ornamen rumit.

Tidak ada judul. Tidak ada nama penulis. Tidak ada penerbit.

Hanya sebuah lambang kecil di bagian bawah sampul. Sebuah topeng.

Aku mengulurkan tangan. Begitu jariku menyentuh sampul buku itu, tubuhku merasakan sensasi aneh.

Dingin.

Namun hanya sesaat. Aku menarik napas. “Buku apa ini?”

Lelaki tua itu mendekat. Ia tampak terkejut. “Aku tidak pernah melihat sampul itu sebelumnya.”

Aku menatapnya. “Bukankah ini perpustakaan Anda?”

“Ya.”

“Lalu bagaimana bisa ada di sini?”

Ia tidak menjawab.

Aku membuka halaman pertama. Kertasnya berwarna krem pucat. Aromanya sangat khas. Aroma buku tua.

Namun tulisan di dalamnya masih sangat jelas.

Aku membalik beberapa halaman.

Ada kisah-kisah mengenai Paris.

Kisah tentang istana.

Kisah tentang bangsawan.

Kisah tentang seniman.

Kisah tentang teater.

Dan beberapa cerita yang bahkan tidak pernah kudengar sebelumnya.

Aku membalik halaman demi halaman. Sampai akhirnya menemukan sebuah judul yang membuatku berhenti.

The Phantom of the Opera.

Mataku langsung berbinar. Aku menyukai kisah itu.

Bukan karena kisah cintanya semata, melainkan karena suasana misterius di balik gedung opera, sosok Phantom yang bersembunyi dalam bayangan, dan Christine yang terjebak di antara dunia nyata dan dunia yang tidak sepenuhnya dapat dipahami.

Aku memegang buku itu erat-erat. “Berapa harganya?”

Lelaki tua itu menatapku. “Ambillah.”

Aku terkejut. “Gratis?”

Ia mengangguk. “Buku itu sepertinya sudah memilih pemiliknya.”

Aku tertawa kecil. “Buku bisa memilih?”

Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum samar.

Aku membawa buku itu pulang.

Tanpa mengetahui bahwa sejak saat itu, hidupku telah berubah.

...----------------...

Malamnya, aku kembali ke apartemen.

Paris terlihat begitu indah dari jendela.

Lampu-lampu jalan menyala di antara sisa hujan.

Aku membuat secangkir teh dan duduk di sofa.

Buku tua itu terletak di atas meja.

Aku memandangnya.

Sejak membawanya pulang, entah mengapa aku terus merasa buku itu memanggilku.

Akhirnya aku menyerah.

Aku mengambilnya.

“Baiklah.”

Aku membuka halaman pertama.

Kisah demi kisah mulai kubaca.

Beberapa di antaranya menarik.

Beberapa terasa menyedihkan.

Namun ada satu judul yang membuat tanganku berhenti membalik halaman.

The Phantom of the Opera.

Aku tersenyum.

“Phantom of the Opera?”

Aku mengenal cerita itu.

Kisah tentang gedung opera Paris. Tentang seorang gadis bernama Christine Daaé. Tentang seorang pria misterius yang bersembunyi di balik topeng.

Tentang cinta, obsesi, kecemburuan, dan tragedi yang terjadi di bawah kemegahan gedung opera.

Aku mulai membaca.

Semakin jauh aku membaca, semakin aku tenggelam.

Aku seolah-olah dapat mendengar musiknya.

Merasakan lorong-lorong gelap gedung opera.

Membayangkan lampu-lampu kristal yang menggantung dari langit-langit.

Dan sosok bertopeng yang bersembunyi di balik kegelapan.

Aku membalik halaman berikutnya.

Lalu halaman berikutnya.

Hingga akhirnya aku menemukan sebuah kalimat yang membuatku berhenti.

“Jika kau ingin mengetahui kisah yang sebenarnya, jangan hanya membaca dari sudut pandang mereka.”

Aku mengerutkan kening.

“Apa maksudnya?”

Aku membalik halaman.

Tulisan di halaman berikutnya berbeda.

Tinta hitamnya tampak lebih gelap.

Christine Daaé tidak pernah benar-benar menceritakan kisahnya.

Aku terdiam.

Aku terus membaca.

Namun semakin banyak halaman yang kubaca, semakin aneh isinya.

Buku itu menceritakan perasaan Christine dengan cara yang tidak pernah kutemukan dalam versi cerita mana pun.

Ketakutannya.

Kesepiannya.

Harapannya.

Dan sosok Phantom yang ternyata menyimpan luka jauh lebih dalam daripada yang terlihat dari luar.

Aku mulai merasa seolah-olah bukan sedang membaca sebuah cerita.

Melainkan sedang membaca kehidupan seseorang.

Jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi.

Aku menguap.

“Seharusnya aku tidur.”

Namun tanganku masih membalik halaman.

Sampai akhirnya mataku terasa semakin berat.

Huruf-huruf di halaman mulai kabur.

Aku mencoba mengedipkan mata.

Tidak berhasil.

Aku menyandarkan kepala ke sofa.

“Lima menit saja...”

Buku itu masih terbuka di pangkuanku.

Angin malam masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.

Halaman buku bergerak sendiri.

Satu halaman.

Dua halaman.

Kemudian berhenti.

Pada halaman terakhir yang terbuka, terdapat sebuah ilustrasi.

Gedung opera.

Dan seorang gadis yang berdiri di atas panggung.

Di bawah gambar itu tertulis satu kalimat.

“Apakah kau bersedia menyanyikan kisahnya?”

Aku membaca kalimat itu dengan setengah sadar.

“Hm...”

Aku tersenyum kecil.

“Kalau bisa mengubah ending-nya, kenapa tidak?”

Itulah kalimat terakhir yang kuingat.

Kemudian semuanya menjadi gelap.

...----------------...

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur.

Namun tiba-tiba aku mendengar suara musik.

Suara banyak orang.

Aku membuka mata.

Aku mengira diriku masih berada di apartemen.

Namun ketika pandanganku mulai jelas—

Aku langsung duduk.

“Apa...?”

Aku berada di sebuah ruangan yang asing.

Langit-langit tinggi.

Dinding penuh ornamen.

Lampu-lampu minyak.

Orang-orang berpakaian aneh berjalan tergesa-gesa di hadapanku.

Aku menatap pakaianku sendiri.

Gaun.

Bukan pakaian yang kukenakan sebelum tidur.

Aku berdiri dengan panik.

“Apa yang terjadi?”

Aku berlari ke arah sebuah cermin.

Dan di sanalah aku melihatnya.

Wajah seorang gadis muda.

Bukan wajahku.

Rambut panjang.

Mata biru.

Wajah yang pernah kulihat berkali-kali dalam ilustrasi buku.

Aku mundur selangkah.

“Tidak mungkin...”

Jantungku berdegup begitu keras.

Aku menyentuh wajahku.

Bayangan di cermin melakukan hal yang sama.

aku berlari ke lorong yang riuh.

"Ini... Ini..."

Aku terpaku.

...----------------...

Jauh di tempat lain, di atas meja apartemen yang kini kosong, buku tua itu masih terbuka.

Halaman terakhirnya perlahan berubah.

Tulisan yang sebelumnya berbunyi—

“Apakah kau bersedia menyanyikan kisahnya?”

menghilang.

Kemudian muncul tulisan baru.

“Kisah telah dimulai.”

Angin malam bertiup melewati halaman.

Buku itu menutup dirinya sendiri.

Dan untuk sesaat, ukiran topeng emas pada sampulnya tampak berkilau di bawah cahaya bulan.

Seolah-olah seseorang di balik topeng sedang tersenyum.

Sofia tidak pernah tahu bahwa ia bukan orang pertama yang membaca buku itu.

Dan mungkin...

Ia juga bukan orang terakhir.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!